• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. GAMBARAN UMUM

4.3. Tata Kelola Ekonomi Daerah

4.3.4. Program Pengembangan Usaha Swasta

Program pengembangan usaha swasta terutama ditujukan kepada pelaku

usaha kecil dan menengah. Permasalahan utama yang dihadapi kelompok usaha

ini adalah keterbatasan modal, akses modal yang minim ke lembaga keuangan

formal, dan kurangnya keahlian dalam bidang manajemen usaha. Bentuk usaha

kecil ini merupakan bentuk usaha yang paling dominan yang terdapat di

kabupaten dan kota di Indonesia. Menurut Sensus Ekonomi 2006 terdapat sekitar

99 persen bentuk usaha mikro-kecil berdasarkan jumlah tenaga kerja antara 1-20

orang. Beberapa contoh UKM di daerah pada umumnya seperti usaha pengolahan

hasil makanan dan kerajinan tangan khas daerah yang pada umumnya banyak

diusahakan oleh kalangan ibu rumah tangga dan kaum perempuan.

Program pengembangan usaha swasta oleh Pemda adalah pelayanan

pengembangan bisnis yang disediakan Pemda dengan dukungan dana APBD.

usaha. Meskipun demikian, pada prakteknya ada beberapa daerah yang melakukan

kegiatan tersebut dengan melibatkan keikutsertaan pendanaan aktif dari pihak

swasta.

Ada lima kegiatan pengembangan bisnis yang diperlukan untuk pelaku

usaha kecil dan menengah yang dijadikan acuan pada pertanyaan survei ini yaitu:

1) Pelatihan manajemen bisnis untuk meningkatkan kemampuan perusahaan

dalam hal administrasi keuangan, manajemen pemasaran, dan manajemen

produksi yang baik.

2) Pelatihan peningkatan kualitas tenaga kerja untuk tenaga kerja yang telah

lulus sekolah namun belum bekerja berupa pelatihan administrasi kantor,

pengenalan dunia kerja, etika bekerja, kemampuan bahasa asing.

3) Promosi produk lokal kepada investor (melalui exhibition, trade fair)

promosi perdagangan/investasi/potensi ekonomi yang dilakukan di tingkat

nasional, di kabupaten dan kota lain, dan di kabupaten dan kota sendiri.

4) Menghubungkan pelaku usaha kecil, sedang, besar untuk mempertemukan

mata rantai kegiatan bisnis perusahaan daerah dengan perusahaan besar

yang ada di daerah kabupaten dan kota, di daerah kabupaten dan kota lain,

dan di tingkat nasional.

5) Pelatihan pengajuan aplikasi kredit bagi UKM untuk mengatasi salah satu

hambatan besar bagi pelaku bisnis kecil dan menengah terhadap kredit

formal yang disediakan bank umum yang ada di kabupaten dan kota.

Pelatihan ini meliputi pelatihan pengenalan jenis-jenis kredit, pengenalan

prosedur pengajuan aplikasi kredit (syarat-syarat yang harus dipenuhi, hak

dan kewajiban kreditur dan debitur).

Penilaian terhadap usaha-usaha yang dilakukan pemerintah kabupaten dan

kota dalam membuat program pengembangan bisnis swasta dan besaran APBD

yang mendukungnya merupakan hal yang dituju oleh studi ini. Ada dua

pendekatan yang digunakan disini yaitu dengan analisa data persepsi pelaku usaha

daerah mengenai pengembangan usaha dan analisa besaran rasio program-

program pembangunan APBD yang teridentifikasi sebagai program

pengembangan usaha swasta.

Sampai saat ini, telah banyak kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang

mendukung terciptanya ruang berusaha yang mendukung kepada kelompok usaha

kecil ini. Beberapa peraturan pusat yang berkenaan dengan pengembangan UKM

diantaranya adalah:

a) UU No. 25/1992 tentang Perkoperasian.

b) UU No. 9/1995 tentang Usaha Kecil.

c) UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha

Tidak Sehat.

d) Inpres No. 6/2007 tentang Kebijakan Percepatan Sektor Rill dan

Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

e) Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah No.

02/2008 tentang Pemberdayaan BDS-P (Business Development Service

 Bahwa pengembangan KUMKM melalui BDS-P yang merupakan lembaga dengan kompetensi tinggi untuk dapat mengembangkan

KUMKM.

 BDS-P berfungsi menyatukan berbagai kegiatan yang menjadi bagian dari BDS-P seperti konsultansi pemasaran, konsultansi teknik

produksi, konsultansi teknis manajemen keuangan yang sebelumnya

mungkin diberikan secara sendiri-sendiri.

 BDS-P dapat dibiayai oleh pemerintah pusat, Pemda, PT, dan swasta. Namun demikian tidak disebutkan bagaimana struktur kerjasama dan

syarat kondisi teknis yang memungkinkan pembiayaan oleh

pemerintah pusat, Pemda, PT dan swasta tersebut.

Pendirian BDS-P ini memerlukan tingkat intervensi kebijakan Pemda yang lebih

dalam dan mendetil terutama pada skema pembiayaan BDS-P itu sendiri.

Terutama juga saat ini banyak Pemda yang telah memiliki skema pengembangan

UKM yang berbeda-beda dan unik yang memerlukan usaha sinkronisasi dengan

pembentukan BDS-P.

Pemerintah Kabupaten/Kota menurut kewenangannya berdasarkan PP No

38 tahun 2007 berkewajiban melakukan pemberdayaan UKM melalui berbagai

programnya seperti:

a) Penetapan kebijakan pemberdayaan UKM dalam menumbuhkan iklim

usaha bagi usaha kecil di tingkat kabupaten dan kota meliputi: pendanaan

kebutuhan dana, prasarana, persaingan, informasi, kemitraan, perijinan,

dan perlindungan.

b) Pembinaan dan pengembangan usaha kecil meliputi: produksi, pemasaran,

SDM, dan teknologi.

c) Memfasilitasi akses penjaminan dalam penyediaan pembiayaan bagi UKM

di tingkat kabupaten dan kota meliputi kredit perbankan, penjaminan

lembaga bukan bank, modal ventura, pinjaman dari dana pengasihan

sebagai laba BUMN, hibah, dan jenis pembiayaan lain.

Terlihat disini bahwa Pemda memegang peranan kunci untuk

mengembangkan UKM di daerahnya. Dengan mengidentifikasi dengan tepat

permasalahan UKM, beberapa Pemda telah melakukan program penjaminan

kredit bagi UKM dengan menempatkan jaminan pada bank nasional seperti di

kota Balikpapan. Pemohon aplikasi kredit dari pihak UKM tetap melalui prosedur

formal sesuai ketentuan perbankan yang ditetapkan bank tersebut. Tanpa Pemda

campur tangan secara langsung menyalurkan kredit kepada UKM, namun dengan

memberikan jaminan kredit sekaligus memberi pelatihan keprofesionalan

pengaksesan modal formal oleh UKM merupakan suatu langkah yang inovatif.

Untuk mendapatkan nilai persentase dari indikator program

pengembangan usaha swasta ada lima variabel penilaian yang digunakan, yaitu:

1) Tingkat kesadaran akan kehadiran program pengembangan usaha.

2) Tingkat partisipasi program pengembangan usaha.

3) Tingkat kepuasan terhadap program pengembangan usaha.

5) Tingkat hambatan program pengembangan usaha terhadap kinerja

perusahaan.

Setelah mendapatkan nilai total dari kelima variabel tersebut, KPPOD

membaginya ke dalam empat klasifikasi, yaitu:

1) Nilai angka 0-25 persen, berarti bahwa program pengembangan usaha

swasta di kabupaten dan kota tersebut tergolong sangat buruk.

2) Nilai angka 26-50 persen, berarti bahwa program pengembangan usaha

swasta di kabupaten dan kota tersebut tergolong buruk.

3) Nilai angka 51-75 persen, berarti bahwa program pengembangan usaha

swasta di kabupaten dan kota tersebut tergolong baik.

4) Nilai angka 76-100 persen, berarti bahwa program pengembangan usaha

swasta di kabupaten dan kota tersebut tergolong sangat baik.

Dokumen terkait