BAB II KAJIAN PUSTAKA
C. Program Sertifikasi Guru
Istilah sertifikasi dalam makna Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti tanda atau surat keterangan (sertif ikat) dari lembaga berwenang yang
diberikan kepada jenis profesi dan sekaligus pernyataan (lisensi) terhadap kelayakan profesi untuk melaksanakan tugas.
Sertifikasi guru menurut Undang-Undang Republik Indonesia tentang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 ialah proses pemberian sertifikat pendidik, yang menjadi bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru sebagai tenaga profesional. Dalam ketentuan seperti yang diatur dalam Undang-undang Guru dan Dosen (2006) seperti yang dicantumkan dalam pasal 11 yang bunyinya seperti berikut:
1. Sertifikasi pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. (ayat 1)
2. Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi. (ayat 2)
3. Sertifikasi pendidik dilaksanakan secara objektif, transparan dan akuntabel. (ayat 3) Objektif yaitu mengacu kepada proses perolehan sertifikat pendidik yang impartial, tidak diskriminatif, dan memenuhi standar pendidikan nasional. Transparan yaitu mengacu kepada proses sertifikasi yang memberikan peluang kepada para pemangku kepentingan pendidikan untuk memperoleh akses informasi tentang pengelolaan pendidikan, yang sebagai suatu sistem meliputi masukan, proses, dan hasil sertifikasi. Akuntabel merupakan proses sertifikasi yang dipertanggungjawabkan kepada pemangku kepentingan pendidikan secara administratif, finansial, dan akademik.
Sertifikasi guru mempunyai tujuan yaitu untuk (1) menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, (2) peningkatan proses dan mutu hasil pendidikan, dan (3) peningkatan profesionalitas guru.
Adapun manfaat sertifikasi guru yaitu sebagai berikut:
1. Melindungi profesi guru dari praktik-praktik yang tidak kompeten, yang dapat merusak citra profesi guru.
2. Melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan tidak profesional.
3. Menjaga lembaga penyelenggara pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) dari keinginan internal dan tekanan eksternal yang menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang berlaku.
4. Meningkatkan kesejahateraan guru.
Guru yang sudah memiliki kualifikasi pendidikan D4 dan S1 harus mengikuti ujian sertifikasi. Ujian sertifikasi tersebut berupa empat standar kompetensi guru, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi professional dan kompetensi sosial. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dinyatakan pada ayat (10) kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalitasan.
Ada empat kompetensi, yakni:
1. Kompetensi Pedagogik yang berarti guru harus memahami tentang peserta didik dari berbagai aspek, seperti perkembangan kognitif, emosional dan psikomotoriknya. Pemahaman tersebut diterapkan untuk mengajarkan bidang studi. Guru juga harus mengetahui berbagai teori tentang belajar dan pembelajaran, karena hal ini merupakan landasan pada pendekatan dan metodologi mengajar. Artinya kemampuan dalam pembelajaran ini memuat pemahaman akan sifat, ciri anak didik dan perkembangannya; mengerti beberapa konsep pendidikan yang berguna membantu siswa; serta menguasai sistem evaluasi yang tepat.
2. Kompetensi Kepribadian yang menuntut agar guru memiliki kepribadian yang mantap (berpegang pada norma yang berlaku), kepribadian yang mantap yang berarti juga taat asas dalam be rsikap dan bertindak, kepribadian dewasa yang berarti memiliki kematangan emosional sesuai dengan norma yang berlaku, kepribadian yang arif yang berarti mempunyai pertimbangan yang mendalam dalam bersikap dan bertindak sebagai pendidik, kepribadian berwibawa, dan akhlak mulia. Dari uraian itu dapat disimpulkan bahwa kemampuan kepribadian mencakup kepribadian yang utuh, berbudi luhur, jujur, dewasa, beriman, bermoral; kemampuan mengaktualisasikan diri seperti disiplin, tanggung jawab, peka, objektif, luwes, berwawasan luas, dapat berkomunikasi dengan orang lain; kemampuan mengembangkan profesi seperti berpikir kreatif,
kritis, reflektif, mau belajar sepanjang hayat, dan dapat mengambil keputusan, terbuka akan hal-hal yang baru. (Suparno, 2004:47)
3. Kompetensi Profesional yang berkaitan dengan kemampuan dalam bidang studi. Kompetensi ini lebih menekankan pada keahlian guru yang memegang bidang studi tertentu. Artinya guru yang bersangkutan harus memahami dan melaksanakan pembelajaran yang mendidik. Guru tersebut juga harus mampu mengembangkan keprofesionalitasannya. Dengan kata lain kemampuan dalam bidang studi memuat pemahaman akan karakteristik dan isi bahan ajar, menguasai konsepnya, mengenal metodologi ilmu yang bersangkutan, memahami konteks bidang tersebut dan juga kaitannya dengan masyarakat, lingkungan dan dengan ilmu lain. Artinya guru tidak cukup hanya mendalami ilmunya sendiri tetapi termasuk bagaimana dampak dan relasi ilmu itu dalam hidup masyarakat dan ilmu-ilmu lain. Karena itu guru diharapkan memiliki wawasan yang luas.
4. Kompetensi Sosial menuntut guru mempunyai kompetensi berkomunikasi yang efektif dan bergaul secara efektif. Guru berada di sekolah berkomunikasi di antara murid, guru dengan orang tua murid juga dituntut harus mampu berkomunikasi. Komunikasi bisa dikatakan menjadi efektif bila guru mampu mengkomunikasikan suatu ide/gagasan baik secara lisan maupun tertulis kepada orang lain, sebaliknya guru tersebut mampu menangkap gagasan dan pendapat orang lain (murid)
yang ditujukan kepadanya. Guru juga diharapkan dapat berkomunikasi dengan masyarakat sekitar.
Guru yang sudah mengikuti ujian sertifikasi atau program sertifikasi guru berhak mendapatkan sertifikat pendidik. Sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru sebagai tenaga profesional.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2007 menyatakan bahwa sertifikasi bagi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat pendidik. Uji kompetensi tersebut dilakukan dalam bentuk penilaian portofolio, yang merupakan pengakuan atas pengalaman profesional guru dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang mencerminkan kompetensi guru. Komponen penilaian portofolio mencakup:
1. Kualifikasi akademik
Kualifikasi akademik yaitu tingkat pendidikan formal yang telah dicapai sampai dengan guru mengikuti sertifikasi, baik pendidikan gelar (S1, S2 atau S3) maupun non gelar (D4), baik di dalam maupun di luar negeri. Bukti fisik yang terkait dengan komponen ini dapat berupa ijazah atau sertifikat diploma.
2. Pendidikan dan pelatihan
Pendidikan dan pelatihan yaitu pengalaman dalam mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan dalam rangka pengembangan atau peningkatan kompetensi dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik, baik pada
tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun internasional. Bukti fisik komponen ini dapat berupa sertifikat, piagam, atau surat keterangan dari lembaga penyelenggara diklat.
3. Pengalaman mengajar
Pengalaman mengajar yaitu masa kerja guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik pada satuan pendidikan tertentu sesuai dengan surat tugas dari lembaga yang berwenang (dapat dari pemerintah, dan/ atau kelompok masyarakat penyelenggara pendidikan). Bukti fisik dari komponen ini dapat berupa surat keputusan atau surat keterangan yang sah dari lembaga yang berwenang.
4. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran
Perencanaan pembelajaran yaitu persiapan mengelola pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kelas pada setiap tatap muka. Bukti fisik ini dapat berupa dokumen perencanaan pembelajaran (RP/RPP/SP) yang diketahui atau disahkan oleh atasan. Pelaksanaan pembelajaran yaitu kegiatan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas dan pembelajaran individual. Kegiatan ini mencakup tahapan pra pembelajaran (pengecekan kesiapan kelas dan apersepsi), kegiatan inti (penguasaan materi, strategi pembelajaran, pemanfaatan media atau sumber belajar, evaluasi, penggunaan bahasa), dan penutup (refleksi, rangkuman, dan tindak lanjut). Bukti fisik yang dilampirkan berupa dokumen hasil penilaian oleh kepala sekolah atau pengawas tentang pelaksanaan pembelajaran yang dikelola oleh guru dengan format terlampir.
5. Penilaian dari atasan dan pengawas
Penilaian dari atasan dan pengawas yaitu penilaian atasan terhadap kompetensi kepribadian dan sosial, meliputi aspek-aspek: ketaatan menjalankan ajaran agama, tanggung jawab, kejujuran, kedisiplinan, keteladanan, etos kerja, inovasi dan kreativitas, kemampuan menerima kritik dan saran, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan bekerjasama dengan menggunakan format penilaian atasan terlampir. 6. Prestasi akademik
Prestasi akademik yaitu prestasi yang dicapai guru, utamanya yang terkait dengan bidang keahliannya yang mendapat pengakuan dari lembaga atau panitia penyelenggara. Komponen ini meliputi lomba dan karya akademik, dan pembimbingan teman sejawat dan siswa. Bukti fisik yang dilampirkan berupa surat penghargaan, surat keterangan atau sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga atau panitia penyelenggara. 7. Karya pengembangan profesi
Karya pengambangan profesi yaitu suatu karya yang menunjukkan adanya upaya dan hasil pengembangan profesi yang dilakukan guru. Komponen ini meliputi buku yang diplublikasikan, artikel yang dimuat dalam media jurnal atau majalah, menjadi reviewer buku, penulis soal EBTANAS/UN, modul atau buku cetak lokal yang minimal mencakup materi pembelajaran selama satu semester, media atau alat pembelajaran dalam bidangnya, laporan penelitian tindakan kelas dan karya seni. Bukti
fisik yang dilampirkan berupa surat keterangan dari pejabat yang berwenang tentang hasil karya tersebut.
8. Keikutsertaan dalam forum ilmiah
Keikutsertaan dalam forum ilmiah yaitu partisipasi dalam kegiatan ilmiah yang relevan dengan bidang tugasnya pada tingkat kecamatan, kabupaten atau kota, provinsi, nasional, atau internasional, baik sebagai pemakalah maupun sebagai peserta. Bukti fisik yang dilampirkan berupa makalah dan sertifikat atau piagam bagi nara sumber, dan sertifikat atau piagam bagi peserta.
9. Pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial
Pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial yaitu pengalaman guru menjadi pengurus, dan bukan hanya sebagai anggota di suatu organisasi kependidikan dan sosial. Bukti fisik yang dilampirkan adalah surat keputusan atau surat keterangan dari pihak yang berwenang. 10. Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan
Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan yaitu penghargaan yang diperoleh karena guru menunjukkan dedikasi yang baik dalam melaksanakan tugas dan memenuhi kriteria kuantitatif, kualitatif, dan relevansi. Bukti fisik yang dilampirkan berupa fotokopi sertifikat, piagam, atau surat keterangan.
Portofolio adalah bukti fisik (dokumen) yang menggambarkan pengalaman berkarya atau prestasi yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi sebagai guru dalam interval waktu tertentu. Dokumen ini terkait
dengan unsur pengalaman, karya, dan prestasi selama guru yang bersangkutan menjalankan peran sebagai agen pembelajaran (kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional, dan sosial).
Fungsi portofolio dalam sertifikasi guru untuk menilai kompetensi guru dalam menjalankan tugas dan perannya sebagai agen pembelajaran. Kompetensi pedagogik dinilai antara lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial dinilai antara lain melalui dokumen penilaian dari atasan dan pengawas. Kompetensi profesional dinilai antara lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, dan prestasi akademik.
Dari 10 komponen portofolio dalam program sertifikasi guru sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2007, maka dapat dilihat di bawah ini tabel pemetaan komponen portofolio yang berkaitan dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh guru.
Tabel 2.1
Pemetaan Komponen Portofolio ke Dalam Kompetensi Guru Kompetensi Guru Componen Portafolio
(Sesuai Permendiknas No 18 tahun 2007) PED KEPRI SOS PROF
1. Kualifikasi Akademik v v
2. Pendidikan dan Pelatihan v v
3. Pengalaman Mengajar v v v
4. Perencanaan & Pelaksanaan Pembelajaran v v
5. Penilaian Atasan dan Pengawas v v v v
6. Prestasi Akademik v v v
7. Karya Pengembangan Profesi v
8. Keikutsertaan dalam Forum Ilmiah v v
9. Pengalaman orang dalam bidang
kependidikan dan sosial v v
10. Penghargaan yang relevan dengan
bidang pendidikan v v v v