• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIKAP GURU SMA TERHADAP PROGRAM SERTIFIKASI GURU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "SIKAP GURU SMA TERHADAP PROGRAM SERTIFIKASI GURU"

Copied!
154
0
0

Teks penuh

(1)

SIKAP GURU SMA TERHADAP PROGRAM SERTIFIKASI GURU

Studi Kasus Pada Guru Ekonomi dan Akuntansi SMA di Kota Yogyakarta

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Akuntansi

Oleh: Astri Tumanggor

NIM: 041334045

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)

HALAMAN PERSEMBAHAN

S kripsi

ini kupersembahkan untuk

T uhan Y esus K ri stus

yang mengasihi dan menyertaiku

M ama dan P apa

yang kucinta

K akak

L ina

dan A bang

S lamat

yang kusayangi A lm.

T anteku

yang kurindukan

A dek-adekku

yang kusayangi

N ’crut

Q

yang kukasihi
(5)

MOTTO

Cuk uplah k asih k arunia- Ku bagimu,

sebab justru dalam k elemahanlah

k uasa- Ku menjadi sempurna

( II Korintus 12 : 9)

Eagle's Wings - Hillsong United

Here I am waiting Abide in me I pray Here I am longing For You

Hi de me i n Your l ove Bring me to my k nees May I k now Jesus More and more

Come live in me All my lif e Tak e over

Come breathe in me I will rise

(6)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak

memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam

kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 04 Desember 2008

Penulis

(7)

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tanda di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Astri Tumanggor

Nomor Mahasiswa : 041334045

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

“ Sikap Guru SMA Terhadap Program Sertifikasi Guru“

Studi Kasus Pada Guru Ekonomi dan Akuntansi SMA di Kota Yogyakarta

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengn demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam betuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal : 03 Februari 2009

Yang menyatakan,

(8)

KATA PENGANTAR

Berkat kasih Tuhan Yesus Kristus , maka Skripsi yang berjudul “SIKAP

GURU SMA TERHADAP PROGRAM SERTIFIKASI GURU Studi Kasus pada

Guru Ekonomi dan Akuntansi SMA di Kota Yogyakarta” dapat diselesaikan

dengan baik. Skripsi ini ditulis untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Akuntansi.

Dengan kerendahan dan ketulusan hati, penulis mengucapkan banyak

terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung baik

secara langsung maupun tidak langsung sehingga skripsi ini dapat terselesaikan,

yaitu kepada:

1. Bapak Drs. T. Sarkim, M.Ed., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang memberikan

izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian.

2. Bapak Y. Harsoyo, S.Pd., M.Si. , selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu

Pengetahuan Sosial Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah

memberikan izin sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

3. Bapak L. Saptono, S.Pd., M.Si. , selaku Ketua Program Studi Pendidikan

Akuntansi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta yang telah memberikan kesempatan penulis mengadakan

(9)

4. Bapak Drs. Bambang Purnomo, S.E., M.Si. selaku Dosen Pembimbing yang

telah banyak memberikan masukan, kritik dan saran untuk kesempurnaan

skripsi ini.

5. Ibu Cornelio Purwantini, S.Pd., M. SA., selaku dosen penguji Skripsi.

Terimakasih untuk bimbingan, revisi serta segala bantuannya.

6. Ibu B. Indah Nugraheni, S.Pd., S.I.P., M.Pd., selaku dosen penguji Skripsi.

Terimakasih unt uk bimbingan, revisi serta segala bantuannya.

7. Bapak Drs. Joko Wicoyo, M.S. yang telah menyempurnakan abstrak dalam

Bahasa Inggris.

8. Seluruh dosen serta karyawan Pogram Studi Pendidikan Akuntansi.

9. Kepala Sekolah dan Guru-guru di SMA Immanuel Kalasan, SMA Kolombo,

SMA Bina Harapan, SMA Mandala Bhakti, SMA Binatama Sleman, SMA

Mikael Sleman, SMA Angkasa Adisutjipto, SMA Kolose De Brito, SMA

GAMA, SMAN 1 Kalasan, SMAN 1 Gamping, SMAN 1 Mlati, atas waktu

dan izin untuk melaksanakan penelitian.

10. Kepala Sekolah dan Guru-guru di SMA N 7, SMA N 8, SMA N 10, SMA N

11, SMA Bhinneka Tunggal Ika, SMA BOPKRI 2, SMA BOPKRI 3, SMA

Budya Wacana, SMA Institut Indonesia, SMA Marsudi Luhur, SMA

Pembangunan, SMA Perak, SMA PIRI 1, SMA Sang Timur, SMA Santa

Maria, SMA Santo Thomas, SMA Stella Duce 1, SMA Stella Duce 2, SMA

Taman Madya Jetis dan SMA 17’1 yang telah memberikan waktu dan izin

(10)

11. Mama dan Papa tercinta yang selalu memberikan dukungan dan doa yang tak

ternilai hingga penulis dapat menyelesaikan studi serta skripsi ini dengan baik.

12. Kakak lina dan Abang slamat yang telah memberikan banyak dukungan

hingga penulis dapat menyelesaikan studi serta skripsi ini dengan baik.

13. Alm. Tante yang telah memberikan informasi tentang sertifikasi guru dan

memberikan semangat dalam menyelesaikan skripsi.

14. Keluarga besar dan adik-adikku ya ng telah memberikan doa dan semangatnya.

15. Ambrosius Oky S (ncrut-Q) yang mendampingi, memberikan bantuan dan semangat demi selesainya skripsi ini.

16. Teman-teman mahasiswa angkatan 2004 (oma, cece, puput, pasca, sella, rani,

ika, agustin, yani, yanita, nia, ike, dika, noe -q, dll) yang bersama-sama

berjuang dalam menyelesaikan kuliah dan skripsi.

17. Sahabat-sahabatku (puji, dikha, ike) yang mau menemaniku dalam penelitian.

18. Anak-anak YAKKUM (amir, barokah, tari, yanti, virgo, eko, mas kukuh,

mbak roisah, mbak siti, nur) beserta guru pak wid, bu rumi dan kak lose sea,

terima kasih atas doa dan semangat yang kalian tunjukkan.

19. Anak-anak DFJ (kak iyo, kak deny, kak ariz, kak prima, tyas, cristo, risna,

dina, mona, nike, asti, hary, dll) yang mendukung dan menguatkan dalam

melayani Tuhan lewat doa.

20. Keluarga yang telah melupakan aku (X-Vaganza), maaf karena ini aku jadi

dikeluarkan, tapi ini yang ingin aku buktikan bahwa aku lulus.

21. Semua pihak yang telah membantu dan mendukung penulis dalam studi

(11)

Semoga bimbingan, doa, bantuan dan dukungan dari berbagai pihak akan

membuahkan kebahagiaan yang luar biasa. Penulis menyadari bahwa Skripsi ini

belumlah sempurna, maka dari itu sangat terbuka bagi siapa saja memberikan

masukan dan saran dari pembaca.

Yogyakarta, 04 Desember 2008

Penulis,

(12)

ABSTRAK

SIKAP GURU SMA TERHADAP PROGRAM SERTIFIKASI GURU Studi Kasus Pada Guru Ekonomi dan Akuntansi SMA di Kota Yogyakarta

Astri Tumanggor Universitas Sanata Dharma

2008

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) ada tidaknya perbedaan sikap guru SMA terhadap program sertifikasi guru berdasarkan masa kerja; (2) ada tidaknya perbedaan sikap guru SMA terhadap program sertifikasi guru berdasarkan kondisi sosial ekonomi.

Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dengan populasi penelitian yaitu guru ekonomi dan akuntansi SMA di Kota Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu proporsional random sampling dan diperoleh 20 SMA sebagai sampel penelitian. Data dalam penelitian ini, yaitu sikap guru yang dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan Skala Likert yang terlebih dahulu dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan One Way ANOVA untuk sikap guru SMA terhadap program sertifikasi berdasarkan masa kerja dan t-test untuk sikap guru SMA terhadap program sertifikasi guru berdasarkan kondisi sosial ekonomi dengan bantuan komputer program SPSS versi 15.0 for Windows.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa: (1) tidak ada perbedaan sikap guru SMA terhadap program sertifikasi guru berdasarkan masa kerja (Fhitung = 1,797 ?

Ftabel = 3,24); (2) tidak ada perbedaan sikap guru SMA terhadap program

sertifikasi guru berdasarkan kondisi sosial ekonomi (thitung = 1,073, dengan Asymp.

(13)

ABSTRACT

SENIOR HIGH SCHOOL TEACHERS’ ATTITUDES TOWARDS TEACHER’S PROFESSIONAL CERTIFIED PROGRAM

A Case Study on Economic and Accounting Teachers in Senior High Schools in Yogyakarta

Astri Tumanggor Sanata Dharma University

2008

This research is intended to know (1) the differences of senior high school teachers’ attitude s towards teacher’s professional certified program based on the service duration; (2) the differences of senior high school teachers’ attitudes towards teacher’s professional certified program based on the social economy condition.

This research is a case study. The research populations are economic s and accounting senior high school teachers in Yogyakarta. The technique of taking the sample is proportional random sampling. There are 20 senior high schools as the samples. The data of this research are the teachers’ attitudes which were gathered by using questionnaires which have been checked their validity and reliability. The data analysis technique is One Way ANOVA for senior high school teachers’ attitudes towards teacher’s professional certified program based on the service duration and t-test for senior high school teachers’ attitudes towards teacher’s professional certified program based on the social economy condition which was analysed by the help of SPSS version 15.0 for Windows computer program.

(14)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING...ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN... iv

MOTTO... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA... vi

KATA PENGANTAR...vii

ABSTRAK... xi

ABSTRACT... xii

DAFTAR ISI...xiii

DAFTAR TABEL... xvii

DAFTAR GAMBAR... xix

DAFTAR LAMPIRAN... xx

BAB I PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Batasan Masalah... 6

C. Rumusan Masalah... 6

D. Tujuan Penelitian... 6

E. Manfaat Penelitian... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA...8

(15)

1. Pengertian Sikap... 8

2. Struktur Sikap... 10

3. Ciri-ciri Sikap... 11

4. Pembentukan Sikap... 13

B. Guru... 17

1. Pengertian Guru... 17

2. Guru Sebagai Profesi... 18

3. Profesionalisme Guru...19

C. Program Sertifikasi Guru... 21

D. Faktor-faktor yang mempengaruhi Sikap Guru... 31

E. Kerangka Berpikir...33

F. Hipotesis... 35

BAB III METODE PENELITIAN...36

A. Jenis Penelitian... 36

B. Tempat dan Waktu Penelitian... 36

1. Tempat Penelitian... 36

2. Waktu Penelitian... 36

C. Subjek dan Objek Penelitian... 37

1. Subjek Penelitian... 37

2. Objek Penelitian... 37

D. Populasi, Sampel dan Teknik Penarikan Sampel... 37

1. Populasi dan Sampel Penelitian... 37

(16)

E. Variabel Penelitian dan Pengukuran... 39

1. Variabel Penelitian... 39

2. Pengukuran Variabel... 40

F. Teknik Pengumpulan Data...45

G. Teknik Pengujian Instrumen... 48

1. Uji Validitas... 48

2. Uji Reliabilitas... 51

H. Uji Prasyarat...53

1. Uji Normalitas...53

2. Uji Homogenitas... 53

I. Teknik Analisis Data... 54

1. Analisis Data Kualitatif... 54

2. Analisis Data Kuantitatif... 56

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN...60

A. Deskripsi Data... 60

1. Deskripsi Responden Penelitian... 60

2. Deskripsi Sikap Guru SMA Terhadap Program Sertifikasi Guru... 63

B. Analisis Data... 67

1. Pengujian Normalitas dan Homogenitas...67

2. Analisis Data Kuantitatif...68

(17)

BAB V PENUTUP...77

A. Kesimpulan... 77

B. Saran... 77

C. Keterbatasan Penelitian... 78

DAFTAR PUSTAKA... 80

(18)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Pemetaan Komponen Portofolio ke dalam Kompetensi Guru... 31

Tabel 3.1 Jumlah Sampel Penelitian dengan menggunakan Teknik Proposional... 38

Tabel 3.2 Sekolah Sampel Secara Random... 39

Tabel 3.3 Skala Pengukuran Model Likert... 41

Tabel 3.4 Kategori dan Syarat Pengukuran... 45

Tabel 3.5 Kisi-kisi Penyusunan Kuesioner... 47

Tabel 3.6 Pernyataan Positif dan Pernyataan Negatif Komponen Sikap... 47

Tabel 3.7 Sikap Guru terhadap Program Sertifikasi Guru... 49

Tabel 3.8 Kondisi Sosial Ekonomi... 51

Tabel 3.9 Hasil Uji Reliabilitas masing-masing Variabel...52

Tabel 3.10 Skor Penilaian Sikap... 55

Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin... 60

Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan... 61

Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Kerja... 61

Tabel 4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Kondisi Sosial Ekonomi.... 62

Tabel 4.5 Interpretasi Sikap Guru SMA terhadap Program Sertifikasi Guru. 64 Tabel 4.5.1 Interpretasi Sikap Guru SMA terhadap Program Sertifikasi Guru Berdasarkan Jenis Kelamin... 64

(19)

Tabel 4.5.3 Interpretasi Sikap Guru SMA terhadap Program Sertifikasi Guru

Berdasarkan Masa Kerja... 66

Tabel 4.5.4 Interpretasi Sikap Guru SMA terhadap Program Sertifikasi Guru

Berdasarkan Kondisi Sosia l Ekonomi... 66

Tabel 4.6 Perbedaan Sikap Guru SMA terhadap Program Sertifikasi Guru

Berdasarkan Masa Kerja... 68

Tabel 4.7 Perbedaan Sikap Guru SMA terhadap Program Sertifikasi Guru

Berdasarkan Kondisi Sosial Ekonomi...68

Tabel 4.8 Pengujian Hipotesis - Sikap Guru terhadap Program Sertifikasi

Guru Berdasarkan Masa Kerja... 69

Tabel 4.9 Pengujian Hipotesis - Sikap Guru terhadap Program Sertifikasi

(20)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Konsepsi Skematik Rosenbarg & Hovland mengenai Sikap... 9

(21)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I Instrumen Penelitian ... 82

Lampiran II Validitas dan Reliabilitas... 90

Lampiran III Data Induk Penelitian………97

Lampiran IV Deskripsi Statistik... 99

Lampiran V Uji Normalitas...102

Lampiran VI Homogenitas dan Anova... 104

Lampiran VII Tabel Untuk Perhitungan Anova... 107

Lampiran VIII Daftar Tabel Statistik... 108

(22)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi

sumber daya manusia (SDM) melalui kegiatan pengajaran (Muhibbin,

1995:1). Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa yang menjadi komponen

utama dalam kegiatan proses belajar mengajar dan ikut berperan dalam

usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang

pembangunan adalah guru. Oleh karena itu guru yang merupakan salah satu

unsur di bidang kependidikan harus berperan serta secara aktif dan

mendapatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional sesuai dengan

tuntutan masyarakat yang semakin berkembang.

Moh. Uzer Usman (1990:5) berpendapat bahwa semakin jelas dan

nyata para guru melaksanakan fungsinya, semakin terjamin tercipta dan

terbinanya kesiapan dan keandalan seseorang sebagai manusia

pembangunan. Hal ini menunjukkan bahwa guru merupakan suatu profesi

yang artinya suatu jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus

sebagai guru.

Di Indonesia, tingkat profesionalisme guru masih rendah disebabkan

oleh faktor-faktor yang berasal dari internal guru itu sendiri dan faktor

lainnya yang berasal dari luar. Faktor yang pertama adalah dari segi

(23)

harian keluarga. Oleh karena itu, upaya untuk menamba h pengetahuan dan

informasi menjadi terhambat karena dana untuk untuk membeli buku,

berlangganan koran, internet tidak tersedia. Bahkan, untuk memenuhi

kebutuhan dapur saja ada sebagian yang melakukan pekerjaan sampingan.

Kedua, kurangnya minat guru untuk menambah wawasan sebagai upaya

peningkatan profesionalisme, sebab bertambah atau tidaknya pengetahuan

serta kemampuan dalam melaksanakan tugas rutin tidak berpengaruh

terhada p pendapatan yang diperolehnya. Jika ada pendapatan yang diperoleh

hal itu tidak seimbang dengan pengorbanan yang telah dikeluarkan. Ketiga,

banyaknya jumlah lulusan sekolah guru dari tahun ke tahun, hal ini sebagai

akibat dari mudahnya pemerintah memberikan izin pendirian Lembaga

Pendidikan Tinggi Keguruan. (http://re-searchengines.com/iwanhermawan

2.html)

Profesionalisme sebagai penunjang kelancaran guru dalam

melaksanakan tugasnya, sangat dipengaruhi oleh dua faktor besar yaitu

faktor internal yang meliputi minat dan bakat, dan faktor eksternal yaitu

berkaitan dengan lingkungan sekitar, sarana prasarana, serta berbagai latihan

yang dilakukan guru (Sumargi, 1996). Profesional yang dimaksudkan dalam

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru

dan Dosen, bahwa pekerjaan guru menjadi sumber penghasilan yang

memerlukan keahlian dengan standar tertentu dan memerlukan pendidikan

(24)

Dalam upaya meningkatkan kualitas dan kesejahteraan guru,

pemerintah telah menetapkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor

20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang

Standar Nasional Pendidikan menyatakan bahwa guru adalah pendidik

profesional. Untuk itu, guru dipersyaratkan memiliki kualifikasi akademik

minimal Sarjana atau Diploma IV dalam bidang yang relevan dengan mata

pelajaran yang diampunya dan menguasai kompetensi sebagai agen

pembelajaran yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,

kompetensi sosial dan kompetensi profesional.

Namun, kenyataan menunjukkan bahwa guru di Indonesia tidak

terpenuhi dalam kualifikasi pendidikan minimal. Data dari Direktorat

Tenaga Kependidikan Dikdasmen Depdiknas pada tahun 2005 menunjukkan

bahwa hanya 30% (diantara sekitar 2,7 juta) guru di Indonesia yang

memenuhi kualifikasi minimum. (http://www.jawapos.co.id?index.php?act=

detail_c&id=242767)

Agar jumlah guru dengan kualitas minimum dapat meningkat maka

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru

dan Dosen telah memberikan standar melalui program sertifikasi guru.

Program sertifikasi guru adalah upaya meningkatkan kedudukan guru

(25)

kesejahteraan guru berupa tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok

bagi guru yang memiliki sertifikat pendidik.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia

Nomor 18 tahun 2007 tentang sertifikasi guru dalam jabatan disebutkan

bahwa sertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi

dalam bentuk penilaian portofolio atau penilaian kumpulan dokumen yang

mencerminkan kompetensi guru dengan mencakup 10 komponen yaitu: (1)

Kualifikasi akademik, (2) Pendidikan dan pelatihan, (3) Pengalaman

mengajar, (4) Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) Penilaian dari

atasan dan pengawas, (6) Prestasi akademik, (7) Karya pengembangan

profesi, (8) Keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) Pengalaman organisasi di

bidang pendidikan dan sosial, (10) Penghargaan yang relevan dengan bidang

pendidikan. Jika kesepuluh komponen tersebut telah dapat terpenuhi secara

obyektif dengan mencapai skor minimum 850 maka yang bersangkutan

dipastikan berhak menyandang predikat sebagai guru profesional, beserta

sejumlah hak dan fasilitas yang melekat dengan jabatannya.

Maister (1997) mengemukakan bahwa profesionalisme bukan

sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan

sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan

hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku

yang dipersyaratkan. Guru harus memperlihatkan sikap profesional sebagai

pendidik, buka n hanya sebagai pengajar. Sikap profesional untuk mau

(26)

kecenderungan atau kesiapan seseorang untuk bereaksi atau bertindak

menurut cara tertentu terhadap sesuatu obyek baik manusia maupun bukan

manusia (Sinurat, 2002:1).

Setelah mengetahui fenomena di atas maka penulis merasa tertarik

untuk mengetahui bagaimanakah sebenarnya sikap guru terhadap program

sertifikasi guru, karena dari sikap guru baik yang positif maupun negatif

akan berpengaruh pada guru dalam mengikuti program sertifikasi guru.

Berawal dari sikap positif, guru akan mempersiapkan diri dalam

mengikuti program sertifikasi guru yaitu dengan cara mengumpulkan

dokumen-dokumen atau berupa portofolio yang dapat mencerminkan

kompetensi guru sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik

Indonesia Nomor 18 tahun 2007. Dalam hal ini diharapkan guru dapat

termotivasi untuk mendapatkan sertifikat sebagai pengakuan pendidik yang

profesional dan akan mendapatkan kesejahteraan berupa tunjangan profesi.

Sebaliknya dari sikap ne gatif, guru mengganggap kesulitan dalam

mengikuti program sertifikasi melalui uji portofolio karena terdapat banyak

komponen di dalamnya. Terbukti bahwa ada guru yang memberikan

bukti-bukti palsu atau adanya seminar-seminar yang sebenarnya tidak benar-benar

dilaksanakan hanya untuk mendapatkan sertifikat. (http://www2.kompas.

com/kompas-cetak/0710/22/jogja/1043726.htm)

Lain halnya apabila guru mempunyai sikap yang positif maka guru

tersebut aka n siap dalam mengikuti program sertifikasi guru dengan

(27)

karena itu, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul

“SIKAP GURU SMA TERHADAP PROGRAM SERTIFIKASI GURU”

B. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang peneliti sampaikan, maka

dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti dibatasi dalam hal, sikap

guru-guru ekonomi dan akuntansi di Sekola h Menengah Atas (SMA) terhadap

program sertifikasi guru berdasarkan masa kerja dan kondisi sosial ekonomi.

Lokasi penelitian hanya dibatasi pada SMA di Kota Yogyakarta.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang peneliti sampaikan, maka

dapat disusun rumusan masalah:

1. Apakah ada perbedaan sikap guru SMA terhadap program sertifikasi

guru berdasarkan masa kerja?

2. Apakah ada perbedaan sikap guru SMA terhadap program sertifikasi

guru berdasarkan kondisi sosial ekonomi?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah

1. Untuk mengetahui perbedaan sikap guru SMA terhadap program

(28)

2. Untuk mengetahui perbedaan sikap guru SMA terhadap program

sertifikasi guru berdasarkan kondisi sosial ekonomi.

E. Manfaat Penelitian 1. Bagi Guru SMA

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada

guru SMA khususnya pada bidang studi ekonomi dan akuntansi

untuk meningkatkan profesionalisme guru dalam mengikuti program

sertifikasi guru.

2. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan da pat menambah wawasan dan

informasi dalam bidang pendidikan dan menjadi pengalaman yang

baik dalam pengembangan karier yang akan datang.

3. Bagi Universitas Sanata Dharma

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan

referensi dan informasi untuk seluruh pihak khususnya pada Program

(29)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Sikap

1. Pengertian Sikap

Menurut Bruno dalam Muhibbin Syah (1995:120) sikap (attitude)

adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara

baik atau buruk terhadap orang lain atau barang tertentu. Dengan

demikian, pada prinsipnya sikap itu dapat dianggap suatu kecenderungan

seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu.

Menurut M. Ngalim Purwanto (1996:141), sikap adalah suatu cara

bereaksi terhadap suatu perangsang. Suatu kecenderungan untuk

bereaksi dengan cara tertentu terhadap sesuatu perangsang atau situasi

yang dihadapi. Sebagai reaksi maka sikap selalu berhubungan dengan

dua alternatif, yaitu senang atau tidak senang, menurut dan

melaksanakannya atau menjauhi/ menghindari sesuatu.

Menurut Berkowist dalam Saifuddin Azwar (1997:4-5) sikap

adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang

terhadap suatu objek adalah perasaan yang mendukung atau memihak

(favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak

(unfavorable). Lebih lanjut Azwar (1997:5) mengutip pendapat beberapa

ahli lain yang melihat sikap sebagai kesiapa n untuk bereaksi terhadap

(30)

dimaksud merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan

cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang

menghendaki adanya respon.

Thurstone dalam Bimo Walgito (1991:109) memandang sikap

sebagai suatu tingkatan afeksi positif atau negatif yang berhubungan

dengan beberapa objek psikologis. Afeksi yang positif, yaitu afeksi

senang sedangkan afeksi yang negatif adalah afeksi yang tidak senang.

Dengan demikian objek dapat menimbulkan berbagai macam tingkatan

afeksi pada seseorang.

Gambar 2.1

Konsepsi Skematik Rosenberg & Hovland Mengenai Sikap (Adaptasi Dari Fishbein & Ajzen, 1975:340)

Variabel independen yang dapat diukur

Variabel intervening

Variabel dependen yang dapat diukur

STIMULASI (individu, situasi, isu sosial,

kelompok sosial, dan objek sikap lainnya.

SIKAP

AFEKSI

KOGNISI

KONASI

• Respons syaraf simpatetik.

• Pernyataan lisan tentang afek.

• Respons perceptual.

• Pernyataan lisan tentang keyakinan.

• Tindakan yang tampak.

(31)

Dalam gambar 2.1 terlihat bahwa sikap seseorang terhadap sesuatu

objek selalu berperanan sebagai perantara antara responsnya dan objek

yang bersangkutan. Respons diklasifikasikan dalam tiga macam, yaitu

respons kognitif (respons perseptual dan pernyataan mengenai apa yang

diyakini), respons afektif (respons syaraf simpatetik dan pernyataan

afeksi), serta respons konatif atau perilaku (respons berupa tindakan dan

pernyataan mengenai perilaku). Masing-masing klasifikasi respons ini

berhubungan dengan ketiga komponen sikapnya. (Saifuddin Azwar,

1997:8)

2. Struktur Sikap

Struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang,

yaitu:

a. Komponen kognitif (komponen konseptual), yaitu komponen yang

berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal

yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap

objek sikap.

b. Komponen afektif (komponen emosional), yaitu komponen yang

berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap suatu

objek sikap. Rasa senang merupakan hal positif, sedangkan rasa

tidak senang merupakan hal yang negatif. Komponen ini

menunjukkan arah sikap, yaitu positif atau negatif.

c. Komponen konatif (komponen perilaku), yaitu kompone n yang

(32)

Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu menunjukkan

besar kecilnya kecenderungan bertindak atau be rperilaku seseorang

terhadap objek sikap. (Bimo Walgito, 1991:110)

3. Ciri-ciri Sikap

Menurut Bimo Walgito (1991:113-115) sikap memiliki ciri-ciri

antara lain:

a. Sikap itu tidak dibawa sejak lahir

Manusia pada waktu dilahirkan belum membawa sikap-sikap

terhadap suatu objek karena sikap tidak dibawa sejak individu

dilahirkan, melainkan terbentuk dalam perkembangan individu yang

bersangkutan; sikap terbentuk atau dibentuk oleh lingkungan.

b. Sikap itu selalu berhubungan dengan objek tertentu

Sikap selalu terbentuk atau dipe lajari dalam hubungannya

dengan objek-objek tertentu, yaitu melalui persepsi terhadap objek

tertentu. Hubungan yang positif atau negatif antara individu dengan

objek tertentu akan menimbulkan sikap tertentu pula dari individu

terhadap objek yang bersangkutan.

c. Sikap dapat tertuju pada suatu objek saja, tetapi juga dapat tertuju

pada sekumpulan objek

Bila seseorang mempunyai sikap negatif pada seseorang, maka

akan mempunyai kecenderungan untuk menunjukkan sikap yang

(33)

bersangkutan. Di sini terlihat adanya kecenderungan untuk

menggeneralisasikan objek sikap.

d. Sikap dapat berlangsung lama atau sebentar

Kalau sikap telah terbentuk, sikap itu akan relatif bertahan

lama. Sikap tersebut akan sulit berubah dan kalaupun berubah akan

memakan waktu yang lama. Demikian pula sebaliknya, apabila sikap

belum terlalu mendalam dalam diri seseorang, maka sikap tersebut

akan relatif tidak tahan lama dan akan mudah berubah.

e. Sikap itu mengandung faktor perasaan dan motivasi

Sikap terhadap suatu objek tertentu akan selalu diikuti oleh

perasaan tertentu yang dapat bersifat positif (yang menyenangkan),

tetapi juga dapat bersifat negatif (yang tidak menyenangkan)

terhadap objek tersebut. Di samping itu, sikap juga mengandung

motivasi, artinya sikap itu mempunyai daya dorong bagi individu

untuk berperilaku tertentu terhadap objek.

Ciri-ciri sikap yang lain dikemukakan oleh Onong Uchjana

Effendy (1983:92) dalam bukunya yang berjudul “Psikologi Manajemen” sebagai berikut:

a. Sikap bukan merupakan pembawaan manusia sejak lahir, melainkan

terbentuk selama pe rkembangannya, sebagai akibat hubungannya

(34)

b. Sikap dapat berubah sebagai hasil interaksi antara seseorang dengan

orang lain. Karena itu, sikap adalah hasil pelajaran dari lingkungan

dan dapat dipelajari oleh lingkungan.

c. Sikap tidak berdiri sendiri, melainkan senantiasa mengandung relasi

dengan suatu objek. Objek tidak hanya satu jenis, melainkan

bermacam-macam sesuai dengan banyaknya objek yang menjadi

perhatian orang yang bersangkutan.

d. Sikap bersangkutan dengan dimensi waktu, yang berarti sikap hanya

cocok untuk situasi pada waktu tertentu, yang belum tentu sesuai

dengan waktu lain karena itu sikap dapat berubah menurut situasi.

e. Sikap tidak dapat menghilang walaupun kebutuhan sudah dipenuhi.

f. Sikap mengandung faktor-faktor motivasi dan emosi. Sifat inilah

yang membedakan sikap dengan pengetahuan yang terdapat pada

seseorang.

4. Pembentukan Sikap

Seperti telah dipaparkan di atas sikap tidak dibawa sejak lahir,

tetapi sikap dibentuk sepanjang perkembangan individu yang

bersangkutan. Untuk dapat menjelaskan bagaimana terbentuknya sikap

(35)

Gambar 2.2 Terbentuknya Sikap

Dari gambar tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa sikap yang

ada pada diri seseorang akan dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu

faktor fisiologis dan psikologis serta faktor eksternal. Faktor eksternal

dapat berujud situasi yang dihadapi oleh individu, norma-norma yang

ada dalam masyarakat, hambatan-hambatan atau pendorong-pendorong

yang ada dalam masyarakat. Semuanya ini akan berpengaruh pada sikap

yang ada pada diri seseorang. (Onong Uchjana Effendy, 1983:95)

Berikut ini akan diuraikan peranan beberapa faktor terhadap

pembentukan sikap menurut Saifuddin Azwar (1997:30-38) :

a. Pengalaman pribadi

Kejadian yang dialami oleh individu akan ikut mempengaruhi

penghayatannya terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi

salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat mempunyai Faktor internal

- Fisiologis - Psikologis

SIKAP

Faktor eksternal - Pengalaman - Situasi

- Norma-norma - Hambatan - Pendorong

(36)

tanggapan dan penghayatan, orang harus mempunyai pengalaman

yang berkaitan dengan objek psikologi. Apakah penghayatan itu

akan membentuk sikap negatif atau positif, tergantung pada berbagai

faktor. Untuk dapat mempengaruhi pembentukan sikap, pengalaman

pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap

akan mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi yang

bersangkutan melibatkan faktor emosional.

b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Orang yang kita anggap penting kita harapkan persetujuannya bagi

setiap gerak, tingkah dan pendapat kita. Orang-orang yang dianggap

penting dalam hidup antara lain : orang tua, teman sebaya, teman

dekat, guru, teman kerja, istri atau suami, dan lain-lain. Pada

umumnya individu cenderung memiliki sikap yang searah dengan

sikap orang yang dianggapnya penting.

c. Pengaruh kebudayaan

Kebudayaan dimana seseorang hidup dan dibesarkan mempunyai

pengaruh besar terhadap pembentukan sikap seseorang. Kebudayaan

telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya karena kebudayaan

pulalah yang memberikan corak pengalaman individu-individu yang

menjadi anggota kelompok masyarakat.

d. Media Massa

Media massa tersebut terdiri dari televisi, surat kabar, majalah dan

(37)

kepercayaan orang. Dalam penyampaian informasi media massa

membawa pesan-pesan ya ng berisikan sugesti yang dapat

mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai

sesuatu hal memberikan landasan kognitif bagi terbentuknya sikap

terhadap hal tersebut.

e. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama

Lembaga pendidikan dan lembaga agama sebagai suatu sistem

mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan

keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri

individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisahnya antara

sesuatu yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, diperoleh dari

pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya. Karena

konsep moral dan ajaran agama sangat menentukan sistem

kepercayaan, maka tidaklah mengherankan kalau pada gilirannya

kemudian konsep tersebut ikut berperan dalam menentukan sikap

individu terhadap sesuatu hal.

f. Pengaruh faktor emosional

Kadang-kadang, suatu sikap merupakan penghayatan yang didasari

oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau

pengalihan untuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian dapat

merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi

telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang bertahan

(38)

B. Guru

1. Pengertian Guru

Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun

2005 tentang Guru dan Dosen, Bab I pasal 1 ayat (1) menyatakan bahwa:

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun

2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional pasal 29 ayat (1)

mengemukakan bahwa gur u bertugas melaksanakan administrasi,

pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk

menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Dalam ayat (2)

diungkapkan bahwa guru merupakan tugas profesional yang bertugas

merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, melakukan

pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan

pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan

tinggi.

Sementara itu Drs H Rachmadi menjelaskan guru harus bermutu,

artinya memiliki kualifikasi, kompetensi dan sertifikasi sebagai

pendidik. Seorang guru dikatakan berkualitas bila dimulai dengan

adanya kualifikasi akademik, yaitu bila ia lulusan pendidikan guru,

lulusan pendidikan tinggi program pendidikan sarjana (S1) keguruan

atau setidak-tidaknya program Diploma 4 (D4) keguruan. Selain itu juga

(39)

kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian (kompetensi personal),

kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Kompetensi-kompetensi

tersebut diperoleh melalui pendidikan profesi yang bisa diperoleh di

LPTK yang bersertifikat atau ditunjuk oleh pemerintah.

2. Guru Sebagai Profesi

Menurut pendapat B.J. Chandler dalam Sahertian (1994:27-28)

menegaskan bahwa profesi mengajar ada lah suatu jabatan ya ng memiliki

kekhususan. Kekhususan itu memerlukan kelengkapan mengajar dan

keterampilan yang menggambarkan seseorang melakukan tugas

mengajar, yaitu membimbing manusia. Apabila dilihat dari ciri-ciri

keprofesian, profesi guru memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Mengutamakan layanan sosial, lebih dari kepentingan pribadi.

b. Mempunyai status yang tinggi.

c. Memiliki pengetahuan yang khusus (dalam hal mengajar dan

mendidik).

d. Memiliki kegiatan intelektual.

e. Memiliki hak untuk memperoleh standard kualifikasi profesional.

f. Mempunyai kode etik yang ditentukan organisasi profesi.

Lebih jauh Roestijah NK dalam Supeno (1995:28-29)

mengemukakan bahwa profesionalisme di bidang pendidikan mendapat

pengakuan karena tiga alasan. Pertama, lapa ngan pekerjaan keguruan

atau kependidikan bukan merupakan suatu lapangan kerja rutin yang

(40)

Lapangan kerja ini pun tidak dapat dilaksanakan berdasarkan

amatirisme, lebih-lebih dengan coba -coba atau trial an errors. Lapangan kerja ini memerlukan perencanaan yang mantap, suatu manajemen yang

memperhitungkan komponen-komponen sistemnya. Kedua, lapangan

kerja ini memerlukan dukungan ilmu atau teori yang akan memberi

konsepsi teoritis ilmu kependidikan dengan cabang-cabangnya. Ketiga,

lapangan kerja ini memerlukan waktu pendidikan dan latihan yang lama,

berupa pendidikan dasar (basic education) untuk taraf sarjana ditambah pendidikan profesional.

3. Profesionalisme Guru

Istilah ”profesional” aslinya adalah kata sifat dari kata pekerjaan

yang berarti sangat mampu melakukan pekerjaan dan sebagai kata benda

yang berarti orang yang melaksanakan sebuah profesi dengan

menggunakan profesiensi sebagai mata pencaharian (McLeod dalam

Muhibbin 1995:231). Dengan kata lain pekerjaan yang bersifat

profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka

yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang lain.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:897) mengartikan profesi

sebagai bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian

(keterampilan, kejujuran, dsb) tertentu. Artinya pekerja profesional akan

senantiasa menggunakan teknik dan prosedur yang berpijak pada

landasan intelektual yang harus dipelajari secara sengaja, terencana dan

(41)

Secara umum profesi diartikan sebagai suatu pekerjaan yang

memerlukan pendidikan lanjut di dalam science dan teknologi yang digunakan sebagai perangkat dasar untuk diimplementasikan dalam

berbagai kegiatan yang bermanfaat (Sardiman, 1986:131).

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005

tentang Guru dan Dosen Bab I pasal 1 ayat (4) menegaskan bahwa :

”Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.”

Profesionalitas menurut pasal 7 ayat (1) Undang-undang Guru dan

Dosen dinyatakan sebagai bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan

berdasarkan prinsip sebagai berikut :

a. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme;

b. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan,

keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia;

c. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan

sesuai dengan bidang tugas;

d. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang

tugas;

e. Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas

keprofesionalan;

f. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi

(42)

g. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan

secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat;

h. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan

tugas keprofesionalan; dan

i. Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan

mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan

guru.

Profesi yang dimaksud adalah profesi keguruan, seharusnya terkait

dengan kecakapan yang dimiliki guru dalam menjalankan tugas

keprofesiannya, dalam hal ini ialah untuk menjalankan fungsi guru

menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran siswa.

Maka secara singkat dapat dikatakan pengertian guru profesional

adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam

bidang keguruan sehingga mampu melakukan tugas dan fungsinya

sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Tiga kemampuan yang

penting yang harus dimiliki seorang guru profesional adalah kompetensi

profesional, kompetensi personal, kompetensi sosial dan kompetensi

pedagogis. Kompetensi tersebut merupakan syarat dalam mengikuti

program sertifikasi guru.

C. Program Sertifikasi Guru

Istilah sertifikasi dalam makna Kamus Besar Bahasa Indonesia

(43)

diberikan kepada jenis profesi dan sekaligus pernyataan (lisensi) terhadap

kelayakan profesi untuk melaksanakan tugas.

Sertifikasi guru menurut Undang-Undang Republik Indonesia

tentang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 ialah proses pemberian

sertifikat pendidik, yang menjadi bukti formal sebagai pengakuan yang

diberikan kepada guru sebagai tenaga profesional. Dalam ketentuan seperti

yang diatur dalam Undang-undang Guru dan Dosen (2006) seperti yang

dicantumkan dalam pasal 11 yang bunyinya seperti berikut:

1. Sertifikasi pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi

persyaratan. (ayat 1)

2. Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang

memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi.

(ayat 2)

3. Sertifikasi pendidik dilaksanakan secara objektif, transparan dan

akuntabel. (ayat 3) Objektif yaitu mengacu kepada proses perolehan

sertifikat pendidik yang impartial, tidak diskriminatif, dan memenuhi

standar pendidikan nasional. Transparan yaitu mengacu kepada proses

sertifikasi yang memberikan peluang kepada para pemangku

kepentingan pendidikan untuk memperoleh akses informasi tentang

pengelolaan pendidikan, yang sebagai suatu sistem meliputi masukan,

proses, dan hasil sertifikasi. Akuntabel merupakan proses sertifikasi

yang dipertanggungjawabkan kepada pemangku kepentingan pendidikan

(44)

Sertifikasi guru mempunyai tujuan yaitu untuk (1) menentukan

kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan

mewujudkan tujuan pendidikan nasional, (2) peningkatan proses dan mutu

hasil pendidikan, dan (3) peningkatan profesionalitas guru.

Adapun manfaat sertifikasi guru yaitu sebagai berikut:

1. Melindungi profesi guru dari praktik-praktik yang tidak kompeten, yang

dapat merusak citra profesi guru.

2. Melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak

berkualitas dan tidak profesional.

3. Menjaga lembaga penyelenggara pendidikan tenaga kependidikan

(LPTK) dari keinginan internal dan tekanan eksternal yang menyimpang

dari ketentuan-ketentuan yang berlaku.

4. Meningkatkan kesejahateraan guru.

Guru yang sudah memiliki kualifikasi pendidikan D4 dan S1 harus

mengikuti ujian sertifikasi. Ujian sertifikasi tersebut berupa empat standar

kompetensi guru, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,

kompetensi professional dan kompetensi sosial. Dalam Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

dinyatakan pada ayat (10) kompetensi adalah seperangkat pengetahuan,

keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh

(45)

Ada empat kompetensi, yakni:

1. Kompetensi Pedagogik yang berarti guru harus memahami tentang

peserta didik dari berbagai aspek, seperti perkembangan kognitif,

emosional dan psikomotoriknya. Pemahaman tersebut diterapkan untuk

mengajarkan bidang studi. Guru juga harus mengetahui berbagai teori

tentang belajar dan pembelajaran, karena hal ini merupakan landasan

pada pendekatan dan metodologi mengajar. Artinya kemampuan dalam

pembelajaran ini memuat pemahaman akan sifat, ciri anak didik dan

perkembangannya; mengerti beberapa konsep pendidikan yang berguna

membantu siswa; serta menguasai sistem evaluasi yang tepat.

2. Kompetensi Kepribadian yang menuntut agar guru memiliki kepribadian

yang mantap (berpegang pada norma yang berlaku), kepribadian yang

mantap yang berarti juga taat asas dalam be rsikap dan bertindak,

kepribadian dewasa yang berarti memiliki kematangan emosional sesuai

dengan norma yang berlaku, kepribadian yang arif yang berarti

mempunyai pertimbangan yang mendalam dalam bersikap dan bertindak

sebagai pendidik, kepribadian berwibawa, dan akhlak mulia. Dari uraian

itu dapat disimpulkan bahwa kemampuan kepribadian mencakup

kepribadian yang utuh, berbudi luhur, jujur, dewasa, beriman, bermoral;

kemampuan mengaktualisasikan diri seperti disiplin, tanggung jawab,

peka, objektif, luwes, berwawasan luas, dapat berkomunikasi dengan

(46)

kritis, reflektif, mau belajar sepanjang hayat, dan dapat mengambil

keputusan, terbuka akan hal-hal yang baru. (Suparno, 2004:47)

3. Kompetensi Profesional yang berkaitan dengan kemampuan dalam

bidang studi. Kompetensi ini lebih menekankan pada keahlian guru yang

memegang bidang studi tertentu. Artinya guru yang bersangkutan harus

memahami dan melaksanakan pembelajaran yang mendidik. Guru

tersebut juga harus mampu mengembangkan keprofesionalitasannya.

Dengan kata lain kemampuan dalam bidang studi memuat pemahaman

akan karakteristik dan isi bahan ajar, menguasai konsepnya, mengenal

metodologi ilmu yang bersangkutan, memahami konteks bidang tersebut

dan juga kaitannya dengan masyarakat, lingkungan dan dengan ilmu

lain. Artinya guru tidak cukup hanya mendalami ilmunya sendiri tetapi

termasuk bagaimana dampak dan relasi ilmu itu dalam hidup masyarakat

dan ilmu-ilmu lain. Karena itu guru diharapkan memiliki wawasan yang

luas.

4. Kompetensi Sosial menuntut guru mempunyai kompetensi

berkomunikasi yang efektif dan bergaul secara efektif. Guru berada di

sekolah berkomunikasi di antara murid, guru dengan orang tua murid

juga dituntut harus mampu berkomunikasi. Komunikasi bisa dikatakan

menjadi efektif bila guru mampu mengkomunikasikan suatu ide/gagasan

baik secara lisan maupun tertulis kepada orang lain, sebaliknya guru

(47)

yang ditujukan kepadanya. Guru juga diharapkan dapat berkomunikasi

dengan masyarakat sekitar.

Guru yang sudah mengikuti ujian sertifikasi atau program sertifikasi

guru berhak mendapatkan sertifikat pendidik. Sertifikat pendidik adalah

bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru sebagai tenaga

profesional.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia

Nomor 18 tahun 2007 menyatakan bahwa sertifikasi bagi guru dalam jabatan

dilaksanakan melalui uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat pendidik.

Uji kompetensi tersebut dilakukan dalam bentuk penilaian portofolio, yang

merupakan pengakuan atas pengalaman profesional guru dalam bentuk

penilaian terhadap kumpulan dokumen yang mencerminkan kompetensi

guru. Komponen penilaian portofolio mencakup:

1. Kualifikasi akademik

Kualifikasi akademik yaitu tingkat pendidikan formal yang telah dicapai

sampai dengan guru mengikuti sertifikasi, baik pendidikan gelar (S1, S2

atau S3) maupun non gelar (D4), baik di dalam maupun di luar negeri.

Bukti fisik yang terkait dengan komponen ini dapat berupa ijazah atau

sertifikat diploma.

2. Pendidikan dan pelatihan

Pendidikan dan pelatihan yaitu pengalaman dalam mengikuti kegiatan

pendidikan dan pelatihan dalam rangka pengembangan atau peningkatan

(48)

tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun

internasional. Bukti fisik komponen ini dapat berupa sertifikat, piagam,

atau surat keterangan dari lembaga penyelenggara diklat.

3. Pengalaman mengajar

Pengalaman mengajar yaitu masa kerja guru dalam melaksanakan tugas

sebagai pendidik pada satuan pendidikan tertentu sesuai dengan surat

tugas dari lembaga yang berwenang (dapat dari pemerintah, dan/ atau

kelompok masyarakat penyelenggara pendidikan). Bukti fisik dari

komponen ini dapat berupa surat keputusan atau surat keterangan yang

sah dari lembaga yang berwenang.

4. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran

Perencanaan pembelajaran yaitu persiapan mengelola pembelajaran yang

akan dilaksanakan dalam kelas pada setiap tatap muka. Bukti fisik ini

dapat berupa dokumen perencanaan pembelajaran (RP/RPP/SP) yang

diketahui atau disahkan oleh atasan. Pelaksanaan pembelajaran yaitu

kegiatan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas dan pembelajaran

individual. Kegiatan ini mencakup tahapan pra pembelajaran

(pengecekan kesiapan kelas dan apersepsi), kegiatan inti (penguasaan

materi, strategi pembelajaran, pemanfaatan media atau sumber belajar,

evaluasi, penggunaan bahasa), dan penutup (refleksi, rangkuman, dan

tindak lanjut). Bukti fisik yang dilampirkan berupa dokumen hasil

penilaian oleh kepala sekolah atau pengawas tentang pelaksanaan

(49)

5. Penilaian dari atasan dan pengawas

Penilaian dari atasan dan pengawas yaitu penilaian atasan terhadap

kompetensi kepribadian dan sosial, meliputi aspek-aspek: ketaatan

menjalankan ajaran agama, tanggung jawab, kejujuran, kedisiplinan,

keteladanan, etos kerja, inovasi dan kreativitas, kemampuan menerima

kritik dan saran, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan

bekerjasama dengan menggunakan format penilaian atasan terlampir.

6. Prestasi akademik

Prestasi akademik yaitu prestasi yang dicapai guru, utamanya yang

terkait dengan bidang keahliannya yang mendapat pengakuan dari

lembaga atau panitia penyelenggara. Komponen ini meliputi lomba dan

karya akademik, dan pembimbingan teman sejawat dan siswa. Bukti

fisik yang dilampirkan berupa surat penghargaan, surat keterangan atau

sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga atau panitia penyelenggara.

7. Karya pengembangan profesi

Karya pengambangan profesi yaitu suatu karya yang menunjukkan

adanya upaya dan hasil pengembangan profesi yang dilakukan guru.

Komponen ini meliputi buku yang diplublikasikan, artikel yang dimuat

dalam media jurnal atau majalah, menjadi reviewer buku, penulis soal EBTANAS/UN, modul atau buku cetak lokal yang minimal mencakup

materi pembelajaran selama satu semester, media atau alat pembelajaran

(50)

fisik yang dilampirkan berupa surat keterangan dari pejabat yang

berwenang tentang hasil karya tersebut.

8. Keikutsertaan dalam forum ilmiah

Keikutsertaan dalam forum ilmiah yaitu partisipasi dalam kegiatan

ilmiah yang relevan dengan bidang tugasnya pada tingkat kecamatan,

kabupaten atau kota, provinsi, nasional, atau internasional, baik sebagai

pemakalah maupun sebagai peserta. Bukti fisik yang dilampirkan berupa

makalah dan sertifikat atau piagam bagi nara sumber, dan sertifikat atau

piagam bagi peserta.

9. Pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial

Pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial yaitu

pengalaman guru menjadi pengurus, dan bukan hanya sebagai anggota di

suatu organisasi kependidikan dan sosial. Bukti fisik yang dilampirkan

adalah surat keputusan atau surat keterangan dari pihak yang berwenang.

10. Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan

Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan yaitu penghargaan

yang diperoleh karena guru menunjukkan dedikasi yang baik dalam

melaksanakan tugas dan memenuhi kriteria kuantitatif, kualitatif, dan

relevansi. Bukti fisik yang dilampirkan berupa fotokopi sertifikat,

piagam, atau surat keterangan.

Portofolio adalah bukti fisik (dokumen) yang menggambarkan

pengalaman berkarya atau prestasi yang dicapai dalam menjalankan tugas

(51)

dengan unsur pengalaman, karya, dan prestasi selama guru yang

bersangkutan menjalankan peran sebagai agen pembelajaran (kompetensi

kepribadian, pedagogik, profesional, dan sosial).

Fungsi portofolio dalam sertifikasi guru untuk menilai kompetensi

guru dalam menjalankan tugas dan perannya sebagai agen pembelajaran.

Kompetensi pedagogik dinilai antara lain melalui dokumen kualifikasi

akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan

dan pelaksanaan pembelajaran. Kompetensi kepribadian dan kompetensi

sosial dinilai antara lain melalui dokumen penilaian dari atasan dan

pengawas. Kompetensi profesional dinilai antara lain melalui dokumen

kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar,

perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, dan prestasi akademik.

Dari 10 komponen portofolio dalam program sertifikasi guru sesuai

dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor

18 tahun 2007, maka dapat dilihat di bawah ini tabel pemetaan komponen

(52)

Tabel 2.1

Pemetaan Komponen Portofolio ke Dalam Kompetensi Guru

Kompetensi Guru Componen Portafolio

(Sesuai Permendiknas No 18 tahun 2007) PED KEPRI SOS PROF

1. Kualifikasi Akademik v v

2. Pendidikan dan Pelatihan v v

3. Pengalaman Mengajar v v v

4. Perencanaan & Pelaksanaan Pembelajaran v v

5. Penilaian Atasan dan Pengawas v v v v

6. Prestasi Akademik v v v

7. Karya Pengembangan Profesi v

8. Keikutsertaan dalam Forum Ilmiah v v

9. Pengalaman orang dalam bidang

kependidikan dan sosial v v

10. Penghargaan yang relevan dengan

bidang pendidikan v v v v

D. Faktor-faktor yang mempengaruhi Sikap Guru

Sikap seseorang terbentuk dengan berbagai macam faktor yang

mempengaruhinya. Dalam penelitian ini, hal-hal yang diduga kuat

mempengaruhi sikap guru terhadap program sertifikasi guru adalah sebagai

berikut :

1. Masa Kerja

Masa kerja berasal dari kata masa dan kerja. W.J.S.

Poerwadarminta menyatakan bahwa masa berarti waktu dan kerja berarti

(53)

Masa kerja diartikan sebagai satu kesatuan waktu yang telah dilalui

oleh guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru hingga sekarang.

Masa kerja guru dinyatakan dalam bilangan tahun.

Selama melaksanakan tugasnya, guru banyak memperoleh

pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai serta sikap yang berguna untuk

meningkatkan kemampuannya sebagai guru. Semakin banyak masa kerja

guru maka semakin banyak pula pengetahuan, keterampilan, dan

kemampuan-kemampuan yang dapat diperoleh oleh guru dalam

melaksanakan tugasnya itu. Dalam kenaikan pangkat, guru

menggunakan sistem karier, salah satu yang menjadi bahan

pertimbangan adalah masa kerja guru.

Masa kerja mempunyai pengaruh yang penting dalam kenaikan

pangkat seorang guru. Apabila seorang guru dipromosikan untuk naik

jabatan dalam posisi yang lebih tinggi, maka guru yang mempunyai

masa kerja lebih tinggi mendapat perhatian yang lebih. Di sini dipandang

bahwa seseorang yang mempunyai masa kerja yang lebih itu mempunyai

kemampuan sedikit lebih baik dari pada guru yang lain.

Masa kerja berkaitan dengan pengalaman kerja. Masa kerja yang

tinggi maka sudah tentu mempunyai pengalaman yang banyak pula.

2. Kondisi Sosial Ekonomi

Menurut Mahmud (1990:87-95) status sosial ekonomi keluarga

antara lain meliputi tingkat pendidikan orang tua, jenis pekerjaan orang

(54)

yang mencakup fasilitas khusus dan barang-barang berharga yang ada di

rumah.

a. Tingkat Pendapatan

Pengertian pendapatan yaitu jumlah imbalan atau keuntungan atas

barang atau jasa yang diperoleh dari hasil kerja seseorang. Jika kita

memperthatikan lingkungan sekitar kita maka akan terlihat betapa

sibuknya orang-orang bekerja, ini dilakukan untuk memperoleh

keuntungan atau imbalan.

b. Pemilikan Barang Berharga

Kekayaan yang diperoleh selama seseorang bekerja atau merupaka n

hasil jerih payah orang tersebut dalam mencukupi kebutuhannya

seperti kebutuhan akan tempat tinggal, kendaraan, televisi, mesin

cuci, lemari es dan sebagainya.

Menurut pendapat Lindgen dalam B. Musidi (1991:136), perbedaan

pengalaman yang berkaitan denga n kemampuan finansial dan perlengkapan

material akan mempengaruhi perbedaan nilai, sikap, keyakinan, kepribadian

serta cara memandang sesuatu disekitarnya.

E. Kerangka Berpikir

1. Perbedaan sikap guru terhadap program sertifikasi guru berdasarkan

masa kerja.

Guru yang telah mempunyai pengalaman mengajar lama maka

(55)

Dengan pengalaman mengajar yang lama guru akan memiliki

keterampilan dan wawasan yang luas, baik dalam hal bersikap dan

bertindak terhadap program sertifikasi guru.

Semakin tinggi masa kerja guru maka semakin banyak pula

pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dapat diperoleh guru

dalam melaksanakan tugasnya. Jadi semakin tinggi masa kerja guru

maka sikap guru akan positif terhadap program sertifikasi guru.

2. Perbedaan sikap guru terhadap program sertifikasi guru berdasarkan

kondisi sosial ekonomi.

Dalam kehidupan bermasyarakat tidak dapat dipungkiri ada nya

perbedaan kondisi sosial ekonomi, misalnya tampak dari sikap orang

kaya terhadap orang miskin, majikan terhadap pembantu, serta atasan

terhadap bawahan. Perbedaan ini nyata dalam simbol kondisi sosial

seperti mobil mewah, rumah mewah, perabot rumah tangga dan

sebagainya.

Kondisi sosial ekonomi guru di sini menunjukkan pada

kemampuan finansial dan perlengkapan material yang dimiliki guru.

Kondisi sosial ekonomi tinggi berarti guru memiliki penghasilan tinggi

serta fasilitas pendukung yang ada dalam rumah memadai sehingga akan

terbiasa hidup dengan mewah cenderung bersikap semaunya dan

bersikap kurang termotivasi untuk mengikuti program sertifikasi guru.

Sedangkan pada keluarga yang kondisi sosial ekonomi rendah

(56)

sehingga terbiasa hidup bekerja keras atau mencari penghasilan

tambahan. Hal ini akan mendorong guru dengan kondisi sosial ekonomi

rendah untuk mengikuti program sertifikasi guru agar mendapatkan

kesejahteraan. Perbedaan kondisi sosial ekonomi guru akan

mempengaruhi nilai hidup, kepribadian, serta sikap seseorang sehingga

mempengaruhi pula perbedaan sikap guru terhadap program sertifikasi

guru.

F. Hipotesis

Hipotesis adalah anggapan atau pendapat yang diterima secara

tentatif untuk menjelaskan suatu fakta dan dipakai sebagai dasar suatu

penelitian. Berdasarkan pada la ndasan teoritik di atas, peneliti menga jukan

hipotesis sebagai berikut:

1. Ada perbedaan sikap guru terha dap program sertifikasi guru berdasarkan

masa kerja.

2. Ada perbedaan sikap guru terhadap program sertifikasi guru berdasarkan

(57)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yaitu penelitian hanya

terbatas pada usaha mengungkapkan suatu masalah dan keadaan

sebagaimana adanya sehingga hanya sekedar mengungkapkan fakta (Wasito,

1986:8). Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui sikap guru SMA

terhadap program sertifikasi guru dengan menyebarkan kuesioner di wilayah

Kotamadya Yogyakarta.

Penelitian ini termasuk penelitian studi kasus yaitu penelitian tentang

subjek tertentu, di mana subjek tersebut terbatas, maka kesimpulan yang

diperoleh hanya berlaku pada subjek yang diteliti (Amirin, 1986:123).

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di SMA baik negeri maupun swasta di

Kota Yogyakarta.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan mulai bulan Juli sampai dengan bulan

(58)

C. Subjek dan Objek Penelitian

1. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah pihak atau lembaga yang memberikan

informasi. Dalam hal ini penelitian yang akan diteliti adalah guru

ekonomi dan akuntansi SMA di Kota Yogyakarta.

2. Objek Penelitian

Objek penelitian adalah seseorang atau sesuatu yang ingin diteliti

(Amirin, 1986:92). Dalam penelitian ini, objeknya adalah masa kerja

dan kondisi sosial ekonomi yang terdiri dari tingkat pendapatan dan

fasilitas-fasilitas yang dimiliki keluarga.

D. Populasi, Sampel dan Teknik Penarikan Sampel

1. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Suharsimi,

2002:108). Populasi dalam penelitian ini adalah guru ekonomi dan

akuntansi SMA di Kota Yogyakarta baik sekolah negeri maupun

swasta. Berdasarkan data dari BPS Yogyakarta ada 11 SMA negeri

dan 38 SMA swasta di Kota Yogyakarta.

Sampel yaitu sebagian atau wakil dari populasi yang akan

diteliti (Suharsimi, 2002:109). Dalam penelitian ini sampel akan

(59)

2. Teknik Penarikan Sampel

Pengambilan sampel dalam penelitian ini dibuat berdasarkan

perwakilan popula si yang ada. Cara penarikan subjek yang dilakukan

adalah Proporsional Random Sampling, yaitu pengambilan sampel secara proporsional dari tiap kelompok dan sampel diambil secara

acak, sehingga tiap-tiap subjek memiliki kesempatan yang sama untuk

diambil sebagai anggota sampel.

Untuk studi deskriptif, sampel 10% dari populasi merupakan

syarat minimal agar dapat dikatakan representatif. Agar representatif

jumlah sampel setidaknya 20% dari populasi (Kuncoro, 2003:111).

Dalam hal ini, populasi berjumlah 49 SMA dan sampelnya adalah 40%

dari 49 SMA, yaitu 20 SMA, baik sekolah negeri maupun swasta.

Jumlah sekolah ditentukan berdasarkan proporsi, sedangkan sekolah

sampel dipilih dengan cara random atau undi. Jadi jumlah sampel yang

digunakan dalam penelitian ini adalah:

Tabel 3.1

Jumlah Sampel Penelitian Dengan Menggunakan Teknik Proporsional

Sekolah Jumlah Sekolah Jumlah Sampel

Negeri 11

4 20 49 11× =

Swasta 38

(60)

Tabel 3.2

Sekolah Sampel Secara Random

Sekolah Nama Sekolah

Negeri 1. SMA N 7

2. SMA N 8

3. SMA N 10

4. SMA N 11

Swasta 1. SMA Stella Duce 1

2. SMA Stella Duce 2

3. SMA Santa Maria

4. SMA BOPKRI 2

5. SMA BOPKRI 3

6. SMA Pembangunan

7. SMA Bhinneka Tunggal Ika

8. SMA Sang Timur

9. SMA Institut Indonesia

10. SMA Budya Wacana

11. SMA Taman Madya Jetis

12. SMA Perak

13. SMA Marsudi Luhur

14. SMA Santo Thomas

15. SMA PIRI 1

16. SMA 17’1

E. Variabel Penelitian dan Pengukuran

1. Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah objek penelitian atau apa yang

menjadi titik perhatian suatu penelitian (Suharsimi, 2002:96). Dalam

(61)

a. Variabel bebas

1) Masa kerja

2) Kondisi sosial ekonomi

b. Variabel terikat

Yaitu sikap guru SMA terhadap program sertifikasi guru.

2. Pengukuran Variabel

Definisi dan pengukuran dari variabel yang akan diteliti adalah:

a. Sikap Guru Terhadap Program Sertifikasi Guru

Seperti yang diungkapkan oleh Saifuddin Azwar (1997:8)

bahwa sikap mengandung tiga komponen sikap yaitu kognitif,

afektif, konatif. Komponen kognitif berupa apa yang dipercayai

oleh subyek pemilik sikap, komponen afektif merupakan

komponen perasaan yang menyangkut aspek emosional, dan

komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku

tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh subyek.

Sikap guru terhadap program sertifikasi guru dibatasi oleh

dua nilai yaitu sikap positif dan sikap negatif. Pengukuran yang

digunakan penulis untuk mengukur variabel sikap guru terhadap

program sertifikasi guru adalah berupa pernyataan-pernyataan

dengan menggunakan skala pengukuran dari model Likert dengan

(62)

Tabel 3.3

Skala Pengukuran Model Likert Skor Pernyataan Skala

Positif Negatif

Sangat Setuju 4 1

Setuju 3 2

Tidak Setuju 2 3

Sangat Tidak Setuju 1 4

b. Masa Kerja

Masa kerja guru adalah satu kesatuan waktu yang telah

dilalui oleh guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru

hingga sekarang. Masa kerja guru dinyatakan dalam bilangan

tahun. Masa kerja dalam penelitian ini dibedakan menjadi tiga

yaitu

1) Lebih dari 10 tahun ( > 10 tahun) skor 3

2) 5 - 10 tahun skor 2

3) Kurang dari 5 tahun ( < 5 tahun) skor 1

c. Kondisi Sosial Ekonomi

Kondisi sosial ekonomi guru adalah kemampuan finansial

dan fasilitas atau perlengkapan material yang dimiliki dalam

keluarga.

Kondisi sosial ekonomi yang akan diteliti oleh penulis

(63)

1) Tingkat Pendapatan Guru

Variabel ini di ukur dengan cara memberi bobot pada

masing-masing tingkatan. Semakin tinggi tingkat pendapatan maka

semakin tinggi pula bobot yang diberikan. Pembobotan dilihat

di bawah ini yaitu sebagai berikut:

a) Di bawah Rp 750.000,00 skor 1

b) Antara Rp 750.000,00-Rp 1.500.000,00 skor 2

c) Antara Rp 1.500.000,00-Rp 3.000.000,00 skor 3

d) Antara Rp 3.000.000,00-Rp 4.500.000,00 skor 4

e) Di atas Rp 4.500.000,00 atau lebih skor 5

2) Tingkat Penghasilan Tambahan Guru

Variabel ini di ukur dengan cara memberi bobot pada

masing-masing tingkatan. Semakin tinggi tingkat penghasilan

tambahan maka semakin tinggi pula bobot yang diberikan.

Pembobotan dilihat di bawah ini yaitu sebagai berikut:

a) Di bawah Rp 750.000,00 skor 1

b) Antara Rp 750.000,00-Rp 1.500.000,00 skor 2

c) Antara Rp 1.500.000,00-Rp 3.000.000,00 skor 3

d) Antara Rp 3.000.000,00-Rp 4.500.000,00 skor 4

e) Di atas Rp 4.500.000,00 atau lebih skor 5

3) Fasilitas Yang Dimiliki Oleh Keluarga

a) Alat Transportasi

(64)

(2) Mobil Dinas skor 4

(3) Sepeda Motor skor 3

(4) Sepeda skor 2

(5) Angkutan Umum skor 1

b) Peralatan Elektronik

(1) TV Berwarna, CD, dan Tape Recorder skor 5

(2) TV Berwarna, dan tape Recorder skor 4

(3) TV Berwarna skor 3

(4) Tape Recorder skor 2

(5) Lain-lain… skor 1

c) Perkakas RumahTangga

(1) Kulkas, Mesin Cuci, dan Kompor Gas skor 4

(2) Kulkas, dan Mesin Cuci skor 3

(3) Kulkas skor 2

(4) Lain-lain… skor 1

d) Daya Listrik

(1) >1300 Watt skor 4

(2) 1300 Watt skor 3

(3) 900 Watt skor 2

(4) 450 Watt skor 1

e) Tempat tinggal

(1) Rumah Sendiri skor 4

(65)

(3) Mengontrak skor 2

(4) Lain-lain… skor 1

f) Dinding Rumah

(1) Bambu skor 1

(2) Papan skor 2

(3) Setengah Tembok skor 3

(4) Semua Tembok

Gambar

Tabel 4.6 Perbedaan Sikap Guru SMA terhadap Program Sertifikasi Guru
Gambar 2.2 Terbentuknya Sikap....................................................................
Gambar 2.2 Terbentuknya Sikap
Tabel 2.1 Pemetaan Komponen Portofolio ke Dalam Kompetensi Guru
+7

Referensi

Dokumen terkait

Program ini merupakan program pengiriman dosen ke berbagai perguruan tinggi luar negeri yang bertugas khusus dalam misi kebangsaan sebagai pengajar bahasa, seni, atau

Ia berkata: “Sesungguhnya para pengikut paham Asy’ari dan sebagian orang yang menganut paham Qadariyyah telah sependapat dengan al-Jahm ibn Shafwan dalam prinsip

Daerah penghasil sayuran yang utama di Kabupaten Wonosobo adalah Kecamatan Kalikajar, Kertek, Garung dan Kejajar.Produksi tanaman sayuran pada tahun 2012

[r]

[r]

Master personil adalah sebagai data yang penting untuk menjalankan aplikasi sistem administrasi ini, sehingga apabila terdapat pegawai baru maka harus terdaftar pada sistem

Djamil Padang tahun 2015-2019, merupakan perwujudan amanah dan aspirasi yang bersumber dari kepentingan stakeholder inti dan sekaligus sebagai bentuk

12.2 Dengan mendaftar sebagai peserta pada suatu paket pekerjaan melalui aplikasi SPSE, maka peserta telah menandatangani Pakta Integritas, kecuali untuk penyedia