• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

B. Prokrastinasi akademik

Prokrastinasi, penundaan yang tidak berguna dalam menyelesaikan suatu tugas sampai mengalami titik ketidaknyamanan, adalah masalah yang umum dikenal (Solomon dan Rothblum, 1984). Prokrastinasi

mengacu pada “kapan” seseorang melakukan tugas tertentu dan “bagaimana” seseorang menangani penjadwalan serta kepatuhan terhadap jadwal tersebut (Millgram, 1988). Definisi ini berasumsi bahwa reaksi emosi yang tidak menyenangkan pada tugas-tugas rutin mendasari kesulitan dalam memutuskan kapan harus melakukan tugas-tugas tersebut. Asumsi lainnya adalah seseorang bisa saja memutuskan untuk melakukan tugas-tugasnya disaat-saat terakhir atau bahkan sudah sangat terlambat untuk mengerjakannya dan ini adalah masalah kebijakan dalam mengatur bagaimana seseorang dalam menangani jadwal pengerjaan tugas tersebut.

DeSimone (dalam Ferrari et al., 1995) menjelaskan bahwa kata prokrastinasi berasal dari bahasa latin “procrastinatinare”. Kata tersebut

terbagi dalam dua kata,yaitu “pro” yang berarti pendorong maju atau bergerak maju dan “crastinate” yang berarti “kepunyaan hari esok”. Bisa disimpulkan kata “procrastinatinare” memiliki makna yaitu

“menangguhkan atau menunda sampai hari berikutnya.” Pengertian

tersebut sama pengertian prokrastinasi menurut American College Dictionary (dalam Burka dan Yuen, 1983) yaitu menangguhkan suatu

aksi, penundaan; berhenti mengerjakan sampai hari selanjutnya. Perilaku suka menunda-nunda ini mengakibatkan kesulitan dalam belajar di sekolah atau di perkuliahan, dalam karir bahkan dalam kehidupan pribadi (Beswick, 1988). Dalam perkembangannya, Millgram (dalam Ferrari et al., 1995) berpendapat bahwa prokrastinasi dianggap sebagai sebuah penyakit modern, bahwa tidak hanya kemunculannya relevan dengan negara-negara dimana teknologi canggih dan kepatuhan jadwal penting.

Berdasarkan uraian tersebut, prokrastinasi dapat dirumuskan sebagai suatu penundaan dalam melakukan atau mengerjakan tugas secara sengaja yang mengakibatkan kesulitan bagi individu yang melakukannya. 2. Jenis-jenis Prokrastinasi

Ferarri et al. (1995) membagi prokrastinasi menjadi dua bagian, yaitu :

a. Prokrastinasi Fungsional (Functional Procrastination), yaitu penundaan mengerjakan tugas untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat dan lengkap. Bentuk penundaan ini memiliki pandangan bahwa suatu pekerjaan atau tugas harus dikerjakan secara sempurna meskipun dalam mengerjakannya mereka melewati waktu yang optimal yang seharusnya dimulai, sehingga mendapatkan penyelesaian yang baik.

b. Prokrastinasi Disfungsional (Disfunctional Procrastination), yaitu penundaan yang tidak bertujuan, berakibat tidak baik dan menimbulkan masalah. Bentuk penundaan ini tidak disertai

dengan sebuah alasan yang berguna bagi prokrastinator ataupun orang lain. Penundaan tersebut dapat menimbulkan masalah jika prokrastinator tidak bisa melepaskan diri dari kebiasaan tersebut.

Berdasarkan tujuan melakukan prokrastinasi, Ferarri et al.(1995) membagi prokrastinasi disfungsional menjadi dua bentuk prokrastinasi, yaitu :

a. Decisional procrastination, yaitu suatu penundaan dalam mengambil keputusan. Jenis prokrastinasi ini terjadi akibat kegagalan dalam mengindentifikasi tugas yang menyebabkan konflik dalam diri individu dan akhirnya memutuskan untuk menunda menyelesaikan tugas.

b. Avoidance procrastination, yaitu suatu penundaan dalam perilaku yang tampak. Dalam hal ini, penundaan dilakukan untuk sebagai cara untuk menghindari tugas yang dirasa kurang menyenangkan dan sulit untuk dikerjakan atau dilakukan. Hal ini dilakukan untuk menghindari kegagalan yang akan memberikan penilaian negatif kepada dirinya.

Dalam penelitian ini, prokrastinasi dibatasi pada jenis dysfunctional procrastination, yaitu penundaan yangtidak bertujuansehingga dapat berakibat negatif dan menimbulkan masalah, baik dalam kategori decisional procrastination atau avoidance procrastinator.

3. Prokrastinasi akademik

Ferarri et al.(1995) membagi prokrastinasi menurut jenis tugasnya, yaitu prokrastinasi akademik dan non-akademik. Prokrastinasi akademik adalah jenis penundaan yang dilakukan pada jenis tugas formal yang berhubungan dengan tugas akademik, misalnya tugas sekolah, tugas kuliah atau tugas kursus. Sedangkan, prokrastinasi non-akademik adalah penundaan yang dilakukan pada jenis tugas non-formal atau yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, penundaan menyapu, mencuci, dll.

Rothblum(dalam Rothblum, Solomon, & Murakami, 1986) menyatakan bahwa prokrastinasi akademik telah didefinisikan sebagai kecenderungan individu untuk hampir selalu atau selalu menunda tugas-tugas akademik, dan hampir selalu atau selalu mengalami tingkat kecemasan bermasalah terkait dengan penundaan ini. Dalam penelitian lainnya, Solomon dan Rothblum (1984) menemukan bahwa seperempat mahasiswa diindikasikan mengalami masalah prokrastinasi pada tugas-tugas akademik seperti menulis makalah, belajar untuk ujian, dan membaca bacaan mingguan.

Pada penelitian ini, jenis prokrastinasi yang digunakan adalah prokrastinasi akademik. Prokrastinasi akademik dimaksudkan sebagai suatu penundaan pada tugas formal seperti tugas kuliah. Pemilihan jenis prokrastinasi akademik dikarenakan dalam penelitian ini akan berfokus

pada lingkup mahasiswa, yaitu sebagai pelaku dari yang sedang menjalani proses akademik.

4. Indikator Prokrastinasi Akademik

Schouwenburg (dalam Ferrari et al., 1995) mengatakan bahwa prokrastinasi akademik sebagai perilaku penundaan dapat termanifestasi dalam aspek-aspek yang dapat diukur dan diamati ciri-cirinya. Terdapat empat indikator keprilakuan dalam prokrastinasi akademik, yaitu :

a. Penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi.

Seorang yang melakukan prokrastinasi tahu bahwa tugas yang dihadapinya harus segera diselesaikan dan berguna bagi dirinya, akan tetapi individu tersebut menunda untuk mulai mengerjakan dan menyelesaikannya sampai tuntas.

b. Kelambanan dalam mengerjakan tugas.

Seseorang yang melakukan prokrastinasi memerlukan waktu yang lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan pada umumnya dalam mengerjakan suatu tugas. Prokrastinator menghabiskan waktu yang dimilikinya untuk mempersiapkan diri secara berlebihan, maupun melakukan hal-hal yang tidak dibutuhkan dalam penyelesaian suatu tugas, tanpa memperhitungkan keterbatasan waktu yang dimilikinya. Kadang-kadang tindakan tersebut mengakibatkan seseorang tidak berhasil menyelesaikan tugasnya secara memadai. Kelambanan, dalam arti lambannya kerja seseorang dalam melakukan

suatu tugas dapat menjadi ciri yang utama dalam prokrastinasi akademik.

c. Kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual.

Prokrastinator mempunyai kesulitan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Seseorang mungkin telah merencanakan untuk mulai mengerjakan tugas pada waktu yang telah ditentukan sendiri. Ketika saatnya tiba untuk mengerjakan ternyata tidak juga melakukannya sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Hal ini dapat menyebabkan keterlambatan maupun kegagalan untuk menyelesaikan tugas dengan baik.

d. Melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan daripada melakukan tugas yang harus dikerjakan.

Seorang prokrastinator dengan sengaja tidak segera melakukan tugasnya, akan tetapi menggunakan waktu yang dia miliki untuk melakukan aktivitas lain yang dipandang lebih menyenangkan dan mendatangkan hiburan, seperti membaca (koran, majalah, atau buku cerita lainnya), menonton, mengobrol, berjalan-jalan, mendengarkan musik, dan sebagainya, sehingga menyita waktu yang dimiliki untuk mengerjakan tugas yang seharusnya diselesaikannya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri atau indikator prokrastinasi akademik adalah penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi, kelambanan dalam mengerjakan tugas,

kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual dan melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan daripada melakukan tugas yang harus dikerjakan.

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi prokrastinasi akademik

Menurut Burka dan Yuen (1983) terbentuknya tingkah laku prokrastinasi dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain : kecemasan terhadap evaluasi yang akan diberikan, kesulitan dalam mengambil keputusan, pemberontakan terhadap kontrol dari figur otoritas, kurangnya tuntutan dari tugas, standar yang terlalu tinggi mengenai kemampuan individu. Ketidakpastian juga dapat membuat penundaan. Zarick (2009) menjelaskan bahwa ketidakpastian menciptakan kebutuhan untuk suatu perencanaan yang matang dulu sebelum tugas dapat dimulai. Dalam konteks akademik, ketidakpastian tentang topik penelitian apa yang dipilih atau sumber apa yang diperlukan atau berapa lama waktu belajar yang dialokasikan dapat membuat kebanyakan siswa/mahasiswa yang bermaksud ingin mengerjakan berubah menjadi tidak bisa melakukan apa-apa.

Milgram, Sroloff, dan Rosenbaum (1988) juga menjelaskan beberapa penjelasan konsep alasan seseorang melakukan prokrastinasi. Ada tiga konsep, yang pertama adalah dysphoric affect. Konsep ini menjelaskan bahwa orang akan mempelajari hal-hal yang dirasa menyenangkan bagi dirinya dan menolak untuk mengerjakan yang tidak disenangi dengan rasa malas sampai akhir pengerjaannya. Kedua, covert

negativsm, yaitu konsep yang menjelaskan ketika kita melakukan beberapa tugas mudah itu karena kita mengganggap pengerjaan tugas tersebut sebagai tindakan sukarela dan mengerjakan yang lainnya nanti karena kita menganggap pengerjaan tersebut menjadi suatu pemaksaan. Prokrastinasi akan meningkat jika seseorang membenci melakukan tugas-tugas yang dianggapnya mudah. Dengan kata lain, jika kita sudah membenci melakukannya maka kita akan merasa pengerjaan tugas itu menjadi suatu pemaksaan. Dan yang ketiga, perceived incompetence atau merasa tidak kompeten. Perasaan ini akan mendorong kita untuk melakukan penundaan saat kita akan melakukan tugas pada tingkat yang tidak dapat diterima oleh diri sendiri atau kepada orang lain.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa prokrastinasi akademik dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor penyebab. Faktor-faktor tersebut dapat menjadi pemicu munculnya perilaku prokrastinasi dan dapat meningkatkan prokrastinasi akademik seseorang apabila berada dalam pengaruh faktor-faktor tersebut.

C. Pengaruh intensitas penggunaan media komunikasi terhadap prokrastinasi

Dokumen terkait