BAB II PENELAAHAN PUSTAKA
C. Pharmaceutical Care
5. Promosi dan edukasi
Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam pharmaceutical care yang lain adalah melakukan promosi dan edukasi. Promosi merupakan proses pemberdayaan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan. Masyarakat diharapkan dapat mendeterminan kesehatan melalui kegiatan promosi dimana partisipasi merupakan sesuatu yang penting dalam upaya promosi kesehatan. Peningkatan derajat kesehatan melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat agar dapat menolong dirinya sendiri (Ghazali, 2013). Edukasi kepada pasien/keluarga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman (mengenai penyakit asma secara umum dan pola penyakit asma sendiri). Apoteker dapat menggali informasi dari pasien agar pasien tersebut juga dapat mengambil peran dalam meningkatkan keterampilan terkait kemampuan dalam penanganan asma sendiri/asma mandiri (Dinas Kesehatan Sleman, 2010). 6. Pelayanan residensial
Pelayanan residensial atau yang sering disebut dengan home care terdiri dari apoteker, teknisi farmasi yang telah tersertifikasi, dan provider yang telah berpengalaman (Cincinnati, 2013). Peran apoteker dalam residensial berawal dengan hanya tertuju pada pemantauan terapi obat intravena, pelayanan konsultasi bagi pasien dan juga dokter, tetapi saat ini ditambahkan dengan penyediaan layanan perawatan farmasi (Frey, 2003).
Lingkup pelayanan perawatan farmasi dalam residensial mencakup peninjauan pengobatan komprehensif yang diterima pasien untuk menargetkan kondisi tertentu, obat-obat yang memiliki resiko tinggi, polifarmasi, adanya efek samping obat, dan riwayat ketidakpatuhan pengobatan pasien (Reidt, 2013).
Pelayanan residensial yang dilakukan apoteker berbeda dengan residensial yang dilakukan oleh dokter dan perawat. Perbedaan ini terletak pada kebutuhan pasien dimana apoteker mampu untuk berfokus pada obat-obatan. Secara sistematis seorang apoteker memastikan bahwa pasien meminum obat secara teratur, obat dapat bekerja dengan baik, dan meminimalkan efek samping (Reidt, 2013).
Peran apoteker dalam pelayanan kefarmasian di rumah meliputi:
1. Penilaian sebelum dilakukan pelayanan kefarmasian di rumah (Pre- admission Assessment). Informasi ini akan menentukan ketepatan dalam memberikan pelayanan kefarmasian di rumah. Apoteker harus memastikan bahwa untuk setiap pasien yang dirujuk mendapatkan pelayanan kefarmasian di rumah, telah dilakukan penilaian kelayakan untuk pelayanan tersebut, yang meliputi:
a. Pasien, keluarga atau pendamping pasien setuju dan mendukung keputusan pemberian pelayanan kefarmasian di rumah oleh apoteker
b. Pasien, keluarga atau pendamping pasien adalah orang yang akan diberikan pendidikan tentang cara pemberian pengobatan yang benar
c. Apoteker pemberi layanan memiliki akses ke rumah pasien
d. Adanya keterlibatan dokter dalam penilaian dan pengobatan pasien secara terus- menerus
e. Obat yang diberikan tepat indikasi, dosis, rute dan cara pemberian obat
f. Adanya uji laboratorium yang sesuai untuk dilakukan monitoring selama pelayanan kefarmasian di rumah
g. Adanya dukungan finansial dari keluarga untuk pelaksanaan pelayanan kefarmasian di rumah
2. Penilaian dan pencatatan data awal pasien. Informasi dapat diperoleh dari catatan penggunaan obat pasien, hasil uji laboratorium dan melakukan komunikasi langsung dengan pasien/perawat atau dokter. Data awal pasien harus dicatat secara lengkap dalam catatan penggunaan obat pasien yang meliputi:
a. Nama pasien, alamat, nomor telepon dan tanggal lahir pasien
b. Nama, alamat, nomor telepon yang bisa dihubungi dalam keadaan emergensi
c. Tinggi, berat badan dan jenis kelamin pasien d. Pendidikan terakhir pasien
e. Hasil diagnosa
f. Hasil uji laboratorium g. Riwayat penyakit pasien
h. Riwayat alergi
i. Profil pengobatan pasien yang lengkap (obat keras dan otc), imunisasi, obat tradisional
j. Nama dokter, alamat, nomor telepon, dll
k. Institusi atau tenaga kesehatan lain yang terlibat dalam pelayanan kesehatan di rumah dan nomor telepon
l. Rencana pelayanan dan daftar masalah yang terkait obat, jika ada m. Tujuan pengobatan dan perkiraan lama pengobatan
n. Indikator keberhasilan pelayanan kefarmasian di rumah
3. Penyeleksian produk, alat-alat kesehatan dan alat-alat tambahan yang diperlukan. Apoteker yang berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain dalam memberikan pelayanan kefarmasian di rumah, bertanggung jawab dalam menyeleksi alat-alat infus, obat tambahan dan alat-alat tambahan (dressing kit, syringes dan administration set).
4. Menyusun rencana pelayanan kefarmasian di rumah. Rencana pelayanan kefarmasian ini sebaiknya mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Gambaran masalah aktual dan masalah terkait obat dan cara mengatasinya
b. Gambaran dari hasil terapi yang dilakukan c. Usulan pendidikan dan konseling untuk pasien
d. Rencana khusus pelaksanaan monitoring dan frekuensi monitoring yang akan dilakukan
5. Melakukan koordinasi penyediaan pelayanan. Apoteker melakukan koordinasi penyediaan pelayanan dengan tenaga kesehatan lain. Kegiatan yang dilakukan meliputi:
a. Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang berbagai pelayanan kesehatan yang tersedia di masyarakat yang dapat digunakan pasien sesuai dengan kebutuhan mereka
b. Membuat perjanjian (kesepakatan) dengan pasien dan keluarga tentang pelayanan kesehatan yang diberikan
c. Mengkoordinasikan rencana pelayanan kefarmasian kepada tenaga kesehatan yang terlibat dalam pelayanan kefarmasian di rumah kepada pasien berdasarkan jadwal kunjungan yang telah dibuat d. Bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain dalam memberikan
pelayanan kesehatan kepada pasien sepanjang rentang perawatan yang dibutuhkan pasien
e. Melaksanakan pelayanan kefarmasian berfokus dengan tujuan akhir meningkatkan kemandirian dan kualitas hidup pasien
f. Melakukan rujukan dan keputusan penghentian pelayanan kefarmasian di rumah
6. Melakukan pendidikan pasien dan konseling. Apoteker bertanggung jawab memastikan bahwa pasien menerima pendidikan dan konseling tentang terapi pasien. Apoteker harus mudah dihubungi jika ada pertanyaan atau munculnya permasalahan yang terkait obat. Apoteker
juga menyediakan informasi tambahan dalam bentuk tulisan untuk memperkuat informasi yang diberikan secara lisan.
7. Pemantauan terapi obat. Apoteker secara terus-menerus bertanggung jawab melakukan pemantauan terapi obat dan evaluasi penggunaan obat pasien sesuai rencana pelayanan kefarmasian dan disampaikan semua hasilnya kepada tenaga kesehatan yang terlibat dalam pengobatan pasien. Hasil pemantauan ini didokumentasikan dalam catatan penggunaan obat pasien.
8. Melakukan pengaturan dalam penyiapan pengiriman, penyimpanan dan cara pemberian obat. Apoteker harus memiliki keterampilan yang memadai dalam pencampuran, pemberian, penyimpanan, pengiriman dan cara pemberian obat dan panggunaan peralatan kesehatan yang dibutuhkan. Pencampuran produk steril harus sesuai dengan standar yang ada. Apoteker menjamin bahwa pengobatan dan peralatan yang dibutuhkan pasien diberikan secara benar, tepat waktu untuk mencegah terhentinya terapi obat. Selanjutnya apoteker menjamin kondisi penyimpanan obat dan peralatan harus konsisten sesuai dengan petunjuk pemakaian baik selama pengiriman obat dan saat disimpan di rumah pasien.
9. Pelaporan efek samping obat dan cara mengatasinya. Apoteker melakukan pemantauan dan melaporkan hasil monitoring efek samping obat dan kesalahan pengobatan. Apoteker memastikan bahwa dokter telah menginformasikan setiap kemungkinan munculnya efek samping
obat. Efek samping yang muncul dapat dijadikan indikator mutu pelayanan dan monitoring efek samping obat harus menjadi bagian dari program pelayanan secara terus menerus. Reaksi efek samping yang serius dan masalah terkait obat harus dilaporkan ke Badan POM RI (form pelaporan efek samping obat terlampir)
10.Berpartisipasi dalam penelitian klinis obat di rumah. Apoteker sebaiknya berpartisipasi dalam penelitian klinis penggunaan obat di rumah yang diawali dengan penelitian di pelayanan kesehatan dan dilanjutkan selama dilakukan pelayanan kefarmasian di rumah.
11.Proses penghentian pelayanan kefarmasian di rumah. Kriteria penghentian pelayanan kefarmasian di rumah :
a. Hasil pelayanan tercapai sesuai tujuan b. Kondisi pasien stabil
c. Keluarga sudah mampu melakukan pelayanan di rumah d. Pasien dirawat kembali di rumah sakit
e. Pasien menolak pelayanan lebih lanjut f. Pasien pindah tempat ke lokasi lain
g. Pasien meninggal dunia (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008a).
D. Pengenalan Asma 1. Definisi
Asma merupakan suatu penyakit inflamasi kronis pada saluran nafas yang melibatkan banyak sel yang akhirnya akan menimbulkan adanya
hiperresponsif pada saluran nafas yang akan muncul dengan gejala sesak nafas, mengi, dada terasa berat, dan batuk utamanya terjadi pada malam hari (nokturnal) yang biasa terjadi antara pukul tiga dan empat pagi hari (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2008).
Asma dapat menyebabkan kematian bila tidak dilakukan kontrol terhadap penyakit tersebut. Penatalaksanaan asma ditentukan oleh beberapa faktor yaitu tenaga medis, kepatuhan penderita beserta keluarga, dan obat-obatan. Pada penatalaksanaan asma ditujukan untuk menepatkan asma dalam keadaan terkontrol dimana penderita berada dalam keadaan optimal sehingga mampu untuk melaksanakan rutinitas harian (GINA, 2011).
Di Indonesia prevalensi asma sebesar 3,32%, prevalensi tertinggi penyakit asma adalah provinsi Gorontalo 7,23% dan terendah adalah NAD (Aceh) sebesar 0,09%. Sedangkan prevalensi asma di DKI Jakarta sebesar 2,94%. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi asma di Indonesia sangat bervariasi (Oemiati, 2010). Di Yogyakarta sendiri angka kejadian asma sekitar 16, 4% dari jumlah penduduk (Dinas Kesehatan Yogyakarta, 2010).
2. Gejala
Pemicu asma pada setiap orang berbeda-beda tergantung dari alergen yang menyerang sehingga menimbulkan gejala pada penderita.Gejala asma bersifat episodik, seringkali reversibel dengan/atau tanpa pengobatan. Gejala awal berupa batuk, sesak napas, napas berbunyi (mengi), rasa berat di dada, dahak sulit keluar. Gejala yang berat juga dapat timbul, seperti serangan batuk yang hebat, sesak napas yang berat dan tersengal-sengal, sianosis (kulit kebiruan, yang
dimulai dari sekitar mulut), sulit tidur dan posisi tidur yang nyaman adalah dalam keadaan duduk, kesadaran menurun. Gejala akan muncul utamanya saat malam hari atau dini hari yang dipicu oleh faktor pencetus. Saat pemeriksaan fisik terlihat normal kecuali saat eksaserbasi (Departemen Kesehatan Republik indonesia, 2007). Pemeriksaan fungsi paru ditujukan untuk menegakkan diagnosis dengan melihat derajat obstruksi saluran napas, variabilitas, dan reversibilitas saluran napas. Dalam melihat kecenderungan terpapar alergen perlu juga dilakukan tes sensitivitas kulit untuk melihat status alergi sehingga dapat membantu dalam menentukan faktor resiko (Bourke, 2003).
3. Faktor yang mempengaruhi
Faktor yang mempengaruhi terjadi asma merupakan kombinasi antara pejamu (faktor lingkungan) dan faktor genetik (keturunan) (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003).
E. Metode Penelitian
Pengambilan data dapat dilakukan dengan menggunakan wawancara dengan instrumen berupa panduan wawancara. Wawancara merupakan suatu proses interaksi atau komunikasi langsung antara responden dan pewawancara dimana data yang dikumpulkan bersifat pendapat, fakta, dan pengalaman (Budiarto dan Anggraeni, 2001). Panduan wawancara berisi pertanyaan- pertanyaan dengan fokus masalah yang telah ditetapkan (Pawito, 2007).Panduan wawancara terstruktur merupakan pedoman dan pelaksanaannya harus fleksibel dengan melihat kondisi dan situasi (Basrowi dan Suwandi, 2008). Pertanyaan- pertanyaan yang diajukan kepada subyek ditanggapi secara langsung berdasarkan
kondisi atau keadaan yang sebenarnya yang disertai dengan argumen atau penjelasan lebih lanjut terkait jawaban dari setiap pertanyaan pada panduan wawancara terstruktur Jenis wawancara ini tidak melakukan pendalaman pertanyaan yang dapat mengarahkan responden (Moleong, 2007).
F. Thematic Analysis
Thematic analysis merupakan analisis data berdasarkan tema yang telah ditentukan yang bersifat pembahasan mendalam untuk dapat menarik kesimpulan dengan mengidentifikasi informasi secara objektif (dapat menghasilkan informasi serupa bila dilakukan oleh peneliti lain), sistematis (penetapan isi saat pengkategorian data dilakukan secara konsisten), dan generalis (memiliki referensi teoritis) (Marks dan Yardley, 2004). Analisis data dimulai dengan pencatatan hasil wawancara yang di buat dalam bentuk salinan data dan menghilangkan adanya informasi duplikasi kemudian dilakukan coding atau klasifikasi sehingga memunculkan tema tertentu. Setelah menjadi tema maka tema-tema tersebut di hubungkan dengan aspek yang diteliti berdasarkan perumusan masalah secara sistematis sehingga lebih mudah dipahami (Semiawan, 1999).
G. Keterangan Empiris
Penelitian ini diharapkan memperoleh gambaran pelaksanaan penerapan pharmaceutical care pasien asma oleh apoteker di instalasi farmasi rawat jalan rumah sakit umum di Kota Yogyakarta berdasarkan standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit, standar pelayanan kefarmasian di apotek, dan pedoman penatalaksanaan asma.
32 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif dan rancangan cross sectional dengan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian dengan melakukan observasi untuk menggambarkan keadaan subjek penelitian berdasarkan keadaan yang sebenarnya tanpa melakukan intervensi atau perlakuan (Swarjana, 2012). Rancangan penelitian cross sectional adalah prosedur penelitian yang pengambilan data variabel dilakukan satu kali.
Pendekatan kualitatif merupakan suatu proses penelitian mengenai suatu pemahaman berdasarkan pada metode yang menyelidiki suatu fenomena kesehatan dan masalah atau gejala yang terjadi di masyarakat yang menekankan pada penggambaran kompleks, dinamis, dan atau pemahaman mengenai bagaimana dan mengapa suatu realitas terjadi (Sumantri, 2011). Pendekatan kualitatif bertujuan untuk menemukan pengalaman seseorang mengenai suatu fenomena yang terkadang sulit untuk dipahami sehingga dapat digunakan untuk mencapai dan memperoleh suatu narasi, pandangan yang sebagian besar sudah dan dapat diketahui (Basrowi dan Suwandi, 2008).
B. Variabel dan Definisi Operasional Penelitian
1. Pharmaceutical care pasien asma adalah pelayanan kepada pasien asma yang berpatokan pada standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit yang terdapat dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1197/MENKES/SK/X/2004 dan standar pelayanan kefarmasian di apotek
yang terdapat dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 yang digali menggunakan panduan wawancara terstruktur yang didukung dari pedoman penatalaksanaan asma yang tercantum dalam pharmaceutical care pasien asma menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2007.
2. Pelayanan resep meliputi skrining resep, penyiapan obat dan penyerahan obat kepada pasien asma yang memenuhi persyaratan administrasi, farmasetik dan klinis.
3. Pelayanan informasi obat berupa kegiatan pemberian informasi obat dan pemberian konseling bagi pasien dan keluarga.
4. Monitoring dan evaluasi adalah kegiatan pencatatan pengobatan pasien asma, pemantauan dan pelaporan efek samping obat sebagai upaya peningkatan keberhasilan terapi dan untuk mencapai kepuasan pasien.
5. Promosi dan edukasi adalah bentuk kegiatan pemberian informasi oleh apoteker melalui media cetak, penyuluhan, maupun media elektronik sebagai upaya pemberdayaan dan pembelajaran yang diberikan kepada pasien asma dan keluarga mengenai penyakit asma.
6. Pelayanan residensial adalah bentuk pendekatan yang diberikan kepada