HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pengembangan Karir Pegawai
3. Promosi Jabatan
Promosi jabatan adalah perpindahan pegawai dari satu jabatan ke jabatan lain pada jenjang eselon yang lebih tinggi setelah yang bersangkutan dianggap memenuhi syarat kepangkatan, telah mengikuti diklat, dan sesuai dengan kompetensinya di BKD Kabupaten Jeneponto. Adapun masalah lain yang didapatkan oleh peneliti yaitu loyalitas, hal ini dimaksudkan seseorang bisa saja menduduki sebuah jabatan tanpa dilihat dari kompetensi atau pengetahuannya, tetapi dilihat dari segi loyalitasnya terhadap atasan atau pejabat tinggi. Hal ini banyak ditemui didaerah-daerah termasuk di Kabupaten Jeneponto ini, tetapi
untuk mengukur dari segi data DUK, sulit untuk membedakan antara seorang pegawai yang mendapatkan promosi jabatan dilihat dari pangkat atau golongannya yang sudah sesuai ataupun proses jabatan dilihat dari segi kedekatan atau keakrabannya dengan pejabat daerah.
Tabel 6
Sumber data: Bidang mutasi Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Jeneponto Tahun 2017-2020
Berdasarkan dari tabel diatas, proses promosi jabatan baik dari dalam lingkup BKD ataupun dari luar lingkup BKD masih adanya beberapa pegawai yang menduduki sebuah jabatan struktural tetapi belum sesuai dengan eselonnya. Mungkin hal inilah ada keterkaitan dengan proses promosi jabatan
dari segi loyalitas. Dikarenakan pihak BKD sudah mempunyai tim dalam menentukan seseorang yang sudah bisa menduduki suatu jabatan tetapi tabel diatas masih ada saja yang ternyata belum sesuai dengan eselonnya.
a. Kepangkatan
Kepangkatan yaitu pelaksanaan promosi pegawai setelah terpenuhi pangkat dan golongan yang sesuai dengan persyaratan jabatan atau eselon yang akan dijabat oleh pegawai yang bersangkutan di BKD Kabupaten Jeneponto.
Tabel 7
Sumber data: Bidang mutasi Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Jeneponto Tahun 2018-2020
Berdasarkan dari tabel diatas bahwa proses promosi jabatan yang dilaksanakan dikantor BKD Kabupaten Jeneponto belum sesuai dengan pangkat atau golongan yang seharusnya dipenuhi, disini peneliti bisa melihat bahwa ada
indikasi lain dalam proses promosi jabatan ini. Walaupun pangkat yang sekarang dibawah satu tingkat dengan yang pangkat yang seharusnya, tetapi tetap belum sesuai dengan aturan. Dari sini dapat dilihat pihak BKD terlalu memaksakan proses promosi jabatan ini terhadap pegawai tersebut. Tetapi informan yang diwawancarai menyatakan:
“sebelum kami melaksanakan proses promosi jabatan, kita bisa melihat dari SKP yang sudah ada, jadi untuk proses jabatan didasari dari SKP yang sudah dibuat. Disini kami melibatkan pihak ketiga, yaitu lembaga-lembaga yang mempunyai profesionalisme dalam menilai suatu kinerja seorang pegawai, diantara tiga lembaga itu, BKD juga termasuk didalamnya, karena dimana pihak BKD lah yang sangat mengetahui bagaimana sikap dan perilaku dari pegawai tersebut. (Hasil Wawancara, Kepala Bidang Mutasi, 30 Desember 2020)
Hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa masih adanya pegawai yang menduduki sebuah jabatan tetapi belum sesuai dengan pangkat atau golongannya.
Walaupun sudah mempunyai kemampuan ataupun pengetahuan terhadap jabatan yang didudukinya. Dalam proses promosi jabatan ini melalui sistem kepangkatan sepertinya masih ada masalah-masalah yang dialami oleh pihak BKD, karena pihak BKD belum maksimal didalam memilih seorang pegawai yang sudah memenuhi syarat.
Dari hasil wawancara diatas, ada informan lain yang menyatakan bahwa
“Dalam sistem kepangkatan kami belum bisa menentukan sukses atau tidaknya proses pengembangan karir pegawai, karena proses promosi jabatan ini tidak semerta-merta bahwa hanya pegawai dalam lingkup BKD saja, tetapi kami juga memindahkan pegawai dari luar lingkup BKD masuk kedalam BKD” (Hasil Wawancara, Kepala Sub Bidang, 30 Desember 2020)
Dari pegamatan yang dilihat peneliti dapat disimpulkan bahwa dalam proses promosi jabatan ini tidak serta-merta dilaksanakan hanya dalam lingkup
BKPSDM . Disini juga pihak BKPSDM juga dibantu oleh pihak ketiga yang dimana sudah ditetapkan pemerintah Kabupaten Jeneponto.
Adapun informan lain yang mempunyai jawaban berbeda pada saat diwawancarai, yang menyatakan
“dalam proses promosi jabatan yang kami laksanakan kami selalu mengacu pada prestasi-prestasi atau pencapaian-pencapaian yang sudah didapatkan oleh pegawai tersebut, disini kami dibantu oleh pihak ketiga yang memang sudah menjadi SKP dalam pelaksanaan promosi jabatan”
(Hasil Wawancara, Kepala Sub Bidang, 30 Desember 2020)
Dari hasil wawancara diatas terhadap Kepala Sub Bidang Mutasi dapat disimpulkan bahwa setiap pelaksanaan proses promosi jabatan pihak BKPSDM selalu mengacu terhadap apa yang sudah menjadi standarisasi promosi. Tetapi sisi yang paling penting untuk dikaji yaitu tentang pangkat yang sudah didapat oleh pegawai tersebut.
b. Loyalitas
Loyalitas adalah kesetiaan atau kepatuhan. Dalam organisasi modern, termasuk organisasi pemerintahan mengkondisikan loyalitas pada aturan, bukan person. Tetapi dalam praktiknya loyalitas selalu disimpangkan sebagai kesetiaan pada person. Pemimpin dalam pemerintahan yang ingin berkuasa kembali, sering kali menuntut bawahannya untuk loyal kepadanya. Ingin mempertahankan kekuasaannya dengan mengharap dukungan dari anak buahnya. Misalnya saja seorang bupati atau wakil bupati yang ingin terpilih kembali dalam pemilu atau pemilukada untuk melanjutkan kekuasaannya, menuntut agar PNS atau pegawai yang dipimpinnya untuk memilih diri dan pasangannya. Sering kali tuntutan itu dilakukan dengan cara biasa-biasa saja, sekedar harapan atau permohonan
dukungan. Tetapi, acap kali juga disertai dengan cara yang luar biasa, misalnya diikuti dengan intimidasi atau memberikan “harapan-harapan” tertentu.
Cara yang biasa dilakukan oleh pemimpin yang sedang berkuasa untuk menggalang dukungan dari kalangan PNS adalah dengan melibatkannya menjadi tim sukses, dan memerintahkan PNS tertentu untuk turut mengkampanyekan diri dan pasangannya. Oknom-oknom PNS yang terlibat, ada yang termotivasi karena
“dijanjikan” sesuatu, ada yang karena ditekan supaya tidak kehilangan jabatan yang sedang disandangnya, dan ada yang melakukannya dengan sukarela yang didasari oleh sifat fanatisme yang berlebihan. Mereka ini, secara aktif mencari dukungan di lapangan (masyarakat), baik terang-terangan atau secara tersembunyi.
Mereka manfaatkan organisasi profesi untuk menggalang dukungan di kalangannya yang seprofesi. Dalam beberapa pertemuan atau rapat dinas yang penulis ikuti, pejabat-pejabat dari SKPD tertentu selalu menyisipkan kampanye untuk pasangan calon yang sedang berkuasa (incamben) dalam pidato atau sambutannya, dengan mengatasnamakan (mengedepankan) loyalitas terhadap pimpinan.
Perlu kembali kita sadari, bahwa PNS terikat oleh Peraturan Pemerintah Nomor 53 tahun 2010 tentang disiplin PNS, terutama isi yang terdapat pada pasal 4. Pasal ini berisi tentang larangan terhadap PNS untuk memberikan dukungan kepada salah satu pasangan calon. Dengan demikian, upaya mobilisasi dukungan dari kelangan PNS seperti itu, jelas merupakan cara ilegal, tidak dibenarkan menurut ketentuan yang adaatau melawan hukum. Bagi pasangan calon yang menempuh cara tersebut, merupakan tindakan pengecut (tidak kesatria), merasa takut kalah dan tidak percaya diri. Sedangkan bagi oknom PNS yang tidak netral,
berarti yang bersangkutan tidak bisa menahan “hawa nafsunya” dan tidak bisa mengendalikan rasa takutnya karena akan kihilangan jabatan atau tidak memperoleh jabatan tertentu. Singkatnya, mereka tidak bisa bersikap profesional dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat.
Langkah di atas jelas merupakan upaya untuk mengalihkan atau mengebiri makna sejati dari loyalitas PNS. Sesungguhnya sebagi bagian dari masyarakat, PNS juga memiliki hak pilih sendiri. Oleh karena itu setiap PNS bebas menentukan
pilihannya dalam pemilu atau pemilukada. Berarti seorang PNS tidak perlu merasa takut untuk kehilangan atau tidak mendapat jabatan tertentu, tidak perlu takut dengan intimidasi. Sepanjang berada pada jalur (koridor) kebenaran, dan selalu bersikap profesional dalam menjalankan (mengemban) tugas dan fungsi, insyaalah jabatan akan didapatkan.
Permasalahan diataslah yang sering dijumpai disetiap daerah-daerah diindonesia termasuk di Kabupaten Jeneponto. Tetapi sulit untuk membedakan antara seorang pegawai yang mendapatkan promosi jabatan dilihat dari pangkat atau golongannya yang sudah sesuai ataupun proses jabatan dilihat dari segi kedekatan atau keakrabannya dengan pejabat daerah. masalah diatas peneliti mewawancarai langsung kepala BKD Kabupaten Jeneponto, menyatakan:
“didalam proses mutasi ataupun promosi jabatan kami selaku pihak kepegawaian daerah kabupaten jeneponto sangat mengedepankan standar-standar kompetensi yang telah dilaksanakan oleh pihak ketiga.
Adapun masalah mengenai loyalitas terhadap bupati ataupun pejabat tinggi lainnya, mungkin hal ini juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan atau dikatakan menyimpang, (Hasil Wawancara, Kepala Badan Kepegawaian Daerah, 30 Desember 2020).
Hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa loyalitas didalam proses promosi jabatan ini tidak sepenuhnya bersifat negative, karena dimana
pemimpin yang memberikan jabatan kepada seorang pegawai pasti sudah memiliki tolak ukur didalam memberikan suatu kebijakan. Loyalitas ini sudah hampir menjadi suatu adat didalam sebuah organisasi pemerintahan. Karena hal ini bukan hanya didapati didaerah atau kabupaten, hal ini juga bisa ditemui dikalangan pejabat tinggi seperti presiden ataupun gubernur.
Adapun informan lain yang kami wawancarai terkait masalah loyalitas dalam proses promosi jabatan ini yang menyatakan
“setiap pemimpin juga sudah pasti mempunyai histori mengenai setiap pegawai yang ingin dia berikan posisi atau jabatan didalam pemerintahan. Jadi loyalitas didalam organisasi pemerintahan itu sudah pasti ada, tetapi kami selaku pihak BKD, tetap mengedepankan proses promosi jabatan ini dengan SKP yang sudah ada” (Hasil Wawancara, Kepala Sub Bidang, 30 Desember 2020).
Dari hasil wawancara diatas terhadap Kepala Sub Bidang Mutasi dapat disimpulkan bahwa loyalitas disini bukanlah suatu masalah didalam proses promosi jabatan , hanya saja sudah menjadi acuan seorang pejabat untuk memberikan balas budi entah itu balas budi sewaktu pilkada ataupun lainnya.
c. Kinerja pegawai
Kinerja atau performance merupakan gambaraan mengenai tinngkat pencapaian pelaksanaan suatu program kegiatan atau suatu kebijakan dalam mewujudkan tujuan, sasaran, visi dan juga misi organisasi yang dituangkan melalui perencanaan yang strategis suatu organisasi. Kinerja dapat diketahui dan diukur jika individu atau sekelompok karyawan telah mempunyai kriteria atau standar keberhasilan tolok ukur yang telah ditetapkan oleh suatu oganisasi. Oleh karena itu, jika tanpa tujuan dan target yang ditetapkan dalam pengukuran, maka kinerja pada seseorang atau kinerja organisasi tidak mungkin dapat diketahui bila
tidak ada tolak ukur keberhasilannya.
Di sini proses promosi jabatan ini diharapkan dapat mendorong semangat kerja untuk para pegawai ataupun pejabat yang menduduki sebuah jabatan structural. tetapi peneliti mendapatkan beberapa masalah dalam proses promosi jabatan ini, karena hal yang mendorong untuk pelaksanaan promosi jabatan bukan semerta-merta karena kinerjanya yang baik atau bagus. Peneliti melakukan wawancara kepada informan yang menyatakan
“adapun pegawai yang kami beri promosi jabatan itu karena usianya yang sudah tua tetapi belum juga mendapatkan jabatan yang strategis ataupun structural, tetapi kami tetap mengukur dan mengepankan kemampuan ataupun kinerja pegawai tersebut apakah memang sudah mampu atau layak menduduki jabatan tersebut” (Hasil Wawancara, Kepala Sub Bidang, 30 Desember 2020).
Dari hasil wawancara di atas , peneliti bisa menyaring pernyataan dari informan bahwa setiap pegawai yang memang sudah layak untuk di promosikan atau diberi jabatan harus tetap diukur bagaimana kinerja tersebut, disamping itu itu pihak BKD juga mengedepankan norma kesopanan.
Salah satu factor yang dapat menjadi acuan atau tujuan instansi melaksanakan promosi jabatan dalam proses pengembangan karir pegawai dilingkup BKD Kabupaten Jeneponto yaitu, faktor kemampuan, adapun hasil wawancara peneliti terkait dengan masalah faktor kemampuan pegawai yaitu,
“dalam proses promosi jabatan kami selalu memeriksa dan melihat kemampuan seorang pegawai yang telah mampu atau yang sudah bisa mendapatkan promosi jabatan, apa dari segi psikologis sudah mampu untuk mendapatkan jabatan yang akan didudukinya, baik psikologis, kemampuan dari segi pendidikan juga turut kami perhatikan” (Hasil Wawancara, Kepala Sub Bidang, 30 Desember 2020).
Dari hasil wawancara yang diatas, bahwa factor kemampuan turut perlu diperhatikan oleh pihak BKD Kabupaten Jeneponto, kinerja pegawai dalam
menjalankan amanah atau tugasnya sangat penting untuk bisa mengembangkan karir pegawai tersebut. Dari wawancara diatas dapat dilihat bahwa segi psikologis sangat berpengaruh dalam kinerja pegawai, agar bias menyesuaikan ataupun menyelesaikan suatu pekerjaannya.
Adapun hal lain yang mempengaruhi kinerja pegawai dalam mengembangkan karir pegawai, yaitu masalah kedisiplinan, peneliti melakukan kembali wawancara kepada informan, yaitu
“hal nomor 1 yang kami jadi acuan ataupun tinjauan sebelum melaksanakan promosi jabatan, yaitu melihat tingkat kedisiplinan seorang pegawai, apakah memang benar-benar bertanggung jawab atau amanah dalam mengerjakan suatu pekerjaan” (Hasil Wawancara, Kepala Sub Bidang, 30 Desember 2020).
Dari hasil wawancara diatas, bahwa kedisiplinan yang sangat penting dalam melaksanakan promosi jabatan, mengapa kedisiplinan yang menjadi acuan, dikarenakan disiplin dalam melakukan sesuatu bisa sangat mempengaruhi hasil kerja ataupun kinerja pegawai. Disiplin dalam mengerjakan sesuatu tidak akan kalah dari segi kemampuan, karena hanya jika mampu tetapi jika tidak mempunyai jiwa disiplin sama saja.
Dari semua hasil wawancara dilakukan oleh peneliti, peneliti dapat memberikan saran atau solusi dalam promosi jabatan yaitu sebagai instansi yang menangani masalah promosi atau mutasi, pihak BKPSDM harus mengedepankan aturan yang sudah menjadi pedoman untuk melaksanakan promosi jabatan agar tercipta administrator yang profesional dan sesuai dengan kinerjanya.
79 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil uraian yang telah dibahas dan diteliti sebelumnya, penulis bisa mengambil kesimpulan dan saran yang sekiranya dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Jeneponto dengan tujuan untuk mengembangkan karir pegawai dan meningkatkan kinerja pegawai dimasa yang akan datang.
Dari keseluruhan jawaban informan terhadap peneliti tentang masalah pengembangan karir pegawai dapat disimpulkan bahwa:
1 Didalam mengembangkan ataupun meningkatkan karir pegawai memang sangatlah dibutuhkan yang namanya Diklat (pendidikan dan latihan), hal ini berperan penting untuk pegawai untuk menghadapi jabatan atau pekerjaan barunya.
2 Didalam masalah diklat, masih ada saja pegawai yang belum mengikuti