• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.1.9 Perangkat Gramatikal yang Digunakan

2.1.9.4 Pronomina Posesif

Binatang itu mengajari Layagh

„ hewan itu yang mengajari layar‟

Dalam penggunaan sehari- hari bukan kata edi saja untuk menyatakan itu tetapi e juga menyatakan itu, misalnya: binatange = binatang itu. Alas Slayagh dan Beghudinem tidak terdapat FN+ ende, tetapi dalam bahasa Alas sehari-hari kata ende juga sering di gunakan misalnya: suagh ende = celana ini.

2.1.9.4 Frase Nomina Indefinit

Bentuk ini meliputi frasa kata nama pada umumnya dan tidak mempunyai penanda tertentu, misalnya:

tapi tihang mapot cindogh tapi tiang takmau berdiri „tetapi tiang tidak mau berdiri‟

2.1.9.4Pronomina Posesif

Bentuk ini terdiri dari frasa nomina yang diikuti oleh kata ganti posesif. Dalam cerita rakyat Alas Silayagh dan Beghudinem struktur ini ditandai dengan FN + ne

manganpe mulai ni kughangi amecutne (POS3TG)

makanpun mulai dikurangi makciknya

„ makan mulai dikurangi makciknya‟ 2.1.10 Analisis Wacana

Menurut Kridalaksana (1985:184) wacana merupakan satuan bahasa yang paling lengkap unsurnya. Pendapat ini menghapus pandangan lama bahwa wacanalah yang merupakan satuan bahasa yang paling lengkap, maka dimulailah analisis terhadap wacana. Sementara itu, Edmonson dalam Hartono (2000:15)

` berpendapat bahwa wacana adalah suatu peristiwa yang terstruktur yang diwujudkan di dalam perilaku linguistik atau yang lainnya. Batasan wacana yang lebih maju dikemukakan oleh Longacre dalam Hartono (2000:16), yang berpendapat bahwa wacana merupakan suatu rentetan kalimat yang membentuk suatu pengertian yang serasi dan terpadu, baik dalam pengertian maupun dalam manifestasi fonetisnya.

Dari berbagai pendapat mengenai wacana, Darma (2009:3) dapat menarik kesimpulan wacana merupakan rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkaAKan suatu hal yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam satu kesatuan koheren, yang dibentuk oleh unsur-unsur segmental dalam sebuah wacana yang paling besar. Analisis wacana adalah sebuah ilmu baru. Penganalisaan yang dilakukan oleh aliran-aliran linguistik dahulu hanya terbatas pada penganalisaan pada kalimat saja. Dan barulah pada belakangan ini, sebagian ahli bahasa memalingkan perhatiannya pada penganalisaan wacana.

Istilah wacana secara terminologi seperti yang dikutip oleh Mulyana, berasal dari bahasa Sansekerta wac/wak/vak yang artinya “berkata, berucap” kemudian kata tersebut mengalami perubahan menjadi wacana. Kata „ana‟ yang berada di belakang adalah bentuk sufiks (akhiran) yang bermakna “membendakan”. Dengan demikian, kata wacana dapat diartikan sebagai perkataaan atau tuturan.

Dalam kamus bahasa kontemporer, terdapat tiga makna dari kata wacana. Pertama, percakapan, ucapan dan tuturan. Kedua, keseluruhan cakapan yang

` merupakan satu kesatuan. Ketiga, satuan bahasa terbesar yang realisasinya merupakan bentuk karangan yang utuh.

Kata wacana sama dengan kata discourse dalam bahasa Inggris Kata discourse berasal dari bahasa Latin disccursus yang berarti lari kian kemari (yang diturunkan dari dis dari, dalam arah yang berbeda, dan currere lari). Wacana dapat berarti rentetan kalimat yang berkaitan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya, membentuk satu kesatuan, sehingga terbentuklah makna yang serasi diantara kalimat-kalimat tersebut. Wacana merupakan kesatuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi dan berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan dan tertulis.

Analisis wacana dalam buku karangan Hamid Hasan Lubis adalah, bacaan, ucapan, percakapan. Analisis wacana memfokuskan pada struktur yang secara alamiah terdapat pada bahasa lisan. Analisis wacana adalah ilmu yang baru muncul beberapa puluh tahun belakangan ini, aliran-aliran linguistik selama ini membatasi penganalisaannya hanya pada sosial kalimat, dan barulah belakangan ini sebagai ahli bahasa memalingkan perhatiannya pada penganalisaan wacana.

Analisis wacana adalah studi tentang struktur pesan dalam komunikasi atau telaah mengenai aneka fungsi (pragmatik) bahasa. Melalui analisis wacana tidak hanya mengetahui isi teks, tetapi bagaimana juga pesan itu disampaian lewat kata, frase, kalimat, metafora seperti apa yang disampaikan, kenapa harus disampaikan dan bagaimana pesan-pesan itu tersusun, dan dipahami. Analisis

` wacana lebih melihat kepada isi pesan yang akan diteliti. Unsur penting dalam analisis wacana adalah kepaduan dan kesatuan serta penafsiran peneliti.

Pembahasan wacana pada dasarnya merupakan pembahasan terhadap hubungan antara konteks-konteks yang terdapat dalam teks. Pembahasan itu bertujuan menjelaskan hubungan antara kalimat atau antara ujaran (utterances) yang membentuk wacana.

Analisis wacana adalah salah satu alternatif dari analisis isi selain analisis isi kuantitatif yang dominan dan banyak dipakai. Jika dalan analisis isi kuantitatif menekankan pada pertanyaan “apa” maka dalam analisis wacana menekankan dalam pertanyaan “bagaimana” pesan atau teks komunikasi itu. Dengan analisis wacana kita tidak hanya mengetahui bagaimana isi teks berita itu disajikan tetapi juga dapat mengetahui bagaimana pesan itu disampaikan baik lewat kata, frase, kalimat, dan lainnya. Dengan melihat bagaimana struktur kebahasaan tersebut, analisis wacana lebih bisa melihat makna yang tersembunyi dari suatu teks.

Analisis wacana berbeda dengan apa yang dilakukan dengan analisis isi kuantitatif. Dalam analisis wacana, lebih bersifat kualitatif yang menekankan pada pemaknaan teks dari pada penjumlahan unit kategori yang dilakukan oleh analisis isi kuantitatif. Analisis wacana adalah interpretasi yang merupakan bagian dari metode interpretasi yang mengandalkan interpretasi dan penafsiran peneliti yang dapat dimaknai secara berbeda dan dapat ditafsirkan secara beragam.

Dalam kajian wacana, topik memiliki kedudukan yang sangat penting karena perannya menciptakan kesinambungan kualitas-kualitas yang terkait di dalamnya, suatu wacana tersebut dapat dicerna dan diinterprestasikan dengan

` mudah oleh pembacanya. Jika wacana dipandang sebagai jaringan atau tenunan unsur-unsur pembentuknya, maka yang menjadi ujung tombak jaringan tersebut adalah topik. Topik menjadi pangkal tolak terbentuknya jaringan bagian-bagian suatu wacana.

Dokumen terkait