• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA (REFERENCES)

3. Prosedur Akuntansi Aset Tetap

3.1. Pengakuan dan klasifikasi aset tetap PMK Nomor 225/PMK.05/2019 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat menjelaskan bahwa aset tetap diakui pada saat manfaat ekonomi masa depan dapat diperoleh dan nilainya dapat diukur secara andal. Menurut Fuji Ardhi (2017), keandalan dari pengakuan aset tetap dinilai dari adanya pertukaran transaksi yang dibuktikan dengan dokumen sumber atas pembelian aset tetap yang mengidentifikasikan cost secara komprehensif yang mencakup biaya pokok dan biaya lainnya sehingga aset tetap tersebut siap digunakan.

Karakteristik dari aset tetap dapat diakui (PSAP Nomor 07) dengan beberapa kriteria yakni berwujud secara fisik, dapat digunakan dalam satu tahun lebih, biaya perolehan aset secara andal dapat diukur, diperoleh atau dibuat sendiri dengan tujuan untuk digunakan oleh entitas dan tidak dimaksudkan untuk dijual.

Aset tetap menurut PSAP Nomor 07 tentang Aset Tetap dan Peraturan Pemerintah Nomor 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan harus mempunyai wujud secara fisik.

Entitas harus menilai manfaat ekonomi masa depan secara langsung maupun tidak langsung bagi kegiatan operasional pemerintah sehingga dapat ditentukan apakah suatu pos mempunyai manfaat lebih dari satu tahun. Pengakuan aset tetap dilakukan setelah terdapat aliran manfaat ekonomi berupa pendapatan atau penghematan belanja pemerintah yang diperoleh oleh entitas. Kepastian aliran manfaat ekonomi masa datang tersedia jika manfaat dan resikonya telah diterima oleh entitas tersebut.

Biaya perolehan aset tetap diukur dari beberapa biaya yang timbul akibat dari transaksi entitas tersebut. Biaya yang dapat dimasukkan ke dalam biaya perolehan aset tetap adalah harga aset tetap, biaya pengiriman, biaya pemasangan, biaya ujicoba, sehingga aset tetap tersebut dapat langsung digunakan oleh entitas. Keandalan dari biaya perolehan diperiksa dengan bukti pembelian atau bukti transaksi yang mengidentifikasikan biayanya. Pengukuran yang andal atas biaya dapat diperoleh dari transaksi entitas dengan pihak eksternal dalam memperoleh bahan baku, tenaga kerja, dan biaya lain yang digunakan dalam proses konstruksi untuk dibangun sendiri. Penggunaan aset tetap oleh pemerintah dalam mendukung kegiatan

operasional dan bukan dimaksudkan untuk dijual adalah tujuan utama dari perolehan aset tetap.

Aset tetap diakui sangat andal apabila telah terjadi proses penerimaan barang atau penyerahan hak kepemilikannya dan/atau penguasaannya berpindah. Perpindahan kekuasaan atas aset tetap dapat dilakukan dengan menerbitkan Bukti Acara Serah Terima (BAST) yang sah dan perpindahan surat kepemilikan secara legal seperti bukti kepemilikan kendaraan bermotor dan sertifikat tanah.

Aset tetap diperoleh tidak hanya melalui pembelian, akan tetapi dapat diperoleh dengan transfer atau hibah langsung. Pengakuan dari aset tetap dari proses hibah langsung dimulai sejak diterbitkannya BAST aset tetap telah diterima dan Surat Pernyataan Telah Menerima Hibah Langsung.

Aset tetap yang diperoleh dengan transfer dimulai pengakuannya setelah adanya BAST aset tetap dan Bukti Acara Transfer. Aset tetap yang diperoleh dengan pertukaran aset antar entitas dapat diakui setelah BAST aset tetap terbit.

Pengakuan aset tetap juga mempertimbangkan batas minimum kapitalisasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Apabila nilai nominal perolehan suatu aset tetap di bawah batas minimum kapitalisasi maka aset tetap tersebut tidak diakui dan tidak disajikan sebagai aset tetap pada laporan keuangan. Terdapat pengecualian atas nilai satuan batas minimum kapitalisasi diantaranya, pengeluaran untuk jaringan, irigasi, tanah, jalan, dan aset tetap lainnya yang mencakup koleksi perpustakaan dan barang bercorak kesenian. PMK Nomor 120/PMK.06/2007 mengatur batas minimum kapitalisasi sampai dengan tahun anggaran 2017, diantaranya adalah pengeluaran senilai atau lebih dari Rp300.000 per satuan untuk peralatan, mesin dan peralatan olah raga dan pengeluaran senilai atau lebih dari Rp10.000.000 per satuan untuk gedung dan bangunan.

Sementara itu, PMK Nomor

181/PMK.06/2016 mengatur batas minimum kapitalisasi mulai tahun anggaran 2018 sampai dengan sekarang diantaranya adalah pengeluaran senilai atau lebih dari Rp1.000.000 per satuan untuk peralatan mesin, dan alat olahraga dan pengeluaran senilai atau lebih dari Rp25.000.000 per satuan untuk gedung dan bangunan.

PSAP Nomor 08 menyatakan bahwa Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP) dapat diakui apabila memiliki wujud dan adanya manfaat ekonomi di masa yang akan datang, serta biaya perolehan dapat dikukur secara andal dan

statusnya masih dalam tahap proses pengerjaan.

Sementara itu, PSAP Nomor 07 memberikan gambaran yang jelas mengenai pengklasifikasian aset tetap yang didasari oleh kesamaan sifat dan fungsinya dalam aktivitas kegiatan operasional entitas. Pengklasifikasian aset tetap tersebut antara lain:

1) Tanah

Tanah adalah salah satu aset yang diperoleh dengan tujuan untuk digunakan dalam kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi siap digunakan untuk jaringan, bangunan, jalan, dan irigasi.

2) Peralatan dan Mesin

Peralatan dan Mesin adalah aset yang memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun dan dalam kondisi siap untuk digunakan serta memiliki nilai yang memenuhi batasan nilai satuan minimal kapitalisasi. Jenis dari peralatan dan mesin sangat bervariasi yang mencakup mesin-mesin dan kendaraan bermotor, alat elektonik, inventaris kantor, dan peralatan lainnya.

3) Gedung dan Bangunan

Gedung dan Bangunan merupakan aset dalam bentuk gedung dan bangunan yang mencakup perkantoran, gudang, tempat ibadah, menara, monument bersejarah, museum yang diperoleh dengan tujuan untuk digunakan dalam kegiatan operasional pemerintahan serta dalam kondisi siap pakai.

4) Jalan, Irigasi, dan Jaringan

Jalan, irigasi, dan jaringan merupakan salah satu klasifikasi aset tetap yang diperoleh melalui pembangunan dan dimiliki dan/atau dikuasai oleh pemerintah dalam kondisi siap untuk digunakan.

Pemanfaatan aset tersebut tidak hanya diperuntukan untuk kegiatan pemerintah melainkan dapat dimanfaatkan juga oleh publik.

Sementara itu, tanah yang diperoleh untuk pembangunan jalan, irigasi, dan jaringan tidak masuk ke dalam klasifikasi aset tetap berupa jalan, irigasi, dan jaringan.

5) Aset Tetap Lainnya

Aset Tetap Lainnya merupakan aset tetap yang diperoleh dan dimanfaatkan untuk kegiatan operasional pemerintahan dalam kondisi siap pakai yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam kelompok aset tetap sebagaimana disebut di atas.

Aset Tetap Lainnya terdiri atas koleksi perpustakaan

baik buku maupun selain buku, barang bercorak kesenian/ kebudayaan, ikan, hewan, dan tanaman.

Kebijakan kapitalisasi aset tetap memberikan panduan untuk tidak disajikan di neraca dan menyajikannya secara ekstrakomptabel khusus untuk hewan, ikan, dan tanaman. Sementara itu, aset tetap renovasi masuk dalam klasifikasi aset tetap lainnya, apabila biaya yang ditimbulkan dari kegiatan renovasi aset tetap yang tidak dimiliki oleh entitas dan memenuhi batas minimum kapitalisasi aset sebagaimana diatur dalam peraturan pemerintah.

6) Konstruksi dalam Pengerjaan (KDP)

KDP terdiri atas gedung dan bangunan, tanah, peralatan dan mesin, jalan, irigasi dan jaringan, serta aset tetap lainnya dimana perolehan dan/atau pembangunan aset tersebut masih dalam proses penyelesaian dalam periode waktu tertentu.

Perolehan aset tersebut dapat dilakukan baik melalui pembangunan sendiri (swakelola) atau pihak ketiga dengan kontrak konstruksi, dimana kontrak konstruksi memerlukan suatu periode waktu tertentu, bisa kurang atau lebih dari satu periode akuntansi.

3.2. Pengukuran aset tetap

Aset tetap merupakan bagian dari keuangan negara yang dikelola agar dapat menunjukkan nilai kekayaan negara yang sesungguhnya. Aset tetap dinilai dengan biaya perolehan sebagaimana tercantum pada PSAP Nomor 07 tentang Aset Tetap.

Pengukuran aset tetap dapat dikatakan andal jika pertukaran memiliki bukti pembelian aset tetap yang biayanya teridentifikasi dengan baik.

Aset tetap yang dikonstruksi/dibangun sendiri dapat diukur secara andal terhadap biaya yang diperoleh dari transaksi entitas dengan pihak eksternal dalam perolehan bahan baku, tenaga kerja, dan biaya lain yang digunakan dalam proses konstruksi. Biaya perolehan aset tetap yang dibangun dengan cara swakelola terdiri dari biaya langsung dan biaya tidak langsung. Biaya langsung meliputi biaya tenaga kerja dan bahan baku. Biaya tidak langsung mencakup biaya perencanaan dan pengawasan, perlengkapan, tenaga listrik, sewa peralatan, dan semua biaya lainnya yang terjadi berkenaan dengan pembangunan aset tetap tersebut.

Nilai wajar pada saat perolehan menjadi dasar dalam pengukuran aset tetap apabila tidak memungkinkan menggunakan biaya perolehan.

Sementara itu, komponen biaya yang dapat dikategorikan sebagai biaya perolehan suatu aset tetap terdiri atas harga pembelian, bea impor, biaya persiapan tempat, biaya pengiriman awal (initial delivery) dan biaya penyimpanan dan bongkar muat (handling cost), biaya pemasangan (installation cost), biaya jasa professional seperti arsitek dan insinyur, serta biaya konstruksi, sedangkan biaya yang tidak masuk dalam komponen biaya aset tetap mencakup biaya administrasi, biaya umum lainnya, biaya permulaan (start-up cost), dan pra produksi serupa jika tidak dapat didistribusikan secara langsung pada biaya perolehan aset tetap atau biaya tersebut tidak diperlukan dalam membawa aset ke kondisi kerjanya. Pengukuran yang andal atas aset tetap yang dikonstruksi/dibangun sendiri (KDP) yakni meliputi biaya yang diperoleh dari transaksi entitas dengan pihak eksternal untuk perolehan bahan baku, tenaga kerja dan biaya lain yang digunakan dalam proses konstruksi).

3.3. Perlakuan aset tetap setelah perolehan 1) Penyusutan aset tetap

Menurut PSAP Nomor 07 tentang Aset Tetap, bahwa selain tanah dan KDP, seluruh aset tetap dapat disusutkan menurut sifat dan karakteristik aset tersebut. Penyusutan aset tetap mempertimbangkan masa manfaat Aset Tetap yang mengacu pada KMK Nomor 59/KMK.06/2013 yang berlaku sampai dengan 22 November 2019 sebelum diterbitkannya KMK Nomor 295/KMK.06/2019 tentang Tabel Masa Manfaat Dalam Rangka Penyusutan Barang Milik Negara berupa Aset Tetap pada Entitas Pemerintah Pusat. Secara umum tabel masa manfaat dijelaskan seperti pada tabel 1.

Penyusutan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang sistematis yang sesuai dengan masa manfaatnya.

Metode penyusutan yang digunakan harus dapat menggambarkan manfaat ekonomis atau kemungkinan jasa yang akan mengalir ke pemerintah. Metode penyusutan yang diperbolehkan menurut SAP terdiri dari metode garis lurus (straight line method), metode saldo menurun ganda (double declining balance method), atau metode unit produksi (unit of production method).

Tabel 1 Penggolongan Masa Manfaat Aset Tetap Kelompok Aset Tetap Masa Manfaat

Peralatan dan Mesin 2 s.d. 20 tahun Gedung dan Bangunan 10 s.d. 50 tahun Jalan, Jaringan, dan Irigasi 5 s.d. 40 tahun

Aset Tetap Lainnya 4 tahun Sumber: diolah dari KMK Nomor 59/KMK/06/2013

Aset tetap lainnya berupa hewan, tanaman, buku perpustakaan tidak disusutkan secara periodik. Penyajian aset tersebut dengan dihapuskan secara langsung pada saat aset tetap lainnya tersebut sudah tidak digunakan lagi.

PMK Nomor 225/PMK.05/2019 menetapkan metode penyusutan garis lurus (straight line method) sebagai metode untuk mengalokasikan nilai/besaran aset yang dapat didepresiasikan (depreciable amount) secara sistematis sepanjang umur aset. Metode garis lurus memberikan tarif penyusutan dengan jumlah besaran yang sama untuk setiap periode berdasarkan masa manfaat aset tetap. Rumusan penyusutan per periode adalah dengan membagi nilai yang dapat disusutkan dengan masa manfaat. Metode garis lurus dipilih oleh pemerintah karena kemudahannya dalam perhitungan dan penerapan, sehingga tidak membebani dan mengganggu entitas dalam penyajian dan analisa aset tetap.

2) Pengeluaran setelah perolehan awal

Aset tetap digunakan secara berkala setelah perolehan akan menimbulkan biaya seperti upgrade dan maintenance akan menambah kualitas dan masa manfaat aset tetap tersebut. Manfaat ekonomi di masa yang akan datang dalam bentuk penambahan kapasitas, peningkatan mutu produksi, atau peningkatan standar kinerja, serta dapat memperpanjang masa manfaat aset tetap yang diperoleh dari pengeluaran setelah perolehan awal suatu aset tetap harus ditambahkan pada nilai tercatat aset yang bersangkutan. Akan tetapi, penambahan ini tetap mempertimbangkan batas minimum kapitalisasi yang telah ditentukan. Entitas di pemerintah sangatlah beragam begitu pula dengan aset tetap yang mereka kelola. Kebijakan diberikan kepada entitas dapat menetapkan batasan jumlah tersebut dengan mempertimbangkan kondisi keuangan dan operasionalnya. Bila telah terbentuk maka batasan jumlah biaya kapitalisasi (capitalization thresholds) harus diterapkan secara konsisten dan diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

3.4. Penghentian dan pelepasan aset tetap Aset tetap milik pemerintah diperoleh dengan tujuan untuk digunakan dalam mendukung kegiatan operasional atau untuk dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Namun demikian, aset tetap harus dihentikan dari penggunaannya apabila

memenuhi kriteria dari ketentuan perundang-undangan. Penjualan aset tetap, pertukaran dengan aset tetap lainnya, atau berakhirnya masa manfaat aset tetap sehingga perlu diganti dengan aset tetap yang baru merupakan beberapa keadaan dan alasan penghentian aset tetap. Penghentian dilakukan terhadap aset tetap yang tidak memiliki masa manfaat ekonomi masa depan yang diharapkan dari penggunaan atau pelepasannya.

Aset tetap hakekatnya tidak lagi memiliki manfaat ekonomi masa depan, sehingga penggunaannya harus dihentikan apabila suatu aset tetap tidak dapat digunakan karena beberapa faktor seperti aus, ketinggalan jaman, tidak sesuai dengan kebutuhan organisasi yang makin berkembang, rusak berat, tidak sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR), atau masa manfaatnya telah berakhir. Aset tetap yang dihentikan dari penggunaan aktif oleh pemerintah menyebabkan tidak terpenuhinya kriteria sebagai aset tetap sehingga harus dihapuskan. Penghapusan aset tetap tersebut harus berdasarkan penerbitan surat keputusan penghapusan aset tetap. Apabila surat keputusan tersebut belum diterbitkan, aset tetap yang sudah tidak digunakan tersebut dipindahkan ke pos aset lainnya sesuai dengan nilai tercatatnya serta diungkapkan dalam CaLK.

3.5. Penyajian dan pengungkapan aset tetap Aset tetap disajikan sebesar biaya perolehan atau nilai wajar pada saat perolehan dan dilaporkan dalam neraca. Di dalam neraca, aset tetap termasuk bagian dari aset dan dikategorikan sebagai aset nonlancar. Informasi mengenai aset tetap selain disajikan dalam neraca, juga harus diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).

Pengungkapan yang ada di CaLK berfungsi sebagai informasi yang terinci yang menjelaskan kondisi aset tetap yang disajikan di neraca. Di dalam CaLK Laporan Keuangan harus diungkapkan pada masing-masing bagian jenis aset tetap mengenai informasi yang terdiri dari dasar penilaian yang digunakan dalam menentukan nilai tercatat aset (carrying amount), rekonsiliasi nilai tercatat atas aset pada awal dan akhir periode yang menunjukkan penambahan aset, pelepasan aset, akumulasi penyusutan dan perubahan nilai aset apabila ada, dan mutasi aset tetap lainnya, serta informasi penyusutan yang meliputi nilai penyusutan, metode penyusutan aset yang digunakan, masa manfaat aset atau tarif penyusutan yang digunakan, dan nilai tercatat bruto atas aset dan akumulasi penyusutannya pada awal dan akhir periode.

Sementara itu, suatu entitas harus mengungkapkan informasi mengenai KDP pada akhir periode akuntansi yang terdiri dari rincian kontrak konstruksi dalam pengerjaan berikut tingkat penyelesaian dan jangka waktu penyelesaiannya, nilai kontrak konstruksi dan sumber pendanaannya, jumlah biaya yang telah dikeluarkan dan yang masih harus dibayar, uang muka kerja yang diberikan, dan retensi.

Selanjutnya, laporan keuangan juga harus mengungkapkan eksistensi dan batasan hak milik atas aset tetap, kebijakan akuntansi dalam hal kapitalisasi yang berkaitan dengan aset tetap, jumlah pengeluaran pada pos aset tetap dalam konstruksi dan jumlah komitmen untuk akuisisi aset tetap.

3. METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam rangka untuk membuat kajian ini adalah melalui pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah kegiatan penelitian pada kondisi objek ilmiah, dimana peneliti berperan penting dalam penelitian tersebut (Sugiyono, 2005). Lebih lanjut, Moleong (2014) dalam Niansyah et al (2018) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah untuk memperdalam pemahaman terkait fenomena yang terjadi secara komprehensif sebagai subjek penelitian yang dijelaskan dalam bentuk narasi secara ilmiah dengan menggunakan berbagai metode ilmiah.

Untuk menunjang penelitian tersebut digunakan instrumen pengumpulan data sebagai berikut:

3.1. Studi Literatur

Sugiyono (2012) menjelaskan bahwa studi literatur berkorelasi dengan penelitian secara teoritis dan sumber lain yang berkaitan dengan nilai, norma, dan budaya yang mengalami perkembangan dalam kondisi sosial yang sedang dikaji. Selanjutnya, Sugiyono (2013) memaparkan mengenai dokumen sebagai catatan histori yang sudah berlalu. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan, membaca, dan mempelajari teori-teori sebagai landasan dalam langkah penyusunan kajian ini yang bersumber dari buku-buku, undang-Undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri, dan peraturan perundang-undangan lainnya, jurnal terkait, serta penelitian sebelumnya mengenai Tinjauan atas Aset Tetap di KPPBC Tipe Pratama Kantor Pos Pasar Baru (Fuji Ardhi, 2017).

3.2. Studi Lapangan

Metode ini digunakan untuk melihat dan mengamati praktik kerja akuntasi yang dilakukan oleh pihak terkait khususnya yang melaksanakan penerapan kebijakan akuntansi aset tetap pada KPPBC TMP C Kantor Pos Pasar Baru dalam rangka untuk memperoleh data dan fakta yang akurat.

3.3. Wawancara

Wawancara dilakukan dengan tanya jawab secara langsung dengan responden yang berkompeten di bidangnya. Hal ini dilakukan untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk menunjang kegiatan penelitian.