METODOLOGI PENELITIAN
3.4 PROSEDUR ANALISA .1 Prosedur Analisa Kadar Air
Analisa kadar air pati menggunakan metode SNI-01-2891-1992. 1. Cawan porselen dikeringkan selama 1 jam pada temperatur 105 oC.
2. Kemudian didinginkan di dalam desikator selama 30 menit dan ditimbang beratnya.
3. Bahan baku pati biji durian ditimbang sebanyak 2 gram.
4. Sampel bahan baku dimasukkan ke dalam cawan porselen yang telah diketahui bobotnya.
5. Kemudian dikeringkan di dalam oven dengan temperatur 100-105 oC selama 5 jam.
6. Didinginkan di dalam desikator dan ditimbang beratnya dengan interval waktu 10 menit hingga konstan.
3.4.2 Prosedur Analisa Kadar Abu
Analisa kadar abu pati menggunakan metode SNI-01-2891-1992.
1. Sampel bahan baku dimasukkan ke dalam cawan porselen yang telah diketahui bobotnya.
2. Kemudian dimasukkan ke dalam furnace pada temperatur 550 oC selama 1 jam sampai diperoleh abu berwarna putih.
3. Kemudian didinginkan di dalam desikator ditimbang dengan interval waktu selama 10 menit hingga di dapat berat konstan.
3.4.3 Prosedur Analisa Kadar Pati
Analisa kadar pati menggunakan metode SNI-01-3194-1992.
1. Timbang 2-5 gram sampel berupa bahan padat yang telah dihaluskan atau bahan cair dalam gelas piala 250 ml, tambahkan 50 ml aquades dan diaduk selama 1 jam. Suspensi disaring dengan kertas saring whatman 42
28
dan dicuci dengan aquades sampai volume filtrat 250 ml. Filtrat mengandung karbohidrat yang terlarut dan dibuang.
2. Bahan mengandung lemak, maka pati yang terdapat sebagai residu pada kertas saring dicuci 5 kali dengan 10 ml ether, biarkan ether menguap dari residu, kemudian cuci lagi dengan 150 ml alkohol 10% untuk membebaskan lebih lanjut karbohidrat yang terlarut.
3. Residu dipindahkan secara kualitatif dari kertas saring ke dalam erlenmeyer dengan pencucian 200 ml aquades dan tambahkan 20 ml HCl 25% (BJ 1,125), tutup dengan pendingin balik dan panaskna di atas penangas air mendidih selama 2,5 jam.
4. Setelah dingin netralkan dengan larutan NaOH 45% dan encerkan sampai volume 500 ml, kemudian saring dengan kertas saring whatman 42, tentukan kadar gula yang dinyatakan sebagai glukosa dari filtrat yang diperoleh. Penentuan glukosa seperti pada penentuan gula reduksi. berat glukosa dikalikan 0,9 merupakan berat pati.
3.4.4 Prosedur Analisa Kadar Lemak
Analisa kadar lemak pati menggunakan metode SNI-01-2891-1992.
1. Timbang dengan teliti 1 - 2 gram sampel dalam selongsong kertas yang dialasi dengan kapas, kemudian sumbat selongsong yang berisi sampel dengan kapas.
2. Keringkan dalam oven pada suhu tidk lebih 80oC selama kurang lebih satu jam
3. Masukkan selongsong dalam alat soxhlet yang telah dihubungkan dengan labu lemak berisi batu didih yang telah dikeringkan dan telah diketahui bobotnya.
4. Ekstrak dengan heksana atau pelarut lemak lainnya selama kurang lebih 6 jam.
5. Sulingkan heksana dan keringkan ekstrak lemak dalam oven pada suhu 105 oC
6. Dinginkan dan timbang
29 8. Catat data pengamatan dalam logbook
3.4.5 Prosedur Analisa Kadar Protein
Analisa kadar protein menggunakan metode SNI-01-2891-1992. 1. Sampel sebanyak 0,25 gram dimasukkan ke dalam labu kjedhal.
2. Ditambahkan 0,85 gram K2SO4; 0,35 gram HgO; dan 15 ml H2SO4 pekat serta batu didih ke dalam labu kjedhal.
3. Kemudian dipanaskan hingga larutan menjadi jernih (selama 3-4 jam). 4. Labu yang terisi larutan didinginkan dan kemudian dipindahkan dalam
labu destilasi sambil dibilas dengan 100 ml aquadest dingin. 5. Ditambahkan 15 ml Na2S2O4 4%, 5 ml NaOH 50% dan 2 gram Zn. 6. Destilat yang dihasilkan ditampung dalam erlenmeyer.
7. Ditambahkan 50 ml HCl 0,1 N ke dalam erlenmeyer dan ditetesi indikator metil red.
8. Didestilasi selama 1 jam.
9. Kemudian destilat dititrasi dengan NaOH 0,1 N sampai berubah warna menjadi kuning.
10. Diulangi untuk titrasi blanko.
Kadar protein : – Dimana:
W = berat sampel
V1 = volume HCl 0.01 N yang dipergunakan titrasi sampel V2 = volume HCl 0.01 N yang dipergunakan titrasi blanko N = Normalitas HCl
Fk = factor konversi protein
3.4.6 Prosedur Analisa Kadar Amilosa
Analisa kadar amilosa dengan menggunakan spektrofotometer.
1. Sebanyak 100 mg sampel pati dimasukkan ke dalam tabung reaksi. 2. Ditambahkan 1 ml etanol 95% dan 90 ml NaOH 1N.
30
3. Campuran dipanaskan dalam air mendidih selama 10 menit, biarkan sampai dingin.
4. Campuran dibiarkan dalam labu ukur 100 ml.
5. Ditambahkan aquadest sampai garis batas, larutan diambil 5 ml. 6. Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml.
7. Ditambahkan 1 ml CH3COOH 1 N dan 2 ml larutan I2 0,2%.
8. Campuran dalam labu ukur ditambahkan aquadest sampai batas, lalu dikocok dan dibiakan selama 20 menit. Intensitas warna biru diukur dengan menggunakan spektrofotometer.
3.4.7 Prosedur Analisa Kadar Amilopektin
Analisa kadar amilopektin menggunakan metode (SNI-01-3194-1992). 1. Dihitung kadar pati sampel pati biji durian berdasarkan prosedur. 2. Dihitung kadar amilosa sampel pati biji durian berdasarkan prosedur. 3. Ditentukan kadar amilopektin berdasarkan nilai kadar pati dan kadar
amilosa sampel pati biji durian yang telah dihitung. 4. Kadar amilopektin ditentukan dengan perhitungan:
% amilopektin = % pati - % amilosa
3.4.8 Prosedur Analisa Derajat Kecerahan Pati
Analisa derajat kecerahan pati ini dilakukan menggunakan alat khromameter: 1. Sumber cahaya akan menembak permukaan sampel yang kemudian
dipantulkan menuju sensor spektral.
2. Cahaya direfleksikan oleh sampel dengan sistem sinar balik ganda. 3. Kemudian diidentifikasi perbedaan warna dengan nilai L*a*b
Analisa warna pada khromameter ini didasarkan pada tiga parameter. Parameter yang pertama yaitu nilai L yang menunjukkan tingkat kecerahan sampel, skala nilai L mulai dari 0 yang paling gelap sampai 100 yang paling cerah. Parameter yang kedua yaitu nilai a yang menunjukkan khromatik campuran warna merah dan hijau, nilai a positif artinya warna sampel cenderung berwarna merah, sedangkan nilai a negatif warna sampel cenderung berwarna hijau. Parameter yang ketiga yaitu nili b yaitu menunjukkan warna khromatik campuran kuning dan biru, nilai b positif
31
artinya warna sampel cenderung kuning, sedangkan nilai b negatif warna sampel cenderung biru.
3.4.9 Prosedur Penentuan Densitas Bioplastik
Penetuan densitas bioplastik.
1. Bioplastik dipotong dengan ukuran dan tebal tertentu, kemudian dihitung volumenya.
2. Kemudian potongan film ditimbang.
3. Densitas film dapat ditentukan dengan rumus:
3.4.10 Prosedur Uji Penyerapan Air Bioplastik
Uji penyerapan air dilakukan berdasarkan metode perendaman. 1. Berat awal sampel yang akan diuji ditimbang (Wo).
2. Sampel dimasukkan ke beaker glass berisi aquadest.
3. Setelah 2 jam diangkat dari wadah dan ditimbang (W) hingga diperoleh berat konstan.
3.4.11 Prosedur Analisa Sifat Kekuatan Tarik
Pengujian kekuatan tarik dilakukan berdasarkan ASTM D882. Kondisi spesimen yang diuji pada suhu 23+-2oC dan 50 % kelembaban relatif. Dimensi untuk ketebalan disarankan tidak lebih dari 1 mm dengan panjang 50 mm.
Kekuatan tarik dihitung dengan membagi gaya maksimum dalam Newton dengan luas penampang minimum dalam meter persegi. Hasil dinyatakan dalam pascal.
32
3.4.12 Prosedur Analisa Sifat Pemanjangan pada Saat Putus
Pemanjangan saat putus adalah peningkatan panjang material saat diuji dengan beban tarik, dinyatakan dalam satuan panjang, biasanya inci atau milimeter. Persen pemanjangan saat putus adalah pemanjangan benda uji yang dinyatakan sebagai persen dari panjangnya. Pengukuran dilakukan dengan cara yang sama dengan kekuatan tarik yaitu berdasarkan ASTM D882.
3.4.13 Prosedur Analisa Morfologi Permukaan Pati Biji Durian dan Bioplastik dengan Scanning Electron Microscope Energy Dispersion X-ray
spectroscopy (SEM EDX)
Analisa dengan SEM ini dilakukan di Unit Pelaksanaan Teknis Laboratorium Terpadu, Universitas Diponegoro.
1. Sampel yang diambil dari patahan bioplastik setelah uji kuat tarik ditempelkan pada set holder dengan perekat ganda.