• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KEPAILITAN DIREKSI SECARA PRIBADI SETELAH

A. Prosedur dan Tata Cara Pengajuan Permohonan Kepailitan

Proses permohonan dan putusan pernyataan pailit diatur dalam Pasal 6 sampai dengan Pasal 11 UUK-PKPU. Permohonan pernyataan pailit kepada ketua Pengadilan Niaga dan Panitera wajib mendaftarkan permohonan tersebut. Menurut Pasal 6 ayat (3) UUK mewajibkan panitera untuk menolak pendafataran permohonan pernyataan pailit bagi instansi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3), ayat (4), dan ayat (5).

1. Menurut Pasal 2 UUK-PKPU permohonan pailit dapat diajukan oleh :

Debitur adalah perusahaan bukan bank yang bukan perusahaan efek, yang dapat mengajukan permohonan pailit adalah :

a. Debitur

b. Seorang atau lebih dari kreditur c. Kejaksaan

2. Dalam perusahaan bank, yang dapat mengajukan kepailitan adalah Bank Indonesia.

3. Dalam perusahaan efek, yang dapat mengajukan permohonan kepailitan adalah BAPEPAM

73

4. Dalam PT yang dapat mengajukan permohonan kepailitan adalah Direksi PT, namun berdasarkan keputusan RUPS. Menurut Pasal 5 UUK permohonan itu harus diajukan oleh seorang penasehat hukum yang memiliki izin praktek.

Dalam jangka waktu paling lambat 3 hari setelah tanggal permohonan pernyataan pailit didaftarkan, sidang pemeriksaan atas permohonan pailit diselenggarakan dalam jangka waktu paling lambat 20 hari setelah tanggal permohonan pailit didaftarkan. Dalam hal permohonan pemohonan pernyataan pailit yang diajukan oleh debitur sendiri yang berbentuk hukum, PT terdapat dalam ketentuan Pasal 104 ayat (1) UU No 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

Menurut ketentuan tersebut direksi tidak berwenang mengajukan permohonan pailit atas perseroan sendiri kepada pengadilan niaga sebelum mendapat persetujuan RUPS, dengan tidak mengurangi ketentuan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU.

Pengadilan Niaga wajib meminta kepada Advokat yang memiliki perseroan debitur agar menyampaikan putusan RUPS yang dimaksud. Pengadilan niaga wajib menolak permohonan pernyataan pailit oleh debitur yang berbentuk PT apabila pernyataan pailit tidak didasarkan keputusan RUPS.

Menurut ketentuan Pasal 69 ayat (3) UUPT yang lama, debitur adalah suatu PT dan permohonan pernyataan pailit diajukan oleh direksi perusahaan debitur tersebut.Direksi perusahaan debitur tersebut dapat mengajukan permohonan pailit ke pengadilan niaga agar perusahaan tersebut dinyatakan pailit berdasarkan keputusan RUPS. Didalam Undang-Undang 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU

memang tidak mewajibkan bagi hakim untuk memanggil atau meminta persetujuan atau sekurang-kurangnya mendengar pendapat para Kreditur yang lain (dalam hal permohonan kepailitan diajukan oleh seorang atau beberapa Kreditur). Namun demikian sebaliknya pula, Undang-Undang 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU tidak melarang apabila hakim memanggil para Kreditur yang lain untuk dimintai pendapat atau persetujuan mereka itu sehubungan dengan permohonan kepailitan.

Demi memperoleh keputusan kepailitan yang fair, seyogianya hakim sebelum memutuskan permohonan pernyataan pailit , baik yang diajukan oleh Debitur (PT), oleh seorang atau lebih Kreditur, atau oleh Kejaksaan demi kepentingan umum, terlebih dahulu memanggil dan meminta pendapat para Kreditur, terutama para Kreditur yang menguasai sebagian besar jumlah utang Debitur yang bersangkutan.

Sikap hakim yang demikian ini sejalan dengan ketentuan Pasal 244 Undang-Undang 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU mengenai hak Debitur untuk memohon kepada Pengadilan Niaga agar Undang-Undang 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU dicabut dan memberikan keputusannya, hakim yang bersangkutan harus mendengar para Kreditur dan memanggil mereka.81

Setiap permohonan kepailitan, baik yang diajukan oleh debitur sendiri maupun oleh pihak ketiga diluar debitur harus diajukan melalui pengacara yang memiliki ijin di pengadilan. Menurut ketentuan Pasal 4 ayat (1) bahwa setiap

81E. Suherman, Faillissement (Kepailitan), Binacipta, Bandung, 2010, hal. 17.

permohonan pernyataan pailit yang diajukan kepada pengadilan melalui panitera, untuk selanjutnya diproses berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Didalam Undang-Undang 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU menyatakan bahwa khusus untuk perkara-perkara yang berhubungan dengan masalah kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang, pengadilan niaga memeriksa dan memutuskan perkara pada tingkat pertama dengan hakim majelis. Selama putusan atas permohonan pernyataan pailit belum ditetapkan, setiap kreditur atau kejaksaan dapat mengajukan permohonan kepada pengadilan. Walaupun demikian, permohonan penyitaan tesebut akan dikabulkan oleh pengadilan jika penyitaan tersebut ternyata dikabulkan.

Undang-undang kepailitan mengenal hak banding yang diberikan sesuai dengan Pasal 8 Undang-Undang 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU, sehingga hanya upaya hukum kasasi yang dapat diajukan oleh pihak yang keberatan atau tidak puas dengan putusan peradilan tingkat pertama (Pengadilan Niaga).

Terhitung sejak tanggal putusan pernyataan pailit ditetapkan oleh pengadilan, debitur yang dinyatakan pailit tidak lagi diperkenankan untuk melakukan pengurusan atas harta kekayaan yang dinyatakan pailit.

Ketika PT dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan, debitur demi hukum kehilangan haknya untuk menguasai dan mengurus kekayaannya yang termasuk dalam harta pailit. Untuk mengurus harta pailit tersebut, menurut Pasal 15 Undang-Undang 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU, pengadilan niaga mengangkat kurator dan sekaligus mengangkat pula seorang hakim pengawas.

Dalam rangka pelaksanaan pencocokan piutang, dalam Pasal 116 Undang-Undang 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU, tugas kurator dalam pencocokan piutang adalah :

a. Mencocokan perhitungan piutang yang diserahkan oleh kreditur dengan catatan yang telah dibuat sebelumnya dan keterangan debitur pailit.

b. Berunding dengan kreditur jika terdapat keberatan terhadap penagihan yang diterima.

Dalam hal demikian kurator diwajibkan untuk segera memberitahukan penetapan surat-surat tersebut kepada kreditur yang dikenal dan mengiklankan dalam surat kabar yang termaksud dalam Pasal 13 Undang-Undang 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU. Segala tagihan yang ada harus dimasukan kepada kurator dengan memasukan suatu perhitungan yang menunjukan sifat dan jumlah piutang disertai dengan bukti-bukti atau salinan dari bukti-bukti tersebut. Kurator berkewajiban untuk melakukan pencocokan antara perhitungan-perhitungan yang dimasukan dengan catatan dan keterangan-keterangan yang ada pada debitur yang dinyatakan pailit. Setelah itu kurator memilah-milah antara piutang yang disetujui dan dibantah. Seluruh piutang yang disetujui dimasukan dalam daftar piutang-piutang yang diakui, sedangkan piutang-piutang-piutang-piutang yang dibantah dimasukan dalam suatu daftar tersendiri yang memuat alasan-alasan pembantahannya.

Pemberesan boedel pailit dilakukan oleh kurator. Terhitung sejak tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan segala pelaksanaan pengurusan dan pemberesan harta pailit. Selanjutnya pelaksanaan pemberesan atas harta pailit diserahkan oleh

kurator yang diangkat oleh pengadilan, dengan diawasi oleh seorang hakim pengawas yang ditunjuk oleh pengadilan. Pengangkatan harus ditetapkan dalam putusan pernyataan pailit tersebut. Pemberesan yang dilakukan oleh kurator bersifat seketika, dan berlaku saat itu pula terhitung sejak tanggal putusan diucapkan, meskipun terhadap putusan kemudian diajukan kasasi atau peninjauan kembali.

Setelah berakhirnya kepailitan, menurut Pasal 166 dan Pasal 202 Undang-Undang No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), demikian juga hal-hal yang dimaksud dalam Pasal 207, debitur berhak untuk memasukkan permohonan rehabilitasi kepada pengadilan yang telah mengucapkan putusan pernyataan pailit. Pengadilan tidak akan menerima permohonan debitur, kecuali jika pada surat permohonan tersebut dilampirkan bukti yang menyatakan bahwa kreditur diakui sudah memperoleh pembayaran secara memuaskan.

B. Kedudukan, Kewenangan, Kewajiban dan Pertanggungjawaban Direksi