• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN A. Bahan dan Peralatan

B. Prosedur Kerja

Gambar 1. Alur proses kegiatan

Lipstik berbahan dasar lemak tengkawang dibuat menggunakan formula hasil penelitian sebelumnya dan modifikasi lain sebagai varian.

Kemudian lipstik ini dianalisis melalui beberapa pengujian, diantaranya uji organoleptik untuk mengukur tingkat kesukaan, uji cemaran mikroba dan uji iritasi untuk mengetahui tingkat keamanan produk, serta analisis biaya produksi lipstik. Lipstik komersial dan data SNI masing-masing digunakan sebagai pembanding pada masing-masing pengujian. Tahap-tahap pengujian secara lengkap adalah sebagai berikut :

Sediaan Lipstik

Uji Organoleptik Uji Cemaran mikroba I Uji iritasi

Uji Cemaran mikroba II

Pilot Produk Lipstik

-- Analisis Biaya Produksi

24 1. Uji organoleptik

Lipstik yang dihasilkan dilakukan uji kesukaan (hedonic test) berupa uji organoleptik. Parameter yang diuji meliputi tekstur, kilap, bau, warna dan daya oles lipstik. Uji ini menggunakan sistem skoring dari beberapa responden (Rahayu, 1998).

2. Uji cemaran mikroba

Uji cemaran mikroba dilakukan untuk mengukur keberadaan mikroba yang ada pada sediaan lipstik. Keberadaan mikroba dalam jumlah tertentu dapat mengakibatkan kerusakan pada lipstik dan memberikan efek negatif kepada pengguna.

Produk lipstik yang dihasilkan dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama dilakukan uji cemaran mikroba (I), bagian sisanya disimpan selama 4 bulan kemudian dilakukan uji cemaran mikroba setelah masa penyimpanan (II) untuk melihat ada tidaknya perubahan pada produk.

Produk tersebut disimpan dalam kondisi terhindar dari cahaya matahari langsung dan udara panas atau lembab. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan hasil cemaran mikroba antara produk lipstik sebelum dan sesudah penyimpanan selama 4 bulan, lipstik komersial sebagai kontrol serta persyaratan mutu berdasarkan SNI 16-4769 (1998).

Uji cemaran mikroba meliputi Angka Lempeng Total (ALT), jamur, koliform dan S. aureus. Prosedur pengujiannya adalah sebagai berikut : a. Angka lempeng total (ALT)

Sebanyak 1 gr sampel disuspensikan ke dalam 9 ml larutan 0.85%

NaCl. Hasil pengenceran tersebut diambil 1 ml lalu dimasukkan ke dalam cawan petri steril, kemudian dituangkan agar cair steril (Nutrient agar) sebanyak 15 ml yang telah didinginkan (Tabel 14). Cawan diinkubasi selama 2-3 hari pada suhu 30-32 0C. Jumlah koloni bakteri dihitung dengan metode “Standard Plate Count” (SPC) dengan rumus sebagai berikut :

Koloni per ml = Jumlah koloni x (1/factor pengenceran)

25 Tabel 14. Komposisi media Nutrient Agar

Komposisi g/l media PDA. Produk ditimbang sebanyak 1 gram disuspensikan ke dalam 9 ml larutan 0,85% NaCl. Hasil pengenceran tersebut diambil 1 ml lalu dimasukkan ke dalam cawan petri. Media PDA (Tabel 15) dituang ke dalam cawan petri yang telah berisi pengenceran sampel dan diinkubasi pada suhu 30-32 oC selama 2 hari.

Tabel 15. Komposisi media PDA

Komposisi g/l

Uji kualitatif koliform secara lengkap terdiri dari tiga tahap, yaitu uji penduga, uji penguat dan uji lengkap.

1) Uji penduga

Uji penduga merupakan uji kualitatif koliform menggunakan metode

“Most Probable Number” (MPN). Metode ini menggunakan medium cair di dalam tabung reaksi, dimana perhitungannya dilakukan berdasarkan jumlah tabung yang positif, yaitu yang ditumbuhi oleh mikroba setelah diinkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Produk yang ditimbang sebanyak 1 gr disuspensikan ke dalam 9 ml larutan 0.85% NaCl.

Sebanyak 1 ml hasil pengenceran tersebut dimasukkan ke dalam tabung yang berisi Lactose Broth dan tabung Durham. Tabung ini kemudian diinkubasi pada suhu 37 oC selama 24 jam.

26

Pengamatan dilakukan dengan melihat tabung yang positif, yaitu tabung yang ditumbuhi mikroba yang dapat ditandai dengan terbentuknya gas di dalam tabung Durham.

Tabung yang tidak menunjukkan pembentukan gas, maka dilakukan perpanjangan masa inkubasi menjadi 48 jam. Apabila tetap tidak terbentuk gas maka dihitung sebagai tabung negative. Namun jika terbentuk gas maka dilanjutkan dengan uji penguat dan uji lengkap.

2) Uji penguat

Terbentuknya gas di dalam LB tidak selalu menunjukkan jumlah bakteri koliform. Hal ini bisa terjadi juga karena mikroba lain yang dapat memfermentasikan laktosa dengan membentuk gas, misalnya bakteri asam laktat. Oleh karena itu perlu dilakukan uji penguat pada agar Eosin Methylene Blue (EMB). Dengan menggunakan jarum ose, contoh dari tabung MPN yang menunjukkan uji penduga positif (terbentuk gas) masing-masing diinokulasikan pada suhu 35 oC selama 24 jam.

3) Uji lengkap

Dari pertumbuhan koloni pada agar cawan EMB, masing-masing dipilih satu koloni yang mewakili koliform fekal dan non fekal. Masing-masing koloni tersebut dibuat pewarnaan gram dan sisanya Masing- masing-masing dilarutkan ke dalam 3 ml larutan pengencer steril (Tabel 16) . Tabel 16. Komposisi media Lactose Broth

Komposisi g/l

Sampel ditimbang sebanyak 1 gr, kemudian dihancurkan dan disuspensikan ke dalam larutan 9 ml 0.85 ml NaCl. Hasil pengenceran tersebut diambil 1 ml lalu dimasukkan ke dalam cawan petri steril dan dituangkan 15 ml media MSA (Tabel 17) yang telah didinginkan. Cawan tersebut kemudian diinkubasi pada suhu 37 oC selama 2 hari.

27

Pengamatan dilakukan dengan melihat koloni yang tumbuh pada MSA. Koloni S. aureus pada MSA dikelilingi oleh areal berwarna kuning.

Koloni bakteri non patogenik ditandai dengan adanya areal berwarna merah atau ungu.

Tabel 17. Komposisi media MSA

Komposisi g/l

Ekstraks sapi 1

Proteose pepton No.3 10

NaCl 75

D-Manitol 10

Agar 15

Phenol red 0.025

Sumber : Fardiaz (1989) 3. Uji iritasi sederhana

Uji iritasi sedehana dilakukan pada mencit dengan metode Draize (1959). Perlakuan yang diberikan yaitu bulu mencit dicukur dengan ukuran luas tertentu. Masing-masing jenis produk lipstik dioleskan pada bagian punggung mencit yang terlah dicukur, lalu ditutup dengan ain kassa steril kemudian direkatkan dengan plester lalu dibungkus dengan perban dan dibiarkan selama 24 jam.

Setelah 24 jam, plester dan perban dibuka lalu diamati. Setelah diamati, bagian tersebut ditutup kembali dan dibiarkan selama 24 jam berikutnya. Setelah 72 jam, plester dan perban dibuka dan diamati kembali.

Parameter uji iritasi yang diukur berupa adanya bintik-bintik kemerahan dan pembentukan kerak luka. Sistem penilaian menggunakan skoring (Tabel 18).

28 Tabel 18. Skoring uji iritasi sederhana

Nilai Parameter

- Tidak mengiritasi

+ Iritasi ringan

++ Iritasi sedang

+++ Iritasi berat

4. Analisis biaya produksi

Analisis biaya produksi yang diukur yaitu harga pokok produksi (HPP). Biaya ini mencakup bahan baku hingga kemasan (packaging) per satuan produk dilihat berdasarkan formula lipstik yang digunakan.

Perhitungannya adalh sebagai berikut :

HPP = ∑ harga bahan (Rp) + kemasan (Rp)

∑ kebutuhan bahan per satuan produk C. Analisis Data

Analisis data uji organoleptik lipstik diolah menggunakan statistik dengan metode Kruskall-Wallis. Analisis uji cemaran mikroba dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan hasil cemaran mikroba pada lipstik hasil penelitian sebelum dan sesudah masa penyimpanan, lipstik komersial sebagai pembanding dan standar lipstik yang berlaku (SNI 16-4769, 1998).

29 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dokumen terkait