• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.5 Prosedur Penelitian

3.5.1 Prosedur Kerja

1. Pengumpulan Data

Data yang dibutuhkan diambil dari PT. INALUM (pesero) Kuala Tanjung, Sumatera Utara.

2. Pemodelan Single Line Diagram

Dengan bantuan software ETAP 12.6.0 sistem proteksi rele arus lebih dari GI Kuala Tanjung hingga ke Pabrik Peleburan Aluminium akan dirangkai.

3. Memasukkan Data dan Menjalankan Simulasi

Data yang dikumpulkan diinput ke dalam sistem untuk disimulasikan menggunakan software ETAP 12.6.0 sehingga diperoleh nilai arus yang mengalir di setiap bus beban. Berikut ini adalah data-data yang akan dimasukan ke dalam sistem.

a. Grid 275 kV

Energi yang dibangkitkan dari PLTA Sigurgura dan Tangga direferensikan sebagai Power Grid dengan spesifikasi ditunjukkan pada Tabel 3.1

Tabel 3.1 Power Grid

b. Transformator

Transformator adalah komponen listrik yang dapat mengubah energi listrik bolak-balik dari suatu level tegangan ke level tegangan tertentu berdasarkan prinsip elektromagnet. Adapun data spesifikasi trafo di Gardu Induk Kuala Tanjung ditunjukkan pada Tabel 3.2 berikut.

Tabel 3.2 Transformator

c. Beban

Data beban di Pabrik Peleburan Aluminium PT. INALUM (persero) Kuala tanjung direferensi sebagai beban lump load dan static load yang ditunjukkan pada Tabel 3.3 berikut.

Tabel 3.3 Data Beban

d. Konduktor

Berikut spesifikasi konduktor yang digunakan di PT. INALUM (persero) yang diperlihatkan pada Tabel 3.4 berikut.

Tabel 3.4 Data Konduktor

e. Rele dan CT

Rele arus lebih yang digunakan di Pabrik Peleburan Aluminium PT.

INALUM (persero) adalah Fuji Elektri dan Toshiba, dengan spesifikasi yang diperlihatkan pada Tabel 3.5 sebagai berikut.

Tabel 3.5 Setelan Rele Eksisting

4. Menghitung Koordinasi Rele Arus Lebih

Dengan referensi arus beban, akan dihitung setelan arus untuk dilakukan koordinasi rele arus lebih yang sesuai agar tidak terjadi kesalahan kerja pada sistem kelistrikan di PT. INALUM (persero) Kuala Tanjung, Sumatera Utara.

5. Menampilkan Kurva Koordinasi Rele Arus Lebih

Setelah diperoleh koordinasi yang baik, akan diperlihatkan kurva karakteristik dari koordinasi rele arus lebih melalui star view simulator pada software ETAP 12.6.0.

6. Menentukan Koordinasi Optimum Rele Arus Lebih

Jika setelan arus dan TMS rele sudah diperoleh, maka referensi ini akan di input ke dalam sistem bee algorithm untuk disimulasi menggunakan software MATLAB. Dimana sistem optimasi ini berisi aturan-aturan yang menjadi syarat dalam pengambilan keputusan.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Pemodelan Sistem Proteksi di PT. INALUM (persero)

Pemodelan sistem proteksi di PT. INALUM (persero) Kuala Tanjung dilakukan dengan cara membuat single line diagram pada software ETAP 12.6.0 (Lampiran A) dengan memperhatikan data-data peralatan listrik yang meliputi transformator, konduktor, bus, rele eksisting, CB dan beban.

Pemodelan single line diagram tersebut bertujuan untuk melihat kondisi eksisting sistem proteksi di PT. INALUM (persero), Kuala Tanjung. Setelah melakukan pemodelan sistem proteksi, akan dilakukan perhitungan dan setelan koordinasi rele arus lebih pada masing-masing tipikal pembebanan yang telah ditentukan.

4.2 Pemilihan Tipikal Koordinasi pada PT. INALUM (persero)

Dalam menganalisis setelan koordinasi rele arus lebih studi kasus di PT.

INALUM (persero) Kuala Tanjung, akan dipilih 3 tipikal koordinasi rele arus lebih yang ditunjukkan pada Gambar 4.1. Adapun tipikal pembebanan yang akan dibahas dalam skripsi ini dibagi menjadi 3 tipikal. Berikut adalah tipikal-tipikal sistem yang akan dianalisis:

1. Tipikal 1: Koordinasi rele arus lebih dari bus KT-1, Transformator No.1 MTR 230 MVA, Transformator No.1 LVR 182 MVA, hingga ke bus peleburan aluminium Port 1.

2. Tipikal 2: Koordinasi rele arus lebih dari bus 2, Transformator No.1 PPTR 48 MVA, bus 39, hingga ke beban Lump 7.

3. Tipikal 3: Koordinasi rele arus lebih dari bus KT-2, Transformator No.1 MTR 182 MVA, Transformator No.3 LVR 182 MVA, hingga ke bus peleburan alumnium Port 3.

Tipikal 1 Tipikal 2 Tipikal 3

Gambar 4.1 Single Line Diagram PT. INALUM (persero) Kuala Tanjung

4.3 Analisis Arus Gangguan Hubung Singkat

Dalam menentukan setelan arus rele dalam skripsi ini, dilakukan simulasi arus gangguan hubung singkat menggunakan software ETAP 12.6.0 pada setiap bus atau peralatan yang dilindungi oleh rele proteksi arus lebih. Untuk keperluan analisis arus gangguan hubung singkat diperlukan arus gangguan hubung singkat maksimum.

4.4 Analisis Koordinasi Rele Eksisting

4.4.1 Analisa Koordinasi Rele Eksisting Tipikal 1 dengan Setelan Default

Tipikal 1 terdiri dari 4 rele arus lebih yaitu Rele A, Rele 36, Rele 1 dan Rele 7. Tipikal koordinasi rele ini ditunjukkan pada Gambar 4.2 dimana kondisi sistem kelistrikan disalurkan dari bus KT-1 menuju bus 17, bus 2, bus 19 hingga akhirnya sampai ke peleburan aluminium atau beban yang disebut sebagai bus Port-1. Rele 7 merupaka rele pengaman pada sisi primer transformator No.1 MTR 230 MVA. Rele 1 digunakan sebagai pengaman sisi primer transformator No.1 LVR 182 MVA dan Rele 36 sebagai pengaman sisi sekundernya. Adapun pada sisi peleburan aluminium bus port-1 diamankan oleh Rele-A.

Gambar 4.2 Koordinasi Rele Tipikal 1

Kurva koordinasi rele arus lebih tipikal 1 ditunjukkan pada Gambar 4.3 terlihat bahwasanya sistem masih mengalami kesalahan operasi kerja untuk Rele 7 yang seharusnya tidak beroperasi mendahuluai Rele 1 dan Rele 36. Selain itu operasi kerja instantaneous Rele 7 memiliki setelan yang terlalu dini untuk dioperasikan pada transformator No.1 MTR 230 MVA saat keadaan inrush current.

Gambar 4.3 Kurva Karakteristik Koordinasi Eksisting Tipikal 1

Dari kurva koordinasi di atas bisa disimpulkan bahwa jika terjadi gangguan pada sisi sekunder transformator No. 1 LVR 182 MVA (Lampiran B. 1), maka Rele 7 akan bekerja lebih dahulu dibandingkan rele pengaman utama yaitu Rele 36.

Gambar 4.4 akan menjelaskan operasi kerja sistem proteksi rele arus lebih saat diberi gangguan pada Port 1 menggunakan software ETAP 12.6.0.

Gambar 4.4 Sequence of Operating Eksisting Tipikal 1

4.4.2 Analisa Koordinasi Rele Eksisting Tipikal 2 dengan Setelan Default

Tipikal 2 terdiri dari 3 rele arus lebih yaitu, Rele 6, Rele 55 dan Rele 71.

Rele-rele ini tersusun secara seri yang ditunjukkan pada Gambar 4.5.

Gambar 4.5 Koordinasi Rele Tipikal 2

Rele 6 pada gambar di atas difungsikan sebagai proteksi arus lebih sisi primer transformator No.1 PPTR 48 MVA, untuk sisi sekundernya diproteksi oleh Rele 55. Adapun pada sisi beban Lump 7 diproteksi oleh Rele 71 sebagai pengaman sistem dari kemungkinan gangguan arus lebih yang terjadi.

Jika diperhatikan kurva karakteristiknya pada Gambar 4.6 berikut ini. Kita akan mendapati kesalahan kerja rele dengan karakteristik instantaneous Rele 6 yang berkerja terlalu dini dibandingkan Rele 55 dan Rele 71 (Lampiran B. 2). Pada Gambar 4.7 akan memperlihatkan operasi kerja koordinasi rele arus lebih saat diberi gangguan pada sisi beban Lump 7.

Gambar 4.6 Kurva Karakteristik Koordinasi Eksisting Tipikal 2

Gambar 4.7 Sequence of Operating Eksisting Tipikal 2

4.4.3 Analisa Koordinasi Rele Eksisting Tipikal 3 dengan Setelan Default

Koordinasi rele tipikal 3 ini terdiri dari 4 rele yang terletak pada penyulang yang sama yaitu Rele 34, Rele 32, Rele 39 dan Rele B. Rele-rele ini tersusun secara seri sperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.8. Rele 34 digunakan sebagai proteksi arus lebih sisi primer transformator No.4 MTR 182 MVA. Rele 32 difungsikan sebagai proteksi arus lebih sisi primer transformator No.3 LVR 182 MVA, dan sisi sekundernya diamankan oleh Rele 39. Adapun pada Bus Port-3 diproteksi oleh Rele B yang digunanakan sebagai proteksi arus lebih pada sisi beban.

Gambar 4.8 Koordinasi Rele Tipikal 3

Terlihat pada kurva karakteristik koordinasi proteksi yang ditunjukkan pada Gambar 4.9 berikut, Rele 34 mengalami kesalahan operasi kerja. Dimana operasi kerja rele ini terlalu cepat dari Rele 32 dan Rele 39, serta proteksi rele instantaneous Rele 34 lebih cepat dibandingkan Rele 32 dan Rele 39 (Lampiran B. 3).

Gambar 4.9 Kurva Karakteristik Koordinasi Eksisting Tipikal 3

Pada Gambar 4.10 akan menjelaskan opersi kerja koordinasi rele proteksi arus lebih Tipikal 3 saat sistem diberi gangguan pada Port 3.

Gambar 4.10 Sequence of Operating Eksisting Tipikal 3

4.5 Evaluasi Koordinasi dan Rekomendasi Rele

Evaluasi koordinasi bermaksud untuk memperbaiki beberapa kesalahan kerja rele pada analisis kondisi eksisting yang telah dibahas sebelumnya. Settingan koordinasi rele arus lebih dirujuk dari IEEE std 242-2001.

4.5.1 Evaluasi Koordinasi Rele dan Rekomendasi Tipikal 1

Rele arus lebih yang beroperasi pada tipikal 1 adalah Rele A 1-6, Rele 36 pada sisi sekunder transformator No. 1 LVR 182 MVA dan Rele 1 pada sisi primernya, serta Rele 7 pada sisi primer transformator No. 1 MTR 230 MVA.

Berikut adalah analisis evaluasi koordinasi rele pada tipikal 1.

ο‚· Rele A 1-6

Manufakture : ALSTOM Model : P120

Curve : Very Inverse Rasio CT : 1000/5

FLA : 437.9 A

Setelan Arus

Iset(prim) = 1.2 x 437.9

= 525.48 β‰ˆ 526 A

Iset(sek) = Iset(prim) π‘₯ π‘…π‘Ž!π‘–π‘œ 𝐢𝑇1

= 526 π‘₯ 10005

= 2.63 A

Time Multiple Setting (TMS)

t = 0.1

Manufakture : ALSTOM Model : P120

Time Multiple Setting (TMS)

Manufakture : ALSTOM Model : P120

Iset(sek) = Iset(prim) π‘₯ π‘…π‘Ž!π‘–π‘œ 𝐢𝑇1

= 3820.8 π‘₯ 50005

= 3.820 A

Time Multiple Setting (TMS) t = 0.4 + 0.5 = 0.9 detik

Manufakture : ALSTOM Model : P120

Curve : Very Inverse Rasio CT : 600/1

FLA : 461.9 A Setelan Arus

Iset(prim) = 1.2 x 461.9

= 554.28 A

Iset(sek) = Iset(prim) π‘₯ π‘…π‘Ž!π‘–π‘œ 𝐢𝑇1

= 554.28 π‘₯ 6001

= 0.9238 β‰ˆ 0.924 Time Multiple Setting (TMS) t = 0.4 + 0.9 = 1.3 detik

𝑑 = ( 13.5

(𝐼𝑓 𝐼𝑠𝑒𝑑)1βˆ’1

) π‘₯ π‘‡π‘šπ‘ 

π‘‡π‘šπ‘  =

𝑑 (( 𝐼𝑓 𝐼𝑠𝑒𝑑)

1

βˆ’ 1)

13.5

π‘‡π‘šπ‘  = 1.3 (( 1401 554.28)

1βˆ’ 1)

13.5

π‘‡π‘šπ‘  = 0.147049 β‰ˆ 0.147

Dari anailsis koordinasi rele tipikal 1, setelan rele disimpulkan pada Tabel 4.1

Tabel 4.1 Setelan Koordinasi Rele Tipikal 1

4.5.2 Evaluasi Koordinasi Rele dan Rekomendasi Tipikal 2

Rele arus lebih yang beroperasi pada tipikal 2 adalah Rele 71, Rele 55 pada sisi sekunder transformator No. 1 PPTR 48 MVA dan Rele 6 pada sisi primernya.

Berikut adalah analisis evaluasi koordinasi rele pada tipikal 2.

ο‚· Rele 71

Manufakture : ALSTOM Model : P120 Time Multiple Setting (TMS)

Dipilih waktu operasi = 0.3 detik karena bebannya lumped.

𝑑 = ( 13.5

π‘‡π‘šπ‘  =

Manufakture : ALSTOM Model : P120 Time Multiple Setting (TMS) t = 0.4 + 0.3 = 0.7 detik

π‘‡π‘šπ‘  =

0.7 ((15860 2074.8)

1βˆ’ 1) 13.5

π‘‡π‘šπ‘  = 0.34428 β‰ˆ 0.344

ο‚· Rele 6

Manufakture : ALSTOM Model : P120

Curve : Very Inverse Type Rasio CT : 1000/5

FLA : 839.8 A

Setelan Arus

Iset(prim) = 1.2 x 839.8

= 1007.76 β‰ˆ 1010 A Iset(sek) = Iset(prim) π‘₯ π‘…π‘Ž!π‘–π‘œ 𝐢𝑇1

= 1010 π‘₯ 10005

= 5.05 𝐴

Time Multiple Setting (TMS) t = 0.4 + 0.7 = 1.1 detik

𝑑 = ( 13.5

(𝐼𝑓 𝐼𝑠𝑒𝑑)1βˆ’1

) π‘₯ (π‘‡π‘šπ‘ )

π‘‡π‘šπ‘  =

Dari anailsis koordinasi rele tipikal 2, setelan rele disimpulkan pada Tabel 4.2

Tabel 4.2 Setelan Koordinasi Rele Tipikal 2

4.5.3 Evaluasi Koordinasi Rele dan Rekomendasi Tipikal 3

Rele arus lebih yang beroperasi pada tipikal 3 adalah Rele B 1-6, Rele 39 pada sisi sekunder transformator No. 3 LVR 182 MVA dan Rele 32 pada sisi primernya, serta Rele 34 pada sisi primer transformator No. 3 MTR 230 MVA.

Berikut adalah analisis evaluasi koordinasi rele pada tipikal 1.

ο‚· Rele B 1-6

Manufakture : ALSTOM Model : P120

Curve : Very Inverse Rasio CT : 1000/5

FLA : 365.5 A

Setelan Arus

Time Multiple Setting (TMS)

𝑑 = ( 13.5

Manufakture : ALSTOM Model : P120

= 3820.8 A Iset(sek) = Iset(prim) π‘₯ π‘…π‘Ž!π‘–π‘œ 𝐢𝑇1

= 3820.8 π‘₯ 50005

= 3.8208 𝐴

Time Multiple Setting (TMS) t = 0.4 + 0.1 = 0.5 detik

Manufakture : ALSTOM Model : P120

Curve : Very Inverse Type Rasio CT : 5000/5

FLA : 3184 A

Setelan Arus

Time Multiple Setting (TMS) t = 0.4 + 0.5 = 0.9 detik

Manufakture : ALSTOM Model : P120

Curve : Very Inverse Rasio CT : 600/1

FLA : 461.9 A

Setelan Arus Time Multiple Setting (TMS) t = 0.4 + 0.9 = 1.3 detik

Dari anailsis koordinasi rele tipikal 3, setelan rele disimpulkan pada Tabel 4.3

Tabel 4.3 Setelan Koordinasi Rele Tipikal 3

4.6 Optimasi Koodinasi Rele

4.6.1 Optimasi Koordinasi Rele Tipikal 1

Dalam menetukan nilai optimasi koordinasi rele tipikal 1, digunakan nilai Iset dan TMS sebagai referensi variabel inputan dalam Artificial Bee Colony.

Adapun datanya ditunjukkan pada Tabel 4.4

Tabel 4.4 Variabel Iset dan TMS Tipikal 1

Dari tabel di atas TMS akan diinput ke dalam sistem ABC dengan bantuan software MATLAB dan hasilnya diperlihatkan pada Gambar 4.11

Gambar 4.11 Inputan TMS Sistem Optimasi Tipikal 1

Setelah semua nilai diinput ke dalam sistem, maka sistem akan membuat keputusan nilai TMS yang paling optimum yang ditunjukkan pada Gambar 4.12 berikut.

Gambar 4.12 Nilai optimum TMS rele tipikal 1

Berikut adalah hasil simulasi sitem optimasi menggunakan Artificial Bee Colony dengan menggunakan software MATLAB disimpulkan pada Tabel 4.5

Tabel 4.5 Data Hasil Optimasi Koordinasi Rele Tipikal 1

RELAY

Setelan

Rekomendasi Optimasi ABC TMS Waktu(s) TMS Waktu(s) Rele 7 0.147 1.3 0.1356 1.1900

Rele 1 0.15 0.9 0.1417 0.7900

Rele 36 0.09 0.5 0.0700 0.3900

Rele A 0.177 0.1 0.1767 0.1

Selanjutnya hasil optimasi artificial bee colony akan dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menggunakan metode fuzzy logic. Adapun hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4.6

Tabel 4.6 Perbandingan Hasil Optimasi ABC dan Optimasi Fuzzy pada Rele Tipikal 1

RELAY

Setelan

Rekomendasi Optimasi ABC Optimasi Fuzzy TMS Waktu(s) TMS Waktu(s) TMS Waktu(s) Rele 7 0.147 1.3 0.1356 1.1900 0.0162 0.143 Rele 1 0.15 0.9 0.1417 0.7900 0.1481 0.747 Rele 36 0.09 0.5 0.0700 0.3900 0.0924 0.515

Rele A 0.177 0.1 0.1767 0.1 0.2526 0.143

Dari tabel 4.6 dapat dilihat bahwa nilai optimasi ABC baik nilai TMS maupun setelan waktu lebih cepat dibandingkan nilai setelan rekomendasi dan optimasi Fuzzy. Pada rele 7 dan rele A nilai setelan waktu rele tersebut relatif sama persis satu sama lain hasil ini tidak memenuhi standard koordinasi rele yang baik.

4.6.2 Optimasi Koordinasi Rele Tipikal 2

Dalam menetukan nilai optimasi koordinasi rele tipikal 2, digunakan nilai Iset dan TMS sebagai referensi variabel inputan dalam Artificial Bee Colony.

Adapun datanya ditunjukkan pada Tabel 4.7

Tabel 4.7 Variabel Iset dan TMS Tipikal 2

Dari table 4.7 setelan arus dan TMS akan diinput ke dalam sistem ABC dengan bantuan software MATLAB dan hasilnya diperlihatkan pada Gambar 4.13

Gambar 4.13 Inputan TMS sistem Optimasi Tipikal 2

Setelah semua nilai diinput ke dalam sistem, maka sistem akan membuat keputusan nilai TMS yang paling optimum yang ditunjukkan pada Gambar 4.14

Gambar 4.14 Nilai optimum TMS rele tipikal 2

Berikut adalah hasil simulasi sitem optimasi menggunakan Artificial Bee Colony dengan menggunakan software MATLAB disimpulkan pada Tabel 4.8

Tabel 4.8 Data Hasil Optimasi Koordinasi Rele Tipikal 2

RELAY

Setelan

Rekomendasi Optimasi ABC TMS Waktu (s) TMS Waktu (s) Rele 6 0.356 1.1 0.3073 0.9500 Rele 55 0.344 0.7 0.2656 0.5400 Rele 71 0146 0.3 0.1198 0.2430

Selanjutnya hasil optimasi artificial bee colony akan dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menggunakan metode fuzzy logic. Adapun hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4.9

Tabel 4.9 Perbandingan Hasil Optimasi ABC dan Optimasi Fuzzy pada Rele Tipikal 2

RELAY

Setelan

Rekomendasi Optimasi ABC Optimasi Fuzzy TMS Waktu (s) TMS Waktu (s) TMS Waktu (s) Rele 6 0.356 1.1 0.3073 0.9500 0.3169 0.98 Rele 55 0.344 0.7 0.2656 0.5400 0.3837 0.78

Rele 71 0146 0.3 0.1198 0.2430 0.2633 0.534

Dari tabel 4.10 dapat dilihat bahwa nilai optimasi ABC baik nilai TMS maupun setelan waktu lebih cepat dibandingkan nilai setelan rekomendasi dan optimasi Fuzzy. Pada rele 71 setelan waktu hasil optimasi Fuzzy lebih lambat 0.234s dibandingkan setelan rekomendasi dan lebih lambat 0.291s dibadingkan setelan waktu optimasi ABC.

4.6.3 Optimasi Koordinasi Rele Tipikal 3

Dalam menetukan nilai optimasi koordinasi rele tipikal 3, digunakan nilai Iset dan TMS sebagai referensi variabel inputan dalam Artifial Bee Colony. Adapun datanya ditunjukkan pada Tabel 4.10

Tabel 4.10 Variabel Iset dan TMS Tipikal 3

Dari tabel di atas setelan arus dan TMS akan diinput ke dalam sistem ABC dengan bantuan software MATLAB dan hasilmya diperlihatkan pada Gambar 4.15

Gambar 4.15 Inputan TMS sistem Optimasi Tipikal 2

Setelah semua nilai diinput ke dalam sistem, maka sistem akan membuat keputusan nilai TMS yang paling optimum yang ditunjukkan pada Gambar 4.16

Gambar 4.16 Nilai optimum TMS rele tipikal 3

Berikut adalah hasil simulasi sitem optimasi menggunakan Artificial Bee Colony dengan menggunakan software MATLAB disimpulkan pada Tabel 4.11

Tabel 4.11 Data Hasil Optimasi Koordinasi Rele Tipikal 3

RELAY

Setelan

Rekomendasi Optimasi ABC TMS Waktu(s) TMS Waktu(s) Rele 34 0.147 1.3 0.1297 1.1900 Rele 32 0.134 0.9 0.1132 0.7600 Rele 39 0.075 0.5 0.0552 0.3700

Rele B 0.189 0.1 0.0120 0.1

Selanjutnya hasil optimasi artificial bee colony akan dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menggunakan metode fuzzy logic. Adapun hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4.12

Tabel 4.12 Perbandingan Hasil Optimasi ABC dan Optimasi Fuzzy pada Rele Tipikal 3

RELAY

Setelan

Rekomendasi Optimasi ABC Optimasi Fuzzy TMS Waktu(s) TMS Waktu(s) TMS Waktu(s) Rele 34 0.147 1.3 0.1297 1.1900 0.0812 0.718 Rele 32 0.134 0.9 0.1132 0.7600 0.1323 0.888 Rele 39 0.075 0.5 0.0552 0.3700 0.0886 0.595

Rele B 0.189 0.1 0.0120 0.1 0.4809 0.258

Dari tabel 4.12 dapat dilihat bahwa nilai optimasi ABC baik nilai TMS maupun setelan waktu lebih cepat dibandingkan nilai setelan rekomendasi dan optimasi Fuzzy. Pada rele B setelan waktu hasil optimasi Fuzzy lebih lambat 0.158s dibandingkan setelan rekomendasi setelan waktu optimasi ABC sedangkan pada rele 32 optimasi Fuzzy lebih lambat 0.12s dibantingkan optimasi ABC dan lebih cepat 0.188s dibandingkan setelan rekomendasi dan pada rele 34 setelan waktu optimasi Fuzzy lebih cepat dibandingkan setelan waktu optimasi ABC dan seletan waktu rekomendasi.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil pembahasan dan penelitian yang dilakukan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Dengan menggunakan metode optimasi Artificial Bee Colony dalam mengkoordinasikan sistem proteksi arus lebih di PT. INALUM (persero) secara keseluruhan lebih baik daripada menggunakan metode Fuzzy Logic.

2. Optimasi koordinasi rele dengan menggunakn metode Artificial Bee Colony untuk simulasi tipikal 1 membutuhkan waktu operasi 2.47 detik, untuk tipikal 2 membutuhkan waktu operasi 1.73 detik, dan tipikal 3 membutuhkan waktu operasi 2.24 detik sedangkan dengan menggunakan metode Fuzzy Logic pada tipikal 1 membutuhkan waktu operasi 1.548 detik, untuk tipikal 2 membutuhkan waktu operasi 2.294 detik dan untuk tipikal 3 membutuhkan waktu operasi 2.459 detik.

3. Pada simulasi koordinasi tipikal 1 rele A, rele 36, rele 1 menggunakan Artificial Bee Colony lebih optimum sedangkan pada rele 7 lebih lambat 0.03 detik sedangkan pada tipikal 2 rele 71 dan rele 55 lebih optimum setelah menggunakan metode Artificial Bee Colony namun pada rele 6 lebih lambat 0.01 detik. Pada simulasi koordinasi tipikal 3 rele B, rele 39, rele 32 menggunakan Artificial Bee Colony lebih optimum sedangkan pada rele 34 lebih lambar 0.03 detik.

4. Nilai TMS dan waktu yang dihasilkan dari optimasi artificial bee colony sangat mendekati nilai setelan rekomendasi.

5.2 Saran

Adapun saran dari penulis sebagai pngembangan dari skrupsi ini adalah sebagai berikut:

1. Menggunakan metode algoritma lain untuk membandingkan hasil koordinasi rele yang lebih optimum.

2. Menggunakan metode optimasi abc untuk koordinasi rele proteksi lainya.

DAFTAR PUSTAKA

1. IEC. 2016. β€œShort-circuit Current in Three Phase a.c. Systems”. IEC Standard 60909-0. IEC.

2. Shiddiq, Chairul Makhfuz Ash, 2018, β€œ Optimasi Koordiansi Rele Arus Lebih Menggunakan Fuzzy Logic”, USU, Medan.

3. Uthitsunthorn, D., Pao-La-Or, P., and Kulworawanichpong, T., β€œOptimal Overcurrent Rele Coordination Using Artificial Bees Colony Algorith,”, The 8th Electrical Engineering/ Electronics Computer Telecomunications and Information Technology (ECTI), 2011.

4. Gonen, Turan, β€œModern Power System Analysis”, CRC Press, English,2013 5. IEC. 1967.” Electrical Relays Standart”. IEC Standard 255-4. IEC

6. IEC. 1989. β€œOvercurrent Protection for Phase and Earth Faults”. IEC Standard 60255-3. IEC.

7. Gonen Turan.” Modern Power Sistem Analysis. Boca Raton β€œCRC Press.

2013.

8. IEC. 1974. β€œOvercurrent Protection for Phase and Earth Faults”. IEC Standard 60255. IEC.

9. Alstom.2011. Network Protection and Automation Guide. Alstom Grid.

SOURCE CODE ABC TIPIKAL 1

bestcost = zeros(itermax,1);

tempEBX = zeros(itermax,npop);

tempEBY = zeros(itermax,npop);

tempOBX = zeros(itermax,npop);

tempOBY = zeros(itermax,npop);

tempSBX = zeros(itermax,npop);

tempSBY = zeros(itermax,npop);

scout = [];

t2=0.39;

contour(X,Y,TMS_ReleA,TMS_Rele36,TMS_Rele1,TMS_Rele7); hold on;

scatter(3,0.5,45,'ok','filled');

scatter(tempEBX(iter,:),tempEBY(iter,:),'xb');

if (iter > 1)

for j = 1:npop

scatter(tempOBX(iter,:),tempOBY(iter,:),'xr');

for i = 1:npop

scatter(tempSBX(iter,scout),tempSBY(iter,scout),'ok','filled');

for i = 1:length(scout)

end

name = ['Posisi Relay TMS Terendah=' num2str(npop)];

video = VideoWriter(name,'MPEG-4');

video.FrameRate = 24;

open(video)

writeVideo(video,frame);

close(video) Terkecil | Population = ' num2str(npop) ' | Prob Pergerakan Lebah

= ' num2str(bestcost(iter))] );

name = ['Pergerkan Lebah=' num2str(npop)];

video = VideoWriter(name,'MPEG-4');

video.FrameRate = 24;

open(video)

writeVideo(video,framec);

close(video)

Y =[TMS_Rele36 TMS_Rele7 TMS_Rele1 TMS_ReleA];

plot(X,Y,'-b*','linewidth',2,'markeredgecolor','g')

SOURCE CODE ABC TIPIKAL 2

function [bestbee, mincost] = ABC(problem, nvar, bound, param)

bestcost = zeros(itermax,1);

tempEBX = zeros(itermax,npop);

tempEBY = zeros(itermax,npop);

tempOBX = zeros(itermax,npop);

tempOBY = zeros(itermax,npop);

tempSBX = zeros(itermax,npop);

tempSBY = zeros(itermax,npop);

scout = [];

Iset_Sebelum_Rele55 = 2076;

contour(X,Y,TMS_Rele71,TMS_Rele55,TMS_Rele36); hold on;

scatter(3,0.5,45,'ok','filled');

scatter(tempEBX(iter,:),tempEBY(iter,:),'xb');

if (iter > 1)

for j = 1:npop

scatter(tempOBX(iter,:),tempOBY(iter,:),'xr');

for i = 1:npop

scatter(tempSBX(iter,scout),tempSBY(iter,scout),'ok','filled');

for i = 1:length(scout)

name = ['Posisi Relay TMS Tipikal II Terendah=' num2str(npop)];

video = VideoWriter(name,'MPEG-4');

video.FrameRate = 24;

open(video)

writeVideo(video,frame);

close(video) Terkecil Pada Daerah Tipikal II | Population = ' num2str(npop) ' | Prob Pergerakan Lebah = ' num2str(bestcost(iter))] );

xlabel('Iterasi');

name = ['Pergerkan Lebah=' num2str(npop)];

video = VideoWriter(name,'MPEG-4');

video.FrameRate = 24;

open(video)

writeVideo(video,framec);

close(video)

title ('Urutan Trip Relay Berdasarkan Nilai TMS Relay Tipikal II') xlabel('Waktu(s)');

ylabel('TMS Relay');

grid on;

end

SOURCE CODE ABC TIPIKAL 3

function [bestbee, mincost] = ABC(problem, nvar, bound, param)

bestcost = zeros(itermax,1);

tempEBX = zeros(itermax,npop);

tempEBY = zeros(itermax,npop);

tempOBX = zeros(itermax,npop);

tempOBY = zeros(itermax,npop);

tempSBX = zeros(itermax,npop);

tempSBY = zeros(itermax,npop);

scout = [];

Iset_Sebelum_Rele39 = 3820;

contour(X,Y,TMS_ReleB,TMS_Rele39,TMS_Rele32,TMS_Rele34); hold on;

scatter(tempEBX(iter,:),tempEBY(iter,:),'xb');

if (iter > 1)

if (bee(i).cost >= 0)

scatter(tempOBX(iter,:),tempOBY(iter,:),'xr');

for i = 1:npop

scatter(tempSBX(iter,scout),tempSBY(iter,scout),'ok','filled');

for i = 1:length(scout)

line([tempOBX(iter,scout(i));tempSBX(iter,scout(i))],[tempOBY(iter ,scout(i));tempSBY(iter,scout(i))],'Color','k', 'LineWidth', 2);

end

scout = [];

name = ['Posisi Relay TMS Terendah=' num2str(npop)];

video = VideoWriter(name,'MPEG-4');

video.FrameRate = 24;

open(video)

writeVideo(video,frame);

close(video) Terkecil | Population = ' num2str(npop) ' | Prob Pergerakan Lebah

= ' num2str(bestcost(iter))] );

name = ['Pergerkan Lebah=' num2str(npop)];

video = VideoWriter(name,'MPEG-4');

video.FrameRate = 24;

open(video)

writeVideo(video,framec);

close(video)

Y =[TMS_ReleB TMS_Rele39 TMS_Rele32 TMS_Rele34];

plot(X,Y,'-b*','linewidth',2,'markeredgecolor','g') text(t1,TMS_ReleB,'TMS Rele36')

text(t2,TMS_Rele39,'TMS Rele7') text(t3,TMS_Rele32,'TMS Rele1') text(t4,TMS_Rele34,'TMS ReleA') title (' Relay Tipikal 3')

xlabel('Waktu(s)');

ylabel('TMS Relay');

grid on;

end

LAMPIRAN B. 1

Gambar 11. Gangguan pada Sisi Sekunder Trafo LVR Tipikal 1

Gambar 12. Sequence of Operating Tipikal 1 Gangguan di Bus 19 LAMPIRAN B. 2

Gambar 13. Gangguan pada Sisi Beban Lump 7 Tipikal 2

Gambar 14. Sequence of Operating Tipikal 2 Gangguan pada Lump 7 LAMPIRAN B. 3

Gambar 15. Gangguan pada Sisi Sekunder Trafo LVR Tipikal 3

Gambar 16.Sequence of Operating Tipikal 3 Gangguan di Bus 42 LAMPIRAN C. 1

Gambar 17.Gangguan pada Sisi Sekunder Trafo LVR Tipikal 1

Gambar 18. Sequence of Operating Tipikal 1 Gangguan di Bus 19 LAMPIRAN C. 2

Gambar 19. Gangguan pada Sisi Beban Lump 7 Tipikal 2

Gambar 20. Sequence of Operating Tipikal 2 Gangguan pada Lump 7 LAMPIRAN C. 3

Gambar 21. Gangguan pada Sisi Sekunder Trafo LVR Tipikal 3

Gambar 22. Sequence of Operating Tipikal 3 Gangguan di Bus 42

Dokumen terkait