• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSEDUR KONSELING EGO STATE DALAM MENGELOLA KEMARAHAN

PROSEDUR KONSELING EGO STATE DALAM MENGELOLA KEMARAHAN

A. Rasional

Emosi adalah bagian terpenting dari manusia serta merupakan aspek perkembangan yang terdapat pada setiap manusia. Karena emosi, individu mampu untuk merasakan keadaan dirinya. Secara umum terdapat dua macam emosi pada manusia yaitu emosi positif dan emosi negatif (Faupel, Herrick & Sharp, 2011: 3). Senang dan bahagia merupakan salah satu bentuk dari emosi positif, sedangkan

Gian Sugiana Sugara, 2014

Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu yang dijelaskan Bhave dan Saini (2009: 3) yang mengatakan bahwa manusia perlu mempelajari bagaimana cara mereka mengendalikan emosinya agar dapat beradaptasi dengan baik.

Marah merupakan bagian dari emosi yang mengandung muatan emosi yang negatif. Walaupun termasuk sebagai emosi negatif, akan tetapi kemunculan marah tidak selalu menjadi tanda dari adanya ketidakstabilan emosi, melainkan merupakan emosi alami yang dialami oleh setiap orang baik itu anak-anak, remaja, dan orang dewasa (Golden, 2003: 15). Hal ini sesuai dengan pendapat Perritano (2011:23) yang menjelaskan bahwa perubahan kondisi mental kita yang terjadi pada diri kita akan menimbulkan emosi tertentu. Marah memiliki dua sisi yakni sisi positif dan negatif. Memiliki makna positif jika marah diekspresikan dengan cara yang pantas sehingga dapat membantu individu dalam mengekspresikan berbagai perasaan dengan cara yang dapat diterima lingkungan, membantu menyelesaikan masalah, dan juga mampu memotivasi dalam mencapai tujuan yang positif (Bhave & Saini, 2009: 11). Memiliki makna negatif, jika marah diekspresikan dalam cara yang tidak pantas seperti merusak benda, bertindak agresif baik verbal maupun fisik yang dapat mengganggu hubungan interpersonal.

Terdapat berbagai macam hal yang dapat menyebabkan munculnya rasa kemarahan pada seseorang. Hal yang paling sering dapat menyebabkan munculnya rasa kemarahan adalah ketika seseorang menghadapi suatu situasi yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Dalam hal ini kemarahan muncul sebagai reaksi dari perasaan frustrasi ataupun kecewa ketika memiliki keinginan yang tidak terpenuhi (Bhave & Saini, 2009: 5). Akibatnya, seringkali

Gian Sugiana Sugara, 2014

Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu mengalami kemarahan perlu mendapatkan layanan konseling agar mampu mengendalikan dirinya. Jika kemarahan tidak terkendali, maka akan mengakibatkan perilaku agresif bahkan dapat mengalami depresi. Mengelola kemarahan (anger management) merupakan hal yang penting dilakukan dalam kehidupan manusia. Karena mengelola kemarahan, manusia dituntut untuk mampu mengekspresikan kemarahan yang mereka miliki dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan, dan tidak menyakiti diri sendiri ataupun orang lain (Burt, 2012). Remaja yang tidak mampu mengelola kemarahan cenderung mengekspresikan emosi mereka dengan menangis atau berteriak. Dengan sedikit atau tanpa provokasi sama sekali, remaja dapat menjadi sangat marah kepada orangtuanya atau memproyeksikan perasaan-perasaan mereka yang tidak menyenangkan kepada orang lain (Santrock, 2007). Santrock memaparkan bahwa banyak remaja yang belum mampu mengelola emosi secara efektif. Sebagai akibatnya, remaja rentan mengalami depresi dan kemarahan yang akan memicu berbagai masalah, seperti penyalahgunaan obat, kenakalan atau gangguan makan. Kegagalan dalam mengelola kemarahan ternyata berdampak pada aspek kehidupan siswa. Penelitian Law, Wong, & Song pada tahun 2004 menyatakan individu yang tidak mampu mengelola emosi akan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan seseorang (Hudgson & Wertheim, 2007). Penelitian Mustamsikin (2011) menemukan bahwa kemampuan pengelolaan emosi memberi pengaruh yang signifikan terhadap perilaku agresif siswa. Caruso & Salovey (2005) menyebutkan bahwa ketidakmampuan seseorang dalam mengelola emosi akan berdampak pada berbagai perilaku yang maladaptif, seperti terjerumus kepada narkotika dan minuman keras, bersikap agresif, serta prokrastinasi

Gian Sugiana Sugara, 2014

Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu memiliki profil kemarahan pada kategori rendah. Kecenderungan kemarahan yang dialami adalah dominan yang pertama kemarahan terkelola, kemudian kemarahan reaktif dan terakhir kemarahan instrumental. Data di atas, menunjukan bahwa diperlukan sebuah penanganan untuk membantu siswa dalam mengelola kemarahan agar siswa memiliki kemampuan mengelola kemarahan yang sehat.

Untuk itu, dikembangkan intervensi pengelolaan kemarahan melalui penggunaan konseling ego state. Intervensi yang dikembangkan dalam setting individual. Emmerson (2010) menjelaskan bahwa konseling ego state dapat digunakan untuk meningkatkan pengelolaan kemarahan. Dalam pandangan ego state, konseli yang mengalamai kemarahan karena konseli belum mampu menerima perasaan marah yang terjadi pada dirinya. Emmerson (2010: 136) berpendapat bahwa konseli yang tidak mampu mengelola rasa marah karena tidak dilepaskan rasa marah tersebut atau bingung tentang bagaimana cara melepaskan marah secara tepat. Menekan rasa marah ini akan menyebabkan konseli mengalami distress secara internal dan ketika mengekspresikan secara tidak tepat akan menyebabkan masalah sosial. Ketidakmampuan mengelola ini dapat menyebabkan kecemasan yang berujung pada depresi (Emmerson, 2010: 137). Untuk itu, konseling ego state dipandang tepat digunakan sebagai intervensi bagi konseli dengan masalah pengelolaan rasa marah.

B. Tujuan Intervensi

Secara umum tujuan intervensi expressive writing adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengatur respon terhadap situasi

Gian Sugiana Sugara, 2014

Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 3. Mengalokasikan dimana adanya kesakitan, trauma, kemarahan atau frustrasi dalam

ego state dan memfasilitasi ekspresi, melepaskan emosi negatif, memberikan rasa nyaman serta memberdayakan diri

4. Memfasilitasi fungsi komunikasi di antara ego state yang negatif sehingga dapat berubah menjadi positif

5. Menolong klien mengenal ego state mereka sehingga klien dapat mengelola kemarahan

6. Mengatasi konflik diri atau konflik ego state yang menyebabkan kemarahan

C. Asumsi Dasar

Asumsi pelaksanaan intervensi ini adalah :

1. Kemarahan adalah emosi negatif yang merupakan hasil dari pengalaman subjektif seseorang terhadap orang lain atau terhadap suatu situasi yang dipersepsikan sebagai keadaan yang tidak menyenangkan (Novaco, 2003).

2. Siswa yang tidak mampu mengelola kemarahan membutuhkan layanan konseling untuk mengelola kemarahan agar mampu mengendalikan dirinya (DiGiusefe dan Tafrate, 2007)

3. Konseling ego state dapat digunakan untuk mengelola kemarahan siswa (Emmerson, 2010)

D. Sasaran Intervensi

Intervensi dilakukan terhadap 6 orang siswa dimana 4 orang siswa berada dalam kategori tinggi terdiri dari 2 orang siswa laki-laki dan 2 orang siswa perempuan. Selain itu, 2 orang siswa dalam kategori sedang yang terdiri dari 1 orang laki dan 1 orang perempuan. Adapun keenam subjek intervensi adalah :

Gian Sugiana Sugara, 2014

Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 3. Vira Yuniar memiliki skor kemarahan pada kategori tinggi. Bentuk ekspresi

kemarahan yang dominan adalah kemarahan reaktif.

4. Yohanes memiliki skor kemarahan pada kategori tinggi. Bentuk ekspresi kemarahan yang dominan adalah kemarahan reaktif.

5. Jonathan memiliki skor pada kategori sedang. Bentuk ekspresi kemarahan yang dominan adalah kemarahan yang terkelola.

6. Rossy memiliki skor pada kategori sedang. Bentuk ekspresi kemarahan yang dominan adalah kemarahan yang terkelola.

E. Prosedur Pelaksanaan

Prosedur konseling ego state dalam mengelola kemarahan dilakukan dengan langkah- langkah sebagai berikut :

1. Joining and rapport-building atau membangun hubungan yang positif dengan konseli agar konseli terlibat dalam sesi intervensi. Konselor menjelaskan maksud dan tujuan dari konseling yang akan diikuti konseli.

2. Accesing Ego State yakni tahapan dimana konselor mengakses Ego State yang mengalami kemarahan dan memberi nama ego state tersebut

3. Bridging to orign problem yakni tahapan selanjutnya melakukan regresi untuk mengetahui kejadian pertama kali munculnya ego state kemarahan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui akar masalah yang terjadi pada diri konseli.

4. Expression Phase adalah melakukan proses ekspresi terhadap ego state yang negatif (introject) yang memunculkan pengalaman kemarahan. Setelah akar masalah yang menjadi pengalaman kemarahan bagi konseli diketahui, langkah selanjutnya adalah melakukan proses ekspresi terhadap ego state negatif (introject). Dalam tahapan ini, konseli harus mengekspresikan dan mengungkapkan permasalahan atau emosi yang

Gian Sugiana Sugara, 2014

Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu pelepasan rasa kesal. Konselor harus membantu ego state yang terluka untuk melakukan pelepasan dari ego state negatif yang masih melekat.

6. Relief Phase adalah tahapan melakukan proses relief atau penenangan. Setelah melakukan proses pelepasan ego state negatif, langkah selanjutnya adalah melakukan proses penenangan (relief) yaitu dengan memanggil ego state yang lebih dewasa (mature) dan mau mengasuh (nurturing) ego state yang terluka tadi. Bila ego state yang dewasa dan mau mengasuh tidak muncul sama sekali, maka konselor dapat memanggil ego state introject yang lebih dewasa dan mau mengasuh ego state

yang terluka tersebut. Caranya adalah konselor dapat meminta konseli untuk memanggil bagian dari konseli yang lebih dewasa dan matang kemudian beri nama

ego state tersebut.

F. Sesi Intervensi

Pelaksanaan intervensi ini dilakukan selama empat sesi. Penentuan jumlah sesi ini merujuk pada prinsip konseling ego state yang singkat serta acuan dari pendapat Gordon Emmerson. Setiap sesi dilakukan selama 50 menit. Penentuan jadwal intervensi berdasarkan kesepakatan antara konselor dan konseli. Adapun gambaran mengenai sesi konseling ego state dalam mengelola kemarahan adalah sebagai berikut

Sesi ke-1

Sesi pertama ini merupakan pembuka dan pengenalan dari konseling ego state. Tujuan dari sesi ini adalah membangun hubungan yang positif dengan konseli, serta mengenalkan intervensi kepada konseli dan kemampuan apa yang akan konseli peroleh. Konselor melakukan wawancara kepada konseli untuk

Gian Sugiana Sugara, 2014

Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

sesi, klien diminta untuk menuliskan perasaannya dalam lembar “Homework”

Sesi ke-2

Sesi kedua bertujuan untuk mengubah perasaan marah menjadi lebih tenang dan terkelola. Pada sesi ini konselor melakukan terlebih dahulu evaluasi

terhadap perasaan marah selama seminggu dan berdiskusi mengenai “Homework”

yang dikerjakan oleh konseli. Kemudian pada sesi ini, konselor mengakses ego state marah kemudian melakukan regresi untuk mengetahui pertama kali munculnya ego state marah dan melakukan proses ekspresi dan pelepasan terhadap emosi negatif yang dirasakan. Setelah itu, dilakukan proses penanganan dengan mencari ego state yang lebih dewasa dan dapat membantu ego state marah menjadi lebih tenang. Target pada sesi ini adalah siswa mampu mengubah perasaan marah menjadi lebih tenang dan terkelola.

Sesi ke-3

Sesi ketiga dilakukan dengan melakukan evaluasi terhadap perasaan marah

yang dirasakan dan „homework‟ yang dikerjakan konseli dalam satu minggu. Sesi ketiga bertujuan untuk menghentikan perilaku agresif dan melepaskan kemarahan secara tepat. Pada sesi ini, konselor melakukan proses konseling ego state menggunakan teknik kursi kosong (empty chair). Pertama konselor mengakses ego state asertif yang pernah dialami oleh konseli di masa lalu setelah itu memberi ego state tersebut dan menyediakan kursi kosong yang mewakili ego state asertif. Setelah itu melakukan negosiai dengan ego state asertif bahwa ego state asertif akan muncul dan membantu konseli ketika konseli memiliki perasaan negatif

Gian Sugiana Sugara, 2014

Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu berkomunikasi sehingga menemukan kesepakatan bahwa ego state marah memberikan izin kepada ego asertif untuk membantu ego state marah ketika mengalami masalah. Selanjutnya, konselor membantu konseli untuk mendatangkan ego state bijak yang bisa bekerjasama dengan ego state asertif dalam membantu ego state marah. Target pada sesi ini adalah konseli memiliki kemampuan untuk menghentikan perilaku agresif dan melepaskan kemarahan secara tepat.

Sesi ke-4

Sesi keempat merupakan sesi terakhir. Sesi ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauhamana perubahan yang dirasakan. Dalam sesi ini, konselor dengan konseli terlibat aktif untuk diskusi mengenai proses konseling yang telah

dilakukan dan „homework‟ yang telah dikerjakan.

G. Indikator Keberhasilan

Evaluasi keberhasilan intervensi untuk mengelola kemarahan siswa dilakukan pada setiap sesi intervensi. Konseli yang berhasil mengikuti kegiatan intervensi adalah konseli yang mampu mengubah ego state yang negatif menjadi ego state yang positif dan memberdayakan. Selain itu, konseli juga mengetahui fungsi ego state dalam hidupnya dan mampu memanfaatkannya dalam memberdayakan dirinya.

Lembar evaluasi diberikan setelah siswa mengikuti setiap sesi konseling. Lembar evaluasi ini yang digunakan dalam mengukur sejauh mana keefektifan proses konseling. Salah satu sumber evaluasi ini adalah analisis terhadap

Gian Sugiana Sugara, 2014

Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Untuk mengetahui pengaruh penggunaan konseling ego state dalam mengelola kemarahan siswa, maka setiap sesi konseling dilakukan post-test yang bertujuan untuk melihat perubahan konseli dari setiap sesi konseling yang telah dijalani. Adapun instrumen atau alat ukur yang digunakannya adalah dengan menggunakan instrumen kemarahan yang dikembangkan oleh peneliti. Evaluasi keberhasilan secara keseluruhan dilihat dengan menurunnya profil kemarahan yang dialami oleh partisipan penelitian yang dapat dilihat dari grafik penelitian.

Sesi 1

Tujuan Konseli terlibat aktif dalam sesi konseling ego state dan mengetahui peranan ego state dalam mengelola kemarahan

Waktu 60 Menit

Alat / Bahan Papan tulis, Spidol, Kertas Metaplan Deskripsi Kegiatan

Gian Sugiana Sugara, 2014

Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu d. Konselor menjelaskan tentang asas kerahasiaan dalam konseling

kelompok

e. Konselor menjelaskan ulang tentang proses pelaksanaan kegiatan. Akhir dari tahapan ini adalah kontrak kesepakatan konseling yang diadakan selama satu minggu sekali

Tahapan Mengakses Ego State (Accesing Ego State)

a. Konselor meminta konseli untuk mengingat kembali situasi yang membuat dia marah sambil menutup mata

b. Konselor menanyakan kepada konseli apa yang dirasakan ketika perasaan marah muncul

c. Konselor mendengarkan apa yang dialami oleh konseli mengenai kemarahan yang sering muncul dan dirasakannya

d. Konselor menanyakan kepada konseli ketika mengingat situasi yang membuat dia marah apa yang dirasakan dan apakah berpengaruh pada tubuh dan dibagian tubuh mana dirasakannya

e. Konselor menjelaskan bahwa menjelaskan bagian diri (ego state) yang sering muncul ketika mengingat situasi yang memprovokasi kemarahan

f. Konselor meminta konseli untuk memberi nama ego state yang marah Tahapan Negosiasi Ego State (Negotiation Phase)

a. Konselor menuliskan nama ego state dalam sebuah kertas dan menempelnya di salah satu kursi yang kosong

b. Konselor meminta konseli bergerak ke arah kursi kosong dan menjadi ego state yang marah ketika duduk di kursi yang kosong

c. Konselor menanyakan kepada konseli ‟apa fungsi dan peranan ego state marah‟

untuk konseli dan reaksi apa yang biasa dilakukan

d. Konselor meminta konseli untuk kembali duduk di kursi yang sebelumnya dan meminta untuk membayangkan situasi atau pengalaman yang membuat dia tenang

e. Konselor menanyakan dibagian tubuh mana rasa tenang itu muncul dan menjelaskan bahwa ini adalah ego state yang positif

f. Konselor menulis nama ego state ‟si tenang‟ dalam kertas dan

g. menempelnya di kursi yang kosong

h. Konselor meminta konseli bergerak ke arah kursi kosong dan menjadi ego state yang tenang ketika duduk di kursi yang kosong

i. Konselor menanyakan kepada konseli ‟apa fungsi dan peranan ego state tenang‟ untuk konseli dan reaksi apa yang biasa dilakukan

Gian Sugiana Sugara, 2014

Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Tahapan Penutup

a. Konselor berdiskusi dengan konseli tentang pengalaman yang dialami oleh konseli ketika mengakses ego state yang positif dan negatif

b. Konselor menjelaskan bahwa Ego State adalah bagian diri kita yang berpengaruh dalam kehidupan kita

c. Konselor meminta konseli untuk mengisi lembar homework ‟Anger Meter‟

selama seminggu dan dibawa pada sesi selanjutnya

Evaluasi Sesi ini berhasil jika konseli terlibat aktif dalam sesi konseling dan memiliki pemahaman mengenai fungsi dan peranan ego state dalam mengelola diri

Gian Sugiana Sugara, 2014

Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Tujuan Konseli mampu mengubah perasaan marah menjadi

lebih tenang dan terkelola

Waktu 60 Menit

Alat / Bahan Papan tulis, Spidol, Kertas Metaplan Deskripsi Kegiatan

Tahapan Membangun Hubungan yang positif

a. Konselor membuka pertemuan dengan memberi salam kepada konseli dan menanyakan kabar

b. Konselor melakukan evaluasi terhadap lembar kerja ”Anger Meter” yang diisi

oleh konseli selama seminggu

c. Konselor memotivasi konseli bahwa konseli dapat berubah menjadi lebih baik dengan sesi konseling

Tahapan Mengakses Ego State (Accesing Ego State)

a. Konselor meminta konseli untuk mengingat kembali situasi yang membuat dia marah sambil menutup mata

b. Konselor menanyakan kepada konseli apa yang dirasakan ketika perasaan marah muncul

c. Konselor mendengarkan apa yang dialami oleh konseli mengenai kemarahan yang sering muncul dan dirasakannya

d. Konselor menanyakan kepada konseli ketika mengingat situasi yang membuat dia marah apa yang dirasakan dan apakah berpengaruh pada tubuh dan dibagian tubuh mana dirasakannya

e. Konselor menjelaskan bahwa menjelaskan bagian diri (ego state) yang sering muncul ketika mengingat situasi yang memprovokasi kemarahan

f. Konselor meminta konseli untuk memberi nama ego state yang marah Tahapan Kembali ke Inti Masalah (Bridging to Orign Problem)

a. Konselor meminta konseli untuk menutup mata dan fokus pada bagian tubuh yang dirasakan ketika mengalami marah

b. Konselor memperbesar rasa marah yang dirasakan ditubuh

c. Konselor menanyakan apakah rasa marah yang dialami oleh konseli “Usianya tua atau muda ?”, “Kapan pertama kali munculnya ?”, “Jelaskan kepada saya bagaimana pertama kali muncul ?”, “Siang atau malam?”, “ada siapa saja disana ?”, “apa yang dirasakan ketika itu”

Gian Sugiana Sugara, 2014

Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu b. Konselor membantu konseli mengekspresikan emosi yang terpendam terhadap

ego state introject yang memicu kemarahan

c. Konselor memfasilitasi proses ekspresi ego state introject yang negatif dengan konseli sampai konseli merasa lega

Tahapan Pelepasan (Removal Phase)

a. Konselor meminta konseli untuk membayangkan ego state introject yang negatif untuk menjadi kecil

b. Konselor membantu konseli untuk menghilangkan ego state introject tersebut dengan cara mengusirnya atau meniupnya sampai hilang dari bayangan pikiran konseli

Tahapan Penenangan (Relief Phase)

a. Konselor menanyakan kepada konseli, ego state yang dapat membantu ego state marah agar menjadi lebih positif

b. Konselor meminta konseli untuk membayangkan kembali dalam situasi dimana merasakan ketenangan

c. Konselor memanggil ego state ‟tenang‟ dan melakuka negosiasi agar membantu ego state ‟marah‟

d. Konselor mengganti nama ego state ‟marah‟ menjadi ego state yang berdaya

Tahapan Mengecek perubahan (Future Pacing)

a. Konselor mebimbing konseli untuk membayangkan situasi yang membuat marah dan menanyakan perasaannya ketika dalam kondisi tersebut

b. Konselor meminta konseli untuk mengisi lembar homework ‟Anger Meter‟ dan

dibawa pada sesi selanjutnya

Evaluasi Sesi ini berhasil jika konseli mampu untuk memanggil ego state

‟marah‟ dan melakukan ekspresi, pelepasan emosi negatif terhadap

ego state marah serta menemukan ego state yang lebih dewasa agar

Gian Sugiana Sugara, 2014

Penggunaan konseling ego state untuk mengelola kemarahan (penelitian single subject pada siswa kelas xi smk profita bandung tahun ajaran 2013/2014)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu tepat.

Waktu 60 Menit

Alat / Bahan Papan tulis, Spidol, Kertas Metaplan, Kursi Kosong Deskripsi Kegiatan

Tahapan Membangun Hubungan yang positif

a. Konselor membuka pertemuan dengan memberi salam kepada konseli dan menanyakan kabar

b. Konselor melakukan evaluasi terhadap lembar kerja ”Anger Meter” yang diisi

oleh konseli selama seminggu

c. Konselor memotivasi konseli bahwa konseli dapat berubah menjadi lebih baik dengan sesi konseling

Tahapan Mengakses Ego State (Accesing Ego State) Mengakses Ego State yang berdaya

a. Konselor meminta konseli untuk mengingat kembali situasi yang membuat dia asertif

b. Konselor membimbing konseli untuk menjelaskan situasi ketika konseli

mengalam „Asertif‟ di masa lalu

c. Konselor mendengarkan apa yang dialami oleh konseli mengenai sikap „asertif‟

Dokumen terkait