BAB IV PENYAJIAN DATA
4.3. Deskripsi Hasil Wawancara
4.3.1. Prosedur Pelayanan
Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Untuk menciptakan pelayanan yang baik maka harus dilakukan beberapa prosedur pelayanan agar pelayanan dilakukan dapat sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Prosedur adalah suatu urutan tugas atau pekerjaan yang saling berhubungan satu sama lain dalam rangka pencapaian tujuan dan juga prosedur memuat semua persyaratan-persyaratan untuk mencapai tujuan tersebut.
a. Kejelasan Persyaratan
Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti di Kantor Pertanahan kota Binjai, dalam proses pengurusan sertipikat hak atas tanah maka subjek hak harus mematuhi kriteria yang telah ditetapkan dalam peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang No. 4 tahun 2015 tentang Program Nasional Agraria, seperti keterangan yang disampaikan oleh Bapak Drs. Rasmon Sinamo selaku Kepala Kantor Pertanahan Kota Binjai yang menyatakan:
“Subjek atau peserta PRONA adalah warga Negara Indonesia atau badan hukum, dimana warga yang dimaksud adalah masyarakat golongan ekonomi menengah kebawah yang memenuhi persyaratan sebagai subjek atau peserta PRONA yaitu masyarakat dengan penghasilan yang tidak tetap.”
Jika calon peserta PRONA telah memenuhi kriteria seperti yang telah dikemukakan diatas, maka harus memenuhi beberapa persyaratan administrasi seperti yang dikemukakan oleh Ibu Khoirun Nisak, SH, MH selaku Kasi Pengendalian dan Pemberdayaan yang menyatakan bahwa:
“Ada beberapa persyaratan dan ketentuan administrasi yang harus dilengkapi oleh pemohon peserta PRONA tahun 2015. Apabila pemohon ingin mendaftarkan tanah melalui program PRONA maka harus mematuhi persyaratan yang telah ditetapkan tersebut.”
(Hasil wawancara pada tanggal 10 Februari 2016)
Adapun beberapa persyaratan dan ketentuan administrasi yang dimaksud, antara lain:
1. Surat permohonan.
2. Surat penguasaan fisik bidang tanah bermaterai cukup. 3. Fotokopi kartu tanda penduduk.
4. Fotokopi kartu keluarga.
5. Fotokopi SPPT PBB tahun berjalan.
6. Surat pernyataan kesanggupan membayar BPHTB dan PPh. 7. Fotokopi alas hak tanah atau bukti perolehan tanah.
Jika pemohon sudah melengkapi berkas-berkas sesuai dengan persyaratan dan ketentuan diatas, maka pemohon yang bersangkutan dapat mengajukan permohonan ke Kantor Pertanahan Kota Binjai untuk mendaftarkan tanahnya melalui program Legalisasi Aset PRONA. Apabila telah ditetapkan sebagai peserta, maka pemohon memiliki kewajiban untuk:
1. Menyediakan/menyiapkan Alas hak/alat bukti perolehan/ penguasaan tanah yang akan dijadikan dasar pendaftaran tanah sesuai ketentuan yang berlaku.
2. Menunjukkan letak dan batas-batas tanah yang dimohon (dapat dengan kuasa).
3. Menyerahkan Bukti Setor Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan Bukti Setor Pajak Penghasilan dari Pengalihan Hak Atas Tanah dan Bangunan (PPh) bagi peserta yang terkena ketentuan tersebut.
4. Memasang patok batas tanah sesuai ketentuan yang berlaku.
Selanjutnya para pemohon dapat mengikuti alur ataupun prosedur pendaftaran seperti yang telah ditetapkan oleh Kantor Pertanahan Kota Binjai.
b. Kesederhanaan prosedur pelayanan
Prosedur pelayanan pendaftaran tanah melauli program PRONA pada dasarnya sama dengan proses pendaftaran tanah pada umunya yang didasarkan pada Peraturan Menteri Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 9 tahun 1999 tentang tata cara pemberian dan pembatalan hak atas tanah Negara dan hak pengelolaan. Hal ini disampaikan Ibu Sri Puspita Dewi SH, M.Kn selaku Kasi Hak Tanah Dan Pendaftaran Tanah yang menyatakan:
“Prosedur PRONA sama seperti dengan prosedur pendaftaran tanah lainnya yang telah diatur didalam Peraturan Menteri Agraria no. 9 tahun 1999, didalam peraturan tersebut telah
dijabarkan secara rinci tentang tata cara maupun alur pendaftaran tanah…”
(Hasil wawancara pada tanggal 22 Februari 2016)
Sejalan dengan pernyataan tersebut, bapak Alam Nugraha Sambas S.Sit selaku Kasubsi Pemetaan dan Pengukuran, menyatakan:
“Prosedur pelayanan yang telah ditetapkan dalam program PRONA ini pada dasarnya mudah karena program ini merupakan pensertipikatan tanah secara masal dan ditujukan kepada golongan masyarakat menengah kebawah dan pada umumnya masyarakat juga merasa terbantu dengan adanya program ini.”
(Hasil wawancara pada tanggal 10 Februari 2016)
Secara umum, prosedur pelayanan melalui program Legalisasi Aset PRONA ini, meliputi:
1. Penyerahan DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) 2. Penetapan Lokasi Objek hak
3. Penyuluhan Kepada masyarakat sebagai calon peserta 4. Pengumpulan data (alat bukti/alas hak, Penetapan Peserta) 5. Pengukuran dan Pemetaan
6. Pemeriksaan Tanah 7. Pengumuman
8. Penerbitan SK Hak/Pengesahan Data Fisik dan Data Yuridis (Penetapan Hak)
9. Penerbitan sertipikat/Pembukuan Hak 10.Penyerahan Sertipikat kepada Masyarakat
Prosedur diatas telah diatur dalam Peraturan Menteri Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 9 tahun 1999 tentang tata cara
pemberian dan pembatalan hak atas tanah Negara dan hak pengelolaan. Prosedur tersebut dinilai tidak menyulitkan masyarakat sebagai calon pemohon dan masyarakat menganggap bahwa prosedur tersebut cukup mudah dan tidak memakan waktu sehingga sangat mudah dipahami oleh masyarakat. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Ibu Siti Herlina warga Kelurahan Damai Kecamatan Binjai Utara:
“…mengetahui tentang prosedurnya, karena saya rasa prosedurnya tidak sulit, mereka menjelaskan semuanya kepada warga dan mereka juga yang mendatangi warga kelurahan kami jadi kami memahaminya.”
(Hasil wawancara pada tanggal 2 Februari 2016)
Hal yang sama juga dikemukakan oleh bapak Ahmad Basir Sinulingga warga Kelurahan Mencirim, Kecamatan Binjai Timur yang menyatakan:
“saya pikir prosedurnya tidak menyulitkan warga, karena kami hanya tinggal menyiapkan berkas yang diperlukan setelah itu mereka yang memprosesnya dan kami hanya tinggal menunggu sertipikat tanah kami selesai.”
(Hasil wawancara pada tanggal 2 Februari 2016)
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa prosedur dalam pelayanan sertipikasi hak atas tanah melalui program Legalisasi Aset PRONA disesuaikan dengan prosedur pengurusan sertipikasi tanah pada umumnya dan hal tersebut mudah untuk dipahami oleh warga dan juga tidak menyulitkan warga sebagai objek dari pelayanan program ini. Program ini didasari untuk memberikan pelayanan sertipikasi tanah bagi masyarakat maka prosedur yang telah ditetapkan dinilai tidak menyulitkan bagi warga.