BAB IV: PERCEPATAN INVESTASI DALAM PENGELOLAAN PULAU-
C. Prosedur Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil Dalam Rangka Percepatan
Pemanfaatan pulau-pulau kecil (PPK) dalam rangka percepatan investasi dapat dilakukan oleh korporasi, koperasi, maupun orang perseorangan dalam dunia investasi. Bagi penanaman modal asing sesuai dengan pasal 26 A Undang-Undang Cipta Kerja (UUCK), harus memenuhi Perizinan Berusaha sama halnya dengan izin yang harus dipenuhi oleh korporasi, koperasi, maupun orang perseorangan yaitu dari Pemerintah Pusat dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang penanaman modal. Adapun bagi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang melakukan kegiatan pemanfaatan pulau-pulau kecil dengan Luas di Bawah 100 km2 (seratus kilometer persegi) harus
Lingkungan Dalam Menciptakan Kesejateraan Rakyat. Junal Meta Yuridis: Universitas PGRI Semarang. Volume 2 No 1 Tahun 2019. h. 26.
169Ibid, h. 23.
mendapatkan Rekomendasi Pemanfaatan Pulau-pulau Kecil dari Menteri Kelautan dan Perikanan.170
Beberapa persyaratan Usaha yang harus dipenuhi untuk mendapatkan Izin Pemanfaatan PPK dalam rangka PMA adalah : (i) Permohonan pemenuhan komitmen Izin Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dalam rangka PMA Kepada Menteri Kelautan dan Perikanan; (ii) Rekomendasi dari Bupati/Walikota; (iii) Bukti pembayaran Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP); (iv) Dokumen rencana usaha yang meliputi (Penjelasan Rencana usaha dan Jenis Kegiatan; Peta lokasi pemanfaatan pulau, luasan dan koordinat geografis; Rencana pemberian akses publik; Rencana Pengalihan Teknologi; Rencana Kerjasama dengan Peserta Indonesia; Rencana Pengalihan Saham secara bertahap kepada Peserta Indonesia;
dan Pertimbangan aspek ekologi, sosisal budaya dan ekonomi.171
Sementara untuk Rekomendasi Pemanfaatan PPK dalam rangka percepatan investasi dengan Luas di Bawah 100 km2, prosedur persyaratan usaha yang harus di penuhi oelah pelaku usaha dalam investasi adalah : (i) Permohonan pemenuhan komitmen Rekomendasi Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dengan luas di bawah 100 km2 kepada Menteri Kelautan dan Perikanan; (ii) Bukti kepemilikan dan/atau penguasaan lahan yang sah atau Surat pernyataan yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang yang menyatakan bahwa lahan yang dimohonkan rekomendasinya sudah tidak terdapat permasalahan dengan pihak lain; (iii) Bukti pembayaran Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP); (iv) Dokumen rencana usaha yang meliputi (Penjelasan Rencana usaha dan Jenis Kegiatan; Peta lokasi
170 Direktorat Pendayagunaan Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil, Loc. Cit.
pemanfaatan pulau, luasan dan koordinat geografis; Data daya dukung lingkungan dan kerentanan pulau; Mengikuti aturan luasan pemanfaatan lahan di pulau-pulau kecil; Mengikuti standar jenis kegiatan pemanfaatan pulau-pulau kecil dengan luas di bawah 100 km2 berdasarkan luasan, topografi dan tipologi pulau.172 Penyampaian permohonan pemenuhan komitmen dari pelaku usaha kepada KKP paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak tanggal terbitnya Izin Pemanfaatan Pulau-pulau Kecil dalam rangka PMA atau Rekomendasi Pemanfaatan Pulau-pulau Kecil, yang belum efektif dari BKPM melalui sistem OSS. Penyampaian bukti pembayaran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) paling lambat 7 (tujuh) hari kalender sejak pelaku usaha menerima Surat Perintah Pembayaran (SPP) PNBP.
Pasal 18 angka 14 UU Cipta Kerja mengatur bahwa untuk pemanfaatan laut yang berkaitan dengan kebijakan nasional yang bersifat strategis, seperti pengembangan infrastruktur, pengembangan wilayah, dan pengembangan ekonomi, perizinan berusaha dapat diberikan walaupun rencana tata ruang dan/atau rencana zonasi belum ditetapkan oleh pemerintah dan pemerintah daerah.173 Selain itu, menurut Pasal 18 angka 2, perencanaan pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil yang sudah ditetapkan pun dapat ditinjau kembali apabila terdapat rencana tata ruang dan/atau zonasi yang tidak sejalan dengan kebijakan nasional bersifat strategis.
171Ibid.
172 Ibid.
173 Pasal ini menambah satu ketentuan yakni Pasal 17A dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Juncto Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Ketentuan tersebut akan mengabaikan esensi dari Rencana Tata Ruang dan Rencana Zonasi yang seharusnya memperhatikan daya dukung ekosistem.
Pasalnya, Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang telah menegaskan bahwa penyusunan tata ruang harus memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Begitu juga Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 (UU Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil) yang menegaskan bahwa rencana zonasi juga ditetapkan dengan mempertimbangkan daya dukung ekosistem. Pasal 14 UU PPLH juga menegaskan bahwa tata ruang merupakan salah satu instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup. Menurut Pasal 19 UU PPLH, perencanaan tata ruang juga harus di dasarkan pada Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). Selain itu, pengabaian esensi Rencana Tata Ruang dan/atau Rencana Zonasi juga bertentangan dengan Pasal 23 UU Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil yang mengatur bahwa pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan di sekitarnya harus memenuhi persyaratan pengelolaan lingkungan.
Dampak dari menegasikan esensi Rencana Tata Ruang dan/atau Rencana Zonasi demi kebijakan strategis nasional itu berpotensi menimbulkan kerugian bagi masyarakat maupun ekosistem.174 Contohnya eksplor wilayah pulau-pulau kecil yang tidak menjaga kelestarian lingkungan dan merugikan ekosistem wilayah masyarakat sekitar wilayah pulau-pulau kecil.
174Stephanie Juwana, dkk., op. cit., hlm. 36.
Esensi izin lingkungan adalah untuk pencegahan. Akan tetapi, Pasal 22 angka 1 Undang-Undang Cipta Kerja justru menghilangkan izin lingkungan dan menggantinya dengan persetujuan lingkungan. Perubahan itu dilakukan semata untuk memberikan kemudahan bagi pelaku usaha dalam memperoleh hak pengelolaan lingkungan. Padahal, ketika masih menggunakan instrumen izin lingkungan, pemegang izin wajib mencantumkan secara detail persyaratan pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan untuk pemegang izin, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH). Kegiatan yang mencantumkan persyaratan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) dan upaya pengelolaan/pemantauan lingkungan hidup (UKL/UPL) diwajibkan untuk memiliki izin lingkungan. Dengan tidak adanya instrumen pencegahan yang ketat, ekosistem pesisir dan kehidupan masyarakat pesisir dapat terdampak karena perubahan izin menjadi persetujuan tersebut. Sehingga eksploitasi lingkungan sekitar wilayah pesisir pantai dan pulau-pulau kecil semakin besar dan menjadi tidak terjaga kelestariannya dan menimbulkan pencemaran lingkungan bagi kehidupan masyarakat pesisir.
Penyederhanaan sistem penataan ruang dilaksanakan dengan cara menghapuskan beberapa rencana tata ruang. Dalam hal ini yang dihapuskan oleh Undang-Undang Cipta Kerja adalah sebagai berikut: (1) rencata tata ruang kawasan strategis provinsi (RTR KSP) dan rencana tata ruang kawasan strategis kabupaten/kota (RTR KS Kab/Kota). Hal ini merupakan akibat dari dihapuskannya unit ruang bernama kawasan strategis provinsi dan kawasan
strategis kabupaten/kota dalam Undang-Undang Cipta Kerja sehingga yang memiliki kewenangan untuk mendesain kawasan strategis hanya pemerintah pusat. Salah satu kriteria penetapan kawasan strategis adalah strategis dalam konteks perlindungan terhadap lingkungan di mana sebuah unit ruang dapat ditetapkan sebagai kawasan strategis di bidang lingkungan di luar unit ruang yang berfungsi lindung. Dengan dihapuskannya kawasan strategis provinsi dan kabupaten/kota mengakibatkan pengaturan ruang yang pada awalnya mempertahankan pelestarian lingkungan hanya terdapat pada pola ruang kawasan lindung saja; (2) rencana tata ruang kawasan megapolitan (RTR Kaw Metropolitan); (3) rencana tata ruang kawasan perdesaan (RTR Kaw Perdesaan);
dan (4) rencana tata ruang kawasan argropolitan (RTR Kaw Agropolitan). Dengan penghapusan rencana tata ruang diatas, menyebabkan pengaturan rencana tata ruang perdesaan dan agropolitan akan diintegrasikan ke dalam rencana detail tata ruang (RDTR). Mengakibatkan, jumlah rencana tata ruang rinci di daerah menjadi lebih sedikit, karena bentuknya hanya RDTR semata, sedangkan substansi yang akan diatur dalam RDTR menjadi semakin luas cakupannya dan semakin kompleks akibat dari pengintegrasian ini.175
Sentralisasi penataan ruang dapat dilihat dari beberapa ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Cipta Kerja. Pertama dilihat berdasarkan pemberian persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang oleh pemerintah pusat.
Berdasarkan Pasal 15 Undang-Undang Cipta Kerja, dinyatakan bahwa apabila pemerintah daerah belum menyusun dan menyediakan RDTR, pelaku usaha
175Ibid, h. 25.
mengajukan permohonan persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang untuk kegiatan usahanya kepada Pemerintah Pusat melalui sistem Perizinan Berusaha secara elektronik. Kemudian, pemerintah pusat akan memberikan persetujuan dimaksud sesuai dengan RTRWN, RTR Pulau/Kepulauan, RTR Kawasan Strategis Nasional, RTRW Provinsi, dan RTRW Kabupaten/Kota yang tersusun secara hirarkis dan komplementer.176
Kedua, sentralisasi juga dapat dilihat dalam penetapan rencana tata ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota yang sifatnya berlapis. Maksudnya adalah bahwa pemerintah pusat dapat mengambil alih penetapan rencana tata ruang wilayah provinsi dan/atau rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota apabila pemerintah provinsi dan/atau pemerintah kabupaten/kota bersangkutan belum menetapkan rencana tata ruang dalam batas waktu yang ditentukan setelah mendapatkan persetujuan substansi dari pemerintah pusat. Pasal 23 ayat (7), (8) dan (9) serta Pasal 26 ayat (8), (9), dan Undang-Undang Penataan Ruang sebagaimana diubah berdasarkan Undang-Undang Cipta Kerja yang menentukan bahwa paling lama perencanaan tersebut dilakukan 2 (dua) bulan terhitung sejak mendapatkan persetujuan substansi dari Pemerintah Pusat, peraturan daerah rencana tata ruang wilayah provinsi atau kabupaten/kota wajib ditetapkan.
Apabila peraturan daerah tersebut belum ditetapkan, paling lambat satu bulan kemudian kepala daerah yang bersangkutan wajib menetapkannya. Apabila kepala daerah bersangkutan belum juga menetapkan dalam jangka waktu satu
176Ibid.
bulan, maka rencana tata ruang wilayah tersebut ditetapkan oleh pemerintah pusat.177
Selain itu, yang ketiga sentralisasi ini juga dapat dilihat dari penyisipan Pasal 34 A Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (UU PR) oleh Undang-Undang Cipta Kerja. Pasal ini menyatakan bahwa:
1. Dalam hal terdapat perubahan kebijakan nasional yang bersifat strategis…belum dimuat dalam rencana tata ruang dan/atau rencana zonasi, pemanfaatan ruang tetap dilaksanakan.
2. Pelaksanaan kegiatan pemanfaatan ruang…dapat dilaksanakan setelah mendapatkan rekomendasi kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang dari Pemerintah Pusat.
Artinya, apabila pemerintah pusat memiliki kebijakan nasional bersifat strategis yang belum diatur dalam rencana tata ruang, maka kebijakan nasional strategis tersebut tetap dilaksanakan setelah mendapatkan rekomendasi dari pemerintah pusat. Di sini terlihat bahwa prinsip penataan ruang menyalahi aturan di mana pemanfaatan ruang semestinya berdasarkan pada perencanaan yang telah ditetapkan. Hal ini karena “pemanfaatan ruang merupakan upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang”.178 Maka dari itu, apabila terjadi suatu perubahan kebijakan nasional yang bersifat strategis yang kemudian berdampak pada pemanfatan ruang di daerah, semestinya RTRW atau RDTR di daerah ditinjau dan diubah terlebih dahulu agar pelaksanaan aturan oleh pemerintah dalam penataan ruang dapat dikatakan taat asas dan taat hukum. Jika tidak sesuai, maka RTRW dan/atau RDTR menjadi tidak berguna ketika dihadapkan dengan kebijakan nasional yang bersifat strategis. Selain itu, check-and-balances antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam
177Ibid.
konteks penataan ruang menjadi tidak terlihat dimana apabila pemerintah pusat menginginkan suatu hal maka pemerintah daerah tidak bisa menghindari keinginan pemerintah pusat dengan alasan apapun juga.179
Peraturan terkait kewajiban memiliki Izin dalam memanfaatkan pulau-pulau kecil memiliki sanksi yang tegas. Dalam UU No. 11 Tahun 2020 Pasal 71 A ayat (1) menyebutkan bahwa “Setiap Orang yang tidak memiliki Perizinan Berusaha dalam memanfaatkan pulau-pulau kecil dan pemanfaatan perairan disekitarnya dalam rangka penanaman modal asing dikenai sanksi administratif”. Sanksi administratif tersebut dapat berupa: peringatan tertulis, penghentian sementara kegiatan, penutupan lokasi, pencabutan Perizinan Berusaha, pembatalan Perizinan Berusaha; dan/atau, denda administratif.180
Usaha Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dalam rangka Penanaman Modal Asing, yang kegiatannya meliputi: pengembangan gedung/bangunan untuk dioperasikan sendiri (untuk penyewaan ruang-ruang di gedung/bangunan tersebut), kegiatan pemanfaatan tanah atau sewa-menyewa tanah di pulau-pulau kecil untuk pengembangan pariwisata, budidaya laut, usaha perikanan dan kelautan, serta industri perikanan secara lestari, pertanian, peternakan, beserta sarana dan prasarana pendukungnya, dan/atau usaha lain yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Adapun tahapannya adalah sebagai berikut:181
178 Pasal 1 angka 14 UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
179 Sigit Riyanto dkk, Op.Cit, h. 26.
180 Direktorat Pendayagunaan Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil, Loc. Cit.
181 Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2021, Perizinan Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil Dalam Rangka Penanaman Modal Asing, https://kkp.go.id/djprl/p4k/artikel/29571-bahan-paparan-sosialisasi-perizinan-pemanfaatan-ppk-dan-perairan-sekitarnya-dalam-rangka-pma-13-04-2021, Terakhir diakses tanggal 9 Desember 2021.
1. Pemohon mengajukan Permohonan ke BKPM secara online
2. Perwakilan KKP di BKPM memproses semua permohonan perizinan yang masuk terkait perizinan di KKP dan selanjutnya meneruskan ke PTSP KKP untuk diproses lebih lanjut
3. PTSP KKP memeriksa kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan, apabila sudah lengkap maka selanjutnya disampaikan secara offline kepada Unit kerja terkait untuk dilakukan verifikasi
4. Evaluasi kelengkapan dokumen meliputi:
a) Penjelasan Rencana usaha dan Jenis Kegiatan;
b) Peta lokasi pemanfaatan pulau, luasan dan koordinat geografis;
c) Rencana pemberian akses publik;
d) Rencana Pengalihan Teknologi;
e) Rencana Kerjasama dengan Peserta Indonesia;
f) Rencana Pengalihan Saham secara bertahap kepada Peserta Indonesia;
dan
g) Pertimbangan aspek ekologi, sosisal budaya dan ekonomi.
5. KKP melakukan verifikasi (evaluasi dokumen dan verfikasi lapangan) dalam waktu 10 hari kerja dan selanjutnya memberikan persetujuan atau penolakan izin pemanfaatan Pulua-pulau Kecil dan perairan disekitarnya dalam rangka PMA kepada BKPM sebagaimana format terlampir
6. KKP mengeluarkan surat perintah membayar PNBP. Dan pelaku usaha diberi waktu maksimal 7 (tujuh) hari kerja untuk membayar PNBP
7. BKPM menerbitkan izin pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan disekitarnya dalam rangka PMA
Izin akan diterbitkan OSS BKPM setelah pelaku usaha membayar PNBP dan Izin dinyatakan berlaku efektif
Selain itu juga terdapat sanksi pidana Pasal 73 A UU CK yaitu terhadap setiap orang yang memanfaatkan pulau kecil dan perairan di sekitarnya dalam rangka penanaman modal asing yang tidak memiliki Perizinan Berusaha yang mengakibatkan perubahan fungsi ruang, yaitu dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).182
Ketentuan mengenai pengawasan tidak diatur secara rinci dalam UU Cipta Kerja. Pengaturannya diserahkan kepada Peraturan Pemerintah tentang Norma,
182Ibid.
Standar, Prosedur, dan Kriteria (PP NSPK) sebagaimana diatur Pasal 173 ayat (1) UU Cipta Kerja. Akan tetapi, jika mengacu pada Naskah Akademik UU Cipta Kerja, pengawasan dalam UU Cipta Kerja akan dilakukan dengan menggunakan pendekatan risk based monitoring atau pemantauan berbasis risiko. Intensitas pengawasan akan disesuaikan dengan tingkat risiko dari kegiatan usaha tersebut.
Untuk kegiatan usaha dengan tingkat risiko tinggi akan mendapatkan pengawasan yang lebih ketat ketimbang pengawasan terhadap kegiatan usaha dengan risiko rendah.183
Dengan demikian, jika peraturan mengenai pengawasan tidak diatur dengan detail, maka dikhawatirkan pemerintah atau aparat penegak hukum akan kehilangan kemampuan untuk melakukan pendeteksian pelanggaran oleh kegiatan yang berisiko rendah atau menengah. Akibatnya, respons dan penghukuman terhadap pelanggaran tersebut tidak akan terjadi. Hal ini dapat menyebabkan banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh kegiatan berisiko kecil atau menengah yang jika diakumulasi dapat menimbulan kerugian yang besar.184
Selain persoalan pengawasan, UU Cipta Kerja juga mengubah ketentuan pengenaan sanksi dengan mengutamakan sanksi administratif daripada sanksi pidana dengan alasan bahwa sanksi pidana merupakan ultimum remedium.185 Beberapa tindakan pelanggaran yang sanksinya diubah dari sanksi pidana menjadi sanksi administratif antara lain, yaitu:
1. melakukan pemanfaatan ruang perairan dan sumber daya pesisir dan pulau-Pulau kecil yang tidak memenuhi izin (Pasal 18 angka 28);
2. melakukan pemanfaatan ruang laut secara menetap tanpa izin (Pasal 19
183 Naskah Akademik UU Cipta Kerja, Op.Cit, h. 82-83.
184 Stephanie Juwana, dkk, Op.Cit., h. 41
185 Ibid.
Angka 9);
3. membangun, mengimpor, atau memodifikasi kapal perikanan yang tidak mendapatkan persetujuan terlebih dahulu (Pasal 27 angka 14);
4. Tidak mendaftarkan kapal perikanannya sebagai kapan perikanan (Pasal 27 angka 26); dan
5. tindakan dilakukan oleh nelayan kecil (Pasal 27 angka 35).
Akan tetapi, pengaturan dalam UU Cipta Kerja tidak bisa disamakan dengan konsep ultimum remedium pada umumnya karena ketentuan UU Cipta Kerja mengatur bahwa sanksi pidana diberlakukan saat sanksi denda administratif tidak dibayarkan, bukan berdasarkan pertimbangan apakah sanksi administratif sudah menimbulkan efek jera.186
Artinya, penjatuhan sanksi pidana tidak memperhatikan faktor apakah sanksi denda administratif sudah secara efektif mencapai tujuan penjatuhan hukuman atau belum. Contohnya tujuan untuk menghindari perbuatan yang sama, tidak dibedakan antara pelaku yang sama atau berbeda. Dengan begitu, penempatan sanksi pidana sebagai obat terakhir bisa tidak efektif.187
Harus diakui sanksi administratif memang diperlukan, akan tetapi sanksi ini baru lebih optimal daripada sanksi pidana bila dampak kerusakan yang terjadi tidak terlalu luas.188 Sementara sanksi Pidana masih tetap dibutuhkan untuk tindakan-tindakan yang dampaknya lebih luas, seperti perusakan dan pencemaran lingkungan hidup berskala besar. Sebabnya karena ada kondisi yang hanya melalui sanksi pidana pelaku bisa diberi efek jera melalui biaya yang harus dibayar pelaku. Beban pemerintah untuk menanggung konsekuensi bisa lebih
186 Ibid.
187Ibid., h. 45.
188Michael G. Faure dan Katarina Svatikova, “Crinimal or Administrative Law to Protect the Environment? Evidence from Western Europe”, Journal of Environmental Law, Vol.
24:2 (2012), hlm. 258-259. Dalam Stephanie Juwana, dkk, h. 46.
besar dibanding kerugian yang terjadi akibat tindakan pelaku.189 Seperti yang tertera dalam PP Nomor 27 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Bidang Kelautan Dan Perikanan Pasal 294 yang menyatakan bahwa:
Setiap Orang yang melakukan impor komoditas Perikanan dan impor Komoditas Pergaraman yang tidak sesuai dengan tempat pemasukan, jenis, volume dan waktu pemasukan, standar Mutu wajib, dan/atau peruntukan Impor yang ditetapkan oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 277 ayat (3) dan Pasal 286 ayat (3) dikenai sanksi administratif berupa:190
a. penghentian sementara kegiatan;
b. pembekuan perizinan berusaha;
c. denda administratif;
d. paksaan pemerintah; dan/atau e. pencabutan Perizinan Berusaha.
Disini terlihat bahwa sanksi administrasi yang di dahulukan bahkan sanksi pidana tidak disebutkan secara langsung pada pasal diatas.
189ICEL, “Hukum dan Kebijakan Lingkungan dalam Poros Percepatan Investasi: Catatan terhadap Wacana Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja,” (Jakarta: ICEL, 2020), hlm. 9. Dalam Stephanie Juwana, dkk, h. 46.
190PP Nomor 27 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Bidang Kelautan Dan Perikanan Pasal 294
104
105 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
1. Ruang lingkup aspek yang mempengaruhi dalam penataan ruang setelah adanya undang-undang cipta kerja yaitu, aspek materi hukum dimana perubahan pada beberapa Pasal Penataan Ruang menjelaskan bahwa rencana rinci dalam tata ruang ditetapkan dengan peraturan daerah. Tata ruang wilayah yang dimaksud mencakup ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi. Hal ini berkaitan dengan aspek penyederhanaan perizinan yang tidak ada izin lokasi lagi, namun hanya menggunakan izin berusaha berdasarkan undang-undang cipta kerja dalam pemanfaatan pulau-pulau kecil. Selanjutnya dari aspek pelayanan hukum sebelum adanya undang-undang cipta kerja, pengelolaan hanya melibatkan Pemda dan dunia usaha. Akibatnya banyak pulau terluar yang dikuasai asing selama ini karena izin yang mudah dikeluarkan oleh pemerintah daerah dan adanya pendelegasian kewenangan yang menyebabkan kewenangan presiden menjadi terbatas dalam melaksanakan kewenangannya sebagai kepala pemerintahan. Berdasarkan alasan tersebut dengan adanya undang-undang cipta kerja, proses yang berawal dari pemerintah daerah kemudian dialih fungsikan kepada pemerintah pusat.
2. Prinsip investasi dalam pemanfaatan pulau-pulau kecil diprioritaskan bagi kegiatan budidaya laut, pariwisata, usaha perikanan dan kelautan dan industri perikanan secara lestari, pertanian organik, dan peternakan. Untuk
pulau-pulau kecil dengan luas di bawah 100 km2, pemanfaatannya harus memperhatikan jenis kegiatan yang diperbolehkan, yang diperbolehkan dengan syarat, dan yang tidak diperbolehkan berdasarkan luasan, topografi, dan tipologi pulau, sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 53 Tahun 2020 tentang Penatausahaan Izin Pemanfaatan PPK dalam rangka PMA dan Rekomendasi Pemanfaatan PPK dengan Luas kurang dari 100 km2 (seratus kilometer persegi). Yang kemudian dikuatkan dengan UU Cipta Kerja No 11 Tahun 2020 Pasal 18 Angka 22 yang berbunyi dalam rangka penanaman modal asing, pemanfaatan pulau-pulau kecil dan pemanfaatan perairan di sekitarnya harus memenuhi Perizinan Berusaha dari Pemerintah Pusat dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang penanaman modal.
3. Realisasi percepatan investasi dalam pengelolaan pulau-pulau kecil setelah adanya undang-undang cipta kerja adalah dapat dilihat dalam laporan kinerja Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang mencatat sampai 5 Desember 2020, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) bidang Pengelolaan Ruang Laut (PRL) tahun 2020 sebesar Rp 7,9 miliar.
Angka ini meningkat lebih dari 100 persen bila dibandingkan dengan tahun 2019 yang hanya Rp 3,7 miliar setelah adanya undang-undang cipta kerja. Jumlah realisasi PNBP tersebut, terbesar berasal dari izin lokasi, sampai tanggal 28 desember tercatat penerimaan dari izin lokasi mencapai Rp 6,34 triliun. Izin lokasi diterbitkan oleh Menteri Kelautan dan
Perikanan di wilayah perairan Kawasan Strategis Nasional Tertentu Pulau-Pulau Kecil Terluar, lintas provinsi, di atas 12 mil laut, serta minyak dan gas bumi berdasarkan Rencana Zonasi dan/atau Rencana Tata Ruang Laut.
Adapun jenis kegiatan meliputi pemasangan pipa/kabel bawah laut, pemanfaatan air laut selain energi, wisata bahari, reklamasi, jetty, pembangunan kilang minyak, dan instalasi ketenagalistrikan.
B. Saran
1. Agar tercapainya aspek penataan ruang terhadap pulau-pulau kecil dengan tujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat yang adil dan makmur perlu dilakukan check and balance antara lembaga terkait dengan kewenangan presiden melalui pengaturan yang lebih jelas serta pengawasan yang lebih baik sehinga
1. Agar tercapainya aspek penataan ruang terhadap pulau-pulau kecil dengan tujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat yang adil dan makmur perlu dilakukan check and balance antara lembaga terkait dengan kewenangan presiden melalui pengaturan yang lebih jelas serta pengawasan yang lebih baik sehinga