Diskripsi Sistem Pembayaran Pensiun
3. Prosedur Pembayaran Dana Pensiun ke Nasabah
Nasabah mengisi slip penarikan tabungan. Nasabah mengisi kolom tanggal, jumlah rupiah yang akan ditarik, nama, nomor rekening dan tanda tangan. Nasabah pensiun menyiapkan buku tabungan berikut karip (kartu identitas pensiun) dan slip penarikan yang telah diisi. Nasabah menuju teller
30 dengan sistem antri. Teller memeriksa kelengkapan pengisian slip penarikan tabungan.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan slip penarikan tabungan adalah :
Tanggal adalah tanggal transaksi.
Uang sejumlah rupiah: diisi jumlah uang yang akan ditarik, dengan huruf (terbilang).
Nama & Nomor Rekening harus sesuai.
Tanda tangan Penabung pada halaman muka harus diverifikasi.
Tanda tangan penerima (pada halaman punggung) harus sama sesuai dengan tanda tangan penabung.
Melakukan validasi computer pada slip penarikan tersebut. Mencetak buku tabungan.
Setelah memeriksa slip penarikan tabungan, teller melakukan proses pembayaran dengan menerima, memeriksa dan mecocokan buku tabungan uang pensiun dan karip dari nasabah pensiun. Apabila telah lengkap dan benar, teller melakukan posting kedalam sistem komputer sesuai dengan menu yang ada pada user manual. Teller mencocokan data yang ada pada komputer dengan data tabungan uang pensiun dan karip yang bersangkutan. Setelah cocok, teller melakukan pembayaran tabungan uang pensiun yang bersangkutan dan cetak buku tabungan uang pensiun. Berdasarkan slip penarikan, teller menyiapkan uang tunai sesuai dengan jumlah yang harus dibayarkan. Teller menghitung uang secara terperinci sebelum diserahkan
31 kepada nasabah yang bersangkutan. Menyerahkan uang bersama – sama dengan slip penarikan kepada nasabah. Teller juga meminta nasabah menghitung uang dan menandatangani slip penarikan sebagai tanda terima. Menyerahkan slip penarikan , buku tabungan pensiun dan karip kepada Nasabah. Apabila dalam pelayanan pembayaran uang pensiun, persediaan uang dalam Box Teller telah sangat minim dan masih banyak penerima pensiun yang belum terbayar saat itu maka Teller dapat meminta tambahan uang tunai dari Head Teller dan atau antar Teller dengan menggunakan/mengisi Formulir Teller Exchange untuk transaksi tersebut. Teller melakukan posting kedalam sistem komputer sesuai menu komputer.
Mencatat pada Daftar Mutasi Kas pada kolom “penerimaan tunai dari Vault“
dengan jurnal Rekening Tabungan Nasabah (debit) pada Kas (kredit).
Kerjasama Peserta Pensiunan BTPN
Penerima pensiunan di BTPN hanya berasal dari PT. Taspen, PT. Telkom, PT. Perhutani, PT. Asabri. Peserta pensiunan terbanyak dari PT. Taspen. Berdasarkan data bulan Maret 2009, jumlah pensiunan yang dibayar melalui BTPN sekitar 345.127 orang dengan jumlah dana yang dibayarkan sebesar Rp 416,5 miliar setiap bulan. Dalam satu tahun mencapai sekitar Rp 40.412,06 miliar. Sedangkan jumlah seluruh pensiunan PT. Taspen pada tahun 2009 sebanyak 2.172.945 orang. Sekitar 16% peserta pensiunan dari PT. Taspen mempercayakan BTPN sebagai tempat pembayaran pensiunan.
32 Pada tahun 2011, pembayaran pensiunan PT. Taspen mencapai Rp 52.371,47 miliar setiap tahunnya. Jumlah peserta aktif pada tahun 2011 mencapai 2.291.201 orang.
Dalam Perjanjian Kerjasama (PKS) antara BTPN dengan Dana Pensiun Perhutani pada tanggal 27 Januari 2009, bank BTPN dikenakan jasa/fee sebesar 2,5% dari sejumlah dana yang disalurkan. Dana yang disalurkan rata-rata Rp 82.500.000,- per bulan. Sedangkan nilai manfaat pensiun yang dibayarkan sebesar Rp 3,8 miliar per bulan.
Kekurangan pada Sistem Pembayaran Pensiunan PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Cabang Salatiga serta Jalan Keluarnya
Masalah yang pernah terjadi pada bank BTPN sebelum Desember 2009 adalah BTPN belum melakukan transaksi secara online. Nasabah harus mengambil uang pensiunannya sesuai dengan BTPN dimana nasabah terdaftar. Hal ini menjadi masalah tersendiri bagi nasabah karena dianggap tidak praktis.
Ibu Tien, wanita pensiunan dari SMAN 1 Salatiga bagian tata usaha ini mengeluh karena tiga tahun yang lalu tidak dapat mengambil uang dari bank BTPN selain di Salatiga. Padahal beliau sering pergi ke luar kota dalam waktu yang cukup lama. Hal ini juga di ungkapkan oleh Pak Gianto yang dahulu bekerja sebagai kepala sekolah SDN Tegalrejo 7 demikian, “Dulu itu saya harus datang
ke Salatiga kalau mau ambil uang di BTPN. Padahal saya sedang berada di rumah
33 Nasabah di BTPN bukan orang-orang yang berusia muda lagi, sehingga penurunan fungsi anggota tubuh terjadi pada nasabah. Hal inilah yang menghambat kelancaran dalam bertransaksi seperti ketika tanda tangan, nasabah diharuskan tanda tangan sesuai dengan buku tabungan. Jika kurang cocok bagian teller akan meminta nasabah untuk mengulang.
Saat melakukan penelitian, penulis melihat tiga nasabah pensiunan yang kesulitan mengisi dan menandatangani slip penarikan. Bahkan satu diantaranya diantarkan oleh anaknya karena sudah mulai kesulitan berjalan. Satu nasabah lain yang bersedia di wawancarai oleh penulis adalah Bapak Suprihadi. Pria ini berusia 73 tahun dan sebelumnya bekerja sebagai guru di SDN Bringin 1. Beliau sudah menjadi nasabah BTPN sejak tahun 2005 pun mengalami hal demikian. Beliau sudah mengalami kesulitan dalam menulis dan melihat sehingga butuh waktu yang cukup lama untuk mengisi slip penarikan.
Pada tanggal 1 setiap bulannya, para nasabah sudah bisa mengambil uang pensiunannya pada jam 5 pagi. Telah disediakan makanan seperti kue dan juga teh panas. Para nasabah bisa menikmati sajian yang disediakan BTPN sambil menunggu giliran penarikan uang tabungan. Nasabah yang datang pun tidak sedikit. Para nasabah rela antri sejak pagi hari karena semakin siang, akan semakin ramai. Seperti penuturan Ibu Warno sebagai pensiunan guru, “Saya
berjalan dari rumah jam 4 pagi karena di jalan belum banyak kendaraan, jadi mudah untuk menyeberang jalan. Kalau semakin siang juga semakin ramai tidak
dapat tempat duduk.” Ruangan BTPN yang kurang luas membuat para nasabah berdesakan menunggu giliran pengambilan uang pensiunan. Para nasabah
34 menunggu sambil berdiri bahkan berada di luar ruang tunggu yang telah disediakan BTPN.
Dari permasalahan yang pernah ada di BTPN mengenai ketidakpraktisan dalam pengambilan uang pensiun, maka BTPN telah melakukan jalan keluar yaitu sistem dibuat online. Permasalahan sulitnya nasabah dalam menuliskan tandatangan, penulis menyarankan supaya BTPN menggunakan alat sidik jari untuk mempermudah dan mempercepat proses pembayaran pensiunan serta meminimalkan kemungkinan pemalsuan data. Jika dalam pengisian slip penarikan, pegawai di BTPN akan menawarkan bantuan. Saat ada nasabah yang kesulitan dalam pengisian slip penarikan akan dibantu dan diberi penjelasan. Mengenai kurang luasnya ruangan dan kurangnya tempat duduk, alangkah baiknya jika pada awal bulan yaitu tanggal 1 sampai tanggal 5 BTPN menyediakan kursi tambahan. Kursi tambahan bisa diletakan di teras atau halaman BTPN. Sebagai penutup untuk menghindari panasnya matahari, BTPN bisa menambahkan tenda di halaman.
35
KESIMPULAN
Kesimpulan
Bank Tabungan Pensiunan Nasional hanya malayani PNS dari PT. Taspen, ABRI dan Polri untuk PT. Asabri, dan dua pegawai BUMN yaitu PT. Telkom dan PT. Perhutani. Peserta pensiunan terbanyak dari PT. Taspen dengan jumlah dana yang dibayarkan sebesar Rp 416,5 miliar setiap bulan.
Pembayaran Pensiunan di BTPN cabang Salatiga sudah melakukan komunikasi dengan BTPN Pusat. Komunikasi dilakukan secara online. Nasabah BTPN Salatiga tidak perlu mengurus pensiunan ke BTPN Pusat ataupun ke Dana Pensiun dengan jarak yang lebih jauh. Jadi sistem pembayaran pensiunan di BTPN sudah bagus.
BTPN Pusat memberikan daftar gaji pensiunan kepada BTPN cabang Salatiga melalui email. BTPN cabang Salatiga menerima daftar melalui Unit Tabungan Pensiun serta melakukan upload data ke sistem komputer online pusat. Unit Tabungan Pensiun juga melakukan posting pada rekening tabungan pensiunan.
Dalam prosedur pembayaran pensiunan, BTPN terlebih dahulu melakukan penerimaan calon nasabah pensiun. Calon nasabah pensiun harus memenuhi syarat administratif maupun non administratif. Calon nasabah yang telah memenuhi syarat tersebut berhak menjadi nasabah BTPN. Nasabah BTPN mendapat nomor rekening serta buku tabungan untuk proses penarikan uang
36 pensiun setiap bulannya. Nasabah akan dilayani oleh bagian teller dalam penarikan uang pensiun.
Permasalahan yang pernah terjadi:
1. Sebelum Desember 2009, BTPN belum melakukan transaksi secara online. Nasabah harus mengambil uang pensiunannya sesuai dengan BTPN dimana nasabah terdaftar. Hal ini menjadi masalah tersendiri bagi nasabah karena dianggap tidak praktis. Tetapi, BTPN telah melakukan jalan keluar yaitu sistem dibuat online.
2. Nasabah di BTPN bukan orang-orang yang berusia muda lagi, sehingga penurunan fungsi anggota tubuh terjadi pada nasabah. Hal inilah yang menghambat kelancaran dalam bertransaksi seperti ketika tanda tangan, nasabah diharuskan tanda tangan sesuai dengan buku tabungan. Jika kurang cocok bagian teller akan meminta nasabah untuk mengulang.
3. Pada tanggal 1 setiap bulannya, para nasabah sudah bisa mengambil uang pensiunannya pada jam 5 pagi. Telah disediakan makanan seperti kue dan juga teh panas. Para nasabah bisa menikmati sajian yang disediakan BTPN sambil menunggu giliran penarikan uang tabungan. Nasabah yang datang pun tidak sedikit. Para nasabah rela antri sejak pagi hari karena semakin siang, akan semakin ramai. Ruangan BTPN yang kurang luas membuat para nasabah berdesakan menunggu giliran pengambilan uang pensiunan. Para nasabah menunggu sambil berdiri bahkan berada di luar ruang tunggu yang telah disediakan BTPN.
37 Impikasi Terapan
1. Permasalahan sulitnya nasabah dalam menuliskan tandatangan, penulis menyarankan supaya BTPN menggunakan alat sidik jari untuk mempermudah dan mempercepat proses pembayaran pensiunan serta meminimalkan kemungkinan pemalsuan data.
2. Mengenai kurang luasnya ruangan dan kurangnya tempat duduk, alangkah baiknya jika pada awal bulan yaitu tanggal 1 sampai tanggal 5 BTPN menyediakan kursi tambahan. Kursi tambahan bisa diletakan di teras atau halaman BTPN. Sebagai penutup untuk menghindari panasnya matahari, BTPN bisa menambahkan tenda di halaman.
38 DAFTAR PUSTAKA
Apriyanto, Tri Setiyo, 2010, Tinjauan Atas Analisis Pencatatan Pemberian Kredit Pensiun Pada PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Kantor Cabang
Bandung. Unikom, Bandung.
Bodnar, George, H & William S. Hopwood, 2003, Sistem Informasi Akuntansi,
Penerbit: Salemba Empat, Jakarta.
BTPN Laporan Tahunan 2005, Penerbit: PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, Jakarta.
BTPN Laporan Tahunan 2008, Penerbit: PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, Jakarta.
BTPN Laporan Tahunan 2010, Penerbit: PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, Jakarta.
DeLone,W., and McLean E.R. “The DeLone and McLean Model of Information System Success: A Ten Year Update.” Journal of MIS (19,:4), 2003.
Kumorotomo, Wahyudi, 1999, Etika Administrasi Negara, PT. Raja Grafindo Persada : Jakarta.
Kumorotomo, Wahyudi,1998, Sistem Informasi Manajemen, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Mulyadi, 2001. Bank dan Lembaga Keuangan 1. Universitas Gunadarma
O’Brien, James. 2006. Pengantar Sistem Informasi, Prespektif Bisnis dan Manajerial. Dewi Fitriasari dan Deny A. Kwary, Penerjamah ; Palupi
39 Wuriarti, editor. Jakarta. Salemba Empat. Terjamahan dari Introduction to Information System 12th ed.
Perjanjian Kerjasama Antara Dana Pensiun Perhutani dengan PT Bank
Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, 2009, Penerbit: PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, Jakarta.
Petunjuk Pelaksanaan Pembayaran Tabungan Hari Tua, Tabungan Hari Tua
Multiguna, dam Pensiun Melalui Rekening, 2007, Penerbit: PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, Jakarta.
Standard Operating Procedures Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bank
BTPN, 2007, Penerbit: PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, Jakarta.
Standard Operating Procedures, 2005, Penerbit: PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, Jakarta.
Statistik Perbankan Indonesia Vol. 6 No. 7, 2008, Bank Indonesia, Jakarta.
Sudjono, Imam, 1999, Dana Pensiun Lembaga Keuangan, Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.