BAB II GAMBARAN UMUM PENYELESAIAN KETERLAMBATAN
D. Penyelesaian Keterlambatan Pembayaran pada Pinjaman
3. Prosedur Penagihan Jika Terjadi Keterlambatan Pembayaran61
61
karena kesengajaan atau kelalaian pengguna) terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan maupun kesepakatan atau perikatan antara penyelenggara dengan pemberi pinjaman dan/atau penerima pinjaman.
i. Setiap transaksi dan kegiatan pinjam meminjam atau pelaksanaan kesepakatan mengenai pinjam meminjam antara atau yang melibatkan penyelenggara, pemberi pinjaman dan/atau penerima pinjaman wajib dilakukan escrow account dan virtual account sebagaimana yang diwajibkan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi dan pelanggaran atau ketidakpatuhan terhadap ketentuan tersebut merupakan bukti telah terjadinya pelanggaran hukum oleh penyelenggara sehingga penyelenggara wajib menanggung ganti rugi yang diderita oleh masing-masing pengguna sebagai akibat langsung dari pelanggaran hukum tersebut di atas tanpa mengurangi hak pengguna yang menderita kerugian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.8
3. Prosedur Penagihan Jika Terjadi Keterlambatan Pembayaran Petugas collector bertugas dan bertanggungjawab untuk:
a. Sehari sebelum pelunasan, collector akan mengingatkan melalui telepon atau WhatsApp.
8 Perdana, “Pernyataan Tanggungjawab Risiko”, dalam https://www.perdana.ai/riskdisclaimer, diakses pada 28 Mei 2019.
62
b. Jatuh tempo hari pertama, collector akan mulai melakukan penagihan.
c. Setiap hari membuat laporan update hasil penagihan.
d. Melakukan pengawasan terhadap customer yang telah berjanji membayar utang.
e. Mengawasi pencapaian harian melalui sistem
Field Collector dalam melakukan pekerjaan harus mematuhi kode etik sebagai berikut:
a. Dilarang mengancam, mengintimidasi, menghina atau pun merusak reputasi Penerima Pinjaman.
b. Dilarang memberikan janji yang di luar otoritas sendiri, seperti menyuruh melakukan pelunasan saat kasusnya telah diserahkan ke tim collector berikutnya.
c. Dilarang mengatasnamakan pihak kepolisian ataupun pengadilan (badan hukum negara) dalam melakukan penagihan.
d. Dalam melakukan penagihan dilarang mengganggu, melecehkan, melakukan kekerasan, mengancam, mengintimidasi, menghina, atau tindakan kriminal lainnya terhadap pihak ketiga.
e. Dilarang menggunakan SMS, Whatsapp, dan lain-lain untuk mengirim informasi tagihan yang tidak sesuai dengan peraturan.
63
f. Dilarang memprovokasi pelanggan yang bisa memicu munculnya keluhan.9
g. Dilarang melakukan penagihan di lokasi yang tidak tepat, misalnya di tempat umum, fasilitas umum, kecuali atas seizing customer, pihak terkait atau pengadilan.
4. Praktik Penyelesaian Keterlambatan Pembayaran
Dalam hal penyelesaian keterlambatan pembayaran penulis lebih menekankan kepada tata cara penagihan hutang yang dilakukan pihak Rupiah Plus, karena penagihan yang dilakukan olehnya dinilai melanggar Standard Operating Procedure (SOP) yang telah ditentukan. Masalah tersebut awalnya disampaikan oleh salah satu korban yakni Ali Akbar pengguna twitter alialsanjani. Pada tanggal 26 Juni 2018 silam, ia mendapat pesan whatsapp dari debt collector Rupiah Plus yang berisi tagihan utang seorang temannya semasa SMP.10
Ali Akbar terkejut saat mendapat pesan yang meminta Ali untuk menyampaikan pesan kepada temannya yang bernama Satria itu agar segera melunasi hutang yang dipinjam dari platform aplikasi kredit online Rupiah Plus. Pesan tersebut tertulis kata kasar dan menyiratkan nada ancaman. Sebagai dasar dari alasan pihak Rupiah Plus menghubungi Ali adalah karena nama Ali dicantumkan sebagai
9 Perdana, “Standar Penagihan”, dalam https://www.perdana.ai/collection, diakses pada 28 Mei 2019.
10 Pingit Aria, “Akses Kontak Debitur, Cara Rupiah Plus Tagih Utang Dipertanyakan”, dalam https://katadata.co.id/berita/2018/07/02/akses-kontak-debitor-cara-rupiah-plus-tagih-hutang-dipertanyakan, diakses pada 03 Maret 2019.
64
emergency contact atau kontak darurat yang bisa dihubungi untuk transaksi pinjam meminjam uang online ini. Padahal, setelah Ali mengkonfirmasi langsung kepada Satria, namanya tidak pernah dicantumkan sebagai kontak darurat.11
Tidak berhenti hanya pada Ali saja selaku korban yang diteror, namun kepada masyarakat lain. Keluhan yang disampaikan para pengguna Rupiah Plus bertebaran di media sosial serta media informasi. Salah satunya adalah Rabiatul Adawiyah salah satu peminjam Rupiah Plus yang mengeluhkan masalahnya pada situs media konsumen, disitu dia bercerita bahwa memiliki pinjaman di aplikasi Rupiah Plus yang sekarang berubah nama menjadi Perdana.
“Awalnya saya selalu bisa bayar sebelum jatuh tempo. Tapi bulan ini saya malah dapat musibah sehingga saya belum bisa bayar tagihannya. Saya telat 11 hari, dan pihak debt collector Perdana malah mengancam akan menelepon kontak-kontak di handphone saya dan debt collector lapangan juga akan datang ke alamat kantor dan rumah saya.” Kata Rabiatul Adawiyah dalam situs media konsumen. Dia juga menjelaskan telah menghubungi customer service mereka dan
11 Dea Chadiza Syafina, “Kasus Rupiah Plus, Saat Urusan Utang Meneror Data Pribadi”, dalam https://tirto.id/kasus-rupiahplus-saat-urusan-utang-meneror-data-pribadi-cNVl, diakses pada 03 Maret 2019.
65
menjelaskan masalahnya dan berkata akan membayarnya lewat cicilan, namun mereka tidak mau tahu dan berkata harus melunasinya.12
Akibat dari maraknya keluhan nasabah pinjaman online terhadap perilaku para penagih hutang, membuat Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta membuka posko pengaduan untuk menampung keluh kesah para nasabah pinjaman online. Tidak sedikit masyarakat pengguna pinjaman online yang mengadu perihal bunga yang sangat tinggi hingga penagihan yang dilakukan oleh pinjaman online, dalam hal ini bukan hanya Rupiah Plus saja. Diakses dari Republika.co.id sampai februari 2019 tercatat lebih dari 3000 aduan yang diterima LBH Jakarta.13
Bukan hanya Ali dan Rabiatul Adawiyah saja yang menerima perlakuan yang kurang baik dari pihak debt collector Rupiah Plus, melainkan masih banyak nasabah atau peminjam yang diperlakukan sedemikian. Permasalahan tersebut masuk dalam meja OJK, dan telah terpapar dalam surat kabar online dari beberapa media seperti detikFinance, Tirto.id, CNN Indonesia, Media Konsumen, serta telah diterima beberapa aduan yang masuk ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).
Menurut Bimo Adhiprabowo selaku Direktur Rupiah Plus, penagihan utang tersebut diantaranya dilakukan dengan cara
12 Rabiatul Adawiyah, “Penagihan Rupiah Plus (Perdana) atas Keterlambatan Pembayaran”, dalam https://mediakonsumen.com/2018/12/30/surat-pembaca/penagihan-rupiah-plus-perdana-atas-keterlambatan-pembayaran, diakses pada 28 Februari 2019.
13 Lit Septyaningsih, “LBH Terima Pengaduan Soal Pinjaman Online Lebih 3000 Kasus”, dalam https://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/19/02/04/pmesb7384-lbh-terima-pengaduan-soal-pinjaman-online-lebih-3000-kasus, diakses pada 20 Juni 2019.
66
menghubungi kontak darurat yang diberikan oleh debitur maupun menghubungi pihak-pihak terkait yang terdapat di daftar kontak maupun catatan panggilan telepon milik debitur.14Salah satu organisasi masyarakat Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) sudah menerima aduan dari konsumen yang merasa dirugikan dari cara penagihan Rupiah Plus. Cara penagihan seperti itu dianggap melanggar keamanan dan privasi data pengguna. Abdul Basith selaku Staff Bidang Pengaduan dan Hukum YLKI sudah meneliti syarat dan ketentuan dari Rupiah Plus mengenai hal terkait dan tidak disebutkan tentang metode penagihan yang menyasar kontak-kontak pada ponsel penggunanya.15
Perusahaan aplikasi ini memang dapat mengakses nomor kontak di handphone penggunanya untuk kemudian melakukan konfirmasi penagihan. Dalam detikFinance dijelaskan bahwa setelah aplikasi Rupiah Plus terpasang dan dapat dibuka, aplikasi ini memang langsung meminta izin untuk mengakses lima hal, yakni lokasi perangkat, kontak, melakukan dan mengelola panggilan telepon, mengirim dan melihat pesan sms, serta mengakses foto, media dan file di perangkat.
Serangkaian izin tersebut menjadi syarat agar aplikasi dapat digunakan. Karena, tampilan layar pertama kali pada saat membuka
14 Dea Chadiza Syafina, “Kasus Rupiah Plus, Saat Urusan Utang Meneror Data Pribadi”, dalam https://tirto.id/kasus-rupiahplus-saat-urusan-utang-meneror-data-pribadi-cNVl, diakses pada 03 Maret 2019.
15 Andri Donnal Putera, “YLKI Sudah Terima Aduan Soal Penagihan Acak Fintech Rupiah Plus”, dalam https://ekonomi.kompas.com/read/2018/06/30/133200026/ylki-sudah-terima-aduan-soal-penagihan-acak-fintech-rupiah-plus, diakses pada 02 Mei 2019.
67
aplikasi adalah himbauan agar menyetujui semua perizinan tersebut guna memastikan kelancaran peminjaman.16