• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

C. Prosedur Penelitian dan Pengembangan

Terdapat tahapan atau proses yang membentuk alur yang selaras ketika menciptakan produk baru berdasarkan kebutuhan yang ada di lapangan. Ada tiga hal yang mendasari penelitian R & D ini ialah : “ Pertama penelitian R & D ini memiliki tujuan akhir untuk menghasilkan produk yang dianggap handal dikarenkan telah melewati proses pengkajian yang dilakukan secara berkelanjutan, Kedua produk- produk yang diciptakan berdasarkan keperluan yang ada dilapangan, karena ketika hendak membuat produk-produk baru dilakukan survey lapangan terlebih dahulu & terakhir pada pengembangan produk dari awal hingga akhir produk jadi, produk divalidasi secara ilmiah dengan data dan kemudian dianalisis secara empiris”.79

79

Wina Sanjaya, Penelitian Pendidikan, ( Jakarta: Kencana Prenada Media Grup Cet 2.2014),h.130

Model pengembangan produk yang digunakan oleh peneliti ialah pengembangan produk yang dikembangkan oleh Borg and Gall. Borg and Gall menyatakan “research and development ( R & D) dalam pendidikan meliputi sepuluh langkah”.sepuluh tahapan-tahapan penelitiannya dapat dilihat pada gambar di bawah ini sebagaia berikut:

Gambar 3.1

Langkah-langkah penggunaan metode Researh and Development (R&D) Menurut Borg & Gall

Peneliti menyederhanakan dan membatasi tahapan penelitian dan pengembangan menjadi tujuh tahapan saja dari sepuluh langkah dalam penelitian & pengembangan oleh Borg & Gall. Peneliti melakukan pengembangan produk ini dilakukan dengan mengikuti prosedur-prosedur yang dikembangkan oleh Borg and Gall, adapun ke 7 langkah-langkah tersebut ialah : “Research and

Preliminary field testing Develop preliminary formof product Operational filed testing Dissemination and implementasion Final product revision Planning Research and Information collecting Operational product revision Main product revision Main field testing

information collecting (studi pendahuluan) planning (perencanaan penelitian), develop preliminary form of product ( Pengembangan desain), preliminary field testing (uji coba pendahuluan atau terbatas), main product revision ( revisi hasil uji lapangan terbatas), main field testing (uji coba produk lebih luas ) operational product revision (revisi hasil uji coba lapangan lebih luas)”. Adanya pembatasan pada tahapan pengembangan ini sesuai dan sejalan dengan pendapat Borg and Gall menyatakan dan memberi saran untuk peneliti jenjang S1, proses penelitian dapat dibatasi dalam skala kecil yaitu ketika telah menghasilkan produk yang kemudian akan diuji coba terbatas dan memungkinkan untuk dapat membatasi proses tahapan penelitian pengembangan.80 Penelitian dan pengembangan produk ini dilakukan dengan beberapa tahapan sebagai berikut:

1. Studi Pendahuluan (Research and Information Collecting)

Pertama peneliti melakukan studi pendahuluan, peneliti akan terjun langsung kelapangan untuk mengidentifikasi, melihat potensi & permasalahan di lapangan dan hasil studi pendahuluan ini dijadikan bahan rujukan ketika mengembangkan produk yang akan dibuat, peneliti kemudian meninjau KI & KD serta menetapkan indikator, dan apa saja tujuan yang akan digapai ketika mengembangkan produk ini, yang dilakukan selanjutnya ialah studi pustaka yakni mengumpulkan pokok bahasan, sub materi dan segala hal yang berhubungan papa penelitian ini.

80

2. Tahap Perencanaan Penelitian (Planning)

Mempersiapkan materi yang akan dibahas yang diperoleh dari beberapa sumber yang terpercaya sesuai dengan kurikulum yang ada di lapangan. Selanjutnya mencetuskan indikator, tujuan yang ingin dicapai berdasarkan KI,KD yang sesuai dengan sub-sub materi ketika penelitian.

3. Tahap Pengembangan Produk (Develop Preliminary of Product) a. Mengalisis kebutuhan modul

Proses penjabaran suatu kompetensi yang berfungsi sebagai penentu modul yang yang dibutuhkan guna untuk mencapai suatu kompetensi tertentu merupakan kegiatan analisis kebutuhan modul. Adapun tahapan-tahapan untuk menjabarkan apa saja yang dibutuhkan modul ialah sebagai berikut :

1) Peneliti memilih terlebih dahulu kompetensi & garis-garis besar program pembelajaran yang kemudian dikembangkan menjadi modul.

2) Peneliti menentukan & mengidentifikasi ruang lingkup dan kompetensi apa saja yang ingin digapai.

3) Peneliti mengidentifikasi serta menetapkan keterampilan, pengetahuan & sikap yang disyaratkan.

4) Memilih judul modul 5) Penyusunan Draf

Peneliti menguraikan materi pelajaran terlebih dahulu dari satu kompetensi maupun sub kompetensi ke dalam satu kesatuan yang terstruktur

dan runtut sebelum melakukan penyusunan draf. Setelah menguraikan materi pelajaran dilakukan penyusunan draf adapun langkah-langkahnya sebagai beriku:

a) Judul modul ditetapkan

b) Peneliti memantapkan tujuan akhir yang ingin digapai peserta didik setelah selesai mempelajari modul

c) Menentukan keahlian yang khas yang dapat mendukung tujuan akhir d) Membuat outline atau garis besar modul

e) Materi pada garis- garis besar dikembangkan f) Draf yang dihasilkan kemudian diperiksa ulang g) Draf modul dihasilkan.

4. Tahap Validasi dan Uji Coba Terbatas (Preliminary Field Testing)

Membuat kisi-kisi instrument berlandaskan pada standard yang disinkronkan pada bagian penilaian seperti untuk ahli bahasa, ahli bahan ajar, ahli materi, dan ahli agama Islam. Yang dipakai untuk penilaian yaitu lembar validasi. Lembar validasi atau instrument digunakan untuk mengetahui kelayakan modul berbasis inkuiri terbimbing sebagai bahan ajar yang diharapkan dapat memberdayakan kreativitas belajar peserta didik pada materi pencemaran ingkungan sesuai dengan pemberian nilai ahli bahan ajar, ahli bahasa, ahli materi dan ahli agama Islam.

Ahli materi menilai dan memeriksa aspek-aspek kandungan tentang kesesuaian materi atas kurikulum, kejelasan, keselarasan, kebenaran,

kesederhanaan, kesetrukturan, kecakupan isi produk ataupun aspek kebahasaan yang ada pada mata pelajaran pencemaran lingkungan. Sedangkan untuk ahli bahan ajar menilai serta mengkaji aspek kualitas desain dan aspek tampilan modul sebagi bahan ajar pembelajaran biologi. Kemudian ahli bahasa yang mengkaji semua aspek kebahasaan yang ada pada modul dan ahli agama Islam menilai aspek keterkaitan antara materi modul dengan Al-Qur’an dan Hadits

serta nuansa-nuansa Islami yang ada di dalam produk.

5. Revisi Hasil Uji Lapangan Terbatas ( Main Product Revision)

Peneliti melakaukan perbaikan produk sesuai dengan saran dan hasil yang diperoleh dari penilaian ahli materi, ahli bahan ajar, ahli agama Islam dan ahli bahasa dimana penilaian ini didapatkan ketika uji tes lapangan terbatas. Revisi dilakukan secara terus menerus hingga produk dinyatakan layak & valid.

6. Uji Coba Produk Secara Luas ( Mian Field Test)

Setelah merevisi produk selanjutnya diuji cobakan kelapangan, hal ini dilakukan sebagai upaya untuk melihat penilaian, respon & tanggapan dari responden terhadap produk yang dikembangkan apakah sudah layak apa belum & bandingkan dengan bahan ajar yang telah digunakan guru selama ini. Pengujian produk ini dilakukan dengan 2 uji coba yaitu uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan.81

81

a. Uji Coba Kelompok Kecil ( Small Group Evaluation)

Pada uji ini akan dilakukan pada 12 peserta didik. Penilaian ini menggunakan angket aspek penggunaan yang berisi beberapa standar pertanyaan. Angket yang sama diberikan kepada semua responden. Ketika melakukan uji coba kelompok kecil terdapat saran perbaikan dari responden maka peneliti konsultasi kepada pembimbing tentang rekomendasi, saran perbaikan, sesudah melaksanakan perombakan maka dapat melanjutkan uji berikutnya uji coba lapangan yaitu uji coba terakhir.

b. Uji Coba Lapangan Lebih Luas (Field Evaluation)

Pada uji coba lapangan lebih luas peneliti mengujicobakan di 3 sekolah MTs/SMP yang ada di Lampung. Uji coba ini tiap reponden diberikan angket yang sama yang berisi aspek kegunaan dan terdiri beberapa kriteria pertanyaan.

7. Revisi Uji Coba Lapangan Lebih Luas ( Operational Product Revison)

Revisi uji coba lapangan lebih luas ialah langkah untuk memperbaiki & penyempurnaan produk sesuai dengan hasil penilaian yang didapat pada uji lapangan lebih luas, yang diperoleh dari hasil akhir berupa produk baru berbentuk bahan ajar modul bernuansa islami serta berbasis inquiry terbimbing yang dapat di gunakan sebagai bahan pembelajaran yang dapat memberdayakan kreativitas belajar pada materi pencemaran lingkungan. Ketika pendidik maupun peserta didik menyatakan produk ini menarik ataupun sangat menarik, dari segi keefektifannya lebih efektif,menarik dan bermanfaat bagi proses pembelajaran

dari pada sebelumnya, serta bahan ajar menunjukkan adanya nuansa islami berbasis inkuiri terbimbing ternyata maka dapat dikatakan bahwa bahan pembelajaran ini telah selesai dikembangkan sehingga menghasilkan produk akhir. Tetapi ketika produk yang dikembangkan tidak sempurna, tidak menarik maka hasil penilaian dari uji coba ini akan dijadikan sebagai bahan perbaikan dan penyempurna bahan ajar yang dibuat ini, untuk mendapatkan hasil produk akhir yang siap dipergunakan di sekolah.