• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DATA DAN ANALISIS

A. Prosedur Penelitian

VI. Langkah Pembelajaran :

Indikator Pengalaman belajar

VII. Sarana dan Sumber Belajar : 1. 2. Dst. VIII. Penilaian a. Prosedur b. Soal – Soal. 1.2 Hand-Out Pembelajaran

Hand-Out pembelajaran berisi materi yang akan dipelajari siswa dan kegiatan yang akan dilakukan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Hand-Out disusun berdasarkan Silabus. Hand-Out tersebut dapat dilihat pada lampiran (2).

2. Instrumen pengumpulan data

Instrumen ini adalah instrumen yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan sesuai dengan tujuan penelitian yang dilaksanakan. Dalam penelitian ini instrumen tersebut adalah lembar observasi keterlibatan siswa, lembar observasi guru, soal pre-test, soal post-test, kuisioner sikap siswa pada metode Jigsaw.

2.1 Soal Pre-Test

Pre Test dilakukan sebelum proses pembelajaran. Pre-test dimaksudkan juga untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang akan diajarkan dan untuk melihat apakah ada perbedaan kemampuan awal siswa. Hasil Pre-test juga dipakai sebagai dasar pembagian kelompok disamping melihat nilai raport karena dalam pembagian kelompok dipastikan bahwa setiap kelompok harus mempunyai seseorang atau dua orang yang dianggap mampu menguasai materi tersebut yang selanjutnya disebut “tutor kelompok”. Bentuk soal-soal Pre-Test adalah essay.

Aspek-aspek yang akan diukur adalah ingatan, pemahaman dan penerapan atau aplikasi. Distribusi soal berdasarkan aspek-aspek yang akan diukur dapat dilihat pada lampiran (3).

2.2 Soal Post-Test

Post Test diberikan setelah proses pembelajaran berlangsung. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah penggunaan metode Jigsaw lebih efektif dibandingkan metode konvensional yang lazim digunakan dan untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil pembelajaran yang dicapai setiap kelompok yakni kelompok tutor dan bukan tutor. Bentuk soal Post-Test adalah essay.

Penyusunan soal baik untuk Pre-Test maupun Post-test berdasarkan kriteria siswa dalam memahami konsep yakni sebagai berikut.

1. Kemampuan siswa dalan mendefenisikan konsep dengan kalimatnya sendiri. 2. Kemampuan siswa dalam menghubungkan konsep yang satu dengan yang lain. 3. Kemampuan siswa dalam menghubungkan arti konsep yang telah dipelajari

dengan kehidupan sehari-hari.

Distribusi soal Post-Test menurut aspek dapat dilihat pada lampiran (4).

Penelitian ini menggunakan dua kelas yakni kelas eksperimen dan kelas kontrol. a. Kelas Eksperimen

Kelas eksperimen diberi perlakuan pembelajaran dengan metode Jigsaw. Pada penggunaan metode Jigsaw peneliti membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil dan siswa belajar bersama dalam kelompoknya. Dengan asusmsi-asumsi variabel kontrol yang sama maka perlakuan pada kelas eksperimen bertujuan untuk mengetahui apakah metode Jigsaw dapat meningkatkan pemahaman siswa pada konsep Gerak.

b. Kelas kontrol

Pada kelas ini ketika penelitian berlangsung metode pembelajaran yang digunakan adalah metode konvensional. Metode konvensional adalah metode yang lazim dipakai guru ketika menyajikan materi dalam proses pembelajaran. Kelas kontrol dipakai sebagai pembanding dalam penelitian dan diberi perlakuaan pembelajaran dengan metode konvesional sebagaimana selama ini biasa berlangsung.

Kedua kelas itu terlebih dahulu diberi tes awal (Pre-Test) sebelum materi diberikan. Hal ini dimaksudkan untuk melihat kemampuan awal siswa dan mengetahui apakah ada peningkatan pemahaman konsep dalam diri siswa setelah proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan metode Jigsaw. Tes awal (Pre-Test) ini dimaksudkan

untuk mengetahui apakah kemampuan kedua kelas sampel berbeda secara signifikan atau tidak.

Jika keadaan awal siswa tidak berbeda secara signifikan maka langkah selanjutnya adalah pemberian perlakuan pembelajaran dengan metode Jigsaw pada kelas eksperimen dan perlakuan pembelajaran dengan metode konvensional pada kelas kontrol.

Setelah kedua kelas sampel dengan masing-masing perlakuaan mengikuti kegiatan pembelajaran fisika tentang Gerak, langkah selanjutnya adalah pemberiaan Tes Prestasi belajar fisika (Post-Test). Hasil dari tes belajar fisika (Post-Test) pada materi Gerak dibandingkan dengan hasil Pre-Test untuk mengetahui apakah ada peningkatan pemahaman siswa mengenai konsep Gerak dalam pembelajaran menggunakan metode Jigsaw. Juga dari hasil Post Test tersebut dapat dilihat perbedaan peningkatan pemahaman antara kelompok yang terlibat dalam pembelajaran menggunakan metode Jigsaw yakni kelompok tutor dan bukan tutor.

Hasil dari tes belajar fisika (Post-Test) kemudian dibandingkan untuk menentukan apakah perlakuan pada kelas eksperimen menghasilkan hasil yang lebih baik dibandingkan kelas kontrol. Hasilnya dapat diuji dengan melakukan Tes Uji T.

2.3 Lembar observasi keterlibatan siswa

Instrumen ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana keterlibatan siswa ketika proses pembelajaran menggunakan dua metode pembelajaran yang berbeda. Indikator-indikator keterlibatan siswa pada kelas kontrol seperti (1) memperhatikan penjelasan guru, (2) menanggapi pembahasan pelajaran, (3) mencatat hal-hal penting dari penjelasan dan lain-lain seperti tercantum pada lampiran 5a. Dan indikator untuk kelas eksperimen juga dapat dilihat pada lampiran 5b. Dari lembar observasi keterlibatan siswa ini dapat diketahui proses pembelajaran mana yang lebih maksimal mengaktifkan siswa.

2.4 Kuisioner sikap siswa terhadap metode Jigsaw

Kuisioner ini sebagai evaluasi pada metode pembelajaran menggunakan metode Jigsaw. Dari instrumen ini dapat diketahui bagaimana sikap siwa terhadap metode Jigsaw yang digunakan dalam pembelajaran mengenai konsep Gerak. Kuisioner ini dapat dilihat pada lampiran (6).

H. METODE ANALISIS DATA

Bentuk data dalam penelitian ini berupa angka dan uraian. Proses meneliti data dimulai dengan menelaah seluruh data yang telah dikumpulkan baik dari lembar

observasi keterlibatan siswa, kuisioner sikap siswa terhadap penggunaan metode Jigsaw, maupun kemampuan belajar siswa berupa hasil Pre-Test maupun Post-Test. Hasil dari Pre-Test dibandingkan dengan hasil Post-test untuk melihat peningkatan pemahaman siswa mengenai konsep Gerak.

1. Analisis kuantitatif hasil Pre-Test dan Post-Test

Prestasi belajar pada soal Pre-test dan Post-test dinyatakan dengan nilai. Sistem penilaian yang digunakan yaitu dengan menggunakan skor yang diperoleh siswa ketika tes. Penentuan skor untuk tiap soal berdasarkan tingkat kesulitan soal tersebut. Skor untuk tiap soal dapat dilihat pada Silabus (lampiran 1).

2. Analisis kualitatif peningkatan pemahaman konsep Gerak dari hasil jawaban Pre-test dan Post-test.

Hasil jawaban siswa untuk Pre-Test dan Post-Test dianalisis dengan acuan konsep ideal yang harus dipahami oleh setiap siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.

Analisis data dalam penelitian ini melewati dua tahap. Tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut.

a. Mengelompokkan variasi jawaban setiap soal. Variasi jawaban untuk soal baik Pre-Test maupun Post-Test dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1 . Variasi jawaban untuk soal baik Pre-Test maupun Post-Test

No Soal

Variasi jawaban Jumlah siswa Jumlah siswa(%)

Jumlah

---

---

b. Mendeskripsikan jawaban setiap soal menurut aspek yang termuat dalam indikator. Pemahaman siswa terhadap setiap konsep dikualifikasi menjadi 5 macam yaitu sangat baik, baik, cukup, kurang dan sangat kurang berdasakan hasil belajar siswa (Post-Test). Hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2 . Kualifikasi pemahaman setiap konsep. Jumlah jawaban yang

benar Kualifikasi pemahaman siswa ≥84,50 70,00 – 84,49 60,00 – 60,99 25,50 – 50,49 ≤25,49 Sangat Tinggi Tinggi Cukup Kurang Tinggi

Sangat Kurang Tinggi

Untuk melihat apakah ada peningkatan pemahaman siswa dapat dilihat pada penurunan persentase jawaban siswa yang tidak lengkap dan jawaban tidak tepat (miskonsepsi) pada Post-Test dibandingkan dengan pada Pre-Test. Hal tesebut dapat dilihat pada format tabel berikut.

Tabel 3 : Kualifikasi pemahaman siswa

Kualifikasi pemahaman Kulifikasi pemahaman

No Konsep Pre-Test Post-Test Tidak lengkap Miskonsepsi Tidak lengkap Miskonsepsi

c. Melihat apakah ada perbedaan pemahaman konsep pada kelompok yang terlibat sebagai kelompok tutor dan bukan tutor pada kelas eksperimen Untuk menganalisis data prestasi belajar aspek produk fisika, dilakukan dengan uji -T antara data prestasi belajar aspek produk siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran menggunakan metode Jigsaw yakni kelompok tutor dan bukan tutor dapat dilihat dari perolehan skor ketika tes hasil belajar yakni Post-Test dan dibandingkan dengan siswa lain yang bukan tutor menggunakan analisis Uji-T. Uji T tersebut menggunakan signifikansi perbedaan nilai Post antara kedua kelompok adalah sebagai berikut.

1. Standar error/deviasi dari dua kelompok : 1 ) ( 1 − − =

n X X S

2. T observasi, dapat dihitung dengan rumus :

2 2 2 1 2 1 1 2 ) ( n S n S X X Tobservasi − − =

Indek 1menunjukkan kelompok tutor Indek 2 menunjukkan kelompok bukan tutor

BAB IV

DATA DAN PEMBAHASAN

A. Prosedur Penelitian

Dalam rangka penelitian untuk mengetahui apakah metode Jigsaw efektif dipakai dalam kegiatan belajar mengajar pada konsep Gerak di kelas XI IPA peneliti melalui tahap-tahap sebagai berikut.

A.1. Kegiatan Observasi kelas.

Sebelum melaksanakan penelitian peneliti mengobservasi kegiatan belajar mengajar di kelas. Hal ini bertujuan sebagai bahan acuan peneliti dalam penggunaan variasi metode mengajar yang biasa dipakai guru dan mengobservasi suasana dan kondisi kelas. Agar ketika mengajar nanti peneliti sudah mempunyai pandangan tentang manajemen kelas dan berusaha membuat pendekatan penggunaan metode mengajar dalam kegiatan belajar mengajar sebagaimana biasa berlangsung. Pada kesempatan ini juga peneliti memperkenalkan diri sebagai peneliti di sekolah khususnya di kelas tersebut.

Kegiatan observasi kelas ini berlangsung pada tanggal : • Kelas XI IPA A : 21 Juli 2006 dan 22 Juli 2006 • Kelas XII IPAB : 19 Juli 2006 dan 21 Juli 2006 Lembar observasi ini dapat dilihat pada lampiran (7).

A.2. Pre-Test

Untuk kedua kelas diberi Pre-Test dengan soal yang sama dan berlangsung pada: • Untuk kelas kontrol (XI IPA A) : 29 Juli 2006.

• Untuk kelas eksperimen (XI IPA B) : 31 Juli 2006. A.3. Proses Belajar Mengajar.

Pada penelitian ini, peneliti dibantu oleh tiga observer. Observer ini bertugas untuk mengamati dan mencatat semua kegiatan tiap siswa dalam kelas selama proses pembelajaran berlangsung baik untuk kelas kontrol maupun kelas eksperimen. Secara lebih rinci aspek yang diamati tersebut dapat dilihat pada lembar observasi dalam lampiran (5).

• Kelas Kontrol

Di kelas kontrol, peneliti menggunakan metode konvensional dalam menyajikan materi. Metode konvensional adalah metode yang biasa dipakai oleh guru setempat ketika menyajikan materi. Di kelas kontrol peneliti mengajar dengan jumlah Jam Pelajaran total 18 JP untuk materi Gerak. Berdasarkan jadwal sekolah, pelajaran Fisika berlangsung tiap hari Jumat 3 JP (jam 1- 3 ) dan hari Sabtu 2 JP (jam 5-6 ).

Adapun rincian jadwal kegiatan belajar mengajar di kelas kontrol ini dapat dilihat pada lampiran (8).

• Kelas Eksperimen

Di kelas eksperimen peneliti menggunakan metode Jigsaw dalam menyajikan materi. Jumlah jam pelajaran total pembelajaran untuk kelas eksperimen adalah 20 JP. Berdasarkan jadwal pelajaran Fisika 3 JP pada hari Senin (jam 1-3 ) dan 2 JP pada hari Selasa (jam 5 – 6 ).

Adapun kegiatan belajar mengajar di kelas eksperimen ini dapat dilihat pada lampiran (9).

Kegiatan belajar mengajar pada kelas ini mempunyai prosedur atau langkah-langkah tersendiri. Langkah-langkah-langkah pembelajaran dengan metode Jigsaw adalah sebagai berikut.

1) Persiapan (±5’):

− Siswa dikelompokkan secara acak dan mereka masuk dalam kelompok yang telah ditentukan.

− Tutor yang telah ditentukan membagi hand out pada anggota kelompoknya.

2) Mempelajari hand-out (±10’)

3) Para tutor kelompok berkumpul dan berdiskusi (±20’)

4) Tutor kembali ke masing-masing kelompok dan menjelaskan pada anggota kelompoknya (20’)

5) Kelompok presentasi yang ditentukan secara serta merta mempresentasikan hasil diskusinya (15’)

6) Diskusi untuk kelas besar (25’).

Pembagian para tutor dan kelompok presentasi ketika proses pembelajaran dapat dilihat pada lampiran (10).

Dalam pelaksanaan ternyata tidak sesuai dengan jadwal yang telah dirancang, waktu yang diperlukan lebih banyak dari desain yang telah dibuat. Untuk menyikapi hal ini, peneliti menambah waktu di luar jam pelajaran yang telah dijadwal pihak sekolah.

Setelah melaksanakan proses belajar mengajar baik kelas kontrol maupun kelas eksperimen diberi Post-Test untuk melihat hasil belajar yang dicapai setelah proses belajar mengajar.

Post-Test untuk kedua kelas dilaksanakan pada hari yang sama yakni pada tanggal 22 Agustus 2006.

Dokumen terkait