BAB IV. METODE PENELITIAN
E. Prosedur Penelitian
1. Pembuatan Ekstrak Daun Kelor
Dipilih daun kelor muda yang telah diperoleh dan diseleksi, dibersihkan sebanyak 10 kg. Daun kelor tersebut dikeringkan pada panas matahari selama 5 hari dan diperoleh 500 g daun kering (simplisia). Simplisia dimasukkan ke dalam alat ekstraksi (maserator kinetik). Proses ekstraksi menggunakan 5 liter pelarut etanol 70%, dilakukan sebanyak 5 kali remaserasi sampai senyawa dalam simpisia terekstraksi secara merata. Ekstraksi dilakukan selama 1 x 24 jam dengan suhu
maksimal 50oC hingga diperoleh ekstrak cair. Ekstrak cair tersebut dipekatkan menggunakan alat evaporator, dan diperoleh hasil ekstrak pekat sebanyak 144,79 gram. Ekstrak ini disimpan di dalam botol tertutup pada suhu 4 oC sampai siap digunakan.
2. Skrining Fitokimia Ekstrak Daun Kelor a. Analisis Skrining Fitokimia (16)
1) Identifikasi Alkaloid
Sejumlah 2 gram serbuk simplisia dilembabkan dengan 5 mL ammonia 30%, digerus dalam mortir, kemudian ditambahkan 20 mL kloroform dan digerus kembali dengan kuat, campuran tersebut disaring dengan kertas saring, diperoleh filtrat berupa larutan organik (larutan A), sebagian dari larutan A (10 mL) diekstraksi dengan 10 mL larutan HCl 1:10 dengan pengocokan dalam tabung reaksi, ambil larutan bagian atasnya (larutan B).
Larutan A disemprot atau diteteskan dengan pereaksi Dragendorff, terbentuk warna merah/jingga pada kertas saring menunjukkan adanya senyawa alkaloid. Larutan B dibagi dalam dua tabung reaksi, ditambahkan masing-masing dengan pereaksi Dragendorff dan Mayer, terbentuk merah bata dengan pereaksi Dragendorff dan endapan putih dengan pereaksi Mayer menunjukkan adanya senyawa alkaloid.
2) Identifikasi Flavonoid
Sejumlah 2 gram serbuk simplisia ditambahkan 100 mL air panas, didihkan selama 5 menit, disaring dengan kertas saring, diperoleh filtrat.
Diambil 5 mL dimasukkan kedalam tabung reaksi, ditambahkan serbuk atau lempeng Mg secukupnya dan 1 mL HCl pekat, tambahkan 5 mL amilalkohol, dikocok dengan kuat, biarkan hingga memisah, warna yang terbentuk dalam larutan amilalkohol menunjukkan adanya senyawa flavonoid.
3) Identifikasi Golongan Saponin
Sebanyak 10 mL filtrat dari percobaan identifikasi flavonoid dimasukkan ke dalam tabung reaksi, dikocok secara vertikal selama 10 detik, kemudian dibiarkan selama 10 menit, terbentuk busa yang stabil dalam tabung reaksi menunjukkan adanya senyawa saponin, bila ditambahkan 1 tetes HCl (1%) encer, busa tetap stabil.
4) Identifikasi Golongan Tanin
Sebanyak masing-masing 10 mL filtrat dari percobaan identifikasi flavonoid dimasukkan ke dalam 2 tabung reaksi:
a) 5 mL ditambahkan beberapa tetes larutan FeCl3 1%, terbentuk warna biru hijau violet.
b) 5 mL ditambahkan beberapa tetes larutan gelatin 1% terbentuk endapan putih, menunjukkan adanya senyawa tanin.
25 mL filtrat yang kedua ditambahkan 7,5 mL pereaksi Stiasny (formaldehid 30%: HCl pekat 2:1), dipanaskan diatas penangas air, terbentuk endapan warna merah muda menunjukkan adanya tanin katekuat. Endapan disaring, filtrat yang diperoleh dijenuhkan dengan serbuk natrium asetat, ditambahkan beberapa tetes larutan FeCl3 1%, terbentuk warna biru tinta menunjukkan adanya tanin galat.
5) Identifikasi Kuinon
Sebanyak 5 mL filtrat dari percobaan identifikasi flavonoid dimasukkan kedalam tabung reaksi, ditambahkan beberapa tetes larutan NaOH 1 N, terbentuk warna merah intensif menunjukkan adanya senyawa kuinon.
6) Identifikasi Golongan Steroid Dan Triterpenoid
Sebanyak lebih kurang 1 gram serbuk simplisia dimaserasi dengan 20 mL eter selama 2 jam dalam wadah dengan penutup rapat, disaring dan diambil filtratnya. 5mL dari filtrat diuapkan dalam cawan penguap hingga diperoleh residu. Ke dalam residu ditambahkan 2 tetes asam asetat anhidrat dan 1 tetes asam sulfat pekat (pereaksi Liebermann-Burchard), terbentuk warna hijau atau merah menunjukkan adanya senyawa steroid atau triterpenoid.
7) Identifikasi Golongan Minyak Atsiri
Sebanyak lebih kurang 2 gram serbuk simplisia dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 10 mL pelarut petroleum eter dan pasang corong (yang diberi kapas yang telah dibasahi air) pada mulut tabung.
Panaskan selama 10 menit di atas penangas air dan dinginkan, saring dengan kertas saring. Filtrat diuapkan pada cawan penguap, residu dilarutkan dengan pelarut alkohol sebanyak 5 mL lalu saring dengan kertas saring. Filtratnya diuapkan dengan cawan penguap, bila residu berbau aromatik menunjukkan adanya senyawa minyak atsiri.
8) Identifikasi Golongan Kumarin
Sebanyak lebih kurang 2 gram serbuk simplisia dimasukkan kedalam tabung reaksi ditambahkan 10 mL kloroform dan pasang corong (yang diberi kapas yang telah dibasahi air) pada mulut tabung. Panaskan 20 menit diatas penangas air dan dinginkan, kemudian disaring, filtratnya diuapkan pada cawan penguap sampai kering, sisanya ditambahkan air panas sebanyak 10 mL, dinginkan, lalu larutan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 0,5 mL ammonia 10%, amati dibawah sinar lampu UV dengan ʎ = 365nm, bila terjadi fluoresensi warna biru atau hijau, biru kehijauan, menunjukkan adanya senyawa kumarin.
3. Pembuatan Pakan Tikus Mengandung Porang Komposisi pakan dengan tepung porang :
Pakan Porang : 60%
Tepung ikan : 20%
Pakan standar BR2 : 15%
Minyak lemak : 5%
Ditimbang semua bahan yang diperlukan yaitu tepung porang, tepung ikan, pakan standar BR2 dan minyak lemak. Kemudian dicampur semua bahan sampai homogen. Setelah itu bahan dimasukkan kedalam mesin pencetak (pelet). Pelet yang keluar dari mesin pencetak didinginkan selama 1 jam.
Pembuatan dilakukan di Laboratorium Industri Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
4. Penetapan Dosis dan Persiapan Larutan a. Acarbose
Obat ini diberikan dalam bentuk suspensi dengan CMC-Na sesuai dosis efektif manusia, yaitu 50 mg. Untuk mencit 20 g, dosis tersebut dikonversi berdasarkan konversi Paget dan Barnes dengan faktor konversi 0,0026 kali dosis manusia, sehingga dosis yang digunakan adalah 0,0026/ 20 g BB mencit = 6,5 mg/kg BB. Untuk penyuntikan dibuat suspensi Acarbose 1% dengan 0,5% CMC Na, sehingga volume penyuntikan adalah 0,65 ml/20 gg BB
b. Ekstrak etanol 70% daun kelor (Moringa oleifera Lam.)
Dosis ekstrak etanol 70% yang diperlukan 420 mg/kg BB (8). = 8,4 mg/20 g BB mencit. Untuk penyuntikan dibuat suspensi ekstrak etanol 70% daun kelor 3%
dengan 0,5% CMC-Na, sehingga voume penyuntikan adalah 0,28/20 g BB c. Kombinasi pakan porang dan ekstrak etanol 70% daun kelor
Didefinisikan sebagai pemberian pakan porang dengan ekstrak kelor dalam satu hari, pakan porang diberikan sebagai pelet dan ekstrak kelor diberikan secara oral dalam bentuk suspensi ekstrak dengan dosis 420 mg/kg BB ekstrak kelor diberikan pagi hari sebelum pemberian pakan setiap harinya.
d. Aloksan
Dosis yang diperlukan untuk induksi hiperglikemia pada tikus adalah 180 mg/kg BB = 3,6 mg/20 g BB. Aloksan diberikan selama 3 hari berturut-turut secara intraperitoneal Untuk penyuntikan dibuat suspensi aloksan 1% dengan 0,5%
CMC Na, sehingga volume penyuntikan adalah 0,36.ml/20 gg BB.
e. Fenofibrat
Digunakan kapsul Fenofibrat 200 mg/hari. Dosis ini kemudian dikonversi menjadi dosis untuk mencit dengan faktor konversi 0,0026 untuk berat badan mencit normal 20 g sehingga diperoleh dosis untuk untuk mencit sebesar 0,52 mg/20 g BB = 26 mg/kg BB. Untuk penyuntikan dibuat suspensi fenofibrat 0,4% dengan 0,5% CMC Na, sehingga volume penyuntikan adalah 0,33ml/20 g BB. Fenofibrat diberikan setiap hari selama 14 hari.
f. Vitamin C
Vitamin C yang diperlukan untuk menurunkan beban oksidatif pada mencit adalah 72 mg/kg BB = 1,44 mg/20 g BB mencit. Untuk penyuntikan dibuat larutan vitamin C 0,5%, sehingga volume penyuntikan adalah 0,288 ml/20 g BB
5. Perlakuan Pemberian Bahan Uji pada Tikus Percobaan Prinsip:
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan desain pretest and post test control group. Semua mencit kecuali kelompok normal diinduksi aloksan dosis 180 mg/kg BB secara intraperitoneal selama tiga hari berturut-turut.
Setelah mencit dalam kondisi diabetes mencit dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok negatif yang tidak diberi perlakuan apapun selain induksi aloksan dosis 180 mg/kg BB secara intraperitoneal, kelompok positif yaitu kelompok yang diberikan acarbose dosis 6,5 mg/kg BB kelompok perlakuan sampel tunggal yaitu kelompok
yang diberikan pakan porang (Amorphophallus muelleri Blume) dalam bentuk pelet 5 gram/hari dan kelompok yang diberikan ekstrak etanol 70% daun kelor (Moringa oleifera Lam.) dosis 420 mg/kg BB, serta kelompok sampel yang diberikan kombinasi keduanya dengan pemberian ekstrak etanol 70% daun kelor kemudian dilanjutkan pemberian pakan porang. Mencit diberi perlakuan yang sesuai selama 14 hari dihitung dari hari ke-12 sampai ke-26. Pada hari ke-0, 11, 19 dan 27 diambil darahnya melalui sinus orbitalis mata mencit kemudian dilakukan pemeriksaan glukosa dengan menggunakan glukometer. Pengukuran trigliserid dan kolesterol menggunakan kit diagnostik, sedangkan pengukuran kadar MDA dilakukan pada hari 0 dan 27 menggunakan metode TBA pada panjang gelombang 532 nm.
6. Pengelompokkan Hewan Uji dan Perlakuan
Mencit yang sudah siap dipakai dibuat hiperglikemia dengan induktor aloksan dosis 180 mg/kg BB secara intraperitoneal selama 3 hari berturut-turut. Mencit di pantau setiap harinya sampai ditetapkan kondisi hiperglikemia. Kondisi hiperglikemia ditetapkan pada hari ke-11. Setelah itu dilakukan pengelompokkan dan diberi perlakuan sesuai kelompoknya selama 14 hari. Pengambilan darah diambil pada hari kondisi sebelum induksi aloksan (hari 0), pada hari kondisi Hiperglikemia (hari ke-11), hari ke-7 setelah perlakuan sampel (hari ke-19) dan hari ke-14 setelah perlakuan sampel (hari ke-27). Pengelompokkan dan perlakuan hewan uji pada tabel berikut ini:
Tabel 4.2. Pengelompokkan dan Perlakuan Hewan Uji
Hari ke-0
Perlakuan Hari ke- 1
sampai hari ke-3 Hari ke-11 Kelompok Hari ke 12 sampai hari ke 26
Ukur
Pakan standar dan air minum
II (Kontrol Negatif)
Diberikan pakan standar dan air minum
III (kontrol Positif)
Diberikan acarbose dosis 6,5 mg/kg BB, pakan standar dan air minum
IV (Pakan Porang)
Diberikan pakan porang dan air minum
V
(Ekstrak Etanol 70%
Daun Kelor)
Diberikan ekstrak etanol 70%
daun kelor dosis 420 mg/Kg BB, pakan standar dan air minum
VI
(Kombinasi IV dan V)
Diberikan pakan porang dan ekstrak etanol 70% daun kelor
7. Pengambilan Darah
Sebelum pengambilan darah mencit dipuasakan terlebih dahulu selama kurang lebih 12 jam. Pengambilan darah hewan coba pada setiap kelompok dilakukan pada hari ke-0, 11, 19 dan 27. Darah diambil melalui sinus orbitalis mata mencit.
Pengukuran glukosa darah dengan menggunakan glukometer. Data dianalisis dengan cara membandingkan profil kurva hubungan antara kadar gula darah terhadap waktu pada hari pengamatan. Kemudian, membandingkan rata-rata kadar glukosa darah dan berat badan mencit yang dianalisis secara statistik menggunakan SPSS 23.0.
a. Pengambilan darah
Pengambilan darah mencit dari setiap kelompok dilakukan pada hari ke-0, 11, 19 dan 27. Sebelum pengambilan darah mencit dipuasakan terlebih dahulu selama kurang lebih 12 jam. Darah diambil melalui sinus orbitalis mata menggunakan pipa kapiler sebanyak lebih kurang 0,5 mL. Darah kemudian ditampung dalam tabung eppendorf yang berisi EDTA sebagai antikoagulan, selanjutnya darah disentrifugasi selama 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm.
Kemudian diambil bagian plasmanya, di aliquout dan di simpan pada suhu -20°C. Penetapan kadar kolesterol total dan trigliserida darah menggunakan alat Microlab 300. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan SPSS 23,0.
b. Penetapan kadar kolesterol total dalam plasma darah 1) Prinsip
Kadar kolesterol total ditetapkan dengan metode kolorimetri enzimatik dengan kolesterol esterase, kolesterol oksidase, dan peroksidase sebagai katalis indikator reaksi (49). Jumlah sampel, standard dan reagen kolesterol yang dibutuhkan tercantum pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3. Cara Kerja Penetapan Kadar Kolesterol Total
Blangko (µL) Standar (µL) Sampel (µL)
Aqua destilasi 10 - -
Standar - 10 -
Sampel - - 10
Reagen 1000 1000 1000
2) Cara kerja
Campuran sampel plasma/ balangko/ standar dengan larutan reagen kolesterol, diinkubasi selama 10 menit pada suhu 20-25°C. Kemudian dilakukan pengukuran kolesterol total pada panjang gelombang 500 nm.
c. Penetapan kadar trigliserida dalam plasma darah 1) Prinsip
Kadar trigliserida ditetapkan dengan metode kolorimetri enzimatik menggunakan GPO (gliserol-3-fosfat oksidase) (50). Jumlah sampel, standard dan reagen trigliserida yang dibutuhkan tercantum pada Tabel IV.3.
Tabel 4.4. Cara Kerja Penetapan Kadar Trigliserida
2) Cara kerja
Campuran sampel plasma/ balangko/ standar dengan larutan reagen kolesterol, diinkubasi selama 10 menit pada suhu 20-25°C. Kemudian dilakukan pengukuran trigliserida darah mencit pada panjang gelombang 500 nm.
8. Pengambilan Sampel Darah
Pengambilan darah mencit dari tiap kelompok dilakukan pada hari ke-0, dan 18. Darah diambil melalui sinus orbitalis mata menggunakan pipa kapiler sebanyak lebih kurang 1 mL. Darah kemudian ditampung ke dalam tabung eppendorf yang telah berisi antikoagulan EDTA, darah yang diperoleh disentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit. Setelah terpisah, 200 μL lapisan atas (plasma) yang berwarna kuning jernih dipisahkan ke dalam tabung eppendorf dan disimpan pada suhu -200C. Pengukuran kadar MDA dilakukan secara simultan setelah didapatkan seluruh sampel penelitian.
Blangko (µL) Standar (µL) Sampel (µL)
Aqua destilasi 10 - -
Standar - 10 -
Sampel - - 10
Reagen 1000 1000 1000
9. Pengukuran Kadar MDA
Kadar MDA plasma yang diukur menurut metode Wills. 200 μL larutan plasma ditambahkan 1 mL trikloroasetat (TCA) 20% dan 2 mL asam tiobarbiturat (TBA) 0,67%. Larutan dicampur homogen dan dipanaskan di atas penangas air dengan suhu 90-100°C selama 10 menit. Setelah dingin di sentrifuge pada 3000 rpm selama 10 menit. Filtrat yang berwarna merah muda diukur serapannya dengan panjang gelombang 532 nm menggunakan spektrofotometer UV-VIS. Kadar MDA dihitung dengan menggunakan kurva baku MDA dengan konsentrasi 0; 0,005; 0,01; 0,02;
0,04; 0,08; 0,16; 0,32, dan 0,64 nmol/ml. Kurva baku dibuat dengan menggunakan larutan tetraetoksipropan (TEP) dengan konsentrasi yang sama yang kemudian direaksikan dengan TCA 20% dan TBA 0,67% dengan cara yang sama seperti pada sampel.
BAB V
HASIL DAN LUARAN PENELITIAN
A. Karakterisasi Daun Kelor 1. Determinasi Tanaman
Tanaman daun kelor dideterminasi di Herbarium Bogoriense, Bidang Botani Pusat Penelitian Biologi-LIPI Cibinong Bogor untuk memastikan kebenaran dari tanaman tersebut. Hasil identifikasi atau determinasi tumbuhan menunjukkan bahwa daun kelor yang digunakan dalam penelitian ini adalah benar daun kelor (Moringa oleifera Lam.).
2. Skrining Fitokimia
Hasil identifikasi senyawa fitokimia pada sampel tersaji pada tabel berikut
Tabel 5.1. Hasil Uji Identifikasi Senyawa Fitokimia
Sampel
Alkaloid Flavonoid Tanin Galat Tanin Katekuat Triterpenoid Steroid Kuinon Minyak Atsiri Saponin Kumarin
Daun kelor - + - - + - - + + -
Keterangan: + = Positif; - = Negatif
Berdasarkan hasil identifikasi senyawa fitokimia pada tabel hasil daun Moringa oleifera L., sampel mengandung senyawa flavonoid, triterpenoid, minyak atsiri, saponin dan fenolik. Berdasarkan hasil penelitian Christoper (17) kandungan senyawa fitokimia pada teh daun Moringa oleifera L. didapat hasil yang sama.
B. Profil Rata-rata Berat Badan Mencit Sebelum dan Sesudah Perlakuan
Penimbangan berat badan selama perlakuan dilakukan pada hari ke-11, 19 dan 27 setiap kali sebelum dilakukan pengecekan glukosa darah. Data pengamatan berat badan rata-rata mencit digambarkan dalam bentuk grafik seperti di bawah ini:
Gambar 5.1. Grafik Pengamatan Rata-rata Berat Badan Mencit
Dari data pengamatan dalam bentuk grafik seperti diatas secara garis besar dijelaskan bahwa pada hari ke-11 (kondisi diabetes) mengalami penurunan berat badan kecuali kelompok normal yang tidak mengalami hiperglikemia kemudian mengalami pertambahan berat badan setelah diberikan perlakuan sampai hari ke-19. Pada hari ke-19 khususnya pada kelompok porang serta kombinasinya mengalami peningkatan berat badan sedangkan hari ke-27 kelompok porang mengalami penurunan berat badan yang stabil. Dari grafik 5.1 dan tabel 5.1 Dapat dilihat profil peningkatan dan penurunan berat badan mencit masing-masing kelompok
Tabel 5.2. Data Pengukuran Rata-rata Berat Badan Mencit Selama Penelitian
Kelompok
Kadar Rata-rata Berat Badan Mencit (gram) Waktu Pengukuran
** : rata-rata dari semua mencit yang diinduksi (diabetes) Keterangan :
I : Mencit kontrol normal sehat (pakan standar)
II : Mencit kontrol negatif (diabetes dengan pakan standar)
III : Mencit kontrol positif (diabetes dengan pengobatan acarbose dosis 6,5 mg/kg BB dan pakan standar)
IV : Mencit diabetes dengan pakan porang 5 gram/hari tiap mencit
V : Mencit diabetes dengan ekstrak etanol 70% daun kelor dosis 420 mg/kb BB dan pakan standar VI : Mencit diabetes dengan pakan porang dan ekstrak etanol 70% daun kelor
Tabel 5.2 merupakan data pengukuran rata-rata berat badan mencit selama penelitian. Berat badan mencit yang digunakan pada penelitian ini berkisar antara 20-30 gram. Hasil rata-rata berat badan semua mencit pada hari ke-0 sebesar 24,4 ± 1,2 gram.
Berat badan mencit tersebut memenuhi rentang berat badan yang digunakan. Pada hari ke-11 (keadaan diabetes) didapatkan rata-rata berat badan mencit sebesar 23,3 ± 1,0 gram. Hasil penurunan berat badan ini terjadi karena penginduksian aloksan dosis 180 mg/kg BB mencit secara intraperitoneal selama 3 hari berturut-turut. Kemudian berat badan mencit mengalami peningkatan pada hari ke-19 didapatkan rata-rata berat badan mencit berkisar antara 25,3 ±2,7 – 25,7 ±3,8 gram. Setelah perlakuan sampai pada hari ke-27 pada kelompok perlakuan sampel terjadi peningkatan berat badan kembali dengan rata-rata berkisar antara 22,1 ± 2,9 – 24,9 ± 2,5 gram sedangkan pada kelompok porang mencit tidak mengalami peningkatan tetapi berat badan mencit kembali normal seperti sebelum diinduksi aloksan. Kelompok normal dan negatif tidak terjadi penurunan berat badan.
C. Pengaruh Porang dan Daun Kelor terhadap Profil Glukosa, Lipid, dan Beban Oksidatif
1. Profil Kadar Glukosa Darah Mencit Sebelum dan Sesudah Pemberian Sediaan Uji
Data hasil pengamatan pengukuran kadar glukosa darah mencit dilakukan pada hari ke-11, 19 dan 27 yang digambarkan dalam grafik sebagai berikut :
Gambar 5.2. Grafik Pengamatan Rata-rata Glukosa Darah Mencit (mg/dL)
Dari grafik 5.2 dan tabel 5.2 dapat dilihat profil peningkatan dan penurunan kadar glukosa darah masing-masing kelompok.
Tabel 5.3.. Kadar Rata-rata Gukosa Darah Mencit Selama Penelitian
Kelompok
Kadar Rata-Rata Glukosa Darah Mencit (mg/dL) Waktu Pengukuran
** : rata-rata dari semua mencit yang diinduksi (diabetes) Keterangan :
I : Mencit kontrol normal sehat (pakan standar)
II : Mencit kontrol negatif (diabetes dengan pakan standar)
III : Mencit kontrol positif (diabetes dengan pengobatan acarbose dosis 6,5 mg/kg BB dan pakan standar)
IV : Mencit diabetes dengan pakan porang 5 gram/hari tiap mencit
V : Mencit diabetes dengan ekstrak etanol 70% daun kelor dosis 420 mg/kb BB dan pakan standar VI : Mencit diabetes dengan pakan porang dan ekstrak etanol 70% daun kelor
Pada penelitian ini, semua mencit pada hari ke-0 belum diberi perlakuan apapun dan kondisi rata-rata kadar glukosa darah mencit sebesar 97,8 ± 6,7 mg/dL.
Analisis normalitas dan homogenitas di hari ke-0 pada semua mencit didapatkan hasil bahwa data terdistribusi normal dan homogen. Hal ini memberi makna bahwa variasi biologi yang berpengaruh pada kadar glukosa darah dapat dikendalikan.
Berdasarkan data pada hari ke-11 (kondisi diabetes) semua kelompok, kecuali kelompok normal menunjukkan bahwa rata-rata kadar glukosa darah mencit mengalami peningkatan menjadi 182,5 ± 16,9 mg/dL (lampiran 10). Setelah diberi perlakuan dengan pakan porang, ekstrak etanol 70% daun kelor, kombinasinya dan acarbose selama 7 hari terjadi profil penurunan kadar glukosa darah pada gambar 5.2. Demikian juga setelah dilakukan terapi tambahan sampai 14 hari perlakuan.
2. Pengaruh Induksi Aloksan Terhadap Glukosa Darah Mencit
Pada gambar 5.2 terlihat profil kadar glukosa darah yang meningkat pada hari ke-11 (kondisi diabetes) dari hari dibanding hari ke-0 (sebelum diberi perlakuan apapun).
Pada hari ke-0 sebelum perlakuan penginduksian aloksan, kadar glukosa darah pada semua mencit berkisar antara 78-113 mg/dL, kemudian pada hari ke-11 semua mencit diinduksi aloksan, kecuali kelompok normal, peningkatan glukosa darah berkisar antara 152-209 mg/dL dengan persentase peningkatan setelah induksi sebesar 44,8%. Kondisi diabetes terjadi karena respon aloksan yang dapat merusak pankreas pada mencit.
Untuk melihat apakah peningkatan tersebut bermakna dari kondisi awal hari ke-0 (sebelum induksi aloksan) maka dilakukan uji perbandingan 2 kelompok yaitu antara kelompok hari ke-0 dengan kelompok hari ke-11. Hasil statistik uji Mann-Whitney memperlihatkan perbedaan yang bermakna dengan P:0,000 (α<0,05). Hal tersebut menandakan bahwa induksi aloksan dapat menyebabkan kondisi diabetes yang signifikan. Berdasarkan profil glukosa darah pada kelompok negatif (mencit diabetes), peningkatan kadar glukosa darah relatif stabil sampai pada hari terakhir.
Pernyataan ini didukung oleh hasil statistik anova satu arah antar kelompok kontrol negatif (II) pada hari ke-11, 19, dan 27 menunjukkan hasil tidak berbeda bermakna yang artinya kelompok negatif tersebut tetap dalam kondisi diabetes. Hal ini terbukti bahwa aloksan mempunyai kemampuan untuk membuat kondisi diabetes.
3. Pengaruh Perlakuan Pemberian Sampel Porang, Ekstrak Daun Kelor Dan Kontrol Positif Acarbose Terhadap Kadar Glukosa Darah
Setelah mencit dalam kondisi diabetes kemudian mencit-mencit tersebut diberi perlakuan sampel dan acarbose sebagai kontrol positif. Kadar glukosa darah dapat dilihat pada tabel 5.3. Karena desain penelitian ini adalah pre and post test control group maka untuk mengetahui perbedaan kadar glukosa darah antar kelompok perlakuan digunakan analisis rata-rata selisih glukosa darah antara kondisi diabetes (hari ke-11) dengan kondisi glukosa darah 7 hari perlakuan (hari ke-19) dan kondisi glukosa darah 14 hari perlakuan (hari ke-27). Data selisih kadar glukosa darah tersebut dapat dilihat pada tabel 5.4.
Tabel 5.4. Rata-rata Selisih Kadar Glukosa Darah dan Rata-rata Persentase Penurunan Kadar Glukosa Darah
Kelompok
Hari ke-11-19 : selisih kadar antara kondisi hiperglikemia dan 7 hari perlakuan sampel Hari ke-11-27 : selisih kadar antara kondisi hiperglikemia dan 14 hari perlakuan sampel Keterangan :
I : Mencit kontrol normal sehat (pakan standar)
II : Mencit kontrol negatif (diabetes dengan pakan standar)
III : Mencit kontrol positif (diabetes dengan pengobatan acarbose dosis 6,5 mg/kg BB dan pakan standar)
IV : Mencit diabetes dengan pakan porang 5 gram/hari tiap mencit
V : Mencit diabetes dengan ekstrak etanol 70% daun kelor dosis 420 mg/kb BB dan pakan standar
VI : Mencit diabetes dengan pakan porang dan ekstrak etanol 70% daun kelor
Pada tabel 5.4 persentase selisih kadar glukosa darah selama 7 hari perlakuan (hari ke-19) terlihat bahwa besarnya selisih kadar glukosa darah yang diberi perlakuan sampel lebih besar dibanding dengan yang tidak diberi perlakuan (kelompok negatif) yang nilainya bahkan meningkat kadar glukosa darahnya setelah induksi aloksan. Pemberian porang mampu menurunkan kadar glukosa darah sebesar 54,4%, sedangkan pemberian ekstrak etanol 70% daun kelor mampu menurunkan kadar glukosa darah sebesar 20,8%, kelompok kombinasi mampu menurunkan kadar glukosa darah sebesar 28,1% dan pada kelompok positif (acarbose) mampu menurunkan glukosa darah sebesar 28,5%.
Untuk melihat apakah penurunan selama 7 hari perlakuan tersebut bermakna dari kondisi diabetes (hari ke-11) maka dilakukan uji perbandingan 2 kelompok yaitu antara kelompok hari ke-11 dengan kelompok hari ke-19. Hasil uji Mann-Whitney memperlihatkan perbedaan bermakna dengan hasil P:0,000 (α<0,05). Hal tersebut menandakan bahwa kelompok perlakuan selama 7 hari dapat menurunkan glukosa darah pada mencit diabetes. Data perbedaan tersebut dapat dilihat pada
Untuk melihat apakah penurunan selama 7 hari perlakuan tersebut bermakna dari kondisi diabetes (hari ke-11) maka dilakukan uji perbandingan 2 kelompok yaitu antara kelompok hari ke-11 dengan kelompok hari ke-19. Hasil uji Mann-Whitney memperlihatkan perbedaan bermakna dengan hasil P:0,000 (α<0,05). Hal tersebut menandakan bahwa kelompok perlakuan selama 7 hari dapat menurunkan glukosa darah pada mencit diabetes. Data perbedaan tersebut dapat dilihat pada