III. METODOLOGI PENELITIAN
3.4. Prosedur Penelitian
Penelitian akan dilakukan seperti pada diagram di Gambar 7.
Gambar 7. Diagram alir tahapan penelitian
3.4.1. Persiapan mesin pemangkas rumput
Mesin pemangkas rumput yang akan digunakan pada penelitian ini adalah Potrum BBE-02 dan Potrum SRT-03. Sebelum dilakukan pengujian persiapan mesin dilakukan agar mesin dapat bekerja dengan baik. Persiapan
Persiapan mesin yang akan diuji Persiapan tempat pengujian Mulai Pengolahan data Selesai
Pengujian fungsional, kinerja, getaran, dan kebisingan, serta pengukuran kualitas visual
rumput
Pembuatan Laporan
22 yang dilakukan adalah pengencangan baut-baut, pengecekan engine, dan pengaturan ketinggian pangkas (Gambar 8. dan 9. ).
Gambar 8. Potrum BBE-02
Gambar 9. Potrum SRT-03
3.4.2. Persiapan tempat pengujian
Pengujian dilakukan di lapangan rumput Bermuda dan Gajahan. Lapangan rumput Bermuda berada di Laboratorium Lapangan Tenik
Motor listrik Pengatur ketinggian pangkas Pengatur ketinggian pangkas engine
23 Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Persiapan lapangan rumput Bermuda dimulai pada bulan Mei 2009 dengan pengolahan tanah, penanaman, sampai perawatan (Gambar 10. dan 11.) .
Gambar 10. Pengolahan tanah pada penyiapan lapangan rumput Bermuda
Setelah Potrum BBE-02 siap diuji yaitu pada minggu ke-9 setelah penanaman dilakukan pengujian. Luas lahan yang digunakan adalah 225 m2 dengan ukuran 15 m x 15 m. Lapangan tersebut dibagi menjadi enam petak dengan ukuran 7.5 m x 5 m. Hal tersebut dipersiapkan untuk melakukan pengamatan terhadap kualitas visual lapangan rumput Bermuda akibat pemangkasan dengan Potrum BBE-02.
Lapangan rumput Gajahan yang berada di taman Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor digunakan untuk mengukur kinerja Potrum BBE-02. Tujuannya adalah untuk mengetahui kinerja Potrum BBE-02 di
Kondisi awal Pembajakan
24 lapangan rumput Gajahan. Luas petak yang digunakan adalah 35 m2 dengan ukuran 7 m x 5 m. Patok dipasang di setiap ujung petak yang digunakan untuk membatasi luasan yang akan digunakan.
Gambar 11. Pertumbuhan rumput Bermuda
3.4.3. Uji fungsional Potrum BBE-02
Pengukuran fungsi Potrum BBE-02 dilakukan terhadap keseragaman tinggi rumput yang telah dipangkas dan ukuran clippings yang dihasilkan. Pengukuran keseragaman tinggi rumput setelah dipangkas dilakukan untuk melakukan uji fungsional dari pisau dan sistem pengatur ketinggian yang
Minggu I Minggu II Minggu II
Minggu IV Minggu V Minggu VI
Minggu VII Minggu VIII Minggu IX
25 dapat memangkas rumput pada ketinggian tertentu. Ukuran clippings adalah parameter yang dapat digunakan untuk menguji hasil modifikasi yang telah dilakukan terhadap unit pemangkas.
Gambar 12. Ilustrasi pengukuran tinggi rumput sebelum dan setelah pemangkasan
Tabel 2. Sistem pengatur ketinggian pada Potrum BBE-02
Sel ke- Tinggi Pangkas (hs) (cm) 1 12.00 2 10.55 3 9.10 4 7.65 5 6.20 6 4.75 7 3.30
Tinggi rumput diukur sebelum (h0) dan setelah (h1) pemangkasan dengan Potrum BBE-02 pada ketinggian pangkas tertentu (hs). tabel 2. menunjukkan tinggi pangkas pada sistem pengatur tinggi pangkas Potrum BBE-02. Pengukuran dilakukan pada sepuluh titik berbeda untuk setiap
h0
hs
h1
26 lapangan. Sehingga diperoleh sepuluh tinggi rumput sebelum pemangkasan dan sepuluh tinggi rumput setelah pemangkasan pada masing-masing jenis rumput. Tujuannya adalah untuk mengetahui tinggi pangkas yang efektif dan keseragaman tinggi rumput hasil pemangkasan dengan Potrum BBE-02. Ilustrasi pada Gambar 12. menunjukkan metode pengukuran tinggi rumput.
Pengukuran clippings dilakukan di lapangan rumput Bermuda dengan cara mengukur panjang clippings yang dihasilkan oleh Potrum BBE-02 dan Potrum SRT-03. Dari clippings yang dihasilkan oleh Potrum BBE-02 dan Potrum SRT-03, masing-masing diambil tiga puluh clippings untuk diukur panjangnya dengan penggaris.
3.4.4. Pengukuran kinerja Potrum BBE-02
Pengukuran kinerja mesin pemangkas rumput hanya dilakukan terhadap Potrum BBE-02 di lapangan rumput Bermuda dan Gajahan.
Gambar 13. Pola kontinyu
Data kinerja Potrum BBE-02 akan dibandingkan dengan data sekunder mesin pemangkas rumput lainnya yang telah ada. Lebar pemangkasan (l), waktu lurus (v), waktu belok, luas areal yang dipangkas (A), dan waktu kerja pemangkasan (Wk) adalah variabel-variabel yang diukur untuk
27 mengetahui kinerja mesin. Pola yang digunakan pada pengukuran ini adalah pola kontinyu. Pola kontinyu seperti terlihat pada Gambar 13. adalah pola pemangkasan terbaik karena efisiensinya yang tinggi dan kualitas setelah pemangkasan yang baik (Putra, 2009).
3.4.5. Pengukuran kualitas visual lapangan rumput Bermuda
Pengukuran kualitas lapangan rumput dilakukan dengan mengamati perubahan densitas dan warna lapangan rumput akibat pemangkasan. Pemangkasan dilakukan setiap hari senin dimana tinggi rumput telah mencapai 3 cm dan dipangkas menjadi 2 cm. Pengamatan dilakukan selama tiga minggu.
Gambar 14. Rancangan lahan penelitian
Dari luas lahan 225 m2, 150 m2 digunakan untuk mengetahui pengaruh pengembalian clippings ke lahan terhadap ketersediaan nitrogen yang terlihat dari perubahan densitas. Lahan tersebut dibagi menjadi empat
A B
28 lahan yang berukuran 7.5 m x 5 m. Seperti terlihat pada Gambar 14. setiap lahan mendapat perlakukan yang berbeda. Lahan pertama atau A adalah memangkas rumput Bermuda dengan Potrum BBE-02 dan clippings ditampung ke dalam kantung penampung. Lahan B dilakukan dengan cara memangkas rumput Bermuda menggunakan Potrum BBE-02 dan clippings ditinggalkan di lapangan. Potrum SRT-03 digunakan untuk memangkas lapangan rumput pada lahan C dan D. Clippings ditinggalkan di lapangan rumput pada perlakuan D dan ditampung untuk perlakuan C.
Gambar 15. Alat (A) dan metode (B) pengukuran densitas
Gambar 16. Color pocket
29 Pengamatan densitas dilakukan sebelum pemangkasan dan tiga hari setelah pemangkasan. Densitas rumput diukur dengan frame berukuran 5 cm x 5 cm (Gambar 15.), sehingga dapat diketahui jumlah batang rumput untuk setian luasan 25 cm2.
Perubahan warna lapangan rumput diamati dengan cara membandingkan warna lapangan rumput secara keseluruhan dengan color
pocket (Gambar 16.). Pengamatan dilakukan setiap hari selama tiga minggu
secara subjektif.
3.4.6. Pengukuran getaran
Getaran dari Potrum BBE-02 diukur pada saat engine dalam keadaan menyala tapi tidak beroperasi. Pengukuran getaran hanya dilakukan pada satu kecepatan putar pisau, yaitu pada kecepatan putar pisau rata-rata 3671 rpm. Hal tersebut dilakukan karena kecepatan putar pisau rata-rata pada pemangkas rumput tipe rotari adalah 2300 sampai 3700 rpm (Suharyatun, 2002). Selain itu, peningkatan kecepatan putar pisau akan meningkatkan percepatan getaran (Putra, 2009).
Gambar 17. Metode pengukuran percepatan getaran dengan vibrationmeter
Pengukuran dilakukan pada tiga arah sumbu, yaitu sumbu x, y, dan z (Gambar 17.). setiap pengukuran dilakukan sebanyak sepuluh kali ulangan. Selanjutnya data diolah dengan persamaan (4) untuk mengetahui percepatan getaran. Setelah mendapatkan nilai percepatan getaran, melalui persamaan
30 (5), diperoleh nilai A(8). Batas waktu penggunaan Potrum BBE-02 dapat diketahui dengan menggunakan grafik daily exposure (Gambar 6.) berdasarkan nilai percepatan getaran dan A(8) yang telah diperoleh. Hasil pengukuran akan dibandingkan dengan hasil pengukuran yang telah dilakukan oleh Putra (2009) terhadap Potrum BBE-01.
3.4.7. Pengukuran suhu permukaan rumput
Pengukuran suhu permukaan rumput dilakukan dengan thermometer inframerah. Pengukuran dilakukan di sepuluh titik yang berbeda pada pemukaan rumput sebelum rumput dipangkas dan setelah rumput dipangkas. Metode pengukurannya seperti terlihat pada Gambar 18. Tujuannya adalah untuk mengetahui hubungan pemangkasan terhadap suhu permukaan rumput.
Gambar 18. Pengukuran suhu permukaan rumput
3.4.8. Pengukuran kebisingan
Pengukuran kebisingan dilakukan dengan soundlevelmeter (Gambar 19.) saat Potrum BBE-02 tidak beroperasi tapi engine dalam keadaan menyala dan tidak menyala. Pada saat mesin dinyalakan, pengukuran kebisingan akan dilakukan pada kecepatan putar pisau rata-rata pada saat pemangkasan. Pengukuran pada saat engine tidak dinyalakan adalah untuk memperoleh
31 nilai kebisingan latar (Llatar). Pengukuran dilakukan pada engine (Gambar 19.) dan telinga operator (Gambar 20.). Pengukuran kebisingan pada engine dilakukan 10 cm dari engine.
Gambar 19. Metode pengukuran intensitas kebisingan pada engine (A) dan
vibrationmeter (B)
Gambar 20. Metode pengukuran intensitas kebisingan pada telinga (A) dan pada jarak 2 m (B)
B A
B
32 Selain mempengaruhi operator, kebisingan juga akan berpengaruh terhadap lingkungan. Oleh karena itu, pengukuran kebisingan juga dilakukan pada jarak 2 m, 4 m, 6 m, 8 m, dan 10 m dari engine (Gambar 21). Pengukuran dilakukan sebanyak lima kali ulangan. Selanjutnya data diolah dan dibandingkan dengan standar yang berlaku untuk mengetahui lama mendengar yang diijinkan. Selain itu, hasil pengukuran juga akan dibandingkan dengan intensitas kebisingan dari mesin pemangkas rumput Potrum BBE01, Potrum SRT-03, dan mesin yang ada di pasaran yang pengukurannya telah dilakukan oleh Putra (2009).
Gambar 21. Metode pengukuran intensitas kebisingan pada jarak 2 m, 4 m, 6 m, 8 m, dan 10 m
3.4.9. Laporan
Pembuatan laporan dilakukan setelah pengujian dilakukan. Laporan terdiri dari alat dan bahan, metodologi, dan hasil dari pengujian. Selain itu, laporan menunjukkan hasil yang telah dicapai dengan tujuan yang telah ditentukan.
Jarak
Kiri Kanan
Belakang Depan