• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.5. Prosedur Penelitian

Penelitian dan pengambilan data direncanakan akan dilakukan pada bulan November 2021 sampai Januari 2022 bertempat di Pulau Pandang, Kecamatan tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara. Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan dan diketahui dalam pelaksanaan tugas akhir ini antara lain sebagai berikut:

1. Menentukan tema dengan cara melakukan studi literatur untuk memperoleh berbagai sumber teori dan konsep untuk mendukung penelitian yang akan dilaksanakann

2. Menyiapkan alat dan bahan penelitian 3. Melakukan pengumpulan data penelitian 4. Melakukan simulasi pada aplikasi PV Syst

5. Melakukan Optimisasi hasil simulasi dengan keadaan yang sebenarnya 6. Menarik kesimpulan dari hasil penelitian dan analisa yang telah

dilaksanakan.

7. Selesai

51 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Potensi Energi Listrik Dari Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida 4.1.1. Hasil Simulasi Aplikasi PV Syst Untuk Potensi Energi Listrik PLTH

Simulasi dan optimisasi dengan menggunakan aplikasi PV Syst.

menghasilkan beberapa konfigurasi yang berbeda sesuai dengan batasan minimum kontribusi energi listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga hibrida.

Hasil potensi energi listrik pada Pembangkit listrik tenaga hibdra di Pulau Pandang dapat dilihat pada grafik berikut ini.

Gambar 4.1. Rata-Rata Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida

Pada gambar 4.1. menjelaskan tentang rata-rata potensi energi listrik dengan energi efektif yang dapat digunakan untuk kebutuhan energi listrik di Pulau Pandang tersebut sebesar 60 kWh/hari sampai dengan 920 kWh/hari untuk penggunaan energi listrik yang dapat dihasilkan sebagai sumber energi listrik yang dapat digunakan untuk pembangkit listrik tenaga surya. Dapat dilihat pada grafik digambar 4.1 terdapat perbedaan grafik potensi energi listrik yang dapat digunakan setiap harinya. Puncak tertinggi untuk potensi energi listrik yang dapat digunakan mulai dari bulan Januari, Februari, Maret, September, Oktober, November dan Desember dengan rata-rata potensi energi listrik sebanyak 760

52 kWh/hari sampai 920 kWh/hari. Untuk puncak terendah pada potensi energi listrik yang dapat digunakan dimulai dari bulan Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, dan awal September dengan rata-rata potensi energi listrik sebanyak 60 kWh/hari sampai 750 kWh/hari. Dengan demikian potensi energi listrik yang dihasilkan dalam setahun penuh sebanyak 203,5 MWh/tahun untuk pembangkit listrik tenaga surya dan untuk pembangkit listrik tenaga diesel dapat menghasilkan energi listrik sebesar 52,5 kWh/hari dan potensi energi listrik dari pembangkit listrik tenaga diesel sebesar 30 MWh/hari dalam kurun waktu selama setahun penuh.

4.1.2. Hasil Simulasi Aplikasi PV Syst Untuk Produksi Energi Listrik PLTH Hasil simulasi pada aplikasi PV Syst yang telah dilakukan terdapat hasil yang signifikan terhadap produksi energi listrik dari pembangkit listrik tenaga surya dengan potensi cahaya matahari yang ada di Pulai Pandang tersebut.

Pengaruh penyinaran matahari yang cukup baik menghasilkan energi listrik yang cukup besar dengan durasi penyinaran sinar matahari terhadap panel surya selama 5 jam lamanya penyinaran. Berikut grafik hasil produksi energi listrik yang dihasilkan terhadap sinar matahari yang diterima panel surya.

Gambar 4.2. Grafik Produksi Energi Listrik

Pada gambar 4.2. menjelaskan tentang grafik produksi energi listrik yang dihasilkan dari simulasi yang telah dilakukan, terdapat beberapa grafik data yang

53 berbeda disetiap hasilnya yang ditandai dengan beberapa warna berbeda. Untuk warna merah menunjukkan nilai produksi energi listrik yang disuplai sebesar 2,91 kwh/kwp/hari, kemudian untuk grafik berwarna hijau menunjukkan produksi energi listrik sebagai penyimpanan energi listrik menuju baterai sebesar 0,30 kwh/kwp/hari, sedangkan terdapat rugi-rugi daya sebesar 0,68 kwh yang ditunjukkan dengan grafik berwarna biru muda dan untuk produksi energi listrik dari penyimpanan baterai yang ditunjukkan pada grafik yang berwarna biru tua produksi rata-rata setahun sebesar 1.285 kWh/kWp/hari atau setara 170 MWh/Tahun dengan total produksi energi sebesar 4,2 kWh/hari

4.2. Kelayakan PLTH Untuk Kebutuhan Energi Listrik Di Pulau Pandang 4.2.1.Konsumsi Energi Listrik Di Pulau Pandang

Konsumsi energi listrik yang terdapat di Pulau Pandang berlangsung selama 24 jam sehari. Penggun\aan energi listrik yang terdapat di Pulau Pandang merupakan penggunaan beban rumah tangga dan penggunaan beban lampu mercusuar. Adapun durasi penggunaan beban tersaji pada gambar 4.3 dibawah ini.

Gambar 4.3 Monitoring Penggunaan Beban Harian

Pada gambar 4.3. terdapat tiga buah indicator lingkaran yang menunjukkan penggunaan energi listrik yang digunakan di Pulau Pandang. Pada indicator lingkaran pertama menunjukkan penggunaan beban lampu yang digunakan selama 4 jam/ hari, selanjutnya pada indicator lingkaran kedua menunjukkan penggunaan beban peralatan domestic selama 4 jam/ hari, dan pada indicator lingkaran ketiga menujukkan penggunaan beban untuk penerangan jalan dan lampu mercusuar

54 selama 8 jam/ hari. Pengunaan energi listrik diwilayah Pulau Pandang terjadi hanya pada waktu-waktu tertentu saja dalam kurun waktu 24 jam. Berikut grafik jadwal konsumsi beban energi listrik yang terdapat di Pulau Pandang.

Gambar 4.4. Grafik Konsumsi Energi Listrik Harian

Pada gambar 4.4. menunjukkan waktu yang digunakan untuk penggunaan energi listrik dengan grafik histogram. Dapat dilihat konsumsi energi listrik yang sedang berlangsung terjadi pada pukul 03.00 WIB sampai pukul 07.00 WIB, kemudian dilanjutkan pada pukul 14.00 WIB sampai pukul 23.00 WIB. Dari grafik histogram yang dilihat terdapat perbedaan tinggi grafik untuk menentukan kapan terjadinya penggunaan energi listrik saat beban listrik dasar, beban listrik menengah, dan beban puncak. Untuk beban listrik dasar berlangsung mulai dari pukul 14.00 WIB sampai pukul 19.00 WIB dengan konsumsi energi sebesar 4,1 kWh/hari, selanjutnya untuk beban listrik menengah terjadi pada pukul 03.00 WIB sampai 07.00 WIB dengan konsumsi energi listrik sebesar 38,7 kWh/hari, dan untuk beban puncak energi listrik yang ada di Pulau Pandang mulai pukul 19.00 WIB sampai pukul 23.00 WIB dengan konsumsi energi listrik sebesar 50,3 kWh/hari. Beban menengah dan beban puncak energi listrik yang ada di Pulau Pandang didominasi dengan menyalanya lampu mercusuar dan penerangan jalan raya yang terdapat di Pulau tersebut.

55 4.2.2. Kondisi PLTH Saat Beban Bertambah Di Pulau Pandang

Kelayakan pembangkit listrik tenaga hybrid merupakan aspek yang paling penting untuk berlangsungnya ketenagalistrikan yang terdapat di Pulau Pandang.

Telah dilakukannya simulasi terhadap kelayakan pembangkit listrik tenaga hybrid yang terdapat di Pulau Pandang sebagai penentu layak atau tidak layak suatu pembangkit yang terpasang di Pulau tersebut. Pengujian simulasi dilakukan pada Pembangkit listrik tenaga surya dengan beban yang terpasang menghasilkan perbandingan antara beban energi listrik terhadap kekuatan pembangkit listrik tenaga surya untuk memenuhi kebutuhan energi listrik yang ada saat ini. Berikut grafik perbandingan antara beban energi listrik terhadap produksi energi listrik tenaga surya dan generator diesel.

Gambar 4.5. Produksi Energi Listrik Terhadap Konsumsi Energi Listrik Saat ini

Berdasarkan pada gambar 4.5 menunjukkan grafik perbandingan antara produksi energi listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga surya dan generator diesel yang ada di Pulau Pandang dengan Konsumsi energi Listrik yang terdapat di Pulau Pandang menunjukkan, pembangkit listrik tenaga surya mampu menyuplai energi listrik untuk beban listrik rendah yang terjadi pada pukul 14.00 WIB sampai Pukul 17.00 WIB. Sedangkan untuk beban menengah dan beban puncak energi listrik pembangkit listrik tenaga surya tidak mampu menyuplai energi listrik pada beban tersebut mulai dari pukul 02.00 WIB sampai pukul 07.00 WIB dan pada pukul 17.00 WIB sampai dengan pukul 23.00 WIB. Untuk memenuhi kebutuhan energi listrik dan menutupi kekurangan energi listrik yang

56 terdapat di Pulau Pandang, penggunaan generator diesel sangat membantu keberlangsungan ketenagalistrikan di Pulau Pandang dengan produksi energi yang stabil sebesar 52,5 kWh/hari. Dengan demikian penggunaan energi listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya hanya menyuplai selama 5 jam per hari atau sekitar 20% dari kebutuhan energi listrik yang ada di Pulau Pandang, selebihnya diambil alih oleh Generator Diesel yang menyuplai energi listrik selama 19 jam per hari atau sekitar 80%. Namun prediksi akan terjadinya penambahan beban yang untuk kebutuhan pariwisata dan kunjungan wisata akan terjadi dimasa yang akan datang. Untuk melihat kemampuan dan kelayakan pada Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid yang ada di Pulau Pandang untuk memenuhi kebutuhan energi listrik saat beban bertambah adalah sebagai berikut.

Gambar 4.6. Perbandingan Kelayakan PLTH Pada Saat Beban Listrik Bertambah

Pada gambar 4.6 dapat dilihat perbandingan antara beban energi listrik yang terpasang saat ini terhadap beban energi listrik yang ditambahkan sesuai dengan kebutuhan yang akan datang. Pada saat pembangkit listrik tenaga hybrid bekerja memenuhi kebutuhan energi listrik, terdapat kedua diagram histrogram yang ditandai dengan warna hijau untuk beban energi listrik yang terpasang saat ini yaitu sebesar 50,2 kWh dan diagram histrogram untuk beban energi listrik yang akan bertambah sesuai kebutuhan sebesar 104,3 kWh yang dilintasi garis

57 grafik berwarna merah yaitu pembangkit listrik tenaga hybrid dengan produksi energi listrik sebesar 56,4 kWh. Hal ini menunjukkan bahwa, untuk pembangkit listrik tenaga hybrid hanya mampu menutupi kebutuhan energi listrik yang terpasang saat ini, namun tidak mampu menutupi kebutuhan energi listrik yang akan bertambah sesuai dengan kebutuhan yang akan datang. Dari hasil simulasi uji kelayakan pembangkit listrik tenaga hybrid di Pulau Pandang yang dilakukan menggunakan aplikasi PV Syst dapat dinyatakan Tidak Layak sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid untuk memenuhi kebutuhan energi di Pulau Pandang.

4.2.3. Analisis Kelayakan Finansial PLTH di Pulau Pandang

Analisis kelayakan finansial pada Pada pembangkit listrik tenaga hibrida di Pulau Pandang menjadikan aspek yang sangat signifikan sebagai peluang usaha dipulau tersebut. Jika dilihat dari keadaan sebenarnya dilapangan maka dapat dihitung kelayakan finansial pada pembangkit listrik tenaga hibrida sebagai nilai pendapatan untuk pengelolahan pulau non pemerintah. Berikut analisis kelayakan finansial berdasarkan survey lokasi dan keterangan pemandu wisata yang berada di Pulau Pandang.

Tabel 4.1. Tarif Masuk Pulau Pandang

Waktu Kunjungan

Tarif Masuk Pulau

Lokal WNA

Menginap Tidak menginap Menginap Tidak Menginap Hari Biasa Rp. 450.000 Rp. 230.000 Rp. 1.050.000 Rp. 645.000 Hari Libur

Nasional Rp. 750.000 Rp. 400.000 Rp. 1.325.000 Rp. 770.000 Akhir Pekan Rp. 835.000 Rp. 450.000 Rp. 1.500.000 Rp.826.000

Rincian harga per orang terlihat pada tabel 4.1 diatas. Untuk pendapatan lainnya masyarakat di Pulau Pandang memberikan tariff listrik yang dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga hibrida setiap pengunjung dipungut biaya listrik sebesar Rp. 4.000,- per kWh. Berdasarkan keterangan pemandu wisata jumlah kunjungan yang datang ke Pulau Pandang tersaji pada tabel berikut.

58 Tabel 4.2. Jumlah Pengunjung Ke Pulau Pandang

Waktu Kunjungan

Jumlah Pengunjung Pulau Pandang (Pekan)

Lokal WNA

Menginap Tidak menginap Menginap Tidak Menginap

Hari Biasa 3 15 3 17

Hari Libur

Nasional 12 45 - 2

Akhir Pekan 18 65 - 3

Jika dilihat dari tabel 4.2. pengunjung local lebih banyak berkunjung dan menginap di Pulau tersebut dan turis asing hanya sebanyak 25 orang untuk berkunjung ke Pulau Pandang. Untuk total pemasukan dari pengunjung dapat dilihat pada tabel 4.3 dibawah ini.

Tabel 4.3. Pendapatan Dari Pengunjung

Waktu Kunjungan

Pedapatan Dari Pengunjung (Pekan)

Lokal WNA

Menginap Tidak menginap Menginap Tidak Menginap Hari Biasa Rp. 1.350.000 Rp. 3.450.000 Rp. 3.150.000 Rp. 10.965.000 Hari Libur

Nasional Rp. 9.000.000 Rp. 18.000.000 Rp. 0 Rp. 1.540.000 Akhir Pekan Rp. 15.030.000 Rp. 29.250.000 Rp. 0 Rp.2.478.000

Pendapatan non pemerintah diperoleh dari pengelolahan masyarakat yang berada di Pulau Pandang dengan memberikan tarif masuk sebesar Rp.

94.231.000,- dalam seminggu penuh dan ditambah dengan pendapatan dari penjualan energi listrik sebesar Rp. 4.000,- per orang dengan kunjungan pariwisata sebanyak 180 orang per minggunya maka dapat dari pengunjung pariwisata terhadap energi listrik sebanyak Rp. 732.000,- dan jika ditambah dengan pendapatan pariwisata maka pendapatan non pemerintah yang diterima sebesar Rp. 94.963.000,- dalam seminggu dan jika dikalikan dengan setahun lamanya maka pendapatan yang diterima sebesar Rp. 4.938.076.000,- selama setahun

Untuk arus pengeluaran untuk wisatawan yang wajib dikeluarkan oleh pengelolah Pariwisata di Pulau Pandang dapat dilihat pada tabel 4.4. berikut.

59 Tabel 4.4 Biaya Pengeluaran

Jenis Pengeluaran Biaya Total Biaya

Pengeluaran Transportasi Rp. 2.500.000/lintas x 14 Rp. 35.000.000 Bahan Bakar Solar Rp. 15.000/liter x 30 Rp. 450.000

Konsumsi Rp. 150.000/orang x180 Rp. 27.450.000

Pemandu Wisata Rp. 1.500.000/orang x 5 Rp. 7.500.000 Perawatan Penginapan Rp. 500.000/minggu Rp. 500.000

Honorarium Rp. 3.500.000/Orang/Bulan Rp. 875.000

Pengeluaran Wajib Rp. 71.775.000

Pajak Pariwisata Rp. 7.895.250

Total Pengeluaran Rp. 79.67.2.500

Total arus pengeluaran yang wajib dikeluarkan oleh pengelolah Pariwisata di Pulau Pandang sebesar Rp. 79.672.500,- per minggu dan jika dikalikan selama setahun penuh maka pengeluaran wajib yang dikeluarkan sebesar Rp.

4.142.970.000,-

Analisis kelayakan finansial dapat dilihat berdasarkan laporan laba rugi usaha. Berdasarkan laporan laba rugi dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut.

Tabel 4.5. Laba Usaha

Tahun Laba Usaha (Rp) Modal Kerja (Rp)

0 - 4.142.970.000

1 4.938.076.000 2 5.230.086.650 3 4.876.552.452 4 5.954.233.276 5 5.402.710.502 6 4.938.076.000 7 6.362.002.010 8 5.357.912.380 9 4.876.552.452 10 5.954.233.276 Total 53.890.434.998

Jumlah Laba 49.747.464.998

Selain laporan laba rugi, analisis kelayakan finansial dapat dinilai berdasarkan nilai kriteria analisis kelayakan finansial yaitu NPV, Net B/C, IRR, dan Discounted Payback Period. Cashflow dari Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid yang ada di Pulau Pandang sebagai berikut.

60 1. Net Presen Value

Net Present Value (NPV) merupakan keuntungan bersih yang berupa nilai bersih sekarang berdasarkan jumlah dari Present Value (PV). Rumus umum yang digunakan dalam perhitungan NPV adalah:

( )

1.489.721.932

Berdasarkan hasil analisis di dapati bahwa nilai NPV dengan estimasi suku bunga depisito bank sekitar 11%, maka di dapat nilai NPV sebesar Rp 1.489.721.932,- dalam jangka waktu 10 tahun. Ini berarti Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida di Pulau Pandang dikatakan layak untuk investasi.

2. Internal Rate of Return (IRR)

IRR merupakan discount rate yang membuat NPV sama dengan nol, Untuk menghitung IRR sebelumnya harus dicari discount rate yang menghasilkan NPV positif, kemudian dicari discount rate yang menghasilkan NPV negatif. Langkah selanjutnya adalah melakukan interpolasi dengan rumus berikut:

( )

Berdasarkan hasil analisis nilai discount rate NPV yang positif yaitu suku bunga 11% yaitu Rp. 1.489.721.932,- dan discount rate yang menghasilkan NPV negatif yaitu 30 %, sebesar - Rp 376.591.674,- setelah dilakukan interpolasi didapati discount rate yang membuat nilai NPV= 0 sebesar 26%. Artinya investasi ini disimpulkan Layak karena nilai discount rate di atas nilai Suku Bunga Depesito. Disini investor akan lebih tertarik untuk investasi karena tingkat keuntungan yang di dapat masih tinggi di bandingkan investasi dalam instrumen Deposito sebesar 18%. Atau dengan kata lain, usaha penjualan energi biogas ini akan menghasilkan tingkat pengembalian terhadap investasi sebesar 26 persen.

3.

Net B/C

Net B/C merupakan nilai manfaat yang bisa didapatkan dari proyek atau

61 usaha setiap kita mengeluarkan biaya sebesar satu rupiah untuk proyek atau usaha tersebut. Net B/C merupakan perbandingan antara NPV positif dengan NPV negatif. Nilai Net B/C memiliki arti sebagai berikut:

1) Net B/C > 1, maka berarti proyek atau usaha layak dijalankan secara finansial.

2) Net B/C = 1, hal ini juga berarti bahwa usaha atau proyek tersebut berada dalam keadaan break evenpoint.

3) Net B/C < 1, maka berarti proyek atau usaha tidak layak dijalankan secara finansial.

Rumus yang digunakan untuk menghitung Net B/C adalah:

( )

( )

= 3,803

Berdasarkan analisis data di dapati nilai PV Benefit sebesar Rp 4.938.076.000,- dan nilai PV Cost sebesar Rp. 4.142.970.000,- Selanjutnya dengan memasukkannya pada rumus di dapati nilai Net B/C sebesar 3,803 atau dibulatkan menjadi 4. Ini berarti nilai Net B/C >1,artinya proyek atau usaha layak dijalankan secara finansial.Hasil analisis Net B/C ini juga dapat diartikan bahwa setiap satu rupiah yang dikeluarkan akan menghasilkan manfaat sebesar Rp 4.000,-

4. Pay Back Period (PBP)

Pay Back Period (PBP) merupakan salah satu kriteria investasi yang berupa jangka waktu yang diperlukan dalam pengembalian seluruh investasi atau bisa diartikan juga sebagai teknik penilaian terhadap jangka waktu (periode) pengembalian investasi suatu proyek atau usaha. Payback Period dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

= 10,06782

62 Diketahui bahwa Nilai investasi sebesar Rp 4.938.076.000,- dan nilai Kas Bersih/tahun sebesar Rp. 4.142.970.000,- oleh karena itu di dapati Pay Back Ratio sebesar 10,06782 atau di bulatkan menjadi 10 Tahun. Ini menujukkan bahwa pengembalian terhadap biaya investasi akan berlangsung selama 10 tahun.

63 BAB V

PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil Analisa Kelayakan Pembangkit Tenaga Hibrida Diesel Dan Fotovoltaik Off Grid (Studi Kasus Pulau Pandang). Maka dapat di ambil beberapa kesimpulan dalam penelitian ini yaitu:

1.

Rata-rata potensi energi listrik dengan energi efektif yang dapat digunakan untuk kebutuhan energi listrik di Pulau Pandang tersebut sebesar 60 kWh/hari sampai dengan 920 kWh/hari untuk penggunaan energi listrik yang dapat dihasilkan sebagai sumber energi listrik yang dapat digunakan untuk pembangkit listrik tenaga surya dan potensi energi listrik yang dihasilkan dalam setahun penuh sebanyak 203,5 MWh/tahun untuk pembangkit listrik tenaga surya dan untuk pembangkit listrik tenaga diesel dapat menghasilkan energi listrik sebesar 52,5 kWh/hari dan potensi energi listrik dari pembangkit listrik tenaga diesel sebesar 30 MWh/hari dalam kurun waktu selama setahun penuh.

2. Untuk memenuhi kebutuhan energi listrik untuk menutupi kekurangan energi listrik yang terdapat di Pulau Pandang, penggunaan generator diesel sangat membantu keberlangsungan ketenagalistrikan di Pulau Pandang dengan produksi energi yang stabil sebesar 52,5 kWh/hari. Hasil analisa kelayakan investasi yang telah dilakukan yaitu pada nilai NPV sebesar Rp.

1.489.721.932,- dengan nilai IRR sebesar 26% dan nilai B/C sebesar Rp.

4.000,- serta jangka waktu pengembalian modal selama 10 tahun, dengan kriteria tersebut maka pembangkit listrik tenaga hibrida di Pulau Pandang tersebut dinyatakan layak sebagai investasi.

5.2 Saran

Pada penelitian ini disarankan penggunaan pembangkit listrik teanga surya dapat dioptimalkan kembali mengingat potensi energi listrik yang cukup besar.

Untuk kedapannya diharapkan ada kelanjutan dari analisa kelayakan untuk membahas tentang kondisi, pemanfaatan energi, dan rugi-rugi daya yang

64 dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga hybrid dengan menggunakan aplikasi simulasi yang sama ataupun berbeda.

65 DAFTAR PUSTAKA

Destrinanda, H., Yoswaty, D., & Zulkifli. (2018). Kajian Potensi Ekowisata Bahari Di Pulau Pandang Kecamatan Tanjung Tiram Provisi Sumatera Utara.

Fakultas Perikanan Dan Ilmu Keluautan Universitas Riau. Riau., 5, 1689–

1699.

Falqahiyah, C., & Benyamin, B. (2021). Analisis Kelayakan Proyek Pembangkit Listrik Energi Panas Bumi Area “Cfa.” Journal of Geoscience Engineering

& Energy, 2(1), 1–11. https://doi.org/10.25105/jogee.v2i1.8929

Hutasuhut, A. A., Rimbawati, Riandra, J., & Irwanto, M. (2022). Analysis of hybrid power plant scheduling system diesel/photovoltaic/microhydro in remote area. Journal of Physics: Conference Series, 2193(1).

https://doi.org/10.1088/1742-6596/2193/1/012024

Mustaruddin, M., & Asnil, A. (2020). Determination of the Location Quotient for Development of Environmentally-Friendly Fishing Effort in the Waters of Salahnama Island and Pandang Island. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 25(2), 253–260. https://doi.org/10.18343/jipi.25.2.253

Nashar, M. (2015). Analisa Kelayakan Bisnis Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Angin (Pltb) Di Indonesia Dengan Mengunakan Software Retscreen.

Muhammad Nashar Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis, 1(1), 1–8.

Nugroho, Y. A. (2016). Analisis Tekno-Ekonomi Pembangkit Listrik Tenaga Surya ( Plts ) Di Pt Pertamina ( Persero ) Unit.

Putra, D. L. (2020). Analisis teknis dan ekonomis pembangkit listrik hibrid tenaga bayu dan tenaga surya. Jurnal UIN SUSKA, 12(4), 16–23.

Putra, R. S. (2021). … Pembangunan Infrastruktur Dan Respon Masyarakat Terhadap Potensi Akan Dibukanya Wisata Halal Di Kabupaten Batubara.

MUTLAQAH: Jurnal Kajian Ekonomi Syariah, 3(12), 40–57.

Rasyid, H. Al, Batih, H., & Sewandono, R. E. (2017). 2X50 Mw Dengan Menggunakan Boiler Circulating Fluidized Bed Combustion Di Kendari , Sulselrabar. Jurnal Ilmiah Energi Dan Kelistrikan, 9(2), 147–156.

Rimbawati;, Hutasuhuta;, A. A., Evalina;, N., & Cholish. (2018). Analysis Comparison of the Voltage Drop Before and After Using the Turbine in the

Dokumen terkait