BAB IV PENERTIBAN TANAH TERLANTAR MILIK PERORANGAN
C. Prosedur Penertiban Tanah Terlantar
Penertiban Tanah Terlantar menurut pasal 1 ayat 7 peraturan kepala badan pertanahan nasional republik indonesia nomor 4 tahun 2010 adalah proses penataan kembali tanah terlantar agar dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kepentingan masyarakat dan Negara.
Tujuan dari proses penertiban tanah terlantar menurut peraturan pemerintah nomor 11 tahun 2010 adalah untuk mewujudkan kehidupan yang lebih berkeadilan, menjamin berkelanjutan system kemasyarakatan dan kebangsaan Indonesia, serta memperkuat harmoni social, optimalisasi pengusahaan,
49 penggunaan, dan pemanfaatan semuah tanah di wilayah Indonesia diperlukan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup, mengurangi kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja, serta untuk meningkatkan ketahanan pangan energi38.
Adapun prosedur penertiban suatu tanah yang telah diindikasikan sebagai tanah terlantar dilakukan melalui 4 tahapan yang di atur menurut peraturan kepala badan pertanahan nasional nomor 4 tahun 2010 jo peraturan kepala badan pertahanan nasional nomor 9 tahun 2011 yaitu :
1. Inventarisasi tanah hak atau dasar penguasaan atas tanah yang terindikasi terlantar.
Pada tahap pertama kepala kantor wilayah badan pertahanan nasional akan melakukan inventarisasi tanah terindikasi terlantar, dimana informasi tanah terindikasi terlantar diperoleh dari hasil pemantauan lapangan oleh beberapa sumber yaitu :
a. Hasil pemantauan lapangan oleh kantor wilayah ; b. Hasil pemantauan lapangan oleh kantor pertanahan ; c. Laporan dinas / instansi lainnya ;
d. Laporan tertulis dari masyarakat ; e. Laporan tertulis dari pemegang hak.
38 https://d5er.wordpress.com/2011/03/10/kebijakan-tanah-terlantar/, diakses pada tanggal 15 Maret 2017.
Dalam inventarisasi tanah terindikasi terlantar dapat dilaksanakan melalui 3 tahapan kegiatan yaitu :
a. Pengumpulan data mengenai tanah yang terindikasi terlantar, dimana pada tahap ini kantor kepala badan pertanahan akan mengumpulkan data-data tekstual ( data tekstual meliputi nama dan alamat pemegang hak, nomor dan tanggal keputusan pemberian hak, nomor dan tanggal berakhirnya sertipikat, letak tanah, luas tanah, penggunaan tanah, luas tanah terindikasi terlantar ) dan data-data spasial (data spasial merupakan data grafis berupa peta yang dilengkapi dengan koordinat posisi bidang tanah terindikasi terlantar.
b. Pengelompokan data tanah yang terindikasi terlantar, pada tahap ini kantor kepala badan pertanahan akan mengelompokan data yang terindikasi terlantar yang telah dikumpulkan menurut wilayah kabupaten / kota dan jenis hak / dasar penguasaan.
c. Pengadministrasian data hasil inventarisasi tanah yang terindikasi terlantar, setelah pengelompokan data-data tanah yang terindikasi terlantar maka data-data hasil inventarisasi tanah yang terindikasi terlantar tersebut akan diselenggarakan secara tertib dalam basis data untuk keperluan pelaporan bahan analisis, dan penentuan tindakan selanjutnya.
2. Indentifikasi dan penelitian tanah yang terindikasi terlantar
Setelah didapatkan data-data tanah yang terindikasi sebagai tanah terlantar, maka aka ditindak lanjuti dengan identifikasi dan penelitian aspek
51 administrasi dan penelitian lapangan. Pada tahap ini kepala kantor wilayah badan pertanahan nasional akan menganalisis hasil inventarisasi tersebut untuk menyusun dan menetapkan target yang akan dilakukan identifikasi dan penelitian terhadap tanah yang terindikasi terlantar. Untuk menetapkan target yang bersangkutan kepala kantor wilayah badan pertanahan nasional berdasarkan pertimbangan lamanya tanah tersebut ditelantarkan dan / atau luas tanah yang terindikasi terlantar akan menyiapkan data dan informasi tanah yang terindikasi terlantar, kegiatan dalam penyiapan data dan informasi tersebut meliputi beberapa kegiatan yaitu :
a. Verifikasi data fisik dan data yuridis meliputi jenis hak dan letak tanah ; b. Mengecek buku tanah dan / atau warkah dan dokumen lainnya untuk
mengetahui keberadaan pembebanan, termasuk data, rencana, dan tahapan penggunaan dan pemanfaatan tanah pada saat pengajuan hak ;
c. Meminta keterangan dari pemegang hak dan pihak lain yang terkait, apabila pemegang hak/ kuasa/ wakil tidak memberikan data dan informasi atau tidak ditempat atau tidak dapat dihubungi, maka identifikasi dan penelitian tetap dilaksanakan dengan cara lain untuk memperoleh data ; d. Melaksanakan pemeriksaan fisik berupa letak batas, penggunaan dan
pemanfaatan tanah dengan menggunakan teknologi yang ada ;
e. Melaksanakan ploting letak penggunaan dan pemanfaatan tanah pada peta pertanahan berdasarkan hasil pemeriksaan fisik ;
f. Membuat analisis penyebab terjadinya tanah terlantar antara lain menyangkut permasalahan-permasalahan penyebab terjadinya tanah
terlantar, kesesuaian dengan hak yang diberikan, dan kesesuaian dengan tata ruang ;
g. Menyusun laporan hasil identifikasi dan penelitian.
Proses pelaksanaan kegiatan penyiapan data dan informasi di atas akan diberitahukan secara tertulis oleh kepala kantor wilayah kepada pemegang hak yang akan dilakukan identifikasi dan penelitian sesuai dengan alamat dan domisili pemegang hak. Jika tidak dijumpai lagi sesuai alamat atau domisili maka pemberitahuan akan dilakukan melalui pengumuman di kantor pertanahan dan pemasangan papan pengumuman di lokasi tanah yang bersangkutan bahwa tanah tersebut sedang dalam tahap identifikasi dan penelitian badan pertanahan nasional republic Indonesia.
Setelah data hasil identifikasi dan penelitian diatas dinilai cukup sebagai bahan pengambilan keputusan upaya penertiban, maka kepala kantor wilayah akan membentuk panitia C yang terdiri dari unsur kantor wilayah, kantor pertanahan, pemerintah daerah, dan instansi yang berkaitan dengan peruntukan tanah yang bersangkutan.
Untuk membantu panitia C sebagaimana yang telah di sebut diatas maka kepala kantor wilayah akan membentuk sekertariat, dimana sekertariat panitia C bertugas untuk membantu menyiapkan semua data yang diperlukan dan membuat resume permasalahan tanah yang terindikasi terlantar dan menjalankan tugas administrasi kesekretariatan.
53 Berdasarkan data yang telah diterima oleh panitia C, dalam melak sanakan identifikasi dan penelitian terhadap tanah yang terindikasi terlantar meliputi beberapa kegiatan yaitu :
a. Melakukan verifikasi data fisik dan data yuridis ;
b. Mengecek buku tanah dan / atau warkah dan dokumen lainnya untuk mengetahui keberadaan pembebanan, termasuk data, rencana, dan tahapan penggunaan dan pemanfaatan tanah pada saat pengajuan hak ;
c. Meminta keterangan dari pemegang hak dan pihak lain yang terkait dan pemegang hak dan pihak lain harus memberi keterangan atau menyampaikan data yang diperlukan ;
d. Melaksanakan pemeriksaan fisik dengan menggunakan terknologi yang ada ;
e. Melaksanakan ploting letak penggunaan dan pemanfaatan tanah pada peta pertanahan ;
f. Membuat analisis penyebab terjadinya tanah terlantar ; g. Menyusun laporan hasil identifikasi dan penelitian ;
h. Melaksanakan sidang panitia untuk membahas dan memberikan saran pertimbangan kepada kepala kantor wilayah badan pertanahan nasional dalam rangka tindakan penertiban tanah terlantar ;
i. Membuat dan menandatangani berita acara.
Selanjutnya Panitia C bertanggung jawab secara yuridis administratif atas isi dari berita acara panitia, setelah itu panitia C akan menyampaikan
laporan akhir hasil identifikasi dan penelitian beserta berita acara tersebut kepada kantor wilayah badan pertanahan nasional.
3. Peringatan dan pemberitahuan terhadap pemegang hak
Apabila berdasarkan hasil identifikasi dan penelitian yang telah dilakukan ditemukan atau terbukti adanya tanah yang ditelantarkan, maka kepala kantor wilayah badan pertanahan nasional akan memberitahukan kepada pemegang hak dan sekaligus memberikan peringatan. Adapun peringatan yang diberikan kepada pemegang hak terdiri atas 3 peringatan yaitu :
a. Peringatan pertama
Peringatan yang diberikan kepada pemegang hak merupakan peringatan tertulis pertama yang memuat agar dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan surat peringatan tersebut agar pemegang hak mengusahakan, menggunakan dan memanfaatkan tanahnya sesuai keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya atau dasar penguasaannya. Dalam surat peringatan pertama tersebut juga memuat hal-hal konkret yang harus dilakukan oleh pemegang hak beserta sanksi-sanksi yang dapat dijatuhkan apabila pemegang hak tidak mengindahkan atau tidak melaksanakan peringatan yang telah dimaksudkan dalam surat peringatan pertama.
55 Adapun tindakan konkret yang harus dilakukan pemegang hak antara lain :
o Mengusahakan, menggunakan, dan memanfaatkan tanahnya sesuai keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya ;
o Dalam hal tanah yang digunakan tidak sesuai dengan sifat dan tujuan pemberian haknya, pemegang hak harus mengajukan ijin perubahan hak apabila peruntukan tanahnya tidak sesuai dengan jenis hak yang diberikan dan / atau ijin perubahan penggunaan tanah apabila peruntukkannya tidak sesuai dengan surat keputusan pemberian haknya kepada kapala sesuai dengan peraturan yang berlaku ;
o Mengajukan permohonan hak untuk dasar penguasaan atas tanah mengusahakan, menggunakan, atau memanfaatkan tanahnya sesuai dengan ijin / keputusan / surat dari pejabat yang berwenang.
Adapun Sanksi-sanksi yang dapat dijatuhkan terhadap pemegang hak antara lain :
o Hapusnya hak atau dasar penguasaan atas tanah ; o Putus hubungan hukum ;
o Tanah tersebut ditegaskan dikuasai langsung oleh Negara.
Disamping itu pemegan hak juga diwajibkan untuk menyampaikan laporan kemajuan pemanfaatan dan penggunaan yang ditelantarkan setiap 2 (dua) minggu kepada kepala kantor wilayah dengan tembusan kepala kantor pertanahan.
b. Peringatan Kedua
Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) bulan yang ditentukan dalam surat peringatan pertama berakhir namun pemegang hak belum juga mengusahakan / menggunakan / memanfaatkan tanah tersebut dan / atau melakukan hal-hal konkret yang dimuat dalam surat peringatan pertama maka kepala kantor wilayah badan pertanahan nasioanl akan mengirimkan surat peringatan kedua setelah berakhirnya jangka waktu surat peringatan pertama.
Pada dasarnya surat peringatan kedua ini memuat isi yang sama dengan surat peringatan pertama dimana pemegang hak harus mengusahakan, menggunakan dan memanfaatkan tanahnya sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya atau dasar penguasaannya dalam jangka 1 (satu) bulan sejak diterbitkan surat peringatan tersebut serta hal-hal konkret dan sanksi-sanksi lainnya, pemegang hak akan diberikan peringatan ketiga apabila tidak mengindahkan peringatan ini.
Disamping itu pemegang hak juga diwajibkan untuk menyampaikan laporan kemajuan pemanfaatan dan penggunaan yang ditelantarkan setiap 2 (dua) minggu kepada kepala kantor wilayah dengan tembusan kepala kantor pertanahan.
c. Peringatan Ketiga
Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) bulan pemegang hak tidak juga melaksanakan peringatan kedua tersebut setelah memperhatikan
57 kemajuan peringatan kedua, kepala kantor wilayah akan memberikan peringatan tertulis ketiga yang bisa juga disebut peringatan tertulis terakhir kepada pemegang hak setelah jangka waktu surat peringatan kedua berakhir. Pada dasarnya peringatan surat tertulis ketiga ini memiliki isi yang sama dengan surat tertulis pertama dan kedua. Kepala kantor wilayah akan melaksanakan pemantauan dan evaluasi lapangan terhadap laporan pemegang hak pada akhir masa setiap peringatan yang akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk menetapkan tindakan selanjutnya.
4. Penetapan tanah terlantar
Apabila setelah pemegang hak mendapatkan peringatan ketiga tetapi pemegang hak tidak mematuhi peringatan ketiga tersebut maka kepala kantor wilayah akan mengusulkan kepada kepala badan pertanahan nasional untuk menetapkan tanah yang bersangkutan tersebut sebagai tanah terlantar.
Adapun Kriteria tidak mematuhi yang disebutkan di atas harus memenuhi beberapa kondisi yang telah ditentukan yaitu :
a. Tidak menggunakan tanahnya sesuai dengan sifat dan tujuan pemberian haknya ;
b. Masih ada tanah yang belum diusahakan sesuai dengan surat keputusan atau dasar penguasaan tanah ;
c. Masih ada tanah yang penggunaannya tidak sesuai dengan surat keputusan atau dasar penguasaan tanah ;
d. Tidak ada tindak lanjut penyelesaian pembangunan ;
e. Penggunaan tanah tidak sesuai dengan surat keputusan atau dasar penguasaan tanah ;
f. Belum mengajukan permohonan hak untuk dasar penguasaan tanah.
Apabila kondisi yang tertulis di atas telah terpenuhi, maka tanah yang akan diusulkan untuk ditetapkan sebagai tanah terlantar kepada kepala badan pertanahan akan dinyatakan dalam keadaan status quo sejak tanggal pengusulan sampai diterbitkan penetapan tanah terlantar. Tanah yang telah dinyatakan dalam keadaan status quo tersebut, maka terhadapnya tidak dapat dilakukan perbuatan hukum.
Selanjutnya kepala badan pertanahan akan menetapkan keputusan penetapan tanah terlantar atas usulan kepala kantor wilayah, yang sebagaimana keputusan tersebut memuat hapusnya hak atas tanah, pemutusan hubungan hukum, dan sekaligus menegaskan bahwa tanah yang dimaksud dikuasai langsung oleh Negara.