• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosedur Pengajuan Perkara di Pengadilan Agama

Dalam dokumen Laporan Praktik Pengadilan Agama PURWAKA (Halaman 34-42)

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS TEMUAN

A. Prosedur Pengajuan Perkara di Pengadilan Agama

Permohonan atau gugatan pada prinsipnya secara tertulis (Pasal 18 HIR), namun para pihak tidak bisa baca tulis (buta huruf) permohonan atau gugatan dapat dilimpahkan kepada hakim untuk disusun permohonan gugatan keudian dibacakan dan diterangkan maksud dan isinya kepada pihak, kemudian ditandatangani oleh Ketua Pengadilan Agama berdasarkan Pasal 120 HIR.1

Mengenai isi gugatan atau permohonan UU. NO 7 Tahun 1989 maupun dalam HIR atau Rbg tidak mengatur, karena itu diambil dari ketentuan Pasal 8 No. 3 RV yang mengatakan bahwa isi gugatan pada pokoknya memuat tiga hal yaitu:

a. Identitas para pihak

Identitas para pihak meliputi nama, umur, pekerjaan, agama, dan kewarganegaraan.

b. Posita

Berisi uraian kejadian atau fakta-fakta yang menjadi dasar adanya sengketa yang terjadi dan hubungan hokum yang menjadi dasar gugatan.

1

c. Petitium

Petitium atau tuntutan berisi rincian apa saja yag diminta dan diharapkan penggugat untuk dinyatakan dalam putusan atau penetapan para kepada para pihak terutama pihak tergugat dalam putusan perkara.

2. Pendaftaran Perkara

Pendaftaran Perkara diajukan kepada Pengadilan Agama melalui petugas kepaniteraan di Meja I. Aktifitas yang dilakukan Meja I dalam proses penyelesaian perkara di pengadilan Agama adalah sebagai berikut: a. Menerima gugatan, permohonan, perlawanan (verzet), pernyataan

banding,kasasi, permohonan peninjauan kembali, eksekusi, penjelasan dan penaksiran biaya perkara dan biaya eksekusi.

b. Membuat Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) dalam rangkap tiga dan menyerahkan SKUM tersebut kepada calon penggugat atau pemohon.

c. Menyerahkan kembali surat gugatan atau permohonan kepada calon penggugat/pemohon.

d. Menaksir biaya perkara sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 121 HIR atau Pasal 145 RBg yang kemudian dinyatakan dalam SKUM.

e. Memberikan penjelasan-penjelasan yang dianggap perlu berkenaan dengan perkara yang diajukan sesuai dengan Surat Kuasa Muda

28

Mahkamah Agung RI Urusan Lingkungan Peradilan Agama tanggal 11 Januari 1994 Nomor: MA/Kumdil/012/I/K/1994.2

3. Penaksiran Biaya Panjar Perkara

Patokan menentukan besarnya panjar biaya perkara menurut Pasal 121 ayat (4) HIR, didasarkan pada taksiran menurut keadaan, meliputi komponen:

a. Biaya kantor kepaniteraan dan biaya materai;

b. Biaya melakukan panggilan saksi, ahli, juru bahasa, dan biaya sumpah; c. Biaya pemeriksaan setempat;

d. Biaya juru sita melakukan pemanggilan dan pemberitahuan; e. Biaya eksekusi.

Taksiran yang paling penting diperhitungkan adalah biaya pemanggilan dan pemberitahuan sehubungan dengan besarnya biaya transportasi juru sita ke tempat penggugat dan tergugat. Semakin jauh tempat mereka, semakin besar biaya panggilan dan pemberitahuan yang ditetapkan. Sewajarnya, biaya transportasi yang ditaksir, bukan kendaraan yang paling mahal dan yang khusus tetapi biaya transportasi yang berlaku bagi masyarakat umum.3

4. Pembayaran Panjar

Pembayaran panjar perkara dilakukan dibagian pemegang kas. Kas merupakan bagian dari Meja I. Seluruh kegiatan pengeluaran perkara

2 Jaih Mubarok, Peradilan Agama di Indonesia, Pustaka Bani Quraisy, Bandung, 2004, Hlm.

3

harus melalui pemegang Kas dan dicatat secara tertib dalam Buku Induk yang bersangkutan. Tugas-tugas pemegang kas adalah:

a. Pemegang Kas menerima pembayaran uang panjar perkara sebagaimana tersebut dalam SKUM.

b. Pemegang Kas menandatangani SKUM, membubuhi nomor urut perkara dan tanggal penerimaan perkara dalam SKUM dan dalam gugatan/permohonan sebagaimana tersebut dalam buku jurnal yang berkaitan dengan perkara yang diajukan.

c. Mengembalikan asli serta tindakan pertama SKUM beserta surat gugatan/permohonan kepada calon penggugat/pemohon.

Setelah perkara didaftar dan biaya panjarnya dibayar, pihak yang berperkara kemudian melengkapi berkas perkara sesuai ketentuan dan menyerahkannya kepada petugas Meja II. Proses penyelesaian perkara yang berlangsung di Meja II adalah sebagai berikut:

1) Menerima surat gugat/perlawanan dari calon penggugat atau pelawan dalam rangkap sebanyak jumlah tergugat/terlawan ditambah dua rangkap.

2) Menerima surat permohonan dari calon pemohon sekurang-kurangnya sebanyak dua rangkap.

3) Menerima tindakan pertama SKUM dari calon penggugat/pelawan/pemohon.

30

4) Mendaftar/mencatat surat gugatan/permohonan dalam register yang bersangkutan serta memberi nomor register pada surat gugatan/permohonan tersebut.

5) Menyerahkan kembali satu rangkap surat gugatan/permohonan yang telah diberi nomor register kepada penggugat atau pemohon.

6) Asli surat gugatan/permohonan dimasukan dalam sebuat map khusus dengan melampirkan tindasan pertama SKUM dan surat-surat yang berhungan dengan gugatan/permohonan untuk disampaikan kepada Wakil Panitera. Selanjutnya, berkas-berkas permohonan/gugatan tersebut disampaikan kepada Ketua Pengadilan Agama melalui Panitera.

7) Mendaftar atau mencatat putusan Pengadilan Agama/Pengadilan Tinggi Agama atau Mahkamah Agung dalam buku register yang bersangkutan.4

5. Penetapan Majelis Hakim

Setelah Ketua Pengadilan Agama menerima berkas perkara dari panitera, segera menetapkan majelis yang akan memeriksa dan memutusnya. Apabila ketua berhalangan, penetapan majelis dilakukan oleh wakil ketua. Adapun jangka waktu penetapan secepat mungkin dan berdasarkan jangka waktu yang digariskan MA paling lambat 7 (tujuh) hari dari tanggal penerimaan. Kemudian setelah majelis ditetapkan, maka

4

perkara harus segera diserahkan kepada majelis, paling lambat 7 (tujuh) hari dari tanggal surat penetapan majelis.

Majelis paling sedikit terdiri dari 3 (tiga) orang, menurut Pasal 15 UU No. 14 Tahun 1970 (sebagaimana diubah dengan UU No. 35 Tahun 1999) dan sekarang digariskan dalam Pasal 17 ayat (1) UU No. 4 Tahun 2004 yang menentukan:

a. Semua pengadilan memeriksa dan memutus perkara, sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang hakim, kecuali apabila Undang-Undang menentukan lain;

b. Seorang bertindak sebagai Ketua Majelis Hakim, dan yang lain sebagai anggota.

Namun dalam angka 9 penjelasan umum UU No. 14 tahun 1970, dimungkinkan hakim tunggal, berdasarkan faktor keadaan setempat, karena:

1) Di daerah terpencil; 2) Tenaga hakim kurang; 3) Biaya transportasi mahal.

Akan tetapi, alasan ini pada saat sekarang selain tidak disebut dalam UU No. 4 Tahun 2004, juga tidak sesuai lagi. Tenaga hakim sudah cukup memadai di seluruh daerah, serta semua wilayah sudah terjangkau oleh prasarana lalu lintas yang dibutuhkan.5

5

32

6. Penentuan Hari Sidang

Yang menetapkan hari sidang adalah majelis yang menerima pembagian distribusi perkara. Penetapan hari sidang dituangkan dalam bentuk surat penetapan. Adapun ketentuannya sebagai berikut:

a. Menurut Pasal 121 ayat (1) HIR, penetapan hari sidang harus dilakukan segera setelah majelis menerima berkas perkara;

b. Menurut penggarisan MA, paling lambat 7 (tujuah) hari dari tanggal penerimaan berkas perkara, mejelis harus menerbitkan penetapan hari sidang;

c. Berdasarkan Pasal 121 ayat (3) HIR, penetapan hari sidang dimasukkan atau dilampirkan dalam berkas perkara, dan menjadi bagian yang tidak terpisah dari berkas perkara yang bersangkutan. 7. Pemanggilan Para Pihak

Setelah dilampaui tahap pengajuan gugatan, pembayaran biaya, registrasi, penetapan majelis tentang hari sidang, tahap selanjutnya adalah tindakan pemanggilan pihak penggugat dan tergugat untuk hadir di depan persidangan pengadilan (hearing) pada hari dan jam yang ditentukan.

Berdasarkan perintah ketua majelis di dalam PHS (Penetapan Hari Sidang), juru sita /juru sita pengganti melaksanakan pemanggilan kepada para pihak supaya hadir untuk mengikuti persidangan pada hari, tanggal dan jam sebagaimana tersebut dalam PHS di tempat persidangan yang telah ditetapkan. (Pasal 65, 66, 67, dan 68 UU No. 13 Tahun 1965).

Mekanisme pemanggilan para pihak harus dilakukan secara resmi dan patut dengan memperhatikan beberapa hal adalah:

a. Dilaksanakan oleh juru sita/juru sita pengganti yang sah. Dengan catatan juru sita/juru sita pengganti hanya berwenang untuk melaksanakan tugasnya di dalam wilayah hukum Pengadilan Agama yang bersangkutan.

b. Dilaksanakan langsung kepada pribadi yang dipanggil di tempat tinggalnya, maka panggilan disamping lewat kepala desa/lurah setempat. Apabila yang dipanggil telah meninggal dunia, maka panggilan disampaikan kepada ahli warisnya. Apabila yang dipanggil tidak diketahui tempat diam atau tinggalnya atau tak dikenal maka panggilan disampaikan lewat bupati/wali kota Setempat yang akan mengumumkannya pada papan pengumuman persidangan tersebut. Apabila yang dipanggil berada diluar Negeri RI. di Jakarta. Dan untuk panggilan tergugat dilampirkan satu berkas surat gugatan yang diajukan oleh penggugat.

c. Jarak antara hari pemanggilan dengan hari persidangan harus memenuhi tenggang dengan hari persidangan harus memenuhi tenggang waktu yang patut, yaitu sekurang-kurangnya 3 (tiga) hari kerja (logikanya tidak termasuk hari libur, sebab hari libur bukan hari kerja).

34

B. Mekanisme Penyelesaian Perkara di Pengadilan Agama Purwakarta

Dalam dokumen Laporan Praktik Pengadilan Agama PURWAKA (Halaman 34-42)

Dokumen terkait