BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4) Data Analisis Kebutuhan
4.2. Pembahasan
4.2.1. Prosedur Pengembangan Media Pembelajaran Daur Hidup Hewan
Prosedur pengembangan media pembelajaran daur hidup hewan berbasis metode Montessori dimodifikasi ke dalam lima tahap, yaitu potensi dan masalah, perencanaan, pengembangan bentuk awal produk, validasi produk, dan uji coba lapangan terbatas. Tahap pertama dalam penelitian dan pengembangan adalah
124 potensi dan masalah. Peneliti melakukan identifikasi masalah dengan cara observasi dan wawancara. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang sudah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran IPA, ketersediaan dan penggunaan media pembelajaran belum optimal digunakan selama pembelajaran IPA di kelas III SD Kanisius Jetisdepok. Hasil dari identifikasi masalah digunakan oleh peneliti sebagai bahan untuk membuat kuesioner analisis kebutuhan.
Penyusunan kuesioner analisis kebutuhan memperhatikan karakteristik siswa dan karakteristik media pembelajaran berbasis metode Montessori. Berdasarkan hasil penghitungan kuesioner analisis kebutuhan guru, diketahui bahwa sebanyak dua guru atau 100% guru setuju bahwa melalui penggunaan media pembelajaran dapat membantu siswa untuk memahami konsep dalam mata pelajaran IPA. Hal ini juga didukung oleh pendapat siswa yaitu sebanyak sebelas siswa atau 100% siswa setuju bahwa penggunaan media pembelajaran IPA dapat membantu mereka lebih paham dalam memahami materi. Hal inilah yang dijadikan pertimbangan oleh peneliti untuk mengembangkan media pembelajaran.
Tahap kedua dalam penelitian dan pengembangan adalah perencanaan. Dalam tahap ini, peneliti mengembangkan desain media pembelajaran, desain album media pembelajaran, menyusun instrumen tes dan validasi produk. Peneliti mengembangkan desain media pembelajaran daur hidup hewan khususnya mengenai daur hidup katak. Media pembelajaran daur hidup katak terdiri dari enam komponen. Komponen tersebut adalah kotak daur hidup katak, papan puzzle daur hidup katak, papan daur hidup katak, kartu, kotak penyimpanan kartu dan kotak penyimpanan katak 3 dimensi. Selain itu peneliti juga mengembangkan
125 desain album media pembelajaran. Di dalam album dijelaskan mengenai langkah- langkah penggunaan media pembelajaran daur hidup katak dan gambar untuk masing-masing langkah.
Instrumen tes akan digunakan oleh peneliti sebagai pretest dan posttest yang dibuat dalam bentuk soal uraian terbatas tipe melengkapi. Instrumen tes tersebut divalidasi terlebih dahulu oleh guru SD setara. Instrumen tes yang sudah direvisi akan diujikan secara empiris kepada siswa kelas III di SD setara. Hasil uji empiris diolah dengan menggunakan Statistic Package for Social Studies 20 (SPSS 20) for Windows untuk mengetahui validitas dan reliabilitas instrumen tes. Peneliti menggunakan 10 soal yang valid sebagai soal pretest dan posttest. Peneliti kemudian melakukan uji keterbacaan soal kepada siswa SD setara. Setelah itu peneliti membuat kuesioner validasi produk dan kuesioner tanggapan mengenai produk media pembelajaran untuk siswa. Kuesioner tersebut divalidasi terlebih dahulu oleh ahli dan dilakukan uji keterbacaan pada siswa SD setara.
Tahap ketiga dalam penelitian dan pengembangan adalah pengembangan bentuk awal produk. Media pembelajaran daur hidup hewan dikembangkan berdasarkan ciri-ciri yang terdapat dalam media pembelajaran berbasis metode Montessori, yaitu menarik, bergradasi, auto-correction, auto-education, dan satu ciri tambahan yaitu kontesktual. Kelima ciri tersebut dapat dilihat pada media pembelajaran daur hidup katak dengan cara mengamati secara langsung atau pada penggunaan media pembelajaran saat uji coba lapangan terbatas. Ciri menarik dapat dilihat dari bentuk media pembelajaran contohnya puzzle gambar, puzzle huruf, katak 3 dimensi yang memiliki bentuk yang menyerupai aslinya, warna yang cerah serta cara penggunaan media pembelajaran yang menarik.
126 Ciri bergradasi dapat dilihat dari perbedaan warna pada papan puzzle daur hidup katak dan papan daur hidup katak. Peneliti menggunakan warna hijau muda dan kuning (untuk hewan telur katak, berudu, katak muda dan katak dewasa), biru (untuk warna air), hijau muda (untuk warna daratan), pink muda (untuk warna bunga). Selain perbedaan warna, ciri bergradasi juga dapat dilihat dalam ukuran puzzle daur hidup katak dimana masing-masing puzzle memiliki ukuran yang berbeda-beda. Disamping itu, ciri bergradasi lainnya dapat dilihat pada komponen media katak 3 dimensi.
Ciri auto-correction dapat dilihat dari media puzzle daur hidup katak. Setiap puzzle memiliki ukuran yang berbeda-beda. Siswa dapat mengetahui kesalahannya sendiri pada saat memasangkan puzzle di papan puzzle daur hidup katak. Ciri auto-education dapat dilihat pada kartu yang terdiri dari kartu gambar, kartu kata dan kartu jawaban. Di kartu jawaban memuat penjelasan mengenai masing-masing hewan yang mengalami daur hidup katak. Kartu ini bisa digunakan oleh siswa untuk mempelajari materi daur hidup katak secara mandiri.
Ciri kontekstual dapat dilihat dari bahan pembuatan media pembelajaran yang dapat ditemui di lingkungan sekitar. Bahan yang digunakan adalah kayu dan kertas. Media pembelajaran ini dibuat dengan meminta bantuan pada tukang kayu. Oleh sebab itu, media pembelajaran daur hidup hewan yang dikembangkan memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan media pembelajaran berbasis metode Montessori.
Tahap keempat dalam penelitian dan pengembangan adalah validasi produk. Media pembelajaran yang sudah selesai dibuat akan divalidasi oleh ahli pembelajaran IPA, ahli pembelajaran Montessori dan guru SD menggunakan
127 kuesioner validasi produk. Validasi yang dilakukan bertujuan untuk menilai kelayakan produk yang telah dikembangkan sebelum digunakan pada uji coba lapangan terbatas. Hasil validasi produk oleh ahli akan dibahas pada subbab kualitas media pembelajaran daur hidup hewan berbasis metode Montessori.
Para ahli memberikan penilaian sangat baik pada media pembelajaran daur hidup hewan dan juga memberikan komentar terhadap media pembelajaran. Berdasarkan komentar dari para ahli, peneliti tidak melakukan perbaikan terhadap media pembelajaran melainkan hanya menambahkan gambar yang dapat digunakan oleh siswa untuk mencocokkan puzzle daur hidup katak dan katak 3 dimensi yang dipasang. Gambar tersebut sesuai dengan gambar yang terdapat pada papan puzzle daur hidup katak dan papan daur hidup katak. Selain itu album media pembelajaran daur hidup hewan yang sudah selesai dibuat divalidasi oleh ahli pembelajaran IPA dan ahli pembelajaran Montessori. Para ahli memberikan penilaian yang sangat baik pada album media pembelajaran daur hidup hewan. Oleh sebab itu, produk media pembelajaran daur hidup hewan beserta albumnya layak untuk digunakan saat uji coba lapangan terbatas.
Tahap kelima dalam penelitian dan pengembangan adalah uji coba lapangan terbatas. Peneliti melakukan pretest pada sepuluh siswa untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Setelah itu peneliti memulai bimbingan belajar menggunakan media pembelajaran daur hidup hewan. Di akhir pertemuan, peneliti melakukan posttest untuk mengetahui kemampuan siswa setelah menggunakan media pembelajaran daur hidup hewan. Pretest dan posttest digunakan oleh peneliti sebagai data pendukung untuk mengetahui kualitas media pembelajaran daur hidup hewan berbasis metode Montessori. Hasil pretest dan
128
posttest pada saat uji coba lapangan terbatas menunjukkan bahwa ada perbedaan
selisih nilai. Nilai yang diperoleh siswa pada saat posttest lebih tinggi daripada nilai yang diperoleh saat pretest. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran daur hidup hewan dapat membantu siswa dalam mempelajari materi daur hidup hewan.
Peneliti juga memberikan kuesioner tanggapan produk mengenai media pembelajaran pada siswa setelah uji coba lapangan terbatas. Siswa memberikan penilaian sangat baik terhadap media pembelajaran daur hidup hewan. Hasil nilai
pretest dan posttest beserta rekapan nilai kuesioner tanggapan siswa terhadap
media pembelajaran daur hidup hewan dapat dilihat pada subbab kualitas media pembelajaran daur hidup hewan berbasis metode Montessori.
4.2.2 Kualitas Media Pembelajaran Daur Hidup Hewan Berbasis Metode