2.7 Prosedur Kepemilikan Dan Penggunaan Senjata Api Bagi Aparat Polri
2.7.2 Prosedur Penggunaan Senjata Api Bagi Aparat Polri
Beberapa kententuan yang perlu di pedomani dalam hal seorang petugas Kepolisian harus menggunakan kekuatan dan senjata api memperhatikan beberapa
hal sebagai berikut 69:
Syarat-syarat Penggunaan senjata api.
1. Dilakukan sebagai upaya untuk membela diri atau melindungi jiwa orang lain dari serangan atau perlawanan yang dilakukan oleh seseorang yang patut diduga/diduga keras melakukan suatu tindak pidana (Vide pasal 48 KUHP dan 49 KUHP)
2. Dilakukan sebagai upaya terakhir dalam hal melaksanakan tugas/perintah
untuk menangkap seseorang yang patut diduga/diduga keras sebagai pelaku tindak pidana. Tindakan tersebut bertujuan untuk melumpuhkan bukan mematikan (Vide pasal 50 KUHP).
3. Dilakukan dengan cara-cara yang profesional, tidak sadis dan
tidak berlebihan (over acting) dan dengan memperhatikan norma hukum dan mengindahkan norma agama, kesopanan, kesusilaan, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia.
4. Dilakukan dengan cara-cara yang memperhatikan keamanan
lingkungan dan masyarakat sekitar tempat kejadian sehingga tidak terjadi akibat yang lebih luas dan merugikan kepentingan umum yang lebih luas.
69
5. Segera memberikan pertolongan setelah seseorang yang diduga melakukan tindak pidana tersebut dilumpuhkan dengan cara ditembak, seperti halnya membawa tersangka ke rumah sakit terdekat untuk diberikan pertolongan dan pengobatan medis sebagimana mestinya.
6. Penembakan harus dilakukan dengan menggunakan senjata api standar
Polri, yang diperuntukan untuk kepentingan Dinas Kepolisian dan senjata tersebut haruslah senjata api yang disiapkan oleh Dinas Kepolisian yang memang diperuntukkan untuk melumpuhkan seseorang bukan membinasakan / membunuh.
7. Memenuhi azas tindakan lain menurut hukum yang bertanggung
jawab (Pasa l5 dan Pasal 7 KUHAP) dan tindakan tersebut dilakukan atas penilaiannya sendiri.
8. Setelah petugas melakukan penembakan terhadap seseorang yang
diduga keras melakukan tindak pidana, Maka atasan yang bersangkutan segera mengambil tindakan sebagal berikut :
a. Memerintahkan Anggota Polri yang bersangkutan untuk
rnembuat laporan sehubungan dengan tindakan penembakan tersebut.
b. Membuat Laporan Polisi sehubungan dengan adanya tindakan
penembakan tersebut (dalam bentuk Laporan Polisi Pendapatan).
c. Membuat Berita Acara Pendapatan atau Berita Acara Pemeriksaan
d. Memerintahkan Penyidik lain (Penyidik Provost) atau petugas Penyidik lain dari Reserse untuk membuat Berita Acara Pemeriksaan terhadap Anggota yang melakukan penembakan tersebut, untuk mencari kebenaran tentang kejadian penembakan tersebut.
e. Membuat Berita Acara Pemeriksaan Saksi yang turut menyaksikan
terjadinya penembakan tersebut.
f. Memintakan Visum Et Repertum (VER) terhadap tersangka
yang menjadi korban penembakan tersebut dan Rumah Sakit / Dokter yang memberikan pertolongan / perawatan.
g. Menghubungi keluarga tersangka yang ditembak tersebut
sedapat mungkin dan sesegera mungkin serta memberitahukan tindakan Kepolisian yang telah dilakukan serta alasan-alasan mengapa tindakan Kepolisian tersebut terpaksa dilakukan.
h. Segera melakukan proses Penyidikan terhadap tersangka
untuk mempercepat proses penyerahan perkara yang berhubungan dengan tersangka yang tertembak tersebut.
i. Melakukan tindakan lain yang dipandang perlu sehubungan
dengan peristiwa penembakan tersebut.
Resolusi Sekreteris Jenderal PBB (United Nation General
Secretary Resolution) nomor 34/169 tahun 1979 yang pada intinya
sebagai berikut70 :
70
a. Resolusi ini ditujukan kepada semua pejabat hukum yang melaksanakan kekuasaan kepolisian khususnya kewenangan untuk menangkap atau menahan.
b. Para pejabat penegak hukum dapat menggunakan kekerasan hanya
apabila sangat perlu sebatas dibutuhkan untuk pelaksanaan tugas mereka.
c. Ketentuan itu (penggunaan tindakan keras) dimaksudkan
untuk mengatasi segala bentuk perbuatan tidak saja semua tindak kekerasan, keganasan dan perbuatan terlarang, melainkan meluas kepada semua larangan berdasarkan ketentuan pidana. d. Dalam melakukan tindakan keras polisi tetap harus
menghormati martabat dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (tindakan keras tidak bersifat sadis dan bukan pembalasan).
e. Tindakan keras tersebut dilakukan dengan memperhatikan azas
sangat diperlukan dalam pelaksanaan tugas mencegah terjadinya kejahatan (azas ini berkenaan dengan prinsip pelaksanaan kegiatan
kepolisian yang mengutamakan tindakan pencegahan).
f. Penggunaan Senjata api hanya dilakukan atas pertimbangan
Proporsionalitas ( Tepat sasaran, tepat waktu, tepat alasan, prosedur benar dan dapat dipertanggungjawabkan) dan dilakukan secara Profesional, tidak sadis dan tidak berlebihan (over
Acting) dan dengan memperhatikan nilai-nilai kesopanan dan rasa kemanusiaan.
g. Setiap kebijakan harus diambil untuk menghindari penggunaan senjata
api khususnya terhadap anak-anak hal ini mengandung pengertian bahwa tindakan keras dengan menggunakan senjata api terhadap anak-anak tidak dibenarkan.
h. Senjata api hanya digunakan apabila sipelanggar melawan dengan
menggunakan senjata api, atau kalau tidak akan membahayakan hidup orang lain dan apabila tindakan yang kurang tegas/kuat tidak cukup Untuk mencegah tindakan pelanggar / pelaku kejahatan.
i. Setelah menggunakan senjata api harus secepatnya
membuat laporan kepada atasan yang berwenang.
j. Melindungi kesehatan dan menyediakan upaya pertolongan terhadap
korban yang terkena tembakan. Artinya bahwa setiap orang yang tertembak harus dengan segera diberikan pertolongan dengan cara dibawa ke Rumah sakit.
Kongres kedelapan PBB tentang prinsip dasar penggunaan
kekerasan dan senjata api oleh para pejabat penegak hukum Havana, Cuba, 27 Agustus s/d 7 September 1990) Ketentuan khusus
butir 9 berbunyi 71 :
71
“ ….. Para pejabat hukum tidak akan menggunakan senjata api terhadap seseorang kecuali dalam usaha membela diri atau membela orang lain terhadap ancaman kematian atau luka parah yang segera terjadi, untuk mencegah dilakukan sesuatu tindak kejahatan yang sangat serius yang menyangkut ancaman besar terhadap kehidupan, untuk mencegah pelaku tindak kejahatan melarikan diri dan hanya apabila cara yang kurang ekstrim tidak cukup untuk mencegah terjadinya kejahatan guna mencapai tujuan-tujuan pencegahan kejahatan. Dalam setiap hal, penggunaan senjata api yang mematikan secara sengaja hanya boleh dilakukan apabila keadaan sama sekali tidak dapat dihindarkan untuk melindungan jiwa. “
International Convention Civil and Political Right tentang kode etik
perilaku aparat penegak hukum ( Article 2; Code of Conduct for Law Enforcement Officials) dan prinsip prinsip dasar Penggunaan kekuatan dan senjata api ( Article 8; Basic Principle on the use of Force and Firearms) tentang keadaan yang mengijinkan penggunaan senjata api72 .
72
Keadaan yang mengijinkan penggunaan senjata api 73:
a. Senjata api hanya akan digunakan dalam keadaan terpaksa.
b. Senjata api hanya digunakan untuk mompertahankan diri
atau melindungi orang lain dan ancaman kematian atau luka serius yang seketika terjadi.
c. Untuk mencegah suatu kejahatan yang serius yang melibatkan
ancaman yang gawat terhadap kehidupan. Dalam hal apapun hanya apabila langkah-langkah yang kurang ekstrim / keras tidak mencukupi.
d. Penggunaan kekuatan dan senjata api yang mematikan secara
sengaja diperkenankan, hanya apabila sama sekali tidak dapat dihindari untuk melindungi kehidupan manusia.
Presedur penggunaan senjata api74 :
a. Petugas harus mengidentifikasi dirinya sebagai petugas kepolisian.
b. Petugas harus memberikan peringatan yang jelas.
c. Petugas harus memberikan peringatan yang cukup agar peringatan
tersebut itu dipatuhi tetapi hal ini tidak diperlukan kalau penundaan (penggunaan senjata api) akan mengakibatkan kematian atau luka
serius bagi petugas atau orang-orang lain.Jelas tidak ada artinya
atau tidak tepat dalam keadaan itu untuk berbuat demikian.
73
Ibid..,
74
Berdasarkan uraian diatas bahwa penggunaan senjata api oleh aparat polri harus pada kondisi atau keadaan yang tepat yaitu pada saat yang memang semestinya aparat menggunakan senjata api dan juga penggunaan senjata api harus memenuhi persyaratan dan prosedur penggunaan senjata api yaitu tidak harus serta merta melakukan penembakan tetapi harus terlebih dahulu memeberi peringatan kepada target pelaku pidana yang harus dilumpuhkan selain itu juga harus memperhatikan keamanan lingkungan masyarakat sekitar, sehingganya sangat tidak dibenarkan jika aparat polri menggunakan senjata api di situasi dan kondisi yang tidak tepat karena akan menimbulkan keresahan dalam masyarakat.