• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data

1. Pengumpulan Data

Proses dalam melakukan pengumpulan data, baik data primer maupun data sekunder dipergunakan alat-alat pengumpulan data sebagai berikut :

a. Studi Pustaka

Terlebih dahulu mencari dan mengumpulkan buku-buku dan literatur yang erat hubungannya dengan permasalahan yang sedang dibahas sehingga dapat mengumpulkan data sekunder dengan membaca, mencatat, merangkum, untuk dianalisa lebih lanjut.

b. Studi Dokumen

Mempelajari berkas-berkas dokumen yang berkaitan dengan pokok bahasan dengan cara membaca, mencatat, merangkum untuk dianalisa lebih lanjut. c. Studi lapangan

Studi lapangan dilakukan melalui wawancara dengan responden yang telah direncanakan sebelumnya. Metode yang dipakai adalah pengamatan langsung dilapangan serta mengajukan pertanyaan yang disusun secara teratur dan mengarah pada terjawabnya permasalahan dalam penulisan tesis ini.

2. Pengolahan Data

Tahapan pengolahan data dalam penelitian ini meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

a. Identifikasi data, yaitu mencari data yang diperoleh untuk disesuaikan dengan pembahasan yang akan dilakukan dengan menelaah peraturan, buku atau artikel yang berkaitan dengan judul dan permasalahan.

b. Klasifikasi data, yaitu hasil identifikasi data yang selanjutnya diklasifikasi atau dikelompokkan sehingga diperoleh data yang benar-benar objektif.

c. Penyusunan data, yaitu menyusun data menurut sistematika yang telah ditetapkan dalam penelitian sehingga memudahkan peneliti dalam menginterprestasikan data.

E. Analisis Data

Pengolahan data dilakukan dengan cara menganalisis data secara kualitatif, yaitu dengan cara meneliti pelaksanaan pembinaan dan rehabilitasi terhadap narapidana narkotika, kemudian analisis ini dipaparkan secara sistematis sehingga terjawab keseluruhan permasalahan dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini bersifat evaluatif analisis yang kemudian dikonstruksikan dalam suatu kesimpulan yang ringkas dan tepat sesuai tujuan dari penelitian ini.

BAB V PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tersebut di atas, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Latar belakang perlunya pembinaan dan rehabilitasi terhadap narapidana narkotika adalah bahwa pengguna narkotika selain pelaku kejahatan juga adalah korban kejahatan itu sendiri, yang berarti bahwa negara mempunyai kewajiban untuk memberikan perlindungan hukum terhadap pengguna narkotika, termasuk pula wajib untuk memenuhi hak-hak pengguna narkotika sebagai korban terutama hak atas pembinaan dan rehabilitasi. Rehabilitasi dilakukan dengan maksud untuk memulihkan dan mengembangkan kemampuan fisik, mental dan sosial penderita yang bersangkutan. Relevansi rehabilitasi terhadap pecandu narkotika adalah kebijakan kriminal yang direalisasikan ke dalam bentuk semakin diperbaharuinya ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai rehabilitasi terhadap pecandu narkotika ini, yang memberikan peluang lebih besar bagi pecandu narkotika untuk direhabilitasi adalah merupakan bahagian dari upaya penanggulangan kejahatan penyalahgunaan narkotika, agar kelak mereka tidak terjerumus ke

dalam lembah hitam yang sama. Hal ini merupakan bahagian dari pembaharuan hukum pidana nasional.

2. Pelaksanaan pembinaan dan rehabilitasi terhadap pengguna narkotika di Lembaga Pemasyarakatan narkotika Way Huwi merupakan wujud dari sistem pemasyarakatan yang pelaksanaanya bersifat konfrehensif dari rehabilitasi sosial terpadu, rehabilitasi medis, rehabilitasi keagamaan, rehabilitasi kemandirian dan rehabilitasi penyuluhan hukum. Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Way Huwi dalam pelaksanaan pembinaan bersifat rehabilitatif, edukatif, korektif dan reintegratif dalam melaksanakan tugas dan fungsi sehingga pemidanaan bukan hanya sebagai penjeraan tetapi bertujuan untuk menyadarkan manusia menjadi warga Negara yang bertanggung jawab dan berguna. Rehabilitasi terhadap pengguna narkotika adalah bentuk pengobatan dan perawatan. Sedangkan pelaksanaan pembinaan narapidana narkotika dilaksanakan untuk mengembalikan narapidana kemasyarakat dengan tidak melakukan tindak pidana lagi. Petugas pemasyarakatan sebagai abdi Negara dan abdi masyarakat wajib menghayati serta mengamalkna tugas-tugas pembinaan pemasyarakatan dengan penuh tangung jawab. Dalam melaksanakan kegiatan pembinaan pemasyarakatan yang berdaya guna, tepat guna dan berhasil guna, petugas harus memiliki kemampuan professional dan intergitas moral.

3. Hambatan dalam pelaksanaan pembinaan dan rehabilitasi terhadap narapidana narkotika di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Way Huwi masih banyak ditemukan. Sehingga Lembaga Pemasyrakatan Narkotika Way Huwi masih memerlukan banyak pembenahan dari berbagai bidang. Hambatan-hambatan

yang menjadi penghalang untuk pelaksanaan rehabilitasi di Lapas Narkotika Way Huwi adalah adanya hambatan normatif sebagai pedoman pelaksanaan rehabilitasi, masalah tingkat SDM petugas Lapas Narkotika Way Huwi, Kurangnya sarana dan prasarana untuk mendukung program rehabilitasi, Kurangnya kepedulian dari lingkungan, dan masalah warga binaaan pemasyarakatan itu sendiri.

B. Saran

1. Diharapkan pembenahan pola pembinaan Lembaga Pemasyarakatan Narkotika dari Lembaga Pemasyarakatan umum, baik dari peraturan pendukung sebagai pedoman pelaksanaan tugas sehingga tujuan rehabilitasi di Lapas Narkotika dapat tercapai sebagaimana rumah rehabilitasi. Untuk melaksanakan tugas tersebut, perlu membuat perencanaan program pelaksanaan tugas dan fungsi selanjutnya diketahui oleh Kalapas. Rencana kerja yang dibuat oleh Kepala Seksi tidak terlepas dari situasi dan kondisi di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Way Huwi sehingga rencana itu dapat terlaksana dengan efektif. 2. Diharapkan adanya pelatihan khusus terhadap petugas Lembaga

Pemasyarakatan Narkotika untuk dapat lebih memahami akibat dan bahaya penyalahgunaan narkotika dengan tujuan supaya petugas terlebih dahulu dapat membersihkan diri dari penggunaan narkotika sehingga Lembaga Pemasyarakatan Narkotika menjadi tempat yang steril dari narkotika.

3. Diharapkan sistem pembinaan yang dilaksanakan terhadap narapidana narkotika dalam Lembaga Pemasyarakatan Narkotika bukan sebagai proses

pemidanaan tetapi Lembaga Pemasyarakatan Narkotika dapat menjalankan pengobatan supaya narapidana narkotika mendapatkan pemulihan.

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Ali, Mahrus, 2011, Dasar-Dasar Hukum Pidana, Sinar Grafika: Jakarta.

Ali, Achmad, 2009, Menguak Teori Hukum (legal Theory) dan Teori Peradilan (judicial Prudence) Termasuk Interpretasi Undang-Undang (Legis Prudence), Kencana, Jakarta.

Atmasasmita, Romli, 1982, Strategi Pembinaan Pelanggar Hukum dalam Konteks

Penegakan Hukum Di Indonesia, Alumni, Bandung.

Cooke, David J., Pamela J Baldwin dan Jaqueline howison, 2008, Menyingkap Dunia Gelap Penjara, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Dwija, Priyatno, 2006, Sistem Pelaksanaan Pidana Penjara Di Indonesia, Refika Aditama, Bandung.

Dirjosisworo. Soedjono, 1990, Hukum Narkotika Di Indonesia. Citra Aditya Bakti. Bandung.

Gunakarya, A. Widiada, 1988, Sejarah dan Konsepsi Pemasyarakatan, Armico, Bandung.

Hamzah, Andi, 1994, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineke Cipta, Jakarta. Harsono, 1995, Sistem Baru Pembinaan Narapidana, Djambatan, Jakarta. Lamintang, PAF, 2004, Hukum Penitersier Indonesia. Alumni, Bandung.

Muladi, dan Arief Barda Nawawi, 1998, Teori-Teori Dan Kebijakan Pidana, Alumni, Bandung.

Nawawi Arief, Barda 1996, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Citra Aditya Bakti, Bandung.

__________, 2010, Kebijakan Legislatif Dalam Penanggulangan Kejahatan Dengan Pidana Penjara, Genta Publishing, Yogyakarta.

Sasangka, Hari, 2003, Narkotika dan Psikotropika Dalam Hukum Pidana, Mandar Maju, Bandung.

Sholehuddin, 2002, Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana, Raja Grafindo Persada: Jakarta.

Sujatno, Adi, 2001, Negara Tanpa Penjara, Montas Ad, Jakarta.

__________, 2004, Sistem Pemasyarakatan Indonesia (Membangun Manusia Mandiri), Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Departemen Kehakiman dan HAM RI), Jakarta.

__________, 2008, Pencerahan Dibalik Penjara dari Sangkar Menuju Sanggar Untuk Menjadi Manusia Mandiri, Teraju, Jakarta.

Sulaiman, Holil, 2006, Cmprehensive multidisciplinary out line (CMO)/Garis Besar Penanggulangan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba Secara Komprehensif dan Mulitidisiplin, disunting BNN, Konsultan Ahli BNN, Jakarta.

Sumaryanti, 2007, Peradilan Koneksitas Di Indonesia Suatu Tinjauan Ringkas. Bina Aksara, Jakarta.

Supramono, G. 2001, Hukum Narkotika Indonesia. Djambatan, Jakarta.

Tim Penyusun, 1990, Pola Pembinaan Narapidana/Tahanan, Cetakan I, Departemen Kehakiman Republik Indonesia, Jakarta.

Tim Penyususn, 2006, Modul Pelatihan Petugas Rehabilitasi Sosial Dalam

Pelaksanaan One Stop Center (OSC), BNN RI, Pusat Laboratorium Terapi

dan Rehabilitasi, Jakarta.

B. Peraturan Perundang-Undangan

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHAP)

Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Peraturan Pemerintah RI No: 31 Tahun1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan.

Maros dan Jaya Pura.

Surat Edaran Mahkamah Agung RI Nomor 07 Tahun 2009 tentang Menempatan Pemakai Narkoba Ke Dalam Terapi dan Rehabilitasi.

Dokumen terkait