• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.6 Prosedur Pengumpulan Data

Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi terstruktur dengan pendekatan teknik triangulasi.

1. Data yang didapat melalui observasi langsung terdiri dari pemetaan rinci tentang kegiatan, perilaku, tindakan partisipan, serta juga keseluruhan kemungkinan interaksi interpersonal, dan proses penataan yang merupakan bagian dari pengalaman manusia yang dapat diamati selama proses wawancara.

penelitian berkisar dari informal ke formal dan lebih dari sekedar percakapan. Walaupun semua percakapan mempunyai aturan peralihan tertentu atau kendali oleh satu atau partisipan lainnya, aturan pada wawancara penelitian lebih ketat. Peneliti cenderung mengarahkan wawancara pada penemuan perasaan, persepsi, dan pemikiran partisipan (Afiyanti dan Rachmawati, 2014). Pada penelitian ini, pengambilan data melalui wawancara semi terstruktur dengan pedoman wawancara dan panduan wawancara (catatan probing peneliti) dengan menggunakan strategi komunikasi yang tepat untuk penderita skizofrenia.

3. Teknik triangulasi untuk mencapai validitas data yaitu informasi dikumpulkan dan dicari dari sumber yang berbeda agar tidak bias melalui informan atau sumber data yang berbeda (Afrizal, 2014). Triangulasi dilakukan untuk memperkuat data dan membuat peneliti yakin terhadap kebenaran dan kelengkapan data. Triangulasi dapat dilakukan secara terus menerus sampai peneliti yakin bahwa datanya sudah valid. Pada penelitian ini, selain melakukan pengumpulan data dari partisipan, peneliti juga melakukan teknik triangulasi dengan mengumpulkan data dari keluarga dan pengurus komunitas.

3.6.1 Tahap Persiapan

Tahap persiapan dimulai dengan peneliti meminta surat pengantar pemintaan ijin penelitian dari Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga yang di tujukan kepada Ketua Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia dengan tembusan kepada Ketua Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia Simpul Malang. Setelah mendapat izin dari pengurus dan ketua Ketua Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia Simpul Malang, peneliti menetapkan calon partisipan sesuai dengan kriteria penelitian.

Peneliti mengidentifikasi calon partisipan berdasarkan data dari pengurus Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia Simpul Malang. Peneliti melakukan pengumpulan data terlebih dahulu dengan melakukan pendekatan kepada pengurus, ketua, dan semua anggota komunitas pada pertemuan rutin mereka. Setelah mendapat informasi secara umum mengenai kondisi partisipan, peneliti mendatangi anggota komunitas yang aktif yaitu penderita skizofrenia untuk melakukan pendekatan secara langsung dengan perkenalan membina hubungan saling percaya kepada calon partisipan. Jika sudah tercipta hubungan saling percaya, selanjutnya peneliti menawarkan untuk untuk berpartisipasi dalam penelitian ini dengan memberikan penjelasan penelitian. Setelah partisipan memahami penjelasan penelian dan memberikan persetujuannya dengan tanda tangan informed consent yang disaksikan 2 saksi yaitu keluarga dan pengurus, maka peneliti membuat kontrak dengan partisipan mengenai waktu dan tempat pelaksanaan wawancara. Pemilihan waktu dan tempat wawancara menjamin kenyamanan selama proses wawancara berlangsung yaitu antara pukul 08.00 sampai dengan 15.00 di ruang tamu tempat tinggal partisipan, ruang pertemuan KPSI, dan ruang tamu panti Karya Asih Lawang,

3.6.2 Tahap Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan peneliti melakukan wawancara semi terstruktur dengan tiga fase yaitu:

1) Fase Orientasi

Fase orientasi dimulai setelah tercipta hubungan saling percaya antara peneliti dan partisipan ditandai dengan surat pernyataan kesediaan menjadi partisipan (informed consent). Peneliti pada tahap orientasi mencoba

menanyakan kondisi kesehatan penderita skizofrenia secara umum untuk mengidentifikasi sejauh mana kesiapan penderita untuk dilakukan wawancara.Peneliti menciptakan suasana lingkungan yang nyaman dengan duduk berhadapan dan mencoba untuk menjaga privasi penderita selama wawancara berlangsung dengan menempatkan didalam ruang wawancara hanya penderita, peneliti, dan/atau juga disertai keluarga. Peneliti menyiapkan voice recorder yang digunakan untuk merekam percakapan selama wawancara dan menyiapkan alat tulis untuk mengidentifikasi bahasa non verbal partisipan selama wawancara. Peneliti juga mengidentifikasi posisi voice recorder yang tepat agar dapat merekam semua percakapan selama wawancara dengan jelas. Peneliti melakukan wawancara pada partisipan dengan posisi berhadapan dengan jarak yang cukup dekat (kurang lebih 50 – 100 cm), dengan pertimbangan voice recorder dapat merekam pembicaraan dengan jelas. Voice recorder diletakkan ditempat terbuka dengan jarak kurang lebih 30-50 cm dari partisipan.

2) Fase Kerja

Pada penelitian ini, peneliti menyediakan panduan wawancara yang berisi pertanyaan terbuka. Panduan wawancara tersebut berisi pertanyaan- pertanyaan khusus yang menjawab dari tujuan penelitian. Peneliti memberikan gambaran secara umum terkait dengan pertanyaan inti tersebut, sehingga partisipan dapat memahami pertanyaan peneliti, Peneliti berusaha tidak memberikan penilaian berdasarkan pemahaman atau pengalaman yang dimiliki oleh peneliti terhadap jawaban yang diberikan oleh partisipan. Proses wawancara pada penelitian berlangsung selama 45-60 menit untuk setiap

parisipan, diakhiri pada saat informasi yang dibutuhkan telah diperoleh sesuai tujuan penelitian melalui saturasi.

Dalam pelaksanaan wawancara, peneliti memiliki catatan probing berisi panduan pertanyaan untuk menstimulasi percakapan yang mendorong partisipan menjawab pertanyaan secara lengkap. Teknik probing dapat dilakukan dengan mengulangi jawaban Responsden (echo probe), mengulangi bagian dari pertanyaan (requested probe), menunggu sebentar atau istirahat untuk memperoleh penjelasan yang lebih lanjut (silent probe), mendorong orang untuk meneruskan pembicaraannya dengan senyum/menganggukan kepala (encouragement probe), dan mengulangi pertanyaan apabila terjadi kebingungan pada partisipan (repeat probe). Probing berakhir jika peneliti telah memperoleh jawaban yang lengkap.

Peneliti menuliskan catatan lapangan (field note) yang penting dengan tujuan penelitian untuk melengkapi hasil wawancara agar tidak lupa dan membantu unsur kealamiahan data yang didapatkan selama wawancara. Catatan lapangan digunakan untuk mendokumetasikan suasana, ekspresi wajah, perilaku dan respons non verbal partisipan selama proses wawancara. Catatan lapangan tersebut disusun kedalam suatu form panduan catatan lapangan yang menggambarkan Respons partisipan selama wawancara berlangsung. Catatan lapangan ditulis ketika wawancara berlangsung dan digabungkan pada transkrip.

3) Fase terminasi

Terminasi dilakukan apabila semua pertanyaan yang ingin ditanyakan sudah selesai dijawab oleh partisipan. Peneliti menutup wawancara dengan

mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan kerjasama partisipasi selama wawancara. Peneliti kemudian membuat kontrak kembali dengan partisipan untuk pertemuan selanjutnya yaitu untuk validasi data.

Dokumen terkait