BAB IV. METODOLOGI PENELITIAN
H. Prosedur Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan data skunder. data primer diperoleh langsung dari responden melalui kuesioner yang disebarkan, sedangakan data sekunder di peroleh dari dokumentasi dan arsip RSU Pirngadi Medan.
Data penelitian di kumpulkan dengan cara sebagai berikut.
1. Penelitian menyerahkan lembar kuesioner pada responden dengan terlebih dahulu meminta persetujuan(informent consent) apakah surat persetujuan penelitian.
2. Selanjutnya penelitian menjelaskan cara pengisian kuesioner tersebut.
3. Agar pengumpulan dapat berjalan dengan cermat dan teliti, peneliti pengawasi atau mendampingi responden saat mengisi kuesioner.
4. Setelah responden selesai menjawab kuesioner yang dibagikan selanjutnya peneliti mengumpulkan kuesioner kembali dengan terlebih dahulu
memeriksa jawaban responden apakah sudah terisi seluruhnya sehingga dalam mengelola data tidak terjadi kendala.
I. Analisa Data
Data yang diperoleh atau dikumpulkan diolah dengan cara editing, coding, dan tabulating proses pengelolahan data melalui bantuan komputerisasi dengan menggunakan program SPSS, dan hasilnya disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, kemudian di analisa secara statistik deskriptif untuk mengetahui motivasi suami terhadap istri yang mengalami abortus.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini diuraikan hasil penelitian dan pembahasan tentang motivasi suami terhadap istri yang mengalami abortus di Rumah Sakit Umum Pringadi pada tanggal 17 Februari s/d 17 April tahun 2011. Jumlah responden adalah 30 orang yang termasuk dalam kreteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Responden menjawab semua pertanyaan dalam kuesioner. Kuesioner terdiri dari dua bagian yaitu bagian pertama adalah data demografi dan bagian kedua berisikan 10 pernyataan tentang motivasi suami terhadap istri yang mengalami abortus.
A. Hasil
1. Data demografi responden, dalam hal ini peneliti
Mendeskripsikan demografi masing-masing responden yang meliputi usia, pendidikan, pekerjaan , dan paritas istri.
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Motivasi suami terhadap istri yang mengalami abortus di RSU Pirngadi Medan Februari 2011
Karakteristik Frekuensi Persentase %
Umur 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 12 16 2 40, 0 53, 3 6, 7 jumlah 30 100 Pendidikan SD SMP SMA SARJANA 1 8 20 1 3, 3 26, 7 66, 7 3, 3 Jumlah 30 100 Pekerjaan Wiraswasta Buruh Pegawai swasta 22 5 3 73, 3 16, 7 10, 0 Jumlah 30 100
Berdasarkan Tabel 5.1 diatas diperoleh bahwa responden paling banyak berusia 35-44 tahun sebanyak 16 orang (53, 3%). Berdasarkan pendidikan responden dari 30 responden yang paling banyak tingkat pendidikannya adalah SMU sebanyak 20 orang (66, 7%). Berdasarkan pekerjaan, paling banyak adalah yang bekerja sebagai wiraswasta yaitu sebanyak 22 orang (73, 3%).
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Paritas Istri Responden Motivasi suami terhadap istri yang mengalami abortus di RSU Pirngadi Medan Februari 2011
Paritas Primipara Sekundipara Multipara 3 11 16 10, 6 36, 7 53.3
BerdasarkanTabel 5.2 diatas diketahui dari 30 responden yang istri yang mengalami abortus, yang paling banyak adalah pada kehamilan multipara yaitu sebanyak 16 orang (53, 3%).
2. Data hasil tingkat motivasi suami terhadap istri yang mengalami abortus di RSU Pirngadi Medan.
Dari 10 pernyataan tentang motivsai terhadap istri yang mengalami abortus dapat diketahui tingkatan motivasi suami tersebut, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 5.3
Distribusi Responden Berdasarkan motivasi suami terhadap istri yang mengalami abortus di RSU Pirngadi Medan Februari 2011.
Motivasi suami Ferekuensi Persentase (%)
Baik Cukup Kurang 27 3 0 90, 0 10, 0 0 Jumlah 30 100
Berdasarkan Tabel 5.3 di atas diperoleh keterangan bahwa motivasi suami terhadap istri yang mengalami abortus dalam katagori baik sebanyak 27 orang (90, 0%) dan memotivasi dalam katagori cukup 3 orang (10, 0%).
3. Motivasi suami berdasarkan umur
Setelah diketahui tingkatan motivasi suami, kemudian dilakukan uji silang antara tingkat motivasi dengan umur dari responden, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Motivasi Suami Terhadap Istri Yang Mengalami Abortus Berdasarkan Umur di RSU Pirngadi Medan Tahun 2011
No Umur (tahun)
Motivasi Jumlah
Baik Cukup Kurang
F % F % F %
1 25-34 11 36, 7 1 3, 3 0 0, 0 12 40, 0% 2 35-44 14 46, 7 2 6, 7 0 0, 0 16 53, 3%
3 45-54 2 6, 7 0 0, 0 0 0, 0 2 6, 7%
Jumlah 27 90, 0 3 10, 0 0 0, 0 30 100% Sumber : Data primer dari responden
Berdasarkan dari hasil akumulasi data diatas diperoleh motivasi berdasarkan umur 35-44 tahun dengan kategori baik sebanyak adalah 14 orang (46, 7), sedangkan umur 35-44 tahun kategori cukup sebanyak adalah 2 orang (6, 7).
4. Motivasi suami berdasarkan pendidikan
Setelah diketahui tingkatan motivasi suami, kemudian dilakukan uji silang antara tingkat motivasi dengan pendidikan dari responden, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Motivasi Suami Terhadap Istri yang Mengalami Abortus Berdasarkan Pendidikan di RSU Pirngadi Medan Tahun 2011
Pendidikan Motivasi Jumlah
Baik Cukup Kurang
F % F % F % 1 SD 1 3, 3 0 0, 0 0 0, 0 1 3, 3% 2 SMP 7 23, 3 1 3, 3 0 0, 0 8 26, 7% 3 SMA 18 60, 0 2 6, 7 0 0, 0 20 66, 7% 4 SARJANA 1 3, 3 0 0, 0 0 0, 0 1 3, 3% Jumlah 27 90, 0 3 10, 0 0 0, 0 30 100% Sumber : Data primer dari responden
Berdasarkan dari hasil akumulasi data diatas diperoleh motivasi berdasarkan pendidikan SMA dengan katagori baik sebanyak 18 orang (60, 0), sedangkan dengan katagori cukup SMA sebanyak 2 orang (6, 7).
5. Motivasi suami berdasarkan pekerjaan
Setelah diketahui tingkatan motivasi suami, kemudian dilakukan uji silang antara tingkat motivasi dengan pekerjaan responden, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di berikut ini:
Tabel 5.6
Distribusi Frekuensi Motivasi Suami Terhadap Istri yang Mengalami Abortus Berdasarkan Pekerjaan di RSU Pirngadi Medan Tahun 2011
Pekerjaan Motivasi Jumlah
Baik Cukup Kurang
F % F % F %
1 Wiraswasta 20 66, 7 2 6, 7 0 0, 0 22 73, 3% 2 Buruh 4 13, 3 1 3, 3 0 0, 0 5 16, 7% 3 Pegai swasta 3 10, 0 0 0, 0 0 0, 0 3 10, 0% Jumlah 27 90, 0 3 10, 0 0 0, 0 30 100% Sumber : Data primer dari responden
Berdasarkan dari hasil akumulasi data diatas diperoleh motivasi berdasarkan pekerjaan wiraswasta dengan katagori baik sebanyak 20 orang (66, 7), sedangkan dengan katagori cukup pada pekerjaan wiraswasta sebanyak 2 orang(6, 7).
6. Motivasi suami berdasarkan paritas
Setelah diketahui tingkatan motivasi suami, kemudian dilakukan uji silang antara tingkat motivasi dengan paritas istri responden, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 5.7
Distribusi Frekuensi Motivasi Suami Terhadap Istri yang Mengalami Abortus Berdasarkan Paritas di RSU Pirngadi Medan Tahun 2011
Paritas Motivasi Jumlah
Baik Cukup Kurang
F % F % F %
1 Primipara 3 10, 0 0 0, 0 0 0, 0 3 10, 0% 2 Sekundipara 10 33, 3 1 3, 3 0 0, 0 11 36, 7% 3 Multipara 14 46, 7 2 6, 7 0 0, 0 16 53, 3% Jumlah 27 90, 0 3 10, 0 0 0, 0 30 100%
Berdasarkan dari hasil akumulasi data diatas diperoleh motivasi berdasarkan paritas istri dengan kategori baik adalah ibu multipara sebanyak 14 orang (46, 7), dengan kategori cukup adalah multipara sebanyak 2 orang (6, 75).
B. Pembahasan
Dari hasil penelitian yang dilakukan mengenai motivasi suami terhadap istri yang mengalami abortus di RSU Pirngadi Medan tahun 2011 berdasarkan umur, pendidikan, pekerjaan dan paritas.
a. Motivasi suami terhadap istri yang mengalami abortus
Dari hasil data pada penelitian ini ditemukan bahwa motivasi suami dalam memotivasi istri yang mengalami abortus berada pada kategori baik yaitu sebanyak 27 orang responden (90, 0%). Dari hasil observasi yang penulis lakukan di lokasi penelitian dijumpai bahwa responden memang melakukan hal-hal yang tersebut di dalam kuisioner dan hal itu juga dibenarkan oleh istri responden.
Hal ini sesuai dengan motivasi suami yang dikemukakan oleh Mahdi (2008) yang menyatakan bahwa suami berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan memberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya yang mana dibutuhkan oleh istri, terutama untuk memotivasi istri dalam menghadapi abortus.
Pemeriksaan kegagalan kehamilan memiliki peran yang sangat penting dalam menurunkan angka kesakitan pada istri. Tujuan perawatan kegagalan kehamilan setiap calon istri tetap menjaga kesehatannya, perawatan kegagalan kehamilan yang
cermat merupakan pencegahan yang terbaik untuk mengatasi kematian istri sewaktu mengalami keguguran (Lewellyn, 2005).
Dukungan emosional suami terhadap istri, dapat memberikan ketenangan batin dan perasaan senang dalam diri istri dan istri akhirnya menjadi lebih mudah menyesuaikan diri dalam situasi terjadinya keguguran. Suami adalah orang pertama memberi dorongan atau dukungan kepada istri sebelum pihak lain memberi dorongan (Dagun, 2002).
a) Motivasi suami berdasarkan umur
Berdasarkan dari hasil data diatas diperoleh motivasi suami berdasarkan umur dengan kategori baik sebanyak adalah 14orang( 46, 7%) berada pada umur 35-44 tahun. Usia 35-35-44 tahun dianggap usia yang sudah dewasa dimana seseorang sudah mampu bertindak lebih dewasa dan setelah memikirkan segala sesuatunya, menurut Notoatmodjo (2007) usia mempengaruhi kematangan dan cara berfikir seseorang. Semakin tua umur seseorang maka proses perkembangan mentalnya bertambah baik. Hal ini juga sejalan dengan yang disampaikan oleh Hamzah (2009) bahwa motivasi suami sangat dipengaruhi oleh umur dalam memberikan motivasi kepada istri.
b) Motivasi suami bardasarkan pendidikan
Berdasarkan dari hasil data diatas diketahui motivasi berdasarkan tingkat pendidikan diperoleh bahwa mayoritas suami yang bermotivasi baik mempunyai pendidikan SMA sebanyak 18 orang(60, 0%). Tingkat pendidikan SMA merupakan tingkat pendidikan menengah di Indonesia, tidak semua masyarakat Indonesia dapat sekolah ke tingkat Perguruan tinggi, sehingga pendidikan sederajat SMA sudah dianggap pendidikan yang cukup dan mayoritas responden
di dalam penelitian ini berpendidikan setingkat SMA, hanya satu orang saja yang berpendidikan perguruan tinggi.
Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Hamzah (2009) bahwa tingkat pendidikan seseorang berperan dalam memberikan motivasi, suami yang berpendidikan lebih tinggi cenderung lebih memperhatikan kesehatan dirinya dan keluarga.
Menurut asumsi peneliti bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi sikap dan prilaku serta cara pemahaman mengenai memberikan motivasi, hal ini karena suami dapat memperoleh berbagai informasi baik sewaktu masa pendidikan maupun sumber lainnya, sesuai dengan teori yang dikemukan Notoadmodjo tingkat pendidikan akan mempengaruhi seseorang dalam menerima informasi sehingga banyak pula pengetahuan yang dimiliki mengenai memberikan motivasi.
c) Motivasi suami berdasarkan pekerjaan
Berdasarkan dari hasil data diatas diketahui motivasi berdasarkan pekerjaan diperoleh bahwa mayoritas suami yang bermotivasi baik mempunyai pekerjaan sebagai wiraswasta sebanyak 20 orang(66, 7%). Berdasarkan pendapat Notoadmodjo (2007) tingkat pekerjaan akan mempengaruhi seseorang dalam menerima informasi sehingga banyak pula pengetahuan yang dimiliki mengenai memberikan motivasi.
Hasil penelitian ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Hamzah bahwa suami yang pekerjaan lebih mapan cenderung lebih memperhatikan kesehatan dirinya dan keluarga, hal menunjukkan bahwa tingkat pekerjaan seseorang berperan dalam memberikan motivasi. Menurut asumsi peneliti responden yang pekerjaannya wiraswata mempunyai motivasi yang baik karena wiraswata biasanya tidak mempunya jam kerja yang ketat berbeda dengan
pegawai atau karyawan, biasanya mereka mempunyai waktu yang lebih fleksibel yang dapat diatur sendiri sehingga mereka dapat meluangakan waktu lebih banyak ketika istri mengalami abortus.
d) Motivasi suami berdasarkan paritas
Berdasarkan dari hasil data diatas diperoleh motivasi berdasarkan paritas istri dengan kategori baik adalah ibu multipara sebanyak 14 orang (46, 7%). Berdasarkan Notoadmodjo (2007) tingkat paritas akan mempengaruhi seseorang dalam menerima informasi sehingga banyak pula pengetahuan yang dimiliki mengenai memberikan motivasi. Seorang suami yang telah mempunyai anak lebih berpengalaman dalam menghadapi kehamilan istri berikutnya dibanding dengan suami yang baru pertama kali istrinya hamil. Hal ini mungkin disebabkan adanya anggapan sebagian masyarakat yang menganggap bahwa kehamilan merupakan suatu proses yang alamiah yang tidak memerlukan suatu pengetahuan dan keterampilan khusus dalam menghadapinya.
1. Keterbatasan Penelitian a. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif yang hanya menggambarkan motivasi suami terhdap istri yang mengalami abortus. Sebaiknya pada penelitian lanjutan dapat menggunakan desain kolerasi yang dapat menjelaskan hubungan motivasi suami terhadap istri yang mengalami abortus
2. Implikasi untuk Asuhan Kebidanan
Hasil penelitian ini sebagai informasi dalam menjalankan asuhan kebidanan pada istri yang mengalami abortus dengan menjelaskan agar motivasi suami ikut aktif dalam menjaga kesehatan istri yang mengalami abortus.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian di RS. Dr. Pirngadi Medan Tahun 2011 dapat disimpulkan bahwa :
1. Dari hasil data pada penelitian ini ditemukan bahwa motivasi suami dalam memotivasi istri yang mengalami abortus berada pada kategori baik yakni sebanyak 27 orang responden (90, 0%).
2. Bedasarkan umur, motivasi suami dalam memotivasi istri yang mengalami abortus berada pada kategori baik terdapat pada kelompok umur 35-44 tahun sebanyak 16 orang (53, 3%).
3. Motivasi suami dalam memotivasi istri yang mengalami abortus berdasarkan tingkat pendidikan berada pada kategori baik dengan pendidikan mayoritas SMU sebanyak 20 orang (66, 7%).
4. Motivasi suami dalam memotivasi istri yang mengalami abortus berada pada kategori baik berdasarkan pekerjaan mayoritas pekerjaan reponden adalah wiraswasta sebanyak 22 orang (73, 3%).
5. Motivasi suami dalam memotivasi istri yang mengalami abortus berada pada kategori baik berdasarkan paritas istri adalah pada multipara sebanyak 16 orang (53, 3%).
B. Saran
1. Bagi pelayanan kebidanan
Menerapkan informasi dari hasil penelitian ini dalam melakukan pelayanan kebidanan tentang perlunya motivasi suami terhadap istri yang mengalami abortus.
2. Bagi Suami
Menjadi informasi bagi para suami tentang perlunya memotivasi istri yang mengalami abortus baik motivasi fisik dan mental sehingga istri dapat melewati kejadian abortus dan kembali pulih kesehatannya.
3. Bagi peneliti lanjut
Penelitian ini dapat dilanjutkan dengan desain penelitian yang bersifat kolerasi yaitu untuk mengetahui hubungan motivasi terhadap istri yang mengalami abortus.
DAFTAR PUSTAKA
Achadiat, M, C. (2004). Obstetri Dan Ginekologi. Jakarta: EGC.
Bibilung. (2008). Peran Suami Dalam Kehamilan. Diambil 20 Oktober, 2010, dari
Dagun, S, M. (2002). Psikologi keluarga. Jakarta: rieneka Cipta.
Hamzah, H, B. (2009). Teori Motivasi Dan Pengukurannya. Jakarta: Bumu Aksara Hidayat, A. A. (2007). Metode Penelitian Kebidanan Dan Teknik Analisis Data. Jakarta:
Salemba Medika.
Kamus Besar Bahasa IndoneaiA. (2002). JAKARTA: Balai Pustaka.
Llewellyn, D., Jones. (2005). Setiap Wanita. Jakarta : Delapratasa Publishing.
Manik, M., Sitohang, N., Nurasiah. (2008). Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Medan: Tidak di publikasikan
Manuaba, C. (2007). Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC
Manuaba, C. (2008). Gawat Darurat Obstetri Dan Obstetri Ginekologi. Jakarta: EGC Maulana, M. (2008). Cara Cerdas Menghadapi Kehamilan Dan Mengasuh Bayi.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Notoadmojo, S. (2007). Promosi Kesehatan. Jakarta: Rieneka Cipta
Nursalam. (2008). Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan.Jakarta : Salemba Medika.
Salmah, Rusmiati, Mariana, Susanti. (2006). Asuhan Kebidanan Antenatal. Jakarta: EGC
Sudirman. (2007). Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Taufik, M. (2007). Prinsip-Prinsip Promosi Kesehatan Dalam Keperawatan Untuk
LEMBAR KONSULTASI KARYA TULIS ILMIAH
PROGRAM D-IV BIDAN PENDIDIK FK USU
Nama Mahasiswa : Rika Handayani Nama Pembimbing : dr. Rina Amelia MARS
NIM : 105102026 NIP :197604202003122002
Judul KTI : Motivasi Suami Terhadap Istri yang Mengalami Abortus Di RS. DR. Pirngadi Medan
No Tanggal Materi Anjuran/Saran Paraf
Pembimbing 1 04 September 2010 Pangajuan judul Revisi judul
2 23 September 2010 Pengajuan revisi judul
ACC judul, lanjutkan BAB 1
3 29 September 2010 Pangajuan BAB 1 Perbaikan latar belakang 4 01 Oktober 2010 Pengajuan BAB 1 Perbaikan latar belakang 5 19 Oktober 2010 Pengajuan BAB 1 Perbaikan latar belakang 6 22 Oktober 2010 Pengajuan BAB 1 ACC BAB 1, lanjut BAB II
dan kuesioner 7 26 Oktober 2010 Pengajuan BAB II
dan kuesioner
Perbaikan tinjauan teoritis dan kuesioner
8 02 Nopember 2010 Pengajuan BAB II Perbaikan tinjauan teoritis dan kuesioner
9 07 Nopember 2010 Pengajuan BAB II ACC BAB II dan
kuesioner,lanjut ke BAB III 10 11 Nopember 2010 Pengajuan BAB III Perbaikan BAB III
11 14 Nopember 2010 Pengajuan BAB III ACC BAB III,lanjut ke BAB IV
12 18 Nopember 2010 Pengajuan BAB IV Perbaikan BAB IV 13 20 Nopember 2010 Pengajuan BAB IV Perbaikan BAB IV 14 22 Nopember 2010 Pengajuan BAB IV ACC BAB IV 15 29 April 2011 Pengajuan proposal
perbaikan
Perbaikan proposal lanjut Bab V
No Tanggal Materi Anjuran/Saran Paraf Pembimbing
16 30 April 2011 Pengajuan Bab V, kuesioner
Perbaikan Bab V, Kuesioner
17 6 Mei 2011 Pengajuan Bab V, Kuesioner,
Lanjut Bab V dan Bab VI
18 13 Mei 2011 Pengajuan Bab V dan Bab VI
Perbaikan Bab V dan Bab VI
19 14 Mei 2011 Pengajuan Bab V dan Bab VI
Perbaikan Bab V dan Bab VI
20 18 Mei 2011 Pengajuan Bab IV, V, VI
Perbaikan KTI Lengkap
21 20 Mei 2011 Pengajuan KTI Perbaikan KTI Lengkap 22 21 Mei 2011 Pengajuan KTI Perbaikan KTI Lengkap 23 27 Mei 2011 Pengajuan KTI ACC KTI
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Rika Handayani
Tempat/ Tanggal Lahir : Rantau Prapat, 10 Oktober 1988 Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Rantau Prapat, Labuhan Batu
RIWAYAT PENDIDIKAN
Tahun 1994-2000: SD Negri 114135 Rantau Prapat Tahun 2000-2003: SLTP Negri 5 Rantau Prapat
Tahun 2003-2006: SMA Muhammadiyah – 10 Rantau Prapat