• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosedur Penyaluran BLM-PUAP

PEMBAHASAN DAN HASIL

II. Prosedur Penyaluran BLM-PUAP

a. Satuan kerja Pusat Pembiayaan Pertanian menerbitkan Surat Perintah Kerja (SPK) bermeterai Rp. 6000,- kepada GAPOKTAN. b. Penyaluran dana BLM – PUAP dilakukan dengan mekanisme

Pembayaran Langsung (LS) ke Rekening GAPOKTAN.

c. Satuan kerja Pusat Pembiayaan Pertanian mengajukan surat Perintah Membayar (SPM-LS) dengan lampiran :

i. Keputusan MENTERI PERTANIAN tentang penetapan GAPOKTAN.

ii. Berita Acara Pengukuhan GAPOKTAN oleh Bupati /Walikota.

iii. Rekapitulasi RUB dengan mencantumkan :

1. Nama dan alamat lengkap GAPOKTAN yang menjadi sasaran PUAP.

2. Nomor rekening GAPOKTAN.

3. Nama dan alamat kantor cabang bank tempat GAPOKTAN membuka rekening.

4. Rincian penggunaan dana BLM PUAP menurut usaha produktif.

iv. Kuitansi harus ditandatangani Ketua GAPOKTAN dan diketahui/disetujui oleh Tim Teknis Kabupaten/Kota dengan meterai Rp.6000,- (enam ribu rupiah).

d. Penyaluran dana BLM dari KPPN ke rekening Gapoktan melalui penerbitan SP2D akan diatur lebih lanjut oleh Departemen Keuangan.

Pelaksanaan Program PUAP di Desa Buah Nabar , Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang dapat kita lihat pada Tabel. 8 dibawah ini.

Tabel 8. Pelaksanaan program PUAP di Desa Buah Nabar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, tahun 2009.

No. Uraian Standar Kerja Hasil Lapangan

1. Kriteria seleksi desa PUAP - Tahapan penetapan kuota desa PUAP. - Tahapan seleksi desa PUAP

- Penetuan kuota desa dilaksanakan di pusat oleh Kelompok kerja identifikasi PUAP.

- Daftar calon desa PUAP dikirim oleh Tim PUAP Pusat ke Gubernur dan Bupati/Walikota.

- Pemerintah Kabupaten/Kota

mengusulkan calon desa PUAP kepada Departemen Pertanian melalui Gubernur.

- Tim PUAP Pusat melakukan verifikasi atas usulan desa PUAP yang diajukan oleh Gubernur, Bupati/Walikota dan aspirasi masyarakat.

- Hasil verifikasi desa PUAP oleh Tim PUAP Pusat, selanjutnya ditetapkan oleh MENTERI PERTANIAN sebagai desa PUAP.

-Telah dilaksanakan -Dilaksanakan -Dilaksanakan -Dilakukan verifikasi -Diterbitkan SK oleh Menteri Pertanian .

Lanjutan tabel 8.

No. Uraian Standar Kerja Hasil Lapangan

2. Penetapan

Gapoktan/Poktan

-Tim Teknis Kabupaten/Kota mengidentifikasi. GAPOKTAN penerima BLM dari lokasi desa PUAP yang telah ditetapkan oleh MENTERI PERTANIAN.

-GAPOKTAN mengisi Formulir 1 sebagai data dasar untuk diajukan oleh Bupati/Walikota sebagai calon penerima BLM PUAP.

-Bupati/Walikota mengusulkan GAPOKTAN penerima BLM PUAP kepada Tim Pusat melalui Gubernur. -Tim PUAP Pusat melakukan

verifikasi terhadap GAPOKTAN yang diusulkan oleh Bupati/Walikota. -Hasil verifikasi Tim PUAP Pusat

terhadap GAPOKTAN, selanjutnya ditetapkan oleh MENTERI PERTANIAN. -Dilaksanakan -Dilaksanakan -Dilaksanakan -Dilakukan verifikasi. -Diterbitkan SK oleh Menteri Pertanian. 3. Kriteria desa penerima PUAP.

-Memiliki SDM yang mampu mengelola usaha agribisnis.

-Mempunyai struktur kepengurusan yang aktif.

-Dimiliki dan dikelola oleh petani.

-Dikukuhkan oleh Bupati/Walikota.

-Ada

-Struktur pengurus aktif

-Memang dimiliki dan dikelola petani -Telah dukukuhkan

oleh bupati.

4. Penyusunan

Rencana Usaha Bersama.

-Penyusunan RUB (Rencana Usaha Bersama).

-Pengajuan RUB ke tim teknis kabupaten/kota.

-RUB dan administrasi lainnya diverifikasi oleh tim PUAP pusat.

-Telah disusun -Telah diajukan -Telah dilakukan verifikasi. 5. Prosedur Penyaluran BLM-PUAP.

-Satker Pusat Pembiayaan Pertanian menerbitkan Surat Perintah Kerja (SPK) bermeterai Rp. 6000,- kepada GAPOKTAN.

-Penyaluran dana BLM – PUAP dilakukan dengan mekanisme Pembayaran Langsung (LS) ke Rekening GAPOKTAN.

-Satker Pusat Pembiayaan Pertanian mengajukan surat Perintah Membayar (SPM-LS).

-Penyaluran dana BLM dari KPPN ke rekening Gapoktan melalui penerbitan SP2D. -Telah diterbitkan. -Telah disalurkan langsung ke rekening GAPOKTAN. -Telah dilaksanakan. -Telah dilaksanakan.

Pelaksanaan PUAP didaerah ini tergolong didalam kategori yang berjalan dengan cukup baik. Dari Tabel diatas kita dapat melihat bahwa semua tahapan pelaksanaan program PUAP telah dilakukan sesuai dengan aturan dan sesuai dengan tahapan-tahapan yang telah ditentukan. Seperti dalam hal penyaluran dana yang sudah berjalan dengan baik. Proses pembagian dan pencairan dana PUAP dilakukan dengan pengajuan permohonan dari petani dan ke GAPOKTAN dengan menyertakan surat jaminan (biasanya surat jaminan berupa surat tanah atau surat berharga lainnya).

Pencairan dana PUAP kepada petani dilakukan dengan 3 tahapan pencairan sesuai dengan proses pencairan dana yang dilakukan oleh Departemen Pertanian yaitu sebanyak 3 tahapan juga. Besarnya dana yang dicairkan pada tahap I adalah sebesar 40 juta Rupiah dan tahap II sebesar 40 juta Rupiah, sedangkan tahap III, dana yang dicairkan sebesar 20 juta Rupiah. Penyaluran dana PUAP dilakukan oleh GAPOKTAN. Para petani pemohon haruslah terlebih dahulu mengajukan proposal peminjaman dana PUAP. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut :

1. Merupakan anggota POKTAN/GAPOKTAN (masih aktif keanggotaannya).

2. Memiliki KTP dan KK 3. Memiliki lahan sendiri

4. Harus memiliki agunan atau surat jaminan (surat tanah atau surat berharga lainnya).

Jumlah petani yang memperoleh dana tiap tahapan pencairan adalah berbeda. Pada tahap I, jumlah petani yang memperoleh dana bantuan adalah sebanyak 23 orang dengan pembagian sebagai berikut :

10 orang x @ Rp. 1.000.000 = Rp. 10.000.000 8 orang x @ Rp. 1.500.000 = Rp. 12.000.000 4 orang x @ Rp. 2.000.000 = Rp. 8.000.000 1 orang x @ Rp. 10.000.000 = Rp. 10.000.000

Jumlah dana yang diberikan kepada petani bisa berbeda karena disesuaikan dengan besarnya permohonan peminjaman dana yang dilakukan petani kepada GAPOKTAN. Selanjutnya pengurus Gapoktan melakukan veerifikasi terhadap proposala yang diajukan oleh petani. Besar pinjaman disesuaikan dengan besarnya agunan (jaminan) yang diberikan oleh petani.

Adapun proses pencairan dana dan jangka waktu pencairan dan pengembalian dana dapat dilihat pada Tabel berikut ini.

Tabel 9. Tahapan pencairan dana PUAP di Desa Buah Nabar Tahap Pencairan

Dana PUAP

Waktu Pencairan Jumlah Dana Yang Dicairkan Waktu Pengembalian Jumlah Dana Yang harus dikembalikan Tahap I Januari 2010 Rp. 40.000.000 Juli 2010 Rp. 44.800.000 Tahap II Juni 2010 Rp. 40.000.000 Desember 2010 Rp. 44.800.000 Tahap III Oktober 2010 Rp. 20.000.000 April 2011 Rp. 22.400.000

Jumlah Rp. 100.000.000 Rp. 112.000.000

Sumber : PPL Desa Buah Nabar

Jangka waktu pengembalian adalah 6 bulan setelah pencairan dana dilakukan. Dengan kata lain, setiap petani yang memperoleh dana bantuan berhak menggunakan dan tersebut selama 6 bulan dan wajib mengembalikan dan tersebut ke GAPOKTAN sebelum masa jatuh tempo terjadi. Petani tidak boleh meminjam kepada GAPOKTAN pada periode selanjutnya apabila petani belum mengembalikan dana yang telah dipinjamnya terlebih dahulu.

Dalam penggunaan dana PUAP itu sendiri, para petani di Desa Buah Nabar, pada umumnya menggunakan dana PUAP untuk memenuhi kebutuhan saprodi usaha tani kakao yang mereka usahakan. Selain itu ada juga yang menggunakan dana tersebut untuk mengembangkan usahanya kearah yang lebih menguntungkan dari pada sekedar mengelola usaha tani kakao (ada petani yang selain mengusahakan kakao tetapi juga menjadi pedagang pengumpul hasil panen kakao desa tersebut).

Peran Penyuluh Pertanian Dalam Menjalankan Program PUAP.

Pada pelaksanaan program PUAP, penyuluh pertanian lapangan (PPL) berperan sebagai penyuluh pembimbing. Adapun tugas dari penyuluh pendamping itu sendiri adalah sebagai berikut :

- Melakukan identifikasi potensi ekonomi desa yang berbasis usaha pertanian; - Memberikan bimbingan teknis usaha agribisnis pedesaan termasuk pemasaran

hasil usaha;

- Membantu memecahkan permasalahan usaha petani /kelompok tani, serta mendampingi Gapokan selama proses penumbuhan kelembagaan;

- Melaksanakan pelatihan usaha agribisnis dan usaha ekonomi produktif sesuai potensi desa.

- Membantu memfasilitasi kemudahan akses terhadap sarana produksi, teknologi dan pasar.

- Memberikan bimbingan teknis dalam pemanfaatan dana BLM-PUAP; dan - Membantu GAPOKTAN dalam membuat laporan perkembangan PUAP.

Dalam melakukan identifikasi terhadap potensi ekonomi yang berbasis pertanian, penyuluh melakukan identifikasi secara baik. Hampir seluruh petani di desa ini menanam kakao sebagai komoditi utama mereka. Dan penyuluh telah membuat rancangan kegiatan yang dibutuhkan oleh petani kakao.

Dalam memberikan bimbingan teknis usaha agribisnis pedesaan termasuk pemasaran hasil usaha. Dari sinilah penyuluh menyarankan kepada salah seorang petani yang tergolong sukses di desa ini untuk membuka usaha penampungan buah kakao. Hal ini tentu sangat membantu bagi si petani tersebut dan petani yang lainnya, karena ia bisa menambah penghasilannya sendiri dan petani yang lain tidak lagi harus mengeluarkan biaya ekstra lagi untuk menjual hasil buah kakao mereka ke pedagang di pasar kecamatan.

Peran lainnya adalah membantu memecahkan permasalahan usaha petani /kelompok tani, serta mendampingi Gapokan selama proses penumbuhan kelembagaan. Dalam tahapan ini, penyuluh selalu melakukan kunjungan dan pertemuan rutin setiap minggunya untuk membahas masalah apa saja yang sedang dihadapi oleh petani pada khususnya dan masalah GAPOKTAN pada umumnya. Untuk proses pemecahan masalah itu sendiri, penyuluh sangat melibatkan petani untuk membuka wawasan dan pola pikir petani itu sendiri.

Para petani sangat senang apabila PPL telah melakukan kunjungan. PPL juga sering memberikan masukan yang bermanfaat bagi petani mulai dari pengolahan, perawatan hingga teknologi terbaru yang berhubungan dengan komoditi yang diusahakan petani. Hubungan yang baik antara petani dan penyuluh sudah terjalin dan petani juga sudah menganggap penyuluh sebagai pihak yang dapat membantu mereka dalam proses pemecahan masalah yang sedang dialami petani.

Selain melibatkan petani dalam menyelesaikan masalah yang mereka hadapi untuk meningkatkan wawasan, penyuluh juga melalukan pelatihan atau mengikut sertakan petani pada pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh

Dinas Pertanian baik Dinas Pertanian Sumatera Utara maupun Dinas Pertanian Kabupaten Deli Serdang.

Dalam tahapan selanjutnya, penyuluh membantu memfasilitasi akses terhadap sarana produksi, teknologi dan pasar. Dalam memfasilitasi akses sarana produksi, penyuluh telah menyarankan kepada GAPOKTAN untuk membentuk sebuah kios saprodi dan telah di bentuk oleh GAPOKTAN sehingga petani lebih mudah dalam penyediaan bahan-bahan produksi untuk usaha tani mereka dan lebih hemat dari segi biaya. Selain sebagai kios saprodi, usaha yang dibentuk oleh GAPOKTAN ini juga berfungsi sebagai tempat penampungan penjualan kakao dari petani.

Penyuluh juga berperan dalam penggunaan dana PUAP oleh petani. Penyuluh selalu memberikan saran dan bimbingan yang tepat dalam penggunaan dana tersebut. Hal ini dilakukan penyuluh agar petani tidak menyalahgunakan dana tersebut untuk kebutuhan ekonominya (dikonsumsi untuk kebutuhan rumah tangga bukan kebutuhan usaha taninya).

Disamping tugas diatas, penyuluh juga berperan dalam membantu GAPOKTAN untuk melihat sejauhmana perkembangan GAPOKTAN. Mulai dari hal kecil seperti inventaris GAPOKTAN hingga hal yang rumit seperti laju pengembalian dan perkembangan dana PUAP yang dikelola oleh GAPOKTAN.

Peran GAPOKTAN/POKTAN Dalam Menjalankan Program PUAP.

GAPOKTAN memiliki peran penting sebagai wadah para petani untuk menyampaikan masalah yang mereka hadapi. Dengan adanya GAPOKTAN,

kelompok tani yang terdapat di desa ini dapat berkumpul dan membahas masalah-masalah yang dihadapi petani di desa mereka.

Dalam PUAP sendiri, GAPOKTAN memiliki peran yang sangat sentral. Peran sentral yang diemban Gapoktan adalah dimulai dari proses pengajuan permohonan dana PUAP ke Dinas Pertanian sampai pada proses pencairan dana PUAP kepada para anggotanya.

Peranan dasar GAPOKTAN adalah sebagai wadah utama bagi para petani dalam membahas dan mencari jalan keluar dari masalah-masalah yang sedang di alami oleh para petani anggotanya. Dalam hal ini GAPOKTAN tidak bekerja sendiri, karena Gapoktan selalu melibatkan juga penyuluh dalan mencari jalan keluar dari masalah tersebut. Dalam peran ini, GAPOKTAN telah melaksanakannya dengan cukup baik karena GAPOKTAN selalu melakukan pertemuan rutin 2 kali setiap bulannya untuk membahas dan mencari jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi petani anggotanya.

Disamping peranan dasar, GAPOKTAN juga berperan dalam pengajuan permohonan bantuan PUAP. Gapoktan bekerja sama dengan penyuluh untuk menyusun RUB (Rencana Usaha Bersama) yang tepat dan sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh desa, setelah lebih dahulu menerima RUK (Rencana Usaha Kelompok) yang diajukan oleh semua kelompok tani yang menjadi anggota GAPOKTAN. Setelah penyusunan RUB sudah dirasa baik dan sesuai dengan potensi yang dimiliki desa, maka GAPOKTAN mengirimkan usulan tersebut ke Dinas Pertanian Kabupaten Deli Serdang.

Peran lainnya dari GAPOKTAN adalah sebagai kelembagaan ekonomi desa. Dalam hal ini, GAPOKTAN untuk kedepannya diharapkan mampu menjadi

bank desa. Untuk peran yang satu ini, GAPOKTAN memerlukan waktu yang cukup panjang karena proses perputaran dana PUAP yang dikelola oleh GAPOKTAN sendiri baru terjadi setiap 6 bulan sekali.

Setelah melihat sendiri ke desa, bahwa GAPOKTAN Sri Rejeki yang terdapat di Desa Buah Nabar Kecamatan Sibolangit ini telah menjalankan perannya dengan cukup baik.

Keberhasilan Program PUAP di Desa Buah Nabar Kecamatan Sibolangit.

Menurut Fuddin (2009) model CIPP merupakan model yang berorientasi kepada pemegang keputusan. Model ini membagi evaluasi dalam empat macam, yaitu : evaluasi konteks (melayani keputusan perencanaan), evaluasi input (untuk menolong mengatur keputusan menentukan sumber-sumber yang tersedia, alternatif-alternatif yang diambil, serta prosedur kerja untuk mencapai tujuan yang dimaksud), evaluasi proses (membantu keputusan sampai sejauh mana program telah dilaksanakan), evaluasi produk (yaitu meninjau kembali keputusan).

Keempat macam evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) tersebut dapat divisualisasi ke dalam aspek penilaian pelaksanaan Program PUAP di daerah penelitian pada Tabel 10 di bawah ini.

Tabel 10. Pelaksanaan Program PUAP di Desa Buah Nabar

No Model CIPP Indikator Kinerja

1. Context 1. Perencanaan Program PUAP dapat

mengurangi kemiskinan di desa.

2. Perencanaan Program PUAP dapat mengurangi angka pengangguran di desa. 3. Perencanaan Program PUAP dapat

menumbuhkembangkan usaha agribisnis di desa.

4. Perencanaan Progam PUAP dibuat untuk meningkatkan fungsi kelembagaan ekonomi petani.

2. Input 1. Program telah memberdayakan masyarakat

dalam pengelolaan PUAP.

2. Optimalisasi potensi agribisnis di desa miskin dan tertinggal.

3. Penguatan modal petani kecil, buruh tani dan rumah tangga miskin kepada sumber permodalan .

4. Pendampingan bagi Gabungan Kelompok Tani / Kelompok Tani.

3. Process 1. Tersalurkannya dana PUAP kepada petani.

2. Frekuensi Pelaksanaan pengawasan sudah berjalan.

3. Frekuensi pelatihan yang berkaitan dengan program PUAP.

4. Proses penyampain informasi dan pengawasan oleh penyuluh.

4. Product 1. Tingkat persentase petani miskin.

2. Kemampuan petani mengelola usaha tani.

3. Kemampuan Gapoktan sebagai lembaga ekonomi petani.

4. Kemampuan penyuluh dalam penyampaian materi.

Dari Tabel 10, dapat dilihat penilaian pelaksanaan Program PUAP dapat diukur menurut indikator aktivitas mulai dari konteks, input, proses hingga produk. Berdasarkan indikator penilaian pelaksanaan yang telah diuraikan

sebelumnya maka dapat diketahui hasil transformasi pelaksanaan program PUAP di daerah penelitian yang dapat dilihat pada tabel.

Tabel 11. Hasil Transformasi Nilai Pelaksanaan Program PUAP di Desa Buah Nabar

No Uraian Indikator Nilai yang diharapkan Nilai yang diperoleh % Ketercapaian 1 Context (konteks) 4-12 10.76 89.72 2 Input (masukan) 4-12 10.53 87.78 3 Process (proses) 4-12 11 91.67 4 Product (produk) 4-12 10.5 87.50

Jumlah nilai yang diharapkan 16-48

Jumlah nilai yang diperoleh 42.79 Jumlah total % ketercapaian

CIPP 89.16

Sumber : Diolah dari lampiran 2,3,4,5

Dari Tabel 11, dapat diketahui bahwa untuk indikator kinerja berdasarkan pada contex (konteks) didapatkan nilai yang diharapkan pada kisaran 4-12 dan nilai yang diperoleh sebesar 10.76. Dengan persentase ketercapaiaan sebesar 89.72 %, maka dapat diketahui bahwa dalam perencanaan program PUAP ini di dalam contex (konteks) dapat ditingkatkan kinerjanya sebesar 10.28 % lagi (sisa dari 89.72 %) agar mencapai nilai yang optimal.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, dapat dilihat bahwa

contex (konteks) pelaksanaan program PUAP di daerah penelitian belum mencapai nilai maksimal, tetapi telah dapat dikatakan berjalan baik karena sudah memperoleh nilai yang memuaskan. Untuk mencapai nilai maksimal, dinas pertanian perlu lebih memperhatikan kebutuhan para petani dalam menyusun suatu program.

Dari Tabel 11, dapat diketahui bahwa untuk indikator input (masukan) didapatkan nilai yang diharapkan pada kisaran 4-12, dan nilai yang diperoleh sebesar 10.53, dengan persentase ketercapaian sebesar 87.78. Berdasarkan hasil

penelitian yang telah dilaksanakan, ketercapaian nilai indikator input (masukan) belum mencapai nilai maksimal karena masih terdapat beberapa kekurangan dalam pelaksanaan indikator input (masukan) yaitu :

- Belum semua petani merasa dilibatkan dan diberdayakan langsung didalam pengelolaan program PUAP.

- Belum optimalnya potensi agribisnis yang terdapat didaerah penelitian.

Dari Tabel 11, dapat diketahui bahwa untuk indikator pelaksanaan program berdasarkan Process (proses) didapatkan nilai yang diharapkan pada kisaran 4-12 dan nilai yang diperoleh sebesar 11, dengan persentase ketercapaian sebesar 91.67 %. Maka dapat diketahui bahwa Penyuluh di daerah penelitian dapat meningkatkan kinerjanya dalam indikator proses sebesar 8.33 % persen lagi agar mencapai nilai yang maksimal.

Untuk meningkatkan pencapaian nilai maksimal pada tahapan proses, seharusnya Dinas Pertanian lebih meningkatkan frekuensi pelatihan yang berhubungan dengan usaha tani milik petani dan pelatihan yang dapat menunjang dan berkaitan dengan pelaksanaan program PUAP.

Indikator lainnya dalam pelaksanaan program PUAP adalah Product

(produk). Dalam bagian ini dapat dilihat hasil akhir dari semua tahapan yang dilaksanakan dalam pelaksanaan program PUAP. Dari tabel 11, dapat kita lihat bahwa nilai yang diperoleh pada tahapan produk ini mencapai 10.5 dengan persentase ketercapaian sebesar 87.50 %. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan program PUAP didaerah penelitian sudah berjalan dengan baik walaupun belum mencapai nilai yang maksimal.

Setelah setahun berjalannya Program PUAP di Desa ini, proses pengembalian dana yang diterima oleh petani bejalan baik. Hal ini dibuktikan dengan jumlah pengembalian dana pada tahapan pencairan dana tahap I yang mencapai 100%. Besarnya dana yang dikembalikan adalah Rp. 44.800.000,00. Hal dapat dilihat pada tabel beikut ini.

Tabel 12. Pengembalian Dana PUAP

No. Uraian Target Realisasi

Nilai (Rp) Waktu Nilai (Rp) Waktu 1. Pengembalian Tahap I 44.800.000 6 bulan 44.800.000 6 bulan 2. Pengembalian Tahap II 44.800.000 6 bulan 44.800.000 6 bulan 3. Pengembalian Tahap III 22.400.000 6 bulan Belum

terealisasi

April 2011 Sumber : PPL Desa Buah Nabar

Disamping itu petani juga mulai merubah perilaku mereka dalam pengelolaan usaha tani mereka yang dahulu pada umumnya secara konvensial (contohnya cara pemetikan buah kakao dengan menggunakan tangan langsung), kini sudah berubah kearah yang lebih baik (kini sudah menggunakan gunting potong untuk memetik buah). Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadinya perubahan kemampuan petani dalam mengelola usaha tani mereka.

Kemampuan GAPOKTAN sebagai lembaga ekonomi juga sudah berjalan baik, hal ini terbukti dengan proses penyaluran dana yang berjalan lancar serta proses pengembalian dana yang tepat waktu dengan sistem pembukuan yang sudah cukup baik (adanya buku transaksi).

Dari Tabel 12 diatas, dapat dilihat bahwa proses pelaksanaan program PUAP di Desa Buah Nabar Kecamatan Sibolangit dapat digolongkan pada kategori berhasil, dengan nilai keberhasilan 42.79 dengan persentase ketercapain program sebesar 89.16 %.

BAB VI

Dokumen terkait