BAB III : TOPIK PENELITIAN
D. Prosedur Penyusunan Anggaran Biaya Operasi
Penyusunan anggaran pada proses akuntansi merupakan studi terhadap mekanisme, proses untuk merakit data dan format anggaran. Sedangkan penyusunan anggaran pada proses manajemen merupakan proses penetapan peran tiap manajer dalam melaksanakan program atau bagian program.
Nafarin (2004, 17) mengemukakan bahwa dalam penyusunan anggaran perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a. Pengetahuan tentang tujuan dan kebijakan umum perusahaan b. Data tahun-tahun sebelumnya
c. Kemungkinan perkembangan kondisi ekonomi
d. Pengetahuan tentang taktik, strategi pesaing dan gerak- gerik pesaing e. Kemungkinan adanya perubahan kebijakan pemerintah
f. Penelitian untuk pengembangan perusahaan
Anggaran disusun dan kemudian dipergunakan oleh manajemen perusahaan yang bersangkutan sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusan. Dimana hal ini ditegaskan oleh Ahyar (1992, 11) yang menyatakan bahwa: “penyusunan anggaran serta pemanfaatan anggaran perusahaan (sebagai alat perencanaan, koordinasi dan pengendalian terhadap seluruh kegiatan perusahaan) yang telah disusun disebut sebagai penganggaran (budgeting)”
Untuk menyusun anggaran, perusahaan dapat mengguanakan berbagai metode. Pilihan metode ini sangat tergantung pada kondisi dan keinginan manajemen perusahaan yang bersangkutan.
Menurut Syafri (2001, 83) terdapat tiga cara dalam menyusun anggaran yaitu:
a. Otoriter atau top down b. Demokrasi atau bottom up
c. Campuran antara top down dan bottom up
a. Otoriter atau top down
Dalam metode ini, anggaran disusun dan ditetapkan sendiri oleh pimpinan dan anggaran inilah yang harus dilaksanakan bawahan tanpa keterlibatan bawahan dalam penyusunannya. Metode ini ada baiknya jika karyawan tidak mampu menyusun anggaran atau dianggap akan terlalu lama dan tidak tepat jika diserahkan kepada bawahan. Metode top down dengan cepat memenuhi selera pimpinan tetapi dapat menggerakkan partisipasi bawahan
b. Demokrasi atau bottom up
Dalam metode bottom up, anggaran disusun berdasarkan hasil keputusan karyawan. Anggaran disusun mulai dari bagian paling bawah karena ia langsung terjun dalam pelaksanaannya, kemudian ia melaporkan kepada atasannya sampai kepada menajer puncak. Metode ini tepat digunakan jika karyawan sudah memiliki kemampuan dalam menyusun anggaran dan tidak dikhawatirkan akan menimbulakan proses yang lama.
c. Campuran antara top down dan bottom up
Dengan metode ini perusahaan menyusun anggaran dengan memulainya dari atas dan kemudian untuk selanjutnya dilengkapi oleh bawahan. Jadi ada, pedoman dari atasan dan dilanjutkan oleh bawahan sesuai dengan pengarahan atasan.
Terdapat tiga pihak utama yang terkait dalam penyusunan anggaran komite anggaran, departemen anggaran dan para manajer pusat pertanggungjawaban.
Komite anggaran hanya dibentuk pada saat proses penyusunan anggaran saja. Jika penyusunan anggaran telah selesai, komite anggaran menjadi tidak berfungsi dan fungsi pengendalian pelaksanaan anggaran diserahkan kepada departemen anggaran
Penyusunan dan pengendalian anggaran memerlukan unit organisasi yang mengani administrasi anggaran. Fungsi ini dipegang oleh departemen anggaran.
Ada beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam penyusunan anggaran yaitu anggaran yang harus realistis, luwes, dapat dipakai dimasa yang akan datang. Anggaran harus luwes (flexible), tidak terlalu kaku dalam arti anggaran tersebut dapat disesuaikan dengan keadaan yang selalu berubah-ubah atau anggaran yang jumlah rupiahnya untuk satu masa didasarkan atas tingkat aktifitasnya.
Bettizal (1993, 13) mengemukakan tentang prosedur penyusunan anggaran yaitu: “suatu prosedur anggaran harus dapat menyelesaikan soal-soal perusahaan seperti direncanakan dan oleh karena tidak ada yang sama, prosedur anggaran pun tidak perlu sama”. Jadi penyusun anggaran tisak sama untuk setiap perusahaan, disebabkan antara lain oleh besar kecilnya perusahaan, kondisi ekonomi, aspek teknis dan pembiayaan lain-lain. Namun demikian anggaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan dan kegunaan anggaran yang utama yaitu untuk
kepentingan internal perusahaan, sehingga penyusunannya didasarkan pada kebijakan perusahaan untuk mencapai tujuan.
E. Anggaran Sebagai Alat Perencanaan dan Pengawasan Biaya Operasi Untuk melaksanakan anggaran biaya operasi, semua karyawan harus belajar melihat anggaran sebagai sarana positif untuk melaksanakan tindakan organisasi dan sebagai sarana peningkatan, bukan sebagai beban atau senjata menajemen untuk menekan karyawan. Mereka harus belajar memahami anggaran sebagai alat manajemen untuk merencanakan dan mengendalikan kegiatan operasional. Tanpa pemahaman ini, meskipun anggaran disusun dengan proses penyusunan yang secara teknis canggih, anggaran tak lain hanyalah merupakan taksiran belaka dan perusahaan akan gagal dalam memperbaiki efisien operasi.
Menurut Wilson (1996, 6) “Perencanaan adalah suatu proses yang kontiniu untuk menetapkan kejadian dan kegiatan diperlukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.”
Perencanaan merupakan kegiatan memilih dari berbagai kemmungkinan yang ada untuk menetapkan tujuan secara kebijaksanaan perusahaan yang membuat program-program dan prosedur kerja yang dilakukan.
Anggaran sebagai alat perencanaan merupakan kesanggupan manajer untuk melaksanakan program atau bagian dari program tersebut.
Menurut Welsch (1998, 405) pengendalian harus terikat erat pada
2. Tanggung jawab menurut organisasi
Kegiatan pengendalian berhubungan dengan pengukuran efisien dan efektivitas dalam menggerakkan bahan dan dan tenaga kerja serta sumber keuangan terhadap suatu tujuan
Jadi dapat dikaitkan bahwa pengendalian merupakan tinjak lanjut dari perencanaan, dengan kata lain keberhasilan sasaran dan tujuan suatu rencana tidak terlepas dari pelaksanaan pengendalian, dan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya menjadi ukuran atas prestasi kerja yang telah dilakukan.
F. Pengawasan Biaya Operasional
Pengawasan merupakan fungsi terakhir yang harus dilaksanakan dalam manajemen. Dengan pengawasan dapat diketahui tentang hasil yang telah dicapai. Fungsi pengawasan memiliki hubungan yang erat kaitannya dengan perencanaan, karena suatu perencanaan yang telah ditetapkan dapat dinilai setelah dilakukannya pengawasan. Pengawasan merupakan pemeriksa dan pengevaluasi atas perencanaan yang telah dilakukan apakah telah sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya.
Agar perencanaan yang telah disusun dan dijalankan tiap-tiap bagian pada PT PLN (Persero) UPT Medan dapat berhasil sesuai dengan yang diharapkan, maka perlu dilakukan pengawasan atas perencanaan yang telah disusun. Pengawasan ini berguna untuk mengendalikan pengeluaran dan biaya operasional, mencegah terjadinya pemborosan, sebagai alat pembanding seberapa jauh pelaksanaan rencana dan biaya tercapai serta mendorong kesadaran pengendalian biaya. Berikut ini beberapa pendapat ahli mengenai pengawasan :
Stoner ( 2000, 248 ) mendefenisikan pengawasan sebagai berikut Pengawasan adalah Usaha untuk mendapatkan standar prestasi kerja yang sesungguhnya dengan standar yang telah ditetapkan terlebih dahulu, untuk menetapkan apakah ada deviasi dan untuk mengukur signifikasinya, serta mengambil tindakan yang diperlukan untuk memastikan bahwa semua sumber daya perusahaan digunakan dengan cara seefisien dan seefektif mungkin untuk mencapai tujuan perusahaan.
Adapun tujuan pengawasan yang dilakukan, antara lain:
a. Melakukan penilaian apakah tugas yang dilaksanakan sudah sesuai
dengan peraturan dan kebijaksanaan yang telah digariskan atau prosedur-prosedur yang berlaku.
b. Melakukan penentuan apakah tujuan organisasi yang telah dicapai sesuai
dengan renncana yang telah ditetapkan.
c. Menilai apakah sumber daya manusia, perawatan, dan biaya yang ada
telah digunakan secara efesien tanpa adanya pemborosan.
d. Untuk mengetahui kelemahan-kelemahan serta kesulitan yang dihadapi
dalam pelaksanaan perencanaan.
Adapun beberapa manfaat dari pengawasan, antara lain.
a. Mencegah penyimpangan atau kesalahan.
b. Memperbaiki berbagai penyimpangan atau kesalahan yang terjadi.
d. Meningkatkan rasa tanggung jawab setiap pegawai dalam menjalankan tugasnya.
Pengawasan biaya operasional pada PT PLN (Persero) UPT Medan dilakukan dengan dua cara, yaitu :
a. Pengawasan biaya melalui pembukuan, antara lain dengan pencatatan
dan penggolongan berdasarkan pembukuan, kuitansi serta prosedur pengeluaran
b. Pengawasan biaya melalui perbandingan anggaran-anggaran biaya tahun
lalu.
Pengawasan terhadap biaya operasional yang efektif memiliki dua aspek yang penting yaitu :
1. Pengawasan operasional
Pengawasan operasional ditujukan untuk mengawasi kegiatan operasi lembaga perguruan tinggi, untuk mengawasi segala biaya yang telah ditetapkan sesuai rencana dan sasaran yang dituju apakah telah tercapai. Pengawasan operasional harus dibantu oleh pengawasan akuntansi, karena pengawasan operasional akan menjadi tidak efesien apabila tidak ada pengawasan akuntansi.
2. Pengawasan akuntansi
Pengawasan akuntansi bertujuan untuk menciptakan suatu system pencatatan yang dapat mengembangkan pertanggungjawaban biaya dan arus pekerjaan, serta memberikan laporan singkat mengenai pertanggungjawaban atas biaya sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan.
Pengawasan biaya operasioanl yang dilakukan oleh PT PLN (Persero) UPT Medan dilakukan melalui anggaran yang telah disusun. Apabila ada kelemahan , maka akan diambil tindakan korektif untuk periode selanjutnya.
Pengawasan yang dilakukan bukan hanya dilakukan pada akhir periode tetapi juga pada saat periode berjalan dan untuk melakukan pengawasan terhadap biaya operasional pihak perusahaan melakukan perbandingan rencana anggaran dengan realisasi yang terjadi.
Berdasarkan uraian di atas penulis menilai pengawasan yang telah dilakukan oleh PT PLN (Persero) UPT Medan telah sesuai dengan yang seharusnya. Ini dapat dilihat dari prosedur pengawasan yang dilakukan terhadap biaya operasinya dilakukan secara rutin dan dilampirkan setiap bulannya.
Laporan secara menyeluruh ini sangat berguna PT PLN (Persero) UPT Medan untuk mengetahui prestasi yang telah dicapai perusahaan dan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah ditentukan oleh perusahaan sudah terealisasi atau belum.
ANGGARAN DAN REALISASI BIAYA OPERASI PADA PT PLN (Persero) UPT MEDAN
TAHUN 2010
Nama perkiraan Anggaran Realisasi Selisih
Berdasarkan anggaran biaya operasi untuk tahun 2009 sebesar Rp 138.875.916.529 dan biaya anggaran untuk tahun 2010 Rp 151.043.782.398 selisih yang didapat sebesar Rp 12.667.865.869 atau 16,21%. Bisa kita lihat perincian anggaran dan realisasi di tahun 2010 sebagai berikut:
a. Biaya pemeliharaan mengalami keuntungan bagi perusahaan, karena dari biaya yang dianggarkan sebesar Rp 20.185.190.901 dan realisasi sebesar Rp 18.483.604.153, mengalami selisih Rp. 1.701.586.748 atau 9,21% (wajar). Hal ini dikarenakan kenerja para pegawai sangat memuaskan dan menghasilkan hasil yang baik.
Indikatornya: BEBAN USAHA: Pemeliharaan Kepegawaian Penyusutan AT Lain-lain Jumlah 20.185.190.901 28.415.721.611 49.896.217.395 3.963.138.058 18.483.604.153 21.912.769.356 48.074.945.947 3.659.637.771 1.701.586.748 6.502.952.255 1.821.271.448 303.500.287 9,21 29,68 3,79 8,29 102.460.267.965 92.130.957.227 10.329.310.738 11,21 BEBAN LAIN: Penghasilan bunga Lain-lain Jumlah 46.741.174.000 1.842.340.433 45.050.383.000 1.694.576.302 1.690.791.000 647.764.131 3.75 38.22 48.583.514.433 46.744.959.302 2.338.555.131 5.00 SUB TOTAL 151.043.782.398 138.875.916.529 12.667,865.869 16,21
• Baik dalam melakukan kinerja
• Para pegawai rutin dalam melakukan semua pekerjaan dalam bidang masing-masing
b. Biaya kepegawaian mengalami keuntungan bagi perusahaan, karena dari biaya yang dianggarkan sebesar Rp 28.415.721.611 dan realisasi sebesar Rp 21.912.769.356, mengalami selisih Rp 6.502.952.255 atau 29,68% (wajar).
c. Biaya penyusutan AT mengalami keuntungan bagi perusahaan, karena dari biaya yang dianggarkan sebasar Rp 49.896.217.395 dan realisasi sebesar Rp 48.074.945.947, mengalami selisih Rp 1.821.271.448 atau 3,79% (wajar).
d. Biaya lain-lain mengalami keuntungan bagi perusahaan, karena dari biaya yang dianggarkan sebesar Rp 3.063.138.058 dan realisasi sebesar Rp 3.659.637.771, mengalami selisih Rp 303.500.287 atau 8,29% (wajar) e. Biaya penghasilan bunga mengalami keuntungan bagi perusahaan, karena
dari biaya yang dianggarkan sebesar Rp 46.741.174.000 dan realisasi sebesar Rp 45.050.383.000, mengalami selisih Rp 1.690.791.000 atau 3,75% (wajar)
f. Biaya rugi selisih kurs bersih mengalami keuntungan bagi perusahaan, karena dari perusahaan, karena dari biaya yang dianggarkan sebesar Rp 1.842.340.433 dan realisasi sebesar Rp 1.694.576.302, mengalami selisih Rp 647.764.131 atau 38,22%
BAB IV
PENUTUP
Pada bab ini penulis akan memaparkan beberapa kesimpulan dari pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, selain itu penulis juga memberikan beberapa saran yang mungkin bermanfaat demi kebaikan dan kemajuan PT PLN (Perero) UPT MEDAN
A. Kesimpulan
Adapun beberapa kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, yaitu sebagai berikut :
1. Fungsi anggaran sebagai alat perencanaan dan pengendalian PT PLN ( Persero)UPT Medan telah berjalan dengan baik, hal ini dapat dilihat dari anggaran yang dianggarkan dengan anggaran yang terealisasi hampir sama. 2. Dalam penyusunan anggaran, PT PLN (Persero) UPT Medan menggunakan
data dan informasi yang bersumber dari pengalaman dan juga data aktual tahun-tahun sebelumnya,
3. PT PLN (Persero) melalui kegiatan akuntansi melakukan berbagai perusahaan yang dapat meningkatkan citra positif bagi perusahaan
4. Dengan keluarnya peraturan pemerintah No. 23/1994 tanggal 16 Juni 1994 maka ditetapkan status PLN sebagai persero. Dengan status yang baru ini PLN yang merupakan satu-satunya pemasok tenaga listrik tanah air harus
mampu menggunakan tolak ukur internasional, dan harus berswadaya tinggi, dengan manajemen yang berani transparan da terbuka
B. Saran
Setelah membandingkan antara teoritis dengan kenyataan yang dihadapi oleh perusahaan PT PLN (Persero) UPT Medan, maka penulis mencoba mengemukakan kembali dalam bentuk saran yang mungkin bermanfaat. Adapun saran-saran tersebut adalah:
1. Hendaknya perusahaan mengadakan pengklasifikasian biaya-biaya operasi sesuai dengan aktivitas perusahaan agar pelapor atas pengeluaran biaya tersebut dapat dilihat dengan jelas pengeluarannya.
2. Dalam pengendalian anggaran biaya operasi hendaknya perusahaan menugaskan bagian khusus untuk mengendalikan pelaksanaan anggaran tersebut agar sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya
3. Perusahaan sebaiknya menerapkan secara konsisten rumus yangberlaku dalam mengakui pendapatan atas biaya pembangunan untuk periode-periode berikutnya agar tidak terjadi varians (penyimpangan) yang jumlahnya sangat mencolok
4. PT PLN (Persero) sebagai satu-satunya pemasok listrik di tanah air dalam mengembangkan tugas dan wewenang yang telah diberikan, hendaknya dapat memberikan yang terbaik bagi pelayanan listrik bagi masyarakat dan terus meningkatkan citra perusahaan dengan semakin memperbaiki kinerja perusahaan kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA
Adisaputro. (1992). Anggaran: Suatu Pendekatan. Edisi Kedua. Cetakan Kesatu. Balai Penerbit Fakultas Ekonomi UGM; Yogyakarta
Blocher et-al. (2000). Manajemen Biaya dengan Tekanan Strategi. Terjemahan A. Susty Ambariani. Buku Pertama. Salemba Empat; Jakarta
Hansen, Don. R. And Maryanne, M. Mowen, (2000). Manajemen Biaya: Akuntansi dan Pengendalian. Edisi Pertama. Buku Satu. Salema Empat; Jakarta
Mulyadi. (2001). Sistem perencanaan dan Pengendalian Manajemen. Edisi Kedua. Salemba Empat; Jakarta
Munandar, M. (2000). Budgeting: Perencanaan, Pengoordinasian dan Pengawasan kerja. Edisi Kesatu. Bagian Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada; Jakarta
Munandar, M (1992). Penganggaran Perusahaan. Salemba Empat; Jakarta
Nafarin, M (2004). Penganggaran Perusahaan. Edisi Revisi Salemba Empat; Jakarta
Safri Harahap, Sofyan. (2001). Budgeting: Penganggaran Perencanaan Lengkap. Cetakan Kedua. PT. Grafindo Persada; Jakarta