PENGATURAN PELAKSANAAN PRODUKSI
1) Prosedur tindak turun tangan bila terdeteksi adanya kelainan fungsi dan kondisi komponen yang diperiksa
1) Prosedur tindak turun tangan bila terdeteksi adanya kelainan fungsi dan kondisi komponen yang diperiksa.
a) Setiap ada kelainan yang terdeteksi selama melakukan pemeriksaan pada komponen yang diperiksa, harus dicatat dan dikonfirmasikan kepada operator yang terkait. Tetapi jika kondisi kelainan pada komponen yang diperiksa sudah diluar kewengan operator, pelaksanan produksi harus dikonfirmasikan kepada bagian peralatan.
b) Jika kelainan pada komponen yang diperiksa disebabkan karena kerusakan yang diluar kewenangan dari operator, pelaksana memerintahkan kepada operator agar jangan melakukan tindakan perbaikannya.
c) Pelaksana produksi berkoordinasi dan melakukan kerja sama dengan petugas peralatan dan operator untuk mengatasi kelainan pada komponen yang diperiksa tersebut.
2) Langkah-langkah tindak turun tangan bila terdeteksi adanya kelainan fungsi dan kondisi pada komponen yang diperiksa.
a) Berkoordinasi dengan operator terkait dari komponen yang diperiksa pada unit yang terdeteksi mengalami kelainan.
b) Catat kelainan yang terdeteksi pada komponen tersebut dan laporkan kondisi kelainan yang ditemukan secara rinci, kepada bagian peralatan jika kerusakan sudah diluar kewenangan operator. Tetapi jika kelainan sangat ringan dan masih menjadi wewenang operator, maka pelaksana produksi dapat langsung memerintahkan operator terkait untuk memperbaiki/mengoreksi.
c) Sedapat mungkin membuat tindakan sementara untuk mencegah kerusakan yang lebih berat.
d) Jika kerusakan harus dtangani oleh bagian peralatan, dan jika produksi diteruskan akan mengakibatkan kerusakan berikutnya pada unit atau komponen lain, maka pelaksana produksi harus memrintahkan operator untuk menghentikan mesin pencampur aspal panas, sampai selesai perbaikan oleh bagian peralatan.
e) Berkoordinasi dengan bagian peralatan untuk mengatasi kelainan pada mesin pencampur alat panas.
4.4.2 Pemeriksaan komponen burner dan penyalur agregat.
a. Penjelasan prosedur pemeriksaan fungsi dan kondisi komponen burner dan penyalur agregat panas.
Dalam proses pemeriksaan komponen burner dan penyalur agregat ini, petugas harus
- Memahami fungsi dan kondisi komponen burner dan penyalur agregat panas.
- Memantau kinerja burner dan komponen penyalur agregat panas.
- Melakukan tindak lanjut pemeriksaan bila terdeteksi ada kelainan.
Maksud dari alat pembakaran (burner) yang terdapat dalam drum pengering/pencampur adalah untuk pemanasan dan pengeringan agregat. Alat pembakar dapat dioperasikan dengan bahan bakar minyak, gas atau keduanya.
Judul Modul: Pengaturan Pelaksanaan Produksi
Buku Informasi Edisi: 2-2012 Halaman: 50 dari 75 Pemeriksaan fungsi dan kondisi pada komponen burner dan komponen penyalur agregat panas, dapat diuraikan sebagai berikut :
1) Pemeriksaan proses pengaliran minyak dan udara harus seimbang. Apabila pembakaran menggunakan bahan minyak, maka harus digunakan tekanan udara yang rendah. Tetapi jika digunakan gas alam atau LPJ dapat menggunakan tekanan rendah atau tekanan tinggi. Pemeriksaan dalam pengaturan ini harus secara terus menerus untuk menjamin pembakaran yang baik. Sebab misalnya jika pasokan minyak dan udara tidak seimbang bisa jadi mengakibatkan penghamburan bahan bakar dan agregat yang dipanaskan akan terselimuti minyak sehingga akan mengakibatkan penurunan daya lengket antara aspal dengan agregat.
2) Pemeriksaan timbangan agregat yang sudah tidak layak pakai. Jika timbangan agregat sudah tidak layak pakai, maka untuk mesin pencampur aspal panas jenis takaran akan mengakibatkan beberapa hal diantaranya adalah :
a) Kadar aspal tidak sesuai lagi dengan job mix formula.
b) Gradasi agregat tidak sesuai lagi dengan job mix formula.
c) Ada kemungkinan kelebihan butiran halus.
d) Berat tidak sama pada truk dan pada takaran.
e) Dapat terjadi gumpalan aspal pada campuran aspal panas.
f) Campuran aspal panas tidak homogin/seragam.
g) Campuran aspal panas berwarna pucat atau coklat.
h) Dapat terjadi campuran aspal panas menjadi gemuk atau kelebihan aspal.
3) Pemeriksaan saringan yang sudah aus atau bocor. Jika saringan sudah aus, maka untuk mesin pencampur aspal panas jenis takaran akan mengakibatkan,
a) Gradasi agregat menjadi tidak sesuai lagi dengan job mix formula.
4) Pemeriksaan overflow pada bin panas jika tidak berfungsi semestinya. Jika overflow pada bin panas tidak berfungsi, maka untuk mesin pencampur aspal panas jenis takaran akan mengakibatkan beberapa hal diantaranya :
a) Gradasi agregat menjadi tidak sesuai lagi dengan job mix formula.
b) Kelebihan butiran halus.
5) Pemeriksaan temperatur agregat yang terlalu panas. Jika temperatur agregat terlalu panas, maka untuk mesin pencampur aspal panas jenis takaran dan drum akan mengakibatkan beberapa hal diantaranya :
a) Dapat mengakibatkan temperatur dapat tidak seragam.
b) Jika terlalu panas dapat dilihat dengan tanda-tanda campuran aspal panas, membentuk rata diatas bak truk, campuran terbakar, dan campuran berasap biru.
6) Pemeriksaan pengontrol temperatur pada Dryer yang tidak berfungsi. Jika pengontrol temperatur pada Dryer tidak berfungsi, maka untuk mesin pencampur aspal panas jenis takaran dan drum akan mengakibatkan beberapa hal diantaranya :
a) Temperatur dari campuran aspal panas tidak seragam.
b) Agregat tidak terselimuti dengan aspal secara merata.
c) Campuran aspal panas dapat kelebihan aspal pada satu sisi.
d) Campuran aspal panas akan membentuk rata diatas bak truk, campuran terbakar, dan campuran berasap biru.
Judul Modul: Pengaturan Pelaksanaan Produksi
Buku Informasi Edisi: 2-2012 Halaman: 51 dari 75 e) Campuran beruap.
7) Pemeriksaan posisi Dryer yang terlalu miring. Jika posisi Dryer terlalu miring, maka untuk mesin pencampur aspal panas jenis takaran dan drum akan mengakibatkan beberapa hal diantaranya :
a) Temperatur tidak seragam.
b) Agregat tidak terselimuti dengan merata.
c) Campuran beruap.
8) Pemeriksaan pengering (Dryer) yang overkapasitas. Jika pengering Dryer overkapasitas, maka untuk mesin pencampur aspal panas jenis takaran dan drum akan mengakibatkan beberapa hal diantaranya :
a) Temperatur tidak seragam.
b) Agregat tidak terselimuti dengan merata.
c) Campuran beruap.
b. Identifikasi fungsi dan kondisi burner dan penyalur agregat panas dengan benar.
Mesin pencampur aspal panas jenis takaran, agregat digabungkan, dipanaskan dan dikeringkan serta secara proporsional dicampur dengan aspal untuk memproduksi campuran aspal panas. Proses produksi campuran beraspal panas dengan menggunakan AMP jenis takaran seperti diperlihatkan pada gambar 4.2, 4.3, 4.4, dan 4.5 dimulai dari memasok agregat dingin dari bin dingin dengan jumlah terkontrol, kemudian dipanaskan dan dikeringkan melalui pengering (Dryer).
Selanjutnya agregat disaring dengan unit saringan panas (hot screen) yang akan memisahkan agregat berdasarkan ukuran fraksinya lalu dimasukkan ke dalam bin panas. Masing-masing agregat dari bin panas ditimbang sesuai proporsi yang diinginkan. Bila diperlukan, bahan pengisi (filler) ditambahkan melalui pemasok bahan pengisi. Selanjutnya dicampur kering dalam pencampur.
Judul Modul: Pengaturan Pelaksanaan Produksi
Buku Informasi Edisi: 2-2012 Halaman: 52 dari 75
Drum Drayer
Judul Modul: Pengaturan Pelaksanaan Produksi
Buku Informasi Edisi: 2-2012 Halaman: 53 dari 75 Gambar 4.4 Burner dan Dryer
Drum Dryer
Sudu-sudu didalam drum dryer
Judul Modul: Pengaturan Pelaksanaan Produksi
Buku Informasi Edisi: 2-2012 Halaman: 54 dari 75