• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosedural Pelaksanaan Permintaan Bantuan

BAB II TINJAUAN YURIDIS TENTANG PERJANJIAN TIMBAL BALIK(Mutual Legal

F. Prosedural Pelaksanaan Permintaan Bantuan

Terdapat 3 (tiga) bentuk kerjasama internasional di bidang hukum yang pertama adalah ekstradisi menyangkut orang pelarian, kedua adalah transfer of

sentence person atau lebih dikenal den,,an transfer of prisoners (pemindahan narapidana antar negara) dan ketiga adalah bantuan timbal balik dalam masalah pidana, menyangkut tindakan-tindakan hukum dalam proses penyidikan, penuntutan dan persidangan di sidang pengadilan serta perampasan hasil kejahatan.

45

Melihat ketiga kerja sama internasional dalam bidang pidana maka aset sebagai barang bukti dan perampasan asset hanya dapat dilakukan melalui proses bantuan hukum timbal balik dalam masalah pidana, yang dimaksud dengan bantuan, timbal balik dalam masalah pidana adalah permintaan bantuan kepada negara asing berkenaan dengan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan. Dalam hal ini, Pemerintah Indonesia memiliki beberapa perjanjian kerja sama MLA Bilateral dengan Australia, China, Korea, dan AS serta beberapa negara yang tergabung dalam negara ASEAN antara lain, Pemerintah Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Vietnam yang dimuat dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2008 dalam hal bersepakat untuk meningkatkan efektivitas lembaga penegak hukum dari para pihak dalam pencegahan, penyidikan, penuntutan, dan yang berhubungan dengan penanganan perkara pidana melalui kerjasama dan bantuan timbal balik dalam masalah pidana.

Prosedural pengaturan mengenai tata cara dalam memberikan ataupun meminta bantuan dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Prosedur dalam Permintaan Bantuan oleh Indonesia kepada Negara Asing Permintaan bantuan diajukan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (selanjutnya disebut Menteri) kepada negara asing melalui saluran diplomatik berdasarkan permohonan Kapolri atau Jaksa Agung, dan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi apabila terkait masalah korupsi (vide Pasal 9) yang isinya memuat: identitas dari institusi yang meminta; pokok masalah dan hakikat dari penyidikan, penuntutan, atau pemeriksaan di sidang pengadilan yang berhubungan dengan permintaan tersebut, serta nama dan fungsi institusi, yang melakukan penyidikan, penuntutan, dan proses peradilan; ringkasan dari fakta-fakta yang terkait kecuali permintaan bantuan yang berkaitan dengan dokumen yuridis; ketentuan undang-undang yang terkait, isi pasal, dan ancaman pidananya; uraian tentang bantuan yang diminta dan rincian mengenai prosedur khusus yang dikehendaki termasuk kerahasiaan; tujuan dari bantuan yang diminta; dan syarat-syarat lain yang ditentukan oleh Negara Diminta (Pasal

46

10), dengan alasan diduga atau patut diduga mempunyai hubungan dengan suatu penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan di Indonesia; atau dapat memberikan pernyataan atau bantuan lain dalam suatu penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan (untuk permintaan bantuan untuk mencari atau mengidentifikasi orang) atau alasan diyakini terdapat alat bukti yang terkait dengan suatu penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan di Indonesia (untuk permintaan bantuan pemberian alat bukti) serta menghadirkan seseorang untuk memberikan keterangan terkait dengan masalah pidana.

Prosedur mengenai permintaan bantuan ini biasanya ditindak-lanjuti juga dengan prosedur mengenai bagaimana proses penyerahan alat bukti, menghadirkan seseorang sebagai saksi maupun yang memberikan keterangan termasuk fasilitas akomodasi dan transportasi juga ruang tahanan apabila orang yang dimintakan kehadirannya itu berstatus tahanan di negara diminta, serta hal-hal lain yang terkait dengan itu.

Permintaan bantuan ini juga bisa berupa permintaan untuk rnelaksanakan putusan pengadilan yang telah ditetapkan oleh pengadilan di Indonesia seperti perampasan terhadap barang sitaan, pidana denda, atau pembayaran uang pengganti.

Penggunaan bantuan yang telah diberikan oleh Negara Diminta hanya dipergunakan untuk keperluan terkait dengan permohonan permintaan bantuan dari Negara Peminta oleh pejabat yang berwenang kecuali ada persetujuan dari Negara Diminta sebagai pemberi Bantuan untuk mempergunakan bantuan tersebut untuk keperluan lain.

2. Prosedur dalam Permintaan Bantuan oleh Negara Asing kepada Indonesia

Selain prosedur yang sama yaitu melalui saluran diplomatik atau langsung, isi dari permohonan permintaan bantuan memuat (sebagai syarat): maksud permintaan bantuan dan uraian mengenai bantuan yang diminta; instansi dan nama pejabat yang melakukan penyidikan, penuntutan, atau pemeriksaan di

47

sidang pengadilan yang terkait dengan permintaan tersebut; uraian tindak pidana, tingkat penyelesaian perkara, ketentuan undang-undang, isi pasal, dan ancaman hukumannya; uraian mengenai perbuatan atau keadaan yang disangkakan sebagai tindak pidana, kecuali dalam hal permintaan bantuan untuk melaksanakan penyampaian surat; putusan pengadilan yang bersangkutan dan penjelasan bahwa putusan tersebut telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Dalam hal permintaan bantuan untuk menindaklanjuti putusan pengadilan; rincian mengenai tata cara atau syarat-syarat khusus yang dikehendaki untuk dipenuhi, termasuk informasi apakah alat bukti yang diminta untuk didapatkan perlu dibuat di bawah sumpah atau janji; jika ada, persyaratan mengenai kerahasiaan dan alasan untuk itu; dan batas waktu yang dikehendaki dalam melaksanakan permintaan tersebut dan bila memungkinkan memuat juga identitas, kewarganegaraan, dan domisili dari orang yang dinilai sanggup memberikan keterangan atau pernyataan yang terkait dengan suatu penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan; uraian mengenai keterangan atau pernyataan yang diminta untuk didapatkan; uraian mengenai dokumen atau alat bukti lainnya yang diminta untuk diserahkan, termasuk uraian mengenai orang yang dinilai sanggup memberikan bukti tersebut; dan informasi mengenai pembiayaan dan akomodasi yang menjadi kebutuhan dari orang yang diminta untuk diatur kehadirannya di negara asing tersebut.

Sebagai proses kebalikan dari permohonan permintaan bantuan kepada negara asing maka permohonan permintaan bantuan kepada Indonesia, kewenangan masih ada pada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk selanjutnya diteruskan kepada Kapolri atau Jaksa Agung apabila sudah mencukupi syarat-syaratnya dan apabila belum mencukupi syarat-syarat Menteri dapat memerintahkan Negara Peminta untuk melengkapi, sedangkan apabila permohonan permintaan bantuan tersebut ditolak maka Menteri memberitahukan dasar penolakan tersebut kepada pejabat Negara Peminta.

48

Pada umumnya baik dalam permintaan bantuan oleh Indonesia kepada negara asing maupun permintaan bantuan oleh negara asing kepada Indonesia adalah sama dan berupa proses kebalikannya saja, terutama menyangkut kekebalan hukum seperti yang melekat pada para Diplomat. Kekebalan hukum yang mirip dilplomat juga bisa berbentuk kekebalan untuk tidak dituntut, dihukum atau diadili karena kasus yang di luar permohonan permintaan bantuan yang harus diberikan kepada orang yang dimintakan keberadaannya oleh Negara Peminta serta memberikan jawaban yang menurut negaranya tidak boleh dijawab. Dalam setiap permohonan permintaan bantuan akan diatur juga permasalahan pembiayaan.

Undang Undang Nomor 15 Tahun 2008 Pengesahan Treaty On Mutual Legal

Assistance In Criminal Matters (Perianjian Tentang Bantuan Timbai Balik

Dalam Masalah Pidana)

Perkembangan 'ilmu pengetahuan dan teknologi terutama "perkembangan transportasi, komunikasi, dan iri ormasi telah mengakibatkan satu negara dengan negara lain seakan-akan tanpa batas sehingga perpindahan orang dan barang dari satu negara ke'negara lain dilakukan dengan mudah dan cepat. Di sisi lain hal itu mengakibatkan meningkatnya tindak pidana transnasiohal dengan modus operandi.

G. Bentuk dan Pelaksanaan Bantuan

Dokumen terkait