TINJAUAN PUSTAKA
A. Eksposur Ekonomi 1 Defenis
4) Prosentase Perubahan Harga Saham
IHSG = IHSGt – IHSGt-1 x 100% IHSG t-1
C. Kurs
1. Defenisi Kurs
Kurs adalah suatu rasio atau perbandingan antara mata uang domestik (dalam negeri) dengan mata uang asing (luar negeri). Nilai tukar atau kurs mempunyai fungsi cukup penting dalam perekonomian suatu negara. Karena kurs merupakan salah satu faktor yang mendukung kelancaran perdagangan internasional yang dilakukan oleh negara tersebut dengan negara lainnya. Kurs mata uang menunjukan harga suatu mata uang jika dipertukarkan dengan mata uang lainnya, dimana kurs mata uang dapat diartikan sebagai pembanding nilai antar mata uang.
2. Teori Kurs
a. Teori Keseimbangan Suku Bunga (Theory of Intereset Rate Parity / IRP)
xxxv Teori ini menyatakan bahwa perbedaan tingkat bunga (sekuritas) pada international money market akan cenderung sama dengan forward rate atau discount. Dengan kata lain, berdasarkan teori IRP akan dapat diperkirakan berapa perubahan forward rate (FR) dibandingkan dengan spot rate (SR) jika terdapat perbedaan tingkat bunga, misalnya antara tingkat bunga di dalam negeri dengan di negara lain. Dengan demikian seorang investor akan dapat menentukan dalam mata uang atau valuta asing apa dananya akan diinvestasikan.
Kondisi di mana tingkat rate of return yang ditawarkan dalam berbagai valuta asing adalah sama bila dihitung dengan satu satuan yang sama yang disebut kondisi paritas tingkat bunga (interest parity), yaitu :
RRp = Rx + (EeRp/x - ERp/x) ERp/x
Dimana: RRp adalah tingkat bunga simpanan Rupiah ini.
Rx adalah tingkat bunga simpanan Valuta saat ini. ERp/x adalah nilai Rp/Valuta x saat ini.
EeRp/x adalah nilai Rp/Valuta x yang diharapkan di masa akan datang.
xxxvi b. Teori Keseimbangan Daya Beli (Theory of Purchasing Power
Parity)
Pertama kali dikemukakan oleh David Ricardo pada tahun 1817 dan kemudian dikembangkan oleh Gustav Cassel pada tahun 1916. Teori ini mendasar logika bahwa mata uang dalam standar kertas tidak mempunyai nilai intrinsik atau dapat dikatakan tidak didukung dan dikaitkan nilainya dengan suatu komoditi tertentu yang dijadikan standar sehingga nilai tersebut didalam negeri ditentukan oleh kemampuan daya belinya. Mengacu pada hipotesis Theory of Purchasing Power Parity yang mengaitkan harga dalam mata uang suatu negara terhadap nilai tukar.
P = R x Pf atau R = P/Pf Dimana:
R adalah harga valuta asing dalam suatu mata uang negara tertentu.
P adalah tingkat harga di dalam negeri (domestik). Pf adalah tingkat harga di negara asing..
Penjelasan teori ini didasarkan pada Law of One Price (LOP), yaitu hukum yang mnyatakan bahwa harga produk yang sama di dua negara yang berbeda akan sama pula bila dinilai dengan currency atau mata uang yang sama.
xxxvii c. International Fischer Effect Theory (IFE)
Jika semua kondisi lainnya tetap (ceteris paribus), kenaikan perkiraan titik inflasi suatu saat pada akhirnya akan menimbulkan kenaikan titik bunga dari simpanan mata uang negara yang bersangkutan. Begitu pula sebaliknya, penurunan perkiraan inflasi (tingkat inflasi di masa yang akan datang) pada gilirannya akan mengakibatkan penurunan tingkat bunga seperti pada persamaan berikut:
RRp – Rx = eDL – eLN.
Artinya bahwa selisih tingkat bunga internasional sama dengan selisih antara perkiraan-perkiraan tingkat inflasi di kedua negara. 3. Perilaku Nilai Tukar (Kurs)
Setiap perusahaan yang akan mengelola exposure dari fluktuasi nilai tukar tentunya harus memahami terlebih dahulu bagaimana perilaku nilai tukar karena setiap negara memiliki kebijaksanaan untuk menentukan sistem nilai tukar yang dianutnya dan hal ini akan berpengaruh terhadap keputusan yang harus diambil perusahaan berkaitan dengan usaha yang dijalankan di negara tersebut.
Disamping perusahaan tersebut harus mengetahui sistem nilai tukar, perusahaan juga harus mengetahui bagaimana pengaruh nilai tukar terhadap harga saham, karena harga saham merupakan cerminan dari nilai perusahaan.
xxxviii 4. Sistem Nilai Tukar
Di dalam keuangan internasional dikenal empat macam sistem nilai tukar, yaitu : Fixed Exchange Rate System, Freely Floating Exchange Rate System, Managed-float Exchange Rate System dan Pagged Echange Rate System. Berikut ini penjelasan dari masing-masing sistem :
a. Fixed Exchange Rate System (Sistem Kurs Tetap)
Pada tahun 1944 ke tahun 1971 Fixed Exchange Rate System berdasarkan sistem yang direncanakan di dalam Bretton Woods Conference adalah dimana kurs dipertahankan konstan atau fixed dalam arti yang lebih luas kurs dibiarkan berfluktuasi namun dalam batasan yang sangat sempit. sebagai regulator dapat melakukan intervensi untuk mempertahankan nilai tukar tersebut dalam batasan yang ditetapkan. Nilai kurs tetap dipertahankan dengan intervensi dari Bank Sentral negara bersangkutan (di Indonesia tugas ini diambil oleh Bank Indonesia sebagai Bank Sentral) dalam pasar valuta asing dengan menjual atau membeli Rupiah dengan mata uang. Intervensi ini tergantung dari permintaan dan penawaran Rupiah di pasar yang menyebabkan kurs menyimpang dari nilai parinya. Standar kurs tetap dewasa ini lebih merupakan komitmen pemerintah untuk mempertahankan kurs mata uangnya pada tingkat tertentu. Bank Indonesia sebagai Bank
xxxix Sentral secara aktif akan menarik atau melepaskan cadangan mata uang pada saat mata uang mengalami depresiasi atau apresiasi. Karena dampak dari depresiasi atau apresiasi ini terkait erat dengan inflasi, maka pertimbangan tingkat inflasi menjadi penting dalam penentuan kurs tetap.
b. Freely Floating Exchange Rate System (Sistem Kurs Mengambang)
Dalam sistem bebas mengambang ini, kurs ditentukan berdasarkan interaksi permintaan dan penawaran dari mata uang. Hasil Smithsonian (1971), harga emas satu onz naik menjadi US$ 38 atau devaluasi dollar Amerika sebesar 7,9%. Fluktuasi diperlebar 2,5% dari nilai pari dan kemudian harga emas naik lagi menjadi US$ 42,2. akibatnya arus dollar Amerika yang keluar tetap tidak dapat di bendung, artinya standar kurs tetap gagal dalam menjalankan fungsinya..
Di bawah sistem ini, perusahaan-perusahaan multinational (multinational corporate selanjutnya disebut MNC) membutuhkan sumber daya yang kuat untuk mengukur dan mengelola exposure fluktuasi nilai tukar dimana perusahaan perlu memperhatikan fluktuasi mata uang atau kurs yang terjadi dari hari ke hari.
xl c. Managed-float Exchange Rate System (Sistem Kurs
MengambangTerkendali).
Sistem ini sama dengan nilai tukar mengambang bebas karena nilai tukar dibiarkan berfluktuasi dari hari ke hari dan tidak ada batasan resmi, perbedaanya terletak pada perlu atau tidaknya cadangan devisa. Kalau mengambang bebas tidak memerlukan cadangan devisa, sedangkan mengambang terkendali memerlukan cadangan devisa. Namun sistem ini juga dikatakan mirip dengan sistem nilai tukar tetap, karena pemerintah dapat dan kadang-kadang melakukan intervensi untuk mencegah mata uangnya bergerak terlalu jauh dari arah yang ditentukan.
Dalam melakukan kurs mengambang terkendali ini, peranan Bank Sentral sangat dominan dalam menentukan nilai kurs. Intervensi dapat dilakukan untuk menjaga timbulnya gangguan terhadap keseimbangan kurs yang sifatnya sementara atau dilakukan secara permanen. Dalam sistem mengambang terkendali, fluktuasi kurs dibatasi dengan pita intervensi, yaitu besarnya toleransi kurs mata uang yang diizinkan untuk berfluktuasi. Dengan demikian, Bank Sentral membutuhkan devisa yang memadai untuk melakukan intervensi. Sistem nilai tukar ini yang dipergunakan Indonesia
xli sekarang sebelum terjadinya gejolak mata uang Rupiah pada tahun 1997 lalu.
d. Pagged Exchange Rate Syatem ( Sistem Kurs Tertambat) Sistem kurs tertambat (pagged exchange rate) mendasarkan nilai mata uang dengan suatu mata uang atau sekelompok mata uang yang merupakan mitra dagang utamanya. Beberapa negara berkembang seperti Indonesia misalnya, mematok mata uangnya terhadap dollar Amerika. 5. Peramalan Nilai Tukar
Perusahaan biasanya perlu melakukan peramalan nilai tukar untuk salah satu tujuan di bawah ini (Eiteman; 1995; 129) :
a. Accounts Payable and Receivable
Hutang dan piutang dalam valuta asing saat ini ataupun di masa yang akan datang terekspose kerugian nilai tukar pada saat dikonversikan ke mata uang dalam negeri di mana dalam hal ini adalah Rupiah. Peramalan nilai tukar bermanfaat untuk pengambilan keputusan apakah perlu atau tidaknya melindungi kerugian potensial tersebut
b. International Price List
Dalam menetapkan harga produk dalam valuta asing, perusahaan perlu melakukan estimasi arah perubahan mata uang. Peramalan ini dapat diperpanjang dari satu hari, satu tahun sampai jangka waktu yang telah disepakati.
xlii c. Working Capital Management
Suatu perusahaan multinasional secara konstan mengelola arus kas antara parent company dan afiliasi asing. Peramalan nilai tukar dengan benar dapat mengatur waktu pergerakan arus kas yang efisien.
d. International Investment Analysis
Evaluasi atas proyek internasional dan investasi portfolio internasional membutuhkan peramalan nilai tukar yang baik Selanjutnya Eiteman (1995; 133) mengungkapkan bahwa di dalam prakteknya untuk melakukan peramalan nilai tukar harus memperhatikan periode peramalan apakah berjangka pendek ataukah berjangka panjang serta sistem nilai tukar yang berlaku pada negara tersebut dapat juga mempengaruhi peramalan akan nilai tukar.
6. Dampak Nilai Mata Uang terhadap Harga Saham
Peserta pasar keuangan pada umumnya selalu memonitor pergerakan nilai mata uang dimana mereka melakukan suatu investasi. Nilai investasi di suatu negara dapat mengalami penurunan (apabila nilai mata uang negara tersebut melemah/depresiasi terhadap mata uang negara lain) dan dapat pula menguat (apabila nilai mata uang negara tersebut menguat/apresiasi terhadap mata uang negara lain), oleh karena hal ini pergerakan suatu mata uang akan mempengaruhi
xliii nilai daripada surat-surat berharga yang diperdagangkan di pasar tersebut dala.
Menurut Jeff Madura (Madura; 1992; 173) nilai mata uang dapat mempengaruhi harga saham karena beberapa faktor. Pertama, harga saham perusahaan dapat dipengaruhi oleh tindakan para investor yang menggunakan saham sebagai sarana mengambil keuntungan dari spekulasi mata uang. Investor membeli saham dari suatu negara pada saat nilai mata uang negara tersebut mengalami depresiasi lalu kemudian menjualnya pada saat nilai mata uang negara tersebut mengalami apresiasi.
Kedua, harga saham dalam negeri yang dapat dipengaruhi akibat dampak perubahan arus kas perusahaan. Saham suatu perusahaan yang banyak melakukan ekspor tentunya akan mendapatkan efek positif dengan semakin melemahnya nilai mata uang daripada negara yang menjadi mitra dagang dari perusahaan tersebut diatas, sebaliknya bagi perusahaan pengimpor akan mendapatkan efek negatif.
Ketiga, perubahan nilai tukar dapat mempengaruhi harga saham karena pengaruhnya terhadap ekspektasi faktor-faktor perekonomian yang mempengaruhi kinerja perusahaan. Sebagai contoh apabila melemahnya nilai mata uang merangsang perekonomian suatu negara hal tersebut dapat menaikan harga saham suatu perusahaan apabila penjualannya banyak tergantung pada perekonomian negara tersebut.
xliv Keempat, Inflasi. Karena fluktuasi inflasi dapat mempengaruhi perekonomian suatu negara juga perusahaan. Melemahnya nilai mata uang suatu negara secara tidak langsung dapat mempengaruhi kinerja perusahaan dan berdampak pula terhadap saham perusahaan tersebut. Hal ini terjadi karena melemahnya nilai mata uang akan memberi tekanan naik pada inflasi. Sebaliknya, nilai mata uang yang menguat akan memberikan tekanan turun pada inflasi dan hal ini akan berpengaruh pada kinerja perusahaan dan selanjutnya mempengaruhi harga sahamnya.
Kelima, ekpektasi terhadap suatu mata uang juga dapat mempengaruhi harga saham karena pengaruhnya terhadap tingkat bunga. Melemahnya nilai mata uang akan menurunkan aliran modal masuk ke suatu negara dan hal ini akan memberi tekanan pada kenaikan tingkat bunga. Dampak kenaikan tingkat bunga pada perusahaan bervariasi tergantung pada karakteristik keuangannya.
Dari uraian diatas terlihat bahwa perubahan nilai tukar dapat berpengaruh baik secara langsung maupun tak langsung pada perusahaan yang kemudian akan memberi pengaruh terhadap harga sahamnya.
7. Prosentase Perubahan Laju Nilai Tukar
Perubahan laju nilai tukar dapat diukur dengan mengukur nilai tukar bulan ini dengan bulan sebelumnya sebagai dasar, yakni: (Alan C. Saphiro)
xlv ER = ERt - ERt – 1 x 100%
ERt – 1 Keterangan :
ER = perubahan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar ERt = nilai tukar Rupiah/US Dollar bulan t
ERt – 1 = = nilai tukar Rupiah/US Dollar bulan lalu.
D. Inflasi
1. Defenisi Inflasi
Inflasi adalah kecenderungan dari tingkat harga-harga dan biaya- biaya untuk naik secara umum dengan jangka waktu tertentu (Samuelson dan Nordhaus;1991)
2. Penggolongan Inflasi
Terdapat beberapa cara menggolongkan inflasi. Penggolongan pertama didasarkan atas parah atau tudaknya inflasi tersebut. Di sini ada perbedaan yang membedakan beberapa macam inflasi sebagai berikut :
a. Inflasi Ringan ( < 10% per tahun) b. Inflasi Sedang (10% - 30% per tahun) c. Inflasi Berat (30% - 100% per tahun) d. Hyper Inflation (> 100% per tahun)
xlvi Penggolongan yang kedua adalah atas dasar sebab musabab awal dari inflasi. Atas dasar penggolongan ini kita dapat bedakan inflasi menjadi dua macam, yaitu:
a. Inflasi yang timbul karena permintaan masyarakat akan berbagai barang terlalu tinggi. Inflasi semacam ini disebut juga dengan inflasi akan permintaan atau demands of inflation.
b. Inflasi yang terjadi karena biaya tatu ongkos produksi atau biasa disebut dengan cost inflation.
Penggolongan yang ketiga adalah berdasarkan asal dari inflasi tersebut, apakah berasal dari dalam negeri atau dari luar negeri.
a. Inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestic inflation), misalnya karena defisit anggaran belanja yang ditutupi dengan pencetakan uang baru, panen raya yang gagal dan contoh lainnya yang tidak bisa disebutkan satu per satu di sini.
b. Inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation), adalah inflasi yang timbul karena kenaikan harga-harga (inflasi) di luar negeri atau di negara-negara langganan yang menjadi mitra dagang utama Indonesia.
3. Teori Inflasi
Ada tiga teori utama mengenai inflasi yaitu teori kuantitas, teori Keynes dan teori Strukturalis.
xlvii a. Teori Kuantitas
Teori Kuantitas mengenai inflasi mengatakan bahwa penyebab utama dariinflasiadalah pertambahan jumlah uang beredar dan sisi psikologi masyarakat mengenai kenaikan harga- harga di masa mendatang.
b. Teori Keynes
Teori Keynes mengatakan bahwa inflasi terjadi karena masyarakat hidup di luar batas kemampuan ekonomisnya. Teori ini menyoroti bagaimana perebutan rezeki diantara golongan-golongan masyarakat bisa menimbulkan agregat yang lebih daripada jumlah barang yang tersedia (yaitu apabila terjadi inflation gap). Selama inflation gap masih terjadi, selama itu pula proses inflasi akan berkelanjutan. Teori ini menaril karena ada peranan sistem distribusi pendapatan dalam proses inflasi dan menyarankan hubungan antara inflasi dan faktor-faktor non-ekonomis.
c. Teori Strukturalis
Teori strukturalis adalah teori inflasi jangka panjang. Kenapa disebut dengan jangka panjang ?, karena menyoroti sebab- sebab inflasi yang berasal dari kekuatan struktur ekonomi, khususnya ketegaran suplai bahan makanan dan barang-barang ekspor. Karena sebab-sebab struktural pertambahan produksi yang lambat yang tak berbanding lurus dengan pertumbuhan kebutuhannya, sehingga menaikan harga makanan dan kelangkaan
xlviii devisa. Akibat selanjutnya adalah keniakan harga-harga lain sehingga terjadi inflasi. Inflasi semacam ini tidak bisa diatasi hanya dengan misalnya mengurangi jumlah uang yang beredar, tetapi lebih dari itu inflasi ini harus ditangani dengan pembangunan di sektor bahan pangan dan ekspor.
4. Pengukuran Inflasi
Laju inflasi dapat diukur dengan menghitung perubahan Indeks Harga Konsumen yang merupakan indeks harga dari barang yang selalu digunakan oleh para konsumen dengan memakai indeks harga tahun sebelumnya sebagai tahun dasar, yakni:
Laju Inflasi = IHKt - IHKt - 1 IHKt - 1
Adanya inflasi sangat berdampak besar bagi perekonomian suatu negara. Pada saat terjadi inflasi, harga-harga barang cenderung untuk naik, maka hai tersebut akan menyebabkan meningkatnya biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan. Peningkatan biaya produksi ini menyebabkan harga jual produk meningkat sehingga akan mengurangi kuantitas produk yang dijual, akibatnya laba yang diperoleh perusahaan akan menurun. Dengan menurunya kinerja keuangan perusahaan maka akan menyebabkan deviden yang dibagikan kepada pemegang saham berkurang, sehingga investor enggan
xlix mempertahankan kepemilikannya atas saham perusahaan, yang akhirnya berakibat pada penurunan indeks harga saham.