• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar Mahasiswa

METODOLOGI PENELITIAN 1. Desain Penelitian

8. Tingkat Keabsahan Data

1.2 Pengalaman Mahasiswa dalam Mengikuti Kurikulum Berbasis Kompetensi

1.2.5 Faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar Mahasiswa

Beberapa hal yang mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa dalam kurikulum berbasis kompetensi, yaitu (a) gaya belajar, (b) manajamen waktu, dan (c) motivasi belajar.

a. Gaya Belajar

Partisipan mengatakan gaya belajar mahasiswa yang berbeda-beda sangat berpengaruh dalam prestasi belajar mahasiswa, yaitu belajar secara audio, kinestetik, taktil, olfaktorius dan kombinatif. Hal ini sesuai dengan penyataan partisipan berikut :

“Kalo aku ya ruang belajar itu harus tenang, kemudian diminimalkan lah keributan. Lalu kalo aku itu belajar dengan gaya belajar visual biasanya slide itu ku garis-garisi..mana garis-garis pentingnya, kemudian ada juga yang ku bulati..pokoknya gimana senangnya aku lah, kucoret-coret “ (Partisipan 4)

b. Manajemen Waktu

Partisipan juga mengatakan manajemen waktu juga menjadi hal yang sangat penting dalam prestasi belajar mahasiswa seperti porsi belajar, waktu belajar yang baik. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh partisipan 4.

“Cuma gene misalkan yang ku katakan tadikan satu minggu, maksudnya malamnya memang ga belajar tapi ketika dosen menerangkan, aku nyatat aja. Aku catat bagian-bagian penting yang ditekankan dia, Jadi ketika ujian nanti aku tau..oh ini kira-kira keluar soalnya ini kemarin bagian yang ditekankan oleh dosen, oh ini bagian yang tidak ditekankan keknya ini ga keluar..kemudian itulah manajemen waktu itu penting, ga pun harus satu minggu, ntah tiga hari tapi memang waktu itu kita porsir untuk belajar “ (Partisipan 4) c. Motivasi Belajar

Hal terakhir yang dinyatakan partisipan yang mempengaruhi prestasi mahasiswa dalam kurikulum berbasis kompetensi adalah motivasi belajar. Motivasi bisa bersifat internal ataupun motivasi internal. Hal yang ini sesuai dengan penyataan berikut :

Hal-hal yang bisa memotivasi aku bagi diriku itu ya..yang terpenting itu dari dirikita sendiri, kalo kita inging sukses, kita ingin berhasil ya kita harus mau belajar,kemudian motivasi yang lain itu

36

bisa berasal dari orang tua, gimana mereka mencari uang menyekolahkan kita, kemudian juga dari teman-teman kelompok belajar, kan kalo kita memiliki teman-teman dan merekapun ada niat untuk belajar, kitapun pasti akan terpacu untuk belajar, tapi gimanapun itu semua kalo sistem atau lingkungan yang kita jalanin sudah struktur rapi dan kita juga tidak terusik dengan system tersebut, pasti kita akan nyaman dengan system tersebut” (Partisipan 4)

2. Pembahasan

Dari hasil yang diperoleh dari hasil wawancara akan diuraikan pembahasan dengan literatur yang ada, yakni hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman mahasiswa dalam mengikuti kurikulum berbasis kompetensi. Proses belajar dengan metode yang berfokus pada mahasiswa, kelebihan kurikulum berbasis kompetensi, hambatan dalam mengikuti kurikulum berbasis kompetensi, respon mahasiswa dalam kurikulum berbasis kompetensi, faktor yang mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa.

2.1 Proses Belajar dengan Metode Berfokus Pada Mahasiswa

Hasil wawancara pada penelitian ini di temukan bahwa partisipan mengidentifikasikan kurikulum berbasis kompetensi berhubungan dengan proses belajar dalam perkuliahan yang menggunakan metode belajar yang berfokus pada mahasiswa, diantaranya PBL/I, Skill lab, ceramah dan praktikum. Hal ini sesuai dengan penyataan bahwa terdapat beragam model pembelajaran dengan pendekatan student center learning, yaitu small group discussion, role-play & simulation, case study, discovery learning (DL), self-directed learning (SDL), cooperative learning(CL), collaborative learning (CbL), contextual instruction

(CI), project based learning(PjBL), problem based learning and inquiry (PBL)(Nursalam & Efendi, 2008).

Hasil penelitian hanya didapatkan bahwa proses belajar dengan metode yang berfokus pada mahasiswa adalah PBL/I. Akan tetapi dalam penelitian ini belum diketahui bagaimana dengan metode lain yang secara konsep juga menjadi suatu metode yang berfokus pada mahasiswa. Hal ini akan menjadi suatu hal yang belum tergali dalam penelitian ini.

2.2 Kelebihan Kurikulum Berbasis Kompetensi

Lima partisipan mengemukakan bahwa kelebihan dari kurikulum berbasis kompetensi, yaitu memiliki metode yang memudahkan mahasiswa dalam pembelajaran, pembelajaran berdasarkan pada kompetensi yang di harapkan, dan penerapan ilmu lebih komprehensif. Hal ini berkaitan dengan penelitian yang di lakukan oleh Sari (2012), yang mengatakan bahwa ada beberapa kelebihan kurikulum berbasis kompetensi, yaitu (a) memudahkan peserta didik dalam menyerap informasi yang disampaikan, (b) adanya metode pelajaran tertentu yang dalam pengembangannya lebih tepat menggunakan pendekatan kompetensi, terutama yang berkaitan dengan keterampilan, (c) mengembangkan kompetensi-kompetensi peserta didik pada setiap aspek pembelajaran dan bukan penekanan pada konten mata pembelajaran itu sendiri, (d) kurikulum berbasis kompetensi bersifat alamiah (kontekstual), karena berfokus pada peserta didik untuk mengembangkan berbagai kompetensi sesuai dengan potensinya masing-masing, (e) kurikulum berbasis kompetensi juga mendasari pengembangan kemampuan-kemampuan lain, seperti kemampuan-kemampuan pemecahan masalah

38

dikehidupan sehari-hari dan aspek-aspek kepribadian dapat dilakukan secara optimal sesuai dengan standar kompetensi tertentu, (f) mengembangan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student center learning), (g) penilaian yang menekankan pada proses memungkinkan peserta didik untuk mengeksplorasi kemampuannya secara optimal.

Hasil penelitian ini menemukan bahwa kelebihan kurikulum berbasis kompetensi adalah memiliki metode yang berdasarkan pada pendekatan kompetensi, pembelajaran berpusat pada peserta didik, pembelajaran secara menyeluruh, dimana mahasiswa tidak hanya di tuntut untuk memenuhi kompetensi yang diinginkan, melainkan juga diharapkan memiliki keterampilan. Menurut peneliti hal yang belum tergali dalam penelitian ini adalah sejauh mana kurikulum berbasis kompetensi mampu mempengaruhi sendi-sendi kehidupan aktivitas, prestasi, dan motivasi peserta didik selama perkuliahan.

2.3 Hambatan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi

Hasil peneliti ini menunjukan bahwa terdapat beberapa hambatan dalam kurikulum berbasis kompetensi. Hal ini juga bisa dikatakan sebagai kelemahan dalam kurikulum berbasis kompetensi, yaitu jadwal yang sering berubah, kejenuhan mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran, metode mengajar dosen yang masih seperti kurikulum lama, serta sarana yang kurang memadai. Hal ini sesuai dengan penyataan bahwa pengembangan kurikulum berbasis kompetensi bukan tanpa hambatan, beberapa kendala yang menjadi perkerjaan rumah bagi kita adalah : (a) paradigma pengajar yang masih menganut kurikulum terdahulu serta keterbatasan tenaga pengajar sering menjadi permasalahan, (b) sarana

prasana yang kurang memadai seperti ketersedia ruang kelas dan peralatan penunjang pembelajaran, (c) kemandirian lembaga dalam pengaturan proses jadwal pembelajaran, (d) buku penunjang dan perangkat administrasi harus disesuaikan dengan kebutuhan pengajar dan peserta didik (Hidayatullah & Sumari, 2012). Hal serupa juga dikemukan oleh Sanareja (2012), ada beberapa hal yang sering menjadi hambatan dalam kurikulum berbasis kompetensi, yakni tenaga kependidikan, sarana dan prasana, pembiayaan, masyarakat dan lingkugan serta evaluasi hasil belajar. Jika di kaitkan dengan hasil penelitian, tema-tema yang sudah tergali dalam penelitian ini sudah cukup tercapai, akan tetapi ada beberapa tema yang belum terekplorasi secara mendalam seperti seberapa besar hambatan ini mempengaruhi prestasi mahasiswa, bagaimana cara untuk mengatasi hambatan yang ada.

2.3 Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Mahasiswa

Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dalam kurikulum berbasis kompetensi. Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dalam kurikulum berbasis kompetensi yang dikemukakan partisipan adalah gaya belajar, manajemen waktu belajar, dan motivasi belajar. Hal ini sesuai dengan penyataan dimana motivasi belajar dapat timbul karena faktor instrinsik, berupa keinginan berhasil dorongan kebutuhan belajar, dan harapan akan cita-cita. Sedangkan faktor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik (Nursalam, 2008). Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian Pujiadi (2007), faktor-faktor yang memiliki hubungan dengan motivasi belajar

40

mahasiswa, yaitu faktor intrinsik dalam diri mahasiswa, kualitas dosen, bobot mahasiswa, bobot mata kuliah dan metode perkuliahan.

Hal menjadi keterbatasan peneliti dalam faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar masih belum tergali lebih dalam meliputi faktor ekstrinsik seperti kualitas dosen, manajemen waktu, sarana dan prasarana. Sama halnya dengan faktor instrinsik yang belum tergali secara mendalam seperti motivasi belajar dan gaya belajar.

Hasil penelitian yang telah dilakukan melalui proses wawancara secara mendalam kepada para mahasiswa dalam mengikuti kurikulum berbasis kompetensi sebanyak tujuh orang, peneliti mengidentifikasi pengalaman mahasiswa dalam mengikuti kurikulum berbasis kompetensi, meliputi proses belajar dalam kurikurikulum berbasis kompetensi dengan metode yang berfokus pada mahasiswa, kelebihan kurikulum berbasis kompetensi, hambatan dalam kurikulum berbasis kompetensi, respon mahasiswa terhadap kurikulum berbasis kompetensi dan faktor yang mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa.

Kurikulum berbasis kompetensi merupakan suatu rencana pembelajaran yang mana dalam proses pembelajarannya terdapat beberapa metode yang berfokus pada peserta didik atau mahasiswa. Kurikulum berbasis kompetensi memiliki beberapa kelebihan baik secara sistem itu sendiri maupun dalam pelaksanaanya, yaitu mememiliki metode-metode unik yang berguna untuk memudahkan mahasiswa dalam menggali dan memproses informasi yang disampaikan, penerapan ilmu lebih komprehensif.

Ada beberapa hambatan dalam pengimplementasian kurikulum berbasis kompetensi. Hambatan-hambatan dalam mengikuti kurikulum berbasis kompetensi antara lain kurangnya tenaga pengajar, sarana prasana dan perangkat administrasi lainya yang kurang memadai, kejenuhan yang dialami mahasiswa selama perkuliahan.Tiga faktor yang mempengaruhi prestasi mahasiswa dalam

42

mengikuti kurikulum berbasis kompetensi adalah gaya belajar, manajemen waktu belajar dan motivasi belajar.

2. Saran

2.1 Saran Penelitian

Dalam melaksanakan penelitian ini terdapat kendala yang ditemukan oleh peneliti, terutama berasal dari peneliti sendiri sebagai intrumen peneliti. Tema yang ditemukan dalam penelitian belum disebabkan peneliti masih sebagai peneliti kualitatif pemula. Sehingga peneliti peneliti belum mampu mengeksplorasi pengalaman mahasiswa kurikulum berbasis kompetensi secara mendalam. Untuk itu diharapkan untuk peneliti selanjutnya agar dapat mencari informasi yang lebih lengkap tentang penelitian fenomenologi dan melatih diri didalam melakukan pilot study seperti teknik wawancara dengan pertanyaan terbuka, teknik probingdan menganalisa data dapat menemukan tema yang tepat sehingga data yang terkumpul bisa tersaturasi. Hal yang juga harus diperhatikan adalah penelitian kualitatif akan lebih baik jika dilakukan oleh peneliti yang berada di luar komunitas partisipan, hal ini berguna untuk menghindari adanya pendapat peneliti dalam pengalaman partisipan. Sehingga hasil wawancara yang didapat merupakan murni pengalaman partisipan tanpa adanya pemikiran dari peneliti.

2.2 Pendidikan Keperawatan

Penelitian ini memberikan pengetahuan dan wawasan tentang kurikulum berbasis kompetensi bagi mahasiswa dan dapat dijadikan sumber informasi dan

referensi untuk pengembangan pendidikan keperawatan di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara

2.3 Pelayanan Kesehatan

Penelitian ini memberikan pengetahuan tentang kurikulum berbasis kompetensi yang berguna untuk pengembangan pendidikan keperawatan sehingga dapat di pergunakan dalam praktik pelayanan kesehatan dimasyarakat.

44

Dokumen terkait