• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses/cara penyelesaian masalah-masalah (sengketa)

BAB IV: HUBUNGAN PENYELESAIAN SENGKETA GATT/WTO

C. Proses/cara penyelesaian masalah-masalah (sengketa)

Gagasan mengutamakan penyelesaian sengketa secara damai ketimbang penggunaan kekerasan sudah dimunculkan sejak lama. Namun demikian secara formal, usaha pembentukan lembaga, instrument hokum juga pengembangan teknik penyelesaiannya baru memperoleh pengakuan secara luas sejak dibentuknya PBB tahun 1945.151

Cara-cara penyelesaian sengketa secara damai dapat dilakukan apabila para pihak telah menyepakati untuk menemukan suatu solusi yang bersahabat. J.G. Starke mengklasifikasikan suatu metode penyelesaian sengketa-sengketa internasional secara damai atau bersahabat yaitu sebagai berikut : arbitrase, penyelesaian yudisial, negosiasi, jasa-jasa baik (good offices), mediasi, konsiliasi, penyelidikan, dan penyelesaian di bawah naungan organisasi PBB.152

149

Meria Utama, Op.Cit, hal 59

150 Sefriani, Op.Cit, hal 358

151 John Merrils, The Means of Dispute Settlement, dalam Evans, Malcolm D, Internation

Law, Oxford University Press, First Edition, 2003, hal 530

152

J. G, Starke, Pengantar Hukum Internasional (edisi kesepuluh, Buku 1), Penerjemah Bambang Iriana Djajaatmadja, Jakarta: Sinar Grafika, 2007, hal 646

Penyelesaian secara damai dapat dilakukan melalui beberapa cara yakni: rujuk, penyelesaian sengketa di bawah perlindungan PBB, arbitrasi dan peradilan.

Melihat pandangan kedua ahli hukum di atas maka dapat terlihat bahwa penyelesaian sengketa secara damai153

1. Penyelesaian jalur diplomatik

pada dasarnya dapat dilakukan berdasarkan:

Penyelesaian jalur diplomatik sering disebut pula dengan cara penyelesaian jalur politik. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menyelesaian sengketa internasional melalui jalur diplomatik.154

a. Negosiasi

Negosiasi adalah suatu proses tawar menawar atau pembicaraan untuk mencapai suatu kesepakatan terhadap masalah tertentu yang terjadi di antara pihak.155 Salah satu cara peran atau cara yang dapat dilakukan oleh suatu organisasi regional tersebut adalah mendorong para pihak untuk menghasilkan kesepakatan penyelesaian melalui sengketa.156

153 Sugeng F Istanto, Hukum Internasional, Yogyakarta: Universitas Atma Jaya, 1998, hal

88

154 Sefriani, Op.Cit, hal 361 155

Faisal Santiago, Op.Cit, hal 120

156

Huala Adolf, Op.Cit, hal 119

Pada umumnya negosiasi merupakan cara yang pertama kali dan saling banyak digunakan pihak-pihak bersengketa dalam penyelesaian sengketa internasional mereka. Hal ini mengingat cara ini diakui sebagai cara yang paling simple dan mudah dibandingkan cara-cara lain. Tidak ada tata cara khusus untuk melakukan negosiasi, dapat dilakukan bilateral maupun multilateral, formal maupun informal. Namun demikian akan sulit melakukan negosiasi bilamana antar oihak-pihak yang bersengketa tidak memiliki hubungan diplomatic atau saling tidak mengakui eksistensi

masing-masing sebagai subjek hokum internasional.157Prosedur-prosedur negoisasi adalah negoisasi digunakan digunakan ketika sengketa belum lahir (disebut pula sebagai konsultasi). Negoisasi digunakan ketika suatu sengketa telah lahir. Prosedur negoisasi ini merupakan proses penyelesaian sengketa oleh pihak (dalam arti negoisasi).158

b. Jasa baik (Good Offices)

Ketika negosiasi tidak dapat menyelesaikan sengketa, pada umumnya pihak sengketa akan menggunakan jasa/keterlibatan pihak ketiga. Keterlibatan pihak ketiga dalam good officer tidak lebih dari mengupayakan pertemuan pihak-pihak bersengketa untuk berunding, tanpa terlibat dalam perundingan itu sendiri.159

Pihak ketiga disini sering disebut juga saluran tambahan komunikasi. Persoalan pertemuan yang sudah difasilitasi oleh pihak ketiga itu kemudian berakhir tanpa keputusan ataupun kemudian para pihak bersengketa melanjutkan kembali perseteruan mereka sudah di luar kompetensi pihak ketiga, bagaimanapun dengan berhasil mempertemukan kedua pihak bersengketa duduk bersama meja perundingan maka pihak ketiag sudah dikatakan berhasil melakukan good offices.160

c. Mediasi

Mediasi adalah proses negosiasi pemecahan masalah di mana pihak luar yang tidak memihak (imartial) dan netral bekerja sama dengan pihak yang

157 Sefriani, Op.Cit, hal 362 158 Meria Utama, Op.Cit, hal 60 159

Sefriani, Op.Cit, hal 362

160

bersengketa untuk membantu mereka memperoleh kesepakatan dengan memutuskan.161 Mediasi adalah suatu proses penyelesaian sengketa berupa negosiasi untuk memecahkan masalah melalui pihak luar yang netral untuk membantu menemukan solusi dalam menyelesaikan sengketa.162 Mediasi adalah suatu cara penyelesaian melalui pihak ketiga. Pihak ketiga tersebut bisa individu (pengusaha) atau lembaga atau organisasi profesi atau dagang. Mediator ikut serta secara aktif dalam proses negoisasi. Biasanya ia, dengan kapasitasnya sebagai pihak yang netral, berupaya mendamaikan para pihak dengan memberikan saran penyelesaian sengketa.163 Secara singkat dapat dikatakan bahwa fungsi mediasi adalah membangun komunikasi antar disputing parties, melepaskan atau mengurangi ketegangan antara disputing parties sehingga dapat diciptakan atmosfi yang kondusif untuk melakukan negosiasi, dapat menjadi saluran informasi yang efektif bagi disputing parties dan mengajukan upaya penyelesaian yang memuaskan disputing parties.164

Usulan-usulan penyelesaian melalui mediasi dibuat agak tidak resmi (informal). Salah satu fungsi utama mediator adalah mencari berbagai solusi (penyelesaian), mengidentiikasi hal–hal yang dapat disepakati para pihak serta membuat usulan–usulan yang dapat mengakhiri sengketa.165

161

Gary Goodpaster dalam Djafar Al Bram, Penyelesaian sengketa Bisnis Melalui

Mediasi, Jakarta : Pusat Kajian Ilmu Hukum Press, 2011, hal 11

162 Faisal Santiago, Op.Cit, hal 120 163 Meria Utama, Op.Cit, hal 60 164

Sefriani, Op.Cit, hal 363

165

d. Pencari fakta (fact finding/inquiry)

Fungsi dari inquiry adalah untuk memfasilitasi penyelesaian sengketa dengan mencari kebenaran fakta, tidak memihak, melalui investigasi secara etrus-menerus sampai fakta yang disampaikan salah satu pihak dapat diterima oleh pihak yang lain. Negara dan organisasi sering kali menggunakan inquiry. Pencari fakta atau inquiry sering juga dibentuk melalui perjanjian internasional.166

e. Konsiliasi (conciliation)

Konsiliasi memiliki kesamaan dengan mediasi. Kedua cara ini adalah melibatkan pihak ketiga untuk menyelesaikan sengketanya secara damai. Ada perbedaan antara kedua istilah yaitu konsiliasi lebih format daripada mediasi. Konsiliasi bisa juga diselesaikan oleh seorang individu atau suatu badan yang disebut dengan badan atau komisi konsiliasi. Komisi konsiliasi bisa yang sudah terlembaga atau ad hoc (sementara) yang berfungsi untuk menetapakan persyaratan–persyaratan penyelesaian yang diterima oleh para pihak. Namun putusannya tidak mengikat para pihak.167

Konsiliasi bisa juga diselesaikan oleh seroang individu atau suatu badan yang disebut dengan badan atau komisi konsiliasi. Komisi konsiliasi bisa yang sudah terlembaga atau ad hoc (sementara) yang berfungsi untuk menetapkan persyaratanpersyaratan penyelesaian yang diterima oleh para pihak. Namun putusannya tidaklah mengikat para pihak.168

166 Sefriani, Op.Cit, hal 364 167

Meria Utama, Op.Cit, hal 60-61

168

f. Penyelesaian melalui PBB

Penyelesaian melalui jalur politik yang menggunakan jasa PBB dapat dilakukan oleh Sekjend PBB, Majelis Umum maupun Dewan Keamanan Sekjend PBB sering kali diminta untuk menjadi mediator atau memberikan jasa baik oleh pihak-pihak bersengketa. Hal ini dikarenakan pada umumnya seorang Sekjend PBB dianggap netral dan memiliki kompetensi untuk membantu menyelesaian sengketa oleh kedua belah pihak bersengketa. Perlu persetujuan kedua belah pihak bersengketa tentunya untuk menggunakan mekanisme penyelesaian melalui Sekjend PBB ini. Dalam melaksanakan tugasnya Sekjend PBB tidak boleh menerima perintah atau instruksi dari Negara manapun.169

Adapun penyelesaian menggunakan Majelis Umum hanya bisa dilakukan ketika Dewan Keamanan sudah tidak mampu atau gagal untuk mengemban tugasnya memelihara perdamaian keamanan internasional (residual function). Adapun penyelesaian melalui Dewan Keamanan adalah satu-satunya penyelesaian sengketa dalam hokum Internasional yang tidak memerlukan persetujuan para pihak lebih dahulu. Hal ini ditegaskan dalam piagam PBB. Manakala dalam pertimbangan politik Dewan Keamanan sengketa antara dua Negara sudah mengancam perdamaian, melanggar perdamaian internasional ataupun agresi maka Dewan Keamanan secara sepihak dapat memutuskan untuk intervensi dalam sengketa tersebut. Namun demikian intervensi Dewan Keamanan

169

juga dapat dilakukan atas inisiatif salahs atu atau kedua belah pihak atau juga atas permintaan dari Majelis umum dan atau Sekjend PBB.170

g. Penyelesaian melalui organisasi regional

Penyelesaian melalui organisasi regional seharusnya dilakukan lebih dahulu oleh para pihak yang bersangkutan sebelum membawa sengketa tersebut ke forum yang lebih luas (internasional) atau dalam hal ini Dewan Keamanan PBB.171

Untuk ASEAN, berdasarkan Treaty of Amity and Cooperation in Sountheast Asia, Negara-negara ASEAN sepakat untuk senantiasa mencegah dan menyelesaikan sengketa yanga dapat menganggu perdamaian dan keharmonisan regional dengan itikad baik melalui perundingan-perundingan yang bersahabat. Bilamana disepakati ASEAN menyediakan sebuah lembaga yakni high council yang terdiri dari perwakilan-perwakilan Negara ASEAN setingkat menteri.172

Di samping the High Council yang memiliki kewenangan untuk menyelesaikan segala sengketa yang dapat menganggu perdamaian dan keharmonisan regional, ASEAN juga memiliki forum lain untuk menyelesaikan sengketa bidang kerja sama ekonomi yang dikenal dengan sebutan Enhanced Dispute Settlement Mechanism (SDSM) atau juga

170 Ibid, hal 367 171 Ibid

172

Mohd. Burhan Tsani, Hukum dan Hubungan Internasional, Yogyakarta : Penerbit Liberty 1990, hal 116

popular dengan sebutan ASEAN way. Mekanisme ini dibentuk melalui protocol on dispute settlement mechanism 2004.173

Adapun bab VIII tentang mekanisme penyelesaian sengketa merupakan salah satu dari penyempurnaan penyelesaian sengketa di ASEAN. Selain memberikan pengakuan terhadap mekanisme yang telah ada dan berlaku atau existing.

Terkait dengan penyelesaian sengketa maka ada dua bab penting dalam piagam yaitu bab VII dan VIII. Di dalam bab VII, pengambilan keputusan, piagam ASEAN telah melangkah lebih maju dari prinsip consensus yang selama ini dipakai tanpa ada pengecualian. Mekanisme ini serahkan kepada ASEAN Summit yang tidak saja dapat memutuskan sebuah permasalahan tetapi permasalahan tetapi juga cara untuk menyelesaikannya. Face “how a specific decision can be made” memberikan ruang untuk hal ini.

174

Arbitrase berasal dari bahasa latin “arbitrare” yang artinya kewenangan untuk menyelesaikan sesuatu dengan penuh kebijaksanaan.

2) Penyelesaian sengketa jalur hukum

a. Penyelesaian sengketa melalui jalur hukum

175

173 Sefriani, Op.Cit, hal 368 174

Ibid, hal 369

175

Subekti, Artbitrase Perdagangan, Jakarta : Binacipta, hal 1

Arbitrase adalah penyerahan sengketa secara sukarela kepada pihak ketiga yang netral. Pihak ketiga ini bisa individu, arbitrase terlembaga atau arbitrase sementara (ad hoc). Kelebihan penyelesaian sengketa melalui arbitrase yang pertama dan terpenting adalah penyelesaiannya yang relatif lebih cepat daripada proses berpekara melalui

pengadilan. Keuntungan lainnya dari cara ini adalah sifat kerahasiaannya dan dimungkinkan para arbiter untuk menerapkan sengketanya berdasarkan kelayakan dan kepatutan (apabila memang para pihak menghendaki).176 Arbitrase adalah penyerahan sengketa secara sukarela kepada pihak ketiga yang netral. Pihak ketiga ini bisa individu, arbitrase terlembaga atau arbitrase sementara (ad hoc). Badan arbitrase dewasa ini sudah semakin populer. Dewasa ini arbitrase semakin banyak digunakan dalam menyelesaikan sengketa-sengketa dagang nasional maupun internasional.177

Apabila pihak yang bersengketa dalam arbitrase publik adalah Negara dengan Negara, maka pihak atau subjek-subjek hokum yang bersengketa dalam arbitrase komersial internasional lebih luas. Pihak-pihak yang dimaksud bisa swasta melawan swasta, Negara melawan swasta atau bahkan Negara melawan Negara. Penyelesaian sengketa secara damai yang lain, prinsip sukarela juga mendasari penyelesaian sengketa melalui lembaga ini. Adanya kesepakatan para pihak untuk membawa sengektanya ke arbitrase haruslah terpenuhi sebelum arbitrase melaksanakan yurisdiksinya.178

Dalam penyelesaiaan arbitrase ini para pihak memiliki kebebasan untuk memilih hakimnya (arbiter) yang menurut mereka netral dan ahli atau spesialis mengenai pokok sengketa yang mereka hadapi. Dalam hal arbitrase internasional, putusan arbitrasenya relatif lebih dapat dilaksanakan di negara lain dibandingkan apabila sengketa tersebut diselesaikan melalui misalnya pengadilan.

179

176 Meria Utama, Op.Cit, hal 61 177 Huala Adolf, Op.Cit, hal 16 178

Sefriani, Op.Cit, hal 374

179

Penyerahan suatu sengketa kepada arbitrase dapat dilakukan dengan pembuatan suatu submission clause, yaitu penyerahan kepada arbitrase suatu sengketa yang telah lahir. Alternatif lainnya, atau melalui pembuatan suatu klausul arbitrase dalam suatu perjanjian sebelum sengketanya lahir (klausul arbitrase atau arbitration clause). Baik submission clause atau arbitration clause harus tertulis. Syarat ini sangat esensial. Sistem hukum nasional dan internasional mensyaratkan ini sebagai suatu syarat utama untuk arbitrase.180

1) International Court of Justice (ICJ)

b. Penyelesaian sengketa melalui pengadilan internasional Ada beberapa pengadilan internasional antara lain :

International Court of Justice (ICJ) merupakan salah satu organ utama (primary organ) PBB yang dibentuk oleh masyarakat bangsa-bangsa pada tahun 1045. Organ ini diatur oleh statute mahkamah internasional (ICJ statute) yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari PBB. Setiap anggota PBB otomatis menjadi anggota statute. Meskipun demikian tidak ada kewajiban bagi tiap anggota PBB itu untuk membwa sengketanya ke depan ICJ. International Court of Justice (ICJ) sering dianggap sebagai cara utama penyelesaian sengketa hokum antarnegara. Praktinya hanya sekitar 4-5 perkara yang diajukan ke lembaga ini pertahun.

2) Permanent Court of International of Justice (PCIJ)

Sebagai suksesor PCIJ, ICJ mewarisi arsi-arsip juga harta benda PCIJ saat lembaga ini dibubarkan secara resmi tahun 1946. PCIJ yang merupakan

180

pendahuli ICJ yang beroperasi 1922-1940 berhasil menyelesaikan 66 kasus, 28 di antaranya advisory opinion.

3) International Tribunal for the Law of the Sea, berbagai Adhoc Tribunal, juga International Criminal Court (ICC).181

D. Hubungan Penyelesaian Sengketa GATT dan WTO dengan Bentuk

Dokumen terkait