• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

D. Proses dan Kualitas Proses

Proses adalah kata yang berasal dari bahasa latin “processus” yang berarti “berjalan ke depan”. Kata “berjalan ke depan” mempunyai konotasi urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu sasaran atau tujuan. Menurut Chaplin (1972), dalam bukunya Muhibinsyah (2003:109), proses adalah : Any change in any object or organism, particulary a behavioral or psychological change (proses adalah suatu perubahan khususnya yang menyangkut perubahan tingkah laku atau perubahan kejiwaan). Dalam psikologi belajar, proses berarti caracara atau langkah-langkah khusus yang mengalami beberapa perubahan yang ditimbulkan hingga tercapainya hasil-hasil tertentu (Reber, 1988 dalam bukunya Muhibin, 2003:109).

Jika kita perhatikan ungkapan any change in object or organism dalam definisi Chaplin dan katakata “Cara-cara atau langkah-langkah” (manners or operations) dalam definisi Reber, istilah “tahapan perubahan” dapat kita pakai sebagai persamaan kata proses. Jadi, proses dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju dari pada keadaan sebelumnya.

Proses belajar mengajar menghasilkan hasil pengajaran. Meskipun tujuan belajar telah dinyatakan dengan jelas dan baik namun belum tentu hasil yang diperoleh itu baik.

Suatu pengajaran disebut berhasil baik, bila pengajaran tersebut membangkitkan proses belajar efektif. Dalam hal ini masalah yang menentukan bukan metode atau prosedur yang digunakan dalam pengajaran, bukan kolot atau modernnya pengajaran, bukan pula konvensional atau professifnya pengajaran. Semuanya itu mungkin penting artinya, tetapi tidak merupakan pertimbangan terakhir, karena hanya berkenaan dengan “alat” dan bukan dengan “tujuan” pengajaran. Bagi pengukuran suksesnya pengajaran, syarat tertingi iala h: hasilnya.

Hasil yang disebut baik hendaknya dinilai dari.

1. Hasil yang tahan lama dan dapat digunakan dalam kehidupan oleh siswa Mungkin seorang guru merupakan seorang “pelatih yang baik” bagi siswa yang akan menghadapi ujian. Tapi bila hasil pengajarannya tidak tahan lama dan lekas menghilang, maka hasil pengajaran tersebut tidak efektif. Seorang guru harus mempertimbangkan berapa banyak dari yang

diajarkannya yang akan masih diingat kelak oleh siswa, setelah lewat seminggu, sebulan, setahun atau sepuluh tahun.

2. Hasil yang merupakan pengetahuan asli atau otentik.

Pengetahuan hasil pengajaran demikian telah merupakan bagian kepribadian siswa yang mempengaruhi pandangannya dan caranya mendekati suatu permasalahan. Ini disebabkan karena pengetahuan tersebut penuh arti bagi siswa.

Perumusan yang mungkin terbaik untuk pengajaran, ialah mengorganisir proses belajar. Dengan demikian permasalahan yang dihadapi oleh pengajaran yang berhasil baik, ialah bagaimana mengorganisir proses belajar untuk mencapai pengetahuan otentik.

Karena proses belajar harus diorganisir sebaik-baiknya, maka menurut hakekatnya guru dapat disebut sebagai seorang organisator. Sebagai seorang organisator yang baik, maka guru harus memperlihatkan ciri-ciri tertentu dalam pekerjaannya. Pada ciri-ciri tersebut tergantung efektivitas seorang guru.

Ciri-ciri seorang organisator yang baik ialah. 1. Ia bukan seorang otokrat.

2. Ia tidak akan bertindak sebagai anggota biasa dari kelompoknya tanpa hak-hak khusus atau tanpa kekuasaan dan keistimewaan tertentu.

3. Ia akan membantu kelompok dan oknum-oknum di dalamnya untuk menemukan, merumuskan dan menjelaskan tujuan yang hendak dicapainya sendiri.

4. Ia akan mewakilkan dan membagikan tanggung jawab seluas yang dapat dilakukannya.

5. Ia merangsang dan menghargai inisiatif.

6. Ia akan lebih bertumpu pada kekuatan dan tidak akan menonjolkan kelemahan.

7. Ia akan memupuk kritik dan penilaian diri sendiri diantara anggota- anggota kelompoknya.

8. Ia akan terus menerus mengadakan pengawasan, karena tanpa pengawasan dan peraturan tidak ada satu kelompokpun yang dapat berfungsi dengan baik.

Ciri-ciri tersebut ialah ciri-ciri cara bertindak. Tidak boleh dilupakan, bahwa guru terutama bekerja dengan siswa. Tugas dan tanggungjawabnya ialah menciptakan berbagai situasi yang memungkinkan siswa-siswa dapat bekerja dan mencapai hasil sebaik-baiknya.

Usaha untuk mencapai hasil sebaik-baiknya mengikuti dua garis perkembangan utama, antara lain :

1. Usaha menggunakan metode yang lebih baik yaitu menggunakan cara- cara yang lebih baik untuk menyajikan pelajaran, dihubungkan dengan penggunaan alat-alat yang lebih efektif, seperti pertanyaan, tugas, buku pelajaran, papan tulis dan sebagainya;

2. Usaha mengubah hubungan guru dan siswa, serta dalam pola aktifitas yang akan membawa siswa pada kesibukan belajar.

Pengajaran yang berhasil akan mengorganisir proses belajar yang bermakna penuh. Dari percobaan-percobaan terbukti bahwa belajar tergantung dari makna (yang dipelajari). Menarik perhatian dan dapat menimbulkan pemahaman, merupakan unsur -unsur yang menentukan “makna” tersebut. Di sini guru harus

memberi tekanan kepada “makna” (yang dipelajari) karena belajar itu sendiri esensinya merupakan usaha mencari dan menemukan makna (dari yang dipelajari).

Guru yang memberikan latihan, yang sama sekali tidak komprehensif sifatnya atau menyuruh siswa-siswanya menghafalkan fakta-fakta yang tidak berhubungan satu dengan yang lainnya, melakukan pekerjaan yang berlawanan dengan hakekat belajar itu sendiri. Sebaliknya seorang guru yang selalu berusaha agar siswa- siswanya memahami, akan mengorganisir proses belajar itu seperti yang seharusnya dilakukan.

Hal yang hendaknya selalu diingat seorang guru ialah, bahwa belajar sama dengan mengerti. Belajar ialah mencari, menemukan dan melihat pokok persoalannya. Belaja r ialah memecahkan persoalan yang dihadapi dalam arti inklusif, bahwa kalau seseorang telah menguasai keterampilan motoris atau kalau seseorang sudah mempunyai kemampuan menghargai suatu simfoni misalnya, ia itu sebenarnya telah memecahkan dan menemukan kunci persoalan yang dihadapinya.

Pengajaran yang berhasil baik itu didasarkan pada pengakuan bahwa belajar secara esensial merupakan suatu proses yang bermakna dan bukan sesuatu yang berlangsung dengan mekanis belaka. Penelitian psikologik mengungkapkan sejumlah aspek yang khas sifatnya atau menekankan pada beberapa hal dalam keseluruhan pola dari apa yang disebut “belajar dengan penuh makna”, yang memungkinkan orientasi untuk lebih tegas dan pasti.

Dokumen terkait