mengambil dari media lain. Bila dari rilis, akan dilakukan re-write. Bila ambil dari media lain biasanya yang diganti adalah judul dan lead berita agar tidak sama dengan media lain yang ada di Kota Medan apabila mengambil berita dari portal berita yang sama.
-
4.2 Pembahasan
Penelitian ini membahas tentang unsur prominence dalam pemberitaan selebritas di Harian Medan Bisnis dan Harian WASPADA serta pengadaan berita untuk rubrik selebritas tersebut yang selalu naik setiap harinya. Unsur prominence dan tahapan pengadaan berita pada rubrik selebritas akan dibahas sedemikian rupa dan dikaitkan dengan beberapa teori mengenai media massa khusunya surat kabar, berita, nilai berita dan kelayakan berita serta teori Shoemaker dan Reese yang berhubungan dengan penelitian ini untuk dijadikan indikator dalam pembahasan ini.
Penelitian ini melibatkan tiga informan dari Harian Medan Bisnis dan dua informan dari Harian WASPADA. Para informan merupakan individu yang bekerja di balik meja redaksi terkhusus di rubrik selebritas dan pekerja lapangan yang mengumpulkan berita untuk mengisi rubrik selebritas tersebut. Para informan dimintai penjelasan dan informasi mendalam terkait tujuan penelitian yang sudah tertuang dalam bab satu penelitian ini. Tujuan tersebut adalah untuk mengetahui seberapa penting rubrik selebritas bagi surat kabar lokal, pengaruh unsur prominence dalam pemberitaan selebritas dan bagaimana cara pengadaan berita selebritas di surat kabar lokal.
Dalam bukunya, Onong Uchjana menyimpulkan fungsi-fungsi komunikasi massa menjadi 4 hal, yaitu menyampaikan informasi (to inform), mendidik (to
educate), menghibur (to entertain) dan untuk memengaruhi (to influence)
(Effendy, 2009: 31). Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan salah satu dari 4 fungsi yang disampaikan oleh Onong, yaitu to entertain atau menghibur. Media massa tentu harus dapat menghibur audiens yang mengonsumsi media tersebut. Hal ini juga disampaikan secara lugas oleh informan pertama, informan keempat dan informan kelima. Keduanya menyatakan bahwa media massa tanpa adanya hiburan adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Audiens, dalam hal ini pembaca Harian Medan Bisnis dan WASPADA, membutuhkan berita ringan berupa berita hiburan namun tetap informatif. Berita hiburan bisa berisi berbagai macam, namun di Harian Medan Bisnis dan WASPADA, keduanya lebih dominan dalam memberitakan perihal selebriti tanah air maupun internasional. Namun, tak jarang keduanya memberitakan perihal film baru atau kegiatan- kegiatan yang bersifat menghibur yang terjadi di Kota Medan.
Pengadaan berita selebriti di Harian Medan Bisnis dan WASPADA tentu tidak lepas dari kegiatan jurnalisme. Menurut MacDougal (1972) dalam Kusumaningrat menyebutkan bahwa journalisme adalah kegiatan menghimpun berita, mencari fakta dan melaporkan peristiwa (Kusumaningrat, 2014: 15). Dalam penelitian ini, kedua media melakukan kegiatan jurnalisme sesuai dengan pendapat MacDougal. Dalam pengadaan berita di rubrik hiburan, kedua media menghimpun berita dengan berbagai cara. Menghimpun berita tidaklah mudah.
Wartawan harus memiliki sumber berita yang bagus agar beritanya menjadi bagus pula. Harian Medan Bisnis dan WASPADA memahami bahwa mencari sumber berita tidak bisa dilakukan dengan satu cara saja. Keduanya bekerja mencari sumber berita sesuai dengan petunjuk yang dikemukakan Eugene J. Webb dan Jerry R. Salancik dalam Ishwara (2015) yaitu (1) observasi langsung dan tidak langsung dari situasi berita, (2) proses wawancara, (3) pencarian atau penelitian bahan-bahan melalui dokumen publik dan (4) partisipasi dalam peristiwa. Keduanya juga melaporkan peristiwa yang berhubungan dengan selebriti yang dipilih untuk mengisi rubrik tersebut. Namun, dalam pencarian fakta khususnya untuk rubrik hiburan, kedua media dominan masih menggunakan fakta dari media lain. Hal ini terjadi karena keterbatasan kedua media dalam melakukan peliputan secara langsung. Peliputan langsung hanya dapat terjadi apabila selebriti hadir ke Kota Medan dan mengundang media lokal. Selain itu, hanya talent-talent lokal yang dapat diliput secara langsung oleh Harian WASPADA dan Harian Medan Bisnis.
Harian Medan Bisnis dan WASPADA tentunya memiliki tingkat selektifitas berita yang sesuai dengan standar mereka. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan peneliti, kedua media tidak asal memilih berita selebriti yang akan naik cetak. Keduanya masih berpegang teguh dan memperhatikan nilai berita (news value) dan layak berita (news worthy). Seperti yang dijelaskan oleh informan pertama, ketiga dan keempat bahwa nilai berita sangat penting dalam memutuskan berita mana yang layak naik cetak. Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan nilai berita prominence atau ketokohan karena peneliti berfokus pada pemberitaan selebriti. Namun, unsur prominence tidak serta merta dapat berdiri sendiri. Saat prominence tidak berlaku, yang biasanya terjadi saat mengangkat talent lokal, terdapat nilai berita lain yang memastikan bahwa berita tersebut layak naik misalnya unsur proximity (kedekatan) dan unsur keunikan. Namun, masih ada satu faktor yang dipegang teguh oleh Harian WASPADA dan Harian Medan Bisnis dalam memilih pemberitaan tentang selebriti. Keduanya masih menyeleksi apakah berita layak naik atau tidak. Beberapa berita mungkin sudah memiliki nilai berita, namun belum tentu layak berita (news worthy). Pemberitaan selebriti sangat riskan
dengan gosip. Kedua media lebih memilih berita yang netral dan berasal dari media yang besar karena tingkat keakuratannya lebih terjamin. Hal tersebut disampaikan informan kepada peneliti saat proses wawancara. Kedua media tetap menjaga kualitas berita sesuai dengan golongan pembaca mereka yaitu menengah ke atas. Kedua media menjaga kualitas berita mereka menggunakan saringan news
value dan news worthy.
Kegiatan meja redaksi di sebuah surat kabar lokal sangat berpengaruh pada faktor-faktor yang ada dalam teori Shoemaker dan Reese. Hal tersebut terjadi pula pada Harian Medan Bisnis dan Harian WASPADA dalam menyiapkan berita yang pada penelitian ini terfokus pada rubrik selebritas. Faktor pertama yaitu adalah faktor individu. Faktor individu menjadi tahap pertama dalam penentuan isi berita. Individu dalam penelitian ini merupakan informan yaitu redaktur rubrik selebritas dan wartawan yang bekerja di lapangan. Namun tidak selalu keputusan yang diambil wartawan selaras dengan kemauan redaktur. Hal tersebut dipaparkan oleh informan kedua yang ingin sekali lebih banyak menaikkan talent lokal daripada mengambil berita mengenai selebriti nasional maupun internasional dari media lain. Namun, di meja redaktur hal tersebut belum disetujui. Porsi berita lokal untuk mengisi rubrik Showbiz di Medan Bisnis masih sedikit. Hal ini juga dipengaruhi nilai berita yaitu prominence yang artinya ketokohan. Semakin terkenal selebriti yang diangkat semakin besar pula nilai jual dari berita tersebut. Selain itu, informan pertama mengungkapkan bahwa hal tersebut dilakukan demi menjaga kualitas isi berita sehingga pembaca dari Medan Bisnis tidak kecewa. Tak jauh berbeda dengan Medan Bisnis, Harian WASPADA juga berlaku demikian. Harian WASPADA tetap mengambil talent lokal sebagai beritanya, namun porsi dalam setiap edisinya masih lebih sedikit dibandingkan dengan berita selebriti nasional maupun internasional.
Faktor kedua adalah rutinitas media. Rutinitas media berarti suatu yang sudah terpola, terinstitusi, sesuatu bentuk yang diulang-ulang. Sehingga membentuk suatu rutinitas yang dilakukan oleh pekerja media setiap hari. Medan Bisnis dan WASPADA memiliki rutinitas yang berbeda dalam menentukan berita yang menurut mereka layak untuk dinaikkan. Namun, pada rubrik selebritas,
kedua media ini sepakat bahwa unsur prominence menjadi hal utama dalam menaikkan berita selebritas. Selain itu news worthy juga diperhatikan karena kedua media tidak memuat gosip mengenai selebriti yang belum jelas kebenarannya. Apabila akan menaikkan berita mengenai talent lokal, tentu harus memiliki nilai tambah seperti keunikan serta memiliki kreatifitas tersendiri yang membedakan mereka dengan talent-talent lokal lainnya. Harian Medan Bisnis dan WASPADA juga tidak menutup kemungkinan menaikkan komunitas-komunitas lokal yang berhubungan dengan hiburan. Keduanya juga memiliki standarisasi tersendiri dalam hal memilih berita yang akan diambil dari media lain. Dalam observasi peneliti, Harian WASPADA lebih cenderung mengambil dari media lokal dan kantor berita yang berbasis di Indonesia sedangkan Harian Medan Bisnis lebih cenderung mengambil dari kantor berita berbasis internasional.
Faktor ketiga adalah struktur organisasi. Struktur organisasi secara langsung juga dapat mempengaruhi isi media. Pengelola media, pemilik media atau pekerja media yang bekerja di meja redaksi bukan satu-satunya penentu dari isi sebuah media. Namun ada pula dari divisi lain seperti divisi iklan, sirkulasi, dan lainnya yang secara tidak langsung turut memiliki andil dalam hal pemberitaan. Khusus di rubrik selebritas, biasanya berita didapat atas kerjasama dengan pengiklan apabila memang ada yang beriklan. Pada rubrik selebritas, faktor organisasi diluar dari meja redaksi tidak terlalu memengaruhi isi berita. Hal tersebut juga terjadi di Harian Medan Bisnis dan WASPADA dimana redaktur memiliki jabatan yang lebih tinggi ketimbang reporter atau wartawan, sehingga isi berita ditentukan oleh redaktur. Biasanya, redaktur lebih memahami visi dan misi media dimana tempat ia bekerja sehingga mampu menyaring berita seperti apa yang layak naik. Hal ini sangat jelas terlihat di Harian Medan Bisnis karena terdapat wartawan dan redaktur yang bekerja sesuai dengan tugasnya. Informan kedua sempat memaparkan bahwa berita mengenai talent-talent lokal masih belum bisa menguasai rubrik Showbiz karena menurut redaktur mereka kurang memiliki nilai berita. Namun, hal ini tidak terlalu terlihat di Harian WASPADA karena wartawan dan redaktur yang bertanggungjawab merupakan orang yang sama sehingga tidak terlalu banyak kendala yang dihadapi Harian WASPADA ketika menentukan isi berita.
Faktor keempat adalah kekuatan ekstra media. Shoemaker menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor eksternal yang memengaruhi isi media. Faktor- faktor tersebut antara lain sumber berita, kelompok-kelompok diluar organisasi, kampanye public relations, pengiklan, pembaca, institusi sosial (bisnis, pemerintahan dan politik), lingkungan media secara ekonomi, dan teknologi. Sesuai dengan pernyataan informan ketiga dimana ketika melakukan liputan terkadang sesuai dengan permintaan iklan yang beriklan di Harian Medan Bisnis. Selain itu, pembaca memiliki andil yang besar dalam menentukan isi berita. Sangat jelas disampaikan oleh informan pertama dimana beliau berkata bahawa berita yang ada di rubrik Showbiz tidak boleh memuat berita sembarang. Hal ini dikarenakan pembaca Medan Bisnis berasal dari kalangan menengah keatas yang rata-rata berlatarbelakang pendidikan yang baik dan kalangan pebisnis di Sumatera Utara. Informan kelima juga menyatakan hal yang hampir sama. Ia memaparkan bahwa rubrik yang ada di Harian WASPADA merupakan hasil survey dari masyarakat Kota Medan yang membaca WASPADA. Salah satu rubrik yang mendapat survey yang tinggi adalah rubrik Agenda yang memuat berita selebritas. Tentu saja Harian WASPADA akan menjaga kualitas dari berita tersebut karena tidak mau mengecewakan pembaca setia WASPADA. Hal tersebut juga dilakukan oleh Harian Medan Bisnis demi memuaskan pembaca setia mereka.
Faktor kelima adalah faktor ideologi. Faktor ini merupakan faktor terbesar yang memengarui suatu media. Ideologi menjadi semacam jati diri sebuah lembaga yang dalam hal ini ada media cetak. Ideologi Medan Bisnis tentu berbeda dengan ideologi Harian WASPADA. Medan Bisnis pada dasarnya ingin menjadi koran berbasis ekonomi yang menjadi referensi pebisnis di Kota Medan baik masyarakat lokal ataupun pendatang. Hal tersebut tentu bisa menjadikan alasan mengapa rubrik selebritas dinamakan rubrik Showbiz yang merupakan singkatan dari show & exhibition atau show & business. Medan Bisnis menjadi unik karena menjadi koran harian yang memberikan berita berbasis ekonomi namun tetap menyuguhkan berita umum kepada pembaca. Isi berita pada rubrik Showbiz tidak begitu terpengaruh dengan ideologi Medan Bisnis. Peneliti tidak begitu memperhatikan adanya pengaruh ideologi yang besar pada pemberitaan di rubrik
Showbiz. Tak hanya Medan Bisnis, Harian WASPADA khususnya pada rubrik Agenda tidak terlalu berpengaruh pada ideologi. Peneliti mengamati secara keseluruhan kedua media memiliki cara kerja yang sama. Berita-berita yang dinaikkan hanya berbeda dari segi pembagian selebriti nasional atau internasional. Dalam sehari, Harian Medan Bisnis lebih banyak menyuguhkan selebriti internasional sedangkan Harian WASPADA masih lebih banyak menaikkan selebriti-selebriti nasional. Namun keduanya tidak melupakan talent-talent lokal Kota Medan meskipun belum terlalu banyak variasi dari talent-talent lokal Kota Medan.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN