Di atas telah disebutkan bahwa evaluasi pada siswa MDVI/deafblind akan lebih menggunakan jenis evaluasi proses. Dalam pelaksanaannya, ada beberapa metode yang juga digunakan untuk mengumpulkan data selama proses evaluasi. Jika evaluasi pada umumnya dilakukan dalam bentuk formal, maka evaluasi pembelajaran pada program pendidikan siswa dengan MDVI/Deafblind lebih bersifat non formal dan berkelanjutan (on going).
Beberapa metode umum yang digunakan pada proses evaluasi terkadang dapat dilakukan setelah melalui modifikasi agar sesuai dengan karakteristik siswa yang sangat individual karena kompleksitas yang dimilikinya.
Misalnya, metode tes tidak akan dapat digunakan semena-mena terhadap siswa. Pendidik tidak dapat meminta siswa untuk mengangkat tangan kanan – kiri untuk menilai pemahamannya tentang konsep kanan dan kiri. Tetapi pendidik dapat melihat apakah siswa mampu memakai sepatu tanpa terbalik; *menempatkan symbol kegiatannya dari kiri ke kanan, dan seterusnya.
Marilah kita lihat beberapa metode evaluasi dan bagaimana pendidik dapat memodifikasi sesuai kebutuhan siswa MDVI/deafblind.
Pengertian umum dari tes adalah proses pengumpulan informasi dengan cara mengkondisikan siswa pada situasi tertentu dalam rangka mengetahui hasil belajar siswa sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Tes dapat dilakukan melalui tes tertulis dan tes unjuk kerja.
Bagaimana kita dapat memodifikasi?
Pendidik tidak akan dapat memperoleh hasil apapun apabila meminta siswa duduk sementara diberikan beberapa pertanyaan atau instruksi untuk menunjukkan kemampuan yang akan diukur. Tetapi pendidik dapat meminta siswa untuk melakukan suatu kegiatan dalam konteks dan situasi alami kemudian pendidik mengamati dan mencacat.
Misalnya, pendidik ingin mengetahui apakah siswa mengerti konsep kanan dan kiri. Hal umum yang dilakukan pendidik adalah meminta siswa untuk mengangkat tangan atau kaki kanan dan kiri; atau meminta siswa untuk menunjuk bagian kanan- kiri pada anggota tubuhnya. Mungkin siswa tertentu tidak akan pernah mampu menunjukkan dan memberikan jawaban yang benar karena sangat abstrak. Tetapi jika pendidik melihat siswa dapat memakai sepatu dan sandal tanpa terbalik; siswa juga dapat mengurutkan simbol jadwal dari kiri ke kanan, maka jelaslah bahwa ia mengerti konsep kanan dan kiri.
2. Pengamatan
Secara umum, pengamatan merupakan suatu prose’s pengumpulan informasi mengenai hasil perkembangan kemampuan siswa melalui pengamatan pada prilaku hasil belajar siswa. Untuk dapat melakukan hal ini terlebih dahulu disusun pedoman observasi. Pedoman observasi dibangun berdasarkan tujuan dari prose’s belajar itu sendiri. Tujuan belajar yang dibangun bergantung pada tujuan pelaksanaan evaluasi itu sendiri. Pada evaluasi belajar harian maka tujuan pelaksanaan evaluasi adalah melihat hasil belajar siswa pada kurun waktu satu hari. Dengan demikian pedoman observasi yang dibangun berdasarkan tujuan belajar *siswa* pada hari tersebut.
Pengamatan berpedoman pada pertanyaan panduan memang diperlukan, tetapi ini tidak cukup apabila pendidik hanya melihat hal yang diinginkan dalam panduan. Maka sangat penting bagi pendidik untuk melihat jauh di luar panduan yang telah dibuat dan menciptakan situasi agar siswa dapat menunjukkan kemampuan lain yang tidak di batasi oleh panduan yang telah disiapkan.
Pengamatan tidak cukup dilakukan dalam waktu sehari, karena pendidik tidak dapat mengukur kemampuan siswa yang sesungguhnya dalam waktu satu hari. Beberapa alasan yang tidak menyarankan pengamatan dalam satu hari adalah :
1. Pengamatan perlu dilakukan dalam suasana dan lingkungan yang alami dan nyata. Apabila pengamatan dilakukan satu hari, dimungkinkan pendidik menciptakan suasana yang tidak alami yang akhirnya membingungkan siswa.
2. Kondisi dan emosi siswa sangat mempengaruhi performance siswa tersebut. Kejadian sebelum pelaksanaan suatu kegiatan sering mempengaruhi siswa, jika hal tersebut terjadi pada hari yang telah ditentukan pastilah mereka tidak akan menunjukkan kemampuan yang sesungguhnya.
3. Penilaian suatu keterampilan yang solid tidak dapat ditunjukkan hanya dalam satu kejadian, tetapi harus dapat diterapkan dalam konteks yang berbeda (generalisasi) dan dalam beberapa kali percobaan. Namun siswa dengan MDVI/ deafblind sering kali tidak mau melakukan sesuatu yang berulang-ulang dalam kesempatan yang sama dalam satu hari. Maka pendidik perlu menciptakan situasi agar siswa menunjukkan keterampilan tersebut pada situasi yang berbeda.
4. Jika pengamatan hanya dilakukan di akhir program, maka pendidik hanya akan mendapat informasi tentang apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan siswa. Tetapi pendidik tidak memiliki kesempatan untuk mengevaluasi program serta strategi yang digunakan sehingga tidak akan ada perbaikan pada kurun waktu yang sama.
Bagaimana modifikasi yang dapat dilakukan?
Dengan mempertimbangkan hal-hal di atas, maka pengamatan seharusnya dilakukan di tempat dan situasi alami; berulang-ulang dan
berkelanjutan. Amati dan catat perilaku dan kemampuan siswa setiap saat (on going) dan secara berkala.
3. Wawancara
Wawancara merupakan proses pengumpulan data yang berpusat pada penggalian informasi yang dikembangkan pendidik kepada siswa baik dengan menggunakan komunikasi verbal ataupun isyarat. Proses ini disusun berdasarkan tujuan evaluasi yang ingin diungkap.
Banyak siswa MDVI/deafblind yang tahapan komunikasinya non verbal, maka jika konsep di atas diterapkan sudah dipastikan pendidik tidak dapat memperoleh informasi apapun.
Bagaimana modifikasi yang dapat dilakukan?
Wawancara seharusnya bukan ditujukan untuk siswa , tetapi orang- orang yang berada di sekitar siswa dan bekerja dengan siswa. Keluarga menjadi bagian penting yang tidak dapat ditinggalkan, mereka memiliki informasi banyak tentang kemampuan siswa selama kurun waktu tersebut; mungkin ada pendidik lain yang juga bekerja dengan siswa tetapi tidak masuk dalam system sekolah yang juga harus didengar.
4. Catatan harian
Adalah catatan-catatan penting tentang kejadian di kelas yang mempengaruhi proses pembelajaran; perilaku siswa; pencapaian siswa yang akan digunakan untuk informasi pada saat evaluasi. Dalam proses belajar mengajar klasikal, catatan harian seringkali sulit untuk dilakukan karena jumlah siswa yang banyak sehingga pendidik tidak memiliki waktu yang mencukupi. Akibatnya catatan harian seringkali hanya berisi tentang kejadian penting di kelas tetapi tidak mencatat indvidu siswa.
Dalam proses pembalajar dan evaluasi belajar siswa MDVI/deafblind, catatan harian menjadi sangat penting. Namun juga disadari bahwa hal ini tidak mudah.
Apa yang dapat dilakukan?
Terkadang beban pendidik cukup banyak dan tidak seharusnya banyak dihabiskan untuk melakssiswaan pekerjaan administrative. Tetapi juga tidak dapat meninggalkan hal yang esensial. Maka cara sederhana yang dapat dilakukan adalah membuat daftar cek yang dengan mudah dapat diperbaharui pendidik setiap saat untuk memantau perkembangan siswa. Catatan penting juga diperlukan, tetapi dapat berupa highlight-nya saja.
Merupakan kumpulan dokumen dan bukti-bukti dari keberhasilan siswa selama mengikuti proses pembelajaran yang dibangun secara terus menerus. Seringkali ada pendidik yang telah berhasil memampukan siswa sehingga menunjukkan perkembangan yang sangat tinggi. Namun sayangnya tidak ada bukti atau catatan yang mendukung. Semua riwayat siswa dari awal hingga akhir ada pada “memory” pendidik yang bersangkutan.
Apa yang dapat dilakukan?
Setiap siswa hendaknya memiliki kumpulan dokumen (portofolio) yang dibangun sejak awal, baik berupa informasi yang tetap maupun yang dinamis. Dokumen yang harus ada dalam suatu portofolio adalah :
a. Data identitas umum siswa b. File identifikasi
c. Dokumen penyerta Riwayat medis
Latar belakang keluarga
Dokumen pendukung yang berasal dari professional lain (jika ada)
d. Hasil asesmen
e. Program Pembelajaran Individual ( terus dibangun dari PPI 1,2,3, …)
f. Hasil evaluasi (evaluasi 1,2,3,…) Analisa tugas
g. Foto-foto atau video pada saat siswa melakssiswaan kegiatan tertentu