4 2. Faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat proses
implemen-tasi kemitraan kehutanan antara kelompok tani dengan KPHP Way Terusan Kabupaten Lampung Tengah?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah.
1. Mengetahui proses implementasi kemitraan kehutanan antara kelompok tani dengan KPHP Way Terusan Kabupaten Lampung Tengah.
2. Mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat proses imple-mentasi kemitraan kehutanan antara kelompok tani dengan KPHP Way Teru-san Kabupaten Lampung Tengah.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai proses imple-mentasi kemitraan kehutanan dan faktor-faktor pendukung dan penghambatnya.
Penelitian ini akan memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terkait dalam pe-ngelolaan hutan berbasis masyarakat atau pemberdayaan masyarakat sekitar hutan sehingga dapat membantu dalam menyusun dan memperbaiki kebijakan untuk mengelola hutan secara adil dan berkelanjutan.
E. Kerangka Pemikiran
Hutan Produksi Register 47 Way Terusan merupakan kawasan yang dikelola oleh KPHP Way Terusan yang mengalami degradasi dan deforestasi. Sebesar 90% da-ri luas kawasan KPHP Way Terusan telah mengalami perambahan oleh
masyara-5 kat dan kawasan hutan dialihfungsikan menjadi lahan perkebunan dan pemuki-man. Masyarakat penggarap lahan tersebut tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH).
KPHP Way Terusan membangun kemitraan kehutanan dengan kelompok tani se-bagai upaya mengatasi masalah degradasi, deforestasi dan perambahan. Kemitra-an dapat meningkatkKemitra-an partisipasi masyarakat dalam mengelola hutKemitra-an dKemitra-an mence-gah terjadinya konflik. Kemitraan kehutanan antara KPHP Way Terusan dengan masyarakat diharapkan menjadi solusi yang tepat dalam pengelolaan hutan. Pene-litian implementasi kemitraan ini dilakukan untuk melihat proses implementasi kemitraan kehutanan dan faktor faktor yang mempengaruhi implementasi kemitra-an kehutkemitra-ankemitra-an kemitra-antara kelompok tkemitra-ani dkemitra-an KPHP Way Teruskemitra-an.
Proses implementasi kemitraan kehutanan ini melihat proses menuju kemitraan, perjanjian kerjasama dan implementasi kemitraan kehutanan yang terjalin antara KPHP Way Terusan dengan kelompok tani hutan. Faktor – faktor implementasi kemitraan kehutanan melihat faktor yang mendukung dan menghambat dalam im-plementasi kemitraan kehutanan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif. Skema kerangka pikir secara lengkap disajikan pada Gambar 1.
6
Gambar 1. Skema kerangka pikir implementasi kemitraan antara kelompok tani pengelola lahan hutan dengan Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) Way Terusan Kabupaten Lampung Tengah (Kasus di Gapoktan Jati Makmur Umbul Harapan Jaya Kecamatan Bandar Mataram Kabupaten Lampung Tengah).
Kemitraan kehutanan
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Kesatuan Pengelolaan Hutan
Pengelolaan kawasan hutan tidak terlepas dari persoalan atau konflik lahan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain ekonomi, sosial, ekologi dan kebu-tuhan lahan pertanian. Konflik dalam kawasan hutan terjadi karena rendahnya in-tensitas pengelolaan, pengamanan dan perlindungan (Sylviani dan Hakim, 2014).
Hal ini juga dijelaskan oleh Suryandari dan Sylviani (2010) bahwa lemahnya pe-ngelolaan kawasan hutan merupakan penyebab konflik di dalam kawasan hutan, sehingga diperlukan institusi yang dapat mengelola kawasan hutan dengan lestari.
Pembangunan KPH merupakan salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut serta untuk mewujudkan kelestarian hutan. Wilayah KPH dibagi berda-sarkan pada tiga pendekatan utama yaitu wilayah ekosistem secara spasial, pem-bagian kewenangan dan kemampuan dalam pengelolaan hutan (Suryandari dan Alviya, 2009). Peraturan Menteri kehutanan Nomor : P.46/Menhut-II/2014 me-nyebutkan bahwa KPH adalah Kesatuan Pengelolaan Hutan, unit pengelolaan hu-tan terkecil di tingkat tapak. Kelompok huhu-tan yang luasnya didominasi oleh huhu-tan produksi disebut dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP). Kelom-pok hutan yang luasnya didominasi oleh hutan lindung disebut dengan Kesatuan Pengelolaan hutan lindung (KPHL). Kelompok hutan yang luasnya didominasi
8 oleh hutan konservasi disebut dengan Kesatuan Pengelolaan hutan konservasi (KPHK).
Pembangunan KPH merupakan upaya memperbaiki tata kelola hutan di Indonesia (Ekawati, 2014). Salah satu hal mendasar dalam pembangunan KPH adalah untuk mewujudkan pelaksanaan tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah da-lam mengelola sumberdaya hutan. Unit pengelolaan KPH perlu didesain sesuai dengan situasi lapangan sehingga pembangunan KPH dapat memungkinkan dica-painya pengelolaan hutan secara berkelanjutan (Supratman, 2008).
Pembentukan KPH merupakan serangkaian proses perencanaan atau penyusunan desain kawasan hutan, yang didasarkan atas fungsi pokok dan peruntukannya, da-lam upaya mewujudkan pengelolaan hutan lestari. KPH menjadi bagian dari pe-nguatan sistem pengurusan hutan nasional, provinsi dan kabupaten. Pembentukan KPH ditujukan untuk menyediakan wadah bagi terselenggaranya kegiatan penge-lolaan hutan secara efisien dan lestari (Moyo et al., 2013).
Implementasi pembangunan KPH banyak menghadapi permasalahan baik dari sisi kelembagaan dan sosial. Permasalahan dari sisi kelembagaan meliputi hambatan pemangku kepentingannya sendiri, peraturan perundangan, organisasi, pendanaan, dan SDM. Permasalahan dari sisi sosial lebih cenderung kepada klaim lahan oleh masyarakat dan perbedaan jenis tanaman yang akan dikembangkan pada areal KPH model (Alviya dan Suryandari, 2008). Faktor-faktor yang mempengaruhi proses implementasi kebijakan pembentukan organisasi KPHP adalah faktor ko-munikasi, sumber daya dan birokrasi (Hamzah, 2014).
9 B. Penguasaan Lahan
Kelestarian hutan dan kehidupan ekonomi masyarakat desa hutan merupakan dua isu penting (Mustofa, 2011). Jumlah rakyat Indonesia yang tinggal di kawasan hutan mencapai 48,8 juta orang, dan 10,2 juta di antaranya hidup dalam kemiski-nan (Yuliani dan Tadjudin, 2006). Kondisi masyarakat di sekitar hutan yang ma-sih berada dalam kemiskinan, keterbatasan akses, pengetahuan dan keterampilan tentang hutan dan kehutanan merupakan kendala yang menghambat keikutsertaan masyarakat untuk menjaga dan melestarikan keberadaan hutan (Ramadoan et al., 2013).
Kawasan yang telah digarap oleh masyarakat untuk pemukiman dan perladangan menggambarkan bahwa kondisinya tidak mendukung kelestarian fungsi kawasan hutan (Sylviani dan Suryandari, 2013). Kondisi ekonomi masyarakat yang berada di sekitar hutan merupakan faktor yang sangat menentukan luasnya garapan syarakat di hutan. Luas garapan di hutan ditentukan oleh tekanan ekonomi ma-syarakat yang berada di sekitar hutan. Tekanan ekonomi merupakan motivasi masyarakat untuk mencukupi kebutuhan keluarga melalui penggarapan lahan di hutan (Subarna, 2011).
Menurut Susilawati (2008), faktor faktor yang mempengaruhi perambahan hutan adalah faktor ekonomi dan lingkungan. Pendapatan masyarakat setelah meram-bah hutan mengalami peningkatan. Kaimuddin (2008) menjelaskan meram-bahwa selain faktor ekonomi dan lingkungan, faktor lain yang melatarbelakangi terjadinya pe-rambahan hutan adalah penjualan kawasahan hutan oleh oknum pemerintah dan masyarakat pribumi. Kepemilikan lahan terkesan legal karena melalui proses jual
10 beli dengan oknum pemerintah dan masyarakat pribumi. Hal ini menyebabkan masyarakat perambah merasa mendapat dukungan sepenuhnya dalam merambah kawasan hutan.
C. Kemitraan
Kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan (Jasuli, 2014). Menurut Akhadi et al. (2013), kemitraan adalah kata kunci dalam mewujudkan sinergi dalam rangka penerapan good go-vernance dalam pembangunan kehutanan dengan memperhatikan aspek
trans-paransi dan keadilan antar semua unsur mulai dari proses penyusunan, pelaksa-naan, monitoring dan evaluasi serta pelaporan pembangunan kehutanan.
Pengelolaan hutan melalui skema kemitraan, baik bagi pemegang izin usaha pe-manfaatan HPH/HTO maupun KPH dapat bermitra dengan masyarakat yang hi-dupnya dari hasil hutan dan lahan hutan (Fadila, 2015). Skema kemitraan kehuta-nan digagas sebagai upaya untuk memberdayakan masyarakat di dalam dan seki-tar hutan. Skema ini juga sebagai wahana penyelesaian konflik atas sumberdaya hutan yang terjadi antara pengelola hutan dan unit manajemen hutan dengan ma-syarakat yang sudah memanfaatkan kawasan hutan. Pemberdayaan mama-syarakat setempat melalui kemitraan kehutanan adalah upaya untuk meningkatkan kemam-puan dan kemandirian masyarakat setempat untuk mendapatkan manfaat sumber daya hutan secara optimal dan adil melalui kemitraan kehutanan dalam rangka pe-ningkatan kesejahteraan masyarakat setempat (Adnan et al., 2015).
11 Tujuan kemitraan kehutanan dalam pemberdayaan masyarakat setempat adalah memberikan akses dan penguatan kapasitas masyarakat setempat untuk menda-patkan manfaat hutan secara langsung. Mengajak masyarakat ikut serta dalam mewujudkan pengelolaan hutan lestari. Masyarakat secara bertahap dapat berkem-bang menjadi pelaku ekonomi yang tangguh, mandiri, bertanggung jawab dan profesional (Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor :
P.39/Menhut-II/2013). Efendi et al. (2007) menjelaskan bahwa pemberdayaan masyarakat sekitar hutan alam produksi dengan pola kemitraan efektif dilaksa-nakan dalam rangka mencegah illegal logging. Lowisada (2014) menyatakan bahwa pemberdayaan masyarakat mampu memberikan kontribusi terhadap pen-dapatan masyarakat
Pendapatan antara petani pola kemitraan dengan petani non kemitraan mempunyai perbedaan yang signifikan. Pola kemitraan memiliki nilai yang lebih tinggi dan hasil usaha yang lebih efisien dibandingkan dengan pola non kemitraan. Adanya perbedaan ini disebabkan oleh adanya jaminan serta ada pengawasan dan bimbi-ngan yang diberikan oleh mitra (Utami et al., 2015). Tingkat keberhasilan kemi-traan menentukan manfaat bagi petani. Manfaat bermitra dapat tercapai sepanjang kemitraan yang dilakukan berdasarkan pada prinsip saling memperkuat, memerlu-kan dan menguntungmemerlu-kan (Syafaaty, 2014).
Upaya untuk mencapai keberhasilan dalam pengelolaan sumberdaya hutan, negara harus memperhatikan kondisi dan permasalahan sosial ekonomi masyarakat seki-tar hutan, anseki-tara lain kepadatan penduduk yang semakin tinggi dan peningkatan kebutuhan pangan serta tingginya angka pengangguran. Permasalahan diatas
me-12 njelaskan bahwa upaya pelestarian hutan adalah sesuatu yang mustahil tanpa du-kungan dan peran serta dari masyarakat. Masyarakat yang tidak dilibatkan dan tidak mendapat kontribusi yang berarti dari proses pembangunan hutan akan men-jadi perusak sumberdaya hutan. Masyarakat yang mendapat peran yang sesuai da-lam pembangunan kehutanan dapat menjadi pendorong bagi keberhasilan dada-lam berbagai kegiatan rehabilitasi hutan (Siswoko, 2009).
Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pengelolaan hutan bersama membuah-kan hasil yaitu berkurangnya lahan kosong serta tingkat kerusamembuah-kan dan pencurian kayu menurun. Hal ini dikarenakan masyarakat dilibatkan dan mau terlibat dalam mengelola hutan dan kegiatan reboisasi. Masyarakat juga terlibat dalam menjaga hutan, sehingga terjaganya kelestarian dan keamanan hutan (Damayatanti, 2011).
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Umbul Harapan Jaya, Kecamatan Bandar Mataram Kabupaten Lampung Tengah, pada bulan Januari – Februari 2016. Lokasi peneli-tian merupakan bagian dari kawasan KPHP Way Terusan.
B. Alat dan Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah pihak pengelola KPHP Way Terusan, kelompok tani Umbul Harapan Jaya dan stakeholder terkait lainnya meliputi Dinas Kehuta-nan dan PerkebuKehuta-nan Kabupaten Lampung Tengah, Balai Pemantauan Pemanfaat-an HutPemanfaat-an Produksi (BP2HP) Wilayah VI Lampung, BadPemanfaat-an PelaksPemanfaat-ana PenyuluhPemanfaat-an Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Lampung Tengah, akade-misi (Dosen Universitas Lampung) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kawan Tani. Alat yang digunakan adalah alat tulis, daftar pertanyaan (kuisioner), kamera digital dan komputer.
C. Batasan Penelitian
Batasan penelitian ini adalah:
1. Proses implementasi kemitraan merupakan proses pelaksanaan kemitraan ke-hutanan antara KPHP Way Terusan dengan kelompok tani hutan di Umbul
14 Harapan Jaya
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi merupakan faktor-faktor yang dirasakan oleh KPHP Way Terusan dan kelompok tani.
3. Pihak lain (stakeholder) yang ikut terlibat dalam implementasi kemitraan an-tara KPHP Way Terusan dengan kelompok tani meliputi pemerintah provinsi, pemerintah daerah, akademisi dan LSM.
4. Pemerintah provinsi yang dimaksud adalah Dinas Kehutanan Provinsi Lampung dan BP2HP.
5. Pemerintah daerah yang dimaksud adalah Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lampung Tengah dan BP4K.
6. Akademisi yang dimaksud adalah dosen Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Univesitas Lampung.
7. LSM yang dimaksud adalah LSM Kawan Tani.
8. Kelompok tani hutan merupakan kelompok tani yang berada di Umbul Harapan Jaya.
9. Masyarakat yang dimaksud merupakan masyarakat yang menjadi anggota kelompok tani yang berada di Umbul Harapan Jaya.
10. Jenis pola kemitraan yaitu demplot ketahanan pangan dan energi.
D. Jenis dan Sumber Data
Data yang diambil dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder.
1. Data primer
Data primer merupakan data yang diperoleh dari sumber penelitian secara lang-sung untuk memperoleh informasi yang diperlukan dalam penelitian. Data
pri-15 mer diperoleh dari wawancara langsung dengan responden dengan panduan kuisioner. Data yang diambil yaitu :
a. Karakteristik umum masyarakat mencakup nama, umur, pekerjaan, pen-didikan, dan jumlah anggota keluarga dan mata pencaharian.
b. Potensi ekonomi masyarakat mencakup luas lahan, jenis usaha petani, ko-moditas yang diusahakan.
c. Pengetahuan masyarakat mengenai kemitraan kehutanan.
d. Pendapat masyarakat tentang program kemitraan kehutanan.
e. Dukungan masyarakat terhadap program kemitraan kehutanan.
f. Partisipasi masyarakat mecakup kehadiran masyarakat dalam proses menjalin kemitraan dengan KPHP Way Terusan berupa kehadiran sosialisasi, penyulu-han dan perencanaan kemitraan.
g. Proses implementasi kemitraan mencakup tahapan-tahapan, rumusan poin-poin dan kegiatan menuju kemitraan.
h. Kegiatan dalam implementasi kemitraan kehutanan.
i. Stakeholder yang terlibat dan peran stakeholder tersebut dalam implementasi kemitraan kehutanan.
j. Faktor – faktor meliputi faktor yang mendukung dan menghambat implemen-tasi kemitraan kehutanan
2. Data sekunder
Pengambilan data sekunder dilakukan dengan studi pustaka yaitu mengumpulkan semua literatur yang diperlukan dan sesuai dengan penelitian. Data sekunder yang dikumpulkan yaitu
16 a. Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang (RPHJP) KPHP Way Terusan
berupa data deskripsi kawasan, visi dan misi, potensi wilayah, sosial budaya masyarakat dan sejarah kawasan.
b. Data kegiatan KPHP Way Terusan yang berkaitan dengan implementasi ke-mitraan kehutanan dan salinan perjanjian kerjasama keke-mitraan pengelolaan kawasan hutan produksi.
E. Metode Pengambilan Sampel
Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purpo-sive dan random sampling. Sampel yang diambil secara purpopurpo-sive sampling
ada-lah pihak pengelola KPHP Way Terusan, stakeholder yang ikut terlibat meliputi pemerintah daerah, BP2HP, BP4K, akademisi (dosen Universitas Lampung) dan LSM serta pengurus kelompok tani. Pemilihan sampel dilakukan dengan memilih individu kunci yang dianggap dapat memberikan informasi yang dibutuhkan.
Sampel yang diambil secara random sampling adalah anggota kelompok tani pe-ngelola lahan hutan. Random sampling ini dilakukan untuk menghindari bias se-hingga data yang diperoleh dapat mewakili keadaan sebenarnya.
Umbul Harapan Jaya memiliki satu gapoktan yaitu Gapoktan Jati Makmur yang terdiri tujuh kelompok tani hutan meliputi Sido Makmur, Sumber Rejeki, Suka Makmur, Subur Makmur, Karya Makmur, Maju Makmur dan Karya Tani Mak-mur dengan jumlah total anggota kelompok tani yaitu 187 orang. Batas eror yang digunakan pada penelitian ini adalah 15% karena batas eror 15% dianggap sudah cukup mewakili anggota kelompok tani. Berdasarkan formula slovin Arikunto (2011), maka di dapatkan jumlah responden pada penelitian ini yaitu :
17
= N
N(e) + 1 Keterangan :
n = jumlah sampel
N = jumlah anggota kelompok tani e = batas eror (15%)
1 = bilangan konstan
= 187
187(15%) + 1
= 187 5.2075
= 35.90 = 36 responden
Jumlah sub anggota kelompok tani tidak sama sehingga untuk mendapatkan sampel dari masing-masing kelompok tani digunakan rumus (Noor, 2011).
Jumlah sub anggota kelompok tani secara lengkap disajikan pada Tabel 1.
ni = Ni N x n
Keterangan :
ni = banyaknya sampel ke-i n = banyaknya sampel
N = banyaknya anggota kelompok tani Ni = banyaknya anggota kelompok tani ke-i
18 Tabel 1. Jumlah responden masing-masing anggota kelompok tani
No. Nama Kelompok Tani Jumlah Anggota Jumlah Responden
1 Sido Makmur 38 7
2 Sumber Rejeki 34 7
3 Suka Makmur 10 2
4 Subur Makmur 20 4
5 Karya Makmur 38 7
6 Maju Makmur 17 3
7 Karya Tani Makmur 30 6
Total 187 36
F. Metode Pengolahan Dan Analisis Data
Jenis data penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif yang kemudian dianalisis secara deskriptif. Data yang diperoleh dari wawancara diwujudkan dalam bentuk tulisan atau paparan serta ditransformasi ke dalam ben-tuk tabel dan diagram.
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Letak dan Luas KPHP Way Terusan
KPHP Way Terusan secara administratif terletak di Kecamatan Bandar Mataram Kabupaten Lampung Tengah Provinsi Lampung. Berdasarkan geografis terletak pada 105º 40´ BT s/d 105º 50´ BT dan 4° 30´ LS s/d 4º 40´ LS. KPHP Way Teru-san berada di Sub Das Way TeruTeru-san yang merupakan bagian Daerah Aliran Su-ngai (DAS) Way Seputih. Luas kawasan KPHP Way Terusan yaitu 12.500 Ha.
Peta Kawasan KPHP Way Terusan secara jelas disajikan pada Gambar 2.
Gambar 2. Peta Kawasan KPHP Way Terusan.
20 Batas-batas wilayah KPHP Way Terusan yaitu :
1. Sebelah timur berbatasan dengan Way Terusan Kabupaten Tulang Bawang.
2. Sebelah selatan berbatasan dengan Way Terusan Kecamatan Bandar Surabaya Kabupaten Lampung Tengah.
3. Sebelah barat berbatasan dengan PT. Gunung Madu Plantation (GMP).
4. Sebelah utara berbatasan dengan PT. Gula Putih Mataram (GPM).
B. Keadaan Biofisik KPHP Way Terusan
1. Topografi : KPHP Way Terusan terletak pada ketinggian 5 m sampai dengan 20 m di atas permukaan laut.
2. Geologi dan Tanah
a. Jenis tanah : podsolik merah kuning b. Batuan induk : batuan pasir
c. Fisiografi : datar dan bergelombang 3. Iklim
a. Tipe iklim wilayah KPHP Way Terusan yaitu tipe iklim C2 yang memiliki bu-lan basah 5 sampai 6 bubu-lan dan bubu-lan kering antara 2 sampai 3 bubu-lan.
b. Jumlah curah hujan untuk wilayah Kecamatan Bandar Mataram dan sekitarnya tahun 1999-2008 adalah 2.390,2 mm/tahun. Secara lengkap disajikan pada Tabel 2.
c. Temperatur suhu KPHP Way Terusan yaitu 26oC sampai dengan 28oC.
Tabel 2. Jumlah curah hujan rata-rata tahun 1999-2008
Bulan Jumlah Curah Hujan Pada Tahun … (mm)
Jumlah Rata-rata 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
Januari 532 277 302 252 454 288 389 436 246 297 3473 347.3 Februari 435 212 363 205 416 445 277 308 364 107 3232 323.2
21 Tabel 2. Lanjutan
Bulan Jumlah Curah Hujan Pada Tahun … (mm)
Jumlah Rata-rata 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
Maret 313 279 262 354 325 309 375 390 338 524 3469 346.9 April 174 247 201 180 232 146 240 309 300 215 2244 224.4
Mei 111 139 281 238 136 156 175 167 81 79 1563 156.3
Juni 71 201 102 88 24 37 229 115 110 83 1060 106.0
Juli 137 120 24 195 47 61 96 29 149 9 867 86.7
Agustus 35 52 117 11 54 21 105 0 37 78 510 51.0
September 17 32 119 13 52 5 54 10 21 76 399 39.9
Oktober 259 215 315 0 126 40 126 0 59 133 1273 127.3
November 303 406 391 93 204 225 201 69 182 344 2418 241.8 Desember 380 371 373 258 235 384 286 354 334 409 3394 339.4 Jumlah 2767 2551 2850 1987 2305 2117 2553 2187 2231 2354 23902 2390.2 Rata-rata 231 213 238 166 192 176 213 182 186 196 2390.2
Sumber: UPTD KPHP Way Terusan (2013).
C. Sejarah KPHP Way Terusan
Berdasarkan RPHJP KPHP Way Terusan (2015), tanah yang dijadikan kawasan Register 47 saat ini berasal dari lahan pengganti dari PT Bumi Sumber Sari Sakti (GMP sekarang) yang sebagian besar seluas 10.510 ha diperoleh dari tanah milik tiga masyarakat adat yang diganti rugikan. Pembagian dari luasan lahan masing-masing kelompok masyarakat adat tersebut yaitu :
1. Masyarakat Adat Desa Mataram Udik seluas 3.000 ha.
2. Masyarakat Adat Desa Mataram Ilir seluas 3.900 ha.
3. Masyarakat Adat Desa Surabaya Ilir seluas 3.610 ha.
Kawasan hutan produksi Register 47 Way Terusan pada awalnya merupakan wasan Hutan Produksi Konversi (HPK) seluas 28.125 ha. Seluas 15.625 ha ka-wasan Register 47 dikonversi untuk diberikan sebagai lahan usaha kepada PT Indo Lampung Buana Makmur (sekarang PT Garuda Panca Artha). Luas kawasan KPHP Way Terusan yang tersisa yaitu 1.990 ha dan ditambah dengan 10.510 ha
22 lahan pengganti yang diberikan oleh PT Bumi Sumber Sari Sakti sehingga luas kawasan ini menjadi 12.500 ha.
Kawasan Hutan Produksi Register 47 Way Terusan merupakan salah satu KPHP model yang berlokasi di Lampung Tengah. Kawasan ini telah ditetapkan sebagai KPHP Model melalui beberapa tahapan. Menteri Kehutanan melalui SK Menhut No.316/MenhutlI/2005 tanggal 25 Agustus 2005 telah menunjuk Kawasan Hutan Produksi Register 47 sebagai wilayah KPHP dengan luas ± 12.500 Ha. SK Men-hut tersebut ditindak lanjuti oleh Surat Gubernur Lampung No.061/3125/02/2006 tanggal 15 Agustus 2006 untuk membentuk organisasi/lembaga yang disebut Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) KPHP.
Peraturan Bupati Lampung Tengah Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja UPTD KPHP Way Terusan Kabupaten Lampung Te-ngah, maka pada tanggal 18 Maret 2008 dibentuk UPTD KPHP Way Terusan.
Selanjutnya melalui SK.794/Menhut- II/2009 pada tanggal 7 Desember 2009 ka-wasan ini ditetapkan sebagai KPHP model. Tugas pokok KPHP Way Terusan adalah menyelenggarakan penyiapan rencana pengelolaan, penanaman, pemeliha-raan pengolahan, pemasarah hasil hutan, penanaman kembali kawasan hutan.
KPHP Way Terusan dalam pengelolaannya dibagi menjadi tiga blok yaitu:
1. Blok pemanfaatan
Blok pemanfaatan yang terdapat di KPHP Way Terusan merupakan wilayah yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat menjadi perladangan dan perkebunan yang didominasi oleh jenis tanaman karet, akasia dan mahoni. Luas blok yang diman-faatkan yaitu ±8.550 ha.
23 2. Blok pemberdayaan
Blok pemberdayaan yang ada di wilayah KPHP Way Terusan merupakan wilayah yang berada di sekitar pemukiman masyarakat. Luas blok pemberdayaan yaitu
±450 ha.
3. Blok perlindungan
Penetapan blok perlindungan sebagai upaya pelestarian dan perlindungan sumber air. Blok perlindungan merupakan daerah sempadan sungai dan rawa dengan luas
± 3.500 hektar.
D. Potensi Wilayah KPHP Way Terusan
Kawasan hutan seluas 12.500 ha ini kenyataannya tidak banyak berhutan. Sejak tahun 1998 kawasan hutan telah diokupasi oleh masyarakat dan dialihfungsikan menjadi pemukiman, lahan pertanian dan perkebunan. Tipe penutupan lahan yang masih berhutan hanya seluas 1000 ha yang berupa nipah dan tanaman gelam.
Secara lengkap disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Tipe penutupan lahan di wilayah KPHP Way Terusan No. Penutupan
berhutan 7.500 - 4.000 - Kebun campuran
3 Tidak ada
data - - - -
-Sumber: UPTD KPHP Way Terusan (2013).
Saat ini potensi kayu, non kayu, flora dan fauna, jasa lingkungan dan wisata alam di wilayah KPH Way terusan sangat rendah walaupun belum didapatkan data baik
24 secara langsung maupun data sekunder sebagai acuan. Kondisi nyata di lapangan secara keseluruhan sudah digunakan untuk tanaman semusim dan pemukiman.
Tutupan lahan pada wilayah KPHP Way Terusan Lampung Tengah adalah 8%
berhutan, 52% tidak berhutan dan 40% rawa.
E. Sosial Budaya Masyarakat KPHP Way Terusan
Tahun 2007 tercatat jumlah KK mencapai 4.015 KK atau 15.226 jiwa yang terse-bar membentuk sepuluh lokasi pemukiman (umbul). Sepuluh umbul tersebut me-liputi: Umbul Mekar Jaya/Sekring Atas, Harapan Jaya/SP4, Mekar Agung, Se-kring Bawah, Sri Rejeki/HTI, Raman Agung, Tinggi/Suka Makmur, Kuao/Buana Makmur, Talip Jaya, dan Rukun Salam. Kondisi Pemanfaatan Lahan Kawasan Hutan Produksi Register 47 Way Terusan secara lengkap disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Kondisi pemanfaatan lahan kawasan Hutan Produksi Register 47 Way Terusan
No Nama Umbul
Luas Lahan Yang Dipergunakan
Jumlah (Ha) Blok Perlindungan Blok Pemanfaatan
Jumlah (Ha) Blok Perlindungan Blok Pemanfaatan