4.1. Proses Komunikasi
4.1.2. Proses Komunikasi dalam Perspektif Mekanistik
dan decoding bervariasi; terkadang lama dan sering kali berlangsung cepat. Ketika anda mendapat pesan berupa pertanyaan dari seseorang yang hendak mencintai anda, tentu anda membutuhkan waktu yang lama untuk menyandi (encoding) dalam upaya merangkai jawaban yang bijak.
Tetapi jangan dikira bahwa anda tidak melakukan encoding di saat anda secara sepontan menjawab “tidak” atas ajakan dari seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak anda inginkan.
4.1.2. Proses Komunikasi dalam Perspektif Mekanistik
dan tidak memberikan reaksi (feedback) terhadap pesan yang diterimanya. Proses komunikasi satu arah apabila digambarkan secara diagramatik dapat berbentuk model sebagai terlihat pada gambar 4.2.
75 terhadap pesan yang diterimanya. Proses komunikasi satu arah apabila digambarkan secara diagramatik dapat berbentuk model sebagai terlihat pada gambar 4.2.
Gambar 4.2: Contoh bentuk komunikasi satu arah
Tanda panah di atas menunjukkan arah komunikasi yang bersumber dari komunikator kemudian mengirim pesan kepada komunikan tanpa ada pesan balik (feedback) dari komunikan. Oleh karena itu proses komunikasi dalam gambar di atas dikategorikan sebagai model komunikasi satu arah. Pemilihan istilah komunikator dan komunikan juga dinilai tepat untuk mewakili karakter masing-masing.
Komunikator identik dengan karakter aktif sebagai intentitas produser pesan, sedangkan komunikan merepresentasikan karakter pasif penerima pesan yang tidak memberikan feedback apapun.
Proses komunikasi satu arah ini hanya dilihat dari proses yang berlangsung di luar diri manusia, khususnya pesan verbal yang nampak, dengan mengabaikan proses prikologis yang berlangsung dalam diri. Sebagai contoh, ketika anda hadir dalam suatu pengajian, di majelis tersebut anda menemukan seorang penceramah begitu dominan menyampaikan pesan-pesan keagamaan tanpa ada feedback atau pertanyaan dari jama’ahnya. Fenomena ini hanya memperlihatkan proses komunikasi yang bersumber dari penceramah ke pendengarnya (jama’ahnya), tanpa secara eksplisit memperlihatkan proses komunikasi yang berasal dari jama’ah ke penceramah.
Komunikasi satu arah tidak hanya berlangsung dari satu orang kepada seorang individu lainnya atau dari satu orang ke sekelompok orang dalam satu tempat tetapi juga berlangsung dari satu sumber (orang) secara bertahap ditujukan kepada beberapa
KOMUNIKATOR KOMUNIKAN
Gambar 4.2: Contoh bentuk komunikasi satu arah
Tanda panah di atas menunjukkan arah komunikasi yang bersumber dari komunikator kemudian mengirim pesan kepada komunikan tanpa ada pesan balik (feedback) dari komunikan. Oleh karena itu proses komunikasi dalam gambar di atas dikategorikan sebagai model komunikasi satu arah. Pemilihan istilah komunikator dan komunikan juga dinilai tepat untuk mewakili karakter masing-masing. Komunikator identik dengan karakter aktif sebagai intentitas produser pesan, sedangkan komunikan merepresentasikan karakter pasif penerima pesan yang tidak memberikan feedback apapun.
Proses komunikasi satu arah ini hanya dilihat dari proses yang berlangsung di luar diri manusia, khususnya pesan verbal yang nampak, dengan mengabaikan proses prikologis yang berlangsung dalam diri. Sebagai contoh, ketika anda hadir dalam suatu pengajian, di majelis tersebut anda menemukan seorang penceramah begitu dominan menyampaikan pesan-pesan keagamaan tanpa ada feedback atau pertanyaan dari jama’ahnya. Fenomena ini hanya
103
Dr. H. Kadri, M.Si
memperlihatkan proses komunikasi yang bersumber dari penceramah ke pendengarnya (jama’ahnya), tanpa secara eksplisit memperlihatkan proses komunikasi yang berasal dari jama’ah ke penceramah.
Komunikasi satu arah tidak hanya berlangsung dari satu orang kepada seorang individu lainnya atau dari satu orang ke sekelompok orang dalam satu tempat tetapi juga berlangsung dari satu sumber (orang) secara bertahap ditujukan kepada beberapa orang atau kelompok orang yang berbeda tempat dan waktu. Proses komunikasi seperti inilah yang juga dikenal dengan istilah komunikasi bertahap.
Secara skematis, model komunikasi bertahap dapat dilihat pada gambar 4.3.
orang atau kelompok orang yang berbeda tempat dan waktu. Proses komunikasi seperti inilah yang juga dikenal dengan istilah komunikasi bertahap. Secara skematis, model komunikasi bertahap dapat dilihat pada gambar 4.3.
Gambar 4.3: Contoh bentuk Komunikasi Satu Arah Bertahap
Komunikasi bertahap dalam konteks komunikasi satu arah sebagaimana terlihat pada gambar 4.3 menunjukkan pergerakan pesan yang berasal dari satu sumber (komunikator) menuju komunikan, selanjutnya komunikan bertindak sebagai komunikator untuk meneruskan pesan tersebut kepada komunikan lainnya.
Banyaknya atau bercabangnya sasaran pesan tidak berarti bahwa komunikasi berlangsung dua atau banyak arah, karena indikator arah komunikasi dalam konteks ini lebih terkait dengan ada atau tidaknya feedback komunikan (penerima pesan) kepada komunikator (sumber/pemberi pesan).
Proses komunikasi bertahap seperti ini biasanya berlangsung pada masa-masa Komunikator-1
Komunikan Komunikator-2
Komunikan Komunikator-3
Komunikan Komunikan
Komunikan Komunikan
Komunikan Komunikator-4 Komunikan
Komunikator-5
Gambar 4.3: Contoh bentuk Komunikasi Satu Arah Bertahap
Komunikasi bertahap dalam konteks komunikasi satu arah sebagaimana terlihat pada gambar 4.3 menunjukkan pergerakan pesan yang berasal dari satu sumber (komunikator) menuju komunikan, selanjutnya komunikan bertindak sebagai komunikator untuk meneruskan pesan tersebut kepada komunikan lainnya. Banyaknya atau bercabangnya sasaran pesan tidak berarti bahwa komunikasi berlangsung dua atau banyak arah, karena indikator arah komunikasi dalam konteks ini lebih terkait dengan ada atau tidaknya feedback komunikan (penerima pesan) kepada komunikator (sumber/pemberi pesan).
Proses komunikasi bertahap seperti ini biasanya berlangsung pada masa-masa awal hadirnya media massa (khususnya radio), di mana informasi-informasi yang terkait dengan pembangunan hanya dapat diterima oleh tokoh masyarakat, selanjutnya tokoh masyarakat itulah yang melanjutkan informasi tersebut kepada masyarakat seperti petani, nelayan dan lain sebagainya. Tokoh masyarakat yang memperoleh informasi pertama dan melanjutkannya kepada komunikan lainnya itulah yang disebut dengan opinion leader (pengemuka pendapat).
Di era kontemporer saat ini, komunikasi bertahap yang bersifat searah juga dapat ditemukan dalam konteks komunikasi seperti gosip. Berawal dari tayangan infotainment yang menginformasikan tentang gosip tertentu dari selebritas. Salah seorang penonton menceritakan kepada seorang temannya, kemudian yang bersangkutan menceritakan lagi ke teman kost-nya.
Selanjutnya anak kost menceritakan hal yang sama ke
teman kuliahnya. Begitu juga seterusnya, hingga akhirnya kabar yang bersumber dari media massa tersebut diketahui oleh banyak orang lewat proses komunikasi bertahap yang dilakukan oleh masyarakat.
Komunikasi satu arah bertahap juga ditemukan dalam pelaksanaan ritual. Hasil riset Kadri (2018) tentang
”Komunikasi Sosial Komunitas Adat Bayan Lombok Utara:
Studi Etnografi Model Komunikasi Tradisi Menyilaq”
menemukan praktek komunikasi satu arah bertahap, seperti dapat dilihat dalam gambar 4.4.
77 terkait dengan pembangunan hanya dapat diterima oleh tokoh masyarakat, selanjutnya tokoh masyarakat itulah yang melanjutkan informasi tersebut kepada masyarakat seperti petani, nelayan dan lain sebagainya. Tokoh masyarakat yang memperoleh informasi pertama dan melanjutkannya kepada komunikan lainnya itulah yang disebut dengan opinion leader (pengemuka pendapat).
Di era kontemporer saat ini, komunikasi bertahap yang bersifat searah juga dapat ditemukan dalam konteks komunikasi seperti gosip. Berawal dari tayangan infotainment yang menginformasikan tentang gosip tertentu dari selebritas. Salah seorang penonton menceritakan kepada seorang temannya, kemudian yang bersangkutan menceritakan lagi ke teman kost-nya. Selanjutnya anak kost menceritakan hal yang sama ke teman kuliahnya. Begitu juga seterusnya, hingga akhirnya kabar yang bersumber dari media massa tersebut diketahui oleh banyak orang lewat proses komunikasi bertahap yang dilakukan oleh masyarakat.
Komunikasi satu arah bertahap juga ditemukan dalam pelaksanaan ritual.
Hasil riset Kadri (2018) tentang ”Komunikasi Sosial Komunitas Adat Bayan Lombok Utara: Studi Etnografi Model Komunikasi Tradisi Menyilaq” menemukan praktek komunikasi satu arah bertahap, seperti dapat dilihat dalam gambar 4.4.
Gambar 4.4. Model Sosialisasi Top-Down Aktif PEMANGKU ADAT
BAYAN Mengutus LANG-LANG Mendatangi (Menyilaq)
PEBENKEL Menginformasikan dan
mensosisialisasikan kegiatan adat
MASYARAKAT ADAT BAYAN KEGIATAN
RITUAL
Gambar 4.4. Model Sosialisasi Top-Down Aktif Sumber: Kadri, 2018
Model sosialisasi top-down aktif dalam gambar 3.4 menunjukkan komunikasi satu arah dua tahap. Tahap pertama dari Pemangku Adat ke Pebenkel yang disampaikan lewat Lang-Lang, kemudian tahap kedua dari Pebenkel kepada masyarakat adat. Model ini dianggap linier karena arah komunikasi tidak kembali kepada pengirim pesan.
yang berakhir pada action untuk mengikuti perintah (pesan), yang dalam konteks model tersebut adalah “kegiatan Ritual”.
b. Komunikasi Dua Arah
Sebagaimana namanya, komunikasi dua arah merupakan fenomena komunikasi yang memperlihatkan proses komu-nikasi timbal-balik dari minimal dua peserta komukomu-nikasi.
Proses komunikasi dua arah biasa juga dikenal dengan isti-lah stimulus-respon. Proses ini (komunikasi dua arah) relatif lebih dinamis dibandingkan dengan proses komunikasi yang searah, karena dalam proses komunikasi dua arah tidak lagi memperlihatkan dominasi yang satu dari yang lainnya. Se-cara diagramatik, proses komunikasi dua arah dapat dilihat pada gambar 4.5.
78 Sumber: Kadri, 2018
Model sosialisasi top-down aktif dalam gambar 3.4 menunjukkan komunikasi satu arah dua tahap. Tahap pertama dari Pemangku Adat ke Pebenkel yang disampaikan lewat Lang-Lang, kemudian tahap kedua dari Pebenkel kepada masyarakat adat. Model ini dianggap linier karena arah komunikasi tidak kembali kepada pengirim pesan. Komunikasi hanya bersifat instruksional atau informatif yang berakhir pada action untuk mengikuti perintah (pesan), yang dalam konteks model tersebut adalah “kegiatan Ritual”.
b. Komunikasi Dua Arah
Sebagaimana namanya, komunikasi dua arah merupakan fenomena komunikasi yang memperlihatkan proses komunikasi timbal-balik dari minimal dua peserta komunikasi. Proses komunikasi dua arah biasa juga dikenal dengan istilah stimulus-respon. Proses ini (komunikasi dua arah) relatif lebih dinamis dibandingkan dengan proses komunikasi yang searah, karena dalam proses komunikasi dua arah tidak lagi memperlihatkan dominasi yang satu dari yang lainnya. Secara diagramatik, proses komunikasi dua arah dapat dilihat pada gambar 4.5.
Gambar 4.5: Contoh bentuk Komunikasi Dua Arah
Model komunikasi dua arah seperti di atas menggambarkan proses komunikasi timbal-balik, sebab-akibat, atau fenomena aksi-reaksi. Ada proses dialogis yang terjadi dalam model komunikasi ini, di mana seseorang yang mendapat pesan memberikan respon (feedback) balik kepada pemberi pesan. Proses komunikasi
KOMUNIKATOR KOMUNIKATOR
Gambar 4.5: Contoh bentuk Komunikasi Dua Arah
Model komunikasi dua arah seperti di atas menggambarkan proses komunikasi timbal-balik, sebab-akibat, atau fenomena aksi-reaksi. Ada proses dialogis yang terjadi dalam model komunikasi ini, di mana seseorang yang mendapat pesan memberikan respon (feedback) balik kepada pemberi pesan. Proses komunikasi ini belum sepenuhnya mencerminkan eksistensi manusia yang dinamis, kreatif, dan berkemauan bebas, karena peserta komunikasi (manusia)
stimulus yang diterima. Oleh karena itu, dalam model komunikasi dua arah masih bisa dibedakan dengan jelas, peserta komunikasi mana (siapa) yang memulai komunikasi.
Proses komunikasi dua arah ini relevan dengan konsep komunikasi sebagai interaksi (Mulyana, 2001:65). Dalam konseptualisasi seperti ini, seseorang menyampaikan pesan verbal dan nonverbalnya secara timbal balik. Misalnya seorang penerima pesan bereaksi dengan memberi umpan balik kepada pemberi pesan, kemudian pemberi pesan awal memberi pesan lagi setelah mendapat respon dari mitra komunikasinya, demikian seterusnya proses dialog tersebut berlangsung.
c. Komunikasi Banyak Arah
Komunikasi banyak arah sebagai proses komunikasi menunjukkan dinamis dan cairnya realitas komunikasi.
Komunikasi melibatkan banyak peserta dengan posisi yang setara (sama-sama aktif). Setiap peserta komunikasi menjadikan banyak hal sebagai sumber pesan untuk dimaknai, dan juga pesan yang dikonstruksi oleh peserta komunikasi secara bebas ditafsirkan oleh berbagai peserta lainnya. Demikian seterusnya, hingga komunikasi yang berlangsung tidak dapat diskematisasikan secara struktural dan sistemik karena begitu cair dan acaknya proses (banyaknya arah) komunikasi tersebut.
Sebagai contoh, ketika seorang dosen dan mahasiswa berada dalam ruangan kelas, tidak jelas siapa yang memulai komunikasi. Meskipun yang mengucapkan salam terlebih dahulu adalah dosen tetapi tidak serta merta diklaim
sebagai peserta komunikasi yang memulai komunikasi, karena hadirnya dosen di ruangan itu disebabkan adanya jadwal yang berasal dari bagian akademik di fakultas. Di saat dosen menyampaikan materi kuliah, yang bersangkutan melakukan decoding terhadap beragai sumber informasi;
dari mahasiswa, buku, silaby, realitas sosial dan berbagai mitra komunikasi lainnya. Fenomena komunikasi seperti inilah yang mengindikasikan banyaknya arah komunikasi sekaligus sulitnya mengidentifikasi arah, proses, dan mekanisme komunikasi.
Proses komunikasi “banyak arah” bukan hanya menunjukkan arah komunikasi yang secara eksplisit terdengar lewat komunikasi verbal, tetapi juga terkait dengan banyak sumber komunikasi nonverbal. Bahkan keragaman sumber nonverbal inilah yang selalu mewarnai setiap komunikasi manusia. Saat bertemu dengan seseorang atau beberapa orang, kita sering mengganggap dialog atau pembicaraan lisan yang kita lakukan sebagai satu-satunya proses komunikasi. Padahal di saat bersamaan banyak jenis komunikasi yang berlangsung, seperti; gelengan kepala yang dilakukan, dan ekspresi wajah lainnya yang diperlihatkan.
Seluruh proses komunikasi mekanistik yang dijelaskan di atas (mulai dari proses komunikasi satu arah hingga komunikasi banyak arah), bisa berlangsung secara primer dan juga dapat dilakukan secara sekunder. Proses komunikasi primer adalah komunikasi yang dilakukan seseorang dengan menggunakan seluruh panca indera yang dimiliki sebagai media komunikasinya. Atau dengan kata
lain, proses komunikasi primer terjadi apabila seseorang tidak menggunakan media eksternal saat berkomunikasi dengan orang lain. Komunikasi primer biasa dilakukan ketika face to face communication, di mana antara peserta komunikasi tidak ada jarak dan tidak ada hambatan komunikasi apapun yang memungkinkan mereka untuk menggunakan alat bantu dalam memperlancar komunikasi di antara mereka.
Sebaliknya, proses komunikasi sekunder adalah proses komunikasi yang dilakukan seseorang dengan menggunakan media-media komunikasi eksternal (di luar diri/panca inderanya) sebagai alat bantu dalam memperlancar komunikasi yang dilakukannya. Sebelum ditemukan media komunikasi yang canggih seperti akhir-akhir ini, biasanya manusia menggunakan media seperti surat, telegram, radio, telepon rumah, dan lain sebagainya sebagai media sekunder dalam berkomunikasi dengan orang lain yang dibatasi oleh sekat geografis. Seiiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi komunikasi, kini semakin banyak media sekunder dalam memperlancar proses komunikasi manusia. Internet misalnya, menjadi salah satu media komunikasi mutakhir yang digunakan manusia sejagad untuk berkomunikasi.