• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Konseling bagi Pecandu Narkoba di BNN Tapanuli Selatan 1. Need Assesmen

HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum BNN Tapanuli Selatan

B. Proses Konseling bagi Pecandu Narkoba di BNN Tapanuli Selatan 1. Need Assesmen

Proses need asessmen dilakukan untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya pengguaan narkoba pada diri seseorang melalui wawancara, observasi, lapor diri dan uji sampel biologis. Asessmen ditujukan untuk menilai dejarat masalah yang dihadapi oleh pengguna dalam 8 aspek utama yaitu:

a. Informasi demografis

Informasi demografis sangat penting bagi suatu klien untuk mengetahui status perkawinan dan status pendidikan yang dalam hidup klien. Dengn hal ini tim dokter mampu menganalis dan mendapatkan informasi tentang diri klien tentang informasi asessmen.

b. Status medis

Status medis yang digunakan untuk menggambarkan status atau kondisi kesehatan klien. Hal ini bisa dilakukan dengan mencari informasi riwayat status penyakit yang pernah di derita klien atau dengan mencari informasi jenis penyakit yang diderita dan jenis yang sedang menjalani terapi medis. Di dalam status medis dokter jugaharus mampu mengenali status kesehatan pada diri klien.

c. Status pekerjaan

Status pekerjaan adalah indikator yang menunjukkan status anggota rumah tangga dalan pekerjaan utama yang dimilikinya. Hal ini bisa

26 Badan Narkotika Nasional, Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Fungsi Rehabilitasi BNN Provinsi dan BNN Kabupaten/Kota, Tahun 2015, hlm. 21.

27

dilakukan dengan mengetahui status pekerjan pada klien. Di samping itu dokter juga harus bisa mencari informasi tentang dukungan hidup yang dialami pada klien dengan tujuan agar dokter tahu akan informasi yang berjasa didalam hidupnya terutama di bidang pekerjaan dari klien.

d. Status penggunaan narkotika

Status penggunaan narkotika di atur oleh UU No 35 tahun 2009. Hal dilakukan dengan tujuan mengetahui orang yang terlibat didalam dunia narkoba. Dalam status penggunaan narkoba ada 3 status yaitu:

1) Pecandu narkotika adalah orang yang menggunakan atau menyalahgunakan narkotika dan dalam keadaan ketergantungan pada narkotika. Baik secara fisik dan fsikis.

2) Penyalah guna narkotika adalah orang yang menggunakan narkotika tanpa hak atau melawan hukum.

3) Korban penyalahguna narkotika adalah orang yang tidak sengaja menggunakan narkotika karena dibujuk, ditipu dan dipaksa ataudi ancam untuk menggunakan narkotika.

Di dalam status penggunaan narkotika ada bebrapa jenis cara pengunaannya yaitu dengan oral, merokok dan nasal. Dokter juga harus mampu dalam menganalisis pengguna dalam tahap peggunaan narkotika dan juga menanyakan tentang terapi rehabilitasi. Yang terpenting dalan hal ini dokter harus mengali sumber dan asal narkotika itu untuk mengatahui informasi tentang sumber narkoba dan jawdal serta waktu penggunaan narkoba yang ia pakai dalam satu hari.

e. Status legal

Status legal yang dimaksud adalah hal berkaitan dengan hukum yaitu hal yang berbaur dengan kriminal dan kejahatan sosial misalnya saja mencuri merampok, pemerkosaan atau pembunuhan. Latar belakang klien yang seperti ini harus di gali untuk mencari informasi kejahatan apa yang telah dilakukan selama ini. Status legal ini tidak berlaku pada

28

kejahatan anak-anak dibawah 18 tahun kecuali kalau mereka ditunut sebagai orang dewasa.

f. Riwayat keluarga/sosial

Riwayat keluarga/ sosal dapat mengidentifikasi seeorang dengan resiko yang lebih tinggi yang sering dialami dilingkungan keluarga dan sosial.

Karena dengan mengatahui informasi tentang keluarga dan sosialnya dokter mampu membrikan solusi dalam hal itu. Contohnya klien tinggal di keluarga yang menggunakan zat narkotika dan dengan sosial yang mengunakan zat narkotika hal ini dapat membuat tidak ada perubahan didalam dirinya. Oleh karena itu di riwayat keluarga adalah penentu dari prilaku kita dan kesehatan kita. Didalam riwayat keluarga dokter harus bisa mencari informasi tentang konflik yang terjadi dikehidupan keluarga dan sosialnya baik dengan istri, orang tua, anak, teman dan rekan kerjanya.

g. Status psikiatris

Status ini sebagai pemeriksaan yang dilakukan pada klien dengan keluhan dan kekhawatiran psikis atau pada klien pada gangguan prilaku seperti prilaku depresi, gangguan cemas, atau gangguan halusinasi, kesulitan dalam mengingat atau pernah berusaha untuk bunuh diri. Status psikiatris ini sangat berpengaruh dalam hal proses asessmen dan konseling. Karena jika terdapat gangguan jiwa akan menyulitkan dalam prosesnya. Pada tahap pemerikasaan dokter harus menjalin hubungan yang baik dengan klien, hubungan yang baik membantu dokter untuk medapatkan informasi yang dibuthkan untuk menegakkan diagnosis.

h. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik berarti proses medis yang harus dijalani saat doagnosis penyakit dan hasilnya dicatat dalam rekam medis yang digunakan untuk menegakkan diagnosis dan merencanakan perawatan lanjuta atau dengan pemeriksan fisik diakhiri degan penyusunan

29

rencana terapi. Contony tes urine. Degan tes urine dokter bisa tau apakah klien masih menggunakan zat selama proses rehabilitasi.27 2. Perencanaan

Pada perencanaan proses konseling di BNNK Tapsel yaitu setelah dilakukannya asessmen oleh pihak terkait. Setelah dilakukan asessment maka pihak terkait akan memutuskan dalam proses rehabiltasi yang akan dijalani denga syarat kesepakatan antara kedua belah pihak. Yitu ada rehabilitasi inap dan rehabilitasi jalan. Di dalam perencaan proses konseling adalah langkah penting untuk merumuskan mengenai apa yang diharapkan dan apa yang ingin dilakukan. Perencaan ini harus dilakukan secara matang agar tersusun secara sistematis hingga evaluasi nantinya.

Penyusunan rencana terapi dan rehabilitasi harus didsari oleh hasil asessmen dan brsifat individual.28 Untuk itu sebagian pengguna mungkin memerlukan terapi medis, sebagian lainnya tidak. Pengguna dengan situasi tertentu hanya memerlukan rawat jalan, sementara yang memiliki masalah lebih lanjut mengenai pelaksanaan rehabilitasi dan pascaregabiltassi diuraikan pada sub bab selanjutnya.

3. Pelaksanaan

Pada proses pelaksanaan dilakukan selama 8 (delapan) kali petemuan, dan minimalnya melakukan pertemuan 1 minggu sekali.

Pelaksanaan. Pelaksanaan konseling oleh konselor dapat dilakukan baik secara langsung maupun berbasis teknologi. Proses konseling yang dilakukan dengan di BNNK Tapsel dengan beberapa taknik yaitu dengan teknik wawancara, eksplorasi dan lain sebagainya. Yang dilakukan pada pelaksanaan proses konseling ini sesuai dengan asessmen yang telah dijalani sebelumnya dengan menggali inforamasi serta memberi solusi dan motivasi tentang bahaya dari narkoba.29

27 Wawancara dengan Darmansyah Pohan, Konselor BNN Tapanuli Selatan

28 Wawancara dengan Peri Pandapotan Nasution, Kasi Rehabilitas BNN Tapanuli Selatan

29 Wawancara dengan Syahran, Kasi Pencegahan dan Pemberdayan BNN Tapanuli Selatan

30

Proses konseling dengan teknologi atau biasa dikenal dengan Daring adalah program yang baru hal ini dilakukan karena beberapa faktor yaitu karena melihat situasi saat ini yang terajadi di dunia yaitu virus corona. Sehingga badan rehabilitasi memuat kebijkan tentang proses konseling secara daring. Walaupun dengan daring klien wajib bertemu dengan konseling minimal 4 kali dalam proses tatap muka. Untuk memastikan perkembangan dan tes urine.30 Hanya saja dengan proses daring proses konseling yang dindapat tidak efektif karena bebrapa gangguan seperti jaringan dan hal lainnya.

4. Evaluasi

Proses konseling di bagian evaluasi yaitu dengan tes urine.

Apabila klien negatif dalam tes maka proses konseling dinyatakan berhsil dan mampu mmebuat klien tadi menggunakan narkoba lagi. Tetapi kalau hasil yang dilakukan adalah positf maka klien akan dilakukan rehabilitas ulang. Untuk melihat kendala dan hambatan yang dialami klien sehingga masih menggunkan zat narkoba tersebut. Diproses evaluasi tindakan ini dilakukan untuk melihat kualitas kemajuan yang berkaitan dengan klien dan narkoba.

5. Follow Up

Follow up yang dimaksud adalah tindak lanjut dari proses konseling yang telah dilakukan selama delapan kali petemuan. Di dalam BNNK Tapsel follow up yang di gunakan yaitu pascarehabilitasi yaitu tahapan pembinaan lanjutan yang diberikan kepada penyalah gua, pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika, hal ini dilakukan dengan tujuan:

1) Membimbing klien dalam mengembangkan pribadi yang mandiri dan tanngguh terhadap godaan untuk tidak menyalahgunakan narkotika kembali serta mampu memelihara pemulihannya agar tidak tejadi kekambuhan.

30 Wawancara dengan Roni Azhar, Kasi Pemberantasan BNN Tapanuli Selatan

31

2) Mempersiapkan klien agar mampu menjalankan fungsi sosial sesuai dengan potensi diri yang dimilikinya.

3) Memfasilitasi klien untuk menggali dan mengembangkan kewirausahaan sesuai dengan minat dan bakat agar dapat mencapai kemandirian sosial dan ekonomi.

4) Mempersiapkan lingkungan keluaraga dan lingkungan sosial.31 C. Hambatan-hambatan Proses Konseling di BNN Tapanuli Selatan

1. Kurangnya kesadaran diri

Proses konseling yang dilakukan hal yang terpenting adalah niat. Dengan niat maka semua akan berjalan sesuai apa yang diharapkan. Tetapi jika diawali dengan paksaan maka hasil tidak memuaskan dan tidak sesuai apa yang di inginkan bersama. Terkadang proses konseling berjalan lama karena tidak adanya kesadaran diri untuk berubah dan memperbaiki prilaku.

2. Introvet

Maksud introvet disini yaitu klien memiliki sifat tertutup pada konselor sehingga klien tidak memaparkan semua masalah yang ada pada konselor sehingga proses ini sulit menemukan informasi yang diambil dari klien sehingga menghambat proses konseling yaitu memperlama jalannya konseling.

3. Suasana konseling

Hal yang seperti ini menjadi yang terpenting karena dengan suasana yang kurang nyaman akan membuat klien tidak betah saat melaksanakan proses konseling.

4. Fasilitas

Fasilitas yang tidak mendukung dalam proses konseling akan menyulitkan untuk melakukan proses konseling oleh karena itu fasilitas sekecil apa pun dan sebesar harus di persiapkan untuk mendukung proses konseling.

5. Tekhnologi

31 Wawancara dengan Natasha Maharani Siregar, Konselor BNN Tapanuli Selatan

32

Maksud dalam tekhnologi disini yaitu jaringan atau paket data serta klien yang tidak mampu menggunakan teknologi. Yaitu dalam proses konseling yang dilakukan secara daring yang barkaitan dengan teknologi disini.

6. Kuranngnnya penguasaan dan kemampuan pada konselor

Hal seperti ini tidak jarang ditemukan pada saat proses konseling. Pada proses konseling konselor tidak mampu memberi solusi dan motivasi yang jelas kepada klien. Sehingga masalah klien menjadi mengambang.

Dan tidak jarang ditemukan bahwa konselor tidak mampu membangun dam membina hubungan yang baik dengan klien.

D. Upaya Konselor menangani pecandu Narkoba di BNN Tapanuli Selatan

Dokumen terkait