• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSES KREATIVITAS

Dalam dokumen SKRIP KARYA SENI NYEMPRONG (Halaman 33-48)

Menciptakan suatu karya tari kreasi merupakan hal yang tidak mudah. Untuk mewujudkannya terkadang membutuhkan waktu yang cukup panjang. Suatu proses penciptaan karya seni tidak hanya diperlukan bakat seni dan inspirasi, tetapi diperlukan juga adanya kemauan, kesanggupan, dan kerja keras dalam mewujudkan karya seni yang diharapkan. Pada proses ini, perlu diungkapkan segala macam hal yang dialami dalam menggarap karya seni termasuk penemuan ide, kreativitas, dan pemilihan gerak yang diolah dari awal hingga terwujudnya karya yang diinginkan. Proses penciptaan tari kreasi baru Nyemprong ini, mengacu pada proses penciptaan tari menurut I Kt. Suteja dalam Disertasi yang berjudul Catur Asrama : Perjalanan Spiritual, yang terdiri dari ngarencana, Nuasen, makalin, nelesin, dan ngebah. Adapun tahapan proses penciptaan karya tari Nyemprong antara lain.

3.1 Ngarencana

Tahap persiapan ini diartikan sebagai tindakan menyediakan atau mempersiapkan untuk melakukan suatu proses. Merencanakan pelaksanaan karya tari meliputi, sumber yang mendukung penciptaan, pematangan ide, dan penetapan tema tari sebagai inspirasi penciptaan. Garapan tari kreasi Nyemprong ini merupakan tugas lanjutan dari Koreografi VI di semester VII, yang kemudian dimantapkan lagi untuk

15 ujian tugas akhir. Materi pada mata kuliah ini adalah masing-masing mahasiswa harus menciptakan sebuah karya tari, baik yang berbentuk tradisi, kreasi baru, maupun kontemporer. Garapan tari kreasi baru menjadi pilihan penulis, karena ide dan inspirasinya timbul saat berlibur di Jembrana, dimana penulis melihat aktivitas seorang wanita Bali yang sedang nyakan (menanak nasi) menggunakan alat masak tradisional. Penulis tertarik ketika seorang wanita tersebut meniup-niup api tungku menggunakan alat semprong.

Tahap ngarencana diawali dengan mendatangi perpustakaan Institut Seni Indonesia Denpasar, mencari buku yang menjelaskan tentang alat-alat memasak tradisional untuk mencari arti kata semprong. Penulis mendapatkan arti kata semprong di dalam kamus Bahasa Bali-Indonesia, dalam kamus tersebut semprong berarti peniup api. Tetapi penulis merasa tidak cukup menggunakan satu buku, penulis bertanya kepada teman-teman jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia untuk menanyakan arti kata semprong tersebut. Setelah bertanya kepada beberapa teman, salah satu teman menawarkan sebuah buku yang berjudul Bali Tanpa Bali, dimana di dalam buku tersebut mengulas tentang cangkem paon dan arti kata semprong. Dalam buku tersebut, semprong yang artinya alat yang terbuat dari tabung bambu berfungsi untuk meniup api di tungku.Setelah mengetahui arti kata semprong, penulis menemui salah satu dosen yang ahli di bidang sastra untuk menanyakan arti Nyemprong. Menurut ibu Dyah Kustiyanti, aN (ny) + semprong=Nyemprong yang berarti melakukan kegiatan Nyemprong atau meniupkan udara kedalam tungku api

16 dengan menggunakan alat semprong. Dalam Kamus Bahasa Bali oleh Sri Reshi Anandakusuma: kata-kata dasar yang permulaannya memakai huruf: s, c, dan j, kalau menjadi kata kerja, maka huruf permulaannya patut diganti dengan huruf: ny.

Ide penciptaan ini disempurnakan melalui sumber pendukung karya lainnya seperti, aktivitas kehidupan sehari-hari masyarakat pedesaan Bali, menonton

suatu pertunjukan, buku-buku kepustakaan yang terkait dengan Nyemprong.

Penyempurnaan konsep dilakukan guna untuk mendapatkan satu kesatuan antara ide, bentuk, dan penampilan. Hasil dari seluruh pendukung penciptaan karya tari Nyemprong melahirkan tema kehidupan sosial.

3.2 Nuasen

Nuasen merupakan upacara ritual yang dilakukan sebelum proses improvisasi gerak, musik, dan lain-lainnya yang berkaitan dengan proses penciptaan karya tari kreasi baru Nyemprong. Upacara nuasen dilaksanakan di Pura Ardha Nareswara, Institut Seni Indonesia Denpasar pada Radite Kliwon, Wuku Pujut, bertepatan pada Purnama Sasih Kelima (Minggu, 17 November 2013).

17 Foto 1. Nuasen di Pura Ardha Nareswara

Foto oleh : Ni Made Sri Lantini Rahayu

Nuasen diikuti oleh seluruh pendukung tari Nyemprong dengan

mengadakan persembahyangan bersama menggunakan sarana banten pejati sebagai perwujudan sembah bakti terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan memohon agar pelaksanaan penciptaan karya tari Nyemprong berjalan lancar sesuai yang diinginkan.

18 3.3 Makalin

Tahap makalin yaitu proses pemilihan material yang mendukung

terciptanya karya tari kreasi Nyemprong. Material merupakan bakat yang

dipergunakan sebagai bahan untuk mendukung penciptaan karya. Bakat yang terpilih adalah ketrampilan yang dimiliki dibidang seni tari dan tabuh yang menjadi pertimbangan dalam proses penciptaan karya tari. Untuk menghadirkan karya tari kreasi Nyemprong didukung oleh unsur-unsur antara lain:

1. Pemilihan Penari

Tahap makalin merupakan suatu proses hasil atas tindakan eksplorasi ide yang dituangkan ke dalam konsep karya. Pendukung tari memerlukan pencerapan ide yang betul-betul menguasai instruksi yang diinginkan oleh penulis. Penyajian tari kreasi Nyemprong bersifat kelompok. Tari kelompok adalah sebuah tarian yang dibawakan oleh banyak orang serta menggambarkan aktivitas kelompok. Adakalanya semua penari tampil menggunakan gerak-gerak yang seragam dan tidak jarang membagi diri untuk melakukan gerak-gerak yang saling isi mengisi (Dibia, 2013 : 112). Karya tari kreasi Nyemprong membutuhkan enam orang penari putri termasuk penulis. Penggunaan enam orang penari disesuaikan dengan postur tubuh dan kebutuhan panggung. Kriteria para pendukung diantaranya: mempunyai tinggi yang sama antara satu dan yang lainnya, mempunyai karakter yang sesuai dengan karakter yang bawakan, seperti ada karakter periang, lembut dan juga monyer. Mempunyai

19 loyalitas yang tinggi, karena akan diperlukan waktu dan tenaga dalam proses latihan garapan ini.

Tabel 1

Nama-nama penari pendukung karya tari kreasi baru Nyemprong:

No. Nama Peran Jenis Kelamin Umur

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Ni Putu Tuntun Dhufany NI Kadek Ratih Satriya Ningsih Anak Agung Mas Sudarningsih Ni luh Putu Eny Darmayani Ni Putu Eka Laksmi Dewi Putu Rahayu Devita Sari

Penari Penari Penari Penari Penari Penari Wanita Wanita Wanita Wanita Wanita Wanita 21 tahun 21 tahun 20 tahun 19 tahun 19 tahun 19 tahun 2. Pemilihan Penabuh

Penabuh musik iringan tari karya tari kreasi Nyemprong berjumlah 25 orang laki-laki. Pemilihan para penabuh disesuaikan dengan kebutuhan instrumen yang digunakan. Musik (tabuh) adalah salah satu elemen terpenting dalam tari Bali. Selain memberikan landasan bagi struktur koreografi, serta memperkuat identitas suatu tarian, musik memberikan kehidupan bagi tari secara keseluruhan (Dibia, 2013:116). Proses pembuatan iringan tari seringkali tidak dapat berjalan rutin, hal ini dikarenakan sekaa yang mendukung iringan memiliki kegiatan di sekolahnya. Selain itu, tempat latihan juga dipergunakan untuk latihan gong kebyar dalam rangka Pesta

20 Kesenian Bali (PKB) bulan Juni 2014. Penata iringan juga masih berstatus mahasiswa di ISI Denpasar, penata hanya memiliki waktu setiap hari jumat dan sabtu untuk latihan iringan tari. Tempat latihan iringan tari ini diselenggarakan di desa Batu Agung, Kabupaten Jembrana, karena semua pendukung iringan tari berasal dari Jembrana. Ketika iringan tari pada bagian pertama telah terbentuk, sebagian besar motif-motif gerak yang ada dapat disesuaikan dengan iringannya. Bagi penulis, iringan memiliki peranan penting dalam merangsang munculnya inspirasi gerak.

Tabel 2

Nama-nama pendukung musik iringan karya tari kreasi baru Nyemprong:

No. Nama Peran Jenis Kelamin Umur

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Ida Bagus Putu Pradnyana Putra I Made Arsa Wijaya

Putu Bayu Angga Adi Putra I Putu Adi Putra Kencana Putu Handika Andryana Yan Priya Kumara Janardhana I Gede Yogi Sukawiadnyana I Kadek Romy Mahendra Komang Wahyu Yastrawan P. I Made Candra Putra

Penabuh Penabuh Penabuh Penabuh Penabuh Penabuh Penabuh Penabuh Penabuh Penabuh Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki 20 tahun 21 tahun 21 tahun 19 tahun 19 tahun 21 tahun 18 tahun 16 tahun 17 tahun 19 tahun

21 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25.

I Putu Candra Pratama I Putu Juni Suta Widnyana I Kadek Parnata

A.A. Putu Ari Prebawa Putu Nova Handiyana I Komang Adi Putra I Made Juni Darma Astawa Putu Arimbawa Adyasa Ida Bagus Arbawa

I Made Galih Ari Senthana I Putu Wiratama

I Putu Eka Nanda Prayogi I Komang Suryawan

I Made Kayika Ardi Parditha I Putu Hardy Andika

Penabuh Penabuh Penabuh Penabuh Penabuh Penabuh Penabuh Penabuh Penabuh Penabuh Penabuh Penabuh Penabuh Penabuh Penabuh Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki 17 tahun 18 tahun 18 tahun 17 tahun 17 tahun 16 tahun 17 tahun 16 tahun 36 tahun 16 tahun 22 tahun 16 tahun 21 tahun 21 tahun 23 tahun

3. Pemilihan Tempat Latihan

Mempersiapkan tempat latihan merupakan hal yang paling menentukan dan membuat situasi dan suasana latihan yang nyaman dan kondusif. Tempat latihan penciptaan karya tari kreasi Nyemprong dilakukan di Studio Timur “Gedung I Gde Geruh” kampus Institut Seni Indonesia Denpasar. Tempat latihan ini dipilih karena nyaman untuk latihan, selain itu didalam studio terdapat kaca untuk melihat

22 kesamaan gerak, ekspresi, dan keindahan gerak yang diinginkan. Lokasi latihan ini terletak di tengah-tengah kota Denpasar yang sangat mudah dijangkau oleh para pendukung karya tari, karena para pendukung berasal dari mahasiswa ISI Denpasar, dan lebih mudah jika mereka ada kegiatan lainnya di kampus.

Penciptaan karya tari Nyemprong tidak hanya menggunakan tempat

latihan di studio saja, tetapi juga menggunakan Gedung Natya Mandala ISI Denpasar. Latihan di gedung tersebut karena nantinya karya tari Nyemprong dipentaskan di stage proscenium Nayta Mandala, agar penari terbiasa melintasi area panggung sesuai dengan pola lantai yang digunakan. Tempat latihan sesuai dengan konsep karya, suasana, jadwal terprogram untuk memperlancar proses latihan agar tidak terbentur dengan jadwal kegiatan lainnya.

4. Improvisasi gerak

Improvisasi merupakan usaha kreatif dan berguna sebagai langkah persiapan penciptaan tari. Proses improvisasi ini merupakan penuangan ide karya ke dalam wujud karya tari, maka dilakukan gerak–gerak spontanitas dan improvisasi untuk mendapatkan motif-motif gerak baru dan gerak yang khas yang kemudian digunakan ke dalam wujud karya tari. Pada tahap ini dimulai, musik iringannya belum terbentuk, namun hal tersebut tidak menjadi halangan bagi penulis untuk bergerak bebas menemukan motif-motif baru, karena pada nantinya motif-motif gerak yang telah dimiliki akan disesuaikan dengan musik iringannya. Penata terus melakukan improvisasi terutama untuk membuat motif gerak pada bagian kedua

23 menggambarkan proses menanak nasi, dari mnghidupkan korek api, menggunakan kayu bakar, dan nyemprong. Sedikit demi sedikit bagian gerakan yang didapatkan lalu dicatat dan direkam, agar lebih mudah dalam merangkai gerak sesuai dengan konsep garapan.

Improvisasi gerak tari kreasi Nyemprong bersumber dari pakem tari Bali yaitu: agem, tandang, tangkis, dan tangkep (Dibia, 2013:64). Agem adalah gerak-gerak tari yang dilakukan di tempat atau tanpa melakukan perpindahan poros atau titik pijak. Tandang yang berarti gaya berjalan meliputi semua gerak langkah yang menyebabkan terjadinya perpindahan tempat dengan kualitas gerak, tempo, dan lintasan garis yang berbeda-beda. Tangkis yang dapat diartikan dengan persiapan atau variasi (matangkis) adalah gerak-gerak yang bersifat elaborasi untuk memperkaya frase-frase atau sequen-sequen gerak yang ada. Tangkep adalah ekspresi atau perubahan emosi yang tercermin melalui wajah (encah cerenggu).

Dalam proses improvisasi gerak, juga masih menggunakan semprong yang terbuat dari bahan kertas karton dan isolasi karena semprong yang asli belum jadi, maka dari itu penulis mempunyai ide untuk membuat semprong buatan agar dapat secepatnya berimprovisasi gerak menggunakan alat semprong.

24 Foto 1, Improvisasi gerak di Gedung I Gde Geruh

Foto oleh : Ida Bagus Putu Pradnyana Putra

Foto 2, Properti Semprong dari kertas karton Foto oleh : Ida Bagus Putu Pradnyana Putra

25 3.4 Nelesin

Nelesin adalah proses pembentukan, hasil dari proses improvisasi gerak yang telah dipastikan mendapat motif gerak, pengorganisasian ke dalam bentuk yang mendukung atau menyatu konsep, tema, dan struktur sehingga karya mampu memberikan kesimpulan yang jelas.gerak-gerak yang sudah didapat dari hasil improvisasi disusun dengan memperhatikan lebih detail lagi dari bagian satu ke bagian lainnya, agar dapat terbentuk karya yang siap pentas. Tidak hanya gerak, kesesuaian gerak dengan iringan, ekspresi, ruang dan waktu juga harus diperhatikan untuk kesempurnaan garapan.

Pada tahap ini, garapan tari kreasi Nyemprong secara umum telah terbentuk. Untuk menyempurnakannya, perlu dilakukan latihan secara rutin dengan pendukung tari. Selain latihan rutin, untuk lebih memantapkan ekspresi dan jiwa dari gerak dan musik iringan, penulis juga memberikan hasil rekaman musik iringan tari kepada masing-masing pendukung tari, dengan harapan agar pendukung tari sering mendengarkan musik iringan dari karya tari ini, sehingga dapat lebih menjiwai rasa iringan tari tersebut.

26 Foto 4. Nelesin, memantapkan ekspresi dan gerak

Foto oleh : Ida Bagus Putu Pradnyana Putra

Dalam proses nelesin secara berlanjut, disempurnakan terutama dari segi ekspresi, aksentuasi, gerak banyak dilakukan. Biasanya setelah melakukan bimbingan dengan dosen pembimbing karya serta saran dari teman, senior, maupun pendukung tari ada beberapa hal yang harus disempurnakan lagi dari segi ekspresi yang kurang menjiwai, dan kesamaan gerak masih ada yang belum sesuai dengan keinginan penulis. Selain pemantapan dari segi gerak, pada tahap pembentukan juga dilakukan penentuan tata rias dan busana, serta tata panggung dan pencahayaan sesuai konsep dan suasana karya.

27 3.5 Ngebah

Ngebah adalah pementasan pertama dari sebuah hasil karya tari bertujuan untuk mengevaluasi atau mengadakan perubahan-perubahan yang penting dalam karya tari. Evaluasi ini dilakukan mulai dari tema, kostum, iringan musik, penyatuan unsur-unsur gerak, mungkin ada beberapa gerak yang belum maksimal atau ketegasan gerak yang masih perlu diperjelas. Ngebah juga berperanan untuk memberikan motivasi atau menumbuhkan keyakinan dan meningkatkan mental penari dalam mengungkapkan rasa tari.

Foto 5. Ngebah, penari melakukan ngupin cangkem paon Foto oleh : I Komang Suryawan

28 Dalam tahap mengevalusi gerak yang disarankan untuk diperbaiki dan disempurnakan oleh pembimbing karya, penulis ingin mengikut saran dari pembimbing tersebut. Tetapi hal tersebut tidak dapat diperbaiki karena salah satu penari berangkat ke Singapura untuk menari bersama sanggarnya, penari yang lainnya juga harus mengikuti pembinaan tari di Kabupaten masing-masing dan waktu pembinaan berbeda-beda. Maka dari itu penulis hanya bisa memantapkan gerak yang sudah di uji cobakan pada hari Senin, 21 April 2014 di Gedung Natya Mandala, Institut Seni Indonesia Denpasar, pukul 19.00 WITA.

Foto 6. Ngebah, melakukan gerakan dengan menggunakan alat semprong Foto oleh : I Komang Suryawan

29

BAB IV

Dalam dokumen SKRIP KARYA SENI NYEMPRONG (Halaman 33-48)

Dokumen terkait