• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menua atau menjadi tua bukanlah suatu penyakit yang ditakuti tetapi merupakan hal alamiah yang pasti akan dialami oleh semua manusia. Menua merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun dari luar tubuh. Proses menua sebenarnya sudah mulai berlangsung sejak seseorang mencapai usia dewasa karena proses menua ini menghinggapi seseorang dimulai dari rusaknya syaraf tubuh, jaringan kulit dan lainnya sehingga tubuh mati sedikit demi sedikit.

Proses menua menurut Constantindes adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita(Azizah, 2011: 7).

2.6.1 Teori – Teori Proses Menua

Teori penuaan secara umum dapat dibedakan menjadi dua teori yaitu teori penuaan secara biologi dan teori penuaan secara psikososial. Dalam teori biologi, proses penuaan bisa terjadi karena beberapa hal seperti teori seluler, teori genetic clock, sintesis protein, keracunan oksigen, berkurangnya sistem imun, mutasi somatik, proses metabolisme tubuh yang berkurang serta teori tentang radikal bebas dimana teori – teori ini lebih mendalam dibahas oleh ilmu-ilmu kesehatan(Kosasih, 2002: 100).

Selain teori biologi, proses penuaan juga bisa dilihat dari teori psikososialnya. Nugroho dan Kuntjoro(dalam Azizah, 2011: 10-11) memaparkan teori penuaan secara psikososial. Pembahasan tentang teori psikososial adalah sebagai berikut :

1. Aktivitas atau Kegiatan(Activity Theory). Seseorang yang dimasa mudanya aktif dan terus memelihara keaktifannya setelah menua, sense integrity yang dibangun dimasa mudanya tetap terpelihara sampai tua. Teori ini menyatakan bahwa lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial. Ukuran optimum(pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari usia lanjut. Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia.

2. Kepribadian berlanjut(Continuity Theory)

Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Identitas pada lansia yang mantap memudahkan dalam memelihara hubungan dengan masyarakat, keluarga dan hubungan interpersonal. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimilikinya.

3. Teori Pembebasan(Disengagement Theory)

Putusnya pergaulan atau hubungan dengan masyarakat dan kemunduran individu dengan individu lainnya. Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara pelan tapi pasti mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan di sekitarnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjadi kehilangan ganda(triple

loss), yakni: kehilangan peran(loss of role), hambatan kontak sosial(restriction of contacts and relationships) dan berkurangnya komitmen(reduced commitment to social mores an values).

2.6.2. Perubahan-Perubahan Yang Terjadi Pada Lanjut Usia

Perkembangan hidup manusia dimulai sejak janin dalam kandungan, memasuki masa bayi, menjadi remaja, memasuki proses dewasa dan kemudian menjadi tua atau lanjut usia. menjadi lanjut usia adalah proses alami yang tidak dapat dihindari oleh siapapun. Proses menjadi lanjut usia selalu ditandai dengan kemunduran-kemunduran yang berupa perubahan fungsi dari anggota tubuh maupun didalam tubuh. Akibatnya, dapat menimbulkan masalah yang akan banyak mempengaruhi kegiatan sehari-hari para lanjut usia.

Perubahan perubahan yang terjadi pada lanjut usia dibagi menjadi dua bagian, yaitu perubahan yang terjadi pada kondisi fisik lansia dan kondisi psikis atau psikososial lansia.

1. Perubahan fisik.

a. Penurunan sistem syaraf dan panca indera. Pada sistem syaraf dan panca indera perubahan yang terjadi pada lanjut usia berupa :

 Kemunduran fungsi mata, telinga dan hidung sehingga menimbulkan ganggaun penglihatan, pendengaran dan penciuman

 Kemunduran daya ingat sehingga menjadi sering lupa atau pikun

 Kemunduran urat syaraf sehingga reaksi dan gerakan menjadi lamban dan kadang-kadang tidak terkontrol

 Gangguan tubuh sehingga cara berjalan menjadi tidak seimbang b. Sistem peredaran darah dan jantung. Perubahan yang terjadi berupa :

 Tekanan darah yang kadang meningkat atau menurun sehingga menyebabkan tekanan darah tinggi atau tekanan darah rendah.

 Penyumbatan pembuluh darah pada otak yang akan menyebabkan nyeri dada dan berdebar-debar

 Penyumbatan pembuluh darah pada otak yang akan menyebabkan kelumpuhan

c. Sistem pernafasan. Perubahan elastisitas otot-otot pernafasan dan paru-paru yang dapat menyebabkan sesak nafas dan batuk-batuk.

 Gigi yang mulai ompong sehingga menyebabkan sulit mengunyah makanan dan menyebabkan nafsu makan berkurang

 Kemunduran fungsi pengecap lidah  Kemunduran fungsi saluran pencernaan

d. Sistem otot dan sendi

 Tulang mudah keropos dan mudah patah sehingga menyebabkan nyeri sendi dan rasa sakit pada otot tertentu

 Otot menjadi lemah dan mengecil sehingga menyebabkan fisik menjadi lemah

e. Sistem saluran kemih atau kelamin. Kemunduran fungsi ginjal sehingga menyebabkan sering kencing atau pendarahan dalam air kencing.

2. Perubahan psikis

Kondisi psikis adalah keadaan mutlak seseorang atau kejiwaan seseorang. Kondisi psikis mencakup : kemampuan berpikir, emosi atau perasaan, sikap dan perilaku. Pada umumnya lansia mengalami perubahan fungsi psikisnya, baik dari segi kemampuan berpikir, emosi atau perasaan,sikap dan perilakunya. Emosi atau perasaan yang dimiliki lanjut usia kadang tidak stabil. Terkadang lanjut usia sering timbul perasaan tidak berguna dan tidak dibutuhkan oleh orang lain, oleh karena itu sering muncul keinginan lanjut usia untuk menunjukkan eksistensinya dihadapan orang lain. Selain itu sikap dan perilaku lanjut usia juga mengalami perubahan – perubahan. Dikarenakan kemunduran psikomotorik sehingga kondisi badan tidak terkoordinasi dengan baik, membuat para lanjut usia menarik diri dalam mejalin hubungan sosial serta mengurangi partisipasinya dalam hubungan sosialnya(modul bina keluarga lansia,2006: 46).

3. Perubahan Spiritual

Agama atau kepercayaan lanjut usia makin berintegrasi dalam kehidupannya. Lansia makin teratur dalam kehidupan keagamaannya. Hal ini dapat dilihat dalam berpikir

dan bertindak sehari-hari. Spiritualitas pada lanjut usia bersifat universal, intrinsik dan merupakan proses individual yang berkembang sepanjang rentang kehidupan. Karena aliran siklus kehilangan terdapat pada kehidupan lansia, keseimbangan hidup tersebut dipertahankan sebagian oleh efek positif dari kehilangan tersebut. Lansia yang telah mempelajari cara menghadapi perubahan hidup melalui mekanisme keimanan akhirnya dihadapkan pada tantangan akhir yaitu kematian. Harapan memungkinkan individu dengan keimanan spiritual atau religius untuk bersiap menghadapi krisis kehilangan dalam hidup sampai kematian. Satu hal pada lansia yang diketahui sedikit berbeda dari orang yang lebih muda yaitu sikap mereka terhadap kematian. Hal ini menunjukkan bahwa lanjut usia cenderung tidak terlalu takut terhadap konsep dan realitas kematian(Azizah, 2011: 16).

Dokumen terkait