Proses Pembebasan tanah di awali dengan adanya permintaan akan kebutuhan tanah untuk pembangunan bagi kepentingan umum oleh instansi yang memerlukan tanah. Sesuai pasal 8 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2007 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 disebutkan :
“Setelah diterimanya keputusan penetapan lokasi, instansi pemerintah yang memerlukan tanah dalam waktu 14 (empat belas) hari wajib mempublikasikan rencana pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum kepada masyarakat, dengan cara sosialisasi :
a. Langsung; dan
b. Tidak langsung, dengan menggunakan media cetak, media elektronika, atau media lainnya.”65
Kegiatan Pembebasan Tanah adalah melepaskan hubungan hukum yang semula terdapat di antara pemegang hak/penguasa atas tanahnya dengan cara memberikan ganti rugi. Menurut Muhammad Yamin, pengertian tersebut secara
64 Marzaini, Kepala Bagian Administrasi Pertanahan Setdakab Aceh Timur, Wawancara, tanggal 10 April 2012.
65Lihat Pasal 8 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2007.
tersirat ada kesan bahwa pembebasan tanah merupakan tindakan sepihak dari Pemerintah (melalui Panitia Pengadaan Tanah) kepada pemegang hak atas tanah, memang dalam pasal-pasal berikutnya ada kata-kata “berdasarkan asas musyawarah” (pasal 1 angka 3), “mengadakan perundingan dengan para pemegang hak” (Pasal 3) atau “harus mengadakan musyawarah dengan para pemilik/pemegang hak atas tanah” (Pasal 6 ayat (1), namun dari musyawarah tersebut tidak ada kata “sepakat dengan pemilik tanah”, tetapi kata sepakat hanya ada diantara anggota panitia, sedang para pemegang hak atas tanah hanya “diperhatikan kehendaknya” Pasal 6 ayat (3).66
Pembebasan tanah untuk Pembangunan Pusat Pemerintahan Kabupaten Aceh Timur seluas 55 Hektar oleh Panitia Pengadaan Tanah terlebih dahulu dengan pelepasan atau penyerahan hak atas tanah. Pelepasan atau penyerahan hak atas tanah yang dimaksud pasal 1 angka 6 Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 adalah kegiatan melepaskan hubungan hukum antara pemegang hak atas tanah dengan tanah yang dikuasainya dengan memberikan ganti rugi atas dasar musyawarah.
Pelepasan atau penyerahan hak atas tanah untuk pembangunan pusat Pemerintahan Kabupaten Aceh Timur luasnya melebihi 1 Hektar, maka panitia pengadaan tanah harus menerima persetujuan Bupati Aceh Timur dalam penetapan lokasi untuk kepentingan umum. Bagian Administrasi Pertanahan Setdakab Aceh Timur mengajukan permohonan pengadaan tanah kepada panitia pengadaan tanah dengan melampirkan keputusan penetapan izin lokasi dari Bupati Aceh Timur. Lalu panitia pengadaan tanah mengundang instansi pemerintah yang memerlukan tanah untuk persiapan pelaksanaan pembebasan tanah.
Identifikasi dan Inventarisasi sangat diperlukan dalam pengadaan tanah untuk kepentingan umum agar dapat menetapkan batas lokasi tanah yang terkena pembangunan, mengenai bidang-bidang tanah, termasuk bangunan, tanaman dan atau benda-benda lain yang terkait dengan tanah yang bersangkutan. Untuk mengetahui luas, status, pemegang hak dan penggunaan tanah, penyelidikan riwayat, penguasaan dan penggunaan tanah oleh petugas dan Kantor Badan Pertanahan Kabupaten Aceh Timur. Selanjutnya panitia pengadaan tanah melakukan kegiatan identifikasi dan inventarisasi mengenai bidang-bidang tanah, termasuk bangunan, tanaman, dan benda-benda lain yang terkait dengan tanah sejalan diatur dalam pasal 20 sampai dengan pasal 24 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2007. Pasal 20 angka (1) dan (2) menyebutkan :
“ (1) Dalam hal rencana pembangunan diterima masyarakat sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat (3) huruf a, maka Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten/Kota melakukan identifikasi dan inventarisasi atas penguasaan, penggunaan dan pemilikan tanah dan/atau bangunan dan/atau tanaman da n/atau benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah.
(2) Identifikasi dan Inventarisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi kegiatan :
a. Penunjukan batas;
b. Pengukuran bidang tanah dan/atau bangunan;
c. Pemetaan bidang tanah dan/atau bangunan dan keliling batas bidang tanah; d. Penetapan batas-batas bidang tanah dan/atau bangunan;
f. Pendataan status tanah dan/atau bangunan;
g. Pendataan penguasaan dan pemilikan tanah dan/atau bangunan dan/atau tanaman;
h. Pendataan bukti-bukti penguasaan dan pemilikan tanah dan/atau bangunan dan/atau tanaman; dan
i. Lainnya yang dianggap perlu.”
Hasil pelaksanaan identifikasi dan inventarisasi dituangkan dalam bentuk Peta Bidang Tanah dan Daftar dan oleh Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten Aceh Timur diumumkan dikantor Geuchik Titi Baro dan Seunebok Teungoh dan Kantor Pertanahan Kabupaten Aceh Timur, guna memberikan kesempatan bagi pihak yang berkepentingan untuk mengajukan keberatan.
Apabila terdapat keberatan dari para pihak, maka Panitia Pengadaan Tanah meneliti dan menilai keberatan tersebut. Untuk keberatan yang dapat dipertanggungjawabkan, Panitia Pengadaan tanah Kabupaten mengadakan perubahan/koreksi sebagaimana mestinya dan untuk keberatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten melanjutkan proses pengadaan tanah.
Keberatan mengenai sengketa kepemilikan, dan/atau penguasaan/penggunaan atas tanah dan/atau bangunan dan/atau tanaman dan/atau benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah, Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten mengupayakan penyelesaian melalui musyawarah..67
67Marzaini, Kabag. Administrasi Pertanahan Setdakab Aceh Timur, Wawancara, tanggal 10 April 2012.
“Menurut Maria S.W. Sumardjono, Penetapan ganti kerugian untuk bangunan dan tanaman relatif lebih mudah dibandingkan dengan tanah, karena disamping nilai nyata tanah yang didasarkan pada NJOP tahun terakhir, terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi harga tanah. Faktor-faktor tersebut adalah lokasi, jenis hak atas tanah, status penguasaan atas tanah, peruntukan tanah, kesesuaian dengan rencana tata ruang wilayah, prasarana, fasilitas dan unilitas, lingkungan, dan faktor-faktor lain. Sudah tentu pemegang hak harus sangat berhati-hati dalam menyampaikan keinginan terhadap besarnya ganti kerugian terhadap tanahnya.”68
Panitia Pengadaan Tanah dalam melaksanakan pembebasan tanah untuk kepentingan umum berupaya meminimalisasi persoalan dengan prinsip penghormatan terhadap hak-hak atas tanah yang sah dan kepastian hukum berdasarkan pasal 6 Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005.
3. Proses Pelaksanaan Musyawarah dalam Penetapan Harga Ganti Rugi Tanah