• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN

3. Pemahaman Guru SDI Moncongan Terhadap Implementasi Sistem Kelas Tuntas Berkelanjutan (SKTB)

3.4. Proses Pembelajaran Kelas Tuntas Berkelanjutan (KTB)

Pada prinsipnya, dalam pembelajaran tuntas berkelanjutan hendaknya berlangsung sebagai proses atau usaha yang dilakukan peserta didik untuk memperoleh suatu perubahanti ngkah laku sebagai hasil pengalaman individu beriteraksi dengan lingkungannya. Perubahan Hasil belajar peserta didik dalam proses pembelajaran tuntas berkelanjutan berupa perubahan tingkah laku yang disadari, kontinu, fungsional, positif, tetap, bertujuan, dan komprehensif. Beberapa ciri perubahan dalam diri peserta didik yang perlu diperhatikan guru antara lain: tingkah laku yang terjadi dalam diri individu banyak ragamnya baik sifatnya maupun jenisnya. Karena itu tidak semua perubahan dalam diri individu merupakan perubahan dalam arti belajar. Jika tangan seorang anak bengkok karena jatuh dari sepada motor, maka perubahan seperti itu tidak dapat dikategorikan sebagai perubahan hasil belajar.

a. Perubahan tingkah laku harus disadari peserta didik.

Setiap individu yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan tingkah laku atau sekurang-kurangnya merasakan telah terjadi perubahan dalam dirinya.

76 Sebagai misal, seseorang merasa pengetahuannya bertambah, kecakapannya bertambah, keterampilanya, bertambah, kemahirannya bertambah dan sebagainya.

b. Perubahan tingkah laku dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional

Perubahan yang terjadi dalam diri individu berlangsung terus menerus dan tidak statis. Satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya. Misalnya jika seseorang anak belajar menulis, maka ia akan memahami perubahan dari tidak dapat menulis menjadi dapat menulis. Perubahan ini berlangsung terus hingga kecakapan menulisnya menjadi lebih baik. Ia dapat menulis indah, dapat menulis dengan pulpen, dengan pensil, kapur tulis dan sebagainya. Di samping itu dengan kecakapan menulis ia dapat memperoleh kecakapan lain seperti dapat menulis surat, menyalin catatan, mengarang, mengerjakan soal dan sebagainya.

c. Perubahan tingkah laku dalam belajar bersifat positif dan aktif.

Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan senantiasa bertambah dan tertuju pada pemerolehan yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian makin banyak usaha belajar dilakukan makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh. Perubahan yang bersifat aktif artinya perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha individu sendiri.

d. Perubahan tingkah laku dalam belajar tidak bersifat sementara.

Perubahan yang bersifat sementara atau temporer terjadi hanya untuk beberapa saat saja, seperti berkeringat, keluar air mata, bersin dan dan sebagainya,

77 tidak dapat dikategorikan sebagai perubahan dalam arti belajar. Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen. Itu berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap. Misalnya kecakapan seseorang memainkan piano setelah belajar, tidak akan hilang begitu saja melainkan akan terus dimikili bahkan akan makin berkembang jika terus dipergunakan atau dilatih.

e. Perubahan tingkah laku dalam belajar bertujuan.

Perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai. Perbuatan belajar terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-Benar disadari. Misalnya seorang yang belajar komputer, sebelumnya sudah menetapkan apa yang dapat dicapai dengan belajar komputer. Dengan demikian perbuatan belajar yang dilakukan senantiasa terarah kepada tingkah laku yang telah ditetapkan.

f. Perubahan tingkah laku mencakup seluruh aspek tingkah laku.

Perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika individu belajar sesuatu, sebagai hasilnya mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, keterampilan, pengetahuan dan sebagainya. Sebagai contoh, jika seorang anak telah belajar naik sepeda, maka perubahan yang paling nampak adalah dalam keterampilan naik sepeda. Akan tetapi ia telah mengalami perubahan lainnya seperti pemahaman tentang fungsi sadel, pemahaman tentang alat-alat sepeda, ingin punya sepeda dan sebagainya. Jadi aspek perubahan tingkah laku

78 berhubungan erat dengan aspek lainnya. Pengetahuan mutakhir proses belajar diperoleh dari kajian pengolahan informasi, neurofisiologi, neuropsikologi dan sain kognitif.

Pembelajaran yang mendidik adalah pembelajaran yang menekankan proses membelajarkan peserta didik bagaimana belajar (learning how to learn). Pembelajaran yang mendidik memiliki beberapa karakteristik, antara lain:

1) Menekankan proses membelajarkan bagaimana belajar (learning how to learn);

2) Mengutamakan strategi yang mendorong dan melancarkan proses belajar peserta didik;

3) Diarahkan untuk membantu peserta didik agar berkecakapan mencari jawab atas suatu persoalan atau pertanyaan; dan

4) Bukan menyampaikan informasi langsung kepada peserta didik.

Kenyataan menunjukkan bahwa pada umumnya guru mempersepsi dan memaknai pembelajaran sebagai (a) menyampaikan berbagai pengetahuan bidang studi dengan peserta didik lain secara efektif dan efisien, (b) mencipta dan memelihara relasi antara pribadi antara guru dengan peserta didik serta mengembangkan kebutuhan bertumbuh-kembang di bidang kehidupan yang dibutuhkan peserta didik, dan (c) menerapkan kecakapan teknis dalam mengelola sekaligus sejumlah peserta didik yang belajar.

Pembelajaran yang mendidik akan berlangsung dengan baik apabila kondisi dan suasana belajar memungkinkan peserta didik terlibat secara aktif dan

79 proaktif. Penciptaan kondisi dan suasana belajar yang memungkinkan peserta didik dapat berusaha atas inisiatifnya sendiri berkaitan dengan hal-hal yang harus dialami selama proses pembelajaran berlangsung. Artinya, kondisi dan suasana belajar akan dapat diciptakan apabila telah dirancang sejumlah pengalaman belajar yang harus dilakukan peserta didik. Rancangan program pembelajaran yang mendidik dan sistem asesmen yang tepat perlu diidentifikasi berdasarkan karakteristik tertentu, yang meliputi hal-hal berikut ini:

a. Hasil belajar peserta didik dinyatakan dengan kompetensi atau kemampuan yang dapat didemonstrasikan, ditampilkan, atau dapat diobservasi indokator-indikatornya;

b. Kecepatan belajar peserta didik berbeda dalam mencapai ketuntasan belajar;

c. Asesmen hasil belajar menggunakan acuan kriteria; dan d. Adanya program pembelajaran remediasi dan pengayaan.

Langkah-langkah minimal yang harus dipenuhi pada setiap unsur kegiatan pembelajaran KTB, adalah sebagai berikut:

a. Kegiatan Pendahuluan

1) Orientasi: memusatkan perhatian peserta didik pada materi yang akan dibelajarkan, dengan cara menunjukkan benda yang menarik, memberikan illustrasi, membaca berita di surat kabar, menampilkan slide animasi dan sebagainya.

80 2) Apersepsi: memberikan persepsi awal kepada peserta didik tentang materi

yang akan diajarkan.

3) Motivasi: Guru memberikan gambaran manfaat mempelajari gempa bumi, bidang-bidang pekerjaan berkaitan dengan gempa bumi, dsb.

4) Pemberian Acuan: biasanya berkaitan dengan kajian ilmu yang akan dipelajari. Acuan dapat berupa penjelasan materi pokok dan uraian materi pelajaran secara garis besar.

5) Pembagian kelompok belajar dan penjelasan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar (sesuai dengan rencana langkah-langkah pembelajaran).

b. Kegiatan Inti

Berisi langkah-langkah sistematis yang dilalui peserta didik untuk dapat mengkonstruksi ilmu sesuai dengan skemata (frame work) masing-masing. Langkah-langkah tersebut disusun sedemikian rupa agar peserta didik dapat menunjukkan perubahan perilaku sebagaimana dituangkan pada tujuan pembelajaran dan indikator. Untuk memudahkan, biasanya kegiatan inti dilengkapi dengan Lembaran Kerja Siswa (LKS), baik yang berjenis cetak atau noncetak.

c. Kegiatan penutup

1. Guru mengarahkan peserta didik untuk membuat rangkuman/simpulan. 2. Guru memeriksa hasil belajar peserta didik. Dapat dengan memberikan tes

81 simpulan yang telah disusun atau dalam bentuk tanya jawab dengan mengambil ± 25% peserta didik sebagai sampelnya.

3. Memberikan arahan tindak lanjut pembelajaran, dapat berupa kegiatan di luar kelas, di rumah atau tugas sebagai bagian remedial/pengayaan.

Dalam proses pembelajaran guru dapat memanfaatkan sumber belajar dilingkungan sekolah, baik itu sumberbelajar lingkungan fisik di masyarakat, dan atau sumber belajar manusia yang mempunyai keterkaitan fungsional dengan KD yang sedah diajarkan, misalnya petani, nelayan, pedagang, dokter, polisi dan lain sebagainya. Pemanfaatan sumber belajar di masyarakat (baik sumber belajar fisik maupun sumber belajar manusia atau non-fisik) ini sangat mendukung efektifnya penyelenggaraan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL), sehingga pembelajaran dapat lebih bermagna bagi peserta didik.

Sedangkan upaya lain yang seharusnya dillakukan guru dalam rangka meningkatan kualitas pembelajaran adalah melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), suatu kajian secara sistematis dan terencana yang dilakukan oleh guru untuk memperbai pembelajaran di kelasnya, dengan jalan mengadakan perbaikan atau perubahan dan mempelajari akibat yang ditimbulkannya. Esensi dari penelitian tindakan kelas terletak pada adanya tindakan praktisi dalam situasi yang alami atau faktual untuk memecahkan permasalahan-permasalahan praktis atau meningkatkan kualitas praktik. Dalam bidang pendidikan, penelitian tindakan dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan pemikiran dan peningkatan pengetahuan serta praktik kependidikan dan pengajaran. Hasil penelitian

diguna-82 kan untuk mengembangkan sekolah dan kelas serta artikulasi secara tepat dan justifikasi terhadap rasionalisasi pendidikan yang dilakukan.