• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : TINJAUAN UMUM TERHADAP GADAI

B. Proses Pemberian gadai

Kitab Undang-undang Hukum Perdata tidak memberikan suatu formalitas tertentu bagi pemberian gadai. Dengan rumusan pasal 1151 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, yang menyatakan bahwa :

“Persetujuan gadai dibuktikan dengan segala alat yang diperbolehkan bagi pembuktian persetujuan pokoknya.”

11

Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Seri Hukum Harta Kekayaan : Hak Istimewa,

Gadai dan Hipotek, Kencana, Jakarta, 2005, hal 71.

12

Nazariah : Penyalahgunaan Hak Atas Benda Jaminan yang Dikaitkan dengan Gadai, 2008. USU Repository © 2009

Dapat diketahui bahwa pemberian gadai harus mengikuti suatu perjanjian pokok. Dalam hal perjanjian pokok yang menjadi dasar pemberian gadai adalah suatu perjanjian yang tidak memerlukan suatu bentuk formalitas bagi sahnya perjanjian pokok teresbut, maka berarti gadai juga dapat diberikan dengan cara yang sama, yaitu menurut ketentuan yang berlaku bagi sahnya perjanjian pokok tersebut. Dengan demikian berarti sahnya suatu pemberian gadai harus memenuhi syarat sahnya suatu perjanjian secara umum sebagaimana diatur dalam pasal 1320 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.13

a. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya.

Pasal 1320 Kitab Undang-undang Hukum Perdata mengatur mengenai syarat sahnya perjanjian. Dengan rumusan yang menyatakan bahwa :

Untuk sahnya perjanjian-perjanjian, diperlukan empat syarat : b. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan.

c. Suatu hal tertentu.

d. Suatu sebab yang tidak terlarang.

Ilmu hukum selanjutnya membedakan keempat hal tersebut ke dalam dua syarat, yaitu syarat subjektif dan syarat objektif.14

1) Adanya kesepakatan dari mereka yang mengikatkan diri. a. Pemenuhan syarat subjektif pemberian gadai

Sebagai suatu bentuk perjanjian, maka pemberian gadai harus memenuhi syarat subjektif sahnya perjanjian. Sebagaimana dilihat dari rumusan pasal 1320 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, syarat subjektif sahnya perjanjian dapat dibedakan kedalam dua hal pokok, yaitu :

2) Adanya kesepakatan dari para pihak untuk membuat perikatan.15

13 Ibid, hal 73. 14 Ibid.

Nazariah : Penyalahgunaan Hak Atas Benda Jaminan yang Dikaitkan dengan Gadai, 2008. USU Repository © 2009

Keterangan :

1) Tentang kesepakatan untuk memberikan gadai.

Kesepakatan merupakan perwujudan dari kehendak dua atau lebih pihak mengenai hal-hal yang mereka kehendaki untuk dilaksanakan, mengenai cara melaksanakannya, saat pelaksanaannya, dan mengenai pihak yang berkewajiban untuk melaksanakan hal-hal yang telah disepakati tersebut.16

Sebelum kesepakatan tercapai di antara para pihak, maka pada umumnya diantara para pihak akan terlebih dahulu dilakukan pembicaraan atau yang umumnya dinamakan negosiasi. Dalam negosiasi tersebut salah satu atau lebih pihak akan menyampaikan terlebih dahulu suatu bentuk pernyataan mengenai hal-hal yang dikehendaki oleh pihak tersebut dengan segala macam persyaratan yang mungkin dan diperkenankan oleh hukum untuk disepakati oleh para pihak.17

Pernyataan yang disampaikan tersebut dikenal dengan nama “penawaran”. Jadi penawaran itu berisikan kehendak dari salah satu atau lebih pihak dalam perjanjian yang disampaikan kepada lawan pihaknya tersebut, yang nantinya akan terwujud sebagai perjanjian yang mengikat kedua belah pihak. Pihak lawan dari pihak yang melakukan penawaran selanjutnya harus menentukan apakah ia akan menerima penawaran yang disampaikan oleh pihak yang melakukan penawaran tersebut. Dalam hal pihak lawan dari pihak yang melakukan penawaran, menerima penawaran yang diberikan, maka tercapailah kesepakatan tersebut.18

15 Ibid. 16 Ibid, hal 74. 17 Ibid. 18 Ibid.

Nazariah : Penyalahgunaan Hak Atas Benda Jaminan yang Dikaitkan dengan Gadai, 2008. USU Repository © 2009

Sedangkan jika pihak lawan dari pihak yang melakukan penawaran tidak menyetujui hal tersebut, maka ia dapat melakukan penawaran balik, yang memuat ketentuan-ketentuan yang dianggap dapat dipenuhi, atau yang sesuai kehendaknya, yang dapat dilaksanakan, dipenuhi atau diterima olehnya. Dalam hal demikian maka kesepakatan belum tercapai. Keadaan tawar menawar ini akan terus berlanjut hingga pada akhirnya kedua belah pihak mencapai kesepakatan mengenai hal-hal yang harus dipenuhi dan dilaksanakan oleh para pihak dalam perjanjian tersebut. Saat penerimaan yang paling akhir dari serangkaian penawaran atau bahkan tawar menawar yang disampaikan dan dimajukan oleh para pihak secara bertimbal balik adalah saat terjadinya kesepakatan.19

Gadai adalah suatu perjanjian riil, oleh karena sebagaimana ditentukan dalam pengertian gadai itu sendiri, gadai hanya ada, manakala benda yang akan digadaikan secara fisik telah dikeluarkan dari kekuasaan pemberi gadai. Pengeluaran benda yang digadaikan dari kekuasaan pemberi gadai ini bersifat mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar. Pengeluaran benda yang digadaikan dari kekuasaan pemberi gadai dapat dilakukan , baik dengan menyerahkan kekuasaan atas benda yang digadaikan tersebut kepada kreditur atau pihak ketiga, untuk kepentingan kreditur sebagai pemegang gadai. Kesepakatan untuk memberikan gadai tidak dengan begitu saja melahirkan gadai, melainkan sampai perbuatan pengeluaran benda gadai dari kekuasaan debitur atau pemberi gadai dilakukan.20

19 Ibid, hal 75. 20 Ibid. Pasal 1152 Kitab Undang-undang Hukum Perdata menentukan bahwa :

Nazariah : Penyalahgunaan Hak Atas Benda Jaminan yang Dikaitkan dengan Gadai, 2008. USU Repository © 2009

Hak gadai atas benda-benda bergerak dan atas piutang-piutang bawa diletakkan dengan membawa barang gadainya dibawah kekuasaan kreditur atau seorang pihak ketiga, tentang siapa telah disetujui oleh kedua belah pihak.

Tak sah adalah hak gadai atas segala benda yang dibiarkan tetap dalam kekuasaan debitur atau pemberi gadai, ataupun yang kembali atas kemauan kreditur.

Hak gadai hapus, apabila barang gadainya keluar dari kekuasaan penerima gadai. Apabila namun itu barang tersebut hilang dari tangan penerima gadai ini atau dicuri daripadanya, maka hendaklah ia menuntutnya kembali, sebagaimana disebutkan dalam pasal 1977 ayat kedua, sedangkan apabila barang gadai didapatnya kembali, hak gadai dianggap tidak pernah hilang.

Hal tidak berkuasanya pemberi gadai untuk bertindak bebas dengan barang gadainya, tidaklah dapat dipertanggung jawabkan kepada kreditur yang telah menerima barang tersebut dalam gadai, dengan tak mengurangi hak yang kehilangan atau kecurian barang itu, untuk menuntutnya kembali.

Perlunya benda yang digadaikan dikeluarkan dari penguasaan debitur atau pihak ketiga yang memberikan benda tersebut sebagai jaminan dalam bentuk gadai, adalah karena sifat dari benda bergerak itu sendiri, yang menurut ketentuan pasal 1977 ayat (1) Kitab Undang-undang Hukum Perdata, yang berbunyi :

“Terhadap benda bergerak yang tidak berupa bunga maupun piutang yang tidak harus dibayar kepada pembawa, maka barang siapa yang menguasainya dianggap sebagai pemiliknya.”

Dengan demikian berarti, selama benda tersebut tidak dikeluarkan dari penguasaan pemberi gadai, maka pemberi gadai, selaku pemilik dari benda tersebut, yang menurut ketentuan pasal 1977 ayat (1) Kitab Undang-undang Hukum Perdata jo pasal 572 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, dapat setiap

Nazariah : Penyalahgunaan Hak Atas Benda Jaminan yang Dikaitkan dengan Gadai, 2008. USU Repository © 2009

saat menjual atau mengalihkan kepemilikan atas benda yang digadaikan tersebut. Hal ini tentu saja menjadikan gadai menjadi tidak ada artinya sama sekali.21

Dengan demikian tepatlah jika dikatakan bahwa “Tak sah adalah hak

gadai atas segala benda yang dibiarkan tetap dalam kekuasaan debitur atau pemberi gadai, ataupun yang kembali atas kemauan kreditur”, dan bahwa “Hak gadai hapus, apabila barangnya gadai keluar dari kekuasaan penerima gadai”.

Penerima gadai atau pemegang gadai berkewajiban untuk menjaga dengan baik, benda yang digadaikan, yang berada dalam penguasaannya. Dalam hal benda gadai hilang dari penguasaan penerima gadai, karena kemauan penerima gadai sendiri, maka sudah selayaknya jika gadai tersebut hapus demi hukum, dengan tidak menutup kemungkinan pemilik benda yang menyerahkan benda tersebut sebagai jaminan dalam bentuk gadai (pemberi gadai), untuk menuntut kerugian yang terjadi.22

Jadi sebagai suatu bentuk perjanjian yang riil, kesepakatan pemberi gadai lahir pada saat barang atau benda yang hendak dijaminkan dalam bentuk gadai diserahkan oleh, dengan pengertian dikeluarkan penguasaannya dari pemilik benda tersebut sebagai pemberi gadai, yang dapat saja merupakan kreditur atau pihak ketiga yang telah disepakati secara bersama oleh kreditur dan pemberi gadai. Adanya kesepakatan dibuktikan dengan dikeluarkannya benda gadai dari penguasaan pemilik benda tersebut.23

21 Ibid, hal 76. 22 Ibid, hal 78. 23 Ibid, hal 79.

Nazariah : Penyalahgunaan Hak Atas Benda Jaminan yang Dikaitkan dengan Gadai, 2008. USU Repository © 2009

Selain benda bergerak yang berwujud dan piutang-piutang kepada pembawa, ketentuan pasal 1152 bis Kitab Undang-undang Hukum Perdata menentukan lebih lanjut :

“Untuk meletakkan hak gadai atas surat-surat tunjuk diperlukan, selainnya endosemennya, penyerahan suratnya.”

Dan pasal 1153 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, yang berbunyi : “Hak gadai atas benda-benda bergerak yang tak bertubuh, kecuali surat-surat tunjuk atau surat-surat-surat-surat bawa, diletakkan dengan pemberitahuan perihal penggadaiannya, kepada orang terhadap siapa hak yang digadaikan itu harus dilaksanakan. Oleh orang ini, tentang hal pemberitahuan tersebut serta tentang izinnya pemberi gadai dapat dimintanya suatu bukti tertulis.” Dari ketentuan tersebut diatas, dapat diketahui bahwa :

a) Terhadap piutang atas tunjuk, maka harus dilakukan endosemen atau penyerahan surat piutang atas tunjuk tersebut oleh pemberi gadai, selaku pemilik piutang atas nama tersebut, kepada kreditur atau pihak ketiga yang disetujui bersama, sebagai penerima gadai. Perlu diperhatikan bahwa endosemen dan penyerahan disini tidak dimaksudkan untuk mengalihkan atau menyerahkan hak milik atas piutang atas tunjuk tersebut, melainkan hanya sebagai jaminan utang dalam bentuk gadai. Ini berarti ketentuan Pasal 584 jo. Pasal 613 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tidak berlaku.24

b) Terhadap piutang atas nama, maka gadai baru berlaku manakala

pemberitahuan, kepada siapa gadai dilaksanakan, telah dilakukan. Kitab

24

Nazariah : Penyalahgunaan Hak Atas Benda Jaminan yang Dikaitkan dengan Gadai, 2008. USU Repository © 2009

Undang-Undang Hukum Perdata tidak menentukan pemberitahuan tersebut. Dengan demikian, maka pemberitahuan tersebut dapat dilakukan secara lisan. Selanjutnya menunjuk pada rumusan : “Oleh orang ini (orang terhadap siapa

yang digadaikan itu harus dilaksanakan), tentang hal pemberitahuan tersebut serta tentang izinnya pemberi gadai dapat dimintanya suatu bukti tertulis”,

dapat dikatakan bahwa pemberitahuan mengenai adanya gadai disampaikan oleh penerima gadai, dengan persetujuan atau izin dari pemberi gadai. Dalam hal tidak ternyata adanya izin dari pemberi gadai, maka orang terhadap siapa gadai harus dilaksanakan, dapat meminta bukti tertulis sehubungan dengan janji pemberian gadai tersebut oleh pemberi gadai kepada penerima gadai. Ketentuan ini secara prinsip berbeda dari cessie, sebagai suatu bentuk levering yang dilakasanakn menurut pasal 613 ayat (1) Kitab Undang-undang Hukum Perdata, yang telah sah pada saat akta cessie dibuat. Pemberitahuan menurut pasal 613 ayat (2) Kitab Undang-undang Hukum Perdata hanyalah merupakan syarat terikatnya debitur dengan pengalihan piutang atas nama tersebut.25

Perlu diperhatikan ketentuan gadai saham sebagaimana diatur dalam Undang-undang Perseroan Terbatas Pasal 53 yang pada pokoknya mengatur bahwa saham baik saham atas tunjuk (aantonder) maupun saham atas nama dapat digadaikan. Gadai saham harus dicatat dalam Daftar Pemegang Saham oleh pihak yang ditunjuk dalam Anggaran Dasar Perseroan Terbatas, yaitu

25 Ibid.

Nazariah : Penyalahgunaan Hak Atas Benda Jaminan yang Dikaitkan dengan Gadai, 2008. USU Repository © 2009

biasanya Direksi. Direksi baru dapat mencatat gadai saham dalam Daftar Pemegang Saham jika ia telah diberi tahu adanya gadai tersebut.26

Adanya kecakapan untuk bertindak dalam hukum merupakan syarat subjektif kedua terbentuknya perjanjian yang sah diantara para pihak. Kecakapan bertindak ini dalam banyak hal berhubungan dengan masalah kewenangan bertindak dalam hukum. Meskipun kedua hal tersebut secara prinsipil berbeda, namun dalam membahas masalah kecakapan bertindak yang melahirkan perjanjian yang sah, maka masalah kewenangan untuk bertindak juga tidak dapat dilupakan. Jika masalah kecakapan untuk bertindak berkaitang dengan masalah kemampuan dari orang perorangan yang melakukan suatu tindakan atau perbuatan hukum (yang pada umumnya dilihat dari sisi kedewasaan), masalah kewenangan

Hal lain yang perlu diperhatikan lebih lanjut sehubungan dengan adanya kesepakatan ini, adalah ketentuan yang dirumuskan dalam Pasal 1321 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, yang menyatakan bahwa :

“Tiada sepakat yang sah apabila sepakat itu diberikan karena kekhilafan atau diperoleh dengan paksaan atau penipuan.”

Berdasarkan rumusan tersebut dapat dikatakan bahwa Kitab Undang-undang Hukum Perdata memberikan beban tidak adanya kesepakatan pada pihak yang menyatakan bahwa terhadap dirinya telah terjadi kekhilafan, paksaan, atau penipuan. Dalam ketiga hal tersebut tidak daapt dibuktikan keberdaannya, maka kesepakatan harus dianggap tercapai antara para pihak.

2) Kecakapan untuk memberikan gadai

26 Ibid.

Nazariah : Penyalahgunaan Hak Atas Benda Jaminan yang Dikaitkan dengan Gadai, 2008. USU Repository © 2009

berkaitan dengan kapasitas orang perorangan tersebut untuk bertindak atau berbuat dalam hukum. Dapat saja orang yang cakap bertindak dalam hukum tetapi ternyata tidak berwenang untuk melakukan suatu perbuatan hukum. Sebaliknya, seorang yang dianggap berwenang untuk melakukan suatu perbuatan hukum, ternyata, karena suatu hal dapat menjadi tidak cakap untuk bertindak dalam hukum.27

Penilaian mengenai kecakapan bertindak dan kewenangan bertindak ini harus dibuat atau dilakukan secara berurutan. Sebelum seseorang berbicara mengenai kewenangan untuk bertindak , haruslah terlebih dahulu dicari tahu mengenai kecakapan bertindak dalam hukum. Setelah seseorang dinyatakan cakap untuk bertindak (yang pada umumnya dikaitkan dengan tindakan yang dilakukan untuk dan atas namanya sendiri), baru kemudian dicari tahu apakah orang perorangan yang cakap bertindak dalam hukum tersebut, juga berwenang untuk melakukan suatu tindakan atau perbuatan hukum tertentu (yang dalam hal ini biasanya dihubungkan dengan kapasitas dari orang perorangan tersebut dengan yang “diwakilinya”).28

1) Pasal 1332 sampai dengan Pasal 1334 Kitab Undang-undang Hukum Perdata mengenai keharusan adanya suatu hal tertentu dalam perjanjian.

b. Syarat objektif

Syarat objektif sahnya perjanjian dapat ditemukan dalam :

27

Ibid, hal 102.

28

Nazariah : Penyalahgunaan Hak Atas Benda Jaminan yang Dikaitkan dengan Gadai, 2008. USU Repository © 2009

2) Pasal 1335 sampai dengan Pasal 1337 Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang mengatur mengenai kewajiban adanya suatu sebab yang halal dalam setiap perjanjian yang dibuat oleh para pihak.29

Keterangan :

1) Tentang hal tertentu

Kitab Undang-undang Hukum Perdata menjelaskan maksud hal tertentu, dengan memberikan rumusan dalam Pasal 1333 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, yang berbunyi sebagai berikut :

“Suatu perjanjian harus mempunyai sebagai pokok suatu barang yang paling sedikit ditentukan jenisnya.

Tidaklah menjadi halangan bahwa jumlah barang tidak tentu, asal saja jumlah itu kemudian dapat ditentukan atau dihitung.”

Ketentuan pasal 1332 Kitab Undang-undang Hukum Perdata menyatakan bahwa :

“Hanya kebendaan yang dapat diperdagangkan saja yang dapat menjadi pokok perjanjian.”

Pada dasarnya hanya menegaskan kembali bahwa yang masuk dalam rumusan perjanjian ini, yang dapat menjadi kewajiban dalam perikatan adalah kebendaan yang masuk dalam lapangan harta kekayaan.30

Jadi kebendaan, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud, yang berada di luar lapangan harta kekayaan (yang terutama diatur dalam Buku II Kitab Undang-undang Hukum Perdata tentang kebendaan) tidaklah dapat menjadi

29

Ibid, hal 154.

30 Ibid.

Nazariah : Penyalahgunaan Hak Atas Benda Jaminan yang Dikaitkan dengan Gadai, 2008. USU Repository © 2009

pokok perjanjian , karena kebendaan tersebut tidaklah termasuk kedalam rumusan kebendaan menurut pasal 1131 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, sehingga tidak dapat dijadikan jaminan bagi pelunasan perikatan orang perorangan tersebut.31

Hak gadai hapus, apabila barangnya gadai keluar dari kekuasaan penerima gadai. Apabila namun itu barang tersebut hilang dari tangan penerima gadai atau dicuri daripadanya, maka berhaklah ia menuntutnya kembali, Pasal 1334 Kitab Undang-undang Hukum Perdata mengatur mengenai perjanjian yang melahirkan perikatan bersyarat. Dengan rumusan sebagai berikut :

Barang-barang yang baru akan ada di kemudian hari dapat menjadi pokok suatu perjanjian.

Tetapi tidak diperkenankan untuk melepaskan suatu warisan yang belum terbuka, ataupun untuk meminta diperjanjikan sesuatu hal yang mengenai warisan itu, sekalipun dengan sepakat orang yang nantinya akan meninggalkan warisan yang menjadi pokok perjanjian itu, dengan tidak mengurangi ketentuan pasal-pasal 169, 176, dan 178.

Ketentuan ini pada dasarnya merupakan suatu bentuk penegasan bahwa dalam suatu perjanjian, hanya seseorang yang dapat berbuat bebas dengan kebendaan yang menjadi pokok perjanjian saja yang dapat membuat perjanjian yang mengikat kebendaan tersebut.

Dalam perjanjian pemberian gadai, seperti telah disebutkan diatas, ada tiga ketentuan yang mengatur mengenai benda yang menjadi objek gadai, yaitu yang diatur dalam pasal 1152, yang berbunyi :

Hak gadai atas benda-benda bergerak dan atas piutang-piutang bawa diletakkan dengan membawa barang gadainya dibawah kekuasaan kreditur atau seorang pihak ketiga, tentang siapa telah disetujui oleh kedua belah pihak.

Tak sah adalah gadai atas segala benda yang dibiarkan tetap dalam kekuasaan debitur atau pemberi gadai, ataupun yang kembali atas kemauan kreditur.

31 Ibid.

Nazariah : Penyalahgunaan Hak Atas Benda Jaminan yang Dikaitkan dengan Gadai, 2008. USU Repository © 2009

sebagaimana disebutkan dalam pasal 1977 ayat kedua, sedangkan apabila barang gadai didapatnya kembali, hak gadai dianggap tidak pernah hilang. Hal tidak berkuasanya pemberi gadai untuk bertindak bebas dengan barang gadainya, tidaklah dapat dipertanggungjawabkan kepada kreditur yang telah menerima barang tersebut dalam gadai, dengan tak mengurangi hak yang kehilangan atau kecurian barang itu, untuk menuntutnya kembali.

Juga Pasal 1152 bis, yang berbunyi :

“Untuk meletakkan hak gadai atas surat-surat tunjuk diperlukan, selainnya endosemennya, penyerahan suratnya.”

Dan Pasal 1153, yang berbunyi :

Hak gadai atas benda-benda bergerak yang tak bertubuh, kecuali surat-surat tunjuk atau surat-surat-surat-surat bawa, diletakkan dengan pemberitahuan perihal pegadaiannya, kepada orang terhadap siapa hak yang digadaikan itu harus dilaksanakan. Oleh karena ini, tentang hal pemberitahuan tersebut serta tentang izinnya pemberi gadai dapat diminta suatu bukti tertulis.

Rumusan ketiga pasal tersebut diatas menunjukkan adanya pembedaan pemberian gadai kedalam tiga cara pemberian gadai berdasarkan pada sifat atau wujud benda yang digadaikan tersebut, yaitu :

a) Untuk benda-benda bergerak dan piutang-piutang kepada pembawa, maka gadai baru terjadi, jika benda-benda tersebut telah dikeluarkan dari penguasaan pemberi gadai yang memiliki benda tersebut.

b) Bagi piutang-piutang atas tunjuk, untuk sahnya, gadai harus dilaksanakan dengan cara endorsemen yang disertai dengan penyerahan surat piutang atas tunjuk tersebut oleh pemberi gadai, selaku pemilik piutang atas nama tersebut, kepada kreditur atau pihak ketiga yang telah disetujui bersama, sebagai penerima gadai.

Nazariah : Penyalahgunaan Hak Atas Benda Jaminan yang Dikaitkan dengan Gadai, 2008. USU Repository © 2009

c) Selanjutnya terhadap piutang-piutang atas nama, maka gadai baru sah dan berlaku manakala pemberitahuan kepada siapa gadai harus dilaksanakan, telah dilakukan.32

2) Tentang sebab yang halal dalam pemberian gadai

Sebab yang halal diatur dalam pasal 1335 KUH Perdata, yang menyatakan bahwa :

“Suatu perjanjian tanpa sebab, atau yang telah dibuat karena suatu sebab yang palsu atau terlarang, tidak mempunyai kekuatan.”

Dari rumusan pasal tersebut diatas, dijelaskan bahwa yang disebut dengan sebab yang halal adalah :

a) Bukan tanpa sebab. b) Bukan sebab yang palsu. c) Bukan sebab yang terlarang.33

Selanjutnya dalam pasal 1336 KUH Perdata, dinyatakan lebih lanjut bahwa :

“Jika tidak dinyatakan suatu sebab, tetapi ada suatu sebab yang halal, atau jika ada suatu sebab lain daripada yang dinyatakan itu, perjanjian itu adalah sah.”

Adapun proses pemberian gadai adalah sebagai berikut : 1. Gadai hanya diberikan atas benda bergerak

32 Ibid, hal 156. 33 Ibid, hal 165.

Nazariah : Penyalahgunaan Hak Atas Benda Jaminan yang Dikaitkan dengan Gadai, 2008. USU Repository © 2009

Unsur pertama dari suatu gadai seperti dikatakan sebelumnya hanya dapat diberikan terhadap benda yang bergerak, yang dalam hal ini menurut ketentuan pasal 1152, pasal 1152 bis, dan pasal 1153 KUH Perdata, dapat diberikan terhadap :

a) Benda bergerak, yang berwujud dan piutang-piutang kepada pembawa, yang dilaksanakan dengan cara melepaskan benda tersebut dari penguasaan pemberi gadai. Hal ini berdasar kepada pasal 1152 KUH Perdata yang berbunyi :

Hak gadai atas benda-benda bergerak dan atas piutang-piutang bawa diletakkan dengan membawa barang gadainya di bawah kekuasaan kreditur atau seorang pihak ketiga, tentang siapa telah disetujui oleh kedua belah pihak.

Tak sah adalah hak gadai atas segala benda yang dibiarkan tetap dalam kekuasaan debitur atau pemberi gadai, ataupun yang kembali atas kemauan kreditur.

Hak gadai hapus apabila barangnya keluar dari kekuasaan penerima gadai ini atau dicuri daripadanya, maka berhaklah ia menuntutnya kembali, sebagaimana yang disebutkan dalam pasal 1977 ayat kedua, sedangkan apabila barang gadai didapatnya kembali, hak gadai dianggap tidak pernah hilang.

Hal tidak berkuasanya pemberi gadai untuk bertindak bebas dengan barang gadainya, tidaklah dapat dipertanggungjawabkan kepada kreditur yang telah menerima barang tersebut dalam gadai, dengan tak mengurangi hak yang kehilangan atau kecurian barang itu untuk menuntutnya kembali.

b) Piutang kepada pihak yang ditunjuk, yang pemberian gadainya dilakukan dengan cara endosemen yang disertai dengan penyerahan surat piutang atas tunjuk tersebut. Berdasar pasal 1152 bis KUH Perdata, yang berbunyi:

“Untuk meletakkan hak gadai atas surat-surat tunjuk diperlukan, selainnya endosemennya, penyerahan suratnya.”

Nazariah : Penyalahgunaan Hak Atas Benda Jaminan yang Dikaitkan dengan Gadai, 2008. USU Repository © 2009

c) piutang-piutang atas nama, pemberian gadainya hanya sah jika telah

Dokumen terkait