• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Proses Pemberian Pembebasan Bersyarat dan

Narapidana Korupsi Siti Hartati Murdaya Terhadap Aturan Yang Berlaku.

Tindak pidana korupsi sering melibatkan para elit politik, penyelenggara negara, dan juga pengusaha. Termasuk juga kasus korupsi suap pengurusan sertifikat Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Kasus ini selain melibatkan Bupati Buol juga melibatkan pengusaha kaya atas nama Dra. Siti Hartati Tjakra Murdaya.

Dunia bisnis tak jarang pengusaha mencari jalan pintas untuk memperlancar bisnis yang dijalaninya, termasuk juga mencari jalan dengan melawan hukum. Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta kemudian menguatkan Putusan Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No.76/Pid.B/Tpk2012/PN.Jkt.Pst tanggal 14 Februari 2013 tentang perkara korupsi narapidana Siti Hartati Murdaya menjadi bukti pengusaha yang melawan hukum.

Siti Hartati Murdaya dihukum pidana penjara selama dua tahun delapan bulan. Selain menjatuhkan putusan penjara, Majelis hakim juga menjatuhkan pidana denda Rp 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah), dan apabila tidak sanggup membayar diganti kurungan selama tiga bulan. Hartati dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara bersama – sama dan berkelanjutan dengan memberi

uang senilai total Rp 3.000.000.000,- (tiga miliar) kepada Bupati Buol Amran Batalipu terkait kepengurusan izin usaha perkebunannya di Buol, Sulawesi Tengah.

Putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atas narapidana Siti Hartati Murdaya terbukti bersalah atas dakwaan pertama, yakni Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 64 ayat (1) kitab Undang – Undang Hukum Pidana juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 Kitab Undang – Undang Hukum Pidana.

Pembebasan bersyarat adalah hak setiap narapidana dengan terlebih dahulu mengajukan permohonan disertai dengan melengkapi persyaratan tertentu, namun pembebasan bersyarat bagi narapidana tindak pidana korupsi yang termasuk juga tindak pidana luar biasa atau

Extra Ordinary Crime menjadi polemik di dalam kehidupan masyarakat,

karena dianggap tidak mewakili cita – cita pemberantasan tindak pidana korupsi.

Salah satu yang menjadi polemik di masyarakat adalah pembebasan bersyarat terpidana tindak pidana korupsi Siti Hartati Murdaya. Kementerian Hukum dan HAM yang mengeluarkan surat keputusan pembebasan bersyarat dituntut oleh masyarakat untuk menjelaskan secara detail proses pembebasan bersyarat, diharapkan

dapat menjawab polemik di masyarakat mengenai legal atau tidaknya prosedur pembebasan bersyarat terpidana tersebut.

Kementerian Hukum dan HAM pada tanggal 3 September 2014 memberikan tanggapan melalui Direktorat Informasi dan Komunikasi Ditjen Permasyarakatan mengeluarkan Press Realese proses pembebasan bersyarat narapidana tindak pidana korupsi Siti Hartati Murdaya, Press Realese tersebut menjelaskan sebagai berikut :

Tahapan pembinaan narapidana Siti Hartati Murdaya didalam lembaga pemasyarakatan adalah sebagai berikut:

a. 1/3 masa pidana tanggal 29 Juli 2013 b. ½ masa pidana tanggal 10 Januari 2014 c. 2/3 masa pidana tanggal 19 Juli 2014 d. Ekspirasi tanggal 10 Mei 2015

Proses usulan pembebasan bersyarat atas nama Siti Hartati Murdaya dimulai dari sidang TPP UPT dan dilanjutkan ke sidang TPP Kantor Wilayah selanjutnya diusulkan kepada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Pada tanggal 26 Juni 2014, TPP Direktorat Jenderal Pemasyarakatan melaksanakan sidang terhadap usulan pembebasan bersyarat, cuti bersyarat, cuti menjelang bebas, dan mutasi narapidana. Diantara agenda sidang tersebut salah satunya adalah membahas usulan pembebasan bersyarat Siti Hartati Murdaya.

Pada tanggal 30 Juni 2014, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan berkirim surat ke Komisi Pemberantasan Korupsi terkait rekomendasi hasil sidang TPP Direktorat Jenderal Pemasyarakatan yang salah satunya adalah meminta rekomendasi kepada Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap usulan pembebasan bersyarat Siti Hartati Murdaya dengan nomor PAS-PK.01.05,06-238 tertanggal 30 Juli 2014.

Setelah melewati batas masa waktu 12 hari sejak diterimanya surat permohonan rekomendasi, maka sesuai dengan Pasal 43B ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012, maka pada tanggal 17 Juli 2014, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan mengajukan Nota Dinas kepada Menteri Hukum dan HAM terkait persetujuan pemberian pembebasan bersyarat.

Bahwa kemudian nota Dinas tersebut disetujui oleh Menteri Hukum dan HAM dengan menerbitkan Surat Keputusan Nomor M.HH-26.PK.01.05.06 tahun 2014 tanggal 22 Juli 2014 tentang pembebasan bersyarat Siti Hartati Murdaya. Pada tanggal 23 Juli 2014, Surat Keputusan tersebut dikirim ke Rutan kelas II A Jakarta Timur untuk dilaksanakan pembebasan bersyaratnya. pada tanggal 12 Agustus 2014, Komisi Pemberantasan Korupsi baru menjawab permintaan rekomendasi pembebasan bersyarat Siti Hartati Murdaya melalui surat Nomor B-4186/55/08/2014. Komisi Pemberantasan Korupsi mengatakan bahwa lembaga tersebut tidak dapat mengeluarkan surat rekomendasi usulan pembebasan bersyarat terpidana tindak pidana korupsi Siti Hartati Murdaya karena Tim Jaksa Penuntut Umum tidak pernah mengajukan yang bersangkutan sebagai saksi yang bekerjasama (Justice Collaborator).35

Pelaksanaan pembebasan bersyarat terpidana tindak pidana korupsi sangat berbeda dengan pembebasan bersyarat tindak pidana lainnya karena klien pemasyarakatan mempunyai kewajiban tertentu selain harus mematuhi syarat – syarat diantaranya wajib lapor ke Balai Pemasyarakatan Jakarta Pusat, wajib mengikuti bimbingan yang diberikan oleh PK Bapas, tidak boleh bepergian ke luar negeri, wajib mematuhi tata tertib selama menjadi klien pemasyarakatan terhitung sejak menjalani pembebasan bersyarat ditambah satu tahun masa percobaan (masa percobaan dihitung sejak tanggal Ekspirasi yaitu tanggal 10 Mei 2015 ditambah satu tahun menjadi 10 Mei 2016). Setelah pelaksanaan yang bersangkutan wajib melapor setiap bulan dan dimulai tanggal 4 Agustus 2014.

35

http://www.kemenkumham.go.id/v2/index.php/berita/130-proses-pemberian-pembebasan-bersyarat-siti-hartati-murdaya.html

Surat keputusan pembebasan bersyarat narapidana kasus tindak pidana korupsi Siti Hartati Murdaya menjadi fokus dalam Penulisan Skripsi ini, karena dengan keluarnya Surat Keputusan KemenkumHAM tentang pembebasan bersyarat Siti Hartati Murdaya, menjadi kekuatan hukum bagi narapidana untuk mendapatkan pembebasan bersyarat.

Dasar hukum pembebasan bersyarat adalah Undang - Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 Tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan, PermenkumHAM Nomor 21 Tahun 2013 Tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Remisi, Asimilasi, Cuti Mengunjungi Keluarga, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas, dan Cuti Bersyarat, dan Surat Edaran Kementerian Hukum dan HAM Nomor M.HH-13.PK.01.05.06 Tahun 2014 Tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 Tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.

Untuk mendapatkan pembebasan bersyarat, bagi terpidana tindak pidana korupsi harus memenuhi dua syarat. Pertama syarat substantif dan yang kedua adalah syarat administratif. Syarat substantif adalah syarat inti yang bersifat mendetail, rinci, dan

mendalam atau bisa juga diartikan sebagai syarat yang harus terpenuhi dalam pemberian pembebasan bersyarat narapidana korupsi. Bila syarat substantif tidak terpenuhi maka status hukumnya batal demi hukum atau setidak – tidaknya dapat dibatalkan dan syarat administratif adalah syarat berupa kelengkapan berkas yang harus dipenuhi oleh narapidana kasus korupsi untuk mendapatkan pembebasan bersyarat.

Dasar hukum dalam pembebasan bersyarat terdapat dalam aturan pelaksana Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012, Syarat substantif pembebasan bersyarat terpidana kasus korupsi sebagaimana terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012,

Pasal 43A

(1) Pemberian Pembebasan Bersyarat untuk Narapidana yang dipidana karena melakukan tindak pidana terorisme, narkotika, dan prekursor narkotika, psikotropika, korupsi, kejahatan terhadap keamanan negara dan kejahatan hak asasi manusia yang berat, serta kejahatan transnasional terorganisasi lainnya, selain harus memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 43 ayat (2) juga harus memenuhi persyaratan:

a. Bersedia bekerja sama dengan penegak hukum untuk membantu membongkar perkara tindak pidana yang dilakukannya;

b. Telah menjalani sekurang – kurangnya 2/3 (dua pertiga) masa pidana, dengan ketentuan 2/3 (dua pertiga) masa pidana tersebut paling sedikit 9 (Sembilan) bulan;

c. Telah menjalani Asimilasi paling sedikit ½ (satu perdua) dari sisa masa pidana yang wajib dijalani;

(3) Kesediaan untuk bekerjasama sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) huruf a harus dinyatakan secara tertulis oleh instansi penegak hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 43B

(1) Pembebasan Bersyarat sebagaimaan dimaksud dalam Pasal 43A ayat (1) diberikan oleh Menteri setelah mendapatkan pertimbangan dari Direktur Jenderal Pemasyarakatan.

(2) Direktur Jenderal Pemasyarakatan dalam memberikan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memperhatikan kepentingan keamanan, ketertiban umum, dan rasa keadilan masyarakat.

(3) Direktur Jenderal Pemasyarakatan dalam memberikan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib meminta rekomendasi dari instansi terkait, yaitu:

a. Kepolisian Negara Republik Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, dan / atau Kejaksaan Agung dalam hal Narapidana dipidana karena melakukan tindak pidana terorisme, kejahatan terhadap keamanan negara, kejahatan hak asasi manusia yang berat, dan / atau kejahatan transnasional terorganisasi lainnya;

b. Kepolisian Negara Republik Indonesia, Badan Narkotika Nasional, dan / atau Kejaksaan Agung dalam hal Narapidana dipidana karena melakukan tindak pidana narkotika dan prekursor narkotika, psikotropika; dan c. Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kejaksaan

Agung, dan / atau Komisi Pemberantasan Korupsi dalam hal Narapidana dipidana karena melakukan tindak pidana korupsi.

(4) Rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan secara tertulis oleh instansi terkait dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) hari kerja sejak diterimanya permintaan rekomendasi dari Direktur Jenderal Pemasyarakatan.

(5) Dalam hal batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (4) instansi terkait tidak menyampaikan rekomendasi secara tertulis, Direktur Jenderal Pemasyarakatan menyampaikan pertimbangan Pembebasan Bersyarat kepada Menteri. Ketentuan mengenai tata cara pemberian Pembebasan Bersyarat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan peraturan Menteri.

Selanjutnya syarat administratif dalam pembebasan bersyarat diperjelas dalam PermenkumHAM Nomor 21 Tahun 2013,

Pasal 54

(1) syarat pemberian Pembebasan Bersyarat bagi Narapidana yang dipidana karena melakukan tindak pidana terorisme, narkotika, dan prekursor narkotika, psikotropika, korupsi, kejahatan terhadap keamanan negara, kejahatan hak asasi manusia yang berat, serta kejahatan transnasional terorganisasi lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 sampai dengan Pasal 53 dibuktikan dengan melampirkan dokumen:

a. surat keterangan bersedia bekerja sama untuk membantu membongkar tindak pidana yang dilakukannya yang ditetapkan oleh instansi penegak hukum;

b. foto copy kutipan putusan hakim dan berita acara pelaksanaan putusan pengadilan;

c. laporan perkembangan pembinaan yang dibuat oleh Wali Pemasyarakatan atau hasil assessment resiko dan

assessment kebutuhan yang dilakukan oleh asesor;

d. laporan penelitian kemasyarakatan yang dibuat oleh pembimbing kemasyarakatan yang diketahui oleh Kepala Bapas;

e. surat pemberitahuan ke Kejaksaan Negeri tentang rencana pemberian Pembebasan Bersyarat terhadap Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan yang bersangkutan;

f. salinan register F dari Kepala Lapas;

g. salinan daftar perubahan dari Kepala Lapas;

h. surat pernyataan dari Narapidana tidak akan melarikan diri dan tidak melakukan perbuatan melanggar hukum; i. surat jaminan kesanggupan dari pihak keluarga yang

diketahui oleh lurah atau kepala desa atau nama lain yang menyatakan:

1. narapidana tidak akan melarikan diri dan / atau tidak melakukan perbuatan melanggar hukum; dan

2. membantu dalam membimbing dan mengawasi Narapidana selama mengikuti program Pembebasan Bersyarat.

(2) Dalam hal surat pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e tidak mendapatkan balasan dari Kejaksaan Negeri dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) hari kerja terhitung sejak tanggal surat pemberitahuan dikirim, Pembebasan Bersyarat tetap diberikan.

(3) Bagi Narapidana warga negara asing selain melampirkan kelengkapan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus juga melampirkan dokumen:

a. Surat jaminan tidak melarikan diri dan akan menaati persyaratan yang telah ditentukan dari: 1. Kedutaan besar / konsulat negara; dan

2. Keluarga atau orang atau korporasi yang bertanggung jawab atas keberadaan dan kegiatan Narapidana atau Anak Didik Pemasyarakatan selama berada di wilayah Indonesia;

b. Surat keterangan dari Direktorat Jenderal Imigrasi atau pejabat imigrasi yang ditunjuk yang menyatakan bahwa yang bersangkutan dibebaskan dari kewajiban memiliki izin tinggal; dan

c. Surat keterangan tidak terdaftar dalam red notice dan jaringan kejahatan transnasional terorganisasi lainnya dari Sekretariat NCB – Interpol Indonesia. (4) Surat keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3)

huruf b diajukan oleh Direktur Jenderal kepada Direktur Jenderal Imigrasi.

(5) Selain melampirkan dokumen sebagaimaan dimaksud pada ayat (1), bagi Narapidana yang dipidana karena melakukan tindak pidana terorisme harus juga melampirkan surat keterangan telah mengikuti Program Deradikalisasi dari Kepala Lapas dan / atau kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.

(6) Selain melampirkan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1), bagi Narapidana yang dipidana karena melakukan tindak pidana korupsi harus juga melampirkan bukti telah membayar lunas denda dan uang pengganti.

Penelitian yang dilakukan oleh Penulis pada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (DirjenPAS), di Jakarta tanggal 6 Januari 2015. Hasil wawancara terhadap Cipto Edy, (Kasi Integrasi Khusus DirjenPAS) menjelaskan :

Syarat terpenting adalah syarat substantif karena apabila syarat substantif tidak bisa terpenuhi maka pembebasan bersyarat tidak bisa diberikan. Apabila telah terbit Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM tentang pembebasan bersyarat sementara syarat substantifnya tidak terpenuhi maka surat

pembebasan bersyarat berstatus batal demi hukum atau setidak – tidaknya dapat dibatalkan.36

Sebagaimana ketentuan Pasal 43A Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 tersebut di atas, untuk mendapatkan pembebasan bersyarat terpidana Siti Hartati Murdaya terlebih dahulu harus ikut membantu penegak hukum dalam membongkar kasus yang menjeratnya atau sering juga disebut sebagai justice Collaborator. Pernyataan bahwa narapidana Siti Hartati Murdaya disebut Justice

Collaborator harus dinyatakan secara tertulis oleh penegak hukum

dalam hal ini oleh Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi yang melakukan penuntutan dalam persidangan.

Tetapi dalam kenyataannya Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi tidak pernah mengeluarkan pernyataan bahwa narapidana Siti Hartati Murdaya adalah Justice Collaborator, sebagaimana surat Nomor B-4186/55/08/2014 tanggal 12 Agustus 2014.

Kementerian Hukum dan HAM dalam mengeluarkan surat pembebasan bersyarat atas nama narapidana Siti Hartati Murdaya berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 dan juga Surat Edaran Menteri Hukum dan HAM Nomor M.HH-13.PK.01.05.06 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata

36

Wawancara kepada Cipto Edy. (Kasi Integrasi Khusus DirjenPAS) tanggal 6 Januari 2015, di Kantor Direktorat Jenderal Pemasyarakatan KemenkumHAM.

Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan. Dalam Surat Edaran tersebut diatur hal – hal sebagai berikut:

1. Termasuk dalam kategori kejahatan transnasional terorganisasi lainnya adalah:

a. Illegal logging, Illegal Fishing, Illict Traficking, Money

Loundring;

b. Merupakan pelaku utama (aktor utama) dilihat berdasarkan Putusan yang telah berkekuatan hukum tetap.

2. Kepala LAPAS/RUTAN/CABANG RUTAN mengajukan permohonan bagi narapidana untuk ditetapkan bahwa yang bersangkutan bersedi bekerja sama dengan penegak hukum untuk membantu membongkar perkara tindak pidana yang dilakukan. Dalam hal surat permohonan tersebut tidak mendapatkan balasan dari instansi penegak hukum dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) hari kerja terhitung sejak tanggal surat permohonan dikirim, atau pembebasan bersyarat tetap diberikan.

3. Remisi sebagaimana dimaksud dalam poin 2 (dua) dapat diberikan apabila:

a. Surat permohonan tidak ditanggapi selama 12 (dua belas) hari kerja maka dapat diteruskan prosesnya, dan pemberian remisi setelah narapidana yang bersangkutan menjalani paling sedikit 1/3 (satu per tiga) masa pidana, atau

b. Surat permohonan ditanggapi dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja dan disetujui, maka pemberian remisi setelah narapidana yang bersangkutan telah menjalani masa pidana lebih dari 6 (enam) bulan.

4. Penghitungan mulai menjalankan asimilasi kerja sosial yang lamanya ½ dari sisa masa pidana bagi narapidana tindak pidana terorisme, narkotika dan prekursor nakotika, psikotropika, korupsi, kejahatan terhadap keamanan negara dan kejahatan hak asasi manusia yang berat serta kejahatan transnasional terorganisasi lainnya yang termasuk dalam Peraturan Pemerintah nomor 99 tahun 2012 adalah sebagai berikut:

a. Bagi narapidana yang tanggal 2/3 masa pidananya jatuh sebelum tanggal sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM maka menghitung ½ sisa pidananya sejak tanggal sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM.

b. Bagi narapidana yang tanggal 2/3 masa pidananya jatuh setelah tanggal sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM maka tanggal mulai menjalani asimilasi kerja sosial dhitung sejak tanggal 2/3 masa pidana narapidana yang bersangkutan.

c. Asimilasi kerja sosial dilaksanakan setelah mendapatkan persetujuan Menteri Hukum dan HAM RI.

Berdasarkan Surat Edaran Menteri Hukum dan HAM Nomor M.HH-13.PK.01.05.06 Tahun 2014 point 2 (dua) menjelaskan bahwa apabila Komisi Pemberantasan Korupsi tidak memberi jawaban tentang pernyataan Justice Collaborator dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja setelah permohonan disampaikan, maka pembebasan bersyarat tetap diberikan. Dalam Pernyataan Justice Collaborator yang diajukan oleh Kementerian Hukum dan HAM kepada Komisi Pemberantasan Korupsi adalah bersifat permohonan.

Semangat Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 adalah anti korupsi dengan memberikan ketentuan yang ketat terhadap pemberian remisi dan pembebasan bersyarat bagi terpidana tindak pidana korupsi, sementara berlakunya Surat Edaran Menteri Hukum dan HAM Nomor M.HH-13.PK.01.05.06 Tahun 2014 point 2 (dua) dalam pertimbangannya ingin memberikan kepastian hukum dengan memberikan penafsiran khusus terhadap aturan yang dinilai kurang jelas dalam Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012.

Menanggapi polemik dua aturan hukum yang menjadi landasan hukum pembebasan bersyarat koruptor yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 dan Surat Edaran Menteri Hukum dan HAM

Nomor M.HH-13.PK.01.05.06 Tahun 2014 sama – sama mempunyai kekuatan hukum berdasarkan wewenang kelembagaannya. Pakar Hukum Tata Negara, Jimly Asshiddiqie memberi pandangan tentang dua aturan hukum yang menjadi dasar hukum pembebasan bersyarat, sebagai berikut :

Semua peraturan perudang-undangan berlaku mengikat untuk umum, dan semua pejabat terikat untuk tunduk dan melaksanakannya. Bahkan Presiden sendiripun wajib tunduk kepada peraturan yang dibuatnya sendiri ataupun peraturan yang dibuat oleh pejabat yang lebih rendah dari Presiden. Karena itu, Peraturan Menteri Hukum juga berlaku mengikat bagi KPK, tidak boleh dilanggar. Jika tidak setuju dengan peraturan itu dan menganggapnya bertentangan dg UU, maka KPK juga dapat mengajukan upaya hukum mengajukan permohonan pengujian ke MA. Sebelum ada keputusan final mengenai legalitasnya, peraturan menteri itu tetap berlaku mengikat untuk umum, termasuk untuk KPK sendiri. Demikian pula sebaliknya, Menteri terikat untuk tunduk dan taat kepada peraturan KPK yang ditetapkan berdasarkan ketentuan UU KPK. Asas demikian ini disebut “Presumption of legality”.37

Mengutip pernyataan Jimly Assiddiqie kedua aturan hukum itu tetap bisa berlaku berdasarkan kewenangan lembaga “Presumption of legality”, Apa bila KPK menganggap Surat Edaran Menteri Hukum dan

HAM Nomor M.HH-13.PK.01.05.06 Tahun 2014 bertentangan dengan aturan diatasnya yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 maka Komisi Pemberantasan Korupsi bisa mengajukan uji materi ke Mahkamah Agung, dengan alasan ada 2 (dua) aturan hukum saling bertentangan kewenangannya dan aturan hukum yang saling bertentangan harus kembali ke asas Lex Superior Derogat Legi

Inferiori (aturan yang lebih tinggi diutamakan daripada aturan yang

37

lebih rendah). Mahkamah Agung diharapkan membatalkan Surat Edaran Menteri Hukum dan HAM Nomor M.HH-13.PK.01.05.06 Tahun 2014. Bukan hanya KPK yang berhak mengajukan uji materi Surat Edaran tersebut ke Mahkamah Agung, tetapi seluruh masyarakat baik itu perorangan atau kelompok seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) juga bisa mengajukan uji materi apabila dinilai ada ketimpangan Hukum.

Syarat substantif kedua dalam pembebasan bersyarat yaitu harus menjalani Asimilasi paling sedikit ½ (satu perdua) dari sisa masa pidana yang wajib dijalani, sebelum Asimilasi diberikan narapidana telah menjalani pemidanaan selama 2/3 (dua pertiga) masa pidana. Terpidana Siti Hartati Murdaya telah menjalani 2/3 (dua pertiga) dari masa pidana yaitu 12 September 2012 sampai 19 Juni 2014, dalam proses pembebasan bersyarat tidak menjalani Asimilasi dengan pertimbangan sakit Stroke.

Merujuk kepada Pasal 43A ayat (1) huruf b Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012, untuk mendapatkan pembebasan bersyarat harus melalui 2/3 dari masa pidana yang sudah dijalaninya sampai tanggal 19 Juni 2014, selanjutnya merujuk kepada Pasal 43A ayat (1) huruf c Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 harus menjalani Asimilasi ½ dari sisa pemidanaan. Ekspirasi Narapidana Siti Hartati Murdaya tanggal 10 Mei 2015 artinya dari 2/3 sampai Ekspirasi adalah 11 (sebelas) bulan, sehingga berdasarkan aturan tersebut

narapidana Siti Hartati Murdaya untuk mendapatkan pembebasan bersyarat harus menjalani proses Asimilasi selama 5 ½ (lima setengah) bulan, merujuk kepada aturan tersebut pembebasan bersyarat diberikan apabila sudah menjalani 2/3 dari masa pemidanaan ditambah menjalani Asimilasi ½ dari sisa pembebasan murni. Seharusnya Siti Hartati Murdaya mendapatkan pembebasan bersyarat tanggal 3 Desember 2014 bukan tanggal 22 Juli 2014.

Aturan proses Pelaksanaan Asimilasi terdapat dalam Pasal 30 sampai Pasal 34 Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 21 Tahun 2013 :

Bagian Ketiga

Pelaksanaan Asimilasi Paragraf 1

Pelaksanaan Asimilasi bagi Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan

Pasal 30

(1) Asimilasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dilaksanakan dalam bentuk :

a. Kegiatan pendidikan; b. Latihan keterampilan; c. Kegitan kerja sosial; dan

d. Pembinaan lainnya, di lingkungan masyarakat.

(2) Selain dilaksanakan dalam bentuk sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Asimilasi dapat juga dilaksanakan secara mandiri dan/atau pihak ketiga.

(3) Asimilasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat dilaksanakan pada Lapas Terbuka.

Pasal 31

(1) Dalam hal Asimilasi dilaksanakan oleh pihak ketiga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2), harus berdasarkan perjanjian kerjasama.

(2) Perjanjian kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memuat hak dan kewajiban para pihak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan.

Pasal 32

(1) Narapidana dan anak didik pemasyarakatan yang sedang menjalani Asimilasi di luar Lapas dilaksanakan dalam waktu paling lama 9 (Sembilan) jam sehari termasuk waktu dalam perjalanan.

(2) Asimilasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh dilaksanakan pada hari minggu atau hari libur nasional. (3) Kepala Lapas bertanggung jawab atas keamanan

pelaksanaan Asimilasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 33

Asilmilasi tidak diberikan kepada Narapidana : a. Yang terancam jiwanya; atau

b. Yang sedang menjalani pidana penjara seumur hidup. Paragraf 2

Pelaksanaan pemberian Asimilasi bagi Narapidana Tindak Pidana Terorisme, Narkotika dan Prekursor Narkotika, Psikotropika, Korupsi, Kejahatan terhadap Keamanan Negara dan Kejahatan Transnasional Terorganisasi lainnya

Pasal 34

(1) Bagi Narapidana tindak pidana terorisme, narkotika dan prekursor narkotika, psikotropika, korupsi, kejahatan

Dokumen terkait