NB: Dilakukan perlakuan yang sama untuk perbandingan 1:2 dan 1:3 antara galaktomanan dan asam trikloroasetat.
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Ekstraksi Galaktomanan dari Tanaman Lidah Buaya
Hasil ekstraksi galaktomanan dari 500 gram daging lidah buaya, diperoleh berupa padatan berwarna coklat muda sebanyak 1,75 gram. Persentase galaktomanan yang diperoleh adalah:
% Galaktomanan = π΅ππππ‘ ππβππ
π΅ππππ‘ ππ€ππ Λ 100%
= 1,75 π
500 π Λ 100%
= 0,35%
4.2 Hasil Analisa Spektrofotometer FT-IR Galaktomanan Lidah Buaya Galaktomanan diperoleh dengan cara mengekstraksi daging lidah buaya menggunakan etanol sebagai pengendap dan kemudian dianalisis dengan spektrofotometer FT-IR dihasilkan spektrum dengan puncak vibrasi pada daerah bilangan gelombang 3425 cm-1, 2924 cm-1, 1627 cm-1, 1373cm-1, 1026 cm-1, 894 cm
-1, 802 cm-1.
Gambar 4.1 Gambar Spektrum FT-IR Galaktomanan dari tanaman lidah buaya Hasil spektrum yang diperoleh dari galaktomanan dari tanaman lidah buaya mirip dengan literatur (Tarigan, 2014) dimana menghasilkan vibrasi streaching
ΛOH pada 3425 cm-1, vibrasistreaching ΛCH pada 2924 cm-1, vibrasi bending ikatan OΛH yang menyerap molekul air pada 1627 cm-1, vibrasi bending CΛH pada 1373 cm
-1, vibrasi bending CΛO pada 1026 cm-1, vibrasi streaching CΛOΛC pada 894 cm-1, serta adanya ikatan D-galaktopiranosa pada 802 cm-1 yang merupakan salah satu ciri-ciri dari galaktomanan.
Tarigan (2014) menunjukkan karakteristik galaktomanan memberikan puncak dengan serapan pada daerah gelombang bilangan 3402 cm-1 yang menunjukkan vibrasi streaching gugus βOH dari polisakarida yang didukung oleh pita serapan pada bilangan gelombang 1639 cm-1 menunjukkan bahwa galaktomanan terikat oleh air (Tong et al, 2008) demikian juga dengan adanya puncak 1639 cm-1 tersebut merupakan vibrasi bending ikatan OΛH yang menyerap molekul air (Gong et al, 2012). Pada bilangan gelombang 2924 cm-1 menunjukkan vibrasi streaching gugus ΛCH sp3, yang didukung oleh vibrasi bending pada bilangan gelombang1375 cm-1. Pita serapan melebar pada bilangan gelombang 900-1200 cm-1 oleh karena vibrasi streaching ΛCΛCΛO, CΛOH dan CΛOΛC dari rantai utama polimer (Singh et al, 2009). Pada puncak 1149 cm-1 merupakan vibrasi bending CΛO dari cincin piranosa.
Pita pada serapan bilangan gelombang 871 cm-1 yang merupakan ikatan Ξ²-D-manopiranosa dalam polisakarida dan pada pita 810 cm-1 menunjukkan adanya ikatan Ξ±-D-galaktopiranosa (Buriti et al, 2014).
23
4.3 Reaksi Karboksimetil Trigalaktomanan
Secara hipotesa reaksi alkalisasi, galaktomanan akan membentuk natrium galaktomanan dan reaksi natrium galaktomanan dengan asam trikloroasetat yang mula-mula menghasilkan karboksimetil diklorogalaktomanan, selanjutnya karboksimetil monoklorogalaktomanan dan kemudian trigalaktomanan, dapat dilihat pada gambar 4.2; gambar 4.3; gambar 4.4 dan gambar 4.5
Galaktomanan Na-Galaktomanan
Gambar 4.2 Reaksi Alkalisasi Galaktomanan
Reaksi pada gambar 4.2 menunjukkan adanya alkalisasi dengan adanya penambahan NaOH, dimana -OH primer dari galaktomanan bereaksi dengan NaOH membentuk natrium galaktomanan
.
Na-galaktomanan Karboksimeti Diklorogalaktomanan
Gambar 4.3 Reaksi terbentuknya Karboksimetil Diklorogalaktomanan
Reaksi pada gambar 4.3 menunjukkan bahwa karboksimetilasi telah dimulai dengan adanya pergantian 1 molekul βCl yang disubstitusi oleh galaktomanan membentuk karboksimetil diklorogalaktomanan, berdasarkan hipotesa reaksi ini akan berlanjut dengan adanya pergantian 2 molekul βCl yang lainnya.
Gambar 4.4 Reaksi terbentuknya Karboksimetil Monoklorogalaktomanan Berdasarkan hipotesa diatas, reaksi pada gambar 4.4 menunjukkan adanya pergantian molekul βCl yang berikutnya membentuk karboksimetil monoklorogalaktomanan.
25
Gambar 4.5 Reaksi terbentuknya Karboksimetil Trigalaktomanan
Reaksi pada gambar 4.5 menunjukkan bahwa semua atom βCl sudah habis disubtitusi oleh galaktomanan, sehingga membentuk karboksimetil trigalaktomanan.
4.4 Hasil Sintesis Karboksimetil Trigalaktomanan dari Lidah Buaya Hasil yang diperoleh dari reaksi antara galaktomanan dengan asam trikloroasetat berupa padatan berwarna coklat muda. Hasil sintesis karboksimetil trigalaktomanan ditunjukkan pada tabel 4.1 dibawah ini.
Tabel 4.1 Data hasil karboksimetil trigalaktomanan yang diperoleh dari tanaman dengan galaktomanan menghasilkan data yang berbeda. Dimana dengan perbandingan GM/TCA 1:3, karboksimetil trigalaktomanan yang diperoleh menurun.
Hal ini terjadi karena pada proses alkalisasi sedikit gugus βOH primer pada galaktomanan yang tersubstitusi membentuk Na-galaktomanan yang disebabkan karena penggunaan konsentrasi NaOH yang tidak berubah, dimana NaOH berfungsi untuk mengaktifkan gugus βOH primer pada galaktomanan sehingga memudahkan difusi saat direaksikan dengan asam trikloroasetat. Oleh karena itu saat galaktomanan direaksikan dengan asam trikloroasetat, maka sedikit gugus pada asam trikloroasetat yang tersubstitusi oleh galaktomanan.
4.5 Hasil Analisis Spektrofotometer FT-IR Karboksimetil Trigalaktomanan dari Tanaman Lidah Buaya
Hasil yang diperoleh berupa padatan berwarna coklat muda yang kemudian dianalisis menggunakan spektrofotometer FT-IR, dimana hasil spektrum karboksimetil trigalaktomanan yang diperoleh dapat dilihat pada gambar 4.6; gambar 4.7 dan gambar 4.8 dibawah ini.
27
Gambar 4.6 Hasil spektrum FT-IR karboksimetil trigalaktomanan dengan perbandingan GM/TCA 1:1
Gambar 4.7 Hasil spektrum FT-IR karboksimetil trigalaktomanan dengan perbandingan GM/TCA 1:2
Gambar 4.8 Hasil spektrum FT-IR karboksimetil trigalaktomanan dengan perbandingan GM/TCA 1:3
Hasil analisis spektrum FT-IR dari karboksimetil trigalaktomanan yang diperoleh dengan perbandingan GM/TCA 1:1 memberikan spektrum dengan puncak vibrasi pada daerah bilangan gelombang 3425 cm-1, 2924 cm-1, 1620 cm-1, 1334 cm-1, 1026 cm-1, 825 cm-1. Pada perbandingan GM/TCA 1:2 memberikan spektrum dengan puncak vibrasi pada daerah bilangan gelombang 3441 cm-1, 2931 cm-1, 1635 cm-1, 1342 cm-1, 1018 cm-1, 956 cm-1. Pada perbandingan GM/TCA 1:3 memberikan spektrum dengan puncak vibrasi pada daerah bilangan gelombang 3448 cm-1, 2924 cm-1, 1620 cm-1, 1419 cm-1, 1080 cm-1, 871 cm-1. Pada karboksimetil trigalaktomanan terjadi perubahan intensitas gugus C=O pada daerah bilangan gelombang 1635 cm-1 dimana puncak yang dihasilkan semakin tajam berdasarkan perbandingan antara GM/TCA. Pada bilangan gelombang 1026 cm-1 yang merupakan vibrasi gugus eter (-O-) menunjukkan sudah terbentuknya karboksimetil trigalaktomanan, dimana eter yang terdapat pada karboksimetil galaktomanan merupakan gabungan dari eter siklik yang berasal dari senyawa galaktomanan dan eter alifatik yang berasal dari trikloroasetat. Terbentuknya karboksimetil trigalaktomanan dapat ditandai dengan adanya pita asimetris yang kuat dari anion karboksilat berdasarkan gugus C=O yang ditunjukkan pada bilangan gelombang 1620 cm-1, gugus C-O-H in- plane bend pada bilangan gelombang 1427 cm-1, gugus
29
C-O strech pada bilangan gelombang 1334 cm-1 dan gugus O-H out of plane blend pada bilangan gelombang 956 cm-1 ( Silverstein et al, 1991)
Proses sintesis karboksimetil trigalaktomanan dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu alkalisasi dan karboksimetilasi. Tahap awal adalah proses alkalisasi dengan larutan natrium hidroksida. Tahap alkalisasi menggunakan NaOH, dengan tujuan mengaktifkan gugus-gugus βOH pada molekul polisakarida yang berupa galaktomanan dan manan, memecah ikatan hidrogen molekul galaktomanan dan manan sehingga memudahkan proses difusi reagen karboksimetilasi yaitu trikloroasetat.
Dalam penambahan natrium hidroksida, galaktomanan akan mengalami proses swelling yang menjadikan galaktomanan lebih mudah terdifusi oleh bahan kimia. Proses swelling pada galaktomanan terjadi karena putusnya ikatan hidrogen intramolekul maupun intermolekul sehingga struktur dari galaktomanan berubah.
Selama tahap alkalisasi terlhat pada galaktomanan mengalami swelling dan kemudian mengalami perubahan warna coklat muda. Proses selanjutnya yaitu eterfikasi antara galaktomanan dengan trikloroasetat atau yang disebut dengan proses karboksimetilasi.
4.6 Hasil Analisis Morfologi Permukaan dengan SEM (Scanning Electron Microscopy)
Analisis morfologi permukaan dengan SEM dari galaktomanan ditunjukkan pada gambar 4.9 dan hasil morfologi karboksimetil trigalaktomanan ditunjukkan pada gambar 4.10; gambar 4.11 dan gambar 4.12 dibawah ini.
(a) (b)
Gambar 4.9 Hasil analisis morfologi SEM untuk galaktomanan dari tanaman lidah buaya (a) perbesaran 1000 kali dan (b) perbesaran 1500 kali
(a) (b)
Gambar 4.10 Hasil analisis morfologi SEM untuk Karboksimetil Trigalaktomanan perbandingan GM/TCA 1:1 (a) perbesaran 1000 kali dan (b) perbesaran 1500 kali
31
(a) (b)
Gambar 4.11 Hasil analisis morfologi SEM untuk Karboksimetil Trigalaktomanan perbandingan GM/TCA 1:2 (a) perbesaran 1000 kali dan (b) perbesaran 1500 kali
(a) (b)
Gambar 4.12 Hasil analisis morfologi SEM untuk Karboksimetil Trigalaktomanan perbandingan GM/TCA 1:3 (a) perbesaran 1000 kali dan (b) perbesaran 1500 kali
Hasil dari analisis morfologi permukaan dari galaktomanan murni yang ditunjukkan pada gambar 4.9, pada permukaan galaktomanan murni terlihat rata, dan halus. Pada hasil morfologi permukaan karboksimetil trigalaktomanan dengan perbandingan GM/TCA 1:1 yang ditunjukkan pada gambar 4.10, dimana permukaan nya terlihat lebih kasar, serta terdapat pori-pori kecil di seluruh permukaannya. Pada karboksimetil trigalaktomanan perbandingan GM/TCA 1:2 yang ditunjukkan pada
gambar 4.11, permukaannya menjadi lebih kasar, bentuknya amorf dan terdapat pori-pori yang lebih besar. Pada perbandingan GM/TCA 1:3 yang ditunjukkan pada gambar 4.12 menunjukkan permukaannya kasar, dan pori-pori menjadi lebih kecil Hal ini kemungkinan besar menunjukkan telah terjadinya reaksi eterifkasi pada karboksimetil, dimana terjadi perubahan morfologi permukaan dari galaktomanan murni yang permukaannya halus menjadi karboksimetil yang permukaannya kasar, memiliki pori-pori yang besar dan bergelombang (Wang et al, 2008).
4.7 Hasil Penetuan Derajat Substitusi (DS)
Hasil penetuan derajat substitusi karboksimetil trigalaktomanan dari tanaman lidah buaya dapat dilihat pada tabel 4.2 dibawah ini.
Tabel 4.2 Hasil Penentuan DS Karboksimetil Trigalaktomanan Lidah Buaya Perbandingan Berat
Uji derajat substitusi dilakukan untuk mengetahui jumlah senyawa karboksil yang ada didalam monomer galaktomanan. Dari tabel diatas pada perbandingan 1:1 didapat persen DS sebesar 73,67% yang menunjukkan ada 73,67%
trikloroasetat yang tersubstitusi ke gugus βOH primer pada galaktomanan dan 26,33% masih berupa gugus -OH primer pada galaktomanan yang tidak tersubstitusi.
Pada perbandingan 1:1 dan 1:2 diperoleh nilai DS yang meningkat, sedangkan nilai DS pada perbandingan 1:3 mengalami pernurunan. Hal ini terjadi karena, penambahan NaOH dapat meningkatkan nilai DS karboksimetil trigalaktomanan, dimana NaOH tersebut berfungsi untuk mengaktifkan gugus βOH primer pada galaktomanan. Pada penelitian ini digunakan konsentrasi NaOH yang sama pada setiap perbandingan, sehingga sedikit gugus βOH primer galaktomanan yang dapat
33
diaktifkan karena konsentrasi NaOH yang digunakan tidak berubah. Pengaruh nilai DS terhadap kelarutan yaitu dimana semakin besar nilai DS maka sifat kelarutannya didalam air semakin besar, sehingga pada perbandingan 1:2 merupakan karboksimetil trigalaktomanan yang memiliki sifat kelarutan yang paling besar didalam air.
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Proses sintesis karboksimetil trigalaktomanan dilakukan dengan 2 tahap yaitu proses alkalisasi dan proses karboksimetilasi. Hasil yang diperoleh pada perbandingan GG/TCA 1:1; 1:2 dan 1:3, masing-masing sebesar 0,44 g; 0,53 g dan 1,10 g.
2. Karakteristik karboksimetil trigalaktomanan yang diperoleh adalah:
a. Hasil spektrum gugus (-OH) dan gugus (C=O) pada galaktomanan dibandingkan dengan spektrum karboksimetil trigalaktomanan, diperoleh bentuk peak yang berubah, dimana spektrum galaktomanan bentuk peak nya melebar, sedangkan spektrum karboksimetil trigalaktomanan bentuk peaknya lebih tajam. Hasil FT-IR GM/TCA 1:1 ; 1;:2 dan 1:3 tidak terjadi perubahan spektrum yang signifkan, tetapi dari hasil analisis morfologi permukaan dan nilai DS diperoleh perbedaan disetiap perbandingan.
b. Karboksimetil trigalaktomanan yang memiliki nilai DS tertinggi yaitu pada perbandingan 1:2 sebesar 77,75%
c. Pada analisis morfologi permukaan menggunakan SEM menunjukkan permukaan karboksimetil trigalaktomanan pada perbandingan 1:2, permukaannya tampak lebih kasar dan memiliki pori-pori yang lebih besar, yang menandakan telah terjadinya reaksi eterifikasi pada galaktomanan dengan mengalami perubahan struktural.
5.2 Saran
Disarankan untuk peneliti selanjutnya dapat memisahkan galaktomanan dari polisakarida yang terkandung didalam tanaman lidah buaya agar diperoleh galaktomanan yang lebih murni.
DAFTAR PUSTAKA
Aqualon, 1999. Sodium Carboxymetyl Cellulose, Physical and Chemical Properties, Hercules Inconporated.
Arnelli, Yoga MSH, Astuti Y, 2006. Pengaktifan Kapas sebagai Resin Penukar Kation Asam Lemah. Jurnal Sains dan Matematika.
Bambang, (2011). Instrumen SAA (Surface Area Analyzer). [Serial Online].
Tersedia:http://anekakimia.blogspot.com/2011/06/instrumen-saa-surface-areaanalyzer.html diakses 30 November 2018.
Blak DE, Hamblett CJ, Frost FG, Judd PA, Ellis PR, 1997. Wheat Supplemented with Depolymerized Guar Gum Reduces the Plasma Cholesterol Concentration in Hypercholestero-lemic Human Subject. American Journal of Clinical Nutrition 65(1):107-113.
Bono A, 2009. Synthesis and Characterization of Carboximethyl Cellulose from Palm Kernel Cake. American Eurasian Network. Vol 3 No. 1: 5-11.
Buriti FCA, Karina MOD, Venicios GS, Jeanny SM, Daniele MAT, Hevila OS, Gilcenara O, Regina CM de Paula Judith PAF, Ana COM, Renato AM, Antonio SE, 2014. Characterization of Partially Hydrolysed Galactomannan from Caesalpina pulcherrima seeds a Potential Dietary Fibre, Food Hydrocolloids, 35: 512-521.
Cerquera MA, Pinhero AC, Souza BWS, Lima AMP, Ribeiro C, Miranda C, Teixeira JA, Moreira RA, Coimbra MA, Goncalves MP, 2009. Extraction, Purification and Characterization of Galactomanannas from Non-Traditional Sources, Carbohydrate Polymers, 75:408-414. Didalam Tarigan, R.2013, Sintesa Karboksil Metil Galaktomanan Melalui Reaksi Antara Chloro Asetat dengan Galaktomanan yang Diekstraksi dari Pelepah Lidah Buaya, FMIPA, Universitas Sumatera Utara. Medan
Fennema OR, 1985. Principles of Food Science. Departement of Food Science.
University of Wisconsin Madison. Marcell Dekker. New York. 791p
Femenia A, Sanchez ES, Simal S, Rossello C, Compositional Features of Polysaccharides from Aloe vera (Aloe barbadensis Miller) Planttissues, Carbohidrate Polymer, 1999. vol. 39,hal. 109-117.
Furnawanthi, 2004. Khasiat & Manfaat Lidah Buaya Si Tanaman Ajaib. Agro Media Pustaka. Jakarta. Hlm1-21
Furnawanthi I , 2007. Khasiat dan Manfaat Lidah Buaya Si Tanaman Ajaib. Ed 8.
Jakarta
Furnawanthi I, 2002. Khasiat dan Manfaat Lidah Buaya. Jakarta. Agro Media Pustaka.
Gong H, Mingzhu L et al, 2012. Journal of Synthesis and Characterization of Carboxymethy Guar-Gum and Rheological Properties of its Solution.
Gray N, 2010. Galactomannan Show Low GI Snack Potensial. Science and Nutrition, Food Chemistry. http://foodnavigator.com. Published Online ahead of Print. DOI: 10/j.foodchem 2010.08.030
Haryani K, 2010. Pengambilan Polisakarida Acemannan dari Aloe Vera Menggunakan Etanol sebagai Pengendap. Yogyakarta. Prosiding Seminar Nasional Tehnik Kimia Kejuangan
Iriani N, 1994. Produksi Mananase Beberapa Isolat Kapang Mananolitik pada Substrat Bungkil Kelapa. Prosiding Seminar Hasil Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi II. Hlm 474-479
Jalili T, Wildman REC, Medeiros DM, 2001. Dietary Fiber and Coronary Heart Disease. In: R.E.C Wildman(Ed). Handbook of Nutraceuticals and Functional Foods. CRC Press 6(4):1-2 (Didalam jurnal Amit and Shweta Singh)
Mathur NK, 2012. Industrial Galactomannan Polysaccharide. CRC Press. Boca Raton: Florida
March, 2006. Aloe the Health and Healing. Translate by Ed Madyakurt. 4th Edition.
APB Paris Francis Fly,L.B. 1963. Antibiotic Activity of Aloe vera. Econ.
Botany.14:46-49
Moghaddasi S, Verma S, 2011. Aloe vera Their Chemical Composition and Applications. IntJ Biol Med Res.2 (1): 466-471
Naibaho NHA, 2018. Sintesis Karboksimetil Polisakarida Biji Aren dengan Monokloroasetat [Skripsi]. Medan. Universitas Sumatera Utara. Departemen Kimia FMIPA.
Prasetyo Y, 2011. Scanning Electron Microscope dan Optical Emission Spectroscope.[mediaonline].http://yudiprasetyo53.wordpress.com/2011/11/0
37
7/scanning-electron-microscope-sem-dan-optical-emission-spectroscope-oes.
Tanggal akses 30 November 2018
Rekaby M, Ibrahim, Adel A, Shabaan, 2010. Technological Evaluation of Carboxymethyl Sesbania Galactomannan Gum Derivatives as Thickeners in Reactive Printing. Bioresources. National Reserch Centre. Egypt and Jazan University.
Reynolds T, Dweck AC, 1999. Aloe vera Leaf Gel: a review update. J. Ethnopharm.
68:3-37. pemanfaatannya. Jurnal Penelitian Tanaman Industri. 1(6): 263-277.
Rosana, 2013. Kesesuaian Galaktomanan sebagai Edible Coating untuk Buah Tropis. Makalah Review Jurnal. Departemen Teknik Mesin dan Biosistem.
Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor. 17hlm.
Samios E, Dart, Dawkins, 1997. Preparation, Characterization and Biodegradation Studies on Cellulose Acetat with Varying Degress Substitution.
Silveira JLM, 2011. Pharmaceutical Use of Galactomannans, Quim, Nova, Brasil.
34: 292-299.
Silverstein RM, Basller GC, Morrill TC, 1991. Spectrometric Indentification of Organic Compounds. Ed 5th. John Willey & Sons, inc. New York
Sing V, Srivastara A, Tivani A, 2009. Structural Elucidation, Modifiksasi and Characterization of seed Guar frum Cassia javahikal seeds : a Non Traditional Source of Industrial Gums, International Journal of Biological Macromolecules.
Sitanggang A, 2018. Sintesis Karboksimetil Selulosa (CMC) Hasil Isolasi Kulit Buah Pisang Tanduk ( Musa x paradisiaca AAB ) dengan Asam Trikloroasetat sebagai Adsorben Ion Logam (Zn2+) [Skripsi]. Medan.
Universitas Sumatera Utara. Departemen Kimia FMIPA.
Stevens MP, 2001. Kimia Polimer, Edisi Pertama. Jakarta. Pradnya Paramitha.
Sudiarti T, Wahyuningrum D, Bundjali B, Arcana M, 2016. Sintesis Selulosa Suksinat Dalam Cairan Ion 1-Butil-3-Metilimidazolium Klorida ([BMIM]) Dengan Metode Microwave Assisted Organic Synthesis (MAOS) Dan Penentuan Derajat Substitusinya. Jurnal Kimia Terapan Indonesia.
pp55-61.
Tarigan, Rosidin M, 2014. Stabilitas Vitamin E dari PFAD (Palm Fatty Acid Disstillate) yang Diinkoporasi pada Galaktomanan Kolang-kaling. Medan.
Universitas Sumatera Utara.(didalam skripsi Nico Hot Asih)
Tong H, Xia F, Feng K, Sun G, Gao X, Sun L, Jiang R, Tian D, Sun V, 2008.
Structural Characterization and in Vitro Antitumor Activity of a Novel Polysacaride Isolated from the Fruiting Bodies of Pleurotus ostreatus, Bioresource Tecnology. Vol.100 hlm 1682-1686.
Torio MAO, Saez J and Merca E, 2006. Physicochemmical Characterization of Galactomannan from Sugar Palm (Arenga saccaharifera labill). Endosperm at Different Stage of Nut Maturity. Philippine Journal of Science. 135 (1):
19-30
Wijayani A, Ummah K, Tjahjani S, 2005. Characterization of Carboxy Methyl Cellulose (CMC) from Elchornia crassipes (Mart) Solms. Surabaya.
Universitas Surabaya.
Wirjosentono B, 1995. Perkembangan Polimer di Indonesia. Orasi Ilmiah Lustrum 6. Medan. Universitas Sumatera Utara.
Yang, Liuquing, Ting Z, 2011. Journal Carboxymethylation of Polysaccharides from Auriculari auricula and Their Antioxidant Activities in Vitro.
LAMPIRAN
Lampiran 1 Perhitungan Derajat Substitusi (DS)
1. Perbandingan GG/TCA 1:1
Absorbansi pada bilangan gelombang 1620,21 cm-1 (π΄ πΆ=π)
%T = 9,07 T = 0,0907 AC=O = πππ1
π= πππ 1
0,097= 1,0423
Absorbansi pada bilangan gelombang 3425,58 cm-1(π΄βππ»)
%T = 5,68
Absorbansi pada bilangan gelombang 1635,64 cm-1 (π΄ πΆ=π)
%T = 22,297 T = 0,22297 π΄βππ» = πππ1
π = πππ 1
0,22297= 0,6517
Absorbansi pada bilangan gelombang 3441,01 cm-1(π΄βππ»)
%T = 18,086 T = 0,18086
41
Absorbansi pada bilangan gelombang 1620,21 cm-1 (π΄ πΆ=π)
%T = 19,248 T = 0,19248 π΄βππ» = πππ1
π = πππ 1
0,19248= 0,7156
Absorbansi pada bilangan gelombang 3448,72 cm-1(π΄βππ»)
%T = 14,992
Lampiran 2 Hasil Spektrum FT-IR Galaktomanan dari Tanaman Lidah Buaya
43 Lampiran 3 Hasil Spektrum FT-IR Karboksimetil Trigalaktomanan dengan Perbandingan GG/TCA 1:1, 1:2, 1:3
a. Spektrum FT-IR KMTG dengan Perbandingan GG/TCA 1:1
b. . Spektrum FT-IR KMTG dengan Perbandingan GG/TCA 1:2
45
c. . Spektrum FT-IR KMTG dengan Perbandingan GG/TCA 1:3
Lampiran 4 Hasil Analisis Morfologi Permukaan Galaktomanan dari Tanaman Lidah Buaya
(a) (b)
(c)
Gambar hasil analisis morfologi permukaan galaktomanan dari tanaman lidah buaya dengan perbesaran (a) 1000 kali, (b) 1500 kali, dan (c) 2000 kali.
47
Lampiran 5 Hasil Analisis Morfologi Permukaan Karboksimetil Trigalaktomanan (KMTG) dengan perbandingan GG/TCA
1:1
(a) (b)
(c)
Gambar hasil analisis morfologi permukaan KMTG dengan perbandingan GG/TCA 1:1 dengan perbesaran (a) 1000 kali, (b) 1500 kali, dan (c) 2000 kali.
Lampiran 6 Hasil Analisis Morfologi Permukaan Karboksimetil Trigalaktomanan (KMTG) dengan perbandingan GG/TCA 1:2
(a) (b)
(c)
Gambar hasil analisis morfologi permukaan KMTG dengan perbandingan GG/TCA 1:2 dengan perbesaran (a) 1000 kali, (b) 1500 kali, dan (c) 2000 kali.
49 Lampiran 7 Hasil Analisis Morfologi Permukaan Karboksimetil Trigalaktomanan (KMTG) dengan perbandingan GG/TCA 1:3
(a) (b)
(c)
Gambar hasil analisis morfologi permukaan karboksimetil trigalaktomanan dengan perbandingan GG/TCA 1:3 dengan perbesaran (a) 1000 kali, (b) 1500 kali, dan (c) 2000 kali.
Lampiran 8 Dokumentasi Penelitian
Foto Daun Lidah Buaya Foto Daging Tanaman Lidah Buaya
Daging Lidah buaya dihaluskan Pengendapan menggunakan pelarut etanol
51
Perendaman dengan metanol Proses sentrifugasi
Karboksmetil Trigalaktomanan