HASIL PENELITIAN
4.2 Proses Pengambilan Sampel dan Hasilnya
Pengambilan sampel darah untuk menilai kadar timbal dalam darah dilakukan pada jam sekolah setelah sebelumnya mendapat persetujuan dari Bapak Rozali selaku Kepala Sekolah. Sebelumnya, pertemuan sudah dilakukan dengan para orang tua murid yang bersekolah di kelas 4, 5 dan 6. Orang tua dan anak yang memenuhi kriteria inklusi diterangkan tentang penelitian yang akan dilakukan dan dimintakan persetujuannya. Orang tua dan anak juga dimintakan untuk mengisi kuesioner yang telah disiapkan.
Pengambilan sampel darah dilakukan oleh staf dari Laboratorium Klinik Pramita, Medan yang datang ke sekolah. Laboratorium Klinik Pramita ini telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional Laboratorium Medik , terakreditasi ISO 15189: 2012. Staf Laboratorium datang ke sekolah selama tiga hari berturut-turut untuk mengambil darah vena murid yang menjadi sampel. Sampel darah setelah diambil langsung dibawa ke laboratorium dan pemeriksaan dilakukan di laboratorium Pramita Pusat.
Ada 62 orang anak yang memenuhi kriteria inklusi dan bersedia mengikuti penelitian, namun hanya 60 orang saja yang mendapatkan izin dari orang tua.
Randomisasi dilakukan untuk menentukan responden yang masuk dalam group intervensi dan group kontrol. Diantara enam puluh orang anak ini yang mengikuti test Digit Span Memory Task Online untuk pemeriksaan short term memory dan kemudian diambil sampel darahnya sebelum dan sesudah intervensi ada 57 anak (tiga anak batal karena ketakutan saat pengambilan sampel darah).
Jadi secara keseluruhan sampel yang mengikuti penelitian ini ada 57 orang anak, yang terbagi atas 35 orang kelompok intervensi dan 22 orang pada kelompok kontrol.
Wali kelas yang muridnya termasuk ke dalam kelompok intervensi diberikan beberapa kotak suplemen kalsium sesuai dengan jumlah murid di kelasnya yang menjadi sampel (1 kotak perorang sampel) suplemen calnic plus (30 kaplet) yang berisi 400 mg kalsium organik per kaplet. Setiap pagi hari sebelum memulai pelajaran satu persatu anak mengunyah/menelan kaplet suplemen tersebut di hadapan wali kelasnya masing-masing. Orang tua yang anaknya termasuk dalam kelompok intervensi juga mendapatkan masing-masing 1 (satu) kotak suplemen.
Di rumah, anak-anak mengunyah suplemennya setiap hari pada waktu makan malam sesudah Magrib dihadapan orang tuanya. Pada hari libur sekolah, suplemen pagi dan malam diberikan oleh orang tua masing-masing. Demikian juga jika anak terpaksa tidak hadir di sekolah karena sakit atau karena alasan lain, pemberian suplemen dilakukan di rumah di hadapan orang tuanya.
Pendistribusian suplemen dilakukan di sekolah dalam tiga kali (sebulan sekali) dalam suatu pertemuan peneliti dengan para wali kelas dan para orang tua. Pada pertemuan itu juga dilakukan diskusi tentang pelaksanaan suplementasi yang telah berjalan.
Tidak dijumpai efek samping suplementasi kalsium pada kelompok intervensi dan ketaatan makan obat didapatkan 100 persen. Anak- anak menyukai rasa dari kaplet suplemen. Pemeriksaan kadar timbal dalam darah dan tes memori kedua dilakukan setelah genap tiga bulan (90 hari) pemberian suplementasi.
Tabel 4.1. Karakteristik sampel penelitian
Lebih banyak anak laki-laki yang menjadi responden dalam penelitian ini.
Sebagian besar responden bergizi baik. Penghasilan orang tua sebagian besar adalah di bawah UMR (Tabel 4.1).
Karakteristik
Tabel 4.2. Kebiasaan makan dan perilaku sampel penelitian
Makan benda selain makanan, n (%)
Pola makan responden secara umum pada kedua kelompok adalah hampir sama.
Tidak semua responden dalam kesehariannya cukup makan makanan bergizi sesuai dengan pedoman makanan seimbang. Ada 29,2 persen responden yang tidak mengkonsumsi susu; telur dan protein nabati adalah sumber protein yang paling banyak dikonsumsi. Sebagian besar responden jajan di pinggir jalan, yaitu pada penjual jajanan yang berada di sekitar sekolah dengan gerobak dorongnya.
Tidak ada kantin di dalam sekolah. Kebiasaan mencuci tangan pakai sabun dilakukan oleh 77,9 persen responden. Kebiasaan-kebiasaan jelek seperti menggigit kuku, pensil atau makan benda-benda selain makanan ada juga dilakukan oleh responden.
Tabel. 4.3. Keadaan rumah sampel penelitian
Karakteristik
Sumber air minum sebagian besar adalah air ledeng, dan sebagian besar rumah responden adalah rumah lama yang bercat. Sakit kepala adalah salah satu gejala yang mengganggu responden ketika belajar di sekolah dan di rumah, walaupun tidak semua responden yang sering mengalaminya (sering sakit kepala dialami oleh 29,82 persen responden (Tabel 4.2).
Setelah semua sampel diambil darahnya pada minggu berikutnya dimulai pemeriksaan uji memori jangka pendek. Uji memori jangka pendek dilakukan
dengan memakai Digit Span Memory Test Online
(https://www.memorylosstess.com/free-working-memory-test-online/)
(Responden diminta untuk mengetik ulang secara berurutan ke depan (forward) rangkaian angka yang muncul pada layar laptop, span yang dipakai adalah yang
lambat (slow) dan Short Term Memory Test
(https://www.memorylosstest.com/free-short-term-memory-test-online/?pton
Serangkaian gambar akan muncul di layar laptop selama tes berlangsung. Ketika sebuah gambar muncul secara berulang, responden diminta menekan space bar pada keyboard lap top.
Dikatakan berperformance baik jika diperoleh 90%+ ketepatannya. Waktu respon yang baik dalam memilih gambar yang tepat adalah jika <900 millidetik (0,9 detik).
Pada pemeriksaan awal didapatkan nilai memory picture 64 (4-100) [median (min-max)] sedangkan nilai Waktu Respon Memory Picture adalah 1519,61 ±
287,96 (mean ± SD). Nilai memory digital span adalah 5 (3-7)[median (min-max)].
Pada pemeriksaan awal ada 4 orang anak yang berperformance baik untuk ketepatan dalam mengingat gambar yang muncul di layar laptop, namun tidak ada yang mendapat waktu respon dibawah 0,9 detik.
Tabel 4.4. Skor Memori Jangka Pendek Dan Kadar Timbal Darah Awal Skor
Memory picture (%)* 64 (4-100) Memory picture (detik)** 1519,61 287,96 Memory digital span* 5 (3 – 7) Kadar Timbal Darah*μg/dL 2,106 (0,4 – 12)
*Data terdistribusi tidak normal dalam median (min – max)
** Data terdistribusi normal dalam mean SD
Kadar timbal darah pada sampel bervariasi dan ada satu anak yang kadar timbal darahnya diatas 10μg/dL (Tabel 4.4).
Tabel 4.5. Kadar Timbal Darah , Memory Picture dan Memory Digital Span Berdasarkan Jenis Kelamin.
Sampel yang kadar timbal darahnya diatas 10μg/dL adalah anak perempuan.
Tidak ada perbedaan yang bermakna antara kadar timbal darah anak laki-laki dan anak perempuan.
Namun ternyata skor memory digital span pada anak laki-laki lebih tinggi dari pada anak perempuan dan dijumpai perbedaan yang bermakna secara statistik (p 0,047) (Tabel 4.5).
Kadar timbal darah sebelum pemberian suplementasi pada kelompok yang mendapat suplementasi , min-max adalah 2,1-9 g/dL dengan median 2,1 g/dL.
Sementara kadar timbal darah sebelum pemberian suplementasi kelompok kontrol, min-max 0,4-12 g/dL. Tidak dijumpai perbedaan yang bermakna kadar timbal darah kelompok kontrol dan kelompok yang mendapat suplementasi sebelum dilakukan intervensi (p 0,582).
Tabel 4.6. Kadar Timbal Darah Sebelum dan Sesudah Suplementasi
*Data tidak terdistribusi normal
Setelah pemberian suplementasi kalsium selama 3 bulan dijumpai penurunan kadar timbal darah pada kelompok yang mendapat suplementasi kalsium yang bermakna secara statistik (p < 0,01) (Tabel 4.6). Median penurunan kadar timbal
Kadar Timbal Darah (g/dL) p
Sebelum Sesudah Kelompok Suplementasi*
Kelompok Kontrol*
2,1 (2,1 - 9)
2,04 (0,4 - 12)
0,01 <0,01
2,02 0,231 (0,41-12,1)
darah pada kelompok suplementasi adalah sebanyak 2,09g/dL (min penurunannya 2,09 dan maksimal penurunan sebanyak 8,99g/dL).
Tabel 4.7. Skor Memory Picture Sebelum dan Sesudah Suplementasi
**Data terdistribusi normal
Skor memory picture kelompok yang mendapat suplementasi sebelum pemberian suplemen adalah 61,4 24.83, sementara pada kelompok kontrol adalah 55,7 22,58. Tidak dijumpai perbedaan yang bermakna secara statistik antara skor memory picture kedua kelompok sebelum pemberian suplemen (p 0,292) (tabel 4.7).
Dijumpai peningkatan skor memory picture yang bermakna secara statistik pada kelompok yang mendapat suplementasi kalsium (p< 0,01) (Tabel 4.7)
Tabel 4.8. Skor Memory Digital Span Sebelum Dan Sesudah Suplementasi Memory Digital Span p
*Data tidak terdistribusi normal
Skor Memory Digital Span pada kedua kelompok sebelum pemberian suplemen tidak dijumpai perbedaan yang bermakna secara statistik (p 0,084).
Dijumpai peningkatan yang bermakna secara statistik skor Memory Digital Span pada kelompok setelah mendapat suplementasi selama 3 bulan (p < 0,01) (tabel 4.8).
Tabel 4.9. Korelasi Perubahan Kadar Timbal Darah dengan Skor Memori Perubahan kadar Timbal Darah
R p
Memory picture - 0,516 0,000 Memory picture (detik)
Memory digital span
0,251 -0,386
0,06 0,003
Secara statistik dijumpai hubungan yang bermakna antara perubahan kadar timbal darah sampel dengan skor memory picture (korelasi sedang) dan memory digital span (korelasi lemah). Namun, perubahan kadar timbal darah dijumpai tidak berhubungan secara signifikan dengan memory picture (time). (Tabel 4.9).
BAB V PEMBAHASAN
Timbal dapat mempengaruhi otak pada berbagai area termasuk di korteks serebri, serebelum dan hipokampus. Pada anak, terpapar timbal dapat menurunkan IQ, gangguan dalam belajar, pertumbuhan yang terlambat, hiperaktifitas, berperilaku antisosial, juga mempengaruhi fungsi pendengaran. Tetapi mekanisme yang tepat bagaimana timbal mengubah sel-sel saraf di otak sebagian besar tetap belum diketahui.
Beberapa ahli mengemukakan teori-teori yang menerangkan tentang bagaimana mekanisme timbal dapat merusak organ tubuh. Timbal dapat mempengaruhi transmisi impuls saraf dengan mengintervensi neurotransmitter (Shellenberger, 1984). Onalaja dan Claudio (2000) mengatakan bahwa timbal sebagai racun bekerja pada enzim-enzim yang kaya akan gugus sulfhidril (SH) seperti Aminolevulinic acid (ALA) dehidratase dan dalam mitokondria yaitu pada enzim ALA sintetase dan hemesintetase, dibuktikan karena dihasilkannya aminolevulinic acid (ALA) akibat reaksi timbal pada proses sintesa heme yang mempunyai struktur kimia yang sama dengan neurotransmitter γ-amino-isobutyric acid (GABA). Mekanisme pada sistem GABA yang memberikan tanda klinis yang sama seperti yang terjadi pada keracunan timbal (Silbergeld, Lamon, 1980). ALA dapat berikatan dengan reseptor GABA (Brennan, Cantrill, 1979).
Kerja timbal dapat mengenai asetilkolin dan sistem katekolamin juga.
Beberapa efek ini dapat terjadi secara primer atau sekunder dari kerja timbal di dalam tubuh, khususnya pada sel-sel saraf.
Beberapa efek ini mungkin efek sekunder dari suatu mekanisme kerja timbal yang lebih utama. Dalam mencari tahu mekanisme yang lebih tepat, para ahli menaruh perhatian pada efek timbal pada mekanisme metabolisme kalsium dan transportasinya (Audesirk, 1985). Kostial dan Vouk (1957) adalah peneliti yang pertama yang menunjukkan pentingnya interaksi timbal-kalsium. Dengan menggunakan ganglion servikal kucing yang diperfusi terlihat bahwa timbal menghambat pelepasan dari acetilkolin. Efek ini menetap ketika diberikan cairan Locke yang bebas timbal namun asetilkolin dapat disekresikan ketika konsentrasi kalsium dinaikkan lima kali lipat dari level yang normal. Efek ini terjadi juga pada konsentrasi timbal yang lebih rendah dari konsentrasi timbal yang diperkirakan dapat meracuni otak hewan percobaan.
Para peneliti dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins menemukan bahwa timbal adalah penghambat kuat reseptor NMDA, dan protein tertentu yang diketahui memainkan peran penting dalam perkembangan otak dan fungsi kognitif (Nihei, Gulate, 2001). Dalam penelitian mereka, mereka menunjukkan bahwa paparan timbal mengurangi jumlah gen reseptor NMDA dan suatu protein di bagian otak yang disebut hipokampus. Perubahan ini dikaitkan dengan gangguan komunikasi antar saraf di otak dan proses pembelajaran. Percobaan ini adalah percobaan yang pertama kalinya para peneliti melihat beberapa aspek keracunan timbal dalam satu penelitian: Pertama, efek logam beracun pada perilaku belajar; kedua, bagaimana pengaruhnya terhadap komunikasi antar neuron; dan ketiga, mencari gen dan protein yang mana yang penting untuk perkembangan sistem saraf yang dipengaruhi oleh timbal.
Peneliti memakai tikus-tikus yang berasal dari induk-induk yang berbeda,untuk memastikan bahwa setiap kelainan yang terdeteksi adalah disebabkan oleh timbal dan bukan oleh beberapa anomali genetik yang ditemukan dalam satu keluarga.
Tikus diberi 0,750 atau 1500 ppm timbal asetat melalui diet mereka, yang membuat kadar timbal-darahnya sebanding dengan yang terdeteksi pada anak-anak yang teracuni timbal di Amerika Serikat. Penelitian ini dilakukan dengan tiga cabang;sampel tikus dibagi dalam dua kelompok secara acak yaitu kelompok yang diracuni dan kelompok kontrol dan dimasukkan ke salah satu dari tiga percobaan. Untuk mempelajari pengaruh timbal pada proses pembelajaran dan ingatan, kelompok hewan pertama diajarkan untuk menemukan lokasi platform tersembunyi yang terendam dalam genangan air yang buram. Dalam studi labirin air ini, hewan-hewan yang keracunan timah secara signifikan lebih lambat menemukan platform daripada tikus kontrol; menunjukkan bahwa pembelajaran mereka terhadap keterampilan menemukan lokasi platform yang merupakan pembelajaran baru itu buruk.Seperangkat eksperimen ini, menunjukkan bahwa sinapsis tikus kontrol segera merespon terhadap pengkondisian, dengan lancar mengirimkan stimulus lagi dan lagi dari waktu ke waktu. Sebaliknya, neuron tikus yang terpapar dengan timbal tidak mampu membangun hubungan yang kuat satu sama lain selama periode pengkondisian tersebut.
Kelompok ketiga tikus menjalani percobaan molekuler untuk menentukan dengan tepat bagian mana dari neuron yang diubah oleh timah. Para peneliti menemukan bahwa paparan jangka panjang timbal pada tikus dewasa mengubah ekspresi gen dan protein tertentu yang membentuk reseptor NMDA.
Mereka percaya bahwa timbal, dengan mengurangi reseptor NMDA ini, mengganggu masuknya kalsium ke dalam neuron. Hal ini patut diperhatikan karena kalsium bertanggung jawab untuk kaskade besar sinyal seluler yang pada akhirnya menyebarkan informasi dan melanjutkan impuls saraf pada sinaps dan neuron berikutnya.
Penelitian baru yang dipimpin oleh Tomás R. Guilarte, PhD, Ketua Ilmu Kesehatan Lingkungan, dan ilmuwan Kirstie H. Stansfield, PhD, yang melakukan penelitian post-doktoral menggunakan mikroskop fluorescent berkekuatan tinggi dan teknik canggih lainnya telah dengan susah payah memetakan berbagai mekanisme timbal menyebabkan kerusakan otak. Mereka berfokus pada jalur perjalanan sinyal yang terlibat dalam produksi suatu faktor neurotropik yang disebut ‗brain-derived neurotropic factor‘, atau BDNF, suatu protein (Binder, 2004) pada manusia diberi nama sebagai gen BDNF (Jones, 1990; Maisonpierre, 1991) yang penting untuk mencegah kematian sel saraf (Acheson, 1995) dan pembentukan sinaps baru di hippocampus, pusat otak untuk memori dan pembelajaran (Huang, 2001). BDNF merupakan salah satu neurotropin (nerve growth factor) yang ikut bertanggung jawab dalam proses neurogenesis (Ernfors,
1995).
BDNF bekerja pada neuron tertentu dari sistem saraf pusat dan sistem saraf perifer, membantu mendukung kelangsungan hidup neuron yang ada, dan mendorong pertumbuhan dan diferensiasi neuron baru dan sinapsis, (Acheson, 1995; Huan, 2001) di hippocampus, cortex, dan basal forebrain- area yang penting untuk belajar, mengingat, dan fungsi berpikir lebih tinggi (Yamada, 2003). BDNF juga terekspresi pada retina, neuron motorik, ginjal, air liur, dan
prostat (Mandel, 2009).
BDNF penting untuk ingatan jangka pendek dan jangka panjang (Bekinschtein, 2008). Meskipun sebagian besar neuron di otak mamalia terbentuk sebelum lahir, bagian otak anak-anak dan dewasa tetap berkemampuan untuk menumbuhkan neuron baru dari sel induk saraf dalam proses yang dikenal sebagai neurogenesis.
Neurotrophins adalah protein yang membantu untuk merangsang dan mengontrol neurogenesis, BDNF adalah salah satu neutrophin yang paling aktif (Zigofa, 1998) karena dia berperan pada proses neurogenesis (Bartkowska, 2007), dendritogenesis (Yoshi, 2007; Penzes, 2001), sinaptogenesis (Bednarek, 2011), GABAergic signaling (Henneberger, 2002; Chou, 2010) dan transmisi sinaptik yang melibatkan asam glutamat dengan reseptor-reseptornya (AMPA dan NMPA) (Slack, 2004; Xu, 2009; Namekata, 2010; Iwasaki, 1998; Nakazawa, 2001; Mizuno, 2003; Tezuka, 1999). Tikus yang lahir tanpa kemampuan untuk membuat BDNF menderita cacat perkembangan otak dan sistem saraf sensorik, dan biasanya mati segera setelah lahir; hal ini menunjukkan bahwa BDNF memainkan peran penting dalam perkembangan saraf normal (Ernfors, 1995).
Neurotrophin penting lainnya yang terkait secara struktural dengan BDNF termasuk NT-3, NT-4, dan NGF.
BDNF dibuat di retikulum endoplasmadan disekresikan dari vesikula padat-inti (dense-core vesicles) setelah mengikat carboxypeptidase E (Carboxypeptidase E,CPE), yang juga dikenal sebagai carboxypeptidase H (CPH) dan enkephalin convertase (Entrez Gene: CPE carboxypeptidase E), suatu enzim pada manusia yang dikode oleh genCPE (enzim ini mengkatalisa pelepasan dari C-terminal
arginine atau lysine dari suatu polipeptida); gangguan pengikatan ini diduga menyebabkan BDNF tidak dapat disekresikan dari vesikel padat-inti.
Tikus yang dirusak (knockout) BDNF nya terlihat sakit parah, dan dapat menyebabkan kematian postnatal. Ciri-ciri lain tikus dengan gangguan fungsi BDNF termasuk gangguan neuron sensorik yang mempengaruhi koordinasi, keseimbangan, pendengaran, rasa, dan pernapasan. Knockout mice juga menunjukkan kelainan serebelar dan peningkatan jumlah neuron simpatik (MGI database: phenotypes for BDNF homozygous null mice.
http://www.informatics.jax.org/searches/allele_report.cgi?).
Menurut Dr. Stansfield, setelah BDNF diproduksi di retikulum endoplasma nukleus, BDNF itu diangkut sebagai kargo dalam vesikula-vesikula di sepanjang lintasan yang disebut mikrotubulus menuju lokasi pelepasan di akson dan duri dendritic (Numakawa, 2010). Navigasi vesikuler sebagian dikendalikan melalui aktivasi (fosforilasi) protein huntington, (suatu protein yang dinamakan demikian karena, pertama kali diidentifikasi melalui penelitian pada penderita penyakit Huntington). Dengan melihat ekspresi huntington, para peneliti menemukan bahwa paparan timbal, bahkan dalam jumlah kecil sekalipun, bisa menghambat atau membalikkan lintasan tersebut dengan mengubah fosforilasi pada asam amino tertentu.
Perlambatan transportasi vesikel BDNF adalah salah satu dari berbagai cara yang terjadi akibat timbal sehingga bisa menghambat fungsi BDNF. Para peneliti juga mengeksplorasi bagaimana timbal mengekang pelepasan produksi BDNF di inti sel. Salah satu faktor, kata mereka, mungkin protein yang disebut methyl CpG binding protein2, atau MeCP2, yang telah dikaitkan dengan sindrom RETT dan
gangguan spektrum autisme dan bertindak untuk menghambat transkripsi gen BDNF.
Makalah tersebut memberikan model kerja komprehensif pertama tentang cara-cara yang menyebabkan eksposur (timbal) merusak fungsi sel saraf dan fungsi sinaps. Timbal menyerang aspek paling mendasar dari otak, yaitu sinapsnya (Stansfield, 2012).
MECP2 ( protein pengikat metil CpG 2 adalah gen yang mengkodekan protein MECP2. MECP2 tampaknya penting untuk fungsi normal sel-sel saraf . Protein ini tampaknya sangat penting untuk sel-sel saraf dewasa. Protein MECP2 cenderung terlibat dalam mematikan ("menindas" atau " membungkam ") beberapa gen lain. Ia mencegah gen membuat protein ketika mereka tidak diperlukan. Pekerjaan terbaru telah menunjukkan bahwa MECP2 juga dapat mengaktifkan gen lain (Maisonpierre, 1991). Gen MECP2 terletak di lengan panjang (q) kromosom X di pita 28 ("Xq28"), dari pasangan basa 152.808.110 untuk pasangan basa 152.878.611.
Pendapat-pendapat lama tentang bagamana timbal merusak otak yang dikemukakan oleh para ahli sebelumnya akhirnya bisa diterangkan dengan memahami lebih detil mengenai BDNF.
BDNF mempunyai dua reseptor yaitu TrB (Tropomyosin receptor kinase B, yang dikenal juga sebagai tyrosine receptor kinase B atau BDNT/NT-3 growth factors receptor atau neurotropic tyrosine kinase, receptor type-2, yaitu protein yang di encoded oleh gen NTRK2) dan LNGFR (Low affinity nerve growth factor receptor, yang disebut juga p75 (Patapoutian, 2001). Interaksi antara
BDNF-TrkB terjadi pada ligand yang spesifik.Aktifasi dari jalur BDNF-BDNF-TrkB ini sangat penting dalam proses perkembangan sel saraf dan memori jangka pendek.
BDNF juga dapat memodulasi aktifitas berbagai neorotransmiter, termasuk reseptor nicotinic Alpha-7 (Fernandes, 2008). BDNF juga terbukti berinteraksi dengan rantai pensinyalan reelin (Fatemi, 2008).
Reelin (RELN) (National Institutes of Health, 2013) adalah suatu glikoprotein besar yang disekresikan ke ekstraseluler yang membantu mengatur proses migrasi neuronal dan mengendalikan interaksi antar sel pada otak yang sedang berkembang. Selain perannya yang penting ini dalam perkembangan diawal kehidupan, reelin terus bekerja pada otak orang dewasa (Bosch, 2016). Dia memodulasi plastisitas sinaptik dengan meningkatkan induksi dan pemeliharaan potensiasi jangka panjang (Weeber, 2002; D'Arcangelo, 2005). Reelin juga menstimulasi perkembangan dendrit (Niu, 2004) dan dendritic spine (Niu, 2008) dan mengatur kelanjutan migrasi dari neuroblas pada proses neurogenesis dewasa di daerah tertentu seperti zona subventrikular dan subgranular. Reelin ditemukan tidak hanya di otak, tetapi juga di hati, kelenjar tiroid, kelenjar adrenal, tuba Fallopii, payudara, dan pada tingkat yang relatif lebih rendah di berbagai daerah anatomi (Tissue expression of Reelin, www.proteinatlas.org. ).
Protein BDNF dikodekan oleh gen yang juga disebut BDNF, pada manusia ditemukan pada kromosom 11 (Jones, 1990; Maisonpierre, 1991). Secara struktural, transkripsi BDNF dikendalikan oleh 8 promotor yang berbeda, masing-masing mengarah ke transkrip yang berbeda pula, yang berisi salah satu dari 8 untranslated 5” exons (I sampai 8) yang disambung ke 3‘encoding exon.
Kegiatan Promoter IV menyebabkan translasi dari exon IV-yang mengandung mRNA, sangat dirangsang oleh kalsium.
Ada beberapa mekanisme aktifitas neuronal yang dapat meningkatkan ekspresi spesifik BDNF (Zheng, 2009). Stimulus yang dimediasi oleh eksitasi neuronal dapat menyebabkan aktifasi reseptor NMDA, akan memicu masuknya kalsium ke dalam sel . Melalui suatu kaskade pensinyalan protein yang membutuhkan Erk, CaM KII/IV, PI3K dan PLC, aktivasi reseptor NMDA mampu memicu transkripsi BDNF exon IV. Ekspresi BDNF exon IV mampu merangsang ekspresinya sendiri melalui aktivasi TrkB. BDNF dilepaskan dari membran pasca sinaptik tergantung pada adanya aktifitas tertentu memungkinkannya untuk bertindak pada reseptor TrkB lokal dan memediasi efek yang akan menyebabkan sinyal kaskade yang juga melibatkan Erk dan CaM KII/IV (Zheng, 2009;
Kuzumaki, 2011). Kedua jalur ini mungkin melibatkan fosforilasi kalsium dari CREB di Ser133, sehingga memungkinkannya untuk berinteraksi dengan domain regulasi Cre dan BDNF akan meningkatkan transkripsinya (Tao, 1998). Akan tetapi signal dari reseptor NMDA mungkin diperlukan untuk memicu peningkatan ekspresi BDNF exon IV karena secara normal interaksi CREB dengan CRE dan translasi dari BDNF transkrip berikutnya diblokir oleh basic helix-loop-helix transkripsi factor protein2 (BHLHB2) (Jiang, 2008). Aktivasi reseptor NMDA memicu pelepasan inhibitor regulasi, memungkinkan BDNF exon IV upregulation untuk beraktifitas sebagai respon terhadap kalsium yang masuk.
Ada banyak bukti, yang menunjukkan bahwa pemberian kalsium menurunkan penyerapan timbal di gastrointestinal dan dengan demikian mengurangi toksisitas
timbal.Data eksperimen pada hewan yang ada cukup mendukung peran potensial untuk suplementasi Ca dalam keracunan timbal. Protein pengikat Ca memiliki afinitas tinggi untuk Pb.
Simon (1983), dalam studi dengan memakai hewan pengerat mendapatkan bahwa kadar timbal darah hewan yang terpapar lebih tinggi pada yang diberi diet defisiensi Ca (Han, 2000). Studi menggunakan isotop stabil Pb yang diberi bersamaan dengan Ca untuk orang dewasa menunjukkan penurunan absorpsi
Simon (1983), dalam studi dengan memakai hewan pengerat mendapatkan bahwa kadar timbal darah hewan yang terpapar lebih tinggi pada yang diberi diet defisiensi Ca (Han, 2000). Studi menggunakan isotop stabil Pb yang diberi bersamaan dengan Ca untuk orang dewasa menunjukkan penurunan absorpsi